9
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Place Marketing
2.1.1.1 Pengertian Place Marketing
Term ‘place’ digunakan untuk menunjukan pengertian ‘place’ secara
umum seperti kota, regional, komunitas, area, bangsa dan negara. Kotler, et al.
(2002a:4) mengatakan bahwa ‘place’ adalah negara bangsa, wilayah
geopolitik, regional atau negara bagian, kebudayaan, sejarah atau etnik dalam
batas wilayah sama, ibu kota dan populasi yang mengelilinginya, pasar dengan
variasi atribut yang dapat didefinisikan, pusat industri dan pengklusteran
seperti industri dan suppliernya,  serta atribut psikologis yang dihasilkan dari
hubungan manusia.
A place is a nation-state, a geopolitical physical space; a region or state; a
cultural, history or ethic bounded location; a central city and its surrounding
populations; a market with various definable attributes; an industry’s home
base and a clustering of like-industries and their supplier; a psychological
attribute of relations between people.
Place marketing
merupakan proses pendesainan daerah untuk
memuaskan kebutuhan dari target market. Kesuksesan place marketing
terwujud ketika warga kota dan perusahaan merasa puas terhadap daerah
mereka serta terpenuhnya ekspektasi para pengunjun dan investor di daerah
tersebut (Kotler et al. 2002a:183)
2.1.1.2 Elemen Place Marketing
Philip Kotler (2002a:46) merangkum elemen-elemen utama dalam
strategi pemasaran daerah menjadi suatu kerangka yang biasa disebut “Levels
of Place Marketing”. Proses ini terdiri dari tiga lingkaran besar yang
melingkup pasar sasaran (target markets), faktor pemasaran (marketing
  
10
factors), serta kelompok perancanaan (planning group). Lingkaran pertama
adalah planning group
yang bertanggung jawab atas proses perancanaan dan
kontrol pemasaran daerah. Kedua, marketing factors meliputi proses tata ruang
daerah, peningkatan infastruktur daerah, penyediaan layanan dasar serta
penciptaan aspek hiburan dan rekreasi. Ketiga, pasar sasaran (target markets)
maksudnya adalah pelanggan dan segmen yang telah dipilih oleh daerah
sebagai penerima pesan pemasaran. Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar
2.1 yang menggambarkan tentang elemen-elemen penting dalam strategi
pemasaran daerah.
Gambar 2.1 Elemen Place Marketing
Sumber: Kotler et al. (2002:46)
2.1.1.3 Strategi Place Marketing
Place marketing
harus berhasil dalam sisi strategi maupun dalam
pelaksanaannya. Gambar 2.2 menyajikan empat lingkungan dasar dimana
strategi dan pelaksanaan place marketing dapat berlangsung.
  
11
Gambar 2.2 Strategi Place Marketing
Sumber: Kotler et al (2002:177)
Daerah dikatakan “loser” jika implementasi strategi sangat rendah dan
memiliki kemampuan strategis yang rendah. Tempat-tempat ini tidak memiliki
kapasitas untuk mengambil tindakan dalam pelaksanaan atau strategi
pekerjaan. “Expanders” adalah daerah yang baik dalam strategi dan
implementasi pemasaran. Ada kepemimpinan untuk strategi jangka panjang
mendukung rencana aksi. “Frustrators” merupakan daerah yang mengalami
frustasi karena mereka tidak memiliki keterampilan pelaksanaan meskipun
mereka memiliki kemampuan strategis yang baik. “Gamblers” kekurangan
daya lihat strategis, namun dengan keberuntungan dan kerja keras gamblers
bisa mendapatkan beberapa keberhasilan jangka pendek.
2.1.2 Service
2.1.2.1 Pengertian Service
Jasa merupakan istilah yang sangat umum dan tidaklah mudah untuk
mendefinisikan secara tegas apa itu jasa, karena begitu banyaknya definisi –
definisi jasa yang beredar di
masyarakat. Menurut Lovelock dalam Arief
(2007:11) lebih jelas mendeskripsikan jasa sebagai proses daripada produk,
  
12
dimana suatu proses melibatkan input
dan mentransformasikannya sebagai
output. Dua kategori yang diproses oleh jasa adalah orang dan objek.
Berdasarkan definisi di atas, jasa dapat diartikan sebagai sesuatu yang
tidak berwujud, yang melibatkan tindakan atau petunjuk kerja melalui proses
dan kinerja yang ditawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain. Dalam 
produksinya, jasa bisa terikat pada suatu produk fisik, tetapi bisa juga tidak.
Menurut Rambat dalam Arief (2007:12), kata jasa sendiri mempunyai
banyak arti dari pelayanan personal (personal service)
sampai jasa sebagai
suatu produk. Sejauh ini sudah banyak pakar pemasaran jasa yang telah
berusaha mendifinisikan pengertian jasa. Berikut adalah diantaranya:
“A service is an activity or a service of activities which take place in
interactions with a contact person or physical machine and which provides
consumer satistaction” (Lethinen dalam Arief, 2007:12).
“A service is an activity or series of activities of more or less intangible
nature that normally, but not necessarily, take place in interaction between the
customer and service employees and/or physical resource or good and/or
sistem of the service provider, which are provide as solution to customer
problems” (Gronroos dalam Arief, 2007:12).
Menurut William J.Staton dalam Arief (2007:13) memberikan pengertian
jasa sebagai berikut:
Service are to those separately identifiable, essentially intangible activies
that provide want -  satisfaction, and that are not necessarily tied to sale of a
product or another service. To produce a service may or may not required the
use of tangible goods. However, when such is required, there is not transfer of
the title (permanent ownership) to these tangible goods.
Nirwana (2006:15) mengartikan pelayanan atau jasa sebagai suatu
aktivitas atau kinerja yang bersifat tidak nyata yang ditawarkan untuk
memenuhi harapan konsumen. Jasa adalah suatu produk yang sifatnya tidak
  
13
dapat dipegang secara fisik. Keberadaan jasa lebih merupakan bentuk manfaat
yang dapat dirasakan oleh orang yang menggunakan jasa tersebut.
2.1.2.2 Klasifikasi Service (Jasa)
Kotler (2000) dalam Arief (2007, hal.40) menjelaskan lima pokok
klasifikasi bauran jasa sebagai berikut:
1.
Pure tangible goods
Produk yang ditawarkan adalah barang berwujud murni/nyata, tidak ada
bentuk jasa-jasa yang menyertai produk jenis ini. Contohnya: obat nyamuk,
shampoo, dan sabun.
2.
Tangible goods with accompanying maintance
Barang berwujud merupakan produk utama yang ditawarkan, sedangkan
pemeliharaan jasa menyertai produk utama tersebut. Pada umumnya, barang
elektronik, kendaraan, dan mesin-mesin diikuti oleh
pemeliharaan/perawatan dari barang-barang tersebut.
3.
Hybrid
Produk barang maupun jasa sama–sama dapat dirasakan, misalnya selain
mengharapkan makanan yang khas, pengunjung kafe juga ingin
mendapatkan pelayanan yang memuaskan.
4.
Major Service with accompanying minor goods services
Produk utama adalah jasa dengan melibatkan sedikit produk lain berupa
jasa, misalnya penumpang kereta api membeli jasa transportasi darat dengan
fasilitas makan dan minum yang diberikan secara cuma - cuma.
5.
Pure Service
Tidak ada produk lain yang berbentuk produk menyertai jasa murni, escort
(pengawalan/teman), psikiater, dan jasa konsultasi.
2.1.2.3 Karakteristik Service (Jasa)
Menurut Kotler dan Keller (2006:375) jasa memiliki empat karakteristik
utama yang dapat mempengaruhi rancangan program pamasaran, yaitu: 
1.
Barang tidak berwujud (intangibility); artinya jasa tidak dapat dilihat,
dirasakan, dicium, didengar,
atau diraba sebelum dibeli atau dikonsumsi.
  
