BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Teori – teori Dasar
Dalam menjabarkan penelitian ini, maka penulis telah memilih beberapa teori
umum, seperti :
1.   Teori agenda setting
2.   Teori uses and gratifications
3.   Teori film
Pemilihan
teori
di
atas nantinya
akan
menjabarkan
pengertian
pentingnya
komunikasi yang dikaitkan dengan dampak yang ditimbulkan oleh teori –
teori
tersebut. Maka dari itu, penulis pun akan menjabarkannya secara lebih terperinci
yang terbagi dalam beberapa poin dibawah ini.
2.1.1 
Teori Agenda Setting
Setiap orang tentunya tidak ingin ketinggalan informasi – informasi
mengenai apa saja yang sedang menjadi tren belakangan ini, agar mereka
tidak ketinggalan berita maka mereka pun melakukan berbagai upaya.
Mereka pun membaca koran dan majalah, menonton televisi , mengakses
internet, dan tentunya saling bertukar informasi dengan sesamanya , ini
semua  merupakan  upaya  setiap  orang  agar  mereka  tidak  ketinggalan
dalam mengetahui
perkembangan
dunia.
Namun,
apabila
diperhatikan
secara
lebih
teliti
maka
medialah
yang
mengatur
trend
maupun
berita
8
  
9
yang
berkembang
di
masyarakat.
Ini semua
bisa
terjadi
karena
media
mempunyai peran yang penting di dalam kehidupan khalayak.
Hal  ini  dijabarkan  juga  oleh  John  Vivian,  karena  media  massa
sangat berpengaruh, kita perlu tahu bagaimana
media
massa 
bekerja.
Coba renungkan:
Melalui
media massa kita
mengetahui hampir segala sesuatu yang
kita
tahu
tentang
dunia
di
luar lingkungan
dekat
kita.
Apa
yang
anda  ketahui  tentang  Baghdad  atau  Badai  Katrina  atau  Super
Bowl jika tidak ada koran, televisi, dan media massa lainnya?
Warga
yang berpengetahuan dan aktif
sangat
mungkin
terwujud
di
dalam demokrasi
modern
hanya
jika
media
massa
berjalan
dengan baik.
Orang
membutuhkan
media
massa untuk
mengekspresikan
ide
ide mereka ke khalayak luas. Tanpa media massa , gagasan anda
hanya akan sampai ke oran – orang sekitar anda kirimi surat.
Negara   –   Negara   kuat   menggunakan   media   massa   untuk
menyebarkan
ideologinya
dan
untuk tujuan komersial. Media
massa adalah alat utama para propagandis, pengiklan, dan para
orang – orang semacam itu. ( Vivian , 2008 :5 )
Berita maupun trend yang berkembang di masyarakat seutuhnya
diatur
oleh
media
massa.
Onong
Uchjana
Effendy
menjabarkan
bahwa
jika
media
memberikan
tekanan
pada
suatu
peristiwa,
maka
media
itu
akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting.Hal senada
pun
dijabarkan
oleh
McComb
dan
Shaw  
menunjukkan
bahwa
meski
surat kabar dan televisi sama –
sama mempengaruhi agenda politik
khalayak ( Tan, 1981: 277 )
Dalam buku
yang berjudul penghantar komunikasi
massa karangan
Nurudin, dijabarkan bahawa Stephen W. Littlejohn pernah mengatakan ,
agenda setting ini beroperasi dalam tiga bagian sebagai berikut :
Agenda 
media 
itu  sendiri 
harus 
diformat. 
Proses 
ini  akan
memunculkan
masalah bagaimana agenda media itu terjadi pada
waktu pertama kali.
Agenda
media
dalam banyak
hal
memengaruhi
atau berinteraksi
dengan agenda publik atau kepentingan isu tertentu bagi publik.
  
10
Agenda
publik
memengaruhi
atau berinteraksi
ke
dalam agenda
kebijakan. Agenda kebijakan adalah pembuatan kebijakan publik
yang dianggap penting bagi individu. ( Nurudin , 2007 : 195 )
Dalam  bukunya  Onong  Uchjana 
Effendy 
menuliskan 
bahwa
Manhein
dalam pemikirannya
tentang
konseptualisasi
agenda
yang
potensial untuk memahami proses agenda setting menyatakan bahwa
agenda
setting
meliputi
tiga
agenda ,
yaitu
agenda
media,
agenda
khalayak, dan agenda kebijaksanaan.
Masing
masing
agenda
itu
mencakup dimensi – dimensi sebagai berikut :
1.   Untuk agenda media , dimensi – dimensi :
visibility  (visibilitas ) (jumlah dan tingkat menonjolnya
berita)
audience salience (tingakat menonjol bagi khalayak)
( relevansi isi berita dengan kebutuhan khalak )
valance( valensi )
(menyenangkan
atau
tidak
menyenangkan
cara
pemberitaan bagi suatu peristiwa )
2.   Untuk agenda khalayak, dimensi – dimensi :
famililarity (keakraban (derajat
kesadaran khalayak akan
topic tertentu))
personal salience
(
penonjolan
pribadi
(
relevansi kepentingan
dengan ciri
pribadi ))
favorability (kesengan) ( pertimbangan senang atau tidak
senang akan topik berita )
3.   untuk agenda kebijaksanaan, dimensi – dimensi :
support ( dukungan )
( kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu )
likelihood of action ( kemungkinan kegiatan )
(kemungkinan
pemerintah
melaksanakan
apa
yang
diibaratkan)
freedom of action (kebebasan bertindak)
(nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah)
Konseptualisasi Manheim tersebut mendukung perkembangan teori
agenda setting secara menyeluruh. (Efeendy , 2003: 288-289)
Dalam memilih isu yang nantinya akan diangkat, media mempunyai
beberapa pertimbangan. John Vivian dalam bukunya yang berjudul
teori
komunikasi massa
menuliskan bahwa Robert Park berpendapat 
media
lebih
banyak
menciptakan
kesadaran tentang isu , bukan menciptakan
pengetahuan atau sikap. Agenda Setting terjadi pada beberapa level :
Pencipta
kesadaran
:
Jika
individu
menyadari
isu,
maka
ia
baru
akan memerhatikan isu itu. Keprihatinan terhadap orang tua yang
membunuh anaknya menjadi isu utama akibat liputan luas media
  
