BAB 2
DATA DAN ANALISA
2.1
Sumber Data
Data
dan
informasi
untuk
mendukung
proyek
tugas
akhir
ini diperoleh
dari berbagai sumber, antara lain:
2.1.1 Data Kesepakatan dalam kepekatan
Gambar 2.1  Logo Guruh Gipsy tahun 1976
Seperti yang sudah dijelaskan pada pendahuluan, Guruh Gipsy sudah
menerbitkan album mereka pada tahun 1976 dengan jumlah yang terbatas, hanya
sebanyak 5000 keping. Penjualan kaset ini disertakan dengan booklet setebal 32
halaman yang berisikan tentang proses awalnya band ini dibentuk hingga proses
rekaman.
Data
lengkap
mengenai band
Guruh
Gipsy
ini
masih
dimiliki
dan
direview oleh sebagian orang, baik berupa kaset, booklet maupun artikel review
dari internet.
10
  
11
Berikut 
adalah 
beberapa 
item 
yang 
terkait, 
yang 
berhasil 
penulis
kumpulkan berupa bentuk asli maupun hardcopy:
1.   Kaset Guruh Gipsy
2.   Isi booklet Guruh Gipsy
Gambar 2.2  Kaset Guruh Gipsy
Gambar 2.3 Cover Depan Booklet Guruh Gipsy
  
12
Gambar 2.4 Sekapur sirih booklet Guruh Gipsy
Gambar 2.5 Gamelan dan musik barat booklet Guruh Gipsy
Gambar 2.6 Sejarah Gipsy booklet Guruh Gipsy
  
13
Gambar 2.7 Foto Oding Nasution booklet Guruh Gipsy
Gambar 2.8 Filosofi dari lagu Indonesia Maharddhika
Gambar 2. 9 Bersama-Indonesia Maharddhika
  
14
Gambar 2.10 Foto Chrisye booklet Guruh Gipsy
Gambar 2.11 Filosofi dari lagu Janger 1897 Saka
Gambar 2.12 Foto Roni Harahap booklet Guruh Gipsy
  
15
Gambar 2.13,14,15 Kegiatan dalam studio rekam
  
16
2.1.2
Refrensi artikel “30 Tahun Guruh Gipsy: Gemilang Eksperimen”
oleh Denny Sakrie (Pengamat musik Indonesia)
Artikel
yang
ditulis
oleh
Denny Sakrie dipersembahkan untuk
masyarakat
Indonesia
yang
mungkin
sudah
pernah
atau
belum pernah
sama
sekali
mendengar
tentang
band
Guruh
Gipsy.
Dalam artikel
ini,
Denny menuliskan sejarah band ini, bagaimana terbentuknya, bagaimana
proses pembuatan album ini, fakta-fakta yang terjadi saat ini serta opini
dari Denny Sakrie sendiri tentang band Guruh Gipsy ini.
2.1.3
Refrensi buku “Chrisye sebuah memoar musikal”
Buku “Chrisye sebuah memoar
musikal” yang ditulis oleh
Alberthiene  Endah  ini  dibuat  sebelum  almarhum  Chrisye  meninggal
dunia.
Dalam
buku
ini,
almarhum Chrisye
menjelaskan
tentang
perjalanannya 
dari 
kecil 
hingga  menjadi 
penyanyi 
sukses 
serta
pengabdian
nya
dalam dunia
musik.
Dalam buku
ini
juga, 
almarhum
Chrisye
menceritakan
tentang bagaimana
ia
terlibat
dengan Gipsy
band
bersama Keenan Nasution dan kawan-kawan hingga ia bertemu dengan
Guruh Soekarno Putra dan menjadi salah satu anggota band Guruh Gipsy
yang merupakan awal dari kariernya dalam bernyanyi.
2.1.4
Refrensi buku “BALI”
Buku
“Bali”
keluaran
Periplus merupakan
buku
yang
menjadi
refrensi penulis dalam proses pembuatan karya publikasi box set Guruh
Gipsy
“Kesepakatan
dalam Kepekatan”.
Di
dalam buku
ini, dijelaskan
tentang Bali, kondisi psikografisnya serta seni dan budayanya. Mulai dari
daerah kuta dan aktifitas penduduknya sampai tarian-tarian, lukisan-
lukisan bali. Penulis menggunakan buku
ini sebagai refrensi karena
penulis bermaksud melakukan pendekatan akan budaya bali sebagai gaya
grafis dari tugas akhir ini.
2.2
Wawancara
Sadar bahwa diperlukannya suatu wawancara untuk mendapatkan
data yang
lebih akurat. Metode
yang dipakai adalah tanya jawab dengan
salah satu perintis Guruh Gipsy, yaitu Bapak Keenan Nasution yang
tinggal di kawasan Cinere, Depok. Penulis merasa terbantu dengan data
yang diperoleh, sehingga penulis mampu untuk mengidentifikasi masalah
karena selama ini, data yang didapat oleh penulis adalah bersifat opini.
Berikut
adalah
hasil
wawancara dengan
Bapak Keenan Nasution
yang dirangkum dengan sedemikian rupa.
Awal terbentuknya Guruh Gipsy adalah ketika bapak Keenan
masih duduk di bangku sd di perguruan Cikini. Ia sekelas dengan kakak
  
