![]() l
'
'
.
BAB2
LANDASAN TEORI
2.1
Sistem
Telepon
i
:
'
.
.
:1
Sistem telepon
dimulai
dengan
local loop
(Jaringan
!oka!),
yang
menghubungkan
pesawat
te!epon
dengan
sentral
telepon
melalui
sepasang
kabel.
:
.
'
.
(Schweber,
W., !998, p459)
:
;
1
2.1.1
Pesawat
Telepon
Skema
dari
pesawat telepon
biasa ditunjukan
pada
gambar
2. l.
Earphone:
Speaker
l
i
Hybrid inside
i
?hone
Gambar
2.1
Skema
pesawat telepon
biasa
\
'
Ketika
pesawat
telepon
sedang
on-hook
(gagang
pesawat
di!etakan),
ia
seperti
ra."lgkaian yang terbuka
dan
tidak
ada arus
yang
mengalir
dan
hanya
terdapat
tegangan
DC dari sentral
sebesar
-48
V. Ketika
pesawat
telepon
menjadi
6
|
![]() 7
ofihook
(gagang diangkat)
maka akan terjadi
rangkaian
te1iutup dan arus akan
mengalir sebesar 20 rnA, dengan tegangan sebesar -6 V sampai -8 V. Adanya
arus yang mengalir pada rangkaian akan dideteksi oleh sentral telepon dan akan
diindikasikan bahwa pesawat telepon sedang off-hook.
Ketika ada panggilan
yang masulc Suatu sinyal
AC yang dinamakan
"Ringing Voltage" sebesar
-90
Vrms dikirim dari sentral telepon
ke
pesawat
telepon,
tegangan
ini
alcan
mengaktifkan
bel
elektronik
dari
pesawat
telepon.
Rangkaian bel
dihubungkan dengan kabel local loop
melalui
kapasitor
secara
seri
yang akan
memblok arus DC dan
melewatkan arus AC serta
untuk
mencegah pesawat telepon yang sedang on-hook menghabiskan tegangan baterai
sentral.
Dua kabel
antara pesawat
telepon
dan
local
loop dinamakan Tip
dan
Ring. Tip dan Ring meru.pakan dua buah kabel berdiameter
114
inci yang
digunakan sejak
penggunaan
telepon pertama kali sebagai
konektor
fisik
yang
dapat dimasukan dan dicabut secara mudah.
2.1.2
Alat Panggil
Untuk melakukan panggilan dikenal dua macam alat panggil, yaitu pulse
dan tone dialing. Pada pulse dialing
ketika suatu
angka di
panggil,
local
loop
a..lcan
te1iutup/terbuka sebanyak jumlah angka yang dipanggil, dengan jangkauan
10
tutup/buka per
detik
dan
duty cycle sebanyak
50
%.
Sentra! telepon akan
memonitor dan menghitung uru.tan dari tutup/buka untuk mengetahui angka yang
dipanggil.
, '
r '
; '
,
|
|
|
|
I
I
1
2
4
'
8
Ala:panggil
yang
kedua
adalah
tone dialing.
Pada
tone dialing,
setiap
angka
direpresentasikan
oleh
pasangan
tone
yang
unik,
seperti ditunjukan
pada
gambar
2.2.
Terdapat
empat
group
tone rendah.
masing
-
masing
untuk
setiap
baris,
dan
3
group
tone
tinggi,
masir;.g
-
masing
untuk
setiap
kolom
(satu
group
tone
tinggi
lagi hanya
terdapat
pada
telepon
khusus).
Sentral
telepon
akan
mendeteksi
pasangan
frekuensi
tersebut
untuk
mengetahui
angka
yang
dipanggi!.
Coiurnn
Column
Co!umn
Cof:1mn{Absent on most phones)
Row1
qJ----qJ--
-cp--
69'7
H:r.
I
Rcw2
$---ctJ---8--
-rt
770Hz
'
'
I
I
I
I
RowS r
$---¢---$---$--
852Hz
Row4
--r--r--r
941Hz
:200Hz
1336
H:t
1477
t-lz
1633Hz
I
I .
j.:
I
.
'
i
C'.rambar 2.2
Pengelompolan
Frekuensi
DTMF
2.1.3
Pembentukan
Hu!:mngan
Untuk
pencbentulmn hubunga..;telepon
malm
antara
sentral dan
pesawat
telepon
tetjadi
komunikasi
lebih
dahulu.
Komunikasi
ini dilakukan
dalam
bentuk
saling
mengirim
sinyal
-
si::yal
seperti
dial
tone,
ringing
tone,
busy
tone,
congestion tone
serta pengiriman
nomor
yang
dipanggil
oleh
pesawat
telepon.
