Home Start Back Next End
  
44
2.2 Kerangka Pemikiran
Syarat
pendahuluan
dari
sistem MRP
adalah
pengumpulan
data
yang
menjadi
masukkan dari MRP tersebut. Diantaranya adalah data kebutuhan kotor yang
digunakan
sebagai
jadwal
induk
produksi,
bill
of material
(BOM),
dan
inventory
Master
File
(IMF).
Data
kebutuhan
kotor
didapat dari data produksi. Sebelum
dilakukan
peramalan, data
produksi di uji keseragamannya, apakah
data
yang ada
seragam atau
tidak, kemudian dilakukan
uji kecukupan dengan
menggunakan
tingkat
kepercayaan  dan  tingkat  ketelitian  sehingga  diketahui  apakah  data  yang  tersedia
cukup untuk tingkat kepercayaan dan tingkat ketelitian yang ditentukan, setelah itu
dilakukan
pula
uji
kenormalan
untuk
mengetahui apakah data yang ada berdistribusi
normal. Peramalan dilakukan dengan tiga metode, dimana hasil dari ketiga metode itu
akan dipilih satu metode dengan nilai U terkecil, untuk selanjutnya digunakan sebagai
data kebutuhan kotor.
Dalam menyusun MRP, terdapat
langkah –
langkah yang
harus dilakukan, antara
lain
(1)
Netting, dimana
akan
ditetapkan
jumlah
kebutuhan
bersih
yang
besarnya
merupakan selisih antara kebutuhan kotor dengan keadaan persediaan. (2)
Lotting,
dalam
penentuan
ukuran
lot dilakukan
dengan
beberapa
metode,
dimana
biaya
minimum
(biaya pesan dan biaya simpan) dari metode tersebut akan diambil sebagai
usulan persediaan di PT Bambu Jenar Prima. (3) Offsetting, pada tahap
ini dilakukan
rencana pemesanan dalam
rangka
memenuhi kebutuhan bersih. (4)
Explosion, adalah
proses
perhitungan
kebutuhan
kotor
untuk
tingkat
item
/
komponen
yang
lebih
di
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter