Start Back Next End
  
3
oleh hormon yang mengatur rasa cinta, dopamine, norepinepherine dan
phenylethylmine. "Chemistry
penting bagi banyak hal," kata Gottman, penulis The
Cure Relationship  (Crown, 2001). "Saya tidak berpikir bahwa Kita dapat bertahan
dalam sebuah hubungan dengan teknik apapaun dimana tidak ada chemistry diantara
pasangan."  
Menurut Levine, yang merupakan
instruktur klinis psikologi di Harvard
Medical School,  "Chemistry
membuat kita mampu membuka diri untuk menerima
makhluk lain, membuat kita tumbuh jauh lebih besar melampaui apa yang kita pikir
kita tahu. Kita tidak merasakan hal ini pada sembarang orang
, sebuah perasaan
yang begitu kuat dan bermanfaat yang bisa memotivasi orang untuk mau bekerja
keras."
Dalam membuat cerita romansa, Barbara Bretton  seorang pengarang novel
best seller, penulis yang telah memenangi penghargaan lebih dari 40 buku memiliki
pendapat khusus mengenai efek chemistry dalam sebuah cerita, “Anda bisa
memalsukan rasa dingin,  Anda dapat memalsukan kejutan, Anda bahkan dapat
memalsukan orgasme, tapi ada satu hal yang tidak bisa anda palsukan -
dalam
kehidupan nyata atau fiksi – yakni chemistry.”
Menurutnya sexual chemistry
antara dua karakter itu harus ada atau jika
tidak, itu tidak bisa dibeli, diproduksi, atau dipalsukan. Sexual chemistry
adalah
kombinasi dari banyak hal. Bisa merupakan dialog cerdas, bisa keadaan dan
peluang, tapi
apa pun itu, jika tidak didasarkan pada pelukisan watak yang baik,
maka tidak akan ada efek apapun. Sexual chemistry adalah bahan paling mendasar
dan paling penting dalam penulisan roman yang baik karena merupakan daya tarik
awal yang membuka jalan bagi para tokohnya, seperti kutipan Kahlil Gibran “The
Chemist who can extract from his heart’s elements compassion, respect, longing,
patience, regret, surprise and forgiveness and compound them into one can create
that atom which is called Love...
2.2.8 Film Romantis
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter