|
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Kamera PC
2.1.1
Definisi Kamera PC
Kamera PC adalah suatu perangkat keras yang terhubung dengan komputer dan
mempunyai kemampuan menangkap atau mengambil citra baik citra statis maupun citra
bergerak (video) tergantung pada program yang digunakan.
2.1.2
Cara Kerja Kamera PC
Kamera digital atau kamera PC mempunyai kemiripan cara kerja dengan sebuah
kamera konvesional atau
yang
sering
disebut
kamera
35
mm.
Kamera
digital
mempunyai lensa
selayaknya
kamera
biasa
di
mana
lensa
ini
berfungsi
untuk
memfokuskan dan
mendiafragma
tempat
masuknya
cahaya
atau
citra
yang
akan
ditangkap.
Untuk
kamera
PC,
penangkapan berkas
cahaya
dilakukan
oleh
CCD
atau
CMOS
yang
berfungsi sebagai
sensor
elektronik. CCD
atau
sering
disebut
charged
couple
device
terdiri
dari
ribuan
bahkan
jutaan
sensor
kecil
yang
sering
disebut dari
jumlah pixelnya. CCD
ini
menerima banyaknya jumlah cahaya yang masuk pada tiap
sensor
CCD. Nilai cahaya yang
masuk pada CCD akan
secara
elektronik diproses dan
dikirim
pada internal
memory atau
buffer
yang bila ditentukan
disimpan dalam
jenis
seperti bitmap, jpeg, gif, mpeg dan lain-lain.
2.2 Operasi
Pengolahan
Citra
6
|
|
7
Ada beberapa operasi pada pengolahan cira yang memiliki tujuan yang sama, yaitu
memperoleh
kualitas
citra agar sesuai dengan
yang diharapkan.
Operasi-operasi
itu
antara lain adalah :
Pengambilan Citra (Image Acquisition)
Peningkatan Kualitas Citra (Image Enhancement)
Pemilihan Citra (Image Segmentation)
Deteksi Tepi (Edge Detection)
2.2.1
Pengambilan Citra (Image Acquisition)
Image
Acquisition
merupakan
suatu
proses
pengambilan
citra
yang
dilakukan
dengan
pengambilan
data
acquisition.
Yang dimaksud
dengan data
acquisition
di
sini
adalah
data
analog
yang
sudah
dikumpulkan kemudian
data
tersebut
diproses
di
transducer dan
dikonversi
menjadi
format digital
sehingga dapat diproses
lebih
lanjut
oleh komputer. Image Acquisition dapat dilakukan dengan
menggunakan kamera CCD
(Charge Couple Device)
2.2.2
Peningkatan Kualitas Citra (Image Enhancement)
Image
Enhancement merupakan
sutau
proses
awal
yang
bertujuan
untuk
meningkatkan atau memperbaiki mutu citra baik untuk
menghilangkan gangguan untuk
interpretasi
maupun
untuk keindahan. Pada
proses
ini
biasanya baik
masukan
maupun
keluaran berbentuk citra.
Kontras
dari
suatu
citra
adalah
perbedaan antara
setiap
warna
pada citra. Jika
semua
warna dalam citra adalah gelap
maka perbedaan antara setiap warnanya adalah
kecil sebagai hasilnya maka citra akan memiliki kontras yang rendah dan sebaliknya.
|
|
8
Proses
perbaikan kontras suatu citra
dapat
dilakukan dengan teknik
pergeseran
histogram dan atau
dengan
teknik
pelebaran
histogram.
Teknik pergeseran
histrogram
dilakukan dengan cara penambahan atau pengurangan nilai
intensitas
setiap pixel citra
dengan suatu harga konstanta integer. Sedangkan teknik pelebaran histogram dilakukan
dengan cara pengalihan atau pembagian nilai intensitas setiap pixel dengan suatu harga
konstanta integer tertentu. Pada proses ini, pemilihan harga konstanta penambahan atau
pengurangan harus
dilakukan
berdasarkan
pengamatan
histogram
frekuensi
dari
citra
yang asli.
2.2.3 Pemilahan Citra (Image Segmentation)
Segmentasi adalah suatu proses yang membagi-bagi sebuah citra menjadi unsur-
unsur pokok dari citra
itu
sendiri.
Segmentasi
merupakan salah satu
bagian terpenting
dari
proses analisa
citra
secara otomatis.
Konsep
dari segmentasi
sebuah
citra
berdasarkan
pada discontinuity atau
similarity
dari
tingkatan
nilai
keabuan
pixel-pixel
nya dapat diterapkan pada citra statik dan citra dinamik (time-varying).
2.2.4 Deteksi Tepi
(Edge Detection)
Edge Detection adalah algoritma yang digunakan untuk mengenali tepi-tepi dari
sebuah citra
yang
digunakan pada
langkah
pertama
dalam pengenalan sebuah
obyek.
Untuk
mengenali tepi-tepi
dari
sebuah
citra
,
algoritma
ini
bekerja
dengan
mencari
tempat-tempat yang memilki perubahan intensitas warna yang drastis. Untuk itu terdapat
2
kriteria
yang
bisa dijadikan
patokan.
Pertama
:
tempat-tempat
itu
memiliki
turunan
pertama
dari intensitasnya
yang
magnitude-nya lebih
besar
dari
nilai
ambang. Kedua
:
tempat-tempat yang turunan kedua dari intensitasnya adalah 0(nol).
|
|
9
Untuk
mengenali
sebuah citra
tidak
cukup bila
hanya
menggunakan
algoritma
edge
detection
karena
algoritma
ini
hanya
mengenali ada
atau
tidaknya
sebuah
citra,
sehingga
diperlukan algoritma
tambahan
lainnya.
Dalam
algoritma edge
detection
terdapat
2
metode
yang
digunakan ,yaitu
:
Template
Maching
(TM)
dan
Differential
Gradient
(DG).
Pada
kedua
metode
ini
tujuan
utamanya adalah
mencari magnitude
gradient intensitas yang cukup besar untuk dianggap sebagai indikator yang sah sebagai
tepi sebuah obyek.
2.3 Program Pengambil Gambar Dari
Kamera PC (Peephole
Video Capture
v3.0)
Untuk
menangkap
citra dari
kamera
PC,
digunakan suatu program
yaitu
program
Peephole
Video Capture
v3.0
yang
berasal
dari
Specware
Inc,
218
louisiana
ave,
Perrysburg.OH 43551. Copyright © 1998,1999,2000. Program ini terdiri dari 5 tab yaitu
preview
and
capture, FTP,
camera
setup, still
image dan
AVI. Tiap tab
mempunyai
mempunyai
fungsi
yang
berbeda
yaitu:
Tab
Preview
and Capture
yang
mempunyai
fungsi
utama
menjalankan
dan
mengaktifkan
jendela
preview dan
waktu
sekuensial
waktu capture
citra.
Tab FTP berfungsi untuk mengetahui dan mengirimkan hasil citra
pada
komputer
lain
melalui
jaringan
internet.
