BABl
PENDAHULUAN
1.1  Latar
Belakang Masalah
Dengan
makin 
berkembangnya industri-industri
jenis
consumer
goods
di
Indonesia, 
khususnya 
makanan  dan 
minuman, 
maka   semakin 
bertumbuh 
pula
industri-industri
yang 
berupa   packing
food,  
yaitu 
industri
yang 
bergerak
pada
bidang 
pembuatan 
kemasan 
makanan 
dan  
minuman 
yang   tidak  
lain   adalah
merupakan
komplemen dari
industri
makanan
dan
minuman
itu
sendiri.
Pada 
mulanya    industri-industri 
packing 
food    ini  hanyalab
memproduksi
kemasan 
makananlminuman
secara 
sederhana 
saja,   tanpa 
memperhatikan 
segi
kemudahan
pemakaian
dan  bentuk
kemasannya
pun  minim
variasi. 
Artinya,
dulu
(20-30  
tabun   
lalu)   
industri  
kemasan  
mak:anan!minuman  hanyalab
memprioritaskan
pada 
bagaimana
caranya
mengemas
makanan!minuman
secara
aman  dan  sehat. 
Pada 
kondisi 
saat 
ini,
terutama
di
Indonesia
dimana 
pola 
hidup
masyarakatnya   sangat  
konsumtif 
dan  
variatif,  
maka    keadaan 
pasar    sudah
berbeda
sama 
sekali. 
Kemasan
dari 
makanan!minuman
menjadi   salab  satu 
daya
tarik   awal 
bagi 
konsumen
untuk  
membeli  
makananlminuman
tersebut.
Begitu
pentingnya  
peran   
kemasan  
produk  
dalam    hubungannya 
dengan  
kepuasan
pelanggan 
(customer 
satisfaction), 
maka  
produsen 
makananlminuman
akhir-
  
2
akhir
ini  sangat
selektif
dalam
memilih supplier
untuk
dapat
menyuplai kemasan
produk
makanan/minuman yang  tepat dan  sesuai dengan kebutuhan mereka.
Industri
plastik
mernpakan
industri
utama
dalam memproduksi
kemasan
makanan!minuman
yang 
terbuat
dari 
plastik.
Bahan
plastik yang 
sangat
sering
digunakan
untuk
membuat
kemasan
makanan/minuman,
menjadikan industri
ini
memiliki 
prospek 
yang  
cerah 
di 
masa 
yang  
akan 
datang. 
Seperti 
yang 
te!ah
diketahui,  
bahan 
plastik 
merupakan  
bahan 
yang   
sangat 
mudah 
digunakan,
praktis 
serta 
ramah
lingkungan.
Hal-hal
inilah  
yang  
membuat 
konsumen 
lebih
memilih 
kemasan 
yang  
terbuat  dari  
bahan 
plastik
dibanding
dengan 
kemasan
dari 
bahan-bahan
lainnya.
Sebagai
salah 
satu 
pemain
dalam
industri
bisnis 
plastik,
PT 
Supratama
Aneka
Industri
sangat
berharap
untuk
dapat
memuaskan keinginan
pelanggannya.
Peningkatan produktivitas kerja 
dan 
kapasitas
produksi
terns
diupayakan
melalui
berbagai 
cara, 
yang  
paling 
barn  
adalah
dengan
menginvestasikan mesin barn.
Juga 
dalam
hal 
peningkatan
kualitas
produk, 
pernsahaan 
selalu
berharap 
yang
terbaik  
(zero 
defect). 
Akan   
tetapi  
perusahaan  
mengalami 
masalah  
dalam
usahanya
untuk
mendapatkan
tingkat
kualitas
terbaik.
Hal 
ini
dibuktikan
dengan
masih
cukup
tingginya
tingkat
produk
yang 
cacat
(afkir)
pad
a
beberapa
periode
produksi.
Latar
belakang umum
yang 
mendasari
masalah
ini
adalah
program
peningkatan
kualitas
yang  
ada 
di 
pernsahaan
saat  
ini 
masih
tradisional 
dengan
orientasinya pada
tindakan
"inspeksilkorektif', 
belum
ada 
cara-cara
untuk
mengontrol 
kinerja
proses
jangka
panjang,
kurangnya
kesadaran 
akan  kualitas
  
