3
BAB2
DATA
DAN
ANAUSA
2.1
Sumller Data
Data
dan   informasi
untuk 
mendukung
proyek
Tugas  Akhir  
ini 
diperoleh 
dari
sumber - sumber
berbagai berikut
:
1.  
Literatur :
buku,
artikel
elektronik
2. 
Wawancara dengan
narasumber,
Tour  guide
wisata
Kraton
3.  
Pengamatan
langsung di
lapangan.
2.2  Data tentang Kraton Ngayoyagyakarta Hadiningrat
keraton
Ngayogyakarta Hadiningrat
adalah
salah 
satu 
kekayaan
yang 
dimiliki
Indonesia, 
yang  
merupakan
jantung 
kebudayaan 
khususnya 
bagi  
kebudayaan 
Jawa.
keraton
sendiri
secara
morfologis
berasal 
dari 
kata 
Ratu, 
yang 
merupakan tempat
bersemayamnya
ratu-ratu.
Sejarah
kraton
tidak 
bisa 
dipisahkan
dari 
mitos
yang 
melingkupinya.
Selain
itu
terdapat
orang-orang
yang  
menggerakkan
roda  
kebudayaan
kraton,
mulai  
dari 
sultan
hingga
abdi 
dalem.
Keraton
memiliki
banyak
koleksi
benda-benda
pusaka,
antara
lain
kereta
kencana,
senjata-senjata 
pusaka, 
bendera-bendera, 
serta  
alat-alat 
musik.  
Salah
satu 
karya 
budaya
yang 
dilahirkan
di 
lingkungan
kraton
adalah
Kesenian
berupa
tari­
tarian 
beserta gending-gendingnya.
  
Upacara-upacara
adat 
yang 
terjadi
di
Keraton
Ngayogyakarta
Hadiningrat
hingga
kini 
masih 
dipelihara.
Arsitektur
bangunan
keraton
telah 
banyak
berubah
sejak 
pertama
kali 
didirikan
oleh 
Pangeran
Mangkubumi.
Diantara
bangunan-bangunan
yang
terdapat
di
Keraton, terdapat
pula
Museum-museum
seperti
museum
HB-IX
dan
Museum
Kereta.
Kraton 
Ngayogyakarta 
Hadiningrat
telah  
melahirkan  tokoh-tokoh 
yang
berpengaruh
dalam
Peristiwa
perjalanan
sejarah
bangsa
Indonesia,
antara
lain 
Pangeran
Diponegoro
dan  Sri
Sultan
Hamengku Buwono
IX.
Sejarah
berdirinya Kasu.ltanan Yogyalkarta
Sebelum 
berdirinya 
KasultananYogyakarta, 
Kadi paten  
Mangkunegaraan,
dan
Kadipaten
Pakualaman,
yang 
pada  saat 
itu  yang  ada  hanya 
kraton Kasunanan
Surakarta,
pindahanan
dari 
kraton
Mataram
Kartasura.
Ketika
istananya
masih 
berada di
Kartasura,
terjadi   pemberontakan
orang- orang Cina ( Geger Pacina)  pada 
tahun
1740 
-
1743.
Paku  
Buwono 
IT 
tidak  
berdaya 
menghadapi 
pemberontakan 
ini, 
dan  
hanya 
dengan
bantuan  
Belanda-lah  
peristiwa  
itu    dapat   
dipadamkan.  
Karena  
istana   
Kartasura
mengalami
kerusakan
yang 
parah 
sekali,
lalu 
ibukota
dipindahkan
ke 
Desa 
Solo, 
yang
kemudian disebut
Surakarta.
Pada 
masa 
pemerintahan
Sunan
Paku 
Buwono
II
di 
Kraton Surakarta (
1744 
),
masih   terjadi 
pemberontakan 
yang   dipimpin  oleh   Tumenggung 
Mertopuro 
melawan
kraton
Surakarta,
namun
oleh  
Pangeran
Mangkubumi (
adik 
Paku  
Buwono
II 
)
Tumenggung Mertopuro
dapat
ditaklukkannya.
  