14
Untuk mengurangi rasa ketidakpastian, pembeli biasanya akan mencari
bukti dari kualitas sebuah jasa tersebut. Mereka bisa mengambil kesimpulan
mengenai kualitas sebuah jasa berdasarkan tempat, orang, peralatan, alat
komunikasi, simbol, dan harga yang mereka lihat.
2.
Tidak terpisahkan (inseparability); artinya jasa pada umumnya diproduksi
dan dikonsumsi secara bersamaan, sehingga mutu dari suatu jasa terjadi
pada saat pemberian jasa. Kehadiran serta adanya interaksi antara konsumen
dan penyedia jasa merupakan ciri khusus dari pemasaran jasa.
3.
Bervariasi (variability); artinya jasa bersifat sangat variabel karena non-
standardized output. Artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan janis,
tergantung pada siapa, kapan dan dimana jasa tersebut dihasilkan. Para
pembeli jasa sangat peduli dengan variabilitas yang tinggi dan seringkali
mereka meminta pendapat orang lain sebelum memutuskan untuk memilih.
4.
Mudah lenyap (perishability); artinya jasa bersifat tidak tahan lama dan
tidak dapat disimpan. Manakala permintaan tetap, hal itu tidak menjadi
masalah. Namun saat permintaan fluktuatif, maka dapat muncul masalah
kapasitas menganggur ataupun konsumen tidak dapat dilayani dengan resiko
konsumen kecewa atau beralih ke penyedia jasa lain kompetitor.
Sedangkan karakteristik jasa yang membedakannya dari barang dan
berdampak pada cara memasarkannya menurut Tjiptono (2007:18) adalah
sebagai berikut:
1.
Intangibility:
a.
Produk bersifat abstrak: lebih berupa tindakan atau perbuatan
b.
Kesulitan dalam evaluasi alternatif penawaran jasa: persepsi customer
terhadap resiko
c.
Tidak dapat dipajang: differensiasi sukar dilakukan
d.
Tidak ada hak paten: hambatan masuk (entry barriers) rendah
2.
Inseparability:
a.
Customer terlibat dalam produksi: kontak dan interaksi penting sekali
b.
Customer lain juga terlibat: masalah pengendalian
c.
Karyawan mencerminkan dan mewujudkan bisnis jasa: relasi pribadi
d.
Lingkungan jasa: mendiferensiasikan produk
  
15
e.
Kesulitan dalam produksi massal: pertumbuhan membutuhkan
jaringan kerja sama
3.
Heterogeneity:
a.
Standarisasi sukar dilakukan: sangat tergantung kepada sumber daya
manusia yang terlibat
b.
Kualitas sulit dikendalikan heterogenitas lingkungan
4.
Perishability:
a.
Tidak dapat disimpan: tidak ada persediaan
b.
Masalah beban periode puncak: produktivitas rendah
c.
Sulit menentukan harga jasa: masalah penetapan harga
5.
Lake of Ownership :
a.
Customer tidak dapat memiliki jasa: jasa disewakan
2.1.3 Service Quality
2.1.3.1 Pengertian Service Quality
Menurut Usmara (2008:140)  menyatakan  bahwa  kualitas  pelayanan 
digambarkan sebagai suatu sikap dari hasil perbandingan pengharapan kualitas
jasa konsumen dengan kinerja perusahaan yang dirasakan konsumen. Sikap
mempengaruhi keputusan untuk membeli karena adanya pengharapan atau
ekspektasi konsumen. Selanjutnya konsumen membentuk suatu perilaku
tentang pemberi jasa berdasarkan pengharapan mereka sebelumnya mengenai
informasi perusahaan dan perilaku ini mempengaruhi keinginan mereka untuk
membeli.
Kontak utama antara restoran dan konsumen diciptakan oleh staf
pelayanan dan untuk itulah, kinerja mereka akan berdampak pada kesenangan
para tamu (Edwards and Gustafsson, 2008).
Menurut Wyckof dalam Arief (2007:118), kualitas jasa adalah tingkat
keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan
tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Berdasarkan pengertian
tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan merupakan keunggulan
  
16
yang dirasakan oleh konsumen dengan apa yang diterima oleh konsumen
setelah melakukan pembelian jasa. Dengan kata lain ada dua factor utama yang
mempengaruhi kualitas jasa, yaitu expected service dan perceived service. Jika
pelayanan yang diterima dan dirasakan (perceived) sesuai dengan yang
diharapkan (expected), maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik. Jika
pelayanan yang diterima melampaui harapan konsumen, maka kualitas
pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas ideal dan begitu juga sebaliknya, jika
pelayanan yang diterima lebih rendah dari yang diharapkan, maka kualitas
pelayanan dipersepsikan buruk. Dengan demikian baik atau tidaknya kualitas
pelayanan tergantung pada penyedia pelayanan dalam memenuhi harapan
konsumen.
Service quality
berhubungan dengan seberapa baik pelayanan inti
dilakukan oleh satu pasangan dalam suatu hubungan yang ditampilkan dan
dibandingkan dengan harapan, yaitu seberapa baik layanan seharusnya
diberikan (Jane Roberts and Bill Merrilees, 2007:410–417).
Gronroos dalam Chiu et al. (2010:112) mengindikasikan bahwa kualitas
pelayanan yang dirasakan berbeda antara ‘kualitas yang diharapkan’ dan
‘kualitas yang telah dialami’. Secara khusus, kualitas pelayanan yang
diharapkan mengacu pada harapan konsumen, sedangkan kualitas yang telah
dialami merujuk kepada hasil dari serangkaian keputusan dan kegiatan internal,
dengan kata lain, pandangan dan penilaian konsumen memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap kualitas pelayanan yang mereka rasakan.
Menurut Tjiptono (2007:259), terdapat beberapa perbedaan antara
kualitas barang dan kualitas pelayanan, antara lain :
Tabel 2.1 Perbedaan antara Kualitas Produk dan Kualitas Pelayanan
No.
Kualitas Produk
Kualitas Pelayanan
1.
Dapat secara objektif diukur dan
ditentukan oleh manufaktur
Diukur secara subjektif dan acap kali
ditentukan oleh konsumen
2.
Kriteria pengukuran lebih mudah
disusun dan dikendalikan
Kriteria pengukuran lebih susah
disusun dan sering kali susah
dikendalikan
  