3
produk 
pada  
karyawan  pabrik  
dan 
masih 
banyak  
lagi 
hal-hal 
yang
melatarbelakangi 
masalah   tersebut. 
Sedangkan 
apabila   masalah  
ini  di 
biarkan
terns
berlanjut  
maka 
implikasinya terhadap 
bisnis 
adalah 
perusahaan
akan
kehilangan
pelanggannya
dan  perusahaan
akan 
mengalami kekalahan
dalam
persaingan
global,  baik sesama  pemain
lokal
atau  dengan
pemain  asing
nantinya.
Untuk
itulah 
topik   kajian 
yang 
berupa
usulan 
penerapan
metode 
Six 
Sigma
untuk 
minimalisasi   reject
dirasakan
perlu 
bagi 
perusahaan
bukan   hanya   dalam
hal
usaha-usaha
peningkatan
kualitas  dan 
penurunan
reject
rate,
tetapi
lebih  dari
itu 
metode
peningkatan
kualitas 
six  sigma  juga  dapat   memberikan
kemampuan
pada    perusahaan 
untuk    dapat    memonitor   (dan  
mengontrol) 
kinerja    proses
internal     dalam    jangka     panjang,  
menghemat  
pengeluaran,  
memaksimalkan
kepuasan
pelanggan
dan 
menjaga 
perusahaan
untuk 
tetap   bertumbuh
(Growth)
dalam  persaingan lokal  dan
global.
1.:2
Identifikasi Masalah dan Pemmusan Masalah
Terdapat 
masalah  
yang  
dihadapi 
oleh  
perusahaan 
dalam  
hubungannya
dengan
usaha-usaha
untuk  
mendapatkan
kualitas
produk 
menjadi 
yang  terbaik.
Masalah  
ini    diidentifikasikan  
setelah     dilakukan  
observasi  
awal,   
berupa
wawancara dan
pengumpulan
serta
pengolahan
data
awal
dan
dengan
melihat/membandingkanya
dengan 
target
pencapaian
tingkat
kualitas
Six  Sigma
yang  ada  pada  studi 
literatur/landasan
teori,  adapun
perumusan
masalah 
tersebut
secara
makro:
  
4
o
Masih 
cukup 
tingginya
tingkat
produk
yang  cacat 
(afkir) 
untuk
suatu
tipe 
produk
pada 
suatu 
siklus  periode
produksi
(yang  diarnati)
pada
suatu   proses,
yang 
berimbas
pula  pada 
menurunnya
kualitas
produk
dan 
meningkatnya 
biaya-biaya 
kualitas 
tersebut  
untuk  
periode-
periode
produksi
selanjutnya (Jangka
Panjang).*
1.3 
Ruang Liugknp Pembal:ms:m
Ruang Lingkup kajian
ini hanya
dibatasi  pada
hal-hal  dibawab
ini:
1.   Produk
yang 
akan  di
teliti  dalam 
laporan
ini adalah 
merupakan
produk
unggulan
atau 
main   product
dari 
perusahaan,
yaitu 
CUP   dengan
tipe
PU-195,
yang  kemudian
merniliki  merek 
dagang
FRUTANG
di
pasaran
luas   (customer: 
PT  
Tang  
Mas)    serta  
merniliki  
kontribusi 
terbesar
terhadap
jumlah 
cacat   untuk   seluruh
tipe 
produk
CUP   (ada 
tiga 
tipe)
yang  di
produksi
oleh  perusahaan
selama  dua  tabun  terakhir
belakangan
(2003
dan
2004).
2. 
Area   Penelitian 
hanya   di  fokuskan  pada 
Departemen 
Thermoforming
saja,  
mengingat 
proses 
ini 
paling   berkontribusi
terhadap 
cacat 
pada
produk 
cup,  
penjelasan 
tentang  
hal   ini   dapat    dilihat   pada  
project
statement
di
bab  4.  Sedangkan
penelitian
juga  hanya  di
fokuskan
pada
• Masalah yang diidentiflkasi disini
merupakan masalah kronis
dan  bukan
masalah sporadis,
karena
masalah ini
merupakan tipe  masalah yang berulang/menahnn dan
menghasilkan efek
dalam jangka
panjang, bnkan
masalah sporadis yang
mnncul secara mendadak tanpa pola
yang jelas dan tak
dapat
diprediksi kejadiannya, untnk lebih jelasnya dapat dilihat pada Bab  4 bagian Project Statement.
  
5
mesin  1,2  dan  3
saja,  sebeb 
mesin-mesin
inilah  yang  memproduksi
jenis
cup
PU-195.
3.  
Data
yang 
akan 
digunakan
adalah  data 
discrete,
bukan   data 
continue.
Ukuran
kinerja 
yang  dipakai 
pada  tahap 
analisa  adalah 
kategori
kualitas
appearance
pada   
produk,  
dengan  
beberapa   kategori  
CTQ  
yang
dianggap paling
signifikan  dalam
mempengaruhi kualitas produk.
4. 
Data
awal 
yang  dipakai 
dan  diolah 
untuk
membuat
problem
statement
adalah  
data   produksi 
dan   cacat    pada  
produk 
cup   PU-195, 
selama
periode Januari  2003  s/d
Desember 2004.
5. 
Data 
yang  dipakai 
dan  diolah  untuk
menghitung
kinerja 
saat 
ini
adalah
data  pada
bulan
Maret
2005,  yang
diamati  selarna
31
hari
penuh.
6.  
Laporan
ini 
ditujukan
untuk 
memecahkan
masalah
yang 
ada 
di
perusahaan, 
dengan   cara   menerapkan
metode 
Six 
Sigma   pada   proses
produksi 
bagian   Thermoforming
(applied 
method),  bukan 
merancang
metode barn
(design
method).
1.41
Tll!jmm  dan Manfa:d
Tujuan
yang  akan  atau  ingin  di capai  pada
topik kajian  yang  dibahas
di
dalarn
penulisan ini adalah:
1.   Metode  Six   Sigma   dapat  
mengukur  secara 
detail   (kuantitatif) 
kinerja
produk/proses yang
ada
saat
ini (current status) dan biaya
COPQ.
  
6
2.   Metode
Six  Sigma   dapat  
menemukan
jenis  cacat   apa  saja 
yang   paling
banyak 
mempengaruhi
kua!itas
suatu  produk
secara  keseluruhan.
3.  Untuk   
mendapatkan   
solusi-solusi   
yang    
akurat   
dan    
dapat
diimplementasikan 
oleh  
perusahaan 
dengan 
benar,    sehingga 
masalah
yang  telah 
dirumuskan
diatas 
(masih  cukup 
tingginya
defect
rate)
dapat
diatasi 
secara
bertahap
dan  perusahaan
mendapatkan
keuntungan
sebagai
imbasnya,
baik
berupa 
reduksi 
dari
jumlah 
produk yang
cacat 
ataupun
penghematan
biaya-biaya kualitas buruk
4. 
Metode 
Six   Sigma  
dapat    dijadikan 
suatu  
inisiatif  
untuk 
melakukan
pemonitoran
dan 
pengontrolan
proses
dalam 
jangka 
panjang,
agar  setiap
peluang  akan
adanya  kesalahan
dapat  di minimalisir.
Adapun
manfaat-manfaat
yang dapat  diambil,
antara
lain
ialah:
I.   Perusahaan mengetahui secara   detail  kondisi   kualitas
produk/prosesnya
saat  
ini 
sebagai  
bahan   perbandingan 
dan   memahami
jenis-jenis
cacat
mana
yang
paling
vital.
2.  
Perusahaan
dapat 
mengurangi
peluang
angka 
jumlah 
produk
yang  cacat
(defect
rate)
berdasarkan
ukuran
seperti
DPMO
dan
Level  Sigma  dengan
cara 
menerapkan  
solusi-solusi  
yang    telah   
dibuat,  
sehingga 
dapat
meningkatkan kualitas produknya,
lalu
memuaskan
pelanggannya.
3.  
Perusahaan
dapat   mengurangi
biaya  akibat 
kualitas
yang 
buruk
(cost 
of
poor quality)
yang berarti  penghematanlkeuntungan bagi
perusahaan.
  
