![]() 63
Menurut Jaszweski dan Heydman(1984) Designing in context memperkuat keterkaitan
antara
bangunan
yang
sudah
ada
dengan
proyek
yang
kita
usulkan
sehingga
membentuk
suatu
efek
visual
yang
menyeluruh dan terpadu, dan memiliki kaitan visual
(visuai
linkages).
Ketautan
visual dapat diperoleh dari bnetuk massa, siluet bangunan, jarak antar bangunan, proporsi bukaan,
pengaturan
jalan
masuk,material dan
tekstur, pola bayangan, dari
gubahan
massa, elem dekoratif,
skala bangunan, gaya arsitektur, pegolahan landsape, dan sebagainya.
Effective Contrast, pendekatan ini merupakan pendekatan desain yang paling kuat dalam
memberikan fokus dan memmperkaa dramatisasi suatu kota. Beberapa bangunan istimewa
memang membutuhkan aksen dan fokus tertentu, tetapi apabila seluruh bangunan mencari kontras,
hasilnya adalah chaos.
Ditambahkan pendekatan secara contrasting menurut
Tyler (2000), adalah
metode
bahwa
bangunan
sekitar
tapak memiliki
beragam langgam
arsitektural
dari
berbagai
periode
waktu
pembangunan
yang
berbeda,
sehingga
bangunan
baru dan
lama
seharusnya
berpisah
langgam.
Contrasting ini jika digunakan secara benar dapat menjadi saran desain yang kuat dalam
memperkaya dramatisasi suatu kota, namun jika tidak, maka akan menghasilkan ketidakteraturan
yang merusak wajah kota. Seringkali pendekatan kontras ini menggunakan material dan tampilan
modern dan sederhana.
Metode Perancangan dengan contrasting bisa terlihat sebagai berikut :
Elemen elemen Visual contrasting
Kriteria perancangan contrasting
1. elemen Fasade
Proporsi bukaan
Tidak
menggnakan
ornamen
fasade
bangunan lama
Bahan bangunan
Bahan
bangunan
yang
baru
dan
berbeda dengan bangunan sekitarnya
|