|
BAB 2
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
2.1
Latar Belakang Perusahaan
Dimulai
pada
tahun
2001
sebagai
perusahaan assembly,
PT
Pro
Tec Indonesia
(Pro Tec) merupakan
perusahaan
perakit
komponen-komponen untuk perusahaan
elektronik Korea yang berada di Indonesia. Pro Tec sendiri merupakan perusahaan
Korea
yang beroperasi di Indonesia, sehingga
mempunyai dukungan pengetahuan dan
teknologi dari Korea yang dapat digunakan untuk memperluas bisnis di Indonesia. Pro
Tec
memulai
bisnisnya
dengan
mengembangkan assembly
untuk
guide
roller
yang
digunakan dalam V.C.R (pemutar video) dan camcorder (kamera perekam video).
Setelah beberapa tahun berjalan, Pro Tec
memulai kegiatan bisnisnya pada metal press
(pencetakan metal) khususnya untuk komponen-komponen elektronik. Saat ini Pro Tec
bergerak di industri manufaktur khususnya press and dies, untuk pencetakan komponen-
komponen
yang terdapat pada alat-alat elektronik seperti kulkas,
Digital Video Player
(DVD),
pemutar
video,
dan
beberapa alat elektronik
lainnya. PT
Pro
Tec Indonesia
memiliki beberapa pelanggan utama seperti pada Tabel 2.1.
6
|
![]() ![]() ![]() 7
Tabel 2.1 PT Pro Tec Indonesia Main Customers
PT LG Electronics Indonesia
PT Kepsonic
PT Samsung Electronics Indonesia
PT Isogai
PT Sharp Yasonta Indonesia
PT Dae Young Indonesia
PT Hartono Istana Teknologi
PT Sunshine Technica
PT KGEO Electronics Indonesia
PT Galva Kami Industry
Sumber: PT Pro Tec Indonesia
Tabel 2.2 Informasi PT Pro Tec Indonesia
Berdiri
Desember 2001
Modal
USD 1.350.000
Besar Pabrik
Luas Tanah 3.000 m²
Luas Bangunan 2.249 m²
Pegawai
120 Orang
Daya Listrik
500 KVa
Produk Utama
Manufaktur mould
Metal Stamping
Perakitan (Connector, Fe Head)
Sumber: PT Pro Tec Indonesia
|
![]() 8
Tabel 2.3 Tonggak Bersejarah PT Pro Tec Indonesia
Desember 2001
Pendirian dan Pendaftaran Perusahaan
Nama Perusahaan: PT Pro Tec Indonesia
Alamat: Jl. Jababeka IV E Blok V-78 M Kawasan Industri
Jababeka 1, Cikarang Bekasi
Februari 2002
Mengembangkan perakitan guide roller yang dapat digunakan
untuk VCR (pemutar video) dan camcorder (kamera perekam
video)
Februari 2003
Memulai proses metal press khususnya untuk komponen-
komponen elektronik
May 2003
Pengembangan Produk untuk perakitan connector
July 2003
Pengembangan Produk untuk memasuki pasar lokal dan
bersaing dengan kompetitor lokal
May 2005
Melakukan produksi press & dies untuk kulkas, DVD, VCR,
dan komponen untuk alat eletronik lainnya
Sumber: PT Pro Tec Indonesia
|
|
9
2.2
Visi & Misi Perusahaan
2.2.1
Visi
Mempunyai visi pada masa depan untuk menjadikan perusahaan yang
mendapatkan,
Trust (kepercayaan)
Loyalty (loyalitas)
Prestige(keberhasilan)
dari pelanggan, karena dengan kepercayaan dan loyalitas dari
pelanggannya,
PT
Pro
Tec
Indonesia akan
mendapatkan
keberhasilan
dalam
upayanya untuk menjadi yang terdepan.
2.2.2
Misi
Sebagai pendukung visi dari Pro Tec maka
terdapat misi yang akan
dijalankan, yaitu dengan:
Menggunakan Teknologi yang canggih
Menghasilkan produk yang terbaik
Memberikan harga yang termurah
Mengirim produk dengan waktu tercepat
Mengutamakan kualitas
|
![]() 10
2.3
Struktur Organisasi
Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT Pro Tec Indonesia
Sumber: PT Pro Tec Indonesia
Dalam kegiatan
bisnis
pada
PT
Pro
Tec
Indonesia
(Pro
Tec)
terdapat
struktur
organisasi
yang
harus dipatuhi oleh
semua pegawai
perusahaan
tersebut.
PT
Pro
Tec
Indonesia dipimpin oleh seorang President Director, dan diwakili oleh seorang Director.
Pro Tec memiliki tiga
kegiatan bisnis utama yaitu, produksi, engineering, dan general
affair. Dari tiga kegiatan bisnis tersebut terdapat divisi-divisi dimana proses bisnis pada
PT Pro Tec Indonesia berlangsung.
|
|
11
2.4
Waktu Kerja Karyawan
Waktu kerja karyawan pada PT Pro Tec Indonesia dapat mencapai 3 Shift apabila
terdapat permintaan yang tinggi dari pelanggan, dan perusahaan ingin mengejar target.
Namun, apabila permintaan dari pelanggan stabil dan tidak tinggi maka hanya 1 Shift
yang
digunakan.
1
Shift pada
PT
Pro
Tec
berdurasi kurang
lebih 8
s/d
9
jam kerja,
tergantung
jumlah
hari
kerja
dalam waktu
satu
minggu.
Tabel
dibawah
akan
menggambarkan durasi kerja karyawan pada PT Pro Tec.
Penambahan shift 2 dan 3 dilakukan apabila perusahaan ingin mengejar dead-line
atau
pada saat
permintaan
dari
pelanggan
menumpuk.
Pada saat observasi dilakukan
perusahaan sedang menjalankan
hanya
satu Shift dalam
kegiatan produksinya. Hal ini
dilakukan karena permintaan produksi tidak terlalu tinggi.
2.5
Production
Divisi produksi
dibagi
menjadi empat
sub-Divisi
pada PT Pro
Tec,
empat
sub-
Divisi
tersebut
adalah
sub-Divisi
Mould
&
Tool,
Press,
Assembly,
dan
Maintenance.
Tiga sub-Divisi pada PT Pro
Tec yaitu Mould & Tool, Press dan Assembly ada karena
perusahaan
tersebut
memiliki
produk
utama
antara
lain, Manufacture
Mould,
Metal
Stamping, dan Fe Head Assembly.
Sub-Divisi Mould & Tool akan menangani mulai dari pemeriksaan jig or dies atau
cetakan yang digunakan untuk membuat manufacture mould dan metal stamping, sampai
penanganan apabila terjadi kerusakan pada cetakan tersebut. Mould & Tool akan bekerja
sama
dengan
divisi
maintenance
apabila
terjadi
permasalah
dengan
proses
produksi
yang disebabkan oleh rusaknya cetakan dan mesin cetakan tersebut.
Sub-Divisi Press
bertugas untuk mengawasi jalannya
produksi, khususnya
pada
proses pengerjaan stamping atau pencetakan.
Divisi
ini akan menjalankan proses
|
![]() 12
produksi apabila set-up telah dinyatakan valid. Selama berjalannya proses produksi
divisi Press
akan terus bekerja menghasilkan produk sampai kapasitas produksi telah
terpenuhi.
2.5.1
Data Produksi
Berdasarkan data produksi PT Pro Tec Indonesia pada bulan Oktober 2006
berikut adalah diagram Pareto dari part-part berdasarkan presentase cacat tertinggi
di dalam perusahaan tersebut.
Pareto Chart of Part
100
80
60
40
20
100
80
60
40
20
0
0
Part
Count
18,36 16,61 13,75 12,45
10,05 9,89
9,63
3,87
2,93
2,47
Percent
18,4 16,6 13,7 12,4 10,0
9,9
9,6
3,9
2,9
2,5
Cum %
18,4 35,0 48,7 61,2 71,2 81,1
90,7
94,6
97,5
100,0
Gambar 2.2 Diagram Pareto Part PT Pro Tec Indonesia
Sumber: PT Pro Tec Indonesia
Dapat dilihat pada
Gambar
2.2
bahwa part
Bushing 7x3 yang dihasilkan
oleh
Pro
Tec
memiliki
nilai
presentase
cacat
tertinggi dari part-part lainnya.
Diagram Pareto
diatas
merupakan
perhitungan
dari
frekuensi
cacat
(NG)
yang
terdapat
pada
produk
dibagi
frekuensi
produk
yang
diterima
(OK).
Perhitungan
dari Diagram Pareto diatas dapat dilihat pada LII.5 (Lampiran 2).
|
![]() 13
2.5.2
Proses Produksi
Bushing 7x3
merupakan komponen
yang diproduksi PT Pro Tec sebagai
komponen motor dinamo
untuk compressor. Bahan baku
Bushing 7x3 merupakan
metal coil atau gulungan plat besi
yang
memiliki spesifikasi jenis material SPTE
atau ASTM 624/626 menurut standar Amerika. Electrolytic Tin Plate (SPTE)
merupakan gulungan besi plat hitam yang diberikan lapisan tin (besi tipis). Lapisan
tin tersebut berfungsi sebagai pelindung dari korosi atau karat.