17
3.
Standarisasi kualitas dapat
diwujudkan melalui investasi pada
otomatisasi dan teknologi
Kualitas sulit di-standarisasikan dan
membutuhkan investasi besar pada
pelatihan sumber daya manusia
4.
Lebih mudah mengkomunikasikan
kualitas
Lebih sulit mengkomunikasikan
kualitas
5.
Dimungkinkan untuk melakukan
perbaikan pada produk cacat guna
menjamin kualitas
Pemulihan atas jasa yang jelek sulit
dilakukan, karena tidak bisa
mengganti jasa-jasa yang cacat
6.
Produk itu sendiri memproyeksikan
kualitas
Bergantung pada komponen
peripherals untuk merealisasikan
kualitas
7.
Kualitas dimiliki dan dinikmati
(enjoyed)
Kualitas dialami (experienced)
Sumber: Fandy Tjiptono, 2007
2.1.3.2 Konsep Pelayanan Berkualitas
Albrcht dalam Yamit (2004:23-24) mengemukakan bahwa terdapat dua
konsep yang dapat digunakan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas.
Dua konsep tersebut adalah :
1.
Service  Triangle  adalah  suatu  model  interaktif  manajemen  pelayanan 
yang menghubungkan antara perusahaan dengan konsumennya. Model
tersebut terdiri dari tiga elemen dengan konsumen sebagai titik fokus, yaitu:
Service  Strategy,  adalah  strategi  untuk  memberikan  pelayanan 
kepada konsumen  dengan  kualitas  sebaik 
mungkin  sesuai  standar 
yang telah ditetapkan perusahaan. Standar pelayanan ditetapkan sesuai
keinginan dan harapan konsumen sehingga tidak terjadi kesenjangan
antara pelayanan yang diberikan dengan harapan konsumen. Strategi
pelayanan harus juga dirumuskan dan diimplementasikan seefektif
mungkin, sehingga mampu menciptakan pelayanan yang diberikan
kepada konsumen tampil berbeda dengan para pesaingnya. Untuk
merumuskan dan mengimplementasikan strategi pelayanan yang
efektif, perusahaan harus fokus pada kepuasan konsumen sehingga
  
18
perusahaan mampu membuat konsumen melakukan pembelian ulang
bahkan mampu meraih konsumen baru.
Service People atau sumber daya manusia yang memberikan
pelayanan, orang yang berinteraksi secara langsung maupun yang
tidak berinteraksi secara langsung dengan konsumen harus
memberikan pelayanan kepada konsumen secara tulus (emphaty),
responsif, ramah, fokus dan menyadari bahwa kepuasan konsumen
adalah segalanya. Untuk itu perusahaan harus pula memperhatikan
kebutuhan karyawannya dengan cara menciptakan lingkungan kerja
yang kondusif, rasa aman dalam bekerja, penghasilan yang wajar, dan
sistem penilaian kerja yang mampu menumbuhkan motivasi. Tidak
ada gunanya jika perusahaan membuat strategi pelayanan dan
menerapkannya secara baik untuk memuaskan konsumennya,
sementara pada saat yang sama perusahaan gagal memberikan
kepuasan kepada karyawannya, demikian pula sebaliknya.
Service System
atau sistem pelayanan adalah prosedur pelayanan
kepada konsumen yang melibatkan seluruh aktivitas fisik termasuk
sumber
daya manusia yang dimiliki perusahaan. Sistem pelayanan
harus dibuat secara sederhana, tidak berbelit-belit dan sesuai standar
yang telah ditetapkan perusahaan. Untuk itu perusahaan harus mampu
mendesain ulang sistem pelayanannya, jika pelayanan yang diberikan
tidak memuaskan konsumen.
2.
Total Quality Service adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan
pelayanan berkualitas kepada orang yang berkepentingan dengan pelayanan
(stakeholders), yaitu konsumen, pegawai dan pemilik. Pelayanan mutu
terpadu ini memiliki lima elemen penting yang saling terkait, yaitu:
Market and customer research
adalah penelitian untuk mengetahui
struktur pasar, segmen pasar, demografis, analisis pasar potensial,
analisis kekuatan pasar, mengetahui harapan, dan keinginan konsumen
atas pelayanan yang diberikan.
Strategy formulation
adalah  petunjuk  arah  dalam  memberikan 
pelayanan berkualitas kepada konsumen sehingga perusahaan dapat
mempertahankan konsumen bahkan dapat meraih konsumen baru.
  
19
Education, training,
and communication
adalah tindakan untuk 
meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu  
memberikan pelayanan berkualitas, mampu memahami keinginan dan
harapan konsumen.
Asessment, measurement, and feedback
adalah penilaian dan 
pengukuran kinerja yang telah dicapai oleh karyawan atas pelayanan
yang telah diberikan kepada konsumen. Penilaian ini menjadi dasar
informasi baik kepada karyawan mengenai proses pelayanan apa,
kapan dan dimana yang perlu diperbaiki.
2.1.3.3 Dimensi Service Quality
Kualitas pelayanan pada prinsipnya adalah manfaat yang diterima oleh
pelanggan harus lebih besar dari harapan-harapannya. Untuk pemberian
kualitas jasa yang dapat memuaskan pelanggan
maka kita perlu mengetahui
dimensi-dimensi
dalam kualitas jasa, menurut Parasuraman, Berry dan
Zeithaml dalam Tjiptono (2004:70) menerangkan lima konsep service quality,
yaitu:
1.
Tangible (Bukti Fisik)
Karena suatu service
tidak dapat dilihat, tidak dapat dicium, dan tidak bisa
diraba, maka aspek tangible
menjadi sangat penting sebagai ukuran
pelayanan. Pada saat yang bersamaan aspek tangible
ini juga merupakan
salah satu sumber yang mempengaruhi harapan konsumen. Karena  tangible
yang  baik,  maka  harapan  konsumen  menjadi  lebih tinggi.
2.
Reliability (Keandalan)
Reliability
yaitu dimensi yang mengukur keandalan dari sisi perusahaan
dalam memberikannya kepada konsumen. Terdapat dua aspek dari dimensi
ini, yaitu:
Kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan seperti yang
dijanjikan
Seberapa jauh suatu perusahaan mampu memberikan pelayanan yang
akurat atau tidak ada error
  
20
3.
Responsiveness (Ketanggapan)
Responsiveness
adalah dimensi kualitas pelayanan yang paling dinamis.
Harapan konsumen terhadap kecepatan pelayanan hampir dapat dipastikan
dapat berubah dengan kecenderungan naik dari waku ke waktu. Pelayanan
yang responsif atau yang tanggap, salah satunya kesigapan dan ketulusan
dalam menjawab pertanyaan atau permintaan konsumen.
4.
Assurance (Jaminan)
Yaitu dimensi kualitas yang berhubungan dengan kemampuan perusahaan
dan perilaku karyawan dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan
kepada para konsumennya.
5.
Emphaty (Empati)
Dimensi empati adalah dimensi yang memberikan peluang besar untuk
memberikan pelayanan yang tidak diharapkan konsumen diberikan oleh
penyedia jasa. Empati meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan
komunikasi yang baik, perhatian pribadi,
dan memahami kebutuhan
konsumen.
2.1.3.4 Usaha Meningkatkan Service Quality
Menurut Parasuraman, Zeithaml, Berry (1985) dalam Yamit (2005:32),
terdapat beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas
pelayanan, yaitu :
1.
Reliability
a.
Pengaturan fasilitas
b.
Sistem dan prosedur yang dilaksanakan taat azas
c.
Meningkatkan efektivitas jadwal kerja
d.
Meningkatkan koordinasi antar bagian
2.
Responsiveness
a.
Mempercepat pelayanan
b.
Pelatihan karyawan
c.
Komputerisasi dokumen
d.
Penyederhanaan sistem dan prosedur
e.
Penyederhanaan birokrasi
f.
Mengurangi pemutusan keputusan
  