7
4. 
Kinerja 
proses 
stabil 
dan  
terkontrol 
dalam 
jangka 
panJang, 
karena
metode
Six     Sigma  
memiliki  
pendekatan  
yang     terstruktur  
dalam
menyelesaikan
masalah
yang 
ada, 
kbususnya
dalam
melakukan tindakan
pencegahan 
terhadap  
berbagai  
kemungkinan   
terjadinya    kesalahan
(mistakes).
1.5    Gambaran
Umum Perusabaan
PT 
SAI 
atau 
PT 
Supratama
Aneka
Industri
adalah
sebuah
perusahaan
industri
plastik
(plastic
industry)
yang
telah
cukup
lama
berdiri
yaitu 
pada 
tahun
1990
dengan
nama
PT
Poly 
Unggul.
Pada
tahun
1995
perusahaan
ini
memisahkan
diri 
menjadi
satu
perusahaan 
mandiri  
dengan 
nama 
PT    SAL  
Perusabaan 
ini  
bergerak 
dibidang
pembuatan
bahan-bahan
dari 
plastik,
terutama
memproduksi
gelas
cup 
yang 
terbuat
dari 
plastik,
sekaligus
sebagai
pemasok
untuk industri
air
minum
dalam
kemasan
(AMDK).
Perusahaan
ini 
terletak
di 
wilayah
Tanggerang,
dengan
area 
pabrik
yang
cukup
luas. Produk
yang 
dihasilkan oleh 
perusahaan ini
adalah:
=>
Plastic  Cup  
dengan 
tipe  
utama 
yang  
merupakan 
main 
product
adalah S
250,  PU  195  dan  GF
85.
=>
HDPE
Sheet,
berupa
lembaran
plastic
yang 
dipakai
pada
industri
mobil. 
HDPE 
sendiri 
adalah  singkatan 
dari  
High  
Density 
Poly
Etilene.
=> 
HBS  Sheet.
  
   F
8
Kapasitas
produksi
untuk   cup  dapat 
mencapai
25  juta
pieces/bulan,
sedangkan
untuk
sheet 
dapat 
mencapai
800-1000
ton  sheet/bulan
yang  dihasilkan.
Tetapi
angka
diatas  
hanyalah 
merupakan 
data  
historis   perusahaan 
semata, 
bukan  
berarti 
dapat
dijadikan 
acuan    sebab  
banyaknya 
produksi 
tergantung  
dari  
banyaknya 
pesanan
pelanggan
(make
to  order).
Omset   perusahaan
ini
dapat   mencapai
angka
6-7 
milliar
setiap   bulannya   dari 
hasil  penjualan
total   tentunya. 
Saat 
ini  jumlah 
karyawan
yang
ada  diperusahaan 
berjumlah
kurang
lebih 
200-an
orang. 
Untuk 
saat 
ini  perusahaan
memiliki 
beberapa
mesin 
yang 
saling   terintegrasi
untuk   produksi 
dari 
mulai 
mesin
mixer 
berjumlah
4  mesin, 
sheet   extruder
mesin, 
sarnpai   8  mesin 
Thermoforming
buatan pabrik  mesin   di Eropa.
Dibawah ini adalah  rinciannya:
No
TIPE
PRODUK
1
MD  125
HOPE Sheet, HBS Sheet, PP  Sheet
2
MD 125
PP  Sheet (Transparan)
3
T
190
PP  Sheet White
4
T
120
PP  Sheet (Transparan)
Tabel  1.1
Mesm  Sheetmg dan
Spes1fikasmya
No
TIPE
PRODUK
1
745
CUP PU  195
2
F745
CUP PU  195
3
F745
CUP PU  195
4
!TAL
IN
30-100
5
!TAL
CUP P
62
6
M91
CUP GF 
85
7
KTR4
CUP S250
8
FTV550
CUP P78
Tabel  1.2
Mesm  Thermoformmg dan
Spes1fikasinya
Dengan 
mesin-rnesin yang  ada  diatas  PT  SAl 
dapat 
memproduksi
sheet 
dengan
ketebalan
dari 
200 
sampai 
3000    mikron 
dengan   berbagai
bahan 
baku 
yang
  