Masing
-
masing
tone
tersebut
dijelaskan
pada tabel
2. l.
I
.
.
Untuk
memulai panggi!an,
pemanggil
mengangkat
handset, yang
mengakibatkan saklar
hook
menr;.tup
dan
menyebabkan
adanya
aliran
arus.
Kecika
terdeteksi
adanya
aliran
arus,
perangkat
di sentral
teiepon
akan
I
'
l
I
|
![]() j.
'
\
I
1
.
!
I
I
9
menghubu.'lgka.>
loop
pemanggil
ke
tone
receiver
dan
mengirimkan
dial
tone
j '
'
!':
ur1tuk mengindikasikan bahwa bahwa sentral telepon siap
untuk menerima
l
'
:
i
nomor
yang akan dipanggil. Ketika
mendengar
dial tone,
pema.'lggil
menekan
tombol
untuk
nomor
yang
dipanggii,
yang akan
mengirimkan
pasangan
frekuensi kepada
tone
receiver
di sentral telepon.
.
Tahe\2.1
Karakteristik Nada
.
,-·---·
.
·-
·----,
!
Jenis
I
Frekuensi
\
Cadence
G)ial t
ne
i
425 Hz
±
25 Hz
\
Continous
I
Busy
Tone
---!
.
-
4
-2+
5Hz± 25
H;-i-O
.
:Ss-o 05 s
O
.
ff-·
,
·-.::-j
L
g-est
_'1_Ton_
_L'1'25
Hz±
25 Hz
.l.0.25 S
On;
0.25 S
Off
J
!
.
I
Ring
Back
Trme
5Hz±
25 Hz
jl.o
SOn;- Off
J
(PT Telkom,
1996,
p
VIII-19)
;
Pada saat
:mmor
yang
dipanggi:
telah lengkap, perangkat disentral
telepon akan menentukan status dari
loop
yang r:Jelayani
nomor ya.1g dipanggil.
Jika
loop
yang dipanggi! dalam kondisi
I
,
®
Sedang dignnakan
atal!
jaringan sedang
sibuk,
pesawat di sentral telepon
'
akan memberikan
busy
sinya: atau
congestion
sinyal kepada pemanggil yang
l
:nengindikasikan bahwa panggilan tidak dapat dilanjutkan.
"
Tidak
digm:nakan,
Ringing
voltage
akan
diberikan, pada
saat ya::1g
sama
sinyal
Ringback
diberikan pada
loop
pemanggil, sehirtgga pe=ggil
akan
mengetahui bahwa nomor yang dipanggil sedang berdering.
l
j
'
Ketika
pesawat
telepon yang berdering
diangkat
maka
akan
I
j
:
memutuskan
Ringer
dan menglmbungkan rangkaian
microphone
dan
earphone
|
![]() 1
I
i
'
'
.
ke
ioap.
Peruba.'ra.'l
impedailsi yang dihasilkan
memberitahukan sentral telepon
bahwa pa:1ggilan telah dijawab dan hubungan telah terjadi. Sentral telepon
kemudian
n:enghentilam
Ringing
voltage
kepada
yang dipanggil
dan
Ringback
sinyal kepada pemanggil.
Ketika
pembicara.an
telah se!esai, maka masing - masiJ:g
a.kan meletakan
gagang pesawat telepon
(on-hook).
Hal ini akan menghentikan aliran arus
yang
menandakan pemutusan hubungan.
Loop
kembali berada dalarn kondisi
idle
dan
siap meneri..'ll.a panggilan berikutnya.
2.2
Konsep Sistem
Te!epon Bergerak
Pada
sistem
telepon bergerak
seorang
pengguna
terhubur:g dengan
jaringan
melalui
tmnsmisi si.r::yal radio. Pengguna dari telepon bergera.l;:
dapat
berpindahpindah dan
melakukan ataupuil menerima panggi!an dimana
saja
selama ia masih
dalan:jangkananjaringan telepon bergerak.
Sistem 'feliepon
Selulmr
Istilah
"Selular" berdasarkan
fu:..1a
bahwa
area
dimana
sistem
telepon
hergerak beroperasi dibagi kedalam sejumlah area kecil
yang dinama.lcan "celr',
Suatu
cell
biasanya terdiri dari satu
transmitter
dan
receiver
radio dengan daya
yang rendah.