21
3.
Competence
a.
Meningkatkan profesionalisme karyawan
b.
Meningkatkan mutu administrasi
4.
Credibility
a.
Meningkatkan sikap dan mental karyawan
b.
Meningkatkan kejujuran karyawan
c.
Menghilangkan kolusi
5.
Tangibles
a.
Perluasan kapasitas
b.
Penataan fasilitas
c.
Meningkatkan infrastruktur
d.
Menambah peralatan
e.
Menyempurnakan fasilitas komunikasi
f.
Perbaikan sarana dan prasarana
6.
Understanding the customer
a.
Sistem dan prosedur pelayanan yang menghargai konsumen
b.
Berfokus pada konsumen
7.
Communication
a.
Memperjelas pihak yang bertanggung jawab dalam setiap kegiatan
b.
Meningkatkan efektivitas komunikasi dengan klien
c.
Membuat SIM yang terintegrasi
2.1.4 Brand
2.1.4.1 Pengertian Brand
Merek merupakan sebuah hubungan (McNally et al., 2004) yakni
hubungan yang melibatkan sejenis kepercayaan. Sebuah merek adalah jumlah
dari suatu entitas, sebuah koneksi psikis yang menciptakan sebuah ikatan
kesetiaan dengan seorang pembeli/calon pembeli serta penawaran, dan hal
tersebut seringkali mencakup lapisan nilai tambah yang dipersepsikan (Post,
2005: 10).
  
22
Menurut Kurtz (2008:378),
brand adalah nama, istilah, tanda, simbol,
desain, atau sejumlah kombinasi yang mengidentifikasikan sebuah perusahaaan
yang membedakannya dari kompetitor. Sedangkan Menurut Keller (Tjiptono,
2005:19), merek adalah produk yang mampu memberikan dimensi tambahan
yang secara unik membedakannya dari produk-produk lain yang dirancang
untuk memuaskan kebutuhan serupa. Perbedaan tersebut bisa bersifat rasional
dan tangible (terkait dengan kinerja produk dari merek bersangkutan) maupun
simbolik, emosional dan intangible (berkenaan dengan representasi merek.
2.1.4.2 Tingkatan Pengertian Brand
Menurut Kotler (2005:82) ada enam tingkatan arti dari sebuah merek, yaitu:
1.
Atribut (attributes): suatu merek mengingatkan atribut-atribut tertentu
2.
Manfaat (benefit): atribut-atribut harus diterjemahkan menjadi manfaat
fungsional dan emosional
3.
Nilai (value): merek juga menyatakaan sesuatu tentang nilai produsen
4.
Budaya (culture): merek dapat mewakili atau melambangkan suatu budaya
tertentu
5.
Personal (personality): sebuah merek dapat mencerminkan kepribadiaan
tertentu
6.
Pemakai (user): merek tersebut menyiratkan jenis konsumen yang membeli
atau menggunakan produk tersebut
2.1.4.3 Peranan dan Kegunaan Brand
Menurut Durianto, et al. (2004:2), peranan dan kegunaan suatu brand
atau merek diantaranya adalah:
1.
Merek mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar
Bisa dilihat bahwa suatu merek yang kuat mampu diterima di seluruh dunia
dan budaya.
2.
Merek mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen
Semakin kuat suatu merek, semakin kuat pula interaksinya dengan
konsumen dan semakin tampak asosiasi merek yang terbentuk dalam merek
  
23
tersebut. Jika asosiasi merek telah terbentuk memiliki kualitas dan kuantitas
yang kuat, potensi ini meningkatkan citra merek (brand image).
3.
Merek sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen
Merek yang kuat akan sanggup merubah perilaku konsumen.
4.
Merek memudahkan proses pengambilan keputusan konsumen
Dengan adanya merek, konsumen dapat dengan mudah membedakan
produk yang akan dibelinya dengan produk lain sehubungan dengan
kualitas, keputusan, kebanggaan ataupun atribut lain yang melekat pada
merek tersebut.
5.
Merek berkembang menjadi sebuah sumber aset terbesar bagi perusahaan
2.1.5 Brand Image
2.1.5.1 Pengertian Brand Image
Citra merek mengacu pada skema memori akan sebuah merek, yang
berisikan interpretasi konsumen atas atribut, kelebihan, penggunaan, situasi,
para pengguna, dan karakteristik pemasar dan/atau karakteristik pembuat dari
produk/merek tersebut. Citra merek adalah apa yang konsumen pikirkan dan
rasakan ketika mendengar atau melihat nama suatu merek. Atau dengan kata
lain, citra merek merupakan bentuk atau gambaran tertentu dari suatu jejak
makna yang tertinggal di benak khalayak konsumen (Wijaya,2011a), yang
kemudian menuntun khalayak konsumen tersebut untuk bersikap terhadap
merek, apakah akan mencoba lalu menyertainya atau sekadar coba-coba lalu
pergi, atau sama sekali tidak ingin mencoba karena citra yang buruk atau tidak
relevan dengan kebutuhan khalayak konsumen.
Brand image
menurut Supranto dan Limakrisna (2007:132) ialah apa
yang customer pikir atau rasakan ketika mereka mendengar atau melihat nama
suatu merek atau pada intinya apa yang customer telah pelajari tentang merek.
Brand image disebut juga memori merek yang skemati, berisi interpretasi pasar
sasaran tentang atribut atau karakteristik produk, manfaat produk, situasi
penggunaan, dan karakteristik pemasar.
  
24
Menurut Tony Sitinjak (2005:172) dalam tulisannya yang berjudul
“Pengaruh Citra Merek dan Sikap Merek Terhadap Ekuitas Merek” dalam
jurnal manajemen merek mengutarakan bahwa citra merek merupakan bentuk
holistik untuk semua asosiasi merek yang berkaitan dengan merek. Brand
image merupakan aspek yang sangat penting dari merek, citra dapat didasarkan
kepada kenyataan atau fiksi tergantung bagaimana nasabah mempersepsikan.
Dan untuk mengukur citra merek dapat dikaitkan dengan dimensi kualitas
pelayanan.
Menurut Tjiptono (2011:112), brand image atau brand description yakni
deskripi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu.
Sejumlah
teknik kuantitatif dan kualitatif telah dikembangkan untuk
membantuk mengungkap presepsi dan asosiasi konsumen terhadap sebuah
merek tertentu, diantaranya multidimensional scaling, projection techniques,
dan sebagainya.
2.1.5.2 Fungsi dan Peran Brand Image
Boush dan Jones (dalam Kahle & Kim, 2006: 6-8) mengemukakan
bahwa citra merek (brand image) memiliki beberapa fungsi, di antaranya:
1.
Pintu masuk pasar (Market Entry)
Berkaitan dengan fungsi market entry, citra merek berperan penting dalam
hal pioneering advantage, brand extension,
dan brand alliance. Produk
pionir dalam sebuah kategori yang memiliki citra merek kuat akan
mendapatkan keuntungan karena biasanya produk follower
kalah pamor
dengan produk pionir, misalnya Aqua. Bagi follower
tentunya akan
membutuhkan biaya tinggi untuk menggeser produk pionir yang memiliki
citra merek kuat tersebut. Di sinilah keuntungan produk pionir (first-
mover/pioneering adavantages) yang memilki citra merek kuat
dibandingkan produk pionir yang memiliki citra lemah atau produk
komoditi tanpa merek.
2.
Sumber nilai tambah produk (Source of Added Product Value)
Fungsi berikutnya dari citra merek adalah sebagai sumber nilai tambah
produk (source of added product value). Para pemasar mengakui bahwa
  