5
Pada   suatu   
perundingan  
Paku   
Buwono  
yang   
didampingi 
o!eh   
Pangeran
Mangkubumi (
penasehat kepercayaannya )
dengan
pihak 
Belanda
yang 
diwaki!i
oleh
Mr.  
Hoogendorf, 
utusan  Belanda 
itu  
meminta
Paku 
Buwono  II 
untuk 
menyerahkan
seluruh
wilayah
pesisir
utara
Jawa
kepada
VOC.
Permintaan
itu 
sebagai
tuntutan
atas
jasa  
Belanda 
ketika 
berhasi! 
memadamkan 
pemerontakan 
orang 
-
orang 
Cina  
di
Kartasura.
Pangeran
Mangkubumi
tidak  
menyetujui 
permintaan
itu, 
meskipun
ia 
tahu
bahwa
kedudukan Paku 
Buwono
II
sangat
sulit. 
Berawal
dari 
masalah
itu
Pangeran
Mangkubumi 
kemudian 
memohon 
izin   dan  
doa  
restu  
pada   Paku
Buwono 
H, 
untuk
menentang dan 
mengangkat senjata
melawan Belanda ( VOC 
).
Setelah
mendapat
izin
dari 
Paku
Buwono
II,
dengan
memperoleh
pusaka
tombak
Kyai   Plered,
lalu 
pada 
tanggal
21 
April  
1747, 
Pangeran
Mangkubumi 
meninggalkan
Kraton
Surakarta
menuju
ke
da!am 
hutan 
bersama
keluarga
dan 
pasukannya
yang 
setia,
untuk 
bergerilya melawan
VOC. 
Dalam
mengadakan
perlawanannya
itu,
Pangeran
Mangkubumi 
bergabung 
dengan 
RM.  
Said  
(  Pangeran
Sambernyawa
)
sudah
lebih
dahulu 
menentang 
Paku  
Buwono 
II   dan  
VOC. 
Sebelum 
Paku  
Buwono 
II  
wafat,
kekuasaan
seluruh
tanah 
Jawa
sudah
diserahkan
pada 
VOC 
pada 
tanggal
16 
Desember
1749.
Karena 
itu 
yang 
menobatkan
dan   mengangkat
raja 
-
raja 
di 
tanah
Jawa  
yang
merupakan
keturunan
Paku  
Buwono
H
adalah
VOC.
Setelah
Paku  
Buwono
II 
wafat,
Belanda
mengangkat
RM. 
Suryadi (
Putra Mahkota )
sebagai
Sunan
Paku
Buwono
Ill.
Sunan
Paku   Buwono
HI 
praktis
menjadi
boneka,
karena
menurut
kontrak
politik,
raja
tersebut
hanya 
berkedudukan 
sebagai
peminjam
tanah
VOC.
Ketika 
pemerintahan 
Paku  
Buwono 
HI,  
perlawanan 
Pangeran 
Mangkubumi
terhadap  Belanda
semakin 
menghebat. 
DaJam  
setiap 
pertempuran, 
pasukan
Belanda
selalu    
terdesak  
oleh   
serangan  
Pangeran  
Mangkubumi.  
Bahkan  
ketika     terjadi
  
6
pertempuran
sengit 
di 
Bogowonto,
semua
pasukan 
Belanda,
termasuk 
komandannya
mati 
terbunuh_ 
Akhirnya
Belanda
meminta
Pangeran
Mangkubumi
untuk
berunding_
Kemudian
terjadilah
perjanjian
antara
ketiga
pihak:,
yitu 
Pangeran
Mangkubumi,
Pangeran 
Paku  
Buwono  III,  
dan   Belanda
(  VOC  
). 
Perjanjian 
itu   disebut 
dengan
Perjanjian  Giyanti, 
karena 
diadakan 
di   desa  
Giyanti (  Salatiga ), 
pada  
tanggal  
13
Februari
1755. 
Akibat
dari 
perjanjian
itu, 
maka 
kerajaan
Mataram
dibagi
menjadi
dua
bagian,
yaitu 
kraton
Kasunanan
Surakarta dan  kraton
Kasultanan
Yogyakarta.
Selanjutnya 
dengan 
daerah 
barunya 
itu,  
Pangeran 
Mangkubumi 
mendirikan
kerajaan
Mataram
Yogyakarta 
di 
wilayah
Beringan,
pada 
tahun
1756.  
Dan 
kemudian
beliau  
bergelar Sri 
Sultan 
Hamngkuwobm:w I. 
Gelar
lengkapnya
adalah
Ngarsa
Dalem  Sampeyan 
Dah 
m  
Ingkang 
Sinuhun 
Kanjeng 
Sultan  Hamngkuwobono
Senopati Ing 
Ngalago Ngabdurahman
Sayidin
Panotogomo
Khalifatullah
Ingkang
Jumeneng Kaping I Ing Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pandangan
Umum
Yang 
disebut
kraton
adalah
tempat
bersemayamnya
ratu  - ratu, 
berasal
dari 
kata
-
kata 
:
ka
+
ratu  + an
=
kraton_
Juga 
disebut
Kedaton,
yaitu 
ke
+
datu 
+
an
=
kedaton,
tempat
datu  - datu  atau 
ratu
-
ratu_
Bahasa
Indonesianya
ialah 
istana,
jadi 
kraton
adalah
sebuah 
istana, 
tetapi  
istana  
bukan!ah  
kraton.  
Kraton  
ialah   
sebuah  
istana 
yang
mengandung
arti,       arti       keagamaan,    
arti        filsafat     
dan       
arti       
kulturil
(
kebudayaan
).
Dan   sesungguhnya
kraton  
Yogyakarta 
itu 
penuh
dengan 
arti   -
arti 
tersebut
diatas_ 
Arsitektur 
bangunan  -
bangunannya, 
Letak 
bangsal  -
bangsalnya, 
ukiran  -
ukirannya,
hiasannya,
sampai
warna
gedung
-
gedungnya
pun 
memiliki
arti_
Pohon
-
  