11
yang spektakuler. Pada tahun 1994 Susan Smith, seorang
wanita
dari South Carolina, menarik perhatian luas karena laporannya
bahwa anaknya yang berumur 3 dan 1 tahun telah diculik. Kisah
itu
semakin
mengerikan setelah wanita
itu
lalu
mengakui
bahwa
dia  menenggelamkan  sendiri  anak  –  anaknya  dengan  menaruh
anak di mobil yang terkunci dan didorong ke danau. Selama
beberapa hari perhatian media yang luas bukan hanya
mengungkapkan detail dari apa yang terjadi, tetapi juga membuat
orang tahu lebih banyak tentang isu –isu parental, keluarga,
kesehatan
mental, dan
isu hukum yang
ikut dibahas
media dalam
liputannya.
Menentukan
prioritas
:
Orang
mempercayai
berita
media
untuk
mengetahui kejadian
kejadian dan mengurutkan kejadian –
kejadian itu berdasarkan arti pentingnya. Berita utama atau di
halaman  1  koran  dianggap  sebagai  berita 
paling  signifikan.
Agenda seseorang akan terkena pengaruh bukan hanya dari cara
suatu berita ditampilkan atau disampaikan, tetapi juga waktu dan
ruang yang disediakan untuk berita itu.
Mempertahankan isu : Liputan terus – menerus akan membuat isu
menjadi
kelihatan
penting.
Sebuh berita
senator
yang
disuap
ungkin akan segera dilupakan, tetapi berita lanjutannya selama
berhari –
hari akan menimbulkan reformasi etika. Sebaliknya,
apabila gatekeeper media berahli ke berita
lain, sebuah isu
yang
panas akan segera usang dalam semalam – dilupakan orang
( Vivian , 2008 : 495 – 496 ).
Nurudin Menjabarkan bahwa meningkatnya nilai penting suatu
topik berita pada
media
massa
menyebabkan meningkatnya nilai penting
topik tersebut bagi masyarakat  ( Nurudin , 2007 :195 ). Hal senada pun
didukung
oleh
Hafied
Cangara
dalam bukunya
penghantar
ilmu
komunikasi bahwa media massa radio berhasil dimanfaatkan sebagai alat
propaganda oleh pihak – pihak yang
terlibat dalam
perang dunia kedua
seperti Amerika , Jerman, dan Jepang ( Cangara , 2008 : 42 ).  Hal seperti
inilah yang membuat media massa mempunyai peran yang cukup penting
di dalam kehidupan bermasyarakat.
  
12
Dalam Buku John Vivian yang berjudul
teori komunikasi
massa
dituliskan beberapa contoh kasus dari teori ini diantaranya :
Hak Sipil. Hak – hak sipil warga kulit hitam Amerika dilecehkan
selama
seabad
setelah Perang
Sipil.
Kemudian
muncul
liputan
gerakan reformasi yang makin kuat pada 1960-an. Pemberitaan
seperti pawai dan demonstrasi yang dipimpin oleh Martin Luther
King Jr dan berita lain , termasuk rekaman polisi memperlakukan
demonstran kulit hitam, membuat orang mulai berpikir tentang
ketidakadilan  rasial.  Pada  1964,  Kongres 
mengesahkan  Civil
Rights Act , yang secara tegas melarang diskiriminasi di hotel dan
rumah
makan,
bantuan
pemerintah,
dan
parktik
ketenagakerjaan.
Tanpa liputan media hak sipil tidak akan masuk ke agenda public
dan membesar hingga awal 1964.
Watergate. Seandainya Washington Post tidak gigih menyelidiki
situasi di kantor pusat Partai Demokratik pada 1972, public tidak
akan pernah tahu bahwa orang – orang disekitar Presiden Nixon
terlibat dalam sebuah skandal. Post menentukan agenda nasional
Skandal   Seks   Gedung   Putih.   Tak  ada  orang  yang  akan
memikirkan
apakah
Presiden
Bill
Clinton
terlibat
skandal
seks
jika David Brock, yang
menulis dalam
American Spectator pada
1993, tidak
melaporkan
tuduhan oleh Paula Jones. Isu juga tidak
akan memanas tanpa laporan Matt Drudge tahun 1997 di situs
online-nya, Drudge Report, tentang Monica Lewinsky. ( Vivian ,
2008 : 567 – 568 )
2.1.2   Uses and Gratifications Theory
Media massa mempunyai peran yang dalam melayani khalayak, hal
inilah yang ingin disampaikan dalam teori ini. Onong Uchjana Effendy
menjabarkan
bahwa
model
uses
and gratifications menunjukkan bahwa
yang menjadi permasalahan utama bukanlah media yang mengubah sikap
dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana
media
memenuhi
kebutuhan
pribadi dan
sosial khalayak ( Effendy, 2003
:
289 – 290 ) . Hal ini pun
dijabarkan oleh Severin dan Tankard di dalam buku teori komunikasi
bahwa
hal
ini
menyingkirkan
keraguan atas
indikasi
dari
penelitian
sebelumnya  bahwa  tujuan  utama  dalam  memanfaatkan  media  massa
  