17
dari Guruh Soekarno Putra, Sukma. Dari kecil sering bertemu. Dan saat
mereka 
masing-masing 
mempunyai 
band  bertemu. Sebelum
Guruh
Gipsy, bapak Keenan
mempunyai band
yang bernama Gipsy band
yang
beranggotakan
Chrisye
dan
Gauri
Nasution.
Sebelum Gipsy
ada
band
bernama Sabda Nada. Anak-anak Cikini kebanyakan terdiri dari keluarga
Nasution. Ada beberapa orang yang tinggal di rumah keluarga Nasution
yaitu penari bali. Dari sana mereka membuat band bernama Sabda Nada.
Bermain musik dengan gamelan, tetapi semua pemainnya perempuan.
Pertama kali tampil di bank Indonesia. Karena sering mendapat tawaran
tampil, mereka mengganti nama band Gipsy dan terbesit di pikiran untuk
membuat suatu kolaborasi dengan Guruh Soekarno Putra. Maka jadilah
Guruh Gipsy.
Bapak Keenan juga member penjelasan, mengapa mereka ingin
membuat band dengan menabrakkan genre musik barat dan genre musik
lokal karena saat
membuat Guruh Gipsy,
mereka sepakat
memang
tidak
ingin sama, pada jaman dahulu, semua orang menyanyikan lagu orang.
Dan mereka tidak ingin sama
dengan yang lain. Akhirnya mereka
memutuskan untuk mendengarkan band-band yang tidak terkenal di luar,
dan membawakannya di Indonesia. Semua
orang
senang.
Dan
yang
membiayai mereka adalah seorang bangsawan yang memang menaruh
minat yang besar terhadap musik.
Bapak Keenan juga menceritakan proses rekaman yang dialami
band  Guruh  Gipsy.  Bertempat  di  kediamannya  di  Jalan  Pegangsaan,
Guruh Gipsy beruntung bisa bertemu dengan seniman Bali bernama
I
Gusti Kompiyang yang memang tinggal dirumah mereka. Disana, mereka
selalu membawa gamelan, bereksperimen. Memang niat utama mereka
adalah  melakukan  apa  yang  mereka  mau,  dan  tidak  mengikat  aturan
dalam bermusik.
Selain
itu,
proses
rekaman
juga
mengalami
beberapa
kendala. Karena pada saat itu SDM kurang, mereka tidak mempunyai
sound engineering. Dan mereka menggunakan mixer broadcast
yang
berjumlah 16 track disaat pada masa itu, perusahaan rekaman hanya
mempunyai 3 track.
Bapak
Keenan
juga
mengatakan, bahwa
seni dan budaya
sangat
penting. 
Musik 
merupakan 
suatu 
identitas 
dan  dapat 
mencerdaskan
bangsa. Untuk itu, yang ingin Guruh
Gipsy lakukan hanya satu, berbeda
dari
yang
lain.
Mereka tidak
takut
untuk
mencoba,
dan
ingin
membuat
gebrakan
di dunia musik, tanpa cemas
memikirkan
siapa
yang
akan
mendengarkan musik mereka. Jaman sekarang, musik-musik Indonesia
terasa
monoton.
Semua
ingin
menjadi
penyanyi
dan
tanpa
dasar
yang
jelas. Musik dengan lirik yang gamblang dan nakal, itu sama saja dengan
pembodohan masyarakat. Musik tak hanya sebagai identitas diri, tetapi
juga sebagai identitas bangsa. Pendapat bapak Keenan tentang industri
musik
saat
ini
juga
terkesan
monoton
dan
semuanya
tampak
seragam.
Kita seperti “dikendarai” oleh pasar.
Menurut bapak Oding Nasution, musik yang baik adalah musik
yang
ketika
kita
sedang
mendengarkan, bisa membawa kita ke dalam
atmosfer
yang berbeda. Perasaan
itu pernah ia alami ketika
ia duduk di
  
