7
LANDASAN TEORI
OBrien dan Marakas (2010: 26) menyatakan bahwa, Sistem adalah
sekelompok komponen yang saling berhubungan, dengan batasan yang jelas,
bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dengan menerima input
serta
menghasilkan output dalam proses tranformasi yang teratur.
A system is a set of interdependent elements that together accomplish
specific object. A system must have organization, interrelationships, integration,
and central objectives (Gelinas, Dull, dan Wheeler, 2012: 13).
Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa sistem adalah serangkaian elemen yang
saling berhubungan, yang secara bersama-sama mencapai tujuan spesifik tertentu.
Sistem harus memiliki tujuan organisasi yang saling berinteraksi, terintegrasi, dan
terpusat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sistem adalah serangkaian komponen yang
saling berhubungan dan secara bersama-sama bekerja untuk mencapai tujuan yang
telah ditentukan bersama dengan menerima input
dan menghasilkan
output
dalam
proses yang teratur.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, sistem terdiri dari tiga tahapan, yaitu
input, proses, dan output. Oleh Considine
et al.
(2012: 10), input
dapat termasuk
data, serta berbagai sumber lainnya, yang merupakan titik awal dari sistem.
Sedangkan proses merupakan kumpulan dari kegiatan yang dilakukan saat input
masuk ke dalam sistem. Output mengacu pada apa yang diperoleh dari sistem, atau
apa yang dihasilkan dari sistem.
|
8
Information is data presented in a form that is useful in a decision-making
activity (Gelinas, Dull, dan Wheeler, 2012: 18).
Yang artinya, informasi adalah data yang disajikan
dalam bentuk yang berguna
dalam kegiatan pengambilan keputusan.
Information is data that have been organized and processed to provide
meaning to a user (Romney dan Steinbart, 2006: 5).
Yang artinya adalah informasi adalah data yang telah diatur dan diproses untuk
memberikan arti kepada pengguna.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang
telah diatur dan disajikan yang diproses untuk memberikan arti dalam kegiatan
pengambilan keputusan.
Informasi yang digunakan dalam keperluan perusahaan haruslah relevan.
Dalam jurnalnya, J-M Choe (2002: 154) menyimpulkan bahwa:
Pemberian informasi yang relevan serta mekanisme dukungan belajar diperlukan
untuk meningkatkan pembelajaran organisasi yang efektif dan untuk meningkatkan
kinerja dari perusahaan. Tampaknya bahwa kemampuan pembelajaran organisasi
yang efektif tergantung pada penyediaan informasi yang relevan dan fasilitator
belajar efisien.
The information system is the set of formal procedures by which data are
collected, processed into information, and distributed to users (Hall, 2011: 7).
Yang artinya, sistem informasi adalah serangkaian prosedur formal di mana data
dikumpulkan, diproses menjadi informasi, dan didistribusikan kepada
penggunanya.
Sistem informasi merupakan kombinasi teratur apa pun dari orang-orang,
hardware, software, jaringan komunikasi, sumber daya data, dan peraturan serta
|
9
prosedur yang mengumpulkan, mengembalikan, mengubah, dan menyebarkan
informasi dalam sebuah organisasi (OBrien dan Marakas, 2010: 4).
Dari definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai definisi
sistem informasi yaitu serangkaian kombinasi teratur prosedur formal yang dapat
terdiri dari orang, hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya data
yang selanjutnya nanti akan diproses menjadi informasi dan disebarkan untuk
penggunanya.
Dalam buku Introduction to Information Systems oleh Obrien dan Marakas
(2010: 8), terdapat tiga alasan mendasar untuk semua aplikasi bisnis dalam
teknologi informasi. Hal tersebut dapat ditemukan dalam tiga peran penting yang
dapat dilakukan sistem informasi untuk sebuah perusahaan bisnis:
1)
Mendukung proses dan operasi bisnis
2)
Mendukung pengambilan keputusan oleh karyawan dan manajer.
3)
Mendukung berbagai strategi untuk keunggulan kompetitif.
Mursyidi (2010: 19) menjelaskan bahwa tujuan utama akuntansi adalah
menyajikan informasi ekonomi dari suatu entitas kepada pihak-pihak yang
berkepentingan. Entitas yang dimaksud adalah badan usaha atau perusahaan atau
organisasi yang mempunyai kekayaan sendiri. Di bawah ini akan dijabarkan
pengertian akuntansi menurut beberapa ahli.
Accounting can be defined as an information system that provides reports
to users about the economic activities and condition of a business (Reeve, Warren,
dan Duchac, 2012: 3).
Akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang menghasilkan laporan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengetahui kinerja ekonomi dan
kondisi perusahaan.
|
10
Accounting consists of three basic activities -
it identifies, records, and
communicates the economic events of an organization to interested users
(Weygandt, Kimmel, dan Kieso, 2011: 4).
Yang artinya, akuntansi terdiri dari tiga aktivitas utama - mengidentifikasikan,
mencatat, dan mengkomunikasikan kejadian-kejadian ekonomi dari suatu
organisasi kepada para pengguna yang berkepentingan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah sistem informasi yang
digunakan oleh para pengguna yang berkepentingan sebagai laporan untuk
mengetahui kinerja ekonomi dan kondisi dari suatu organisasi.
Mulyadi (2010: 3), Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan,
dan laporan yang dikoordinasikan sedemikian rupa untuk menyediakan informasi
yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan.
An accounting system is the methods and procedures for collecting,
classifying, summarizing, and reporting a businesss financial and operating
information (Reeve, Warren, dan Duchac, 2012: 206).
Yang memiliki arti, sistem akuntansi adalah sebuah metode dan prosedur dalam
mengumpulkan, mengklasifikasikan, merangkum, dan membuat laporan keuangan
bisnis dan informasi operasi.
Dari definisi yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem
akuntansi adalah sebuah metode dan prosedur dalam mengorganisasi formulir,
catatan, dan laporan yang dibuat untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan
oleh manajemen berupa laporan keuangan bisnis dan informasi operasi guna
memudahkan pengelolaan perusahaan.
|
11
Mulyadi (2010: 3-5), terdapat beberapa unsur-unsur sistem akuntansi, yaitu:
1)
Formulir
Merupakan dokumen yang digunakan untuk merekam terjadinya transaksi.
Dengan formulir ini, data yang bersangkutan dengan transaksi yang direkam
pertama kali dijadikan dasar dalam pencatatan.
2)
Jurnal
Merupakan catatan akuntansi pertama yang digunakan untuk mencatat,
mengklasifikasikan, dan meringkas data keuangan dan data lainnya. Dalam
jurnal ini pula terdapat kegiatan peringkasan data, yang hasil peringkasannya
kemudian di-posting ke rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
3)
Buku besar
Terdiri dari rekening-rekening yang digunakan untuk meringkas data keuangan
yang telah dicatat sebelumnya dalam jurnal. Rekening buku besar ini di satu
pihak dapat dipandang sebagai wadah untuk menggolongkan data keuangan, di
pihak lain dapat dipandang pula sebagai sumber informasi keuangan untuk
penyajian laporan keuangan.