25
citra merek tidak hanya merangkum pengalaman konsumen dengan produk
dari merek tersebut, tapi benar-benar dapat mengubah pengalaman itu.
Sebagai contoh, konsumen terbukti merasa bahwa makanan atau minuman
dari merek favorit mereka memiliki rasa yang lebih baik dari kompetitor
jika diuji secara unblinded dibandingkan jika diuji secara blinded taste tests
(Allison & Uhl, 1964). Dengan demikian citra merek memiliki peran yang
jauh lebih kuat dalam menambah nilai produk dengan mengubah
pengalaman produk (Aaker & Stayman, 1992; Puto & Wells, 1984).
3.
Penyimpan nilai perusahaan (Corporate Store of Value)
Nama merek merupakan penyimpan nilai dari hasil investasi biaya iklan dan
peningkatan kualitas produk yang terakumulasikan. Perusahaan dapat
menggunakan penyimpan nilai ini untuk mengkonversi ide pemasaran
strategis menjadi keuntungan kompetitif jangka panjang. Misalnya, merek
Hallmark diuntungkan dari keputusan yang dibuat selama 1950 untuk
mensponsori beberapa program televisi berkualitas tinggi secara khusus
setiap tahun.
4.
Kekuatan dalam penyaluran produk (Channel Power)
Sementara itu, nama merek dengan citra yang kuat berfungsi baik sebagai
indikator maupun kekuatan dalam saluran
distribusi (channel power). Ini
berarti merek tidak hanya berperan penting secara horizontal
dalam
menghadapi pesaing mereka, tetapi juga secara vertikal dalam memperoleh
saluran distribusi dan memiliki kontrol ,dan daya tawar terhadap persyaratan
yang dibuat distributor (Aaker, 1991; Porter, 1974). Sebagai contoh, strategi
merek ekstensi Coca Cola bisa dibilang menyelesaikan tiga fungsi
sekaligus. Perpanjangan izin masuk pasar dengan biaya lebih rendah,
menghambat persaingan dengan menguasai shelf space, dan juga dapat
memberikan daya tawar dalam hal negosiasi perdagangan, karena Coca
Cola dianggap memiliki kekuatan dalam meningkatkan penjualan.
  
26
2.1.5.3 Manfaat Brand Image
Manfaat merek bagi produsen menurut Keller dalam Tjiptono (2005:20-
21), dikatakan bahwa merek berperan sebagai :
1.
Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan
produk bagi perusahaan, terutama dalam pengorganisasian persediaan dan
pencatatan akuntansi.
2.
Bentuk proteksi hukum terhadap fitur yang unik. Merek bisa mendapatkan
perlindungan property
intelektual. Nama merek bisa diproteksi melalui
merek dagang terdaftar (registered trademarks), proses pemanufakturan
bisa dilindungi melalui hak paten, dan kemasan bisa diproteksi melalu hak
cipta (copyrights) dan desain. Hak-hak property
intelektual ini memberikan
jaminan bahwa perusahaan dapat berinvestasi dengan aman dalam merek
yang dikembangkannya dan meraup manfaat dari aset bernilai tersebut.
3.
Signal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka bisa
dengan mudah memilih dan membelinya lagi dilain waktu. Loyalitas merek
seperti ini menghasilkan predictability
dan security
permintaan bagi
perusahaan dan menciptakan hambatan masuk yang menyulitkan bagi
perusahaan lain untuk masuk pasar.
4.
Sarana menciptakan
asosiasi dan makna unik yang membedakan produk
dari para pesaing.
5.
Sumber keunggulan kompetitif, terutama melalui perlindungan hukum,
loyalitas pelanggan, dan citra unik yang terbentuk di
dalam benak
konsumen.
6.
Sumber financial returns, terutama menyangkut pendapatan masa datang.
2.1.5.4 Faktor Pembentuk Brand Image
Menurut Arnoul, et al. (2005:120-122) faktor yang membentuk citra
merek adalah:
1.
Faktor lingkungan
Faktor ini dapat memengaruhi di antaranya adalah atribut-atribut teknis
yang ada pada suatu produk di mana faktor ini dapat dikontrol oleh
produsen. Di samping itu, sosial budaya juga termasuk dalam faktor ini.
  
27
2.
Faktor personal
Faktor personal adalah kesiapan mental konsumen untuk melakukan proses
persepsi, pengalaman konsumen sendiri, mood, kebutuhan serta motivasi
konsumen. Citra merupakan produk akhir dari sikap awal dan pengetahuan
yang terbentuk lewat proses pengulangan yang dinamis karena pengalaman.
2.1.5.5 Dimensi Brand Image
Menurut Bambang Sukma Wijaya (2011) menyimpulkan bahwa dimensi-
dimensi
utama yang mempengaruhi dan membentuk citra sebuah merek
tertuang dalam gambar.
Gambar 2.3 Dimensi Brand Image
Sumber: Bambang Sukma Agung (2011)
1.
Brand Identity
Dimensi pertama adalah brand identity atau identitas merek. Brand identity
merupakan identitas fisik yang berkaitan dengan merek atau produk tersebut
  
28
sehingga konsumen mudah mengenali dan membedakannya dengan merek
atau produk lain, seperti logo, warna, kemasan, lokasi, identitas perusahaan
yang memayunginya, slogan, dan lain-lain.
2.
Brand Personality
Dimensi kedua adalah brand personality atau personalitas merek. Brand
personality adalah karakter khas sebuah merek yang membentuk
kepribadian tertentu sebagaimana layaknya manusia, sehingga khalayak
konsumen dengan mudah membedakannya dengan merek lain dalam
kategori yang sama, misalnya karakter tegas, kaku, berwibawa, ningrat, atau
murah senyum, hangat, penyayang, berjiwa sosial, atau dinamis, kreatif,
independen, dan sebagainya.
3.
Brand Association
Dimensi ketiga adalah brand association atau asosiasi merek. Brand
association adalah hal-hal spesifik yang pantas atau selalu dikaitkan dengan
suatu merek, bisa muncul dari penawaran unik suatu produk, aktivitas yang
berulang dan konsisten misalnya dalam hal sponsorship atau kegiatan social
responsibility,
isu-isu yang sangat kuat berkaitan dengan merek tersebut,
ataupun person, simbol-simbol dan makna tertentu yang sangat kuat
melekat pada suatu merek, misalnya “ingat beras ingat cosmos”, art
+
technology = apple, bola =
Djarum, koboi = Marlboro, kulit putih = Ponds,
Surya Paloh
=
MetroTV, Korupsi
=
Partai Demokrat, Konflik
=
PSSI,
Gramedia = Buku, Lifebuoy = Kebersihan, anak muda rebel = A Mild, dan
sebagainya.
4.
Brand Attitude & Behavior
Dimensi keempat adalah brand attitude atau sikap dan perilaku merek.
Brand attitude and behavior adalah sikap atau perilaku komunikasi dan
interaksi merek dengan konsumen dalam menawarkan benefit-benefit dan
nilai yang dimilikinya. Kerap sebuah merek menggunakan cara-cara yang
kurang pantas dan melanggar etika dalam berkomunikasi, pelayanan yang
buruk sehingga mempengaruhi pandangan publik terhadap sikap dan
perilaku merek tersebut, atau sebaliknya, sikap dan perilaku simpatik, jujur,
konsisten antara janji dan realitas, pelayanan yang baik dan kepedulian
terhadap lingkungan dan masyarakat luas membentuk persepsi yang baik
pula terhadap sikap dan perilaku merek tersebut. Jadi brand attitude and
  