9
diperlukan,
seperti 
Polypropylene
(PP), 
Polystyrene
(PS),
High
Density Polyetilene
(HDPE)
dsb.
Adapun
material!bahan baku 
yang 
dipakai 
antara
lain
adalah 
bijih
plastik
(Polypropylene),
zat
tambahan
LDPE
Cosmothene, 
maupun
zat  pewarna
yaitu  Master
Batch.
Sejauh
ini
PT  SAl 
selain  menjual 
cup,
tetapi  juga  menjual 
sheet
(15 
%
dari
total 
produksi
sheet).
Pelanggan
tetapnya
ialah
antara  lain PT  Tang  Mas,  PT  Garuda
Food,
PT  Amnots
Indonesia, PT  Inoac  d!L Sedangkan
supplier
tetap 
adalah  PT  Poly
tama  dengan 
bahan 
baku 
merek  PP 
Masplene,
PT 
Trypolyta
dengan 
bahan 
baku  PP
Trielene,
PT  Peny  dengan 
bahan  baku 
untuk
HDPE
merek  Penylene
dan  PT 
Risjad
Brasaly
Industry
dengan  bahan  baku 
untuk  HBS  dengan  merek 
Arbelac.
Sistem 
kerja
di PT  SAl  juga  diatur  sedernikian  rupa  dipisab  menjadi  3
shift (pagi,  sore  dan
malam)
untuk 
menghindari
lelahnya   para 
karyawan. 
Selama   satu   minggu   hari 
keija   penuh,
tetapi
untuk
karyawan
kantor 
hanya 
lima
hari  kerja  efektif   Dalam
faktor
lingkungan
kerja   dalam   pabrik   terdapat 
ventilasi-ventilasi
untuk  
menjaga  
agar  
temperatur 
di
dalam  pabrik  tetap  sesuai  dengan  kondisi  produksi.
Untuk  
sistem   
distribusinya  
adalah   
dengan     menyewa  
truk     untuk  
dapat
menyalurkan
produk
jadi
berupa 
cup 
ataupun
sheet
kepada
pelanggan
atau 
agen-agen
yang 
membutuhkan.
Saat 
ini PT  SAl 
memilik:i satu
Marketing
Branch
di
Jakarta
dan
satu  
Branch 
Office 
di   Surabaya 
untuk  
membantu 
memasarkan 
produk 
kepada
pelanggan.
Berikut
ini  akan 
diperlihatkan
bagan 
struktur
organisasi
di
PT  SAl, 
juga
beserta
keterangannya
masing-masing.
  
H - HoPERA
OPERATOR
r
l
M   IFT   
IFT   
I
I
KA SHIFT
 
I
 
I
!ANAGING
DIRECTOR
I
I  
IT STAF 
SEKRETARIS 
I
PURCH
I
I
I
SALES
PLANT
I
I
I
I
P&GA
 
I
 
I
F&A
MANAGER
I
MARKETING   
I
MANGER
MANAGER
MANAGER 
MANAGER 
MANAGER
I
STAF PPIC     ¹
-
f--[ 
SEKRETARIS    
I
    
ACCSTAF    
STAF    
 
I
 
  FCCSTAF
FCCSTAF
 
I
I  
ADMIN PPIC  
I
PAYROLLSTAF
I
MARKETING  
I
EXPORT
STAF
TRADING
I
I
   
[sUP E R VISi
 
ORQA 
I
I
SUPERVISOR PROD
SHEET 
I
I
SUPERVISOR
PROD.THERMO
I
I
SPVS
WORKSHOP 
I
I
SPVS
GUDANG
I
 
I
[_ DMIIN
OA   
;
I
KA
SHIFT
PROD
PROD
-i_
INVENTARIS 
J
PEK
I
KEPALA REGU
!
PALA REGU 
I  I  KEPALA REGU  I
I
KEPALA REGU  
I
H
TEKNISI
H
s
u  
I
INSPEK
--1OPERATOR
r-
H
TEKNISI
a";;
I
INSPEK 
ciEJ--
---i
OPERATO
--1   
TEKNISI
INSPEK
----1
OPERATOR
'--1 
OPERATOR
Gambar
1.1
Struktur 
Orgaoisasi
PT
SAl
  