Transmitter
dan
receiver
radio dengan daya yang
rendal1 tersebut
di.;1an:akan
base
station,
Biasanya terdapat satu
base station
seti .p
cell,
meskipun
dibeberapa sistem
selula:-,
setiap
cell
mungkin
saja
dibagi
kedalam
sejumlah sektor, dengan setiap sektor mempnnyal
base
station
tersendiri. Ketika
suan
mobile
station
berada daiam
cell
tertentu, maka ia
akan men-transmit
atau
I
!
.
|
![]() 11
me-receive
sinyal radio dari
base
station
yang ada di
cell
tersebut. Setiap
base
station alam
tersambung dengan suatu
Mobile Switching
Center
(MSC)) yang
berf..:ngsi
untuk
menghuoungkan sistem
telepor:
selular
C.engan
sistem
telepon
tetap.
Gambar
2.3
merepresentasikan struktur
dari
sistem telepon selnlar
Sistem
Celular
Sistem Tefepon Tetap
0
=
Ce!!
S!'!le
GJ.
=
Base Station
=
Mobfle Station
Telephone
'-------l
Gambar
Sistem Telepon Selular
da."1Sistem Telepon Tetap
2.2.1.1
Hand Off
Hand
Off
adalah kemampuan
untuk
memindahkan
proses
pereakapan
dari satu
base
station
yang menangani proses percakapan tcrsebut ke
base station
yang lain kare::-w
lemalmya sinyal dari
base
station.
2.2.1.21)ro1J <7all
Drop
Call
adalah
proses terputusnya
percakapan
pada
sistem
telepon
selular.
Drop
Call
dapat terjadi jika
mobile
station
memasuki area yang :
a.
Terhalang oleh kondisi geografi
untuk menerima sinyal radio dari
base
station.
|
|
|
![]() 12
j
.
1
b.
Tidak
dipunyai
oieh suatu
cell
sehingga
tidak
mempunyai
base
station yang
I
dapat
menerima
atau
mengirimkan transmisi
radio
(hal
ini
sering
disebut
sebaga;
diluar
coverage
area)
c.
Mempunyai cell tetapi
sedang
dalam
kondisi
rusak.
2.2.1.3
Roaming
Roaming adalah
suatu kemarnpuan
dari sistem telepon
selula:r
ya::tg
rr.emungkinkan suatu
mobile station
untuk
tetap
dapat dilayani
wa\aupun
mobile
station
tersebut berada
diluar
dae7ah pelayanan asalnya.
2.3
Sistem Telepon
Selutar
C:DMA
Semua
sistem
telepon
se!ular
yang ada
berdasarkan
prinsip
yang
telah
dUelaskan
pada
bagian
diatas.
Perbedaaimya
hanya
terdapat
di
penerapannya
saja,
seperti
eara penggunaa'1
channel
radio
oleh beberapa
pengguna, cara
pengkodean sinyal bicara,
pemilihan
band
radio
dan
modulasi frekuensi
carrier.
2.3.1
Tekuik
.Akses
Bersama
Di sistem
selular
yang lama, suatu
kanal snara akan
menempati
seluTUh
I
:
'
I
.
I
!
kana!
radionya,
sedangkan
pada
sistem
yang
lebih
baru satu
kanal
radio
akan
ditempati oleh
beberapa kana]
suara. Hal
ini
dilakukan
untuk
me!lingkatkan
kapasitas sistem. Berikut ini
merupakan tipe
pembagian kode
akses:
|
![]() 1
_
J
i
I
r
"
ln
I
I
I
r
I
I
13
l
:
i
'
,==:=J
I
I
"
..
"I i
I
'li
I
!'ll' 1
I
,,,
1
I
'
I
It=====
J
I
I
'
'
I
II
I'
'
"c
I
==:::::==
Frekutnsi
=J.
!
I , I
I
,.
·
' '
'
l
(b)TDMA
(c:)CD A
'
l
'
Gambar 2.4
Tekn:k
Akses Bersama
a. Frequency Division
Multiple
Access
(FDMA)
I
.
Sistem FDMA
adalah sistem
dimana
masing
·masing
pengguna!pemakai
!
menduduki
suatu
frekuensi
yang
berbeda
beda
(Gambar
2.4
a).
Sistem
ini
dig-ch'lakan oleh teknologi
NMT
d&'1 A.1\1PS
h.
Time
Division
Multiple
Access
(TDMA)
Dalam
sistem
TDMA pengg:Ina/pemakai
dipisahkm1 oleh waktu
(time slot)
yang berbeda dalam
sebua.lj frekuensi
bersama
(Gambar
2.4 b).