18
kelas 6 SD, ia pertama kali mendengar lagu-lagu dari album The Beatles,
Sgt. Pepper and Lonely Heart. Pada saat itu, ia merasa bahwa dunia itu
sangat indah dan lain seperti yang dia alami biasanya. Itulah musik yang
baik itu. Sedangkan opini bapak Keenan tentang musik yang baik adalah
musik yang memang ketika proses pembuatannya benar-benar sungguh-
sungguh.
Tidak
asal
bermain,
Tetapi
mempunyai dasar
yang kuat
serta
visi
misi
yang
jelas.
Album artwork
pada
musik
juga
sangat
mempengaruhi
karena
artwork
dalam album
mencerminkan
identitas
musisi tersebut. Bapak Keenan dan bapak Oding berpesan bahwa penting
bagi kita khususnya anak-anak muda untuk menjaga jati diri bangsa kita,
dan yang terlebih lagi, jangan takut dengan perbedaan.
Demikianlah hasil wawancara dengan bapak Keenan Nasution dan bapak
Oding Nasution.
2.3
Survey Lapangan
Untuk 
lebih 
mendalami 
lagi 
informasi 
serta 
data-data 
yang
didapat
untuk
pelaksanaan
sistem perencanaan
komunikasi
visual
ini,
penulis merasa harus terjun langsung ke lapangan. Untuk itu, dikarenakan
band
Guruh
Gipsy
tidak
lagi
tampil
dalam acara
seperti
gigs-gigs atau
konser, selain wawancara terhadap masing-masing dari personil Guruh
Gipsy sendiri, penulis juga berkesempatan untuk mendatangi suatu acara
yang
digelar
oleh
komunitas
“Listen
to the world” di
Sanggar
Balet
Namarina. Listen to the world adalah suatu wadah atau komunitas yang
selalu mengadakan semacam pertemuan sebulan sekali atau bisa dibilang
seminar kecil, yang membahas tentang permasalahan dan sejarah musik
yang ada di dunia. Ketika penulis melakukan survey atau  riset, Listen to
the world sedang membahas topik yang berjudul “What is good
music?”Kegiatan
ini
diisi
dengan pembahasan tentang What
is
good
music, disertai dengan live music dari band-band serta sesi
tanya jawab.
Kegiatan
ini
sangat
membantu
penulis untuk memperluas pengetahuan
dalam musik dan permasalahannya.
  
