|
6
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1. Strategi
Menurut (Rangkuti, 2009:3), strategi adalah alat untuk mencapai tujuan.
Tujuan utamanya adalah agar perusahaan dapat melihat secara obyektif kondisi-
kondisi internal dan eksternal, sehingga perusahaan dapat mengantisipasi perubahan
lingkungan eksternal. Dalam hal ini dapat dibedakan secara jelas fungsi manajemen,
konsumen, distributor, dan pesaing. Jadi, perencanaan strategis penting untuk
memperoleh keunggulan bersaing dan memiliki produk yang sesuai dengan
keinginan konsumen dengan dukungan yang optimal dari sumber daya yang ada.
Untuk memahami konsep perencanaan strategis, kita perlu memahami pengertian
konsep mengenai strategi. Menurut Mintzberg (2007), konsep strategi itu sekurang-
kurangnya mencakup lima arti yang saling terkait, dimana strategi adalah suatu:
1.
Perencanaan untuk semakin memperjelas arah yang ditempuh organisasi
secara rasional dalam mewujudkan tujuan-tujuan jangka panjangnya.
2.
Acuan yang berkenaan dengan penilaian konsistensi ataupun inkonsistensi
perilaku serta tindakan yang dilakukan oleh organisasi.
3.
Sudut yang diposisikan oleh organisasi saat memunculkan aktivitasnya.
4.
Suatu perspektif yang menyangkut visi yang terintegrasi antara organisasi
dengan lingkungannya yang menjadi batas bagi aktivitasnya
5.
Rincian langkah taktis organisasi yang berisi informasi untuk mengelabui
para pesaing.
Menurut David (2006:16-17) dalam buku Manajemen Strategis-Konsep edisi
10, strategi adalah alat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Strategi bisnis dapat
mencakup ekspansi geografis, diversivikasi, akuisisi, pengembangan produk,
penetrasi pasar, pengurangan bisnis, divestasi, likuidasi dan joint venture. Strategi
juga merupakan tindakan potensial yang membutuhkan keputusan manajemen
tingkat atas dan sumber daya perusahaan dalam jumlah yang besar. Selain itu,
strategi mempengaruhi kemakmuran perusahaan dalam jangka panjang, khusus untuk
lima tahun, dan berorientasi ke masa depan. Strategi memiliki konsekuensi yang
multifungsi dan multidimensi serta perlu mempertimbangkan faktor-faktor eksternal
dan internal yang dihadapi perusahaan.
|
|
7
Menurut John A. Pearce II dan Richard B. Robinson (2008, p2), strategi adalah
rencana berskala besar, dengan orientasi masa depan, guna berinteraksi dengan
kondisi persaingan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Jadi dari kesimpulan diatas bahwa strategi adalah suatu rancangan dari proses
perencanaan yang dilakukan oleh seseorag atau suatu organisasi atau perusahaan
untuk mencapai suatu tujuan jangka panjang yang diinginkan dengan
mempertimbang dari faktor internal dan eksternal sehingga dapat menjadi Pengertian
Manajemen Strategi.
2.2. Strategi Bisnis
Menurut
Lynch
seperti
yang
dikutip
oleh
Wibisono
(2006:50-51),
strategi
perusahaan merupakan pola atau rencana yang mengintegrasikan tujuan utama atau
kebijakan perusahaan dengan rangkaian tindakan dalam sebuah pernyataan yang
saling mengikat. Strategi perusahaan biasanya berkaitan dengan prinsip-prinsip
secara umum untuk mencapai misi yang dicanangkan perusahaan, serta
bagaimana
perusahaan memilih jalur yang spesifik untuk mencapai misi tersebut.
Menurut Hariadi Bambang (2005:34) strategi bisnis dapat merupakan rencana
strategi terjadi pada tingkat divisi dan dimaksudkan bagaimana membangun dan
memperkuat posisi bersaing produk dan jasa perusahaan pada industri atau pasar
tertentu yang di
layani oleh divisi tertentu. Sehingga strategi bisnis harus memiliki
kebijakan dan pedoman yang menetapkan bagaimana sebuah perusahaan bersaing
dalam sebuah industri, khususnya basis yang menjadi landasan dimana perusahaan
berusaha untuk membangun suatu keuntungan bersaing.
Amin Widjaja (2004:37)
menjelaskan bahawa strategi bisnis merupakan
strategi yang harus dijadikan landasan berfikir utama dalam pembuatan strategi
teknologi informasi
karena dalam strategi tersebut disebutkan visi dan misi
perusahaan beserta target kinerja masing-masing fungsi dan struktur organisasi.
Dalam strategi bisnis ditegaskan peranan teknologi informasi yang sesuai dengan
strategi perusahaan, sehingga filosofi yang digunakan dalam pengembangan strategi
teknologi informasi harus sesuai dengan bisnis tersebut.
2.3. Strategi Bisnis dalam Praktik
Menurut David
(2009:248), strategi alternatif yang dapat dijalankan
perusahaan dapat dikelompokan
menjadi 11 tindakan. Banyak organisasi
|
![]() 8
menjalankan dua strategi atau lebih secara bersama, namun strategi kombinasi dapat
sangat beresiko jika dijalankan terlalu jauh. Sehingga harus ditetapkan strategi yang
menjadi prioritas utama dijalankan. Strategi alternatif yang dapat dijalankan
perusahaan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Tabel Strategi Korporasi
Strategi
Definisi
integrasi ke depan
memiliki atau meningkatkan kendali
atas distributor atau pengecer
integrasi ke belakang
mencoba memiliki atau meningkatkan
kendali atas pemasok
integrasi horizontal
mencoba memiliki atau meningkatkan
kendali atas para pesaing
penetrasi pasar
mencari pangsa pasar yang lebih besar
untuk barang dan jasa yang sudah ada
sekarang melalui usaha pemasaran
yang lebih gencar
pengembangan pasar
memperkenalkan produk atau jasa yang
sudah ada ke wilayah geografis baru
pengembangan produk
mencoba meningkatkan penjualan
dengan memperbaiki produk atau jasa
yang sudah ada atau mengembangkan
yang baru
diversifikasi konsentrik
menambah produk atau jasa baru, tetapi
masih terikat dalam industri yang sama
diversifikasi konglomerat
menambah produk atau jasa baru, yang
tidak terkait dengan industri yang
sudah dijalankan untuk pelanggan baru
Penciutan
mengurangi biaya dan aset agar bisa
meningkatkan
penjualan dan
keuntungan
Divestasi
menjual suatu divisi atau bagian dari
suatu organisasi
|
![]() 9
Likuidasi
menjual semua aset sebuah perusahaan
seacara bertahap sesuai dengan nilainya
yang terlihat
Selanjutnya menurut David, Fred (2009:248-273), strategi-strategi tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut.
1.
Integrasi ke depan
Intgrasi ke depan
(forward integration) berkaitan dengan usaha untuk
memeperoleh kepemilikan atau kendali yang lebih besar atas distributor atau
pertiel. Semakin banyak produsen (pemasok) dewasa ini yang menjalankan
strategi integrasi ke depan dengan cara membangun situs Web untuk secara
langsung menjual produk mereka kepada konsumen. Strategi ini
menimbulkan kegemparan di beberapa industri.
Satu cara yang efektif untuk menerapkan integrasi ke depan adalah
pewaralabaan
(franchising). Bisnis memanfaatkan pewaralabaan untuk
mendistribusikan produk atau jasa mereka. Bisnis dapat melakukan ekpensi
secaracepat melalui pewaralabaan karena biaya dan peluang yang muncul.
Disebar dikalangan banyak individu. Penjualan total melalui waralaba di
Amerika Serikat (AS) saja mencapai sekitar 1$ triliun setiap tahunnya.
Namun demikian, tren yang sedang berkembang adalah bahwa para pembeli
waralaba/terwaralaba (franchise), yang misalnya mengoperasikan 10 restoran
waralaba, toko, atau apa pun, membeli sebagian bisnis mereka dari pemilik
waralaba/peawaralaba (franchiser) atau pemilik perusahaan mereka. Terdapat
perbedaan yang semakin besar antara terwaralaba dengan pewaralaba sebab
segmen ini tak jarang mengalahkan induk persusahaannya.
Enam pedoman tentang kapan integrasi ke depan dapat menjadi sebuah
strategi yang sangat efektif:
Ketika distributor organisasi saat ini menjadi sangat mahal, atau tidak
dapat diandalkan, atau tidak mampu memenuhi kebutuhan distribusi
perusahaan.
Ketika ketersediaan distributor yang berkualitas begitu terbatas untuk
menawarkan keunggulan kompetitif bagi perusahaan-perusahaan yang
melakukan integrasi kedepan
|
|
10
Ketika sebuah organisasi berkompetisi di industri yang tengah tumbuh
dan diharapkan akan terus berkembang pesat, ini menjadi sebuah
faktor karena integrasi ke depan mengurangi kemampuan organisasi
intuk mendiversifikasi industri dasarnya.
Ketika sebuah organisasi memiliki balik modal maupun sumber daya
manusia yang dibutuhkan untuk mengelola bisnis baru pendistribusian
produk-produknya sendiri.
Ketika keuntungan dari produksi yang stabil sangat tinggi, ini menjadi
pertimbangan karena organisasi dapat meningkatkan kemampuan
memprediksi permintaan untuk output melalui integrasi ke depan.
Ketika distributor atau peritel yang ada saat ini memiliki margin laba
yang tinggi, situasi ini
menyiratkan bahwa sebuah perusahaan dapat
mendistribusikan produknya sendiri secara menguntungkan dan
menetapkan harganya secara kompetitif.
2.
Integrasi ke belakang
Baik produsen maupun peritel membeli material yang mereka butuhkan dari
pemasok. Integrasi ke belakang (backward integration) adalah sebuah strategi
yang mengupayakan kepemilikan atau kendali yang lebih besar atas pemasok
perusahaan. Strategi tersebut sangat tepat ketika pemasok perusahaan yang
ada saat ini tidak bisa dikendalikan, terlampau mahal, atau tidak mampu
memenuhi kebutuhan perusahaan.
Tujuh pedoman tentang kapan integrasi ke belakang dapat menjadi sebuah
strategi yang sangat efektif:
Ketika pemasok organisasi saat ini menjadi sangat mahal, atau tidak
dikendalikan, atau mampu memenuhi kebutuhan perusahaan akan
onderdil, komponen, barang rakitan, atau bahan mentah.
Ketika jumlah pemasok sedikit dan jumlah pesaing banyak.
Ketika industri bersaing di sebuah industri yang berkembang pesat, ini
merupakan faktor karena strategi jenis integratif (ke depan, ke
belakang, dan horizontal) mengurangi kemampuan organisasi untuk
melakukan diversifikasi di industri yang tengah mengalami
kemerosotan.
|
|
11
Ketika organisasi memiliki modal yang baik
maupun sumber daya
manusia untuk mengelola bisnis pemasokan bahan mentahnya sendiri
yang baru.
Ketika keuntungan dari
harga yang stabil sangat
penting, menjadi
faktor karena organisasi dapat menstabilkan biaya bahan mentahnya
dan biaya-biaya lain yang terkait dengan produknya melalui integrasi
ke belakang.
Ketika pemasok saat ini memiliki margin laba yang tinggi, yang
menunjukan bahwa bisnis pemasokan produk atau jasa di suatu
industri layak untuk dikembangkan.
Ketika organisasi perlu mengakuisisi atau memperoleh sumber daya
yang dibutuhkan secara tepat.
3.
Integrasi Horizontal
Integrasi horizontal
(horozontal integration) mengacu pada strategi yang
mengupayakan kepemilikan atau kendali yang lebih besar atas pesaing
perusahaan. Salah satu
tren paling signifikan dalam manejemen strategis
dewasa ini adalah meningkatnya pemakaian integrasi horizontal sebagai
strategi pertumbuhan. Merger, akuisisi, dan pengambil alihan (takeover). Di
anatara para pesaing memungkinkan peningkatan skala ekonomi serta
transfer sumber daya dan kompetensi. Kenneth Davidson membuat
pengamatan berikut mengenai integrasi horizontal:
Tren ke arah integrasi horizontal tampaknya mencerminkan kecemasan para
penyusutan strategi terkait kemampuan mereka untuk mengoperasikan
banyak bisnis yang tidak saling berhubungan. Merger
antara pesaing
langsung lebih
mungkin menciptakan efisiensi dari pada merger antara bisnis
yang tidak saling terkait, baik karena ada potensi yang lebih besar
menghilangkan duplikasi fasilitas maupun karena manajemen perusahaan
yang melakukan akuisisi cenderung lebih memahami bisnis dari target
akuisisi tersebut.
Chicago Mercantile Exchange (CME) mengakuisisi pasar saham CBOT
Holding pada pertengahan tahun 2007 sekitar 8$ miliar, menghasilkan pasar
saham derivatif terbesar dunia, dengan posisi dominan dibeberapa pasar
|
|
12
berjangka (futures market) mulai dari kacang kedeleai sampai dolareuro.
Terjadi konsolidasi yang cepat antar pasar saham diseluruh dunia.
Lima pedoman tentang kapan integrasi horizontal dapat menjadi sebuah
strategi yang sangat efektif.
Ketika organisasi dapat memeperoleh karakteristik monopolikstik di
suatu wilayah atau kawasan tertentu tanpa bertentangan dengan aturan
pemerintah yang melarang pengusaha subtanasial untuk
menghambat persaingan.
Ketika organisasi bersaing di sebuah industri yang sedang
berkembang
Ketika organisasi memiliki baik modal maupun sumber daya manusia
yang dibutuhkan untuk mengelola dengan baik organisasi yang
berekspansi.
Ketika pesaing melemah karena kurangnya keterampilan manajerial
atau kebutuhan akan sumber daya tertentu yang dimiliki sebuah
organisasi: perhatikan bahwa integrasi horizontal tidak akan tepat jika
pesaing mempunyai kinerja buruk, sebab dalam kasus ini penjualan
industri keseluruhan tengah merosot.
4.
Penetrasi pasar
Penetrasi pasar (market penetration)
adalah strategi yang mengusahakan
peningkatan pangsa pasar untuk produk atau jasa yang ada dipasar saat ini
melalui upaya-upaya pemasaran yang lebih besar. Strategi ini secara luas
digunakan dalam bentuk murni maupun dalam bentuk kombinasi (gabungan)
dengan strategi-strategi lainnya. Penetrasi pasar meliputi penambahan jumlah
tenaga penjualan, peningkatan pengeluaran untuk iklan, penawaran produk-
produk promosi penjualan secara ekstensif, atau pelipatgandaan upaya-upaya
pemasaran.
Lima pedoman tentang kapan penetrasi pasar sebuah strategi yang sangat
efektif:
Ketika pasar saat ini belum jenuh dengan produk atau jasa tertentu.
Ketika tingkat pemakaian konsumen saat ini dapat dinaikan secara
signifikan
|
|
13
Ketika pangsa pasar pesaing utama menurun sementara total
penjualan industri meningkat
Ketika korelasi antara pengeluaran penjualan euro dan pemasaran
euro secara historis tinggi
Ketika meningkatnya skala ekonomi memberikan keunggulan
kompetitif yang besar
5.
Pengembangan pasar
Pengembangan pasar
(market development) meliputi pengenalan produk atau
jasa yang ada saat ini ke wilayah-wilayah geografis yang baru.
Enam pedoman tentang kapan integrasi horizontal dapat menjadi sebuah
strategi yang sangat efektif:
Ketika saluran-saluran distribusi baru yang tersedia dapat diandalkan,
tidak mahal dan berkualitas baik.
Ketika organisasi sangat berhasil dalam bisnis yang dijalankannya.
Ketika pasar baru yang belom dikembangkan dan belum jenuh
muncul
Ketika organisasi mempunyai modal dan sumber daya manusia yang
dibutuhkan untuk mengolola perluasan operasi
Ketika organisasi memiliki kapasitas produksi yang berlibih.
Ketika industri dasar organisasi dengan cepat berkembang menjadi
global dalam cakupannya.
6.
Pengembangan produk
Pengembangan produk
(product development) adalah sebuah strategi yang
mengupayakan peningkatan penjualan dengan cara memperbaiki atau
memodifikasi produk atau jasa yang ada saat ini. Pengembangan produk
biasanya membutuhkan pengeluaran
yang besar untuk penelitian dan
pengembangan.
Lima pedoman tentang kapan pengembangan produk dapat menjadi sebuah
strategi yang sangat efektif:
Ketika organisasi memiliki produk-produk berhasil yang berada di
tahap kematangan dari siklus hidup produksi, gagasan di sini adalah
menarik konsumen yang terpuaskan untuk mencoba produk baru
|
|
14
(yang lebih baik) sebagai hasil dari pengalaman positif mereka
dengan produk atau jasa organisasi saat ini.
Ketika organisasi berkompetisi di industri yang di tandai oleh
perkembangan yang sangat cepat.
Ketika pesaing utama menawarkan produk berkualitas lebih baik
dengan harga bagus
Ketika organisasi bersaing dalam industri dengan tingkat
pertumbuhan tinggi
Ketika organisasi memiliki kapabilitas penelitian dan pengembangan
yang sangat kuat.
7.
Diversifikasi Terkait
Diversifikasi terkait adalah
strategi yang melaluinya perusahaan bertujuan
untuk membangun atau memperluas sumber daya, kapabilitas, dan
kompetensi inti yang ada dalam usaha untuk mencapai daya saing strategis.
Menurut Coulter (2002:260), diversifikasi terkait adalah diversifikasi yang
dilakukan oleh perusahaan untuk memasuki industri berbeda namun memiliki
salah satu keterkaitan dengan operasional yang ada sekarang.
Enam pedoman tentang kapan diversifikasi terkait dapat menjadi sbuah
strategi yang sangat efektif:
Ketika organisasi berkompetisi di sebuah industri yang tidak
mengalami yang tidak mengalami pertumbuhan atau pertumbuhannya
lambat.
Ketika menambahkan produk yang baru namun terkait akan secara
signifikan mendongkrak penjualan produk saat ini.
Ketika produk yang baru namun terkait dapat ditawarkan dengan
harga yang sangat bersaing.
Ketika produk yang baru namun terkait memiliki tingkat penjualan
musiman yang dapat mengimbangi puncak dan jurang penjualan ada
saat ini di perusahaan.
Ketika produk organisasi yang ada saat ini sedang dalam tahap
penurunan dari siklus hidup produk.
Ketika organisasi memiliki tim manajemen yang kuat.
|
|
15
8.
Diversifikasi Tidak Terkait
Strategi diversifikasi tak terkait lebih memilih portofolio bisnis yang sanggup
memberikan kinerja keuangan yang sangat baik di industrinya sediri, alih-alih
berupaya mamanfaatkan kesesuaian strategis rantai nilai di antara bisnis.
Perusahaan yang menjalankan diversifikasi tak terkait terus-menerus mencari
di berbagai industri yang berbeda perusahaan-perusahaan yang dapdat
diakuisisi dalam suatu kesapaktan dan memiliki potensi untuk menghasilkan
pengembalian atas investasi yang tinggi. Diversifikasi tak terkait melibatkan
usasha untuk mencari dan mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang asetnya
bernilai rendah, atau yang secara finansial sedang tertekan, atau yang
memiliki prospek pertumbuhan tinggi namun memiliki kekurangan modal
investasi. Masalah utama diversifikasi tak terkait adalah bahwa induk
perusahaan harus memiliki tim manajemen puncak yang sangat bagus yang
mampus merencanakan, mengorganisasi, memotivasi, mendelegasikan,
mengendalikan secara efektif. Mengelola bisnis dibanyak industri jauh lebih
sulit dari pada di satu industri. Namun demikian, beberapa perusahaan
berhasil menjalankan diversifikasi tak terkait, banyaknya perusahaan lain
gagal menjalankan diversifikasi tak terkait karena besarnya tantangan
manajemen yang harus dihadapi.
Sepuluh pedoman tentang kapan diversifikasi tak terkait dapat menjadi
sebuah strategi yang sangat efektif:
Ketika pendapatan dari produk atau jasa yang saat ini dimiliki
organisasi akan meningkat secara signifikan dengan penambahan
produk baru yaitu tidak terkait.
Ketika organisasi bersaing di sebuah industri yang sangat kompetitif
dan tidak mengalami pettumbuhan sebagaimana di
indikasikan oleh
margin laba pengembalian industri yang rendah.
Ketika saluran distribusi organisasi saat ini dapat digunakan untuk
memasarkan produk-produk baru kepada konsumen yang ada.
Ketika produk baru memiliki pola penjualan kontrasiklis
bila
dibandingkan dengan produk organisasi saat ini.
Ketika industri dasar suatu organisasi mengalami penurunan dalam
penjualan dan laba tahunan
|
|
16
Ketika organisasi memiliki modal talenta
manajerial yang dibutuhkan
untuk bersaing dengan baik di industri baru.
Ketika organisasi memiliki peluang untuk membeli tak terkait yang
menarik secara investasi.
Ketika ada sinergi finansial antara perusahaan yang diakuisisi dan
mengakuisisi. (perhatikan bahwa perbedaan penting antara
diversifikasi terkait dan tak terkait
adalah bahwa diversifikasi terkait
harus didasarkan pada beberapa persamaan dalam hal pasar, produk,
atau teknologi, sedangkan diversifikasi tak terkait lebih bedasarkan
pada pertimbangan laba).
Ketika pasar yang sudah jenuh dengan produk organisasi saat ini.
Ketika aksi aksitrust
dapat didakwakan terhadap organisasi yang
secara historis telah berkonsentrasi pada suatu jenis industri.
9.
Penciutan
Penciutan terjadi manakala sebuah organisasi melakukan pengelompokan
ulang malalui pengurangan biaya dan aset untuk membalik penjualan dan
laba yang menurun. Kadang kala disebut pembalikan
atau strategi
reorganisasional,
penciutan dirancang untuk memperkuat kompetisi khusus
dasar suatu organisasi. Selama penciutan, para penyusunan strategi bekerja
dengan sumber daya yang terbatas dan menghadapi tekanan dari pemegang
saham, karyawan, dan media. Penciutan bisa melibatkan penjualan lahan dan
bangunan untuk mendapatkan kas yang dibutuhkan, memangkas lini produk,
menutup bisnis yang tidak menguntungkan menutup pabrik yang usang,
mengotomatisasi proses, mengurangi jumlah karyawan, dan membangun
pengendalian beban.
Lima pedoman tentang kapan penciutan dapat menjadi strategi yang sangat
efektif:
Ketika sebuah organisasi memiliki kompetensi khusus yang jelas
namun gagal untuk secara konsisten memenuhi maksud dan
tujuannya dari waktu ke waktu.
Ketika organsisasi merupakan salah satu pesaing terlemah disuatu
industri tertentu.
|
|
17
Ketika organsisasi ditandai ketidakefisiensian, profabilitas yang
rendah, semangat kerja karyawan yang buruk, dan tekanan dari
pemegang saham untuk kinerja organisasi.
Ketika organisasi gagal utuk memanfaatkan peluang eksternal,
meminimalkan ancaman eksternal, mengambil keuntungan dari
kekuatan internal, dan mengatasi kelemahan internal dari waktu ke
waktu; itu artinya, ketika manajer strategis organisasi telah gagal
menjalankan tugasnya (dan kemungkinan harus digantikan oleh
individu yang lebih kompeten)
Ketika organisasi tumbuh membesar terlampau cepat sehingga
reorganisasi internal besar-besaran dibutuhkan.
10. Divestasi
Menjual satu divisi dari suatu organisasi disebut dengan divestasi. Divestasi
sering dipakai untuk mendapatkan modal guna akuisisi atau investasi strategis
lebih jauh. Divestasi dapat menjadi bagian dari keseluruhan strategi penciutan
untuk memebaskan organisasi dari bisnis yang tidak menguntungkan, yang
membutuhkan terlalu banyak modal, atau yang tidak begitu sesuai dengan
aktivitas-aktivitas perusahaan untuk berfokus pada bisnis inti mereka dan
tidak terlalu terdiversikasi.