Tab
camera
setup
mempunyai
fungsi
utama
untuk
mengetahui perangkat keras
yang akan digunakan dan
pengaturan
fungsi-
fungsi
hardware itu sendiri seperti
resolusi dan kompresi.
Tab still
image mempunyai
fungsi tempat menyimpan hasil citra, menentukan jenis citra dan pengaturan dasar dari
fungsi program timer. Tap AVI mempuyai fungsi pengambilan sebuah file video.
2.4. Modul
Sabuk
Berjalan (conveyor)
2.4.1. Pengertian dan
Fungsi
Modul
Sabuk
Berjalan
|
![]() 10
Modul sabuk berjalan adalah sebuah perangkat yang terdiri dari sabuk, kerangka,
roller dan motor yang mempunyai fungsi sebagai pemindah benda dari tempat yang satu
ke tempat yang lain dengan cara benda tersebut diletakkan di atas sabuk
yang berputar
searah jarum jam. (lihat gambar 2.1.)
2.4.2. Komponen Modul
Sabuk
Berjalan dan Fungsinya
Gambar 2.1. Komponen Sabuk Berjalan
Motor
Berfungsi sebagai pengerak dari
roller dan sabuk,
jenis motor yang dipakai
tergantung
dari
kebutuhan. Tenaga
yang
dihasilkan
motor
harus
dapat
menggerakan
beban maksimum yang diperkirakan.
Kerangka
Merupakan kerangka bentuk dari sabuk berjalan
yang
berfungsi menyatukan
beberapa komponen.
Sabuk
|
|
11
Sabuk yang digunakan dapat terbuat dari fiber, karet dan plastik .
Roller
Adalah
sebuah
benda
yang
mempunyai
bentuk
seperti
pipa
dan
mempunyai poros
untuk berputar yang terhubung dengan motor dan fungsinya memutarkan sabuk.
2.5.
Motor
Stepper
2.5.1. Pengertian
Motor
Stepper
adalah salah
satu
jenis
motor
DC
(dirrect
current)
yang
komponennya
terdiri
dari
sebuah
magnet permanen
yang
dapat berputar
yang disebut
rotor dan sebuah komponen
elektromagnet
yang mengelilingi
magnet
yang disebut
stator.
Motor
stepper
akan
mengubah
tegangan
DC
menjadi
sebuah
medan
magnetis
yang akan
menggerakan putaran dari rotor dalam jumlah derajat tertentu.
Keuntungan
utama motor langkah adalah ketepatan putaran yang dapat diatur dan sangat presisi.
Jenis-jenis motor langkah:
Motor stepper dengan magnet yang permanen
Karaketeristik Motor
stepper
ini
memiliki
sebuah
rotor
magnet
yang
permanen,
konsumsi tenaga yang relatif kecil dan tidak memerlukan sebuah umpan balik bila ingin
mengetahui posisi dari rotor.
Motor stepper dengan variabel reluktansi
Karakteristik dari
motor stepper jenis ini
adalah jenis
motor bersifat
ferromagnetic
dan memiliki banyak katup.
Motor stepper dengan hibrida
|
![]() 12
Karakteristik utama
dari
motor
stepper
jenis
ini
adalah
perputaran
sudut
yang
dihasilkan sebesar 0,36 derajat sampai 1,8 derajat. Perputaran ini sangat kecil dan cukup
presisi.
2.5.2. Prinsip Kerja Motor
Stepper
Prinsip kerja
dari
motor
stepper
mengunakan prinsip dari
magnet.
Rotor
yang
berfungsi
sebagai
magnet
permanen
akan
berinteraksi dengan
medan
magnet
yang
dihasilkan
oleh
kumparan
pada
stator.
Apabila
kutub
magnet
antara
rotor
dan
stator
sama
maka akan tolak-menolak dan rotor akan berputar. Besarnya derajat putaran rotor
tergantung banyaknya stator yang memberikan medan magnet. (lihat gambar 2.2.)
Gambar 2.2. Proses Perputaran Rotor Motor Stepper
Pergerakan rotor pada motor stepper dapat dilakukan pada berbagai cara: (lihat
gambar 2.3.)
|
![]() 13
Gambar 2.3. Jenis Perputaran Rotor Motor Stepper
o
Eksitasi koil tunggal
Prosesnya adalah sebagai berikut : A, B, C, D.
o
Eksitasi koil ganda
Prosesnya adalah sebagai berikut AB, BC, CD, DA.
o
Eksitasi koil ganda dengan half step
Prosesnya adalah sebagai berikut A, AB, B, BC, C, CD, D, DA.
2.5.3. IC ULN 2003
IC ULN 2003 adalah array darlington
yang mempunyai arus dan tegangan yang
tinggi
dan
terdiri
dari
7
kolektor
terbuka
darlington
dengan
common emitters.
(lihat
gambar
2.4.).
Setiap
saluran
berkisar
500mA
dan
dapat
bertahan
pada
arus
puncak
sekitar 600mA.
|
![]() 14
Gambar 2.4. Skematik IC ULN 2003
Tabel 2.1. Jenis IC ULN dan Kegunaannya
Kegunaan dari
IC
ULN
2003
ini adalah sebagai
alat
serba
guna
yang
sangat
bermanfaat
untuk mengendalikan beban termasuk solenoid,
motor DC
relay, tampilan
LED,
thermal
printheadsand
high
power
buffers dan
penguat
daya
untuk
pengendali
motor stepper.
2.6. Jaringan Syaraf
Tiruan
2.6.1. Jaringan Syaraf
Manusia
|
|
15
Jaringan
syaraf
manusia
adalah
organ
yang
mengatur,
mengkoordinir dan
mengintegrasikan
segala
fungsi
&
aktivitas
tubuh,
serta
menyesuaikannya dengan
perubahan-perubahan yang terjadi baik di luar tubuh (lingkungannya) maupun di dalam
tubuhnya sendiri.
Jaringan syaraf
manusia
terdiri
dari
susunan
dan
gabungan
dari
sel-sel
syaraf
yang membentuk jaringan dan
mampu untuk mengolah berbagai sumber informasi. Sel-
sel syaraf manusia diperkirakan berjumlah 10
10
sampai dengan 10¹² buah neuron dalam
jaringan
syaraf
manusia.
Bobot
otak
manusia
diperkirakan
1,5
kg
sehingga
rata-rata
bobot satu buah neuron sekitar 1,5 x 10
-9
g. Jaringan syaraf manusia yang sangat spesifik
dan kompleks ini disusun oleh 2 macam sel yaitu neuron dan neuroglia.
Neuron adalah sel syaraf yang terdiri dari badan sel (cell body) dengan struktur-
struktur yang ada di dalamnya dan tonjolan-tonjolan protoplasmanya yang berupa
dendrit dan akson. (lihat gambar 2.5.). Komponen dari neuron yaitu;
1.