4)
Buku pembantu
Terdiri dari rekening-rekening pembantu yang merinci data keuangan yang
tercantum dalam rekening tertentu dalam buku besar. Buku besar dan buku
pembantu merupakan catatan akuntansi akhir, yang berarti tidak ada catatan
akuntansi lain lagi sesudah data akuntansi diringkas dan digolongkan dalam
rekening buku besar dan buku pembantu.
5)
Laporan
Merupakan hasil akhir proses akuntansi yang berupa neraca, laporan laba rugi,
laporan biaya pemasaran, laporan harga pokok produksi, laporan biaya
pemasaran, laporan harga pokok penjualan,
dafar umur piutang, daftar utang
yang akan dibayar, dan daftar saldo persediaan yang lambat penjualannya.
|
12
Sistem informasi akuntansi itu adalah suatu subsistem dari sistem
informasi manajemen yang menyediakan
informasi akuntansi dan keuangan, juga
informasi lain yang diperoleh dari pengolahan rutin atas transaksi akuntansi (Rama
dan Jones, 2008: 6).
Romney dan Steinbart (2006: 6), Accounting information system is a
system that collects, records, stores, and prosesses data to produce information for
decision makers.
Yang memiliki arti, sistem informasi akuntansi adalah suatu sistem yang
mengumpulkan, mencatat, menyimpan, dan memproses data untuk menghasilkan
informasi bagi para pengambil keputusan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi
merupakan bagian dari sistem informasi manajemen yang menyediakan informasi
bagi para pengambil keputusan dengan cara mengumpulkan, mencatat, menyimpan,
dan memproses data yang ada.
Dalam
studi
kasus jurnal penelitian, Xu (2009: 9)
menyimpulkan
bahwa:
Untuk memiliki implementasi sistem informasi akuntansi yang sukses, organisasi
harus memberikan perhatian lebih kepada sistem dan faktor organisasional. Para
stakeholder yang berbeda dari sistem dan kontrol kualitas data perlu bekerja sama
untuk memastikan kualitas data dalam sistem informasi akuntansi.
Sistem informasi memiliki sejumlah kegunaan. Menurut
Rama dan Jones
(2008: 7-8), penggunaan dari sistem informasi akuntansi adalah:
1)
Membuat laporan eksternal
Sistem informasi akuntansi digunakan untuk menghasilkan laporan-laporan
khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi dari para investor, kreditor, dinas
pajak, badan-badan pemerintah, dan yang lain.
|
13
2)
Mendukung aktivitas rutin
Manajer memerlukan satu sistem informasi akuntansi untuk menangani
aktivitas operasi rutin sepanjang siklus operasi perusahaan itu.
3)
Mendukung pengambilan keputusan
Informasi juga dibutuhkan untuk mendukung pengambilan keputusan yang
tidak rutin pada semua tingkat dari suatu organisasi.
4)
Perencanaan dan pengendalian
Sistem informasi juga diperlukan untuk aktivitas perencanaan dan pengendalian
aktivitas. Informasi mengenai anggaran dan biaya standar disimpan oleh sistem
informasi dan laporan dirancang untuk membandingkan angka anggaran dengan
jumlah aktual.
5)
Menerapkan pengendalian internal
Pengendalian internal mencakup kenijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, dan
sistem informasi yang digunakan untuk melindungi asset-aset perusahaan dari
kerugian atau korupsi dan untuk memelihara keakuratan data keuangan.
Dari penelitian oleh Soudani (2012: 141) yang diterbitkan ke dalam jurnal
penelitian menyebutkan bahwa:
1)
Sistem informasi akuntansi ditemukan menjadi variabel yang paling
mempengaruhi kinerja keuangan. Ini menjelaskan bahwa sistem informasi
akuntansi merupakan faktor yang paling penting dalam perusahaan yang
terdaftar di Dubai Financial Market (DFM).
2)
Ditemukan bahwa kinerja keuangan dan manajemen kinerja berpengaruh pada
kinerja organisasi. Ini berarti bahwa kinerja keuangan dan manajemen kinerja
yang efektif dalam membangun kinerja organisasi.
3)
Sistem informasi akuntansi ditemukan bahwa faktor penting dalam membangun
kinerja organisasi melalui pengumpulan, penyimpanan, dan pengolahan
data
keuangan dan akuntansi untuk dievaluasi oleh dampaknya terhadap kualitas
|
14
peningkatan proses pengambilan keputusan, informasi akuntansi, evaluasi
kinerja, pengawasan internal dan memfasilitasi transaksi perusahaan.
4)
Tidak ada hubungan antara sistem informasi akuntansi dan manajemen kinerja.
Ini berarti bahwa ada beberapa hambatan yang menyebabkan pelaksanaan
sistem informasi akuntansi pada manajemen kinerja pada perusahaan yang
terdaftar di DFM.
Kesimpulannya adalah penggunaan sistem informasi akuntansi akan
mengarahkan perusahaan untuk memiliki kinerja ekonomi dan keuangan yang lebih
baik.
Sistem informasi akuntansi terdiri dari beberapa komponen. Menurut
Romney dan Steinbart (2006: 6-7), sistem informasi akuntansi terdiri dari 6
komponen, yaitu:
1)
People
Merupakan yang mengoperasikan sistem dan melaksanakan berbagai macam
fungsi.
2)
Procedures and instructions
Baik manual maupun otomatis, yang terlibat dalam pengumpulan, pemrosesan,
dan penyimpanan data mengenai aktivitas organisasi.
3)
Data
Mengenai organisasi dan proses bisnisnya.
4)
Software
Merupakan alat atau tools yang digunakan untuk memproses data organisasi.
5)
Information technology infrastructure
Termasuk komputer, peralatan disekelilingnya, dan peralatan komunikasi
jaringan yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, memproses, dan
mengirimkan data dan informasi.
6)
Internal control and security measure
Yang mengamankan data dalam sistem informasi akuntansi.
|
15
Sedangkan menurut
Gelinas, Dull, dan Wheeler (2012: 9) komponen dalam
sistem informasi akuntasi adalah:
1)
Technology
2)
Databases
3)
Reporting
4)
Control
5)
Business operations
6)
Events processing
7)
Management decision making
8)
System development and operation
9)
Communications
10) Accounting auditing principles
Siklus pendapatan adalah proses menyediakan barang atau jasa untuk para
pelanggan dan menagih uangnya (Rama dan Jones, 2008: 4).
Boynton
dan Johnson
(2006: 4)
dalam bukunya yang berjudul Modern
Auditing
yang diterjemahkan oleh Paul A. Rajoe menjelaskan bahwa Siklus
pendapatan perusahaan terdiri dari aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan
pertukaran barang dan jasa dengan pelanggan dan penagihan pendapatan dalam
bentuk kas.
Maka dapat disimpulkan bahwa siklus pendapatan merupakan proses atau
aktivitas penyediaan barang atau jasa untuk pelanggan dan menagih uangnya dalam
bentuk kas. Tujuan utama siklus pendapatan adalah untuk menyediakan produk
yang tepat di tempat dan waktu yang tepat dengan harga yang sesuai.