7
pohon
yang 
ditanam
didalamnya
bukan  
sembarang
pohon.
Semua
yang  
berada
disini
seakan akan 
memberi
nasehat
pada 
kita 
untuk
cinta 
dan 
menyerahkan
diri 
kita 
pada
Tuhan
Yang   
Maha
Esa, 
berlaku
sederhana
dan 
tekun.
Berhati hati 
dalam
bertingkah
laku 
kita
sehari hari  dan  lainlain.
Kompleks
kraton
terletak
ditengah tengah,
tetapi
daerah
kraton
berkembang
antara  sungai  
Code 
dan  
sungai 
Winanga, 
dari  
utara  
ke   selatan, 
dari  
tugu  
sampai
Krapyak. 
Nama 
nama   kampung 
jelas
memberi
bukti
pada   
kita   
bahwa
ada
hubungannya  antar 
penduduk 
kampung 
itu 
dengan
tugasnya  di  
Kraton  pada  
waktu
dahulu,
misalnya
Gandekan,
yang 
pada
dulunya sebagai
tempat
tinggal
gandek gandek
(  kurir  
dari  
Sri  
Sultan, 
Wirobrajan 
adalah 
nama  
tempat 
tinggal 
prajurit 
Kraton
Wirobrajan,
Pasindenan
tempat
tinggal  
pesinden
pesinden
(  penyanyi
penyanyi  )
Kraton.
Daerah
kraton
terletak
di
daerah
hutan 
Garjiwati, dekat
desa 
Beringin
dan
Pancetokan.
Karena
daerah
ini 
dianggap
kurang
memadai
untuk  
pembangunan
sebuah
Kraton
dan 
bentengnya, 
maka  
aliran
sungai  
Code
dibelokkan
sedikit 
Ke 
Timur
dan
aliran
Sungai
Winanga
sedikit
ke
Barat.
Mitoiogi ular menu rut
kepercayaan jawa
Orang Jawa
percaya bahwa 8  penjuru 
mata   angin
di 
jaga   oleh  
naga.  Naga
mempunyai
8
keistimewaan
,
menyembur,
menggigit,
melilit,
kuat, 
bisa 
hidup
di
air
dan
darat  ,
meronta,
bertukar
kulit,  bisa
hidup 
dari 
minyak 
yang  disimpan di
ujung
ekornya.
  