Badan sel (cell body)
Badan sel merupakan pusat metabolik dan genetik dari neuron.
2.
Dendrit
Dendrit
adalah
tonjolan
yang keluar
dari sitoplasma
badan sel. Fungsi
dendrit
adalah menerima impuls rangsang dan meneruskan impuls itu ke badan sel.
3.
Akson
Setiap
neuron
mempunyai satu
akson
yang
merupakan
suatu
tabung
silindris
sitoplasma
yang dibungkus oleh
membran yaitu axolemma. Akson relatif
panjang,
merupakan
saluran
silindris
yang
menghantarkan rangsang
menjauhi
badan sel.
4.
Sinaps
|
![]() 16
Hubungan antara neuron-neuron yang biasanya terdapat di ujung terminal neuron
penghantar (transmitting
neuron = presynaptic
side) dengan bagian penerimaan
dari
neuron penerima (postsynaptic side) adalah merupakan kompleks
interneuronal yang spesifik, yang disebut sinaps atau synaptic junction.
Gambar 2.5. Komponen Sebuah Neuron
Dalam
otak
manusia
sebuah
neuron
menerima sinyal
dari
tonjolan-tonjolan
struktur
badan
sel
yang
dinamakan
dendrit.
Kemudian
neuron
meneruskan sejumlah
sinyal
elektrik melalui tabung silindris
yang panjang yang dikenal sebagai akson
yang
menyebar ke
sejumlah
besar
branch.
Pada
akhir
setiap
branch
sebuah
struktur
yang
dinamakan sinaps mengkonversikan aktivitas dari akson menjadi efek-efek elektrik yang
sesuai
dengan
aktivitas
dari
koneksi-koneksi neuron-neuron.
Ketika
sebuah
neuron
menerima masukan yang sesuai perbandingannya dengan sifat masukannya maka neuron
mengirimkan
sejumlah
aktivitas elektrik
pada
aksonnya.
Pembelajaran terjadi dengan
mengubah
keefektifan
dari
sinapsis
yang
mempengaruhi
satu
neuron
pada
perubahan
berikutnya.
|
![]() 17
2.6.2. Artificial
Neuron
Neuron dan interkoneksi dari sinapsis menentukan elemen kunci dari pemrosesan
informasi secara
neural.
Interaksi antar
neuron
berbeda
sesuai
dengan neuron-neuron
yang berbeda pula. Sebuah neuron mengirimkan sinyal output pada neuron lain melalui
aksonnya.
Sebuah
akson
membawa informasi melalui
sejumlah
aksi
potensial
yang
bergantung pada
potensial
dari
neuron
itu
sendiri.
Proses
ini
seringkali
dimodelkan
sebagai aturan propagasi (propagation rule).
Sebuah neuron menerima sinyal dari setiap sinapsis dengan menjumlahkan
semua aktivitasnya. Kemudian
neuron akan
melepaskan sinyal dan
mengirimkan pesan
pada
setiap
neuron
melalui
keluaran sinapsis.
Fungsi
dari
neuron
dapat
dimodelkan
sebagai suatu fungsi sederhana threshold f(x)
yang lebih dikenal sebagai fungsi aktivasi
(activation function). (lihat gambar 2.6.)
Gambar 2.6. Artificial Neuron
2.6.3. Pengertian Jaringan Syaraf
Tiruan
Jaringan
syaraf
tiruan
adalah
suatu
paradigma dari
proses
informasi
yang
terinspirasi oleh sistem biologis manusia contohnya seperti otak manusia yang fungsinya
memroses informasi. Kunci
utama dari paradigma pemrosesan
informasi terletak pada
|
|
18
struktur dari sistem pemrosesan informasi. Struktur pemrosesan informasi dibangun dari
sejumlah
besar
elemen-elemen pemrosesan
yang
saling
terkoneksi
yang
dinamakan
neuron
yang
bekerja
dalam
satu
kesatuan
untuk
memecahkan
masalah-masalah yang
spesifik. Jaringan syaraf tiruan seperti halnya manusia, belajar dari
pengalaman dalam
memecahkan
masalah.
Suatu
jaringan
syaraf
tiruan
dikonfigurasikan untuk
sebuah
aplikasi
yang
spesifik,
contohnya dalam
pengenalan pola
(Pattern
recognition)
atau
pengelompokan data (Data
classification) melalui suatu proses pembelajaran (Learning
process).
Beberapa
definisi
yang
dikemukakan oleh
beberapa
pakar
mengenai
jaringan
syaraf tiruan.
a.
DARPA Neural Network Study (1988, AFCEA International Press, p.60)
Jaringan syaraf
tiruan
adalah
suatu sistem
yang
dibentuk
dari elemen-elemen
pemrosesan
yang
sederhana yang
bekerja
dalam
sistem
paralel
di
mana
fungsinya
diarahkan oleh struktur dari jaringan, kekuatan koneksi jaringan, dan pemrosesan terjadi
pada elemen atau node yang terkomputasi.
b.
Menurut
Haykin, S.
(1994),
Neural Networks :
A
Comprehensive Foundation,
NY: Macmillan, p.2
Suatu
jaringan
syaraf
tiruan
adalah
processor
yang
terdistribusi paralel
yang
mempunyai
kemampuan
alamiah
untuk
penyimpanan
pengetahuan
eksperimental dan
membuatnya dapat digunakan. Hal ini menyerupai otak manusia dalam :
1.
Pengetahuan diperlukan oleh jaringan melalui sekumpulan proses pembelajaran.
2.
Kekuatan koneksi antar
neuron
yang dikenal sebagai bobot sinapsis digunakan
untuk penyimpanan pengetahuan.
|
|
19
2.6.4. Sejarah Jaringan Saraf
Tiruan
Perkembangan ilmu jaringan syaraf tiruan ini, dimulai sekitar 50 tahun yang lalu,
dimotivasi
oleh
usaha
untuk
mengetahui susunan
jaringan
syaraf
otak
manusia
dan
bagaimana kemampuan dari
jaringan syaraf ini bekerja. Sejarah perkembangan jaringan
syaraf tiruan dapat dilihat di bawah ini :
Warren McCulloch dan Walter Pitts (1943)
Mengembangkan model
suatu
jaringan
syaraf
tiruan
yang
didasari pengetahuannya
tentang
ilmu
syaraf
(neurology). Model-model ini
menghasilkan beberapa asumsi
mengenai bagaimana cara kerja
neuron-neuron bekerja. Jaringan
syaraf
tiruan
yang
dibuat dengan dasar neuron yang sederhana yang dikenal binary devices.
Donald Hebb (1949)
Mengusulkan mekanisme untuk pembelajaran (learning) pada biological neuron.
Farley dan Clark (1954); Rochester, Holland, Haibit dan Duda (1956)
Grup pertama dalam peneliti IBM mengemukakan bahwa ilmu syaraf (neuroscience)
tidak
terlalu
berperan
dalam
pengembangan jaringan
syaraf
tiruan,
akan
tetapi
psychologists dan engineers juga berpengaruh pada simulasi jaringan syaraf tiruan.