Clark (2008: 44-50) menyebutkan bahwa terdapat empat langkah kerangka
kerja dan metodologi untuk meningkatkan keseluruhan siklus pendapatan:
1)
Menetapkan indikator pedoman kinerja utama.
2)
Menciptakan struktur organisasi yang efektif
3)
Mempekerjakan pemimpin yang memiliki kinerja yang tinggi dan luar biasa.
|
16
4)
Meningkatkan proses alur kerja.
Romney dan Steinbart (2006: 356-371)
menyatakan bahwa
terdapat empat
kegiatan dalam siklus pendapatan diantaranya sebagai berikut:
1)
Sales Order Entry
Siklus pendapatan dimulai dengan menerima pesanan dari pelanggan. Urutan
proses penjualan entri memerlukan tiga langkah: mengambil pesanan pelanggan,
memeriksa dan menyetujui kredit pelanggan, dan memeriksa ketersediaan
persediaan.
2)
Shipping
Kegiatan
dasar kedua
dalam
siklus pendapatan
adalah mengisi
pesanan
pelanggan
dan pengiriman barang dagangan
yang diinginkan. Proses ini
terdiri
dari dua langkah: (1) mengambil dan memuat
pesanan dan
(2) pengiriman
pesanan.
3)
Billing
Kegiatan
dasar ketiga
melibatkan
penagihan
kepada pelanggan. Tugas-tugas
yang terkait erat: faktur dan memperbarui piutang, yang dilakukan oleh dua unit
yang terpisah dalam departemen akuntansi.
4)
Cash Collection
Langkah terakhir dalam siklus pendapatan adalah mengumpulkan kas. Kasir,
yang melapor kepada bendahara, menangani pengiriman uang pelanggan dan
mendepositokan ke bank.
Reeve, Warren, dan Duchac (2012: 256), Sales is the total amount charged
customers for merchandise sold, including cash sales, and sales on account.
|
17
Yang artinya, penjualan adalah jumlah yang dibebankan kepada pelanggan untuk
barang yang dijual, baik secara tunai maupun kredit.
Soemarso (2008: 174) menjelaskan mengenai penjualan seperti berikut ini:
Pada saat perusahaan menjual barang dagangnya, maka diperoleh pendapatan.
Jumlah yang dibebankan kepada pembeli untuk barang dagang yang diserahkan
merupakan pendapatan perusahaan yang bersangkutan. Penjualan dapat dilakukan
secara kredit maupun tunai dan pada umumnya kepada beberapa pelanggan.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa penjualan merupakan harga yang harus
dibayarkan oleh pelanggan baik secara tunai ataupun kredit atas barang yang telah
dibelinya.
Weygandt, Kimmel, dan Kieso (2011: 348), "Piutang merupakan klaim
terhadap pelanggan atau lainnya atas uang, barang atau jasa."
Account receivable is a claim against the customer created by selling
merchandise or service on credit (Reeve, Warren, dan Duchac, 2012: G-1).
Yang artinya, piutang adalah klaim kepada pelanggan dari penjualan barang atau
jasa dengan cara kredit.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa piutang merupakan klaim
kewajiban kepada pelanggan atas uang yang terhutang akibat dari barang yang
telah terjual atau jasa yang telah diberikan.
Romney dan Steinbart (2006: 371) menyebutkan
bahwa aktivitas terakhir
dalam siklus pendapatan berkaitan dengan penerimaan kas. Fungsi kasir akan
melaporkan penerimaan, menangani remittance pelanggan, dan menyetorkan uang
ke bank.
|
18
Sedangkan menurut Boynton dan Johnson (2006: 36) terdapat tambahan
aktivitas terakhir dalam penerimaan kas yaitu mencatat penerimaan kas dengan
pembuatan jurnal penerimaan kas secara over-the-counter
dan melalui pos serta
posting penerimaan kas melalui pos ke akun pelanggan.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa penerimaan kas adalah aktivitas terakhir
dalam siklus pendapatan yaitu dengan mencatat penerimaan kas dengan pembuatan
jurnal, melaporkan penerimaan, menangani remittance pelanggan, dan menyetorkan
uang ke bank.
Dalam aktivitas penjualan biasanya terdapat penerimaan kembali barang
yang disebabkan karena barang tidak sesuai dengan pemesanan sehingga pelanggan
memutuskan untuk mengembalikannya atau menukar dengan barang sejenis yang
baru.
Mursyidi (2010: 140)
mendefinisikan
retur barang sebagai
pengembalian
kembali barang dagang yang dibeli (purchase returns) atau penerimaan kembali
barang dagang yang dijual (sales return).
Hall (2011: 160) menerangkan bahwa organisasi harus memperkirakan dari
persentase penjualannya bahwa akan terdapat barang yang dikembalikan. Terdapat
banyak alasan yang dapat menyebabkan barang yang telah dijual dikembalikan lagi
oleh pelanggan, berikut beberapa alasannya:
1)
Perusahaan mengirimkan barang dagangan yang salah ke pelanggan.
2)
Barang yang dikirimkan adalah barang yang telah rusak.
3)
Barang rusak dalam pengiriman.
4)
Pelanggan menolak pengiriman barang karena keterlambatan pengiriman barang
atau pengiriman barang tertunda.
Saat barang dikembalikan, pelanggan berhak untuk meminta kembali uang yang
telah dibayarkan sebelumnya.
|
19
Considine
et al.
(2012: 399-400)
menuliskan bahwa
dokumen yang
digunakan dalam siklus pendapatan adalah sebagai berikut:
1)
Customer order
Memungkinkan pelanggan untuk memesan barang dari perusahaan. Formulir
ini dapat berupa order pembelian pelanggan yang disiapkan oleh pelanggan
atau form pemesanan pelanggan yang disiapkan oleh penjual di unit penjualan.
2)
Order acknowledgement
Salinan pesanan pelanggan yang dikirim ke pelanggan sebagai pengakuan atas
pesanan pelanggan. Pengakuan order
sering disiapkan oleh penjual yang
menerima customer order.
3)
Credit application
Suatu formulir yang disiapkan untuk pelanggan baru yang mengajukan kredit.
Formulir ini menunjukkan posisi keuangan pelanggan dan kemampuan
pelanggan untuk membayar kembali utangnya.
4)
Sales order
Sebuah dokumen formal yang disusun dengan menggunakan formulir customer
order. Dokumen ini dibuat rangkap untuk mengajukan pengiriman dan
menerima pembayaran dari pelanggan. Sales order
disiapkan oleh penjual di
unit penjualan.
5)
Goods packing slip
Sebuah dokumen yang dihasilkan oleh petugas pengiriman di unit logistik dan
dilampirkan dengan barang yang dikirimkan ke pelanggan.
6)
Bill of lading
Sebuah dokumen yang disiapkan untuk angkutan umum yang mengangkut
barang untuk pelanggan. Petugas pengiriman di unit logistik mempersiapkan
dokumen ini.
7)
Shipping notice
|
20
Sebuah dokumen yang berisi mengenai barang apa yang dibeli oleh pelanggann
dan kuantitas barang yang dikirim. Petugas pengiriman di unit logistik
menghasilkan dokumen ini. Kadang-kadang salinan formulir sales order
bertindak sebagai shipping notice.
8)
Sales invoice
Dokumen ini dikirim ke pelanggan sehubungan dengan barang yang ia beli dan
menunjukkan jumlah penjualan. Petugas penagihan di unit keuangan atau
akuntansi mempersiapkan dokumen ini.
9)
Remittance advice
Sebuah dokumen yang menunjukkan penerimaan kas dari pelanggan.
Dokumen ini dapat dibuat oleh unit keuangan atau akuntansi dan dilampirkan
sebagai rintisan dengan faktur penjualan.
10)
Customer service log
Sebuah dokumen yang digunakan oleh personel layanan pelanggan di unit
pemasaran untuk merekam pertanyaan pelanggan dan tindakan yang diperlukan
(jika ada) yang dilakukan untuk mengatasi permintaan pelanggan atau masalah.
Rama dan Jones (2008: 137)
menilai risiko pelaksanaan yang umum untuk
dua siklus pendapatan adalah sebagai berikut:
1)
Penyerahan barang dan jasa:
a.
Diperbolehkannya penjualan atau layanan yang tidak terotorisasi
b.
Penjualan atau layanan jasa yang terotorisasi tidak terjadi, terlambat, atau
digandakan tanpa sengaja
c.
Jenis barang atau jasa salah
d.
Kuantitas atau kualitas salah
e.
Pelanggan atau alamat salah
2)
Penerimaan kas:
a.
Kas tidak diterima atau terlambat diterima
b.
Jumlah kas yang diterima salah
|
21
Lima langkah yang bermanfaat dalam pemahaman dan penentuan risiko
pelaksanaan:
Langkah 1
Dapatkan pemahaman mengenai proses organisasi.
Langkah 2
Identifikasikan barang atau jasa yang diberikan dan kas yang
diterima yang tergolong berisiko.
Langkah 3
Nyatakan kembali setiap risiko umum untuk menjelaskan risiko
pelaksanaan dengan lebih tepat untuk proses tertentu yang
dipelajari. Keluarkan setiap risiko yang tidak relevan atau jelas-
jelas tidak material.
Langkah 4
Beri penilaian terhadap signifikansi risiko-risiko yang tersisa.
Langkah 5
Untuk risiko yang sinifikan, identifikasikan faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap risiko. Kejadian dalam proses dapat
digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor ini secara
sistematis.
Dalam
Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 yang terdapat pada buku
karangan Mardiasmo (2010: 273), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) merupakan
pajak tidak langsung yang dikenakan atas konsumsi dalam negeri.
Masih menurut Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 yang terdapat pada
buku karangan Mardiasmo (2010: 274, 278) berikut
ini
adalah hal-hal yang
berkaitan dengan pajak pertambahan nilai, yaitu:
1)
Pajak masukan adalah Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya sudah dibayar
oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) kerena perolehan Barang Kena Pajak (BKP)
dan atau Jasa Kena Pajak (JKP) dan atau pemanfaatan BKP tidak berwujud dari
luar Daerah Pabean dan atau pemanfaatan
JKP dari luar Daerah Pabean dan
atau impor BKP.
|
22
2)
Pajak keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib dipungut
oleh PKP yang melakukan penyerahan BKP, penyerahan JKP, atau ekspor
BKP.
3)
Masa pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan tekwim
atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan
paling lama tiga bulan takwim.
4)
Ekspor adalah setiap kegiatan mengeluarkan barang dari dalam Daerah Pabean
ke luar Daerah Pabean.
5)
Barang Kena Pajak (BKP) adalah barang berwujud yang menurut sifat atau
hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak, dan barang
tidak berwujud yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang PPN.
6)
Pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau
pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang,
melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar
Daerah Pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah
Pabean.
Pengusaha Kena Pajak (PKP)adalah pengusaha sebagaimana dimaksud pada
pengertian pengusaha yang melakukan penyerahan BKP dan atau penyerahan
JKP yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang PPN 1984, tidak
termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan
Menteri
Keuangan, kecuali pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan
sebagai PKP.
Dalam buku Perpajakan yang ditulis oleh Mardiasmo (2010: 274),
disebutkan mengenai undang-undang yang berkaitan dengan Pajak Pertambahan
Nilai sebagai berikut:
Undang-undang yang mengatur pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM) adalah Undang-undang Nomor 8
|
23
tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah yang telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 42
Tahun 2009. Undang-undang ini disebut Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai
1984.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009 Tentang
Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1983
Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah:
Pasal 7
1)
Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen).
2)
Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas:
a.
Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud; 27
b.
Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud;
c.
Ekspor Jasa Kena Pajak.
3)
Tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah menjadi paling
rendah 5% (lima persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) yang
perubahan tarifnya diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Rama dan Jones (2008: 132) mendefinisikan pengendalian internal sebagai
berikut:
Pengendalian internal adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan direksi
entitas, manajemen dan personel lainnya, yang dirancang untuk memberikan
kepastian yang beralasan terkait dengan pencapaian sasaran kategori sebagai
berikut: efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan pelaporan keuangan, dan
ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
|
24
Weygandt, Kimmel, dan Kieso (2011: 300) mendefinisikan pengendalian
internal sebagai berikut:
Pengendalian internal terdiri dari semua metode terkait dan pengukuran yang
diadopsi dalam sebuah organisasi untuk menjaga aset-asetnya, meningkatkan
keandalan dalam pencatatan akuntansi, meningkatkan efisiensi operasi, dan
memastikan bahwa organisasi mematuhi hukum dan peraturan yang ada.
Romney dan Steinbert (2006: 192) mendefinisikan pengendalian internal
sebagai:
Pengendalian internal adalah proses yang dilaksanakan oleh dewan direksi,
manajemen, dan mereka yang di bawah arahannya untuk memberikan keyakinan
memadai bahwa tujuan pengendalian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:
1) Melindungi aset, termasuk mencegah atau mendeteksi, secara tepat waktu,
akuisisi tidak sah, penggunaan, atau disposisi aset bahan perusahaan;
2) Memelihara catatan secara rinci untuk secara akurat dan adil mencerminkan aset
perusahaan;
3) Menyediakan informasi yang akurat dan dapat diandalkan;
4) Memberikan jaminan yang wajar bahwa pelaporan keuangan yang disusun
sesuai dengan GAAP atau IFRS;
5) Mempromosikan dan meningkatkan efisiensi operasional, termasuk membuat
penerimaan perusahaan yakin dan pengeluaran yang dibuat sesuai dengan
manajemen dan kewenangan direksi;
6) Mendorong kepatuhan terhadap kebijakan manajerial yang ditentukan; dan
7) Mematuhi hukum dan peraturan.
Rama dan Jones (2008: 134), dalam laporan COSO mengidentifikasi lima
komponen pengendalian internal yang berpengaruh terhadap kemampuan
organisasi dalam mencapai sasaran pengendalian internal.
