|
4
2.2
Sinopsis
Cerita diadaptasi dari Pesta Para Tikus, karangan Tagore, R. diterjemahkan oleh
Utami, A. (2011:18-21).
Kisah mengenai tiga anak laki-laki tidak suka belajar dan bersekolah. Yang mereka
sukai adalah kelakar dan mereka merencanakan untuk mengerjai guru baru yang akan
mengajar mereka, karena menurut mereka, guru baru yang tua ini pasti galak dan tidak
menyenangkan. Dalam perjalanan menuju sekolah, di atas delman, mereka bertemu
dengan seorang tua yang membawa buntelan berisi banyak gulali. Dengan sedikit trik
mereka mencuri gulali si tua, dan menuduh bahwa para tikuslah yang melakukan hal itu.
Mereka berharap si tua itu marah, maka mereka akan mentertawakan si tua. Namun si
tua tidak marah. Malah, membelikan tambahan rambutan bagi tikus-tikus pencuri
tersebut. Lambat laun anak-anak ini mulai menyukai si tua yang ternyata adalah guru
baru sekolah mereka.
2.3
Rabindranath Tagore
Lahir pada tanggal 7 Mei 1861, dan meninggal tanggal 7 Agustus 1941 pada umur
80 tahun. Rabindranath Tagore yang juga dikenal dengan nama Gurudev, adalah seorang
penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus, dan sastrawan Bengali. Tagore adalah
orang asia pertama yang mendapatkan anugerah Nobel dalam bidang sastra.
Tagore mulai menulis puisi sejak usia delapan tahun, dengan menggunakan nama
samaran "Bhanushingho" (Singa matahari), untuk penerbitan karya puisinya yang
pertama pada tahun 1877, dan menulis cerita pendeknya pada usia enam belas tahun.
Salah satu karyanya yang tersohor adalah Gitanjali, Gora, dan Ghare-Baire. Ia adalah
seorang reformis kebudayaan. Dua buah lagu yang ia ciptakan kini menjadi lagu
kebangsaan Bangladesh dan India.
Tagore yang memiliki jiwa petualang gemar melanglang buana, pengaruhnya tidak
hanya berkisar di Eropa dan Amerika. Di Surakarta, sebuah ruas jalan diberi nama jalan
sang maestro. Pengaruh-pengaruh Tagore dalam dunia pendidikan, banyak diadopsi oleh
pejuang kemanusiaan. Terinspirasi oleh Shantiniketan karya Tagore, Ki Hajar
Dewantara, mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta.
|