29
behavior
mencakup sikap dan perilaku komunikasi, aktivitas dan atribut
yang melekat pada merek saat berhubungan dengan khalayak konsumen,
termasuk perilaku karyawan dan pemilik merek.
5.
Brand Benefit & Competence
Dimensi kelima adalah brand benefit and competence
atau manfaat dan
keunggulan merek. Brand benefit and competence merupakan nilai-nilai dan
keunggulan khas yang ditawarkan oleh suatu merek kepada konsumen yang
membuat konsumen dapat merasakan manfaat karena kebutuhan, keinginan,
mimpi dan obsesinya terwujudkan oleh apa yang ditawarkan tersebut. Nilai
dan benefit
di sini dapat bersifat functional, emotional, symbolic
maupun
social,
misalnya merek produk deterjen dengan benefit
membersihkan
pakaian (functional benefit/values), menjadikan pemakai pakaian yang
dibersihkan jadi percaya diri (emotional benefit/values), menjadi simbol
gaya hidup masyarakat modern
yang bersih (symbolic benefit/values), dan
memberi inspirasi bagi lingkungan untuk peduli pada kebersihan diri,
lingkungan dan hati nurani (social benefit/values). Manfaat, keunggulan dan
kompetensi khas suatu merek akan memengaruhi brand image produk,
individu atau lembaga/perusahaan tersebut.
2.1.6 Customer Loyaly
2.1.6.1 Pengertian Customer Loyalty
Loyalitas atau kesetiaan didefinisikan sebagai
komitmen yang dipegang
kuat untuk membeli atau berlangganan lagi produk atau jasa tertentu di masa
depan meskipun ada pengaruh situasi dan usaha pemasaran yang berpotensi
menyebabkan perubahan perilaku (Kotler dan Keller, 2007:175).
Griffin (2005:5) berpendapat bahwa seorang konsumen dikatakan setia
atau loyal
apabila konsumen tersebut menunjukkan perilaku pembelian secara
teratur atau terdapat suatu kondisi dimana mewajibkan konsumen membeli
paling sedikit dua kali dalam selang waktu tertentu. Upaya memberi kepuasan
konsumen dilakukan untuk mempengaruhi sikap konsumen, sedangkan konsep
  
30
loyalitas konsumen lebih berkaitan dengan
perilaku daripada sikap dari
konsumen.
Menurut Kotler (2005:178) mengatakan “ The long term success of the a
particular brand is not based on the number of consumer who purchase it only
once, but on the number who become repeat purchase “. Dalam hal ini dapat
disimpulkan bahwa konsumen yang loyal tidak diukur dari berapa banyak dia
membeli, tapi dari seberapa sering dia melakukan pembelian ulang, termasuk
di sini merekomendasikan orang lain untuk membeli.
Berdasarkan kutipan dari Sheth & Mittal (2004) dalam Tjiptono
(2007:387),
loyalitas konsumen adalah komitmen konsumen terhadap suatu
merek, toko atau pemasok berdasarkan sifat yang sangat positif dan tercermin
dalam pembelian ulang yang konsisten. Dua kondisi penting yang berhubungan
dengan loyalitas adalah retensi konsumen (customer retention) dan total pangsa
konsumen (total share of customer).
Menurut Gremler dan Brown (1997) dalam Hasan (2009:83) bahwa
loyalitas konsumen adalah konsumen yang tidak hanya membeli ulang barang
dan jasa, tetapi juga mempunyai komitmen dan sikap yang positif terhadap
perusahaan jasa, misalnya dengan merekomendasikan orang lain untuk
membeli. Definisi ini menempatkan loyalitas sebagai sebuah komitmen sikap
menghasilkan empat kemungkinan loyalitas yaitu loyal, loyalitas palsu atau
pura-pura, loyal yang tersembunyi, dan tidak loyal.
2.1.6.2 Tahap Perkembangan Customer Loyalty
Menurut Hasan (2008:86), loyalitas berkembang melalui empat tahap, yaitu :
1.
Kognitif,
2.
Afektif,
3.
Konatif, dan
4.
Tindakan.
Tinjauan ini memperkirakan bahwa konsumen menjadi loyal lebih dulu
pada aspek kognitifnya, berturut kemudian pada aspek afektif, konatif dan
akhirnya pada tindakan.
  
31
1.
Tahap pertama : Loyalitas Kognitif
Konsumen yang mempunyai loyalitas tahap pertama ini menggunakan basis
informasi yang memaksa menunjuk pada satu merek atas merek lainnya,
loyalitasnya hanya didasarkan pada aspek kognisi saja. Contoh, sebuah
swalayan secara konsisten selalu menawarkan harga yang lebih rendah dari
pesaing yang ada. Informasi ini cukup memaksa konsumen selalu berbelanja
di swalayan tersebut.
2.
Tahap kedua : Loyalitas Afektif
Loyalitas tahap kedua didasarkan pada aspek afektif konsumen. Sikap
merupakan fungsi dari kognisi pengharapan pada periode awal pembelian
(masa prakonsumsi) dan merupakan fungsi dari sikap sebelumnya ditambah
kepuasan di periode berikutnya (masa pascakonsumsi).
3.
Tahap ketiga : Loyalitas Konatif
Dimensi konatif (niat melakukan) dipengaruhi oleh perubahan-perubahan
afektif terhadap merek. Konasi menunjukan suatu niat untuk melakukan
sesuatu kearah tujuan tertentu. Loyalitas konatif merupakan suatu kondisi
loyal
yang mencakup komitmen mendalam untuk melakukan pembelian.
Jenis komitmen ini sudah melampaui afektif, bagian dari motivasi untuk
mendapatkan merek yang disukai. Afektif hanya menunjukan
kecenderungan motivasi, sedangkan komitmen menunjukan melakukan
suatu keinginan untuk menjalankan tindakan. Keinginan untuk membeli
kembali atau menjadi loyal itu hanya merupakan tindakan yang terantisipasi
tetapi belum terlaksana.
4.
Tahap keempat : Loyalitas Tindakan
Meskipun pembelian ulang adalah suatu tindakan yang sangat penting bagi
pemasar, penginterprestasian loyalitas hanya pada pembelian ulang saja
tidak cukup, karena konsumen yang membeli ulang belum tentu
memmpunyai sikap positif terhadap barang atau jasa yang dibeli. Pembelian
ulang dilakukan bukan karena puas, melainkan mungkin karena terpaksa
atau faktor lainnya. Oleh karena itu untuk mengenali perilaku loyal dilihat
dari dimensi ini, yaitu dari komitmen pembelian ulang yang ditujukan pada
suatu produk dalam kurun waktu tertentu secara teratur.
  