13
adalah untuk kepentingan penguatan ( Severin and Tandkard , 2009 : 354
355 ).
Hafied
Cangara
menuliskan
di
dalam bukunya
bahwa
Brent
D.
Ruben menyimpulkan bahwa khalayak menerima suatu pesan bukan saja
ditentukan
oleh
isi
pesan,
tetapi juga
oleh
semua
komponen
yang
mendukung terjadinya proses komunikasi. Faktor –
faktor yang
mempengaruhi penerimaan informasi :
Penerimaan
o
Keterampilan berkormunikasi
o
Kebutuhan
o
Tujuan yan diinginkan
o
Sikap , nilai , kepercayaan , dan , kebiasaan – kebiasaan
o
Kemampuan untuk menerima
o
Kegunaan pesona
Pesan
o
Tipe dan model pesan
o
Karakteristik dan fungsi pesan
o
Struktur pengelolaan pesan
o
Kebaharuan pesan
Media
o
Tersedianya media
o
Kehandalan media
o
Kebiasaan menggunakan media
o
Tempat dan situasi ( Cangara, 2008 : 172 -173 )
Penjabaran kebutuhan
manusia pun beragam, namun hal
tersebut
tidak menjadi suatu penghalang bagi media massa dalam
mengelompokkan
kebutuhan
manusia
yang cenderung tak pernah puas
dalam segala
hal.
Namun,
ada
salah
satu
ahli
yang
mencoba
untuk
menggelompokkan kebutuhan itu.
Onong Uchjana Effendy menuliskan di dalam bukunya
mengenai
kebutuhan biasanya orang
merujuk kepada hirarki kebutuhan yang
ditampilkan
oleh
Abraham Maslow.
Ia
membedakan
lima
perangkat
kebutuhan dasar :
Kebutuhan psikologis
Kebutuhan keamanan
Kebutuhan cinta
Kebutuhan penghargaan
Kebutuhan aktualitas diri ( Effendy , 2003 : 290 )
  
14
Dengan menekankan bahwa orang
ymencari
media
untuk
memenuhi
keinginannya
maka
John
Vivian juga menjabarkan bahwa
orang menggunakan media , di antaranya :
Fungsi
mengawasi : …. Liputan berita adalah bentuk paling jelas
dari 
fungsi 
media 
sebagai 
pengawasan 
atau 
pemantauan…..
Semua orang membutuhkan informasi yang reliabel atau dapat
diandalkan tentang lingkungan sekitar mereka… Bukan hanya
berita yang menyediakan fungsi ini. Dari drama dan karya sastra
orang dapat mempelajari isu –
isu kemanusiaan yang memberi
mereka pemahaman yang lebih baik tentang kondisi manusia.
Musik dan entertainment , yang disampaikan
lewat media
massa,
menimbulkan rekasi emosional terhadap kemanusiaan , dan juga
bisa memberi mereka pemahaman emosional tentang orang lain
yang berada di tempat jauh.
Fungsi
sosial
:
Fungsi
sosialisasi
ini
adalah
proses
seumur
hidup, dan banyak dibantu oleh media massa…. Siaran televisi
menyatukan, membuat mereka sama –
sama mengalami
pengalaman seperti menonton serangan 9/11.
Fungsi
diversi
:
Melalui
media
massa,
orang bisa
melarikan
diri
dari kejenuhan sehari – hari… Hasil bisa berupa :
o
Stimulasi
o
Relaksasi
o
Pelepasan
  
15
Tabel 2.1.2.1 Model Uses and Gratifications
Social Environment
1.
Demographic
characteristics
2.
Group Affiliations
3.
Personality
characteristics
Individual’s Needs
1.
Cognitive needs
2.
Affective needs
3.
Personal
integrative
needs
4.
social integrative needs
5.
tension – release
or escape
Nonmedia Sources of
Need Satisfaction
1.
family, friends
2.
interpersonal
communication
3.
hobbies and sleep
4.
drugs etc
Mass Media Use
1.
Media type:newspaper,
tv, movies, radio
2.
Media contents
3.
Exposure to media
4.
Social context of media
exposure
Media Gratifications
1.
Surveillance
2.
Entertainment
3.
personal
4.
Social relationships
  
16
Model uses and gratifications yang dibuat oleh Katz , Gurevitch,
dan Haas memulai lingkungan sosial yang menentukan kebutuhan kita.
Lingkungan sosial tersebut meliputi ciri – ciri afiliasi kelompok dan ciri –
ciri kepbribadian. Kebutuhan individual dikategorisasikan sebagai :
Cognitive needs ( kebutuhan kognitif ): Kebutuhan yang berkaitan
dengan peneguhan informasi , pengetahuan dan pemahaman
mengenai  lingkungan.  Kebutuhan  ini  didasarkan  pada  hastrat
untuk
memahami
dan
menguasai
lingkungan;
juga
memuaskan
rasa penasaran kita dan dorongan untuk penyelidikan kita.
Affective
needs ( kebutuhan
afektif
)
:
Kebutuhan yang
berkaitan
dengan peneguhan pengalaman –
pengalaman yang estetis,
menyenangkan, dan emosional.
Personal integrative needs ( kebutuhan pribadi secara
integratif ):
Kebutuhan
yang  
berkaitan  
dengan  
peneguhan  
kredibilitas,
kepercayaan, stabilitas, dan status individual. Hal –
hal tersebut
diperoleh dari hastrat akan harga diri.
Sicial  integrative  needs  ( kebutuhan sosial secara integratif ):
Kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan
keluarga,
teman, dan dunia.
Hal –
hal tersebut didasarkan
pada
hasrat untuk berafiliasi.
Escapist   needs   kebutuhan  pelepasan  ):  Kebutuhan  yang
berkaitan dengan upaya menghindarkan tekanan , ketegangan, dan
hastrat akan keanekaragaman.
West
dan
Turner
dalam bukunya
penghantar
teori
komunikasi
analisis dan aplikasi
menuliskan bahwa
Katz
, Blumler,
dan
Gurevitch
menyatakan bahwa terdapat lima asumsi dasar teori kegunaaan dan
grativikasi :
Khalayak 
aktif 
dan 
penggunaan 
medianya  berorientasi 
pada
tujuan.
Inisiatif   dalam   menghubungkan   kepuasaan   kebutuhan   pada
pilihan media tertentu terdapat pada anggota khalayak.
Media
berkompetensi  dengan  sumber  lainnya  untuk  kepuasaan
kebutuhan.
Orang
mempunyai cukup
kesadaran
diri
akan
penggunaan
media
mereka, minta, dan motif sehingga dapat memberikan sebuah
gambaran yang akurat mengenai kegunaan tersebut kepada para
peneliti.
Penilaian 
mengenai 
nilai 
isi 
media 
hanya  dapat  dinilai  oleh
khalayak.
( West and Turner , 2010 : 104 )
  