Tekno!ogi
GSM
merupakan
teknologi
yang meuggu.:1akan sistem
TDMA.
I
I
e.
Code
Division
Multiple
Access
(CDMA)
Pada
sistem
CDMA pengguna/pema.kai
menggunaka.u
waktu dan frekuensi
yang
sama,
namun
menggunakan
kode yang
berbeda
(Gambar
2.4
c).
2.3.2
K<: nsep Sistem
Telepon
Selular
CDMA
CDMA
didasarkan
pada
prinsip
bahwa
setiap
pengguna
mempt;nym
sebuah
kode yang
Ul1ik
yang
digunakan
oleh
sistecn
untuk
membedakan
pengguna
dari pengguna
yang
lain ketika
ciigunakan
secara
bersamam1
pada
frek:uensi band
ya.'lg sama.
|
|
l
.
|
![]() 14
CDl'v1A
menggunakan teknik
yang
dikenai
sebagai
penyebaran spektrum
untuk
mena'llbah
cfisiensi
dari
penggunaac'l kana!RF.
Teknik
ini
memungkidmn
banyak
pemakai
dapat
mengakses
secara
serempak
pada
frek:uensi
pembawa
1
:
i,'
yang sama. Sistem
ini
menggunakan
kode- kode
yang
unik (Pseudonoise) untuk
l
.
.,
'
I
membedakan
pemakai
yang satu
dengan
yang lain.
2.3.2.1Pengulangan
F:reimensi
'
'
!
'
'
Dai&'1l sistem selular CDMA,
karena
sistem
ini
tahan
terhadap
interferensi
w.aka ta
tidak memerlukan perencanaan
pengulangan
frekuensi
sehingga
seluruh base
station
mengg=akan
frekuensi
yang
sama.Yang
membedakan
base
station
yang
satu
dengan
yang
lain
adaiah
penggunaan
kode
PN (Pseudonoise) yang khusus
disetiap
base
station.
2.3.2.2
Rake Receiver
Konsep selclar CDMA
yang lain
adalah ketahan.an
sinyalnya terhadap
l
.
pantulan gedu11g
"gedung
(multipath
fading).
CDl\1A
dirancang mampu
;
'
l
:
menerima
dan
menggabungkan sinyal
-
sinyal
pantulan
untuk
mendapatkan
:
.
penerirr"aa.rt
y<U"lg
terbaik.
Hal
ini
dimur1gkinkan karena
adauya
tiga
penerimaan
daiam
satu
mobile
station
(rake
receiver).
1
:
1 .
,, :
l
'
.
'
2.3.2.3
Soft Hand
Off
Keunggulan
lain
daci
CDMA adalah kemampurcn untuk
sofi hand
off,
di.mana sistem
CDMA
mampu
memegang
sebuah
percakapan oleh
dua
atau
tiga
base station
yac'lg
berbeda. Dengan
kemampuatl ini
drop call
akibat kegagalan
l
I
.
'
.
j
.
|
![]() '
:
15
peralihan
kana!yang
disebabkan
karena
tidak
adanya
kanal
di
base
station
yang
dituju
dapat
dihindari.
2.3.2.4
Kent::ol
Daya
Agar seluruh
sinyal
dapat
diterima
dengan
baik seluruhnya
oleh
base
station,
maka
selun.u'1 sinyal
yang
diterii11a
base
station
perlu
dikontrol
agar
ke:matannya
sama.
Untuk
memungkinkan
hal
tersebut
maka
setiap
mobile
station
akan mengirim..l;:an sinyal
dengan
keknatan sinyal
yang
berbeda
beda
tergantung
jaral'
dari
mobile
station ke base station tersebut.
Hal
ini
dapai
l
.
dilakakan
k:arena
terdapat
kontrol
daya
pada
sistem CDMA
sehingga
mobile
!
station
dapat
menghemat
energi
bateral-nya.
2.3.3
Kelehih2cil CDr.lA
:j
'
Beberapa
kelebihan
CDMA
dibandingkan
dengan
teknik
ak.ses lai!lllya :
a.
Tingkat
keamanan
yang
lebih
tinggi.
b. Soft
Hand Off
i
.
l
i
c.
Peningkatar:: kapasitas
sistem.
I
.
'
d. Lebih tahan
terhadap
interferensi.
e.
Efisie:1si spectrum
yang :inggi.
2.3.4
Kekurangan Cl)J\clA
i
'
Disamping kelebiha.'l - kelebihan
CDMA
memi!iki
beberapa
kelemahan
l
:
sebagal
berikut
:
a.
s:stem belurn mapa::masih
terus
dikembangkan
|
![]() .
b.