8
Dalam
kitab  adipanva disebutkan ketika bangsa sura ( dewa) 
dan  bangsa Asura
(
raksasa
)
mencari
tirtamarta
(air 
hidup)
menggunakan gunung
mandalagiri
untuk
mengaduk
samudra.
sebagai
tali 
untuk
memutar
gunung
mandalagiri digunakan
seekor
ular  
naga   yang  
besar,    yang  
sebenarnya 
merupakan 
penjelmaan 
dewa 
Sang 
Hyang
Basuki.            Yang 
menjadi 
alas   dari  
gunung 
itu   agar  
tidak 
masuk  
kedalam
tanah
adalah
kura-kura
besar, 
penjelmaan
dari 
Dewa wishnu.
Cerita
tersebut
biasa 
disebut
sannmdra  
nantana  
.cerita  
bangsa  
sura   
dan   
asura    
mengaduk  
samudra  
dengan
menggunakan gunung
mandalagiri
untuk
mendapatkan
air
hidup
(tirtamarta).
Dalam 
cerita
lain 
disebutkan
bahwa
Begawan
Kasyapa
mempunyai
2
orang
istri
yaitu 
Dewi 
Winata
dan 
Dewi
Kadru
.
Karena
sesuatu
hal  Dewi 
Winata
menjadi
budak
dari   Dewi  
kadru. 
Dewi  
Kadru  
beranak 
ular   naga  
sedangkan  Dewi  
Winarta 
beranak
garmla.
Sang   garuda 
menginginkan 
pembebasan 
Ibunya.  Dewi  
Kadru  
berkata
kalau
Garuda
dapat
memberikan Tirtamarta
atau 
air 
hidup  
ibunya
akan 
dilepaskan
dari
kedudukannya
sebagai
budak.
Setelah
berperang
dengan
bangsa
Asura,
garuda
berhasil
mendapatkan
tirtamarta
(air 
hidup)
dengan
dibungkus daun ilalang. kemudian
air
hidup
yang 
dibungkus
daun 
ilalang
itu 
diberikan
kepada
naga 
anak 
Dewi 
Kadru.
Akan 
tetapi
bangsa
Sura 
berhasil
merebut
air 
hidup 
yang 
dibungkus
daun 
ilalang
itu. 
akhirnya
naga
tidak 
berhasil
minum
tirtamarta
atau 
air
hidup 
tetapi
hanya
menjilat-jilat
air
yang 
tersisa
dari  
daun  
ilalalang 
itu  
dengan 
lidahnya. 
Karena 
tajamnya 
daun 
ilalang 
itu,  
maka
terbelahlah
lidah
ular 
naga 
itu. 
Itulah
sebabnya
hal  itu 
dipercayai
hingga
saat 
ini 
bahwa
lidah  ular  berbelah
dua.
Akhirnya
bebaslah
Dewi
Winata
dari 
kedudukannya
sebagai
budak.
Dewi 
Kadru
dan 
naga  anaknya
tidak 
berhasil
hidup
langgeng,
abadi 
karena
tidak
berhasil
meminum
  
9
tirtamarta
(air 
hidup)
tetapi
hanya
menjilat
dari 
daun 
ilalang.
Karenanya
naga 
berumur
panjang.
Naga 
juga 
disebut
anantaboga
adalah
seeker
ular 
yang 
besar 
sekali.
Ekomya
menahan
bumi 
dari 
bawah.
Kalau
anantaboga
bergerak
maka
bergeraklah
bumi 
hingga
timbul
gempa
bumi. 
Arti 
anantaboga
adalah
terns
menerus
memberi
makan.
An
=
tidak
,anta =
berakhir,
boga=
makanan ,
rejeki.
Jadi 
tidak
pernah
berhenti
makan
atau 
rejeki.
Anantaboga
berbentuk
ular 
yang
besar 
seklai 
dan  berkepala 7
menjadi
wahana
atau 
tunggangan
dari  Sang 
Hyang
Wishnu.
*
Cerita
ini  merupakan
hasil 
wawancara
dengan
R.W. 
Widyo
Sastra
Suganda dan  KRT.
Partadi 
Ningrat
dari   buku  
Kalangwan.
(P)   Zoetmulder ,
penerjemah Dick  
hartoko ,
Kalangwan,
sastra
Jawa  
Kuna  
Selayang
pandang
,  penerbit Djambatan, jakarta 1983,
hal.
81-82
Mitologi dewi  kesuburan
Dalam
serat 
babad 
ila-ila
disebutkan
bahwa
Dewi
Sri
dan 
Raden
Sadhana
adalah
kakak
beradik.
Karena
mereka tidak
mau 
tinggal
di
kraton,
maka 
oleh 
ayahandanya
Prabu
Purwacarita
mereka
dikutuk,
Dewi 
Sri 
menjadi
ular 
sawa 
dan 
Raden
Sadhana
menjadi
burung
Sriti. 
Kemudian
mereka
pergi 
entah
kemana.
Perjalanan
dewi 
sri 
atau 
ular 
sawa
lebih
banyak
halangan
daripada
raden
Sadhana
sebagai
burung
Sriti  
Akhirnya
Ular
sawa 
sampai
di
negeri wirata, berhenti
sebentar
didusun
Wasutira
lalu  tidur
melingkar
ditengah-tengah
padi. 
Didusun
Wasutira
inilah
Ular 
sawa
diletakkan
di 
Petanen. 
Ular
sawa
itu 
nantinya
akan  
menjaga
bayi 
yang 
dikandung
oleh 
Ken 
Sanggi
atau 
istri 
dari
Kyai 
Brikhu,
sebab
bayi 
yang 
dikandung
itu 
adalah
titisan
Dewi
Tiksnawati.
Apabila
ular 
itu 
mati  , maka 
bayi 
itu
juga 
akan 
mati. 
Demikianlah
pada 
malam   hari
Ken 
Sanggi
  