17
McQuail dan koleganya juga menjabarkan bagaimana anggota khalayak
berusaha untuk menyelesaikan tujuannya melalui media. Hal ini
digambarkan dalam tabel berikut ini.
Tabel 2.1.2.2  Tabel Kebutuhan Akan Media
TIPE
KEBUTUHAN
DESKRIPSI
CONTOH MEDIA
Kognitif
Memperoleh informasi,
pengetahuan, pemahaman
Televisi ( berita ) , video
( “ Bagaimana Memasang
Lantai Keramik “ ), film (
dokumenter atau film
berdasarkan sejarah ,
misalnya Cinderella Man )
Afektif
Pengalaman emosional,
menyenangkan, atau estetis
Film, televisi
( komedi situasi , opera
sabun )
Integrasi personal
Meningkatkan kredibilitas,
percaya diri, dan status
Video
(
“Berbicara
dengan
keyakinan “ )
Integrasi sosial
Meningkatkan hubungan
dengan keluarga , teman,
dan lainnya
Internet
( e- mail , chat room ,
listserv, IM )
Pelepasan
ketegangan
Pelarian dan pengalihan
Televisi, radio, film ,
internet, video
Asumsi pertama digambarkan bahwa semua orang mempunyai
media favoritnya
masing –
masing. Hal ini bisa dicontohkan seperti
berikut,
kebanyakan
dari
masyarakat
menyukai
suatu
film yang
ditampilkan  di  bioskop  dengan  tema  percintaan  daripada  film  yang
perang. Ini disebabkan mereka datang ke bioskop untuk menyegarkan
pikiran mereka dari kesibukan sehari – harinya.
Asumsi kedua menjelaskan bahwa untuk memuaskan kepuasaan
terhadap  kebutuhan  khalayak 
maka  pemilihan 
media  pun  berada  di
  
18
tangan
khalayak.
Seperti
apabila kita
ingin tertawa
maka
kita
bisa saja
menonton Sex and The City
dan bila kita ingin mencari informasi
mengenai lagu – lagu yang terbaru maka kita bisa menonton MTV.
Asumsi ketiga berpendapat bahwa dalam pemuasan akan
kebutuhan khalayak, suatu media dipilih berdasarkan pengaruh dari orang
lain atau masyarakat. Contoh, dalam kencan pertama
maka
mereka akan
memilih
bioskop
untuk
menonton
sebuah
film dibandingkan
membeli
DVD dan menontonnya di rumah.
Asumsi   keempat   adalah   mengumpulkan   dan   mengambarkan
secara terperinci mengenai informasi yang akurat dari konsumen media
dengan  cara  metodelogis  seperti  mewawancarai  responden  dan
mengamati reaksi mereka ketika mereka menjawabnya.
Asumsi
kelima
yaitu
berbicara sedikit
terhadap
khalayak,
dikarenakan penulis harus bisa mempertahankan relasi antara hubungan
akan kebutuhan khalayak dengan media.
2.1.3
Teori Film
Film teatrikal adalah
film yang diproduseri secara
khusus
untuk
dipertunjukkan di gedung –
gedung pertunjukan atau gedung bioskop.
Film
jenis
ini
berbeda
dengan
film televisi
atau
sinetron
yang
dibuat
khusus untuk siaran televisi.
Film teatrikal
dibuat
secara
mekanik,
sedangkan
film televisi
dibuat secara elektronik. Pada tahun 1903 kepada publik Amerika Serikat
diperkenalkan
sebuah
film
karya
Edwin
S.
Porter
yang
berjudul
“The
  
19
Great Train Robbery” , pada pengunjung bioskop yang pada akhirnya
dibuat terpukau. Mereka bukan saja seolah – olah melihat kenyataan ,
tetapi seakan – akan tersangkut dalam kejadian
yang digambarkan pada
layer bioskop itu. Mereka merasa, mereka sendiri yang mengejar bandit –
bandit perampok kereta api
seperti
ysng dikisahkan dalam film
tersebut.
Mereka   seolah   –   olah 
mereka   sendiri   yang   menjadi   koboi   yang
menangkap bandit – bandit tersebut.
Film yang
berlangsung
hanya
11
menit
tersebut
benar
benar
sukses.  Film  The  Great  Train  Robbery  bersama  nama  pembuatnya  ,
Edwin  S.  Porter  terkenal  sampai  dimana  –  mana  dan  tercatat  dalam
sejarah film.
Film  yang  diperkenalkan  kepada  publik  Amerika  itu  bukanlah
film yang
pertama
,
sebab setahun sebelumnya ,
yaitu 1902,
Edwin
S.
Porter juga telah membuat film yang berjudul The Life of an American
Firemen “ dan Ferdinand
Zecca do Perancis pada tahun 1901
membuat
film berjudul
The
Story
of
a
Crime
.
Akan
tetapi,
film The
Great
Train
Robbery
lebih
terkenal
dan
dianggap
sebagai
film cerita
yang
pertama. Ini disebabkan teknik pembuatannya yang benar –
benar
mengagumkan untuk waktu itu.
Edwin S. Poeter sebagai cameraman benar – benar telah berhasil
“mempermainkan” kameranya, sehingga dapat membuat penonton
terpesona. Dengan tekniknya dalam editing , pada suatu saat tampak oleh
  
20
penonton suatu adegan secara panoramic dimana bandit – bandit sedang
melarikan kudanya di lereng gunung. Di sisi yang lain dalam jarak yang
sedang
(
medium
shot
) seorang
koboy
mempercepat
kudanya,
dan
seketika dalam jarak yang sangat dekat sekali ( close up ) sebuah pistol
dari seorang koboi meletus.
Film tersebut
hanyalah
merupakan
kisah
singkat
yang
hanya
berlangsung selama 11 menit. Orang – orang film menyadari bahwa yang
diinginkan publik , seperti
halnya
dengan
sandiwara
panggung
(
stage
play ) ,
adalah sebuah
cerita
lengkap
yang
meliputi babak
awal,
babak
tengah, dan babak akhir.
Pada tahun 1913 seorang sutradara Amerika Serikat , David Wark
Griffith,
telah
membuat
film
berjudul
Birth
of
a
Nation “
dan
pada
tahun
1916
film
Intolerance
dan
durasi
dari
kedua
film
tersebut
selama tiga jam. Ia dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai penemu
“grammar” dari pembuatan film. Dari kedua filmnya tersebut tampak hal
hal
baru
dalam editing
dan
gerakan
gerakan
kameranya
bersifat
dramatis, meskipun harus diakui bahwa di antaranya ada yang merupakan
penyempurnaan
dari
apa
yang
telah diperkenalkan
oleh
Porter
dalam
filmnya The Great Train Robbery.
Teknik perfilman hasil pemikiran Griffith tersebut
diperkembangkan lagi oleh dua orang ahli bangsa Rusia yaitu Vsevolod
Pudovskon
dan
Sergei
Eisenstein.
Sebuah
sequence
dari
film karya
Einsenstein yang berjudul “ Kapal Tempur Potemkin “ yang dibuat pada
tahun 1925 dan berlangsung selama 6
menit. Film tersebut adalah
film
  
21
bisu, akan tetapi cukup membuat khalayak terpesona dan berpengaruh
kepada kejiwaan bagi para penontonnya. Orang –
orang yang
berkecimpungan  dalam  dunia  perfilman  menyadari  bahwa  film  bisu
belum merupakan tujuannya.
Karena
itulah ,
maka
penelitian
dilakukan
dan
eksperimen
dilaksanakan
untuk
menciptakan
film bicara.
Guna
mencapai hal tersebut  diperlukan waktu yang cukup lama.
Pada tahun 1927 di Broadway Amerika Serikat muncullah film
bicara
yang
pertama
meskipun
dalam keadaan
yang
belum sempurna
sebagaimana dicita-
citakan. Sejak itulah sejalan dengan perkembangan
teknologi, usaha –
usaha untuk menyempurnakan film bicara terus
dilakukan dan pada akhirnya mencapai titik keberhasilannya. Pada tahun
1935
film bicara
boleh
dikatakan
mencapai
kesempurnaan.
Waktu
pemutarannya cukup lama
dan ceritanya panjang, karena banyak yang
berdasarkan
novel
dari
buku  
dan
disajikan
dengan
teknik
yang
lebih
baik. Ini semua menimbulkan pengaruh yang lebih besar kepada para
pengunjung bioskop.
Pada   tahun   1952   Fred   Waller   memperkenalkan   sistem  
Cinerama
dengan
layanya
yang enam kali
lebih besar
daripada
layar
film biasa.
Akan
tetapi
sistem ini
tidak dapat
digunakan
secara
umum
karena mahalnya biaya dan karena kesukaran teknik dalam pemutaran di
gedung – gedung bioskop.
Pada tahun 1953
sistem “ 3
Dimensi
ditemukan , suatu sistem
yang benar – benar
menilmbulkan kesan
yang
mendalam , suatu sistem
yang benar – benar menimbulkan kesan yang mendalam, dikarenakan apa
  
22
yng dilihat penonton tidak rata seperti
biasanya,
melainkan
menonjol
keluar, seolah – olah apa yang disaksikannya itu adalah kenyataan .
Pada
tahun
1953
,
perusahaan
film
20th
Century
Fox
memperkenalkan “ Cinemascope dengan layarnya yang meskipun tidak
bisa menandingi Cinerama , tetapi dapat disajikan kepada publik.
Masyarakat  pun  menyambutnya  dengan  antusias.  Publik  yang  sekian
lama terpesona oleh TV berhasil dapat ditarik kembali dari rumahnya
untuk kembali ke gedung – gedung bioskop.
Film
dibedakan
menurut
sifatnya
,
yang
umumnya
terdiri
dari
jenis – jenis film sebagai berikut  :
Film Cerita
Film yang
mengandung
suatu
cerita
,
yaitu
yang
lazimnya
dipertunjukkan
di
gedung
gedung
bioskop
dengan
para
bintang 
yang  tenar.  Film 
jenis  ini  didstribusikan  sebagai
barang dagangan dan diperuntukkan kepada khalayak dimana
saja.
Jenis
film ini
merupakan
barang
dagang
dari
perusahaannya masing –
masing oleh karena itu, mereka
memproduseri
film –
film jenis
ini dengan biaya yang sangat
mahal dengan harapan bahwa film yang mereka buat akan
sukses di pasaran. Film cerita sendiri merupakan film yang
menyajikan kepada publik sebuah cerita. Sebagai cerita yang
harus mengandung unsur –
unsur yang dapat menyentuh rasa
manusia. Film yang bersifat auditif visual , yang dapat
disajikan  kepada  publik  dalam  bentuk  gambar  yang  dapat
  