Enam pedoman tentang kapan strategi divestasi dapat menajdi sebuah strategi
yang efektif:
Ketika sebuah organisasi menjalankan strategi penciutan dan
gagal untuk mencapai perbaikan yang diperlukan.
Ketika suatu divisi membutuhkan lebih banyak sumber daya agar
lebih kompetitif dari yang dapat disediakan oleh perusahaan.
Ketika suatu divisi bertanggung jawab terhadap kinerja
keseluruhan organisasi yang buruk.
Ketika suatu divisi
tidak mampu menyesuaikan diri dengan
bagian organisasi yang lain; ini bisa merupakan akibat dari pasar,
konsumen, manajer, karyawan, nilai-nilai, atau kebutuhan yang
secara radikal berbeda.
Ketika sejumlah besar dana dibutuhkan dalam waktu dekat dan
tidak dapat diperoleh dengan cara lain.
|
|
18
Ketika tindakan antitrust pemerintah mengancam sebuah
organisasi.
11. Likuidasi
Menjual seluruh aset perusahaan, secara terpisah-pisah, untuk kekayaan
berwujudnya disebut likuidasi. Likuidasi merupakan pengakuan kekalahan
dan konsekuensinya bisa menjadi sebuah strategi yang sulit secara emosional.
Namun demikian, lebih baik menghentikan operasi dari pada terus menderita
kerugian uang dalam jumlah yang besar.
Ribuan bisnis kecil di Amerika Serikat mengalami likuidasi setiap tahunnya
tanpa pemberitaan apa pun. Bukan hal yang mudah untuk mengawali dan
menjalankan sebuah bisnis kecil dengan sukses. Di China dan Rusia ribuan
perusahaan milik negara dilikuidasi setiap tahun sementara dua negara
tersebut berusaha memprevitasisasi dan mengsolodiasi industri mereka.
Tiga pedoman tentang kapan strategi likudasi dapat menjadi sebuah stratgi
yang sangat efektif:
Ketika sebuah organisasi menjalankan strategi penciutan dan
divestasi, namun tak satu pun berhasil.
Ketika satu-satunya alternatif suatu organisasi adalah menyatakan
diri
bangkrut. Likuidasi mempresentasikan cara yang paling
sistematis dan terencana untuk mendapatkan sebesar mungkin
uang tunai dari penjualan aset perusahaan. Sebuah perusahaan
dapat secara legal menyatakan dirinya bangkrut dan kemudia
melikuidasi divisi-divisinya untuk memperoleh modal yang
diperlukan.
Ketika pemegang saham perusahaan dapat meminimalkan
kerugian mereka dengan menjual aset organisasi.
2.4. Proses Manajemen Strategi
Setiap perusahaan mempunyai perbedaan dalam proses merumuskan dan
mengarahkan kegiatan manajemen strateginya. Perencanaan yang baik telah
mengembangkan proses yang lebih rinci. Perusahaan dengan banyak produk, pasar
atau teknologi, cenderung menggunakan sistem manajemen strategi yang lebih rumit.
Tetapi terlepas dari perbedaan dalam hal rincian dan tingkat formalitas ini,
|
|
19
komponen dasar dari
model-model yang digunakan untuk menganalisis operasi
manajemen strategi ini sangat mirip. (R. Fred David. (2006) Manajemen Strategis
Konsep). Tiga tahapan dalan proses manajemen strategi tersebut, yaitu:
1.
Perumusan Strategi (Strategy Formulation)
Karena keterbatasan sumber daya, maka perusahaan harus memilih langkah
strategi yang akan menghasilkan keuntungan dan manfaat yang paling besar.
Perumusan strategi merupakan kombinasi dari orientasi terhadap perspektif
masa depan dengan keadaan eksternal maupun keadaan internal perusahaan
saat ini. Perumusan strategi terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
Menetapkan dan mengembangkan visi dan misi.
Mengidentifikasi lingkungan eksternal (peluang dan ancaman)
perusahaan.
Mengidentifikasi lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan)
perusahaan.
Menetapkan tujuan jangka panjang.
Menetapkan alternatif strategi.
Memilih strategi tertentu yang akan dilaksanakan.
Isu-isu penting dalam perumusan strategi adalah bisnis apa yang akan
dimasuki, juga bisnis apa yang seharusnya ditinggalkan, apakah harus
melakukan ekspansi atau diversifikasi usaha, apakah perlu memperbesar
pasar ke luar negri, dan lain-lain.
2.
Pelaksanaan Strategi
Merupakan tahap pelaksanaan dari strategy formulation
yang sudah
diterapkan sebelumnya. Tantangan yang dihadapi ini adalah menstimulasikan
pihak manajemen dan karyawan untuk dapat bekerjasama dengan baik dan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, antara lain melalui:
Menetapkan tujuan tahunan.
Membuat, menetapkan, dan meninjau ulang kebijakan perusahaan
terhadap kebijakan yang telah ditetapkan atau diterapkan.
Memotivasi karyawan.
Mengalokasikan sumber daya secara tepat.
Hal penting lainnya yang terkait dengan pelaksanaan strategi adalah
mengembangkan budaya yang mendukung pelaksanaan strategi,
|
|
20
menciptakan struktur organisasi yang efektif, mengarahkan usaha
pemasaran, menyiapkan anggaran, mengembangkan dan
memberdayakan sistem informasi, dan menghubungkan kinerja
karyawan dengan kinerja organisasi.
3.
Evaluasi Strategi
Evaluasi strategi adalah tahap final dalam manajemen strategis. Manajer
sangat ingin mengetahui kapan strategi tidak dapat berjalan seperti
diharapkan: evaluasi strategi adalah alat utama untuk mendapatkan informasi
ini. Semua strategi dapat dimodifikasi di masa datang karena faktor internal
dan eksternal secara konstan berubah. Evaluasi dibutuhkan karena kesuksesan
hari ini tidak menjamin kesuksesan hari esok. Tiga aktivitas evaluasi strategi
diatas adalah:
Mengevaluasi kembali, apakah faktor-faktor internal dan faktor-faktor
eksternal masih bisa dijadikan acuan untuk penetapan strategi pada
saat sekarang.