!0
melahirkan
anak 
perempuan
dengan
selamat.
Maka Kyai 
Brikhu
dalam
memelihara
ular
sawah
itu  sangat
berhati-hati
jangan
sampai
mati.   Sewaktu
Kyai 
Brikhu tertidur ,
ular
sawah
itu 
seakan-akan
berkata
agar 
jangan
diberi
makan
katak
melainkan
sesaji 
berupa
sirih 
ayu, 
bunga
serta 
lampu
yang 
menyala
terns. 
Setelah
kyai 
Brikhu
terbangun
dari
tidur  
langsung 
menyiapkan 
sesaji  
seperti 
apa  
yang  
diminta 
ular  
sawa  tadi.  
Dewi
Tiksnawati 
yang  
menitis 
pada  
tubuh 
bayi  
itu  
membuat  huru  
hara  
di 
SBY, 
tempat
kediaman
dewa-dewa
karena
Dewi
Tiksnawati
tanpa
memberi
tahu 
atau 
ijin  dari 
Sang
Hyang 
Jagadnata.
Sang  Hyang
Jagadnata
menjadi
murka dan 
mengutus
para
dewa
untuk
memberi
bancana
pada 
sang 
Bayi.   Akan 
tetapi 
gaga! karena
kena 
pengaruh
tolak 
bala
yang 
diberi   kan 
Kyai 
Brikhu
dari 
Ular 
sawa 
tadi.  
Setelah
beberapa
kali 
gaga!
tahulah
Sang 
Hyang
Jagadnata
bahwa
semua
itu  berasal
dari 
Dewi 
Sri. 
Kemudian
Sang 
Hyang
Jagadnata
atau   Batara
Guru  
mengutus
para 
bidadari
untuk 
memanggil
Dewi   Sri. 
Dia
akan 
dijadikan
bidadari
untuk  
melengkapi
bidadari
yang 
ada 
dikhayangan. 
permintaan
Sang  
Hyang 
Jagadnata 
diterima  oleh  
Dewi  
Sri,   akan  
tetapi 
ia   mohon 
agar  
Raden
Sadhana 
yang  
dikutuk 
menjadi 
burung 
Sriti    agar  
dapat  
diruwat  
menjadi 
manusia
kembali. 
Ternyata 
Raden 
Sadhana 
telah  
diruwat 
menjadi 
manusia 
oleh  
Bagawan
Brahmana 
Marhaesi 
putra    dari  
Sang 
Hyang 
Brahma. 
Kemudian  
Raden 
Sadhana
dikawinkan
dengan
putri 
yang 
bernama
Dewi 
Laksmitawahni.
Apabila
telah 
berputra,
Raden
Sadhana
akan  
diangkat 
menjadi
dewa.
Kemudian  ular   sawa 
diruwat 
menjadi
Dewi
Sri 
kembali
oleh   para 
bidadari.
Sepeninggal 
para 
bidadari,
Kyai   Brikhu
ketika
tengah 
membersihkan 
petanen 
terkejut 
melihat 
ular  
sawa 
lenyap. 
Yang  
ada  
hanya
seorang wanita
cantik.
Kyai 
Brikhu
akhirnya tau 
bahwa Dewi
Sri  adalah
putri  dari
Prabu
Mahapunggung
di  negeri 
Pmwacarita.
Sebelum
Dewi 
Sri 
meninggalkan
Kyai 
Brikhu
dan 
keluarganya
dia 
berpesan
agar  
memberikan
sesajen
didepan 
petanen
atau  
kamar
  