Frank Rosenblatt (1958)
Penemuan jaringan perceptron dan aturan pembelajaran (learning
rule).
Perceptron
yang dikembangkan
mempunyai
3
layer dengan
layer
tengah
(middle layer)
yang
dikenal
sebagai
lapisan asosiatif (association
layer). Sistem
ini dapat belajar untuk
berhubungan atau asosiatif input yang diberikan pada suatu unit output yang acak.
Bernard Widrow dan Ted Hoff (1960)
|
|
20
Memperkenalkan sistem ADALINE (Adaptive Linear
Element)
yaitu peralatan
elektronik analog yang dibangun dari komponen-komponen sederhana. Metode yang
digunakan
untuk pembelajaran berbeda
dengan
perceptron,
akan
tetapi
diterapkan
aturan pembelajaran Least-Mean-Squares (LMS).
Marvin Minsky dan Seymour Papert (1969)
Mengemukakan batasan-batasan pada
jaringan
yang
diusulkan
Rosenblatt
dan
Widrow
yaitu pada kemampuan terbatas dari
perceptron
lapis tunggal pada sistem-
sistem yang banyak lapisan (multilateres systems).
Teuvo Kohonen dan James Anderson (1972)
Secara
terpisah
keduanya
mengembangkan jaringan
syaraf
yang
dapat
berfungsi
sebagai memori.
A. Henry Klopf (1972)
Mengembangkan dasar
pembelajaran
dalam
artigicial
neurons
yang berbasiskan
pada prinsip biologi untuk pembelajaran neuronal
yang dinamakan heterostatis.
Paul Werbos (1974)
Mengembangkan dan
menggunakan
metode
pembelajaran
back
propagation
yang
menggunakan perceptron dengan lapisan multilayer.
John Hopfield (1982)
Penggunaan statistical
mechanic untuk menjelaskan operasi kelas tertentu dari
recurrent
network yang digunakan sebagai associative network.
David Rumelhart dan James McClelland (1986)
Penemuan algoritma back propagation
untuk melatih jaringan perceptron multilayer.
Stephen Grossberg dan Gail Carpenter (1988)
|
|
21
Mengembangkan jaringan ART (Adaptive Resonance Theory) dalam penelitian self
organizing network.
Herman von Helmholtz, Ernst Mach dan Ivan Pavlov (akhir abad 19 dan awal abad
20)
Mengenalkan
teori
umum
mengenai
learning, vision, conditioning
dan
lain-lain.
Akan tetapi belum ada model matematis dari model neuron.
2.6.5. Kemampuan Jaringan
Saraf
Tiruan
Jaringan syaraf tiruan dengan kemampuannya untuk mengartikan data-data yang
kompleks dapat juga digunakan
untuk mengekstraksi pola dan mendeteksi bagian yang
sangat
kompleks yang
tidak
mungkin
terdeteksi oleh
manusia
ataupun
teknik-teknik
komputer lainnya. Jaringan
syaraf tiruan
yang telah dilatih dapat disebut sebagai suatu
expert dalam
kategori
informasi
yang
diberikan
untuk
dianalisis. Sistem expert
ini
kemudian
dapat
digunakan
pula
untuk
menyediakan
perkiraan-perkiraan pemecahan
masalah menurut situasi dan input masalah yang diberikan.
Jaringan
syaraf tiruan
melakukan proses
informasi dalam cara yang sama
yang
dilakukan
oleh
otak
manusia.
Jaringan
mengkomposisikan sejumlah
besar
elemen-
elemen
pemroses
yang
terinterkoneksi tinggi
(neuron)
bekerja
secara
paralel
untuk
memecahkan masalah yang
spesifik. Jaringan syaraf
tiruan belajar dari contoh-contoh.
Mereka tidak
dapat
diprogram
untuk menyelesaikan task
yang spesifik. Contoh-contoh
harus diseleksi secara hati-hati sehingga
menyebabkan ketidakefisienan waktu
ataupun
jaringan tidak
berfungsi secara benar.
Kekurangan dari
jaringan ini
yaitu
jika
jaringan
tidak menemukan pemecahan masalah maka operasinya akan tidak dapat terprediksikan.
Sifat sifat dasar dari jaringan syaraf tiruan antara lain :
|
|
22
a. Memiliki masukan yang dapat lebih dari satu, akan tetapi dapat memiliki
keluaran satu dari setiap elemen.
b. Dapat
menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi baik input,
output, jenis jaringan, jumlah lapisan, jumlah neuron dan lainnya.
c. Memiliki
kemampuan
yang dapat
melakukan
proses pembelajaran berdasarkan
contoh-contoh yang diberikan.
Kemampuan dari jaringan syaraf tiruan lainnya meliputi :
1. Adaptive
learning
:
Suatu
kemampuan
untuk
belajar
bagaimana
mengerjakan
suatu task berdasarkan data-data yang diberikan untuk pelatihan atau pengalaman
initial.
2.
Self-Organisation :
Suatu
jaringan
syaraf
tiruan
dapat
membuat
organisasinya
sendiri
atau
merepresentasikan informasi
yang
diterima
seiring
dengan
waktu
pembelajarannya.
3. Real
Time Operation : Komputasi dari jaringan
syaraf
tiruan dapat dijalankan
secara
paralel
dan
peralatan
hardware spesial
telah didisain dan dimanufaktur
dengan mengambil keuntungan dari kemampuan ini.
4. Fault Tolerance via Redundant Information Coding : Destruksi parsial dari suatu
jaringan
menentukan
degradasi
dari
performance.
Bagaimanapun kemampuan
beberapa jaringan mungkin dijaga meskipun dengan kerusakan jaringan utama.
2.6.6. Arsitektur Jaringan Syaraf
Tiruan
a.
Feed-Forward (associative) Networks
Jaringan syaraf tiruan feed-forward mengijinkan sinyal untuk berjalan pada satu
jalur saja yaitu dari input ke output. Tidak ada feedback atau loop sehingga output dari
|
![]() 23
layer
lain tidak
mempengaruhi
layer
yang
sama.
Feed
forward
jaringan
syaraf
tiruan
hanya
memungkinkan jaringan
forward
dari
input
ke
output.
Biasanya
jaringan
ini
digunakan pada pengenalan pola (pattern recognition). (lihat gambar 2.7.)
Gambar 2.7. Simple Feed forward Network
b.
Feedback (autoassociative) Networks
Jaringan
syaraf
tiruan
jenis
feedback dapat
mempunyai
sinyal-sinyal
yang
berjalan
dalam
2
arah
dengan
mengenalkan adanya perulangan (loops)
pada
jaringan.
