9
Bab 2
Landasan Teori
2.1 Konsep Haiku
Pakar haiku, Kagiwada (1990 : 18) mengatakan bahwa :
?????????????????????????
?
????????
????????????????????????????·?·??
?????????????????????????????????
?????????????????????????????????
??????????????????????
Terjemahan :
Secara
garis
besar haiku
dibagi
menjadi dua
yaitu bentuk
musiman
tradisional
yang pasti, lalu bentuk non -
musiman yang tidak pasti. bentuk musiman
tradisional yang pasti minimal terdiri dari 5 – 7 – 5 suku kata, dan termasuk di
dalamnya
kata
yang
melambangkan
musim disebut
dengan
haiku.
Sedangkan
bentuk yang di dalamnya tanpa kata yang melambangkan musim disebut dengan
bentuk non musiman yang tidak pasti.
Hal
ini
dibenarkan
oleh
Reichold
(2002
:
24)
yang
mengatakan
bahwa
haiku
di
Jepang adalah penyusunan dari tiga bagian yang berisikan lima kesatuan suara (on) pada
bagian awal, dan lima kesatuan suara (on) pada bagian akhir.
Reichold (2002 : 49-52)
juga
berpendapat bahwa karena haiku
adalah
gaya bentuk
jenis
puisi
yang
dibangun
dalam peraturan tertentu, sehingga kita
harus dapat
mematuhi peraturan
tersebut untuk
menulis sebuah haiku. Tidak hanya itu, menurut Frost dalam Reichold (2002 : 51) yang
merupakan
seorang
ahli
penyair
puisi
juga
mengatakan
bahwa
puisi
tanpa
peraturan
akan menjadi seperti pertandingan tenis tanpa net.
Selain itu, Kagiwada (1990 : 15) juga berpendapat :
?????????????????????????????????
  
10
????????????? ???????????????????
?????????????????????????????????
?????
Terjemahan :
Tergantung
bendanya, bisa
mengungkapkan secara
simbolis.
Jadi,
haiku
dapat
menceritakan tentang dunia lebih mendalam melalui suatu bentuk sejenis filosofi
yang diungkapkan dengan indah. Hal ini tentu saja merupakan awal dari suatu
cerita tentang sebuah kisah yang telah terjadi.
2.2 Konsep Musim Gugur
Johnny dalam Japan the Four Seasons (1990:126) mengatakan :
The
Japanese
archipelago
stretches
for
over
2000
miles
from north
to
south,
arching out into the pacific ocean like a giant bow. There is a latitudinal span of
15       degrees, making for significant climatic variation and bringing seasonal
change early      to some areas and later to others. The first autumn tints manifest
themselves in early       September
in the
northern
most parts of Hokkaido, than
gradually sweep down the     lengthof Japan over a three month period. Mountains,
valleys,
rivers, ravines, lake     
lands,
forests, marshes, plateaus,
farmlands,
rice
paddies, orchards and vineyards are     all caught up in this glorious progress. It is
during this seasonal shift that each region    
displays its own unique character. It
is the time of harvest and harvest festivals, a time of ancient Shinto rites, thanking
the gods for abundant crops. It is a time of changing moods and changing skies, a
time of cold winds and the harvest moon. And it is a time
of melancholy and
sentimentality.
Terjemahan :
Kepulauan Jepang
terbentang kurang
lebih
2000
mil
dari utara ke selatan,
membujur ke samudra pasifik seperti busur raksasa. Karena
adanya perbedaan
lintang sebesar 15 derajat,
maka
terdapat perbedaan
iklim
yang cukup kentara
dan membuat perubahan musim datang lebih cepat di satu area, dan lebih lambat
di area lainnya. Musim gugur pertama kali muncul awal bulan September di
bagian  paling  utara  Hokkaido,  lalu  sedikit  demi  sedikit  meluas  ke  seluruh
Jepang dalam jangka waktu tiga bulan. Gunung, lembah, sungai, jurang, danau,
hutan,
rawa, dataran
tinggi,
dataran pertanian, padi, kebun buah buahan, dan
kebun
anggur
semua
ikut
terpengaruh dalam proses yang agung. Selama
perubahan musim ini, setiap daerah memperlihatkan karakter unik milik mereka.
Ini
adalah
waktu
untuk
panen
dan
perayaan
panen,
waktu
untuk
melakukan
ritual Shinto kuno,
yaitu berterima kasih kepada
tuhan
atas
hasil
panen
yang
  
11
berkelimpahan, dan juga waktu untuk
mengubah suasana hati dan berubahnya
langit. Waktu bagi angin dingin berhembus dan perayaan melihat bulan.
Merupakan waktu melankolisme dan sentimentalitas.
Di samping itu, Supriatna (2006:5-6) berpendapat bahwa letak geografis Jepang yang
unik
memungkinkan
negeri
ini
memiliki
4
musim yang
berbeda.
Masing-masing dari
musim
tersebut
memiliki ciri khas tersendiri. Pola
iklim di Jepang sangat dipengaruhi
oleh tiga
faktor utama,
yaitu angin
musim, 
arus laut, dan
laut yang
membatasi daerah
kepulauan Jepang. Musim gugur adalah salah satu dari empat musim di daerah beriklim
sedang, masa peralihan dari musim panas ke musim dingin. Karena Jepang mempunyai
empat musim yang berbeda-beda.
Menurut Ritsuki (2008), dua dari pemandangan yang paling
indah di Jepang adalah
ketika bunga sakura bermekaran di musim semi dan dedaunan berubah menjadi warna-
warni
merah,
jingga,
dan
kuning
yang
mempesonakan pada
musim gugur.
Musim
ini
sangat dinanti banyak orang, karena udaranya sejuk, dan tubuh  terasa segar setiap saat.
Terik matahari pun tidak begitu panas dan udara juga tidak terlalu dingin. Rakyat Jepang
menikmati petanda-petanda perubahan musim dan mengamati perkembangannya dengan
memperhatikan laporan cuaca, yang menampilkan peta di mana sakura sedang
bermekaran pada musim semi dan dedaunan musim gugur sedang indah-indahnya.
Menurut Shito (2005), musim gugur di Jepang dimulai dari bulan September
hingga
memasuki
bulan
Desember. Selain
itu permulaan
musim gugur di Jepang
yaitu bulan
September, merupakan
musim badai di
mana hujan yang disertai angin serta kilat dan
hujan berkabut yang sesaat akan sering terjadi. Para petani khawatir akan datangnya
hujan atau angin sebelum panen padi atau buah-buahan. Namun dalam
masa peralihan
ini
malam
hari
berlangsung
lebih
panjang dibandingkan
dengan
siang
hari.
Sesudah
  
12
bertiup angin
yang kuat,
langit
hari
itu akan menjadi
terang dan pada
malam harinya
bulan bercahaya dengan terang. Pada musim gugur ini, di Jepang ada kebiasaan
menikmati
terangnya
cahaya
bulan
pada
bulan
September
untuk
berterima
kasih
atas
hasil panen musim gugur.
Menurut
Naka
(2003:116-117),
matsuri
yang
diselenggarakan
pada
musim semi
(haru)
dan
musim gugur
(aki) merupakan
matsuri
yang
paling
penting.
Hal
ini
disebabkan
pada
saat
musim semi,
orang
jepang
mulai
mempersiapkan
kegiatan
menanam padi sampai proses penanaman padi
itu berlangsung. Sementara pada
musim
gugur,
merupakan
saat
panen
sehingga
matsuri yang dilaksanakan, digolongkan pada
jenis okansha suru matsuri atau matsuri sebagai rasa terima kasih yang bertujuan untuk
mengucapkan rasa terima kasih atas hasil tani yang baik dan berlimpah.
Kunio dalam Naka mengatakan pengertian aki matsuri sebagai berikut :
?????????????????????????????????
???????????
Terjemahan :
Di
musim gugur
setelah
pertanian
selesai
dengan
lancar,
mereka
mengadakan
matsuri
untuk berterima kasih kepada dewa dengan memberikan sesajen hasil
pertanian, selain itu bertujuan pula mengembalikan dewa ke gunung.
Aki matsuri diadakan untuk mengembalikan dewa ke gunung, dan berterima kasih
kepada dewa karena pertanian dapat dipanen dengan baik.
Menurut Shito (2005) setelah permulaan
musim gugur berlalu, pada bulan Oktober
udaranya menjadi semakin dingin dan dedaunan yang tadinya berwarna hijau berubah
menjadi 
warna 
merah 
atau 
kuning. 
Karena 
adanya 
musim 
panen, 
kegembiraan
meningkat  dan 
menyebabkan  orang  Jepang  bertambah 
nafsu  makannya,  sehingga
memicu
timbulnya
beberapa
istilah
yang
erat
kaitannya
dengan
“selera
makan“
dan
  