ll
tengah
agar 
sandang
pangannya
tercukupi.
Setelah
itu  Dewi
Sri 
moksa
dan 
juga 
Raden
Sadhana
kembali
ke
khayangan.
Itulah 
sebabnya
pada 
sethong
tengah
pada 
rumah
jawa
selalu 
diberi  
gambar 
ular  
naga  
sebagai 
lambang 
kewanitaan.  Yaitu  
Dewi  
Sri  
yang
memberikan
kemakmuran.
Para  
petani  
apabila
ada 
ular 
sawah
masuk  
kedalam
rumah
dijadikan
pertanda
bahwa
sawahnya
akan 
diberikan
hasil 
yang 
baik
atau 
banyak
rejeki_
Karenanya
mereka tidak 
mau 
mengganggu ular  sawa  dan 
memberi sesaji,
*
Diambil  dari  
serat   babad  
ila-ila_ 
Alih  
bahasa
oleh  
Mulyono
sastro  naryatno.
Serat
babad  ila-ila, jilid  I,
proyek 
penerbitan
buku 
sastra dan
daerah, jkt
1986, hal57-63
Tata Ruang dan Hirarki
Ruang
Secara
Umum
Karaton
Yogyakarta
adalah
bagian dari 
mata 
Rantai
kesinambungan
pembangunan
karaton-karaton
di
Jawa 
sehingga
terdapat
satu 
keterkaitan
Tipologis
yang
mengaitkan
Karaton 
Yogyakarta 
dengan
tata 
Fisik  
Karaton
Jawa 
sebelumnya 
bahkan
pada   skala  
yang  
lebih  
makro
terdapat 
kaitan  
tipologis
dengan 
istana-istana
di  
Asia
Tenggara dari  kurun 
sebelumnya.
Kesamaan
tipologi 
ini 
terjadi
karena 
latar  
belakang 
presepsi 
kosmologi 
yang  
sama,
mewarisi
tradisi  
Hindu
tentang
Jagad 
Purana
yang 
berpusat
pada 
suatu
benua
bundar
Jambudwipa
yang 
dikelilingi
tujuan
lapis 
daratan
dan 
samudera_   Pada 
Benua
terdapat
gunung Mahameru 
tempat
para 
dewa
bersemayam.
Untuk
menjaga
keselarasan
jagad,
maka  
lingkungan 
binaan 
pun   disusun 
secara 
konsentrik, 
membentuk 
istana  
sebagai
replika jagad  tersebut
  
12
Dalam
tatanan
ini
kedudukan
titik 
pusat 
sangatlah
dominan,
sebagai 
penjaga
kesetabilan
keseluruhan
tatanan_ 
Pada 
skala 
negara
tatanan 
memusat
terwujud
dalam 
kota  
yang
berpusat
pada 
Kuthagara
yang 
dikelilingi
Negara
Agung,
Mancanegara
dan 
Pesisiran
pada 
lingkaran terluar
Dengan
luas 
1,3 
km²
,
kraton
dibagi  
menjadi
bagian, sesuai   dengan anggapan yan?
diwarisi
dari 
agama Hindu , bahwa angka 7
merupakan
angka
yang 
sempurna_  
Hal 
ini
sesuai 
dengan
prinsip
kosmologi
Jawa 
yaitu 
bahwa
dunia 
terbagi
dalam
3
lapisan,
yaitu
<hmia  
atas, 
tempat
bersemayamnya para   dewa 
dan  
supreme 
Being, 
do:mia 
tengah
tempat 
manusia,  dan   do:mia 
bawah  yang 
mewakili  kekuatan-kekuatan 
jahat  
di 
alam_
Dari 
susunan
ini, 
dunia
atas  dan 
bawah 
terbagi
dalam 
3
bagian,
sehingga
lapisan
dunia
inipun
menjadi 7
lapis_
Pembagian
Kraton
Yogyakarta
menjadi 7
bagian 
(seven steps to
heaven), antara
lain
:
Linglumgan I :
Alun-alun
Utara
sampai Siti
Hinggil
Utara
Lingkungan U
:
Keben atau 
Kemandungan
Utara
Lingko:mgan
ill: Sri
Manganti
Lingknngan IV  :
Pusat Kraton
Lingkungan V
:
Kemagangan
Lingkungan VI  :
Kemandungan
Kidul
  
!3
Linglumg:m
VTI : Alun-alun  Se!atan
sampai  Sitihinggil Selatan
Pada
Kraton-Kraton dinasti 
Mataram
keberadaan
pusat
ini
dalam 
wujud
Bangsal
Pl1lrbayeksa/Pra!msuyasa
sebagai 
persernayaman
pusaka 
kerajaan
dan  ternpat  tinggal
resmi
Raja.
Bangsal 
ini
dilingkupi
oleh  pelataran 
Kedatlum
yang
selanjutnya
di!ingkupi
oleh pelataran  Kemagangan,
Kem:mdlnmgan dan
Alun-ah.m
pada
lingkup  terluar
Tata Ruang Karaton (pola konsentrik)
Lapis Terluar terdapat :
Alun-alun  Utara
dan
Alun-alun  Selatan  dengan  segala
atributnya, yang
terdiri
dari :
Ahm-altm 
Utara   dengan  
Masjid 
Agung,  
Pekapalan, 
Pagelaran 
dan   Pasar  
yang
membentuk Catur
Gatara
Tunggal
Ahm  Alim
Selat:m
dengan  Kandang  Gajah
Kepatihan sebagai  prasarana Birokrasi
dan
Benteng sebagai  prasarana Mil iter
  