Gambar 2.3 Mesin Feeder Metal Coil
Sumber: Hasil Penelitian (2007)
Metal coil yang digunakan sebagai bahan baku akan dimasukkan ke dalam
mesin feeder (Gambar 2.3) agar gulungan dapat ditarik (Gambar 2.4) kemudian
dicetak sehingga proses produksi terjadi secara progressive atau terus menerus.
|
![]() 14
Gambar 2.4 Metal Coil sedang ditarik
Sumber: Hasil Penelitian (2007)
Setelah melewati mesin feeder gulungan besi tersebut akan di press dengan
menggunakan
mesin Press CS (Gambar
2.5). Mesin Press CS
menggunakan jig
atau dies (Gambar 2.6) berdasarkan spesifikasi pelanggan, sehingga material yang
di press
akan dicetak
dan
langsung
dipotong
sesuai
dengan
bentuk yang
diinginkan.
Gambar 2.5 Mesin Press CS
Sumber: Hasil Penelitian (2007)
|
![]() 15
Gambar 2.6 Jig atau Dies
Sumber: Hasil Penelitian (2007)
2.6
Quality Control
Divisi Quality Control atau Manajemen Mutu pada PT Pro Tec Indonesia
bertanggung jawab untuk segala kualitas produk yang dihasilkan, mulai dari penerimaan
bahan baku sampai produk tersebut menjadi barang jadi. Kepuasan pelanggan menjadi
tujuan utama dari Divisi
Quality Control, karena dengan adanya barang yang cacat,
pelanggan akan memberikan keluhan kepada perusahaan. Apabila ada pelanggan yang
mengeluh
maka
produk
tersebut
harus
diperbaiki
sehingga
mengeluarkan
biaya
tambahan kepada perusahaan. Oleh karena itu Divisi Quality Control memiliki peranan
yang penting dalam menjaga kualitas dan mutu produk Pro Tec.
Agar Divisi Quality Control dapat menjalankan tugasnya untuk menjaga kualitas
dan
mutu
produk
Pro
Tec
dengan
hasil
yang
optimal,
maka Quality
Control
dibagi
menjadi
tiga
sub-Divisi,
yaitu
Incoming
Quality Control (IQC),
Line Quality
Control
(LQC), dan Outgoing Quality Control (OQC). Ketiga sub-Divisi tersebut memiliki
|
|
16
peranan tersendiri dalam menjaga kualitas dan
mutu produk, agar dapat diterima oleh
pelanggan Pro Tec.
2.6.1
Incoming Quality Control
Sebelum
bahan baku
memasuki
lantai
produksi, bagian Incoming
Quality
Control (IQC) harus melakukan inspeksi terhadap bahan tersebut. IQC akan
menerima bahan baku dari supplier dan kemudian
IQC akan
memeriksa dimensi,
dan visual dari bahan baku yang dikirim. Bahan baku yang lolos inspeksi IQC akan
ditandai
dan
kemudian
disimpan ke
dalam gudang
bahan
baku, dan bahan
baku
yang tidak lolos inspeksi IQC akan dikembalikan ke supplier dan dibuatkan surat
menyatakan bahwa barang tersebut tidak memenuhi standar Pro Tec. Bahan baku
yang
lolos akan disimpan di dalam gudang bahan baku sampai dibutuhkan untuk
proses produksi.
2.6.2
Line Quality Control
Line Quality Control (LQC) akan melakukan inspeksi awal sebelum proses
produksi dimulai. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan terhadap hasil
produksi pada
awal
mesin startup.
Apabila
hasil
produk
pada
saat set-up
awal
tidak valid, maka LQC akan memanggil Divisi Produksi yaitu Bagian
Maintenance, Moulding & Tools, atau Press, tergantung dimana sebab kerusakan
terjadi. Apabila set-up dinyatakan valid oleh LQC
maka
proses
produksi
dapat
berjalan. Kemudian LQC akan kembali melakukan pemeriksaan terhadap proses
produksi dalam waktu yang telah ditentukan inspektur LQC (setiap 15 menit atau
setiap 30
menit). Apabila
terdapat cacat
visual
dari hasil proses produksi,
maka
satu lot akan dipisahkan, namun apabila terdapat cacat dimensi dari hasil
proses
produksi,
maka proses produksi harus dihentikan. LQC kemudian akan
membuat
|
|
17
suatu laporan permasalahan dan akan diberikan kepada Supervisor Produksi
dan
Leader Produksi. Proses produksi akan tetap berjalan apabila tidak terdapat cacat
dimensi pada barang hasil produksi.