Mengukur kinerja perusahaan.
Mengevaluasi tindakan yang diambil.
Dalam penelitian ini, tahap yang akan dijalankan terfokus hanya sampai tahap
formulasi selesai atau pemberian rekomendasi strategi kepada perusahaan.
2.4.1. Formulasi Strategi
2.4.1.1. Visi Dan Misi Perusahaan
Menurut David (2006:84), pertanyaan visi harus menjawab pertanyaan dasar
Ingin menjadi apakah kita?. Pertanyaan visi haruslah singkat, sebaiknya dalam satu
kalimat dan dibuat berdasarkan masukan dari sebanyak mungkin manajer. Visi bisnis
adalah keadaan masa depan suatu organisasi yang mungkin terjadi dan di
inginkan,yang mencakup tujuan-tujuan khusus.
Jadi visi adalah sesuatu hal yang harus dicapai dan diwujudkan di masa yang
akan datang. Biasanya semua perusahaan berdiri atas dasar visi yang sudah di
rancang
agar perusahaan tersebut menjadi lebih besar di masa yang akan datang,
seperti mempunyai banyak cabang disetiap tempat dan wilayah. Visi tersebut harus
disosialisasikan dan mengimplementasikannya pada setiap karyawan sehingga visi
tersebut menjadi cita-cita dan terwujud atas dasar kebersamaan.
|
|
21
Menurut David (2006:88), pernyataan misi harus menjawab pertanyaan
Apakah bisnis kita?. Misi bisnis adalah dasar untuk membuat prioritas, strategi,
rencana, dan penugasan kerja. Misi bisnis merupakan titik awal untuk merancang
pekerjaan-pekerjaan manajerial, dan yang paling penting adalah untuk merancang
struktur manajerial. Misi lebih terkait dengan perilaku masa kini.
Visi hanya akan menjadi angan-angan apabila tidak dijabarkan. Bahkan visi
akan menjadi sebuah mimpi belaka yang tidak akan pernah menjadi kenyataan
apabila tidak dijabarkan dengan jelas dalam kalimat-kalimat sehingga dapat
dimengerti oleh setiap karyawan.
Menurut Pearce & Robison (2008:3), The mission statement is a massage
designed to be inclusive of the expectations of all stakeholders for the companys
performance over the long run.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa,
Setiap perusahaan pasti mempunyai
pihak-pihak yang berhubungan dengan perusahaan, yaitu para pelanggan, pemasok,
karyawan, pemerintah, dan
lain-lain.
mereka mempunyai harapan-harapan agar
perusahaan tersebut menunjukkan kinerja yang baik dalam jangka panjang.
Menurut Pearce & Robinson (2008:3), The principle value of the mission
statement is its specification of the firms ultimate aims.
Dari uraian diatas dapat diartikan bahwa Prinsip adalah suatu pernyataan misi yang
lebih spesifik dari tujuan utama sebuah perusahaan.
Dengan pernyataan misi yang
jelas dan eksplisit, memudahkan perusahaan untuk mengambil kebijakan-kebijakan
dan strategi-strategi yang tepat dan terarah untuk tercapainya misi perusahaan
tersebut.
2.4.1.2. Karekteristik pernyataan misi
Menurut Wheelen sebagaimana dikutip oleh Wibisono (2006:46-47) Misi
merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan tujuan atau alasan eksistensi
organisasi yang memuat apa yang disediakan oleh perusahaan kepada masyarakat,
baik berupa produk atau pun jasa.
Pernyataan misi merupakan sebuah kompas yang membantu untuk menemukan
arah dan menunjukkan jalan yang tepat dalam rimba bisnis saat ini. Tujuan dari
pernyataan misi adalah mengkomunikasikan kepada pemegang saham, di dalam
maupun
di
luar organisasi, tentang alasan pendirian perusahaan dan ke arah mana
tujuan perusahaan. Oleh karena itu, rangkaian kalimat dalam misi sebaiknya
|
|
22
dinyatakan dalam satu bahasa dan komitmen yang dapat dimengerti dan dirasakan
relevansinya oleh semua pihak yang terkait.
Langkah penyusunan misi yang umum dilakukan oleh organisasi atau
perusahaan adalah dengan mengikuti tahap-tahap berikut ini:
1.
Melakukan proses pertukaran pikiran
dengan mensejajarkan beberapa kata
yang menggambarkan organisasi
2.
Penyusunan prioritas dan pemfokusan pada kata-kata yang paling penting
3.
Mengkombinasikan kata-kata yang telah dipilih menjadi kalimat atau
paragraf yang menggambarkan misi perusahaan
4.
Mengedit kata-kata sampai terdengar benar atau sampai setiap orang
kelelahan untuk adu argumentasi berkaitan dengan kata atau fase favorit
mereka.
Untuk menjamin bahwa misi yang telah dicanangkan merupakan sebuah misi yang
bagus, misi tersebut harus:
1.
Cukup luas untuk dapat diterapkan selama beberapa tahun sejak saat
ditetapkan
2.
Cukup spesifik untuk mengkomunikasikan arah
3.
Fokus pada kompetensi atau kemampuan yang dimiliki perusahaan
4.
Bebas dari jargon dan kata-kata yang tidak bermakna.
2.4.1.3. Komponen Pernyataan Misi
Menurut David (2006:102), pernyataan misi sering merupakan bagian yang
paling tampak dan paling umum dari proses manajemen strategis, maka sangatlah
penting untuk mempertimbangkan semua komponen-komponen penting di bawah
ini:
-
Pelanggan: Siapakah para pelanggan perusahaan?
-
Produk dan Jasa: Apakah produk atau jasa utama perusahaan?
-
Pasar: Secara geografis di manakah perusahaan bersaing?
-
Perhatian terhadap keberlangsungan hidup, pertumbuhan, dan keuntungan:
Apakah perusahaan berkomitmen terhadap pertumbuhan dan keuangan yang
sehat?
