|
3
Kuning: ceria, hangat, semangat, cerah, kesenangan, kelincahan kemuliaan
cinta, pengertian
yang mendalam, lambang intelektual, bijaksana, pengecut, pengkhianatan.
Kuning hijau: persahabatan, muda, kehangatan, baru, gelisah, berseri.
Hijau muda: tumbuh, cemburu, kurang berpengalaman, iri ahti, kaya, segar,
istirahat, tenang.
Hijau biru: tenang, santai, diam, lembut, setia, kepercayaan.
Biru: melankolis, teknologi, sejuk, pasif terhormat, tenang, damai, depresi,
menahan diri, ikhlas, setia, konservatif, lembut, menahan diri. Goethe
menyebutnya mempesona, spiritual, monoteis, kesepian, sedang memikirkan
masa lalu dan masa akan datang. Warna perspektif yang menarik kita dalam
kesendirian, dingin, membuat jarak, dan terpisah. Melambangkan kesucian
dan harapan.
Ungu: kebesaran, sejuk, negative, mundur, tenggelam dan khidmat, berarti
sukacita,
kontemplatif, suci, lambang agama, murung, melankolis, pendiam,
agung(mulia), aristokrasi, dan menyerah.
Cokelat: bersahabat, hangat, tenang, alami, kebersamaan, sentosa, rendah
hati.
y_Caveat_emptor_2011_)
Mengacu pada teori diatas, Penulis mengaplikasikannya untuk mencari
referensi mood yang sesuai pada film. Untuk mood, pada siang hari Penulis
menggunakan warna-warna sendu biru dan cream
dengan saturasi rendah namun
tetap terlihat cerah sehingga selain untuk membuatnya lebih galau juga agar
terkesan lebih imajinatif. Mood pergolakan batin si wanita dipadukan antara biru tua
dan cyan yang dingin sehingga terkesan intimidatif dan suram. Mood malam
awalnya menggunakan warna-warna gelap, namun semakin lama semakin terang
seiring dengan klimaks. Warna-warna yang dipilih yaitu biru pekat, orange dan
kuning untuk menghasilkan kesan yang warm
di ending cerita ini yang bisa
dikatakan bitter-sweet ending.
|