1)
Lingkungan pengendalian
|
25
Mengacu pada faktor-faktor umum yang menetapkan sifat organisasi dan
mempengaruhi kesadaran karyawannya terhadap pengendalian. Faktor-faktor
ini meliputi integritas, nilai-nilai etika, serta filosofi dan gaya operasi
manajemen. Juga meliputi cara manajemen memberikan liputan wewenang dan
tanggung jawab, mengatur dan mengembangkan karyawannya, serta perhatian
dan arahan yang diberikan oleh dewan direksi.
2)
Penentuan risiko
Merupakan identifikasi dan analisis risiko yang mengganggu pencapaian
sasaran pengendalian internal.
3)
Aktivitas pengendalian
Merupakan kebijakan dan prosedur yang dikembangkan oleh organisasi untuk
mencapai risiko. Aktivitas pengendalian meliputi hal-hal berikut:
a.
Penelaahan kinerja, merupakan aktivitas-aktivitas yang mencakup analisis
kinerja, misalnya, melalui perbandingan hasil aktual dengan anggaran,
proyeksi standar, dan data periode lalu.
b.
Pemisahan tugas mencakup pembebanan tanggung jawab untuk otorisasi
transaksi, pelaksanaan transaksi, pencatatan transaksi, dan pemeliharaan aset
kepada karyawan yang berbeda-beda.
c.
Pengendalian aplikasi diterapkan pada masing-masing aplikasi sistem
informasi akuntansi.
d.
Pengendalian umum adalah pengendalian yang berkaitan dengan banyak
aplikasi.
4)
Informasi dan komunikasi.
Sistem informasi perusahaan merupakan kumpulan prosedur (otomasi dan
manual) dan record
yang dibuat untuk memulai, mencatat, memproses, dan
melaporkan kejadian pada proses entitas. Komunikasi meliputi penyediaan
pemahaman mengenai peran dan tanggung jawab individu.
5)
Pengawasan.
Manajemen harus mengawasi pengendalian internal untuk memastikan bahwa
pengendalian organisasi berfungsi sebagaimana dimaksudkan.
|
26
Menurut Weygandt, Kimmel, Kieso (2011: 300-307) aktivitas pengendalian
adalah tulang punggung dari upaya perusahaan untuk mengatasi risiko yang
dihadapi, seperti penipuan. Aktivitas pengendalian khusus yang digunakan oleh
setiap perusahaan akan berbeda-beda, tergantung pada penilaian manajemen
terhadap risiko yang dihadapi. Enam prinsip kegiatan pengendalian adalah sebagai
berikut:
1)
Establishing of responsibility
Yang penting dari pengendalian internal adalah untuk memberikan tanggung
jawab kepada karyawan yang spesifik. Pengendalian yang paling efektif bila
hanya satu orang yang bertanggung jawab atas tugas yang diberikan.
Menetapkan tanggung jawab sering membutuhkan pembatasan akses hanya
untuk personil yang berwenang, dan kemudian mengidentifikasi personel itu.
2)
Segregation of duties
Pemisahan tugas sangat diperlukan dalam sistem pengendalian internal. Terdapat
dua aplikasi umum dari prinsip ini:
a.
Individu yang berbeda harus bertanggung jawab untuk aktivitas yang terkait.
b.
Tanggung jawab pencatatan untuk aset harus terpisah dari penyimpanan fisik
aset tersebut.
3)
Documentation procedures
Mendokumentasikan merupakan bukti bahwa transaksi dan peristiwa telah
terjadi. Perusahaan harus menetapkan prosedur untuk dokumen. Pertama, bila
memungkinkan, perusahaan harus menggunakan dokumen yang diberi nomor
urut, dan semua dokumen harus dicatat. Kedua, sistem pengendalian harus
meminta karyawan memberikan semua dokumen sumber untuk dicatat dalam
akuntansi oleh bagian akuntansi.
4)
Physical controls
Penggunaan pengendalian fisik sangat penting. Pengendalian fisik berhubungan
dengan pengamanan aset dan meningkatkan akurasi dan keandalan catatan
akuntansi.
|
27
5)
Independent internal verification
Kebanyakan sistem pengendalian internal menentukan verifikasi internal
independen. Prinsip ini melibatkan tinjauan data yang disusun oleh karyawan.
Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari verifikasi internal independen:
a.
Perusahaan harus memverifikasi catatan secara periodik atau tiba-tiba.
b.
Seorang karyawan yang tidak berhubungan dengan personil yang
bertanggung jawab untuk informasi, harus membuat verifikasi.
c.
Perbedaan dan pengecualian harus dilaporkan ke tingkat manajemen yang
dapat mengambil tindakan perbaikan yang tepat.
6)
Human resource controls
Kegiatan pengendalian sumber daya manusia adalah sebagai berikut:
a.
Menjamin perlindungan terhadap karyawan yang memegang kas atau uang
tunai.
b.
Memutar tugas karyawan dan meminta karyawan untuk mengambil liburan.
c.
Melakukan pemeriksaan keseluruhan latar belakang karyawan.
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 60)
menuliskan bahwa
object oriented
analysis
(OOA) mendefinisikan semua tipe objek yang melakukan pekerjaan di dalam
sistem dan
menunjukkan apa saja interaksi pengguna yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan tugas-tugas tersebut.
Sedangkan object oriented design
(OOD) didefinisikan oleh Satzinger, Jackson,
dan Burd (2005: 60) sebagai berikut:
Object oriented design (OOD) mendefinisikan semua tipe objek yang dibutuhkan untuk
berkomunikasi dengan orang-orang dan alat-alat di dalam sistem serta menunjukkan
bagaimana objek-objek tersebut berinteraksi untuk menyelesaikan tugas dan
menyempurnakan definisi dari masing-masing objek agar dapat diimplementasikan
dengan bahasa atau lingkungan tertentu.
Di bawah ini merupakan gambar yang menjelaskan mengenai persyaratan model
yang secara langsung digunakan untuk mengembangkan model desain:
|
![]() 28
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 300)
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 39), siklus hidup pengembangan sistem
adalah proses secara keseluruhan dari pembuatan, penyebaran, penggunaan, dan
pembaharuan dari sistem informasi. Fase-fase dari pendekatan ini meliputi:
1.
Project Planning Phase
Mengidentifikasikan ruang lingkup dari sistem baru, memastikan bahwa proyek
tersebut dapat dilaksanakan, mengembangkan jadwal, merencanakan sumber
daya, dan membuat anggaran.
2.
Analysis Phase
Memahami dan mendokumentasikan kebutuhan bisnis secara detail dan
memproses kebutuhan dari sistem baru.
3.
Design Phase
|
29
Merancang sistem berdasarkan kebutuhan yang telah ditentukaan dan keputusan
yang dibuat selama proses analisis berlangsung.
4.
Implementation Phase
Membuat, menguji, dan menginstal sistem informasi yang reliable
dengan
pengguna yang sudah dilatih sebelumnya.
5.
Support Phase
Menajaga sistem agar dapat beroperasi secara produktif dari awal penggunaan
sampai dengan tahun-tahun berikutnya.
