|
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Pada tahun 2008 ekonomi dunia dilanda krisis global yang bermula dari krisis
di Amerika Serikat. Krisis tersebut disebabkan oleh subprime mortgage default. Hal
tersebut mendorong terjadinya gejolak ekonomi
dengan hilangannya kepercayaan
investor terhadap nilai sekuritas mortgage dan berdampak pada terjadinya
kebangkrutan Lehman Brothers, bank investasi terbesar keempat di Amerika Serikat.
Kebangkrutan Lehman Brothers
dikarenakan perusahaan kehilangan
likuiditas dan mengalami kerugian akibat suprime mortgage sebesar USD 2,8 milliar
pada triwulan kedua dan sebesar USD 3,9 pada triwulan ketiga. Selain kebangkrutan
Lehman Brothers, krisis global mengakibatkan pelemahan pada sektor riil. Seperti
kebangkrutan yang terjadi pada perusahaan otomotif terbesar di dunia, Ford Motor
dan General Motor.
Krisis tersebut juga berdampak sistemik pada negara Uni Eropa dan Asia. Di
Uni Eropa, krisis perbankan ditandai dengan permasalahan di sebuah bank kecil di
Inggris, yaitu Bank Northen Rock, terjadi penarikan dana besar-besaran yang
dilakukan oleh nasabah dan mengakibatkan sentiment pasar yang negatif. Selain itu,
krisis utang di Eropa terjadi karena
kelalaian
Yunani dalam mengelolah anggaran
negaranya dan menyebabkan defisit anggaran hingga 13,6% dari produk domestik
bruto (PDB). Yunani juga menyatakan gagal bayar (default) dari
surat hutang yang
diterbitkan.
Sedangkan krisis yang melanda negara-negara Asia seperti China, Jepang,
dan India. Berdasarkan prediksi The International Monetary Fund (IMF) pada tahun
|
|
2
2008, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif (-0.2) pada tahun 2009.
Sementara China mengalami penurunan dari 11,9% pada tahun 2007 menjadi 9,7%
pada tahun 2008 dan diprediksikan turun menjadi 8,4% pada tahun 2009. Demikian
juga dengan India juga mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yaitu 9,3%
pada tahun 2007 menjadi 7,8% pada tahun 2008 dan diprediksikan menjadi 6,3%
pada tahun 2009.
Krisis keuangan global juga terjadi di Indonesia
namun tidak sedahsyat yang
terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa, namun cukup kuat hingga memberikan
dampak negatif pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek
Indonesia (BEI). Angka IHSG pada bulan September 2008 sempat menyentuh titik
terendah seperti yang terjadi pada tahun 1997.
Level IHSG mengalami penurunan
hingga 50% yaitu dari level 2.745 menjadi 1.355. Sedangkan pada
tahun 2010
investor asing melakukan aksi jual yang cukup banyak, sehingga arus modal yang
keluar cukup besar dan menyebabkan trend IHSG menurun 15%
dari level 2.971
menjadi 2.514. Dampak krisis dirasakan pada semua sektor industri yang banyak
mengalami kesulitan keuangan, karena terjadi pelemahan permintaan terhadap
produk-produk ekspor, menurunnya komoditas international dan pelemahan nilai
tukar rupiah terhadap USD.
Kesulitan keuangan pada perusahaan bila tidak segera ditangani akan
menyebabkan kebangkrutan. Laporan keuangan perusahaan pada umumnya akan
memberikan informasi
berupa penurunan likuiditas dan solvabilitas perusahaan,
namun perusahaan dapat melakukan manipulasi laporan keuangan untuk berusaha
menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya. Beller.A.L. (2003) dalam Webb and
Cohen (2007) mengatakan bahwa pengungkapan kondisi ketersediaan uang tunai dan
|
|
3
likuiditas perusahaan pada Management Discussion and Analysis (MD&A) harus
dilakukan terutama pada perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan.
Di Indonesia pengungkapan informasi perusahaan terdapat dalam laporan
tahunan yang diatur oleh Bapepam. Peraturan Nomor X.K.6 lampiran Keputusan
Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-134/BL/2006 tentang penyampaian laporan
tahunan merupakan pengungkapan wajib (mandatory disclosure) maupun sukarela
(voluntary disclosure) bagi emiten atau perusahaan publik. Pengungkapan wajib,
yaitu pengungkapan minimum yang
diharuskan menurut peraturan yang berlaku.