14
Gambar  2.3.
a
Lapis ke
dua
Gambar 2.
3. b
Siti Hinggil -
suatu
halaman
yang 
ditinggikan
pelataran
ini 
berada
baik 
pada  sisi 
utara
dan
selatan
  
15
Gambar 2.3.c
Siti Hinggil Utara
-
terdapat bangsal Witana dan 
bangsal
Manguntur
Tangkil
-
tempat
Sultan
mengadakan upacara kenegaraan
Siti Hinggil Selatan
-
dipergunakan untuk 
kepentingan
sultan
yang 
lebih 
privat 
seperti
menyaksikan
latihan
keprajuritan
hingga
adu 
macan
dengan
manusia
(rampogan)
atau
banteng.
Dan  ada 
jalan 
yang 
melingkari
Siti 
Hinggil
Selatan,
yang 
disebut
Supit
Urang
atau 
Pamengkang.
Lapis  ke Tiga
Pelataran Kemandungan Utara  dan
Pelataran
Kemandungan Selatan.
Suatu
ruang
transisi
rnenuju
pusat 
pada 
pelataran
Kemandungan
Utara 
terdapat
bangsal
Pancaniti dan
di
pelataran Kemandungan Selatan
bangsal Kemandungan.
  
!6
Gambar
2.3.d
Lapis  Ke Empat
Pelataran
Sri  
Manganti
dengan
bangsal
Sri 
Manganti
yang 
merupakan
ruang
tunggu
untnk
menghadap raja.
Bangsal Trajumas berada di
sisi 
utara
Pelataran
Kemagangan
dan 
Bangsal
Kemagangan
berada
di 
sisi 
selatan.
Pelataran
ini
berfungsi sebagai
ruang transisi akhir  sebelum ke
pusat 
Istana
Pusat  Konsentrik
Gambar 2.3.e
  
!7
Pelataran Kedhaton -
pusat konstelasi
tata 
ruang
di 
kraton
pada 
tengah  pelataran
ini
terdapat
susunan
tata
bangunan
Jawa 
pada 
umumnya
yang 
terdiri
dari
Tratag,
Pendhopo,
Peringgitan, Dalem.
Garnbar 2.3.f
Kasatriyan dan  Dalem Kasatriyan
terletak
di
timur komplek
Kedaton
Garnbar 2.3.g
Keputren berada di
sisi
Barat komplek
Kedaton
  
18
Setiap 
pe!ataran
tersebut 
dilingkupi 
oleh  
Benteng
yang  
membentuk 
enclosure 
yang
cukup
kuat 
dan 
antar 
pelataran
dihubungkan
oleh 
Gerbang
sehingga ada 
9  (sembi!an
Gerbang
karena ada
9
(sembilan)
pelataran
l.Gerbang Pangurakan
2.Gerbang Tarub Agung
3.Gerbang Brajanala
4.Gerbang Srimanganti
S.Gerbang Danapratapa
6.Gerbang Kemagangan
7.Gerbang Gadung Mlatbi
8.Gerbang Kemam:lbungan
9.Gerbang Gadbing
  
19
Gambar 2.3.h
Simbolisasi
angka
sembilan  (9)   dilihat
dari  
jurnlah 
pelataran,  dan  
jurnlah 
Gerbang
karena
memiliki
arti  simbolik
kesempuranan
sebagai
alegori
dari 
sembilan
lubang
yang
ada
pada
manusia.
Pembangunan
Karaton
ini 
juga 
memiliki
sumbu
imajener
Utara-Selatan sebagai
sumbu
Primer 
dan
surnbu
barat-timur sebagai
sumbu
sekunder
Tata  ruang dan 
Kesakralan
Dalam 
kehidupan keraton.
Sultan
adalah
figur 
sentral, wakil 
Tuhan
di
Bumi , pemegang
kuasa
militer dan  keagamaan
(Senapati
Ingaaga
Nagabdul
Rahman
Sayidina Panatagama
Kalipatullah)
sehingga
Sultan
dianggap
sakral,
begitu
pula
semua
kegiatan
resmi 
Sultan.
Sehingga
kesakralan 
ruang-ruang 
dapat  
diindikasikan  dari 
:frekuensi  
serta 
intensitas
kegiatan sultan
pada
area  tersebut.
Al.tm-ahm.,  Pagelanm, Siti Hinggil pada
tempat
ini
Sultan
hadir  hanya 3 kali  satu 
tahun
yaitu 
pada 
saat 
Pisowanan
Ageng
Grebeg
Mulud,
Sawal
dan 
Besar.
Serta
kesempatan
yang   sangat 
insidental 
yang  
sangat 
khusus 
misal  
pada  
saat  
Penobatan Sultan
dan
Penobatan Putra 
Mahkota
I
Pangeran
Adipati Anom .
  