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 144) memberikan pengertian
mengenai activity diagram sebagai berikut:
Activity diagram
merupakan salah satu cara efektif menangkap informasi
mengenai proses bisnis. Activity
diagram
adalah diagram alur kerja
sederhana yang menggambarkan aktivitas dari pengguna (atau sistem)
yang berbeda-beda, pihak yang melakukan tiap aktivitas, dan aliran yang
berurutan dari aktivitas-aktivitas tersebut.
|
![]() 30
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 146)
Dalam membuat activity diagram
terdapat beberapa simbol atau
notasi yang digunakan, yaitu:
1) Synchronization bar
Merupakan simbol atau notasi yang digunakan untuk mengontrol
pemisahan atau penyatuan dari jalur yang berbeda.
2) Swimlane
Merupakan suatu daerah persegi dalam activity diagram yang mewakili
aktivitas-aktivitas yang diselesaikan agen tunggal.
3) Starting activity (pseudo)
Merupakan simbol atau notasi yang memandakan dimulainya sebuah
aktivitas.
|
![]() 31
4) Transition arrow
Merupakan garis penunjuk panah yang menggambarkan transisi dari
suatu aktivitas dan arah dari suatu aktivitas.
5) Activity
Merupakan simbol atau notasi yang menggambarkan suatu aktivitas.
6) Ending activity (pseudo)
Merupakan simbol atau notasi yang menandakan berakhirnya suatu
aktivitas.
7) Decision activity
Simbol atau notasi yang menandakan satu aktivitas akan mengikuti satu
jalur atau jalur yang lain tergantung keputusan yang diambil.
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 145)
Detailed activity diagram
menunjukkan informasi mengenai
aktivitas dalam suatu kejadian spesifik (Rama dan Jones, 2008: 94).
Sedangkan overview diagram merupakan nama lain dari activity diagram
yang dipakai pada buku Rama dan Jones.
|
![]() 32
Terdapat beberapa tambahan simbol atau notasi menurut Rama dan
Jones (2008: 83-84), yaitu sebagai berikut:
1) Simbol dokumen, berfungsi untuk menunjukkan dokumen sumber dan
laporan.
2) Garis
putus-putus dengan panah memiliki dua fungsi, yaitu (1)
menunjukkan aliran informasi antarkejadian atau antaraktivitas dan (2)
menyambung kejadian atau aktivitas dan table-tabel untuk
menunjukkan bagaimana data table dibuat ataudigunakan oleh kejadian
atau aktivitas.
3) Simbol berbentuk sembilan kotak persegi menunjukkan table atau file.
Sumber: Rama dan Jones (2008: 83-84)
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005:
167)
memberikan pengertian
mengenai
event
sebagai
sesuatu yang terjadi pada waktu dan tempat
tertentu, yang dapat digambarkan, dan harus diingat oleh sistem.
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 174) mendefinisikan event
table sebagai berikut:
Event table adalah sebuah pedoman dari use case yang menjabarkan event
dalam baris dan potongan-potongan kunci dari informasi mengenai tiap-
tiap event di dalam kolom. Sebuah event table terdiri dari baris dan kolom
yang mewakili event dan detailnya masing-masing.
|
![]() 33
Gambar 2.5 Event Table
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 175)
1) Use Case Diagram
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005, 213), use case
diagram
adalah
diagram yang menunjukkan berbagai peran yang berbeda dari pengguna
dan bagaimana peran tersebut digunakan dalam sistem. Actor
diperankan oleh pengguna dan berada diluar boundary.
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 215)
|
![]() 34
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 216)
2) Use Case Description
Use case descripton adalah sebuah deskripsi yang berisi daftar rincian
proses dari use case (Satzinger, Jackson, dan Burd, 2005: 220).
Use case description dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.
Brief Description
Brief description
digunakan untuk use case
yang sangat sederhana
dan sistem yang dibangun berskala kecil.
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 221)
b.
Intermediate Description
Merupakan pengembangan dari brief description
termasuk aliran
internal dari aktivitas untuk sebuah use case.
|
![]() 35
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 221)
c.
Fully Developed Description
Metode paling formal yang dapat digunakan dalam
mendokumentasikan use case.
|
![]() 36
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 223)
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 214), menjelaskan mengenai
statechart seperti di bawah ini:
Statechart
menggambarkan states
dari setiap obyek. Statechart
juga
mengidentifikasi kondisi status dan menentukan proses yang diizinkan.
Statechart
digunakan selama melakukan desain untuk mengidentifikasi
berbagai states
dari sistem itu sendiri dan mengizinkan event yang dapat
|
![]() 37
diproses. Jadi, statechart dapat dianggap baik sebagai alat analisis atau alat
desain.
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 184) mendefinisikan domain
class diagram sebagai berikut:
Domain class diagram
adalah sebuah diagram
UML yang
menggambarkan semua hal yang penting dalam pekerjaan user, kelas-
kelas problem domain, asosiasi, dan atributnya. Pada domain class
diagram, kotak segi empat menggambarkan class
dan garis yang
menghubungkan antar class menunjukkan asosiasi antar class.
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 187)
Garis penghubung yang menghubungkan antar class disedut
multiplicity of associations. Terdapat enam jenis hubungan antar class
yang digambarkan dalam tabel berikut:
|
![]() 38
Hubungan
Simbol
Zero or one (optional)
0..1
One and only one (optional)
1
One and only one (alternate)
1..1
One or more (mandatory)
1..*
Zero or more (alternate)
*
Zero or more (optional)
0..*
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 186)
Terdapat dua hirarki dalam notasi class diagram
menurut
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 189-191), yaitu:
1) Generalization / specialization hierarchies
Generalization
merupakan pengelompokkan hal-hal dengan jenis yang
sama. Sedangkan specialization adalah pengkategorian jenis-jenis yang
berbeda. Generalization
dan specialization
biasa digunakan untuk
menyusun peringkat atau hal-hal dari yang lebih umum ke hal-hal yang
lebih khusus. Untuk hal umum disebut dengan superclass
dan hal
khusus disebut subclass, hirarki ini biasa disebut dengan hirarki
inheritance. Inheritance
merupakan sebuah konsep yang
memungkinkan subclass untuk berbagi karekteristik superclass-nya.
Simbol atau notasi yang digunakan dalam generalization(inheritance):
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 190)
|
![]() 39
2) Whole-part hierarchies
Whole-part hierarchies
menggambarkan hubungan yang dibuat oleh
orang ketika mereka belajar untuk membuat keterkaitan antara sebuah
objek dengan komponennya. Terdapat dua jenis whole-part hierarchies
yaitu aggregation
dan composition. Aggregation
digunakan untuk
menggambarkan suatu bentuk keterikatan yang menentukan hubungan
whole-part
antara agregat
(keseluruhan) dan komponennya (bagian-
bagian) dimana bagian-bagian dapat berdiri sendiri secara terpisah.
Composition
digunakan untuk menggambarkan hubungan whole-part
yang lebih kuat, dimana tiap-tiap bagian, setelah berhubungan, tidak
dapat berdiri sendiri secara terpisah.
Simbol atau notasi yang digunakan dalam Whole-part hierarchies:
a.
Composition
b.