32
2.1.6.3 Keuntungan Customer Loyalty
Griffin (2005:223) mengemukakan keuntungan-keuntungan yang akan
diperoleh  perusahaan  apabila  memiliki  konsumen  yang loyal antara lain:
1.
Mengurangi biaya pemasaran (karena biaya untuk menarik konsumen baru
lebih mahal)
2.
Mengurangi biaya transaksi (seperti biaya negosiasi kontrak, pemrosesan
pesanan dan lain-lain)
3.
Mengurangi biaya turn over konsumen (karena pergantian konsumen lebih
sedikit)
4.
Meningkatkan  penjualan  silang  yang  akan  memperbesar  pangsa  pasar
perusahaan
5.
Word of mouth
yang lebih positif, dengan asumsi bahwa konsumen yang
loyal juga berarti mereka yang merasa puas
6.
Mengurangi biaya kegagalan (seperti biaya penggantian, dll)
2.1.6.4 Pengukuran Customer Loyalty
Menurut Ahmad Mardalis (2005: 34) loyalitas dapat diukur berdasarkan:
1.
Urutan pilihan (choice sequence)
Metode urutan pilihan atau disebut juga pola pembelian ulang ini banyak
dipakai dalam penelitian dengan menggunakan panel-panel agenda harian
konsumen lainnya, dan lebih terkini lagi, data scanner supermarket.
2.
Proporsi pembelian (proportion of purchase)
Berbeda dengan runtutan pilihan, cara ini menguji proporsi pembelian total
dalam sebuah kelompok produk tertentu. Data yang dianalisis berasal dari
panel konsumen.
3.
Preferensi (preference)
Cara ini mengukur loyalitas dengan menggunakan komitmen psikologis
atau pernyataan preferensi. Dalam hal ini, loyalitas dianggap sebagai “sikap
yang positif” terhadap suatu produk tertentu, sering digambarkan dalam
istilah niat untuk membeli.
4.
Komitmen (commitment)
Komitmen lebih terfokus pada komponen emosional atau perasaan.
Komitmen terjadi dari keterkaitan pembelian yang merupakan akibat dari
  
33
keterlibatan ego dengan kategori merek. Keterlibatan ego tersebut terjadi
ketika sebuah produk sangat berkaitan dengan nilai-nilai penting, keperluan,
dan konsep diri konsumen.
2.1.6.5 Dimensi Customer Loyalty
Berbeda dari kepuasan, loyalitas dapat didefinisikan berdasarkan perilaku
membeli. Menurut Griffin (2005:31) konsumen yang loyal merupakan orang
yang:
1.
Melakukan pembelian ulang secara teratur
2.
Membeli antarlini produk dan jasa
3.
Mereferensikan kepada orang lain
4.
Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing.
Indikator dari loyalitas konsumen menurut Kotler & Keller ( 2006:57 ) adalah :
1.
Repeat Purchase (kesetiaan dalam pembelian produk)
2.
Retention (ketahanan terhadap pengaruh negatif mengenai perusahaan)
3.
Referrals (mereferensikan secara total eksistensi perusahaan)
2.1.6.6 Meningkatkan Customer Loyalty
Menurut Grifin (2005:22), dalam buku “Customer Loyalty”, ada empat
cara agar konsumen tidak meninggalkan perisahaan, yaitu:
1.
Mempermudah konsumen untuk memberi umpan balik kepada perusahaan.
Salah satu kegiatan yang paling menguntungkan bagi perusahaan adalah
mencari keluhan konsumen, memudahkan konsumen untuk memberikan
umpan balik dengan cara bertanya kepada konsumen secara teratur
mengenai pembelian terakhir mereka seperti: apakah pembelian itu
memenuhi kebutuhan mereka, apakah itu yang mereka harapkan serta
bagaimana cara meningkatkannya.
2.
Bila konsumen membutuhkan bantuan, berikanlah dengan segera.
Setelah perusahaan memperoleh umpan balik dari konsumen, perusahaan
harus bertindak dengan cepat. Bila konsumen menghubungi untuk
  
34
menyampaikan keluhan, perusahaan harus memberi respon dengan segera,
sebaiknya dengan menegaskan maksud perusahaan untuk menyelesaikan
masalah secepat mungkin.
3.
Mengurangi kejengkelan atas reparasi, pembayaran kembali dan pemberian
jaminan reparasi, pembayaran kembali, dan pemberian jaminan sering
menjadi sumber kekecewaan para konsumen.
4.
Mempelajari cara menghibur konsumen yang marah.
Dengan sistem umpan balik dan keluhan konsumen yang meningkat
mutunya, terjadi interaksi dengan konsumen. Bila perusahaan berhadapan
dengan  konsumen  yang  marah,  perlakukan  konsumen  tersebut  dengan
penuh perhatian.
2.1.6.7 Tahap Pertumbuhan Loyalitas
Menurut Grifin (2002:35) menyatakan bahwa tingkat loyalitas terdiri dari:
1.
Suspect
Meliputi orang yang mungkin akan membeli barang atau jasa perusahaan.
2.
Prosect
Orang-orang yang memiliki kebutuhan akan produk atau jasa tertentu, dan
mempunyai keyakinan untuk membelinya.
3.
Disqulified Prospect
Prospek yang telah mengetahui keberadaan barang atau jasa tertentu, tetapi
tidak mempunyai kemampuan untuk membeli barang atau jasa tersebut.
4.
First Time Customers
Konsumen yang membeli untuk pertama kalinya, mereka masih menjadi
konsumen baru.
5.
Repeat Customers
Konsumen yang telah melakukan pembelian suatu produk sebanyak dua kali
atau lebih.
6.
Clients
Pembeli  semua  barang  atau  jasa  yang  mereka  butuhkan  dan  tawarkan
perusahaan, mereka membeli secara teratur.
  
35
7.
Advocates
Layaknya clients, advocates
membeli seluruh barang atau jasa yang
ditawarkan yang ia butuhkan, serta melakukan pembelian secara teratur
sebagai tambahan mereka mendorong teman-teman mereka yang lain agar
membeli barang atau jasa tersebut.
2.1.6.8 Jenis-jenis Loyalitas
Menurut Griffin (2005:22), menyatakan bahwa jenis loyalitas dapat dibagi
menjadi:
1.
Tanpa loyalitas
Beberapa konsumen tidak mengembangkan loyalitas terhadap produk atau
jasa tertentu. Tanpa loyalitas ditandai dengan keterikatannya yang rendah
dikombinasikan dengan tingkat pembelian yang rendah pula. Secara umum,
perusahaan harus menghindari membidik para pembeli jenis ini karena
mereka tidak akan menjadi konsumen yang loyal.
2.
Loyalitas yang lemah
Ditandai dengan keterikatan yang rendah digabung dengan pembelian
berulang yang tinggi menghasilkan loyalitas yang lemah. Konsumen ini
membeli karena kebiasaan. Dengan
kata lain, faktor nonsikap dan faktor
situasi merupakan alasan utama membeli. Loyalitas jenis ini paling umum
terjadi pada produk yang sering dibeli.
3.
Loyalitas tersembunyi
Tingkat keterikatan yang relatif tinggi digabung dengan tingkat pembelian
berulang yang rendah menunjukkan loyalitas tersembunyi. Bila konsumen
memiliki loyalitas tersembunyi, pengaruh situasi dan bukan pengaruh sikap
yang menentukan pembelian berulang.
4.
Loyalitas premium
Loyalitas premium, jenis loyalitas yang paling dapat ditingkatkan, terjadi
bila ada keterikatan yang tinggi dan tingkat pembelian ulang yang juga
tinggi. Ini merupakan jenis loyalitas yang lebih disukai untuk semua
konsumen di setiap perusahaan.
  