Seperti informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan perusahaan. Sedangkan
pengungkapan sukarela merupakan pengungkapan yang melebihi pengungkapan
wajib yang dapat memberi tambahan informasi bagi penggunanya.
Salah satu bagian dari pengungkapan sukarela
adalah pengungkapan
informasi analisis dan pembahasan manajemen. Informasi tersebut
membahas secara
detail analisa kinerja perusahaan, dampak dan penyebabnya termasuk informasi
material seperti investasi, ekspansi, divestasi, penggabungan atau peleburan usaha,
akusisi, restrukturisasi utang atau modal, transaksi afiliasi, dan transaksi yang
mengandung benturan kepentingan. Informasi tersebut diharapkan dapat digunakan
untuk membantu manajemen dalam memberikan informasi mengenai keadaan
perusahaan dan membantu investor maupun stakeholders dalam mengambil
keputusan.
Securities and Exchange Commission (SEC) di Amerika Serikat menyatakan
informasi MD&A di dalam laporan tahunan dapat digunakan untuk
mengkomunikasikan secara detail mengenai kondisi perusahaan yang terdiri dari
pengetahuan perusahaan secara umum, hasil operasi perusahaan, kondisi likuiditas
perusahaan, perubahan modal perusahaan dan peristiwa serta trend
masa depan yang
|
|
4
dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup suatu perusahaan dan berguna dalam
mengambil keputusan ekonomi.
Informasi MD&A juga dapat mengidentifikasi penyebab suatu risiko gagal
bayar, risiko kebangkrutan, atau ketidakpastian arus kas dimasa depan yang dapat
terjadi di perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Beller (2003) yang
dikutip oleh Webb dan Cohen (2007) menyatakan
bahwa informasi MD&A akan
berguna untuk meminimalkan kerugiaan perusahaan jika mengalami kesulitan
keuangan atau bangkrut. Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan seharusnya
meningkatkan pengungkapan informasi dalam laporan tahunannya (Webb dan
Cohen, 2007). Dalam keadaan kesulitan keuangan, perusahaan diharapkan tetap
dapat mempertahankan akuntabilitasnya dalam memberikan penjelasan secara rinci
tentang kondisi perusahaan kepada stakeholders. Laporan keuangan saja tidak cukup
memadai untuk menilai suatu bisnis dan mengambil keputusan, karena itu
dibutuhkan MD&A yang secara kuantitas dan kualitas mampu memberikan
informasi kepada pihak yang berkepentingan.
Penelitian-penelitan terkait kualitas pengungkapan
informasi sebelumnya
telah dilakukan. Webb and Cohen (2007) melakukan penelitian dengan menguji
hubungan antara pengungkapan,
kesulitan keuangan, dan kebangkrutan. Penelitian
tersebut dilakukan dengan menggunakan 136 sampel perusahaan dengan melihat
pengungkapan informasi MD&A akan meningkat jika perusahaan mengalami
kesulitan keuangan, manajer cenderung akan melakukan peningkatan kualitas
pengungkapannya dan jika kondisi perusahaan akan bangkrut perusahaan cenderung
tidak meningkatkan kualitas pengungkapannya. Hasil dari penelitian tersebut
menyatakan bahwa variabel perubahan kondisi perusahaan dan default
berpengaruh
terhadap peningkatan kualitas penungkapan informasi MD&A dalam laporan
|
|
5
tahunan.
Perubahan kondisi perusahaan,
dari perusahan sehat menjadi perusahaan
dengan kesulitan keuangan membuat manajemen melakukan peningkatan kualitas
pengungkapan sebagai upaya untuk melakukan perbaikan kondisi perusahaan.
Sedangkan adanya status default
yang dimiliki perusahaan membuat manajer akan
cenderung lebih meningkatkan kualitas pengungkapan informasi MD&A untuk dapat
menarik investor maupun stakeholders dengan melihat kondisi keuangan perusahaan
dan operasinya serta perbaikanperbaikan
untuk keberlangsungan operasi
perusahaannya, maka
mampu memberikan jaminan atas ketidakpastian masa depan
perusahaan. Selain Webb dan Cohen (2007), penelitian mengenai pengungkapan
dilakukan oleh Ahn dan lee
(2004) yang melihat
hubungan
antara variabel ukuran
perusahaan, jumlah investor, dan
manajemen puncak berpengaruh terhadap
keterbukaan pengungkapan informasi
MD&A. Penelitian
terkait
pengungkapan
sukarela juga dilakukan oleh Almilia (2008) yang menyatakan bahwa
size
dan
kepemilikan publik berpengaruh terhadap pengungkapan
sukarela yang dilakukan
oleh perusahaan. Tetapi Mujiyono dan Magdalena (2010) dalam penelitiannya
menyatakan bahwa variabel kepemilikan publik tidak berpengaruh terhadap
pengungkapan sukarela.
Walaupun penelitian terkait kualitas pengungkapan informasi sudah banyak
dilakukan, namun pada umumnya investor di Indonesia lebih tertarik melakukan
analisa pada laba atau pergerakan harga saham dengan menggunakan analisis
teknikal. Hal ini menunjukan kecenderungan investor Indonesia belum melihat
pentingnya informasi dalam laporan tahunan sebagai salah satu analisa yang dapat
digunakan
untuk menilai perusahaan. Kurang populernya penggunaan informasi
MD&A sebagai sumber analisa menjadikan topik ini yang menarik untuk diteliti
lebih dalam.
|
|
6
Penelitian ini, mengidentifikasi mengenai kualitas pengungkapan informasi
Management Discussion and Analysis
pada saat perusahaan mengalami kesulitan
keuangan, seperti yang dilakukan oleh Webb dan Cohen (2007) namun mengganti
beberapa variabel independennya seperti default, financing
dan going concern
dengan variable kepemilikan publik, leverage
perusahaan dan ukuran perusahaan
(SIZE), karena variabelvariabel tersebut tidak tidak cocok jika diterapkan pada
perusahaan di Indonesia. Kepemilikan publik, leverage
perusahaan dan ukuran
perusahaan dipilih sebagai variabel independen karena dengan semakin besarnya
kepemilikan publik maka semakin banyak kebutuhan informasi atas perusahaan
tersebut sehingga mendorong manajemen perusahaan
meningkatkan pengungkapan
informasinya. Untuk variabel leverage
perusahaan digunakan untuk
mempertimbangan kondisi solvabilitas
perusahaan, sedangkan ukuran perusahaan
dapat mempengaruhi kualitas informasi yang diungkapkan lebih banyak dan lebih
baik. Perusahaan yang besar mempunyai sumber daya yang banyak untuk
memberikan pengungkapan informasi yang lebih baik.
Berdasarkan pada pemikiran diatas, penulis tertarik melakukan suatu
penelitian yang berkaitan dengan kualitas pengungkapan informasi
dengan
menggunakan objek penelitian pada perusahaan-perusahaan yang berada di
Indonesia dan menggunakan tahun penelitian 2007-2011 dalam suatu skripsi yang
berjudul ANALISIS KUALITAS PENGUNGKAPAN INFORMASI PADA
PERUSAHAAN YANG MENGALAMI KESULITAN KEUANGAN
(STUDI
EMPIRIS PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA).
|
|
7
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, rumusan masalah yang akan diteliti
oleh penulis terkait dengan kualitas pengungkapan
informasi pada saat perusahaan
mengalami kesulitan keuangan, yaitu sebagai berikut:
1.
Bagaimana kualitas pengungkapan informasi
pada saat
perusahaan
mengalami kesulitan keuangan.
2.
Apakah hasil perubahaan kondisi
perusahaan, perubahan Z-Score,
kepemilikan publik, pergantian CEO, leverage
perusahaan dan ukuran
perusahaan berpengaruh terhadap perubahaan kualitas pengungkapan
informasi jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan.
1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini memiliki ruang lingkup antara lain:
1.
Menggunakan evaluating tool for MD&A scoring index (Webb, 2007) untuk
menganalisis kualitas pengungkapan informasi
pada saat
perusahaan
mengalami kesulitan keuangan.
2.