19
2.4
Sejarah band Guruh Gipsy
Gambar 2.16 Logo Guruh Gipsy
I.
Visi dan Misi
Visi:
Ingin
menghasilkan
suatu
karya sebaik mungkin yang
dapat mengajak para pemuda-pemudi untuk lebih
memperhatikan kesenian dalam negeri. Untuk itu kami
tetap teguh pada keyakinan kami dan sengaja melupakan
beberapa segi
komersiil.
musik ciptaan itulah yang kami
harap perlu dikaji.
Misi:
Musik kami lahir dari keprihatinan dan musik kami silam
untuk suatu kelahiran
II.
Sejarah terbentuknya band Guruh Gipsy
Sepulang dari lawatan musik di New York Amerika
Serikat,Keenan   Nasution   dan   Gauri   Nasution   mulai
banyak berhubungan dengan
Guruh SoekarnoPutera.Gauri
Nasution dan Guruh Soekarno Putera sebetulnya
merupakan dua sahabat lama.Mereka berdua merupakan
teman sekelas saat sama sama bersekolah di Yayasan
Perguruan                                                                   Cikini.
  
20
Guruh memang memiliki visi berkesenian yang tinggi. Dia
menguasai tari,musik dan juga teater. Mereka,Guruh,Gauri
dan Keenan Nasution ternyata tengah kasak kusuk
melakukan rencana proyek musik eksperimen. Guruh yang
baru saja tiba dari Belanda gelisah ingin menampilkan
sebuah proyek musik yang menampilkan musik tradisional
Indonesia   
yang    bersanding    dengan   
musik    Barat.
Ia memang terobsesi ingin melakukan semacam
percampuran
budaya
ini.
Ia
pernah
mendengar Debussy
memasukkan gamelan atau pun orang Kanada Collin
Mc
Phee 
yang  juga  bereksperimen  dengan  gamelan.
Terkadang memang seolah terlambat
berkreasi
dibanding
pemusik
Barat.
Collin McPhee di
tahun
1937
telah
menghasilkan karya “Tabuh-tabuhan” yang
menggabungkan perangai musik tradisional Bali dengan
musik Klasik barat. Guruh sendiri selama 2 tahun sempat
belajar
arkeologi
pada Universiteit
Van
Amsterdaam
Belanda. Tapi entah kenapa justru semangatnya
berkesenian semakin membuncah dan kian menggelegak.
Bahkan dipicu pula dengan semangat nasionalisme yang
tinggi. Di mata Guruh,mungkin dia hanya melihat warna
merah  dan  putih.  Dwiwarna  inilah  yang  menyelubungi
jiwa                                                                          seninya.
Di Belanda, Guruh Soekarno Putera pernah bersua dengan
Pandji,
Direktur
Konservatorium Bali
yang
kebetulan
tengah  menimba  ilmu  pula.  Atas  gagasan  Pandji,Guruh
pun menampilkan kemampuannya menabuh gamelan dan
menari.Selanjutnya kelangsungan komunitas penabuh
gamelan Bali yang dibentuk Pandji diserahkan pada Guruh
Soekarno Putera.
Guruh memang telah terbiasa dengan kebudayaan
Bali. Ketika masih bersekolah di Perguruan Cikini,Guruh
pun telah mempelajari kesenian Bali secara tekun dan
seksama pada I Made Gerindem di Ubud Bali. Bagi Gauri
Nasution dan Keenan Nasution seni musik Bali bukanlah
sesuatu                  
yang                  
asing                  
lagi.
Pada tahun 1966-1968 bersama Sabda Nada mereka sudah
terbiasa bereksperimen menggabungkan musik Barat
dengan gamelan Bali yang di arahkan oleh I Wayan
Suparta.
Hal serupa pun mereka lakukan ketika Gipsy tampil di
Restaurant   Ramayana   New   York   pada   tahun   1973.
Lalu  di  tahun  1974  setelah  mundur  dari  formasi  God
Bless, Keenan Nasution (drums, vokal) mengajak Oding
Nasution (gitar), Debby Nasution (bass), Abadi Soesman
(synthesizers) dan
Roni
Harahap (piano,keyboards)
untuk
  