11
Deskripsi
tugas  (job  description) dari   masing-masing
jabatan 
adalah 
sebagai
berikut
ini:
1.  
Managing
Director,
bertugas
untuk 
mengawasi
kelancaran
sistem 
perusahaan
secara
umum      dan     membuat   
perencanaan   
strategis    jangka     
panjang
perusahaan,serta
membuat keputusan-keputusan
yang
sifatnya  global.
2. 
Sekretaris, 
bertugas  
sebagai    asisten   
direktur  
yang    melakukan  
aktivitas
administrasi.
3. 
Staf  
IT,   bertugas 
untuk  
mengatur 
sistem  
IT  
diperusahaan 
dan   membuat
program
untuk 
memudahkan proses
administrasi.
4. 
Manajer 
Pembelian, 
bertugas 
untuk  
melakukan 
keputusan 
untuk 
membeli
bal1an baku  dan berhubungan
dengan
supplier.
5. 
Staf    Pembelian,  
bertugas  
membantu  
manajer   
pembelian  
dan   
memberi
masukan atau  pertimbangan.
6.  
Manajer 
Penjualan, 
bertugas  
unhtuk  
mengawas1
penjualan 
produk  
dan
memberi  arahan  kepada
tenaga
penjual.
7. 
Sales,   bertugas 
untuk  
menjual   produk 
yang   ada   kepada 
pelanggan,
terdiri
antara
lain cup sales, export sales
specialist, dan
trading sales.
8.  
Manajer 
Pabrik, 
bertugas 
untuk    mengawasi 
jalannya  
proses 
produksi 
di
lapangan
dan
memberi  instruksi.
9. 
Staf  PPIC,
bertugas
untuk 
merencanakan
jadwal 
produksi
maupun
pembelian
bahan  baku.
  
12
10.
Administrasi PPIC,
bertugas membantu staf 
PPIC
dan 
mengawasi perputaran
bahan
baku.
11. 
P&GA
Manajer
atau  
manajer
SDM,
bertugas
untuk
mengatur
dan 
membuat
kebijakan
tentang
karyawan
di
perusahaan.
12. 
Payroll staf, 
bertugas membantu manajer SDM.
13.  Manajer Keuangan dan 
Akuntansi, bertugas untuk mengatur sistem keuangan
dan  pencatatannya serta bertanggung jawab kepada Direktur.
14. 
Staf  
Keuangan 
dan  
Akuntansi,
bertugas  membantu
manajer
keuangan  dan
akuntansi.
15. 
Manajer 
pemasaran, 
bertugas 
untuk  
mengkoordinasi 
kegiatan 
pemasaran
produk dan 
membangun hubungan
dengan
pelanggan.
16. 
Staf 
Pemasaran,
bertugas
untuk
melakukan
promosi
produk
terhadap
pelanggan
potensial.
17. 
Supervisor 
Gudang, 
bertugas 
untuk 
mengawas1
kegiatan 
di 
gudang  bahan
baku atau 
gudang
barang
jadi.
18. Administrasi
gudang,
bertugas
untuk
membantu
supervisor
gudang
menjalankan tugasnya.
19. 
Staf  gudang
bahan
baku,
bertugas
untuk
mengatur
keluarnya
bahan
baku
di
dalam
gudang.
20. 
Staf
gudang
barang
jadi,   bertugas  untuk
mengatur
keluarnya
barang
jadi 
di
dalam gudang.
  
13
21.
Supervisor 
Workshop, 
bertugas  untuk 
menjaga 
dan  
mengatur 
kegiatan 
di
bagian
gudang
maintenance
dan 
pera!atan.
22.
Inventaris,
bertugas
untuk
menginventarisasikan
alat-alat
dan 
tools
pendukung
untuk produksi.
23.
Teknisi,  bertugas
untuk
memperbaiki
adanya
alat-alat 
produksi 
yang   rusak
dan 
melakukan perawatan
mesin secara rutin.
24. 
Supervisor 
Bagian 
Thermoforming, 
bertugas 
untuk 
mengawasi 
jalannya
produksi di
bagian thermoforming.
25.
Supervisor
Bagian
Sheeting 
Line,   
bertugas
untuk
mengawasi 
jalannya
produksi di
bagian sheet
extrusion.
26.
Supervisor
QA, 
bertugas
untuk
mengawasi
kualitas
produk
jadi 
dan 
membuat
sejumlah
kebijakan
penting tentang
kualitas.
27.
Kepala
Shift
Produksi,
bertugas
untuk
mengawasi
para 
karyawan
pabrik
yang
bekerja dan 
membuat
laporan
harian pertanggungan jawab kepada
supervisor.
28.
Kepala  Shift  QA,  berugas  untuk  membantu  supervisor  QA  
menjalankan
tugasnya.
29.
Administrasi
QA, 
bertugas
untuk
mencatat
hasil-hasil
pengamatan
terhadap
kualitas.
30.
Inspek 
QA, 
bertugas 
untuk 
melakukan 
pengawasan 
secara 
rutin  
terhadap
produkjadi.
31.
Kepala  Regu, 
bertugas 
untuk
mengkoordinir  para 
operator 
yang  
be1iugas
mengoperasikan mesin.