-
Filsafat: Apakah keyakinan, nilai-nilai, cita-cita, dan prioritas etis menjadi
dasar perusahaan?
|
|
23
-
Konsep diri: Apakah kompetensi perusahaan yang mencolok atau keunggulan
kompetitif utamanya?
-
Pierhatian terhadap citra masyarakan : Apakah perusahaan tanggap terhadap
persoalan-persoalan sosial, komunitas, dan lingkungan?
-
Perhatian terhadap karyawan: Apakah karyawan merupakan aset yang
berharga bagi perusahaan?
2.4.1.4. Menjalankan Audit Eksternal
Menurut David (2006:118-143), tujuan audit eksternal adalah membuat
daftar terbatas mengenai berbagai
peluang yang dapat menguntungkan perusahaan
dan berbagai ancaman yang harus dihindari. Seperti yang dijelaskan oleh istilah
terbatas, audit eksternal tidak ditujukan untuk mengembangkan daftar yang sangat
panjang tentang semua faktor yang mungkin memengaruhi suatu bisnis, sebaliknya ia
ditujukan untuk mengidentifikasi variabel kunci yang menawarkan respons yang
dapat dijalankan. Perusahaan harus dapat
merespon
secara agresif atau defensif
terhadap faktor-faktor tersebut dengan memformulasikan strategi yang mengambil
keuntungan dari peluang eksternal atau meminimalkan pengaruh dari ancaman
potensial.
Menurut Michael A. Hitt, R. Duane Ireland, dan Robert E. Hoskisson (2001:55-54),
proses analisis lingkungan eksternal terdari dari 4 tahap:
Pengamatan; mengidentifikasikan tanda-tanda awal dari perubahan dan
cenderung lingkungan.
Pengawasan; mendeteksi perubahan dan trend lingkungan melalui
pengawasan yang berkelanjutan.
Peramalan; mengembangkan proyeksi yang mengantisipasi hasil berdasarkan
pengawasan terhadap perubahan dan trend tersebut.
Penilaian; menentukan waktu dan pentingnya perubahan dan trend
lingkungan bagi strategi dan manajemen perusahaan.
Kekuatan eksternal dapat dibagi menjadi lima kategori besar:
1.
Kekuatan Ekonomi.
2.
Kekuatan Sosial, Budaya, Demografi, dan Lingkungan.
3.
Kekuatan Politik, Pemerintahan, dan Hukum.
4.
Kekuatan Teknologi.
|
|
24
5.
Kekuatan Kompetitif.
2.4.1.5. Analisis Persaingan: Model 5 Kekuatan Porter
Menurut David (2006:144), pendekatan Porter atau sering disebut dengan
analisis persaingan model lima kekuatan Porter merupakan pendekatan yang banyak
dipakai untuk mengembangkan strategi oleh banyak industri. Intensitas persaingan
antar perusahaan sangat beragam di berbagai industri. Intensitas persaingan paling
tinggi adalah dalam industri dengan laba kecil.
Menurut Porter, sifat persaingan dalam suatu industri dapat dilihat sebagai
gabungan dari lima kekuatan sebagai berikut:
-
Perseteruan Antar Perusahaan Sejenis
Intensitas perseteruan antara perusahaan sejenis yang bersaing cenderung
meningkat karena jumlah pesaing semakin bertambah, karena pesaing
semakin seragam dalam hal ukuran dan kemampuan, karena permintaan
untuk produk industri menurun, dan karena pemotongan harga menjadi
semakin umum. Persaingan juga meningkat ketika pelanggan dapat berpindah
merek dengan mudah, ketika hambatan untuk meninggalkan pasar tinggi,
ketika biaya tetap tinggi, ketika produk mudah rusak, ketika perusahaan
pesaing berbeda dalam hal strategi, tempat mereka berasal, dan budaya, serta
ketika merger
dan akuisisi menjadi umum dalam suatu industri. Ketika persaingan antar
perusahaan sejeni semakin intensif, laba perusahaan menurun, dalam
beberapa kasus bahkan membuat suatu industri menjadi sangat tidak menarik.
-
Kemungkinan Masuknya Pesaing Baru
Ketika perusahaan baru dapat dengan mudah masuk ke dalam industri
tertentu, intensitas persaingan antar perusahaan meningkat. Tetapi hambatan
untuk
masuk,dapatmencakup kebutuhan untuk mencapai skala ekonomi
dengan cepat, kebutuhan untuk mendapatkan teknologi dan pengetahuan
khusus, kurangnya pengalaman, tingginya kesetiaan pelanggan, kuatnya
preferensi merek, besarnya kebutuhan akan modal, kurangnya jalur distribusi
yang memadai, peraturan pemerintah, tarif, kurangnya akses terhadap bahan
mentah, kepemilikan paten, lokasi yang kurang menguntungkan, serangan
balasan dari perusahaan yang sudah mapan, dan potensi kejenuhan pasar.
|
|
25
Di samping berbagai hambatan masuk, perusahaan baru kadang-kadang
memasuki suatu bisnis dengan produk berkualitas lebih tinggi, harga lebih
rendah, dan sumber daya pemasaran yang besar. Dengan demikian, tugas
penyusun strategi adalah untuk mengindentifikasikan perusahaan yang
berpotensi masuk ke pasar, untuk memonitor strategi pesaing baru, untuk
membuat serangan balasan apabila dibutuhkan, serta untuk memanfaatkan
kekuatan dan peluang yang ada saat ini.
-
Potensi Pengembangan Produk Subsitusi
Tekanan kompetisi yang berasal dari produk subsitusi meningkat sejalan
dengan menurunnya harga relatif dari produk subsitusi dan sejalan dengan
biaya konsumen untuk beralih ke produk lain menurun. Cara terbaik untuk
mengukur kekuatan kompetitif produk subsitusi adalah dengan mamantau
pangsa pasar yang didapat oleh produk-produk tersebut, juga dengan
memantau rencana perusahaan untuk meningkatkan kapasitas dan penetrasi
pasar.