36
2.1.7 Hubungan Antar Variabel
Hubungan yang ada antara variabel yang diteliti dapat dijabarkan sebagai berikut
2.1.7.1 Hubungan Service Quality Dengan Brand Image
Hubungan antara service quality
dan brand image
tidak berpengaruh
terhadap perusahaan. Menurut Malik, et al. (2011) hanya empathy,
responsiveness, dan reliability yang memiliki pengaruh terhadap pembangunan
brand image, sedangkan assurance dan tangibles
tidak memberikan kontribusi
apa-apa yang signifikan dalam memelihara brand image. Jadi
dalam
membangun konsepsi brand image
dan memperkuat kesadaran merek. Yang
harus dilakukan adalah memperhatikan faktor yang dapat diandalkan dan
membangun hubungan konsumen, meningkatkan prestasi karyawan,
menciptakan keunggulan inti,
meningkatkan faktor respon, dan meningkatkan
efisiensi kerja untuk faktor empati dan menambahkan nilai tambah dan
memperluas brand awareness.
Dan menurut Momeni, et al. (2013) pada jurnalnya “Factors Influencing
Brand Image in Banking Industry of Iran” menyatakan bahwa service quality
yang diterapkannya di industri perbankan tidak memiliki hubungan dengan
brand image
dan mengharapkan adanya penelitian lebih lanjut untuk
mengetahui hubungan antara service quality dan brand image di industri yang
lain karena dalam penerapan service quality
di industri perbankan tidak
memiliki pengaruh.
2.1.7.2 Hubungan Brand Image Dengan Customer Loyalty
Menurut Juthamard Sirapracha dan Gerard Tocquer (2012) penelitian ini
memperluas penelitian jasa kini dengan mengeksplorasi hubungan antara
pengalaman konsumen, citra merek, dan loyalitas konsumen. Dengan kata lain,
penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi konsumen dari interaksi mereka
dengan perusahaan jasa dipengaruhi oleh pengalaman layanan disampaikan.
Penelitian ini memiliki beberapa implikasi manajerial juga. Para pemasar dari
penyedia layanan dapat menggunakan hasil penelitian untuk meningkatkan
  
37
ekuitas merek mereka melalui pengiriman pengalaman
konsumen yang
menarik dalam banyak aspek.
Dengan berfokus pada pengalaman konsumen, merek layanan memiliki
pandangan holistik apa yang mereka berikan untuk konsumen. Oleh karena itu,
semua fungsi manajerial dan departemen harus selaras untuk memberikan
pengalaman konsumen yang menarik secara keseluruhan melalui interaksi
dengan konsumen. Dan dampak dari kedua pengalaman konsumen dan
komunikasi pemasaran pada hubungan pengetahuan merek dan merek.
Perbandingan ini akan membantu menunjukkan bahwa merek layanan
membutuhkan benar-benar pendekatan yang berbeda
2.1.7.3 Hubungan Service Quality Dengan Customer Loyalty
Menurut Kheng, et al (2010) Meskipun layanan konsumen telah
dievaluasi lama, tetapi masih satu studi yang bank
harus terus melakukan
dalam rangka memenuhi. Teknologi baru harus dimasukkan sebagai faktor
untuk mengukur service quality
dalam penelitian selanjutnya. Penelitian dan
kuesioner terkait juga harus diakomodasi dengan persyaratan konsumen baru.
Sebuah pemahaman yang lebih jelas untuk urutan hubungan antara service
quality
dan customer loyalty, dapat membantu untuk memastikan target yang
lebih baik dari konsumen yang menggunakan sumber daya pemasaran yang
terbatas.
Sedangkan menurut Al-Rousan, et al. (2010) Dalam penelitian ini, skala
untuk mengukur service quality diusulkan melalui faktor analisis eksploratori
dimana memiliki pengetahuan tentang faktor tersebut pasti akan membantu 
manajer memenuhi tantangan untuk meningkatkan service quality. Penelitian
ini juga mengidentifikasi lima dimensi kualitas pelayanan pariwisata, yaitu
tangibility, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy, yang semuanya
menunjukkan bahwa faktor yang paling penting dalam memprediksi jasa
adalah tangibility, diikuti oleh empathy, reliability, dan
responsiveness.
Sedangkan pemantauan
customer loyalty
menjadi fokus penting untuk semua
manajer. Kegagalan untuk mengenali kekuatan kepuasan konsumen, khususnya
emosi mereka, bisa menghancurkan kekuatan retensi dan loyalitas konsumen.
  
38
Oleh karena itu, tantangan terbesar tidak hanya terletak untuk menarik
konsumen namun secara khusus berfokus dengan mengidentifikasi
kepuasan
konsumen secara individual.
2.2 Kerangka Pemikiran
Dari teori dan hubungan yang telah dijabarkan di atas, maka penulias ingin
menarik kesimpulan terhadap hubungan masing-masing variabel tersebut dalam
sebuah kerangka pemikiran seperti di bawah ini:
Gambar 2.4 Kerangka Pemikiran
Sumber: Penulis, 2013
2.3 Hipotesis
Berdasarkan permasalahan
yang ada di bab1 dan kerangka masalah di atas,
maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
1.
Apakah service quality
berpengaruh terhadap brand image diantara Ipot Suki
cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot Suki cabang Danau Sunter?
Hipotesis pengujian secara simultan antara X dan Y 
Ho: Variabel service quality tidak berkontribusi terhadap variabel brand
image
diantara Ipot Suki cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot Suki
cabang Danau Sunter.
Service Quality (X):
1.
Tangible
2.
Reliability
3.
Responsiveness
4.
Assurance
5.
Empathy
Brand Image (Y):
1.
Brand Identity
2.
Brand Personality
3.
Brand Association
4.
Brand Attitude &
Behavior
5.
Brand Benefit &
Competence
Customer Loyalty
(Z):
1.
Repeated Purchase
2.
Retention
3.
Referalls
  
39
Ha: Variabel service quality berkontribusi terhadap variabel brand image
diantara Ipot Suki cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot Suki cabang
Danau Sunter.
2.
Apakah brand image berpengaruh terhadap customer loyalty diantara Ipot Suki
cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot Suki cabang Danau Sunter?
Hipotesis pengujian antara Y dan Z
Ho: Variabel customer satisfaction tidak berpengaruh terhadap customer
loyalty
diantara Ipot Suki cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot Suki
cabang Danau Sunter.
Ha : Variabel customer satisfaction berpengaruh terhadap customer
loyalty diantara Ipot Suki cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot Suki
cabang Danau Sunter.
3.
Apakah service quality
berpengaruh terhadap customer loyalty diantara Ipot
Suki cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot Suki cabang Danau Sunter?
Hipotesis pengujian secara individual antara X dan Z
Ho: Variabel
service quality
tidak berkontribusi terhadap variabel
customer satisfaction diantara Ipot Suki cabang Pantai Indah Kapuk dan
Ipot Suki cabang Danau Sunter.
Ha: Variabel service quality
berkontribusi terhadap variabel customer
satisfaction diantara Ipot Suki cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot Suki
cabang Danau Sunter.
4.
Apakah service quality
dan brand image
berpengaruh terhadap customer
loyalty
diantara Ipot Suki cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot Suki cabang
Danau Sunter?
Hipotesis pengujian antara X, Y dan Z
Ho: Variabel service quality dan brand image
tidak berpengaruh
terhadap customer loyalty diantara Ipot Suki cabang Pantai Indah Kapuk
dan Ipot Suki cabang Danau Sunter.
Ha : Variabel service quality
dan brand image
berpengaruh terhadap
customer loyalty diantara Ipot Suki cabang Pantai Indah Kapuk dan Ipot
Suki cabang Danau Sunter.