23
dilihat   dengan   suara   yang   dapat   didengar   ,   dan   yang
merupakan suatu medium yang bagus untuk mengolah unsur –
unsur tadi. Contoh film jenis ini yaitu Ben Hur, Spartacus, dan
Cleopatra.
Film berita
Film yang
menyajikan
fakta
,
peristiwa
yang
benar
benar
terjadi dikarenakan bersifat berita
makan
film yang disajikan
ini pun harus mengandung makna atau nilai berita.
Film dokumenter
Istilah
documentary mula
mula
digunakan
oleh
seorang
sutradara Inggris , John Grieson. Dia menggambarkan suatu
jenis
film yang
dipelopori
oleh
seorang
Amerika
bernama
Robert Flaherty. Flaherty termasuk salah seorang seniman
besar  dalam  bidang  film.  Film  dokumenternya  itu
didefinisikan oleh Grierson sebagai karya ciptaan mengenai
kenyataan.
Film pertama
dan
yang
paling
terkenal
besutan
Flaherty adalah Nanook of the North yang di buat pada tahun
1922.
Titik
berat
dari
film documenter
adalah
fakta
atau
peristiwa yang terjadi.
Film Kartun
Timbulnya
gagasan
untuk
menciptakan
film kartun
ini adalah
dari seniman pelukis. Ditemukannya cinematography
telah
menimbulkan
gagasan
kepada
mereka
untuk
menghidupkan
  
24
gambar  –  gambar 
yang 
mereka 
lukis.  Dari  hasil 
lukisan
lukisan tersebut menimbulkan hal yang lucu dan menarik
dikarenakan tokoh yang ada di dalam lukisan tersebut dapat
memegang
peranan
apa
saja
yang tidak
bisa
dilakukan
oleh
manusia.
Titik
berat
dari
pembuatan
film
kartun
ini
adalah
seni
lukis.
Emile Cohl
seorang warga Prancis
telah memuat
film  kartunnya  yang  berjudul  Phantasmagora pada  tahun
1908,  satu  tahun  kemudian  dibuatlah  film  kartun  amerika
untuk pertama kalinya oleh Winsor Mc.Cay yang menciptakan
film 
yang diberi nama Gertie. Tidak sampai disitu saja, pada
tahun  1928  Walt  Disney  membuat    film
kartun  fenomenal
yaitu Mickey Mouse , Donald Duck, dan Snow White.
2.2
Teori – teori Khusus yang Berhubungan dengan Topik Yang Dibahas
Dalam teori khusus
ini, penulis telah
memilih
bebrapa teori yang
nantinya
akan dijabarkan dan berhubungan dengan topik yang dibahas , diantaranya :
1.   Teori Disonasi Kognitif Festinger
2.   Model Lasswell
3.   Teori Ego -defentif
4.   Teori Afiliansi
5.   Teori Identitas
6.   Teori Rangsangan Emosional
Teori ini akan dijabarkan lebih lanjut dalam poin – poin sebagai berikut.
  
25
2.2.1
Teori Disonasi Kognitif Festinger
Dalam buku
Teori
Komunikasi
Massa,
Severin dan
Tankard,
Jr
menjabarkan bahwa teori disonansi beranggapan bahwa dua elemen
pengetahuan “ merupakan hubungan yang disonan ( tidak harmonis )
apabila, dengan mempertimbangkan dua elemen itu sendiri, pengamatan
satu elemen akan mengikuti elemen satunya “ ( Saverin dan Tankard , Jr ,
2009 : 165 ).
Dalam disonansi kognitif elemen – elemen yang dipermasalahkan
diantaranya
:
tidak relevan satu sama lain
konsisten satu sama lain
Tidak konsisten satu sama lain
Hal yang menarik muncul dari teori yang telah membangkitkan
kontroversi yang cukup besar dalam bidang psikologi ini diantaranya :
Pengambilan Keputusan
Dalam Pengambilan
keputusan,
disonansi
diprediksi
akan
muncul karena alternatif yang ditolak berisi fitur –
fitur
yang akan mengakibatkan ia diterima dan alternatif pilihan
yang dipilih berisi fitur –
fitur yang mengakibatkan ia
ditolak. Dengan kata lain , semakin sulit sebuah keputusan
dibuat
,
maka semakin besar disonansi setelah keputusan
diambil.
  
26
Contoh dari penjelasan ini yaitu apabila seseorang ingin
menonton
suatu
film maka
ia
akan
mencari
referensi
mengenai film tersebut dan bukanlah film yang lainnya.
Kepatuhan terpaksa
Teori disonansi merumuskan bahwa ketika seseorang
ditempatkan pada sebuah situasi di mana dia mengalami
berperilaku  di  depan  umum  yang  bertentangan  dengan
sikapnya pribadi, maka dia mengalami disonansi dari
pengetahuan 
tentang 
fakta 
tersebut. 
Situasi 
itu  sering
terjadi
sebagai
akibat
dari
janji  pemberian  penghargaan
atau   ancaman   hukuman,   tetapi   kadang   hanya   akibat
tekanan kelompok untuk menyesuaikan 
terhadap norma
yang tidak terlalu disetujuinya.
Dalam hal
ini,
bisa
menjabarkan
keadaan
perfilman
Indonesia seperti yang dijabarkan oleh Ekky Imanjaya di
buku Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita? Dituliskan oleh
beliau bahwa banyak produser yang memilih untuk
membuat film horror karena genre film seperti inilah yang
paling popular dan mampu menyedot jumlah penonton
yang fantastis.
Paparan Selektif dan Perhatian Selektif
Teori   ini   memprediksi   bahwa   setiap   individu   akan
menolak
informasi
yang
mengakibatkan
disonansi
,
dan
  