13
“kebiasaan
membaca“ ala
musim
gugur. Dalam bahasa aslinya, ???? (Shoku yoku
no aki) yang memiliki arti "selera makan musim gugur" dan
????
(Dokusho no aki)
yang
memiliki
arti
"kebiasaan
membaca
di
musim gugur".
Bagi
sebagian
besar
masyarakat
Jepang,
musim gugur
merupakan
musim yang
cocok
untuk
berkumpul
dengan
keluarga
dan
makan
bersama.
Selain
itu,
waktu
malam selama
musim
gugur
terasa sedikit lebih panjang, sehingga cocok sekali dimanfaatkan
untuk
melakukan
kebiasaan membaca buku-buku yang bermanfaat. Bukan menjadi hal aneh ketika banyak
orang-orang
Jepang
yang
memanfaatkan
waktu
malam di
musim gugurnya
dengan
membaca buku, novel, dan lainnya.
Selanjutnya,
memasuki bulan November
hawa dingin mulai terasa di pagi dan sore
hari. Warna daun-daun pepohonan menjadi semakin cerah. Selain itu, bulan November
juga
merupakan
musim
perpindahan burung.
Dari
negeri-negeri
utara
yang
jauh
dan
lebih dingin daripada Jepang berbagai jenis burung seperti angsa, burung bangau, dan
angsa liar bermigrasi ke Jepang, dan melewatkan waktu di Jepang yang tidak begitu
dingin. Berdasarkan penelitian Harris (2008), mengenai segi biologis kehidupan burung,
binatang ini merupakan tipe yang suka berkelana atau bermigrasi dalam jangkauan 500
mil per 24 jam, sehingga populasi burung ini bisa mencapai Siberia Timur, Cina, dan
Jepang. Terakhir pada bulan Desember, hawa dingin mulai menusuk dan binatang-
binatang memasuki periode mati suri.
Ikon-ikon
musim gugur
dari
penjelasan
Shito
(2005)
dan
Johnny
(1990)
tersebut
antara lain :
1.   Hujan
2.   Angin
  
14
3.   Kilat
4.   Badai
5.   Bulan
6.   Daun berguguran
7.   Panen dan perayaannya
8.   Sesajen
9.   Kebiasaan makan dan membaca yang meningkat
10. Berubahnya suasana hati (melankolis dan sentimentalitas)
11. Perubahan warna daun
12. Hujan kabut
13. Waktu kumpul bersama keluarga
2.3 Teori Semantik
Menurut Parera (1991:99) mengatakan bahwa kalimat didefinisikan sebagai runtutan
kata
yang gramatikal dan
memuat makna yang lengkap. Definisi
ini tentu saja berlatar
belakang semantik atau sudut pandang makna. Dengan demikian, makna sebuah kalimat
ditentukan oleh makna kata-kata pembentuknya dan makna runtunan kata-kata yang
membentuk kalimat tersebut. Dalam analisis semantik, penting mengetahui hubungan
penyairnya dengan bahasa yang digunakan sebagai sarana komunikasi.
Sebagaimana  telah  dikatakan  oleh  Ogden  dan  Richards  dalam  Parera  (1991:49)
bahwa   makna   dari   sebuah   kalimat   sebagian   terletak   dalam   konteks   psikologi
pemakainya. Sebuah kata disebut mempunyai makna atau bermakna jika kata itu
mempunyai sebuah konsep rujukan. Istilah semantik telah diterima oleh para pakar
linguistik sebagai cabang linguistik yang menganalisis makna-makna linguistik.
  