Jaringan
syaraf
tiruan
jenis
feedback
mempunyai
kemampuan yang besar dan
dapat
menjadi
jaringan yang kompleks. Jaringan syaraf tiruan jenis feedback bersifat dinamis
karena state pada jaringan akan berubah secara berkelanjutan sampai jaringan tersebut
mencapai
suatu
target/
nilai
yang
diinginkan. Suatu state
akan
berada
pada
nilai
yang
diinginkan sampai
masukan (input) pada
jaringan berubah
maka suatu
nilai yang baru
harus ditemukan. (lihat gambar 2.8.)
|
![]() 24
Gambar 2.8. Complicated Network
2.6.7. Network
layer
Tipe yang paling umum dari jaringan syaraf tiruan terdiri dari 3
grup atau layer
atau
unit
:
sebuah
layer
dari
unit
Input
terkoneksi dengan
sebuah
layer
dari
unit
Hidden di mana terkoneksi pada sebuah layer dari unit Output. (lihat gambar 2.8.)
Aktivitas pada input
unit
merepresentasikan informasi yang
masih
mentah
yang
dimasukkan
pada jaringan.
Aktivitas dari
setiap
hidden
unit
ditentukan
oleh
aktivitas
dari input unit dan bobot dari koneksi antara input unit dengan hidden unit. Sedangkan
sifat dari output unit bergantung pada aktivitas dari hidden unit dan bobot dari koneksi
antara hidden unit dengan output unit.
Tipe
sederhana dari
jaringan
syaraf
tiruan
sangat
menarik karena
hidden
unit
mempunyai
kewenangan
bebas
untuk
merekonstruksi suatu
representasi
terhadap
masukan
(input) pada jaringan. Bobot antara
input
unit dengan
hidden
unit ditentukan
ketika setiap hidden unit tersebut aktif dan kemudian dengan memodifikasi
bobot
tersebut
maka
sebuah
hidden
unit
dapat
memilih
bagaimana unit
tersebut
direpresentasikan pada jaringan syaraf tiruan.
|
|
25
Pada organisasi layer tunggal di mana semua unit-unitnya terkoneksi satu dengan
yang
lain
dapat diaplikasikan pada
kasus-kasus
umum dan
lebih
mempunyai kekuatan
komputasi
yang potensial dibandingkan dengan organisasi
multi-layer yang terstruktur
hirarki. Pada jaringan
yang
multi-layer unit-unit
seringkali diberi
nomor
sesuai dengan
layernya yang dapat diikuti sebagai global numbering.
2.6.8. Metode Pelatihan Jaringan Syaraf
Tiruan
Salah satu karakteristik paling penting yang dapat
membedakan jaringan syaraf
yang
satu dengan
yang
lainnya
adalah
metode
dari penentuan
nilai
bobot
(pelatihan).
Metode pelatihan jaringan dibagi menjadi 2 ,yaitu:
a.
Metode pelatihan dengan pengawasan (Supervised Learning)
Metode
pembelajaran atau
pelatihan
yang
dilakukan
dengan
menghadirkan
sejumlah vektor pelatihan atau pola. Metode pelatihan ini dilakukan dengan memberikan
pasangan nilai masukan dan nilai keluaran atau target yang ingin dicapai. Bobot koneksi
akan
disesuaikan
berdasarkan
algoritma
pembelajaran sampai
jaringan
mampu
menghasilkan nilai
keluaran
yang
mendekati
atau
sama
dengan
nilai
keluaran
yang
dinginkan.
Bobot
koneksi
ini
dapat
disesuaikan dengan
mengatur
algoritma
pelatihannya.
Tujuan
dari penyesuaian
bobot koneksi
ini untuk membantu
jaringan
syaraf tiruan
yang dibuat mampu
menghasilkan nilai keluaran yang sesuai dengan nilai
keluaran yang diharapkan sehingga perbedaan menjadi seminimal mungkin.
b.
Metode pelatihan dengan tanpa pengawasan (Unsupervised Learning)
Pada metode unsupervised learning, jaringan syaraf tiruan akan mengelompokan
input
vektor
yang
mempunyai
kemiripan
tanpa
menggunakan data
pelatihan
untuk
menspesifikasikan
seperti
apa
tipe
anggota
dari
setiap
kelompok
atau
ke
kelompok
|
|
26
manakah setiap
vektor
sesuai.
Sejumlah vektor
input
pola
diberikan tetapi
tanpa
menyertakan vektor output target yang ingin dicapai. Jaringan akan memodifikasi bobot
sehingga
hanya
ada
vektor
input
yang
paling
banyak
memiliki
kemiripan saja
yang
dipasangkan dengan
pola
vektor
output
yang
sama.
Jaringan
syaraf
tiruan
akan
menghasilkan representasi vektor untuk setiap cluster yang terbentuk.
Contoh dari model pembelajaran unsupervised learning
ini adalah Kohonen self
organizing
maps
dan
Adaptive
Resonance
Theory.
Unsupervised
learning
juga dapat
digunakan untuk melakukan clustering.
c. Fixed-weight Nets
Tipe
pembelajaran
lainnya
dapat
dipergunakan untuk
menyelesaikan masalah
optimasi constraint.
Tetapi
metode
Fixed-weight Nets dapat
bekerja
lebih
baik
dalam
menyelesaikan masalah yang menyebabkan terjadinya kesukaran jika dikerjakan dengan
teknik
tradisional,
seperti
masalah
constraint
yang konflik
(dengan
kata lain, tidak
semua
constraint
dapat dipenuhi secara bersamaan). Ketika
jaringan
tersebut didesain,
bobot-bobot
disiapkan
agar
dapat
mempresentasikan constraint
dan
kualitas
untuk
dimaksimalkan atau diminimalkan.
Contoh
dari
metode
pembelajaran
Fixed-weight Nets
ini
adalah
Boltzman
machine
dan
Continous
Hopfield Net,
Keduanya
dapat
dipergunakan
dalam
menyelesaikan masalah
optimasi
constraint. Selain
itu
metode
ini
dipergunakan
juga
dalam jaringan contrast-enhancing.
2.6.9. Fungsi
aktivasi
(Transfer
Funtion)
Operasi
dasar
dari
suatu
neuron artificial
menyangkut
masalah
penjumlahan
setiap input yang telah diberi bobot dan menghasilkan output dengan menerapkan suatu
|
![]() 27
fungsi pengaktifan atau transfer
function. Pada
umumnya, setiap neuron dalam jaringan
syaraf
tiruan
menggunakan
transfer
function yang
sama.
Dengan
tujuan
untuk
memperoleh keuntungan yang dimiliki oleh jaringan multilayer jika dibandingkan
dengan
jaringan
single-layer,
fungsi
nonlinier
dibutuhkan.
Hal
ini
disebabkan
karena
hasil
dari
feeding signal
melalui
satu
atau
lebih
layer
dengan elemen
pengolah
linier,
tidak akan berbeda dengan apa yang dapat diperoleh jika menggunakan single layer.