LQC bertugas
untuk
menjaga
mutu
dan kualitas pada
saat proses
produksi mulai sampai proses produksi berhenti. Hasil inspeksi dari LQC akan
menentukan produk jadi Pro Tec, sehingga pada tahap ini LQC harus memeriksa
segala hasil produksi dengan teliti.
Metode Pengendalian Mutu LQC
Dalam waktu kurang
lebih 15 s/d 30 menit, hasil dari cetakan mesin
Press CS yaitu Bushing 7x3 akan diperiksa berdasarkan visual dan
spesifikasi. Inspeksi pertama setelah proses produksi berjalan lancar, diambil
dalam waktu
15
menit dan
berjumlah
5
sampel,
apabila
staf
Line
Quality
Control (LQC)
tidak
melihat
adanya
masalah
yang
signifikan
dari
hasil
pemeriksaan maka ia dapat melakukan pemeriksaan 30 menit kemudian
dengan jumlah sampel yang sama. Namun apabila LQC mencurigai adanya
masalah maka ia dapat mempercepat waktu pemeriksaan sampai 15 menit.
LQC dapat menghentikan proses produksi apabila permasalahan pada
spesifikasi terjadi pada produk, contohnya cacat fisik atau ukuran tidak sesuai
dan dapat mempengaruhi fungsi dari komponen. Apabila yang terjadi
merupakan permasalahan
pada
visual seperti
perubahan
pada warna,
maka
hasil
produksi
sebanyak
satu batch atau
produk
yang
dihasilkan
diantara
pemeriksaan tersebut akan dipisahkan dan akan dilakukan 100% inspection.
|
![]() 18
Gambar 2.7 Digital Caliper
Sumber: Hasil Penelitian (2007)
Pengukuran
dalam
inspeksi part
Bushing
7x3 menggunakan
Digital
Caliper (Gambar 2.7)
dan Projector
(Gambar 2.8).
Namun
karena
pengukuran dilakukan di lantai produksi, maka pengukuran lebih sering
menggunakan Digital Caliper. Pengukuran dilakukan dengan Digital Caliper
karena alat tersebut mudah untuk dibawa dibandingkan Projector.
Gambar 2.8 Projector
Sumber: Hasil Penelitian (2007)
|
|
19
2.6.3
Outgoing Quality Control
Produk
Pro
Tec
yang telah melewati proses
produksi
akan
disimpan
di
dalam gudang barang jadi. Namun sebelum produk tersebut dikirim ke pelanggan
Outgoing
Quality
Control
(OQC)
harus
memeriksa
kembali produk
tersebut.
Hal
ini dilakukan untuk meminimasi produk cacat yang diterima oleh pelanggan,
sehingga pelanggan puas dengan hasil produksi dari PT Pro Tec Indonesia.
OQC akan memeriksa jadwal pengiriman produk yang didapatkan dari
Divisi PPIC (Planning). Setelah mengetahui berapa dan kapan suatu produk akan
dikirim, OQC kemudian akan mengambil sampel berdasarkan AQL dari lot yang
akan dikirim. Lot yang lolos pemeriksaan OQC akan ditandai dan kemudian
disimpan kembali sampai tanggal pengiriman. Lot yang gagal melewati inspeksi
OQC
akan
dinyatakan pending,
sehingga
lot
tersebut
tidak dapat
dikirim.
OQC
kemudian akan melakukan inspeksi 100% terhadap lot yang gagal.
2.7
Quality Policy
Dalam
usahanya untuk menjadi perusahaan mendapatkan kepercayaan dan
loyalitas penuh dari pelanggannya, Pro Tec membuat sebuah quality policy (aturan
mutu).
Aturan
mutu
dari
PT
Pro
Tec
Indonesia
untuk
membuat
nyata
quality
management adalah:
Membuat pelanggan merasa puas dengan memberikan kualitas dan jasa yang
terbaik.
Membuat
suatu
sistem
manajemen
mutu
yang
sistematis
untuk
mengikuti
aturan mutu.
Melakukan
peningkatan
produktivitas dan
peningkatan
kualitas
dengan
aktivitas perbaikan secara terus menerus.
|