21
membentuk kembali formasi Gipsy yang sudah tidak aktif
manggung dengan bereksperimen memadukan musik rock
dan gamelan Bali yang dimainkan oleh kelompok yang
dipimpin Syaukat Suryasubrata. Ia masih ingat saat itu kita
bereksperimen
membawakan “Topograpic
Oceans” nya
kelompok 
Yes 
tapi 
pada 
beberapa 
segmen  justru
dimainkan dengan membaurkan musik gamelan Bali.
Pertemuan antara Keenan Nasution dan Guruh
Soekarno Putera akhirnya membuahkan kesepakatan untuk
membuat sebuah eksperimen musik Bali Rock.Keenan dan
Guruh pun akhirnya memulai proyek ini dengan
menghubungi Pontjo Sutowo sebagai penyandang
dana.Pontjo bersedia membantu proyek ini.Untuk musik ia
memang selalu bersedia membantu, meskipun proyek
musik  idealis  semacam  ini  membutuhkan  biaya  banyak
dan                                   siap                                   merugi.
Memasuki bulan Juli 1975 rekaman yang kemudian diberi
nama
Guruh
Gipsy
mulai
dilakukan di Laboratorium
Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa,
sebuah studio rekaman dengan fasilitas kanal 16 track
pertama di Indonesia yang berada di kawasan Kebayoran
Baru                               Jakarta                               Selatan.
Penggarapan
album
ini
cukup
panjang
dan
berakhir
pada
November
1976.
Menurut
Guruh penggarapan
album ini
sesungguhnya  hanya  menggunakan  jadwal  studio
sebanyak 52 hari.
Ada pun kurun
waktu sekitar 16 bulan
itu termasuk dihabiskan untuk mengumpulkan biaya dari
para  donatur 
(selain 
dari 
Pontjo),latihan 
dan 
menulis
materi lagu hingga menunggu jadwal studio kosong ketika
Tri Angkasa digunakan oleh pihak lain. Proyek ini betul-
betul menguras energi dan stamina. Gipsy yang terdiri dari
Keenan, Roni, Abadi, Chrisye dan Oding tidak tampil
sendirian. Sederet pemusik lainnya mendukung performa
mereka di bilik rekam. Ada Trisutji Kamal, pianis yang
juga ikut membuat arransemen.kelompok Saraswati Bali
yang dipimpin I Gusti Kompyang Raka, juga paduan suara
Rugun Hutauruk dan Bornok
Hutauruk serta sederet
chamber music yang terdiri atas Fauzan, Suryati Supilin,
Seno  pada  biola.  Sudarmadi  pada  cello,  Amir  Katamsi
pada kontra bas, Suparlan pada flute serta Yudianto pada
oboe                                
dan                                
clarinet.
Rekaman Guruh Gipsy fase pertama berlangsung dari Juli
1975 hingga Februari 1976 dan berhasil menyelesaikan
sebanyak 4 komposisi yaitu Geger Gelgel,Barong
Gundah,Chopin Larung dan sebuah komposisi yang belum
diberi
judul
tapi
kemudian
tidak
jadi
dimasukkan
dalam
  