Beberapa contoh fungsi aktivasi (transfer function) :
a. Identity Function
f(x) = x , untuk semua x
.. (2.1)
b. Binary Step Function (dengan threshold
)
Jaringan
single-layer
sering
menggunakan step
function
untuk
memodifikasi
input
yang masuk (yang merupakan variabel bernilai kontiniu) ke unit output yang merupakan
sinyal biner (1 atau 0) atau bipolar (1 atau -1). Binary step function dikenal juga dengan
sebutan fungsi threshold atau fungsi heavyside.
1, x
0
f
(
x)
0, x
0
.. (2.2)
c.
Binary Sigmoid
Fungsi
binary
sigmoid merupakan
fungsi
aktifasi
yang
sangat
berguna.
Fungsi
logaritma dan
fungsi
tangen
hiperbola adalah fungsi
yang
paling
sering
dipergunakan.
Kedua
fungsi
tersebut sangat berguna
jika
dipergunakan dalam
melatih jaringan syaraf
tiruan
dengan
teknik
backpropagation,
karena
hubungan
sederhana
antara
nilai
dari
fungsi pada sutau titik dan nilai dari turunan fungsi pada titik tersebut akan mengurangi
halangan komputasi selama pelatihan.
|
![]() 28
Fungsi
logaritma adalah
fungsi sigmoid dengan
nilai 0 dan 1, sering dipergunakan
sebagai fungsi aktifasi untuk jaringan syaraf tiruan di mana nilai output yang diinginkan
berupa biner atau dalam
interval 0
dan 1.
Fungsi
tersebut
juga dikenal dengan
nama
binary sigmoid atau juga logistic sigmoid.
f
(
x)
1
1
e
(
. x
)
.. (2.3)
f
'
(
x)
f ( x)1
. f ( x)1
f
(
x)
d.
Bipolar Sigmoid
Fungsi
binary
sigmoid dapat
diskalakan
agar
memiliki range
nilai
yang
sesuai
dengan
masalah
tertentu.
Range
yang
paling
sering
dipergunakan antara
-1
dan
1.
Sigmoid jenis ini disebut dengan nama bipolar sigmoid.
g
(
x)
2. f ( x)
1
2
1
1
e
(
.
x
)
1
e
(
.
x
)
g x)
' x)
.
1
g ( x)
.
1
g ( x)
2
1
e
(
.
x
)
..
(2.4)
Fungsi bipolar sigmoid terkait erat dengan fungsi tangen hiperbola yang sering
dipergunakan sebagai fungsi aktifasi ketika range nilai output yang diinginkan antara -1
dan 1. Fungsi tangen hiperbola tersebut adalah :
h( x)
e
(
x
)
e
(
x
)
e
(
x
)
e
(
x )
1
e
(
2
x
)
1
e
(
2
x
)
.. (2.5)
Turunan dari tangen hiperbola adalah :
h' ( x)
1
h( x)
.
1
h( x)
.. (2.6)
Untuk data
biner
biasanya
akan
lebih
baik
jika
dikonversi
ke
dalam
bentuk
bipolar kemudian menggunakan fungsi bipolar sigmoid dan tangen hiperbola.
2.6.10. Algoritma
Propagasi
Balik (Backpropagation Algorithm)
|
|
29
Menurut
Fausett
(1994,
pp
289-330),
pelatihan jaringan
syaraf
tiruan
dengan
mempergunakan
backpropagation
melibatkan
3
tahap
:
feedforward
dari
setiap
pola
untuk
input pelatihan,
perhitungan
dan backpropagation terhadap
error
(kesalahan)
yang
terjadi
dan
perbaikan
bobot
(weight).
Setelah
pelatihan,
jaringan
syaraf
tiruan
dalam suatu aplikasi hanya memerlukan tahapan feedforward.
Jaringan propagasi balik mempunyai ciri tersendiri dengan tiga bagian layer yang
dimilikinya, yaitu :
a.
Input
layer,
berisi
node-node
input
masukan
dari
vektor
data
masukan
yang
diiterasikan satu putaran
pelatihan
(1
epochs)
tercapai
jika
semua
data
latihan
telah masuk secara bergantian dalam layer input.
b.
Hidden layer, nilai dari
layer
ini bergantung dari
fungsi aktifasi yang digunakan
dengan variabel jumlah dari perkalian antara tiap node
input
layer dan
jaringan
penghubungnya. Fungsi
utama
dari
hidden
layer
ini adalah sebagai
variabel
di
tengah
yang akan mengubah
nilai bobot (weight) yang ada di sebelahnya
pada
saat terjadi proses propagasi. Proses propagasi tersebut akan mengubah nilai tiap
node
pada
hidden
layer
yang
akan
digunakan untuk
meng-update
nilai bobot
(weight). Tidak
ada
ketentuan
khusus
mengenai
jumlah
hidden
layer
dan
banyaknya
node di tiap
hidden
layer
tetapi analoginya semakin banyak
layer
dapat berakibat makin lama perhitungan karena membutuhkan sumber daya yang
besar. Pada beberapa penelitian membuktikan bahwa jumlah layer lebih dari satu
dapat bekerja lebih optimal.
c.
Output
layer, layer ini
merupakan layer
yang
memproyeksikan hasil yang akan
didapat setelah proses
pelatihan, nilai keluaran pada layer
ini adalah hasil
yang
direspon oleh jaringan syaraf tiruan atas vektor masukan yang diberikan.
|
|
30
Melatih jaringan dengan
mempergunakan backpropagation
melibatkan 3 tahap
:
feedforward
dari
setiap
pola
untuk
input
pelatihan,
perhitungan dan
backpropagation
terhadap error (kesalahan) yang terjadi dan perbaikan bobot (weight).
Cara kerja algoritma propagasi balik secara garis besar adalah sebagai berikut :
1. Ambil pasangan pola input dan output dari setiap data.
2. Melakukan perhitungan mencari nilai aktifasi fungsi pembentuk hidden layer.
3.
Lakukan
perbandingan antara output
yang
diperoleh
dengan
output
yang
ditargetkan.
4. Jika melampaui toleransi kesalahan, maka lakukan proses backpropagation
untuk mengubah nilai jaringan penghubung.
5.
Lakukan
terus
menerus
hingga
kesalahan sistem
yang
didapat
mendekati
toleransi kesalahan.
2.6.10.1. Nomenkaltur
Nomenkaltur yang dipergunakan
dalam
algoritma
pelatihan
untuk jaringan
backpropagation adalah sebagai berikut :
X
in_i = Sinyal masukan pada lapisan masukan
Z
in_j = Sinyal masukan pada lapisan dalam
Y
in_k = Sinyal masukan pada lapisan keluaran
X
out_i = Sinyal keluaran pada lapisan masukan
Z
out_j = Sinyal keluaran pada lapisan dalam
Y
out_k = Sinyal keluaran pada lapisan keluaran
Tk = Nilai yang diharapkan (Output target vektor)
|
|
31
Xi
=
Elemen pada lapisan masukan (Input unit)
Zj
=
Elemen pada lapisan dalam (Hidden unit)
Yk
=
Elemen pada lapisan keluaran (Output unit)
a
=
Kecepatan pelatihan (Learning rate)
Vij
=
Bobot koneksi antara elemen pada lapisan masukan dengan lapisan dalam
Wjk
=
Bobot koneksi antara elemen pada lapisan dalam dengan lapisan keluaran
Voj
=
Bobot
bias
antara
elemen
pada
lapisan
masukan dengan
lapisan
dalam
dengan Xi = 1
Wok
=
Bobot
bias
antara
elemen
pada
lapisan
dalam
dengan
lapisan
keluaran
dengan Zj = 1
dk
=
Faktor kesalahan dari Yk ke Zj (lapisan keluaran terhadap lapisan dalam)
dj
=
Faktor kesalahan dari Zj ke Xi (lapisan dalam terhadap lapisan masukan)
Proses yang terjadi pada setiap elemen :
Jumlah seluruh perkalian antara bobot koneksi dengan sinyal masukan
ditambahkan dengan bobot bias yang masuk pada setiap elemen.
Dimisalkan untuk lapisan dalam :
Untuk sinyal masukan pada elemen Zj :
Z
in_j = Voj + S Xi.Vij
.. (2.7)
Untuk sinyal keluaran pada elemen Zj :
Z
out_j = (Z in_j)
.. (2.8)
Setiap keluaran dari satu elemen pada lapisan yang satu menjadi masukan pada
elemen pada lapisan yang berikutnya.
|
![]() 32
Ada beberapa
karakteristik
penting
yang harus dimiliki
oleh fungsi aktivasi
untuk jaringan yang menggunakan backpropagation
:
bersifat kontinu, dapat diturunkan
dan
monotonik
nondecreasing.
Salah
satu
fungsi
aktivasi
yang
paling
sesuai
adalah
fungsi aktivasi pada setiap elemen dengan persamaan Binary Sigmoid Function dengan
range (0,1) dan didefinisikan sebagai berikut : (Laurence Fausett pp.293)
(x) = 1 / (1 + exp (-x))
(lihat gambar 2.9. (a))
dan persamaan turunannya menjadi
(x) = (x) [1 (x)]
(lihat gambar 2.9. (b))
( a )
( b )
f(x)
f (x)
Gambar 2.9. Grafik Persamaan
Binary Sigmoid Function
Dalam
algoritma
pelatihan
ini diperlukan
fungsi kesalahan
yang
digunakan
untuk meminimalkan jumlah kuadrat kesalahan yang terjadi.:
Pada lapisan keluaran (output unit) :
|
![]() 33
0.5
t
y
j
i
k
E
0.5
(Tk
Yk )
2
E
Wjk
E
2
Wjk
k
k
2
Wjk
Wjk
0.5
t
k
f
(
y
_
in
k
)
.
.(2.9) :
E
Wjk
t
y
k
' ( y _ in
f ' ( y _ in
k
) _ out
z _ out
j
Dengan faktor kesalahan dk :
k
2
t
k
y
k
' ( y _ in
f ' ( y _ in
k
)
.. (2.10)
Pada lapisan dalam (hidden unit) :
E
Vij
t
k
y
k
y
Vij
k
(2.11)
E
Vij
t
k
y
k
f
'
(
y
_ n
in
k
)
Vij
y
_
in
k
E
Vij
k
Vij
y
_
in
k
E
Vij
E
k
Wjk
z
Vij
j
f ' (
z
_
in
)
x
(Wjk )
Vij
Dengan faktor kesalahan dj:
j
f
'
(
z
_
in
j
)
k
(Wjk )
.. (2.12)
Sehingga terjadi perubahan pada bobot koneksi:
Wjk (baru)
Wjk (lama)
Wjk
Wjk (baru)
Wjk (lama)
.
k
.z _ out
j
Vij(baru)
Vij(lama)
Vij
Vij(baru)
Vij(lama)
.
j
.x
i
..
(2.13)
|
|
34
2.6.10.2. Algoritma
Pelatihan
Untuk pelatihan propagasi balik diperlukan beberapa langkah sebagai berikut:
Step 0
Inisialisasi bobot-bobot koneksi dan bias, dilakukan secara acak.
Step 1
Jika kondisi berhenti =
false
(salah),
lakukan
langkah 2-9, namun jika kondisi
benar, pelatihan dihentikan.
Step 2
Untuk setiap pasangan pelatihan, lakukan langkah 3 8.
Fase umpan maju (Feedforward):
Step 3
Setiap unit input (Xi, i=1, ... , n) menerima signal input dan menyebarkan signal
tersebut ke seluruh unit pada layer di atasnya (unit-unit hidden unit Zj).
Step 4
Setiap unit hidden layer (Zj, j=1, ... , p) akan menjumlahkan semua signal input
yang telah terboboti yang masuk kepadanya.
Z_in
j
=
V
0j
+
X
i
. V
ij
Pergunakan fungsi aktivasinya untuk menghitung signal outputnya,
Z
out_J =
(Z_in
j
)
Dan kirimkan
signal
tersebut
ke seluruh
unit
pada
layer
di
atasnya
(unit-unit
output).
Step 5
Setiap unit output layer (Y
k
,
k=1, ... , n) akan menghitung seluruh signal input
yang telah terboboti yang masuk kepadanya.
Y_in
k
=
W
0k
+
Z
j
. W
jk
Pergunakan fungsi aktivasinya untuk menghitung signal outputnya,
Y
out_k =
(Y_in
k
)
|
![]() 35
Backpropagation untuk kesalahan (error):
Step 6
Setiap
unit
output
(Y
k
,
k=1,
...
,
n)
menerima
pola
target
yang
berhubungan
dengan pola pelatihan input, hitung kesalahan informasi yang terjadi.
k
=
(t
k
-
Yout_k)
( Y_in
k
)
Hitung perbaikan bobotnya (akan dipergunakan untuk perbaikan bobot W
jk
nantinya),
W
jk
=
.
k
. Z
j
Hitung
perbaikan
biasnya
(akan
dipergunakan
untuk perbaikan
bias
W
ok
nantinya),
W
ok
=
.
k
Dan kirimkan
k
ke unit-unit pada layer di bawahnya hidden unit.
Step 7
Setiap unit hidden layer (zj, j=1, ... , p) jumlahkan input-input deltanya (dari unit-
unit di layer di atasnya),
_in
j
=
k
.
W
jk
Kalikan
dengan turunan
dari
fungsi aktivasinya
untuk
menghitung
kesalahan
informasi.
j
=
_in
j
.
(Zin_j)
Hitung perbaikan bobotnya (akan dipergunakan untuk perbaikan bobot W
jk
nantinya),
V
ij
=
.
j
. X
i
Hitung
perbaikan
biasnya
(akan
dipergunakan
untuk perbaikan
bias
W
ok
nantinya),
V
oj
=
.
j
|
![]() 36
Perbaikan bobot-bobot dan bias :
Step 8
Setiap unit output (Y
k
,
k=1, ... , n) akan diperbaiki bias dan bobot-bobotnya (j=0,
... ,p),
W
jk
(baru) = W
jk
(lama) +
W
jk
Setiap unit hidden layer (Z
j
,
j=1, ... , p) akan diperbaiki bias dan bobot-bobotnya
(i=0, ..., n),
V
ij
(baru) = V
ij
(lama) +
V
ij
Step 9 Tes terhadap kondisi berhenti. (kembali kelangkah nomor 1)
2.7.