Aggregation
|
![]() 40
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 192)
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 213), menjabarkan system
sequence diagram sebagai berikut:
System sequence diagram
digunakan untuk menentukan input
dan output
dan urutan interaksi antara pengguna dan sistem dalam sebuah use case.
Sebuah system sequence diagram
menggambarkan urutan pesan antara
eksternal aktor dan sistem dalam use case atau skenario. Dalam sequence
diagram, alur informasi yang masuk dan keluar disebut sebagai pesan.
|
![]() 41
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 229)
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 309), deployment environment
terdiri dari hardware, software, dan network. Deployment environment
terbagi atas dua jenis, yaitu:
1) Single Computer Architecture
Single computer architecture
menggunakan sistem komputer tunggal
yang menjalankan seluruh software. Kelebihan utamanya adalah
kesederhanaannya. Sistem informasi yang dijalankan pada single
computer architecture
umumnya mudah dirancang, dibangun,
dioperasikan, dan dikelola.
|
![]() 42
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 271)
2) Multitier Computer Architecture
Multitier computer architecture merupakan tipe arsitektur penggunaan
proses eksekusinya terjadi di beberapa komputer. Multitier computer
architecture dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Clustered Architecture
Merupakan tipe arsitektur yang menggunakan beberapa komputer
dengan model dan produksi yang sama.
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 271)
b. Multicomputer Architecture
Merupakan tipe arsitektur yang menggunakan beberapa komputer
namun dengan spesifikasi yang berbeda-beda.
|
![]() 43
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 271)
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 277), software architecture
terdiri atas dua, yaitu:
1) Client/Server Architecture
Client/server architecture membagi software ke dalam dua tipe, client
dan server. Server
berfungsi untuk mengolah sumber informasi atau
menyediakan servis. Sedangkan client
berfungsi untuk berkomunikasi
dengan server untuk meminta sumber daya atau servis dan server akan
merespon terhadap permintaan tersebut.
2) Three-Layer Client/Server Architecture
Merupakan pengembangan dari client/server architecture
yang terdiri
dari tiga layer, yaitu:
a. Data layer
Merupakan layer
untuk mengatur penyimpanan data pada satu atau
lebih database.
b. Business logic layer
Merupakan layer
yang mengimplementasikan aturan dan prosedur
dari proses bisnis.
c. View layer
Merupakan layer
yang menerima input
dan menampilkan hasil
proses.
|
![]() 44
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 309) menerangkan bahwa
first-cut design class diagram
ini dikembangkan dengan memperluas
domain model. Dalam pembuatannya diperlukan dua langkah, yaitu:
1) Menguraikan atribut dengan jenis dan informasi nilai awal
2) Menambahkan panah navigation visibility
yang berfungsi untuk
menjelaskan objek yang dapat berinteraksi satu sama lain.
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 318)
menyatakan bahwa
dalam three layer sequence diagram
terdapat lebih dari satu objek dan
notasi baru yaitu activation lifeline yang digambarkan dengan persegi
panjang vertical kecil. Activation lifeline menggambarkan informasi. Itulah
sebabnya pesan masukan biasanya di bagian atas persegi panjang dan
pesan kembali di bagian bawah.
|
![]() 45
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 334), communication diagram
tidak jauh berbeda dengan sequence diagram, keduanya merupakan
diagram interaksi yang menangkap informasi yang sama. Fokus dari
communication diagram adalah pada obyek itu sendiri.
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 335)
|
![]() 46
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 337), updated design class
diagram
dapat dikembangkan untuk setiap layer. Pada view
dan data
access layer, beberapa class
baru harus ditambahkan. Demikian pula
dengan domain layer
juga membutuhkan penambahan class baru sebagai
use case controller. Pada updated design class diagram, method
dapat
ditambahkan untuk setiap class. Tiga method umum yang sering dijumpai
pada class-class updated design class diagram
adalah constructor
methods, data get and set methods, dan use case specific method objects.
Sumber: Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 340)
|
![]() 47
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 339-342), package diagram
adalah diagram tingkat tinggi yang memungkinkan perancang sistem untuk
mengasosiasikan kelas-kelas dari grup terkait.
Notasi dari package diagram
berbentuk kotak persegi panjang
dengan label. Nama dari package
berada dalam label, sedangkan kelas-
kelas yang dimiliki oleh package
ditempatkan di dalam kotak persegi
panjang.
Simbol lain yang digunakan dalam package
diagram
adalah titik-
titik panah (dashed arrow) yang menggambarkan dependency relationship.
Buntut panah terhubung dengan dependent
package, sedangkan kepala
panah terhubung dengan independent
package. Dependency
relationship
menggambarkan hubungan antara package, classes, atau use
case
yang
ketika bagian independent
berubah maka bagian dependent
lainnya juga
dapat berubah.
|
48
Normalisasi sesuai dengan Satzinger, Jackson, dan Burd (2005:
415)
adalah teknik formal yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas
sebuah skema database relasional. Normalisasi didasarkan pada konsep
yang disebut functional dependency dan serangkaian bentuk yang normal:
1) First normal form
(1NF). Sebuah tabel dalam first normal form
jika
tidak terdiri dari perulangan fields atau grup dari fields.
2) Functional dependency, adalah hubungan one-to-one
antara nilai-nilai
dari dua fields.
3) Second normal form
(2NF). Sebuah tabel dalam second normal form
jika berada dalam first normal form
dan jika setiap elemen non-key
secara fungsional tergantung pada seluruh primary key.
4) Third normal form (3NF). Sebuah tabel dalam third normal form jika
berada dalam second normal form
dan jika ada unsur non-key secara
fungsional bergantung pada setiap elemen non-key lainnya.
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 442-445), user interface terdiri
dari input dan output
yang melibatkan pengguna sistem secara langsung.
User
interface
memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan
komputer untuk mencatat sebuah transaksi. Terdapat tiga aspek yang
berhubungan dengan user interface, yaitu:
1) Aspek fisik: mencakup alat-alat yang benar-benar disentuh oleh
pengguna, seperti keyboard, mouse, layar sentuh, atau keypad.
2) Aspek persepsi: mencakup semua yang dilihat, didengar atau disentuh
(melewati alat fisik) oleh pengguna. Apa yang dilihat pengguna
mencakup semua data dan petunjuk yang ditampilkan pada layar
termasuk bentuk, garis, angka, dan kata-kata. Contoh dari apa yang
didengar adalah berupa suara yang dibuat oleh sistem, seperti bunyi
beep atau click. Contoh untuk apa yang disentuh oleh pengguna adalah
|
49
menu, dialog box, dan tombol yang ada dilayar dengan menggunakan
mouse.
3) Aspek konseptual: mencakup semua yang pengguna ketahui mengenai
penggunaan sistem, termasuk semua masalah utama di dalam sistem
yang dimanipulasi oleh pengguna, oprasi yang dapat dilakukan, dan
prosedur yang diikuti untuk melaksanakan operasi.
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 454-457) menjelaskan bahwa
terdapat banyak pedoman yang digunakan untuk membuat interface, salah
satunya adalah Eight
Golden
Rules yang diajukan oleh Ben
Shneiderman yang dapat diterapkan pada kebanyakan interactive system.