22
album.
Lalu rekaman Guruh Gipsy fase 2 berlangsung dari Mei
hingga 
Juni 
1976  yang 
menghasilkan 
lagu 
masing
masing Djanger 1897 Saka, Indonesia Maharddhika dan
Smaradhana.Pada fase ini ada 3 komposisi yang direkam
lagi dan disempurnakan yaitu Barong Gundah,Chopin
Larung dan Geger Gelgel.
Menurut penata rekamannya Alex Kumara dalam
proses perekaman “Indonesia
Maharddhika” dan “Geger
Gelgel” termasuk sulit penggarapannya secara
teknis,karena begitu banyak bunyi-bunyian yang harus
direkam serta
jumlah pemainnya yang mencapai 25 orang
hingga studio berukuran 50 meter persegi terasa begitu
sesak                                
dan                                
pengap.
Namun,kendala ini tak membuat satu pendukung pun yang
menyerah. Mereka bagaikan pejuang yang tengah berjuang
di                                   
medan                                   
laga.
Penempatan microphone pun harus tepat di tengah
sesaknya                studio               
Tri               
Angkasa.
Lagu “Indonesia Maharddhika”misalnya membutuhkan
proses
dubbing
berupa
pengisian suara
gitar
elektrik,
keyboard, piano elektrik dan synthesizers
sebanyak 200
kali.
Sesuatu
yang
pasti
tak akan
ditemui
pada
proses
perekaman di zaman sekarang yang telah didukung
teknologi                                                                mutakhir.
Beruntunglah pemusik sekarang yang tertolong oleh
kemudahan teknologi. Dulu saat harus mengadopsi banyak
bunyi-bunyian
keyboard
dalam berbagai
layer
harus
melakukan
overdub ratusan kali. Keenan Nasution dan
Chrisye
menjadi
vokalis
utama
dalam Guruh
Gipsy.
Keenan membawakan Indonesia Maharddhika dan Geger
Gelgel. Chrisye menyanyikan Chopin Larung dan
Smaradhana.
Sementara
pada lagu
“Djanger1897
Saka”
dinyanyikan secara bergantian oleh Keenan dan Chrisye.
  
23
III.
Personil band Guruh Gipsy:
Keenan Nasution (drums,vokal)
Chrisye (bass,vokal)
Abadi Soesman (mini-moog)
Roni Harahap (all piano dan organ)
Odink Nasution (all guitars)
Guruh Soekarno (all gamelan,all lyrics)
Guest players:
Trisuci Kamal (piano)
Gauri Nasution (guitar)
Hutauruk Sisters (Female back up singers)
I Gusti Kompyang Raka (Gamelan +Balinese Singers)
Orkestra RRI
2.5
Kompetitor
2.5.1
Kompetitor Langsung
Kompetitor   langsung   dari   band  Guruh   Gipsy
adalah band-band progressive rock seperti King Crimson,
Yes, Genesis, Pink Floyd,
serta
the Doors yang pernah
menggabungkan  nuansa 
gamelan  Bali  pada  musiknya.
Pada
generasi
sekarang, kompetitor
langsungnya
adalah
band Discuss, Kekal dan Trimata.
2.5.2
Kompetitor Tidak Langsung
Untuk kompetitor tak langsung, band-band
bergenre lain seperti rock, jazz, reggae, brit-pop dan band-
band major label baik luar maupun dalam
negeri yang
bergenre  pop  dan easy  listening,  seperti Justin  Bieber
  
24
untuk 
luar 
negeri,  dan  band-band  seperti  Hijau  daun,
Kangen band, D’massiv dan lain-lain.
2.6
Targ
2.6.1
t Audience
Target Primer
Demografi
Jenis Kelamin :
Pria dan Wanita
Usia
:
22-30 Tahun
Kelas Sosial
:
Level B-A+
Geografi
:
Kota-kota besar di Indonesia
Psikografi
:
a.   Personality
-
Menyukai musik
-
Mempunyai jiwa seni yang tinggi
-
Mengapresiasi musik
-
Menghargai proses dalam suatu karya
-
Kritis
-
Masyarakat  umum  yang  menyukai  sesuatu  yang
baru disaat mereka sudah merasa jenuh dengan apa
yang ditawarkan oleh media khususnya dalam hal
musik.
b.   Behaviour
-
Hobi  mengoleksi  musik,  baik  berupa  kaset,  CD
maupun vinyl
-
Suka  membahas  permasalahan  dan  sejarah  serta
budaya dari suatu musik yang didengar
-
Suka mengulik dan mempelajari musik-musik baru
-
Mempunyai
account
di
situs
jejaring
sosial
yang
memang 
khusus 
membahas 
tentang 
musik 
dan
rajin
bertukar   pikiran   tentang  
musik   dengan
sesama user.
  