Parallel Port
Paralel
port
adalah
sebuah
antar
muka
yang
mendukung
transmisi
data
dalam
bentuk bit
secara
bersamaan
(paralel).
Port
ini
biasanya
dihubungkan dengan
sebuah
printer,
namun
tidak
jarang juga
digunakan dalam
komunikasi
data dengan
perangkat
lain. Parallel
port
sering
disebut
sebagai
DB 25
yang dikarenakan
terdiri dari 25 pin
kaki pada portnya. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
|
![]() 37
Gambar 2.10. Parallel
Port
Pengalamatan pada
DB
25
atau
parallel
port
dikembangkan
karena
adanya
keinginan mengirimkan data lebih cepat (8 bit) dari serial port (RS 232), di mana serial
port
hanya
mengirimkan data
1
bit persatu
proses. Paralel port
merupakan port
yang
paling banyak digunakan dalam komunikasi terutama dengan printer.
Parallel
port terdiri
dari
25 pin
dimana
dibagi
menjadi
beberapa
fungsi:
(lihat
gambar 2.10.)
a.
Pin data, berjumlah 8 buah yang dimulai dari pin 2-9 yang berwarna biru. Pin ini
berfungsi untuk mengirimkan data sebesar 8 bit secara bersamaan pada satu kali
proses. Bit yang dikirimkan berbentuk binary (1 dan 0) di mana bila bit bernilai
1
tegangan sebesar 5
volt dikirimkan ke pin yang sesuai dan bila bit bernilai 0
tidak
akan
menimbulkan
tegangan
apa-apa.
Pengiriman
data
melalui
parallel
port
merupakan cara
yang paling
mudah
untuk
mengirimkan
informasi
digital
karena
kecepatan pengiriman dapat
mencapai
50
sampai
100
kilobyte
data
permenit.
b.
Pin status, berjumlah 5 buah
yang dimulai dari pin 10, 11, 12, 13 dan 15
yang
berwarna merah. Pin ini berfungsi untuk mengirimkan informasi mengenai status
dari
sebuah
alat
yang
terhubung
dengan
port paralel.
Pin
status
mempunyai
|
|
38
tegangan sebesar 2,8 - 5 volt dan akan turun menjadi dibawah 0,5
volt apabila
terjadi proses pengiriman data.
c.
Pin
control, berjumlah 4 buah yang terdiri dari pin 1, 14, 16, 17 yang berwarna
biru.
Pin
ini
berfungsi
mengatur proses
perpindahan bit. Seperti
pin status,
pin
kontrol juga mempunyai tegangan bernilai 5 volt dan akan menjadi turun sebesar
0,5 volt bila terjadi pengiriman bit.
d.
Pin
grounde, berjumlah 8 buah
yang dimulai dengan pin 18-25 yang berwarna
hijau. Pin
ini berfungsi sebagai pemberi signal referensi
untuk tegangan rendah
(dibawah 0,5 volt).
2.8.
MATLAB
MATLAB
adalah
bahasa
pemrograman yang
berbasiskan matriks
yang
komputasinya terintergrasi,
mempunyai
kemampuan
visualisasi
yang
baik
dan
mempunyai aplikasi
antar
muka
(Graphical
User
Interface)
yang
mudah
dimengerti.
Perintah-perintah
MATLAB dinotasikan dalam bentuk
notasi
matematika, oleh
karena
itu banyak orang melihat MATLAB sebagai sebuah kalkulator tingkat tinggi yang dapat
diprogram
dan
dapat
menyelesaikan permasalahan khusus
dengan
fungsi
khusus
yang
terintergrasi dalam toolbox.
Nama
MATLAB
merupakan singkatan
dari
matrix
laboratory.
MATLAB
diciptakan
untuk
menyediakan akses
yang
mudah
bagi
software
matrix
yang
dikembangkan oleh
LINPACK
dan
EISPACK.
Saat
ini,
MATLAB
mengunakan
perkembangan software
oleh
LAPACK dan
ARPACK,
yang
bergabung
menghasilkan
sebuah
komputasi
matrix
yang
revolusioner. MATLAB
biasanya
digunakan
untuk
matematika
dan komputasi,
perkembangan
algoritma,
modeling,
simulasi,
prototipe,
|
|
39
analisis data, visualisasi, grafik dan antarmuka grafis. MATLAB yang digunakan pada
penelitian ini mengunakan MATLAB ver 6.0.1
Sistem MATLAB terdiri dari 5 bagian :
a.
Development Environment
ini merupakan beberapa alat bantu dan fasilitas yang
membantu kita
melihat
fungsi
MATLAB.
Banyak
dari
alat
bantu
ini
adalah
sebuah antarmuka grafis (GUI). Ini
termasuk MATLAB dekstop dan Command
window, Command history, dan pencari
untuk menampilkan
menu
help,
tempat
kerja, files dan search path.
b.
The
MATLAB Mathematical Function Library.
Ini
merupakan kumpulan
algoritma
komputasi dimulai
dari
perintah dasar
seperti
perintah
tambah
(+),
sinus, kosinus
dan
arimatika
kompleks.
untuk perintah
yang
lebih
sulit
seperti
inverse matrix, matrix eigenvalues, fungsi bessel, dan fast fourier transform.
c.
The MATLAB
Language. Ini adalah sebuah matrix tingkat tinggi dengan
statement
aliran
kontrol,
fungsi,
struktur
data,
masukan
/
keluaran, dan
pemograman
berdasarkan
objek.
Bagian
ini
memperbolehkan membuat
suatu
program yang kecil
dan
sederhana atau suatu aplikasi program yang besar dan
komplek.
d.
Handle Graphics®. Ini adalah grafik sistem MATLAB. Termasuk didalamnya
perintah
tingkat
tinggi
untuk
visualisasi data
dua
dimensi
atau
tiga
dimensi,
pengolahan citra, animasi dan presentasi grafik. Ini juga termasuk perintah
tingkat
rendah yang
memperbolehkan dalam
mengubah
penampilan
dari
grafik
seperti membuat antar muka (GUI) pada aplikasi MATLAB.
|
|
40
e.
The MATLAB Application Program
Interface (API).
Ini adalah
sebuah
perpustakaan yang memperbolehkan dalam menulis program C atau Fotran yang
akan
berinteraksi dengan
MATLAB.
Ini
termasuk
fasilitas
untuk
memanggil
Routine (sambungan dynamic), memanggil MATLAB sebagai mesin komputasi,
dan untuk membaca dan menulis file MATLAB.
|