1) Usahakan untuk konsisten (strive for consistency)
Sistem harus konsisten dalam mengatur bentuk, nama dan susunan
menu item, ukuran dan bentuk ikn, dan urutan untuk melakukan tugas.
Hal tersebut dilakukan karena manusia menciptakan kebiasaan.
2) Memungkinkan
pengguna untuk menggunakan shortcut (enable
frequent users to use shortcuts)
Shotcut digunakan untuk mengurangi jumlah interaksi untuk tugas yang
dijalankan, sehingga pengguna dapat menghemat waktu. Selain itu,
perancang harus menyediakan fasilitas makro bagi pengguna untuk
membuat shortcut mereka sendiri.
3) Memberikan umpan balik yang informatif (offer informative feedback)
Setiap tindakan yang diambil pengguna harus menghasilkan beberapa
jenis umpan balik dari komputer sehingga pengguna mengetahui bahwa
tindakan tersebut diakui. Contohnya adalah klik keyboard yang
membantu pengguna, jadi sebuah "click" elektronik sengaja disertakan
oleh sistem operasi. Jika pengguna mengklik tombol, tombol harus
mengubah visualnya dan mungkin dapat membuat suara. Tetapi sistem
tidak harus memperlambat pengguna dengan menampilkan dialog box
terlalu banyak dimana pengguna harus merespon tiap dialog box.
4) Merancang dialog untuk menghasilkan penutupan (design dialogs to
yield closure)
|
50
Untuk setiap dialog dengan sistem harus diorganisasikan dengan urutan
yang jelas, yaitu dari awal, tengah, dan akhir agar pengguna dapat
mempersiapkan dirinya untuk fokus ke tindakan berikutnya.
5) Memberikan penanganan masalah yang sederhana (offer simple error
handling)
Ketika sistem menemukan sebuah kesalahan, maka pesan kesalahan
harus menegaskan secara spesifik apa yang salah dan menjelaskan
bagaimana cara untuk menanganinya. Pesan kesalahan juga tidak boleh
menghakimi pengguna. Selain itu sistem harus dapat mengatasi
kesalahan dengan mudah.
6) Memungkinkan untuk kembali ke tindakan sebelumnya dengan mudah
(permit easy reversal of actions)
Pengguna perlu merasa bahwa mereka dapat mengeksplorasi pilihan
dan mengambil tindakan yang dapat dibatalkan atau kembali ke
tindakan sebelumnya tanpa kesulitan. Salah satu cara untuk
menghindari kesalahan, sebagaimana pengguna menyadari mereka telah
melakukan kesalahan, mereka dapat membatalkan tindakan.
7) Mendukung tempat pengendalian internal (support internal locus of
control)
Pengguna berpengalaman ingin merasa
bahwa mereka memiliki kuasa
atas sistem dan bahwa sistem menanggapi perintah mereka. Mereka
tidak boleh dipaksa untuk melakukan sesuatu atau dibuat untuk merasa
seolah-olah sistem mengendalikan mereka. Sistem harus membuat
pengguna merasa bahwa mereka memutuskan apa yang harus
dilakukan.
8) Mengurangi muatan memori jangka pendek (reduce short-term memory
load)
Orang-orang memiliki banyak keterbatasan, dan memori jangka pendek
adalah salah satu yang terbesar. Orang dapat mengingat hanya sekitar
tujuh potongan informasi pada satu waktu. Maka rancangan yang terlalu
rumit dan terlalu banyak form dapat menjadi beban bagi ingatan
pengguna.
|
![]() 51
Satzinger, Jackson, dan Burd (2005: 66),
persistent object
merupakan obyek yang diingat oleh sistem dan tersedia untuk digunakan
dari waktu ke waktu.
Kerangka pikir penulisan ini diawali dengan melakukan penentuan yang terdiri
dari latar belakang dipilihnya topik, ruang lingkup penulisan, tujuan dan
manfaat dari
penulisan, metodologi yang digunakan dalam penulisan, dan sistematika penulisan. Saat
melakukan penentuan, dilakukan pula pengumpulan teori-teori yang terkait dengan
penulisan dan data perusahaan yang dibutuhkan dalam penulisan. Dari dua tahap awal
tersebut dilakukanlah sebuah perencanaan.
Setelah perencanaan dilakukan, maka akan diperoleh data-data yang diperlukan
untuk menganalisis seperti sejarah, visi, dan misi perusahaan; struktur organisasi
perusahaan beserta tugas dan wewenangnya; prosedur sistem penjualan yang berjalan;
activity detailed diagram; dan activity diagram. Dari data-data yang diperoleh akan
dibandingkan dengan teori-teori yang digunakan antara lain teori sistem informasi
akuntansi revenue cycle dan teori object oriented analysis and design.
Saat membandingkan data yang diperoleh dengan teori yang digunakan akan
dilakukan tahap analisis yang terdiri dari identifikasi masalah yang terjadi dalam sistem
|
52
yang berjalan dan memberikan rekomendasi solusi untuk meminimalisir atau
menghilangkan masalah yang terjadi.
Dalam tahap design, rekomendasi solusi yang diusulkan ditahap analisis harus
terdapat pada perancangan sistem menurut pendekatan object oriented analysis and
design berdasarkan Satzinger, Jackson, dan Burd. Tahapan yang dilakukan adalah dengan
modeling and the requirements discipline dan design discipline.
Tahap implementation dilakukan yang dimulai dengan menginstal sistem yang
telah dirancang setelah itu melatih pengguna untuk menguji kelayakan sistem apakah
dapat diimplementasikan di perusahaan atau tidak. Dan tahap terakhir dari penulisan ini
adalah simpulan dan saran. Berikut adalah kerangka pikir penulisan skripsi ini yang
ditunjukkan pada gambar 2.26.
|
![]() 53
Data-data yang diperlukan
dalam menganalisis:
-
Sejarah, visi, dan misi PT
Culletprima Setia
-
Struktur organisasi beserta
tugas dan wewenangnya
-
Prosedur sistem penjualan
yang berjalan
-
Activity detailed diagram
-
Activity diagram
Teori yang digunakan:
-
Sistem Informasi
Akuntansi Revenue Cycle
-
Object Oriented Analysis
and Design (OOAD) oleh
Satzinger, Jackson, dan
Burd
DESIGN
Analisis dan
identifikasi
kebutuhan untuk
implementasi solusi
Perancangan sistem
menggunakan OOAD
oleh Satzinger,
Jackson, dan Burd
Modeling and the
requirements
discipline dan
design discipline
PERENCANAAN
Penentuan
-
Latar belakang
-
Ruang lingkup
-
Tujuan dan manfaat
-
Metodologi
-
Sistematika penulisan
Pengumpulan
-
Teori-teori yang terkait
dengan Sistem Informasi
Akuntansi Revenue Cycle
-
Data perusahaan bagian
penjualan
ANALISIS
Identifikasi masalah yang terjadi dalam sistem yang berjalan
Rekomendasi solusi terhadap masalah yang terjadi
IMPLEMENTATION
Menguji kelayakan sistem
Menginstal sistem yang telah dibuat
SIMPULAN & SARAN
[No]
[Yes]
|
|