27
terdapat cukup bukti yang menunjukkan bahwa personal
media
sangat
menyadari
akan
hal
ini.
Dalam hal
ini
seseorang
tidak
secara lumrah
memilih
atau menolak
seluruh   paparan   pesan   (   paparan   selektif   )   karena
masyrakat  sering  tidak  dapat  menilai  isi  pesan
sebelumnya. Hal ini dikarenakan masyarakat dikelilingi
oleh orang –
orang dan media
yang setuju
dengan orang
tersebut dalam isu – isu besar.
Pilihan Hiburan
Orang
yang sedang sedih
umumnya akan
memilih
untuk
menonton film komedi untuk mencari kesenangan.
Pengingatan Selektif
Umumnya, orang cenderung mengingat hal –
hal yang
sesuai dengan “kerangka rujukan penting”, sikap ,
keyakinan, dan perilaku mereka serta melupakan hal – hal
yang tidak sejalan dengan mereka.
  
28
2.2.2   Model Laswell
Laswell berpendapat bahwa terdapat
3
fungsi
dari
komunikasi
massa :
1.
Kemampuan
media
massa
memberikan informasi
yang
berkaitan dengan lingkungan di sekitar kita
2.   Kemampuan
media
massa
memberikan
berbagai
pilihan
dan alternatif
dalam penyelesaian
masalah
yang dihadapi
masyarakat
3.   Fungsi media massa dalam mensosialisasikan nilai – nilai
tertentu kepada masyarakat
Laswell menyatakan bahwa cara yang terbaik untuk menerangkan
proses komunikasi adalah menjawab pertayaan : Who Says What In Witch
Channel
To
Whom
With
What
Effect (Siapa
Mengatakan
Apa
Kepada
Siapa Dengan Efek Apa).
Model 
verbal 
awal 
dalam 
komunikasi  dapat 
dijabarkan 
sebagai
berikut:
Who = unsur sumber
What = unsur pesan
Channel = saluran komunikasi
To whom = unsur penerima
With what effect = unsur pengarah
  
29
Di
dalam buku
Ilmu ,
Teori
,
dan
Filsafat
Komunikasi,
Onong
Uchjana Effendy menjabarkan bahwa adapun fungsi komunikasi menurut
Laswell sebagai berikut :
1. The
surveillance
of
the
invironment
(
pengamatan
lingkungan )
2.   The correlation of the parts of society in responding to the
environment (
korelasi
kelompok
kelompok
dalam
mastarakat ketika menanggapi lingkungan )
3.   The  transmission  of  the  social  heritage  from  one
generation to the next (
transmisi
warisan
sosial
dari
generasi yang satu ke generasi yang lain ) (Effendy , 2003
:253 – 254 )
2.2.3
Teori Ego – Defensif
Dalam  buku  yang  berjudul  Psikologi  Komunikasi  yang  ditulis
oleh
Jalaluddin
Rakhmat
dijabarkan
bahwa
dalam hidup
ini
kita
mengembangkan citra diri yang tertentu dan kita berusaha untuk
mempertahankan citra diri ini serta berusaha hidup sesuai dengan diri dan
dunia kita. Kita berpegang teguh pada konsep diri ini karena kita
membentuknya dengan susah payah. ( Rakhmat , 2008 : 214 )
Teori  ini  menjabarkan  bahwa  penjelasan  mengapa  terjadi
perhatian
selektif
atau pemberian
makna
pada
pesan
komunikasi
yang
mengalami distorsi. Dengan kata lain, dengan menggunakan media massa
seseorang akan memperoleh informasi
untuk
membangun
konsep
diri,
pandangan dunianya, dan pandangan masing – masing individu mengenai
sifat –
sifat manusia dan hubungan sosialnya. Apabila pencitraan diri
mengalami
keterpurukan, maka media massa mampu mengahlikan
perhatian masyarakat dari kecemasannya.
  
30
Dengan demikian komunikasi massa mampu memberikan bantuan
dalam melakukan teknik – teknik untuk mempertahankan ego.
2.2.4
Teori Afiliansi
Dalam  buku  yang  berjudul  Psikologi  Komunikasi  yang  ditulis
oleh Jalaluddin Rakhmat dijabarkan bahwa teori ini memandang manusia
sebagai makhluk yang mencari kasih sayang dan penerimaan dari orang
lain. Ia ingin memelihara hubungan baik dalam hibungan interpersonal
dengan saling membantu dan mencintai ( Rakhmat , 2008 : 215 )
Dalam teori ini digambarkan bahwa isi media kembali menegaskan
bahwa fungsi khalayak sebagai bagian dari drama kemanusian yang
meluas. Dewasa ini pun, media massa juga sering digunakan untuk sarana
dalam membina interaksi sosial.
2.2.5
Teori Identitas
Teori  ini  merupakan  gambaran  dari  karakter  manusia  sebagai
aktor  yang  selalu  berusaha  untuk  memenuhi  egonya  dengan
menambahkan peranan yang memuaskan konsep dirinya.
Dalam buku Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi  yang dituliskan
oleh Onong Uchjana
Effendy dijabarkan bahwa sehubungan dengan itu
dalam   ilmu   jiwa   sosial   terdapat   gejala   yang   disebut   identifikasi
psikologis. Dalam melihat atau lebih tegas lagi, dalam menghayati sebuah
film kerap
kali
penonton
menyamakan
(
mengidentifikasikan
)
seluruh
pribadinya dengan
salah
seorang
pemegang
peranan
dalam film itu.
Ia
bukan
saja
dapat
“memahami”
atau
“merasakan”
apa
yang
dipikirkan
atau 
dialami 
pemain 
itu  dalam 
menjalankan 
perannya,  tetapi 
lebih
daripada itu : antara pemain dan penonton hampir tidak ada lagi
perbedaan. Penonton asyik sekali mengikuti peristiwa – peristiwa dalam
film  itu,  sehingga  ia  merasa  bersangkutan  dengan  film  itu  ;  dengan
  