25
2.6.2
Target Sekunder
Demografi
Jenis Kelamin :
Pria dan Wanita
Usia
:
40-50 Tahun
Kelas Sosial
:
Level B-A+
Geografi
:
Kota-kota besar di Indonesia
Psikografi
:           Pendengar   dan   penggemar   setia
Guruh Gipsy ketika mereka masih
muda
2.7
Analisa SWOT
2.7.1
Strength (Kekuatan)
-
Guruh
Gipsy
merupakan band
dengan genre
yang
tidak   biasa   (menggabungkan   musik   barat   dan
musik gamelan)
-
Hingga
saat
ini,
belum
ada
band
Indonesia
yang
dengan
proses    yang    benar-benar    total    dan
konseptual
mempertahankan   
nilai-nilai   
local
content seperti Guruh Gipsy
-
Band indie pertama di Indonesia
-
Belakangan  
ini,   band 
Guruh  
Gipsy  
banyak
mendapat pujian dari banyak orang dari luar
maupun dalam negeri.
-
Walaupun
masa
karir
Guruh
Gipsy
bisa
dibilang
singkat, tetapi ketika
membentuk band ini, mereka
sudah mempunyai visi dan misi yang jelas terhadap
pembangunan
Indonesia
khususnya
dalam bidang
seni dan budaya
  
26
2.7.2
Weakness (Kelemahan)
-
Karir bermusik Guruh Gipsy yang hanya sebentar
-
Lagu-lagunya
yang
dibilang
terlalu berbobot
pada
masanya
-
Harga
kaset
maupun
bookletnya
yang
mahal
pada
saat itu
2.7.3
Opportunity (Kesempatan)
-
Menjadi
inspirasi
untuk
band-band Indonesia saat
ini
-
Menjadi refrensi musik dunia
-
Dapat dijadikan icon musik Indonesia
-
Mengajak generasi muda untuk bisa bereksperimen
dan lebih kreatif dalam bermusik
-
Mengajak
masyarakat
untuk
melihat
nilai
historis,
perjalanan
proses  
serta  
seni   budaya  
bangsa
Indonesia lewat lagu-lagu Guruh Gipsy
-
Karena
industri
musik
Indonesia
sedang
monoton,
dengan
masyarakat   mengenal   kembali   Guruh
Gipsy, bisa menjadi “angin segar” bagi masyarakat
Indonesia
2.7.4
Threat (Ancaman)
-
Permainan   pasar   musik   Indonesia   yang   lebih
mementingkan segi komersil daripada kualitas dari
suatu karya musik
-
Pemikiran 
masyarakat 
muda  yang 
menganggap
bahwa musik tradisional itu kuno
-
Kecanggihan     teknologi    
yang    
memudahkan
masyarakat Indonesia untuk melakukan sesuatu
serba
instan  
membuat   mereka   enggan   untuk
menyempatkan diri mendengarkan musik berat dan
berbobot
-
Industri
musik
Indonesia
yang
seolah-olah
sudah
me-mindset
masyarakat  bahwa  musik  Indonesia
  
27
adalah   musik   yang   easy  listenin dan   tidak
berbobot
-
Kebanyakan
masyarakat
Indonesia
yang 
memang
mempunyai   sifat   dasar   senang   berada   dalam
comfort zone mereka menyebabkan masih sulitnya
menerima  perubahan,  khususnya  pada  musik
Guruh Gipsy yang memang experimental.
-
Kurangnya   budaya   riset   atau   mengulik   pada
masyarakat Indonesia