Faktor-faktor yang
berkaitan dengan perubahan kualitas pengungkapan
informasi, yaitu perubahaan kondisi perusahaan, perubahan Z-Score,
kepemilikan publik, pergantian CEO, Leverage perusahaan
dan ukuran
perusahaan.
3.
Data yang digunakan akan diambil dari semua perusahaan terdaftar yang
berada di Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id) selama tahun 2007 - 2011.
|
|
8
1.4 Tujuan dan Manfaat penelitian
Tujuan penelitian ini antara lain adalah:
1.
Untuk menganalisis kualitas pengungkapan informasi yang disajikan oleh
manajemen pada saat perusahaan mengalami kesulitan keuangan.
2.
Untuk menganalisis
hasil
pengaruh
dari perubahaan kondisi perusahaan,
perubahaan Z-Score,
kepemilikan publik, pergantian CEO, leverage
perusahaan
dan ukuran perusahaan
terhadap perubahaan kualitas
pengungkapan informasi
dalam laporan tahunan pada perusahaan yang
mengalami kesulitan keuangan.
Sedangkan manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.
Bagi Penulis, untuk mengetahui tingkat kualitas pengungkapan informasi di
laporan tahunan pada perusahaan yang mengalami
kesulitan keuangan yang
terdaftar pada BEI dan mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
perubahan pengungkapan informasi
pada saat
perusahaan
mengalami
kesulitan keuangan.
2.
Bagi penelitian berikutnya, untuk dapat dijadikan referensi dan memberikan
ide untuk melanjutkan penelitian lebih lanjut dalam bidang analisa keuangan,
pengungkapan informasi dengan variasi-variasi yang lain.
3.
Bagi investor dan kreditor, hasil penelitian dapat menjadi analisa
alternatif
dalam menangkap gejala adanya kesulitan keuangan
melalui pengungkapan
informasi yang disajikan dalam laporan tahunan.
|
|
9
1.5 Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis laporan keuangan dan laporan
tahunan yang berada di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2011. Karakteristik pada
penelitian ini antara lain:
1.
Jenis penelitian ini menggunakan data kuantitatif;
2.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengunduh data dari website
Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id);
3.
Dimensi waktu riset adalah
melibatkan urutan waktu,
pada
tahun 2007
hingga 2011;
4.
Kedalaman risetnya adalah dengan menggunakan studi statistik;
5.
Lingkungan riset adalah lingkungan riil (field researching) yang berasal dari
Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).
1.6 Sistematika Penulisan
Bagian Sistematika pembahasan ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan
gambaran yang lebih mendetail tentang penelitian ini. Oleh karena itu, penulis
mengelompokkan skripsi ini ke dalam beberapa bab, yaitu sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Pada bagian pendahuluan ini, penulis memberikan gambaran tentang latar
belakang penulisan penelitian ini, menjelaskan tentang ruang lingkup
penelitian, tujuan dan manfaat penelitian dan sistematika pembahasan.
|
|
10
BAB 2 LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Bab ini menjelaskan tentang teori-teori yang berkaitan dengan kualitas
pengungkapan informasi MD&A, faktor-faktor yang mempengaruhi serta
dan konsep lainnya yang berkaitan dapat dijadikan dasar pengembangan
hipotesis bagi permasalahan yang sedang diteliti.
BAB 3 DESAIN PENELITIAN
Bagian desain penelitian menguraikan tentang metodologi penelitian yang
akan dipergunakan, yang mana meliputi informasi tentang populasi dan
sampel penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengukuran, metode
pengumpulan data, serta metode pengolahan dan analisis data dalam
penelitian ini.
BAB 4 HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini membahas tentang hasil pengujian pada objek penelitian
yang menguraikan tentang analisis data yang telah dikemukakan dalam
BAB III, serta membahas tentang hasil pengujian atas hipotesis yang telah
dikemukakan sebelumnya.
BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
Pada bagian ini akan memberikan penjelasan tentang kesimpulan tentang
apa yang telah dianalisa dan diteliti dari bab-bab sebelumnya, serta
memberikan keterbatasan ataupun saran berkenaan dengan penelitian
penulis yang dapat dipertimbangkan oleh pembaca maupun untuk penelitian
selanjutnya.
|