20
Kemandlm.ngan 
kegiatan
Sultan   disini   lebih 
intensif   .
Pada   Pelataran 
ini 
terdapat
Bangsal
Pancaniti 
yang   secara   harafiah  
berarti   (memeriksa
lima) 
di 
sini   Sultan
melakukan
pengadilan
(khusus
perkara  yang
ditangani
Raja)  bangsal  ini
digunakan
pula
oleh
sebagian Abdi
Dalem  menunggu untuk
menghadap Raja.
Pelataran 
Srimanganti 
tingkatan
berikutnya. Pada  area 
ini  Sultan   sering   menerima
tamu     yang   
tidak    
terlalu     formal   
dan    semi   
formal.   
Di    Bangsal     ini    Sultan
Hamangkubuwana
H
rnenulis  dan
membacakan,
buku
kramat,
Serat
Suryaraja
dihadapan
para
punggawa.
Gambar 2. 3.
i
Pelatarnn 
Kedaton 
merupakan
pelatran   yang  paling 
dalam 
dan  sakral.
Di  pusatnya
terdapat
rumah  segala 
pusaka 
milik  Karaton, 
Prabayeksa
dan  bangsal 
Kencana
tempat
dimana 
Sultan 
bertahta
memerintah
sepanjang
tahun. 
Ditempat
ini  Sultan 
menerima
tamu
paling  penting  setara  Residen
dan
Gubemur.
  
21
2.3
Target sasaran
Geogmfi
Daerah domisili
Indonesia, khususnya
pulau 
Jawa
diluar
Negara Indonesia
Demografi
Uk:uran
keluarga
Usia 
Gender
Pendapatan
Pendidikan
Kewarganegaraan
Psikogmfi
Kelas
sosial
Gaya 
hidup
keluarga atau 
individu
10-40
tahun
laki
-
laki
dan  Perempuan
kelas sosial 
A,
B,
C,
dan  D
Sekolah
Dasar
sampai Sarjana
warga
negara
Indonesia dan
warga
negara
asing
kelas  sosial 
bawah
sampai
kelas 
sosial
atas.
petualangan
penuh  rasa 
ingin 
tahu
tertarik
pada  sejarah
dan 
kebudayaan
aktif dan 
dinamis
Demografi
:
Usia 
I
0- 40
tahun
Geografi
:
Indonesia
dan
Mancanegara
Psikografi 
:
Tertarik
dengan
masalah
kebudayaan
dan
sejarah
Senang akan
hal
-
hal
bam
  
22
2.4
Analisa SWOT
Strength :
1.  
Merupakan satu 
-
satunya situs
kebudayaan
yang 
masih
dirawat
dengan
baik.
2.  
Kultur lingkungan
wilayah
lokasi
Kraton yang 
cukup
ramah.
3. 
Terletak
tidak 
jauh  
dari  
Malioboro, 
suatu 
daerah  wisata,  sehingga 
dapat
menarik wisatawan.
4. 
Suasana 
lingkungan 
Kraton 
yang  
masih 
hidup, 
karena 
masih  
digunakan
hingga sekarang.
5.
Weakness:
1.   Belum   terlihat
adanya
keseriusan
dari 
Pemerintah
Daerah
Daerah
lstimewa
Yogyakarta
untuk 
mengoiah
daerah
wisata
Kraton agar 
lebih 
menarik
2. 
Kurangnya
penunjuk
arah
bagi 
wisatawan
Opportunities :
Daerah
wisata
Kraton
dapat
dirangkum atau 
dipersingkat
sehingga
ketika
berkunjung
ke 
Kraton
dapat
dilakukan
perjalanan
satu 
arah,  
perjalanan
selama
berangkat 
hingga 
titik    akhir  
perjalanan 
tidak   
melewati 
tempat 
yang   
sama
sehingga selama
perjalanan akan  selalu
diternukan
hal
-hal
barn.
Threat:
Adanya
daerah
-
daerah
wisata
lain  di
Yogyakarta,
Candi
Borobudur
dan
Ulen 
Sentalu,
dan 
lain 
-
lain. 
Dan
juga 
dari 
luar 
Yogyakarta,
antara
lain 
Solo
dengan
Kraton
Surakartanya,
sehingga
perhatian wisatawan
akan 
terbagi.