15
Melengkapi pernyataan Ogden dan Richards, Parera (1991:90) berpendapat semantik
merupakan  satu  studi  dan  analisis  tentang  makna  makna  linguistik.  Dalam  analisis
makna, pikiran tentang suatu konteks juga
sangat berpengaruh. Sebuah kata tidak
mungkin dipakai dan bermakna untuk semua konteks karena konteks itu selalu berubah
dari waktu ke waktu.
Ogden dan Richards dalam Parera (1991 : 41-42), telah membawa satu pembaruan :
mereka
menghubungkan kata dan pikiran ke benda, objek. Mereka 
hanya
mempunyai
perhatian kepada
hubungan antara kata-kata dan pikiran serta benda. Dan bahasa
ilmu
merupakan contoh yang utama dari teori-teori meraka. Dalam bahasa ilmu, kata-kata
merujuk secara khusus, terbatas, dan tepat kepada benda/ fakta/ data dan semua ini tanpa
kemasukan sikap penulis. Untuk menunjukkan kesamaan makna, kita akan kembali
kepada teori makna dan analisis makna.
Pembicaraan mengenai hubungan antar makna tidak terlepas dari teori makna.
Disamping itu, tidak terlepas pula dari meniti patokan analisis makna, seperti analisis
medan makna.
2.3.1 Teori Medan Makna
Menurut pandangan Saussure dalam Parera (1991
:
67), para
linguis dengan
intuisi
mereka sendiri menyimpulkan hubungan diantara seperangkat kata. Misalnya, dengan
kata “baik, kebaikan, memperbaiki, kebaikan, pembaikan, perbaikan” atau “satu, satuan,
penyatu, persatuan, penyatuan, bersatu, pemersatu” memberikan simpulan bahwa kata-
kata itu mempunyai asosiasi antarsesamanya.
Pernyataan Bally, seorang
murid de Saussure seperti
yang telah dikutip oleh Parera
(1991:68)
berpendapat
bahwa
memasukkan
konsep
medan
asosiatif
dan
  
16
menganalisisnya  secara  mendetail  dan  terinci.  Misalnya,  medan  asosiatif  ini  terjadi
dalam
kata kerbau
dalam
bahasa
Indonesia.
Dengan kata
kerbau
mungkin
seseorang
akan berpikir tentang kekuatan atau kebodohan. Jadi, medan makna adalah satu jaringan
asosiasi yang rumit berdasarkan pada kesamaan, hubungan, dan hubungan asosiatif
dengan penyebutan satu kata.
Teori medan makna menurut Trier dalam Ullman (2007
:
138),
merupakan
sebuah
teori
mengenai
setiap kata
yang
dikelilingi
oleh
suatu
jaringan asosiasi yang
menghubungkan satu kata dengan kata lainnya. Trier melukiskan vokabulari sebuah
bahasa  tersusun  rapi  dalam  medan-medan  dan  dalam  medan  itu  setiap  unsur  yang
berbeda didefinisikan dan diberi batas yang jelas antarsesama makna. Setiap medan
makna
itu akan selalu tercocokkan antarsesama
medan sehingga membentuk satu
keutuhan bahasa yang tidak mengenal tumpang tindih. Bagaimanapun juga, setiap kata
dapat dikelompokkan sesuai dengan medan maknanya. Akan tetapi, perlu diketahui pula
bahwa
pembedaan
medan
makna
tidak
sama
untuk setiap bahasa. Misalnya, bahasa
Indonesia membedakan medan
makna melihat
: melirik, mengintip, memandang,
meninjau, menatap, melotot, dan sebagainya.
2.4 Teori Pengkajian Puisi
Waluyo (1995 : 2), seorang ahli puisi berpendapat bahwa puisi merupakan
misteri.
Usaha memahami puisi tidak dapat terikat pada salah satu pendekatan saja karena setiap
puisi
memiliki
karakter tersendiri, baik
karakter
yang
ditentukan oleh
penyairnya,
temanya,
nadanya,
maupun karakter
yang
diwarnai
oleh
kenyataan
sejarah
pada saat
puisi itu diciptakan.
  
17
Melalui bentuk puisi, penyair memilih kata dan memadatkan bahasa. Memilih kata
artinya memilih kata-kata yang paling indah dan paling tepat mewakili maksud penyair
serta memiliki bunyi vokal atau konsonan yang sesuai dengan tuntutan estetika.
Memadatkan bahasa artinya kata-kata yang diungkapkan mewakili banyak pengertian.
Biasanya
puisi
diciptakan
dalam suasana
perasaan
yang
intens
dan
menuntut
pengucapan
jiwa
yang
spontan dan padat.
Di dalam lirik puisi
dapat
menggambarkan
tema, nada, perasaan dan amanat. Sedangkan rahasia dibalik majas, diksi, imaji, dan kata
konkret akan dapat ditafsirkan dengan tepat jika
kita berusaha memahami
rahasia
penyairnya.
Reeves dalam Waluyo (1995 : 23) menyatakan bahwa puisi adalah ekspresi bahasa
yang
kaya
dan
penuh daya
pikat, yang
telah diseleksi
penentuannya
secara ketat oleh
penyair. Karena bahasanya harus bahasa pilihan, maka gagasan yang dicetuskan harus
diseleksi dan dipilih yang terbagus pula.
Boulton  dalam  Waluyo  (1995  :  23)  menyebut  kedua  unsur  pembentuk  puisi  itu
dengan bentuk fisik berupa pikiran, dan bentuk batin yang berupa perasaan. Bentuk fisik
dan bentuk batin itu bersatu padu menyatu raga. Namun demikian keduanya dapat
dianalisis karena bentuk fisik dan bentuk batin itu juga didukung oleh unsur-unsur yang
secara fungsional membentuk puisi seperti diksi, ungkapan, irama, dan majas.
Untuk dapat memahami makna sebuah puisi, diperlukan juga pengimajian dari penyair.
Seperti dalam pendapat Effendi dalam Waluyo (1995 : 80-81) yang mengatakan bahwa
pengimajian dalam puisi dapat dijelaskan sebagai usaha penyair untuk menciptakan atau
menggugah timbulnya
imaji
dalam
diri
pembacanya,
sehingga
pembaca
dapat
melihat
dan merasakan apa yang telah digambarkan oleh penyair lewat puisinya. Kiasan dan
lambang merupakan pengungkapan tidak langsung makna sebuah puisi.
  
18
Pradopo (2005
:
3-5), puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari
bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji
struktur dan unsur-unsurnya, mengingat
bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana
sarana kepuitisan. Menurut Altenbernd dalam Pradopo, puisi adalah pendramaan
pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama. Elema
menyatakan bahwa puisi mempunyai nilai seni, bila pengalaman jiwa yang menjadi
dasarnya dapat dijilmakan ke dalam kata.
Selain itu, Pradopo juga berpendapat bahwa untuk menganalisis sajak bertujuan
memahami
makna sajak. Menganalisis sajak adalah usaha menangkap dan memberi
makna kepada teks sajak (puisi). Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna,
mengingat
bahwa
karya
sastra
merupakan
sistem tanda
yang
mempunyai
makna
yang
mempergunakan
medium
bahasa.
Pemberian makna
puisi
tidak boleh
semau-maunya,
melainkan berdasarkan atau dalam kerangka sistem tanda.