31
perkataan lain, ia mengira bahwa ia sendiri yang jadi pemain itu. Bukan
lagi
pemain
yanf
memegang
peran
dalam berbagai
peristiwa
itu,
melainkan dirinya sendiri ( Effendy , 2003 : 207 – 208  ).
Jalaluddin Rakhmat
mengutip komentar Mcguire yang ditulis di
dalam bukunya
yang berjudul psikologi
komunikasi
yaitu
karena
media
massa, terutama sekali pada penyajian fiktif dan sampai tingakt tertentu
juga pada penyajian faktual, menyajikan orang – orang yang memajukan
peran yang diakui dan berdasarkan gaya atertentu, maka teori identifikasi
mempunyai cukup relevansi dengan pemuasaan yang diperoleh dari
konumsi
media.
Bahkan
pada
saat isi
komunikasi
massa
tidak
secara
ekslisit
dirancang
untuk
menampilkan tokoh yang memainkan secara
eksplisit ( misalnya kisah –
kisah berita ) , media cenderung
menggambarkan orang dalam berbagai situasi dramatis yang
melibatkan
respons  –  respons  menarik  dan  memberikan  bahan  identitas  peranan
untuk
memperkaya
konsep
diri.
Isi
yang
bersifat
fiktif secara
eksplisit
menampilkan orang
dalam peran
peran
yang
secara
tipikal
dirancang
untuk
dikagumi
dan
seringkali
diwarnai glamour
yang
dengan
fantasi
memudahkan khalayk untuk mengambil peran pendorong ego ( ego
enhancing
roles
) memalui
identifikasi
dengan
tokoh
tokoh.
Ketika
orang – orang yang disajikan media memainkan peranan “ rakyat biasa “
penyajian media massa tetap menegaskan dan meninggikan makna peran
peran tersebut, yang sebenarnya secara meluas diperankan oleh
kebanyakan anggota khalayak. ( Rakhmat ; 2008 : 215 - 216 )
  
32
2.2.6
Teori Rangsangan Emosional
Berbagai pertanyaan
muncul
,
bagiamana
media
massa
menimbulkan pengaruh yang luar biasa sehingga mampu membuat orang
larut ke dalam apa yang ingin disampaikan oleh media massa tersebut.
Dalam buku
Psikologi
Komunikasi
,
Jalaluddin
Rakhmat
menjabarkan bahwa
menjawab pertanyaan itu dengan penelitian empiris
tidaklah mudah. Peneliti mengalami kesukaran untuk mengukur emosi
sedih, gembira, atau takut sebagai akibat pesan media massa. Kita tidak
dapat mengukur efek emosional sebuah film tragedy dengan menampung
air mata penonton yang tumpah; tidak juga mampu mengukur
kegembiraan dengan mengukur kerasnya suara tertawa ketika bereaksi
pada
suatu
adegan
yang
lucu.
Tetapi
para
peneliti telah
berhasil
menemukan faktor –
faktor yang mempengaruhi intensitas rangsangan
emosional pesan media massa. Faktor –
faktor itu, antara lain , suasana
emosional, skema kognitif, suasana terpaan, predisposisi individual, dan
tingkat  identifikasi  khalayak  dengan  tokoh  dalam 
media  massa  .  (
Rakhmat ; 2008 : 234 )
Faktor kedua, yang mempengaruhi intensitas emosional ialah skema
kognitif.
Ini
merupakan “naskah”
yang
ada
di
dalam pikiran
seseorang
yang 
menjabarkan 
jalan 
cerita 
terhadap 
peristiwa 
yang 
ia 
tonton,
misalnya ketika sang pahlawan hilang, orang tersebut tidak akan khawatir
karena ia pasti akan kembali lagi.
Faktor yang ketiga yaitu suasana terpaan. Dapat dijabarkan bahwa
suasana
dapat
mengambil
peran
yang
cukup
besar.
Misalnya,
seorang
anak kecil akan takut menonton tayangan televisi apabila ia hanya
menontonnya sendirian saja.
Jaluludin
Rackmat
menuliskan
di
dalam bukunya
yang
berujudul
Psikologi Komunikasi yaitu faktor identifikasi menunjukkan sejauh mana
orang  merasa  terlibat  dengan  tokoh  yang  ditampilkan  dalam  media
massa. Dengan identifikasi penonon, pembaca, atau pendengar
menempatkan
dirinya
dalam posisi
tokoh.
Ia
ikut
merasakan
apa
yang
dirasakan 
tokoh. 
Karena 
itu 
ketika 
tokoh 
identifikasi 
disebut
identifikan ) itu kalah, ia juga kecewa; ketika identifikan berhasil , ia ikut
  
33
gembira.
Mungkin
juga kita
menggap seorang tokoh dalam televisi atau
film
sebagai
lawan kita.
Yang
terjadi
diidentifikan
celaka,
dan
jengkel
bila ia berhasil. Semua ini menunjukkan bahwa makin tinggi identifikasi
( atau disidentifikasi ) kita dengan tokoh yang disajikan , makin besar
intensitas emosional pada diri kita akibat terpaan pesan media massa.
( Rakhmat ; 2008 : 236 ).