-
Kekuatan Tawar-Menawar Penjual atau Pemasok
Kekuatan tawar-menawar pemasok memengaruhi intensitas persaingan dalam
suatu industri, khususnya ketika ada sejumlah besar pemasok, ketika hanya
ada sedikit barang subsitusi yang cukup bagus, atau ketika biaya untuk
mengganti bahan baku sangat mahal.
Perusahaan dapat menjalankan strategi integrasi ke belakang untuk
mendapatkan kendali atau kepemilikan dari pemasok. Strategi ini efektif
khususnya ketika pemasok tidak dapat diandalkan, terlalu mahal, atau tidak
mampu memenuhi kebutuhan perusahaan secara konsisten. Perusahaan
umumnya dapat
menegosiasikan syarat yang lebih menguntungkan bagi
pemasok ketika integrasi ke belakang merupakan strategi yang digunakan
secara umum di antara perusahaan-perusahaan yang bersaing dalam suatu
industri.
-
Kekuatan Tawar-menawar Pembeli atau Konsumen
Ketika konsumen terkonsentrasi atau besar jumlahnya, atau membeli dalam
jumlah besar, kekuatan tawar-menawar mereka menjadi kekuatan utama yang
memengaruhi intensitas persaingan dalam suatu industri. Perusahaan pesaing
mungkin menawarkan garansi yang lebih panjang atau jasa khusus untuk
mendapatkan kesetiaan pelanggan ketika kekuatan tawar-menawar konsumen
|
|
26
cukup besar. Kekuatan tawar-menawar konsumen juga lebih tinggi ketika
yang dibeli adalah produk standar atau tidak terdiferensiasi. Ketika
kondisinya seperti ini, konsumen sering kali dapat bernegosiasi tentang harga
jual, cakupan garansi, dan paket aksesori hingga ke tingkat yang lebih tinggi.
2.4.1.6. Menjalankan Audit Internal
Analisis internal memberikan informasi penting mengenai sumber daya dan
kapabilitas khusus organisasi. Sumber daya perusahaan adalah aset keuangan, fisik,
manusia, dan tak berwujud yang digunakan untuk mengembangkan, membuat, dan
mengantar produk kepada para pelanggannya. Sedangkan Kapabilitas adalah
keterampilan dan kapabilitas dalam melakukan aktivitas kerja yang diperlukan dalam
bisnis. Kapabilitas menciptakan nilai yang utama bagi organisasiyaitu megetahui
kompetensi intinya, baik sumber daya maupun kompetensi utama akan menentukan
senjata kompetitif organisasi.
Setelah menyelesaikan anailisis internal, manajer harus mampu
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan organisasi. Semua aktivitas organisasi
yang dikerjakan dengan baik atau sumber daya yang unik disebut kekuatan.
Sementara itu, kelemahan adalah aktivitas organisasi yang tidak dilakukan dengan
baik atausumber daya yang diperlukan tetapi belum dimiliki.
Kekuatan Internal dapat dibagi menjadi enam kategori yaitu:
1. Kekuatan Manajemen.
2. Kekuatan Pemasaran.
3. Kekuatan Keuangan/Akutansi.
4. Kekuatan Produk/Operasi.
5. Kekuatan Penelitian dan Pengembangan.
6. Kekuatan Sistem Informasi Manajemen.
2.4.1.7. Menetapkan Tujuan Jangka Panjang
Tujuan dapat didefinisikan sebagai hasil yang spesifik yang ingin dicapai
suatu organisasi untuk menjalankan misi dasarnya. Jangka panjang artinya lebih dari
satu tahun.
Tujuan adalah penting untuk keberhasilan organisasi sebab mereka
menentukan tujuan, membantu evaluasi, menciptakan sinergi, menunjukkan prioritas,
menekankan koordinasi, dan memberi dasar untuk aktivitas perencanaan yang
|
|
27
efektik, pengorganisasian, alat motivasi, dan pengendalian. Tujuan harus menantang,
terukur, konsisten, masuk akal, dan jelas. Dalam perusahaan multidimensi, tujuan
harus ditetapkan untuk keseluruhan perusahaan dan untuk masing-masing divisi.
2.4.1.8. Merumuskan, Mengevaluasi, dan Memilih Strategi
Analisis dan pilihan strategi mencoba untuk
menentukan alternatif tindakan
yang dapat memungkinkan perusahaan mencapai misi dan tujuannya dengan cara
terbaik.
Teknik perumusan strategi yang penting dapat di
integrasikan
ke dalam
kerangka kerja pengambilan keputusan tiga tahap:
-
Tahap 1 dalam kerangka kerja perumusan-strategi terdiri atas Matriks EFE,
Matriks IFE, dan Matriks Profil Kompetitif CPM.
-
Tahap ini disebut Tahap Input. Tahap ini meringkas informasi dasar yang
dibutuhkan untuk merumuskan strategi.
-
Tahap 2, disebut Tahap Pencocokan, berfokus pada menciptakan alternatif
strategi yang layak dengan mencocokkan faktor eksternal dan internal kunci.
mencakup
Matriks Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman (strenght-
weakness-opportunities-threats-SWOT),
matriks evaluasi tindakan dan posisi
strategi (Strategic Position and Action EvaluationSPACE), Matriks Boston
Consulting Group (BCG), Matriks Internal-Eksternal (IE), dan (Grand
Strategy Matrix).
-
Tahap 3, disebut Tahap Keputusan, melibatkan strategi tunggal, yaitu Matriks
Perencanaan Strategi Kuantitatif . QSPM
menggunakan input dari Tahap 1
untuk mengevaluasi secara objektif alternatif-alternatif strategi yang layak
dan dengan demikian memberikan dasar tujuan untuk memilih strategi
spesifik. Kesembilan teknik tercakup dalam kerangka kerja perumusan
strategi membutuhkan integrasi dari intuisi dan analisis.
|
![]() 28
2.5. Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran
PT DJM PUTRA MANDIRI
Tahap Masukan
M.PORTER
Matriks EFE
Matriks CPM
Matriks IFE
Tahap Pencocokan
Matriks SWOT Matriks IE Matriks Grand Strategy
Tahap Keputusan
Matriks QSPM
Rekomendasi Strategi
Kesimpulan dan Saran
|