Belum
terdapat
standar
yang
global
c.
Tingkat
produksi
masih
rendah
2.4
Fixed wireles:r Terminal
(FWT)
l
i
1
16
i.
'
'
Teknologi
fixed wireless
(selular
tetap)
merup<L\an suatu teknologi
dimana seoraz;g pengguna
atau
pemakai
dapat
menghubt.mgkan
pesawat
telepon
fax dan
komputer
bkiaesaj,armingsain:
egsain:
te!epon
selula:r. Fixed wireless
'
.
n:embet"kan
akses
yang
cepat
pada
jasa
telepon
yang
bed,"Ualitas tinggi,
handal
I
I
dan
murah.
Ketika
pengguna
atau
pemakai
rr;engangkat
gagang
telepon,
maclal
\
akau terdengar
dial tone
dan
pesav.'llt
telepon akan
beroperasi seperti
ia
terhubung
ke jaringa_'1 telepon
tetap
(PSTN).
TenrJnal
darifixed
wireless
dapat
berupa
pesawat
telepon
biasa,
mesi:n fax
dan
komputer.
MSC COMA
'
m
PSTN
I
I
.
'
i
'
I
I
.
Basa Statior.
,-
Mobile
--
S
tat!on FW
-
T
···
I
'
,
j
OTHER
MOBlLE
StATION
I
.
I
I
.
:
¹
....
_
F
W
T
Te!e.phone
J
I
Gatnbar 2.5
FWT dalam
Jarrngan CDJ\fl.A
l
l
I
|
|
'
|
|
1 i
i
j
17
2.4.1
FWT
CDMA
Telular
FWI'
CDMA
Telular
meupakan suatu produk FWT berdasarkan sistem
I
.
I
selula:CDl\lA, yang dibuat olch
perasahaan telekomunikasi Teblar.
Gambar
i
;
2.5
mengilustrasikan bagaimana
FWT
diintegrasikan ke dalarn arsitektur sistem
selular CDMA.
FWT dapat dihubungkan dengan
tiga buah pesawat telepon
yang
menggunakan bel elektromagnetik sampai sejau.l-t 100 meter, tetapi selama
I
:
pembicaraan hanya dapat digunaka!J
tidak lebih
dari dua pesawat telepon secara
,
1 '
bersama:m.
2A.3.l
Kemampuan
Fwi menyediakan
fitur
beri.kut :
J I
a.
Tone
dari panggilan yang sedang berlangslli>.g sepe11i
dial tone
dan
busy tone.
b.
DTMF da>.
Pulse Dialing
c.
Fi:ur pelanggan
(Call
Waiting,
Call
Forwarding, Caller
ID, Three-Way
Calling
dan Recall,
Hook
Flash)
cL
Multi
parallel
(sampai tiga buah untuk
telepon
mekanik dan
sampai
lima
tmtuk telepon elektronik)
e.
Echo
cancelataion
f.
Internal
backup batte1y
12
V
I
.
2.5
Global
Positionilzg
System
(GPS)
I
,
I
.
GPS
adalah
suatu
Jaringan
satelit
yang
secara
terus
menerus
i
.
I
.
mentransmisikan infonr.asi
ya:1g
telah dikodekan, yang
memungkinkan
untuk
i
|
![]() !
·i
j
'
l
'
'I
18
mengidentifikasi
suatu
lokasi
di
bumi
secara
teliti
dengan
mengukur
jarak dad
1
l
:
satelit
yang
secara
konstan
memutari
bumi.
Sate!it
tersebut
memancarkan sinyal
radio
ya.'lg sangat
lemah sehingga
memrn1gkinkan
seseorang
yang
mempunyai
pe11erima GPS
untuk
menentukan
lokasillya dibu:ni.
(Gannin, 2001,
pl)
j
:
i
i
2.5.1
Komponen
GPS
;
:
Terdapat
tiga
buah
komponen
untuk
membentuk sistem
GPS,
ketiga
l
komponen
tersebut
dijelaskan
dibavvah ini:
1
l
1
'
I
Segmen
ruang angkasa, ter::liri dari sedikitnya
24 sate!it (21 aktif
+
3
cadangan)
yang
merupakan
jantnng
dari
sistem
ini. Sate!it tersebut
terletuk
dalam
posisi 'high orbit'
sekitar 12.000
mil
dari
pennukaan
bumi.
Satelit-
i
.
,! '
l
satelit
tersebut diatur sedemi.kian
rupa sehingga penerima
GPS
di
bumi dapat
i
:1 '
selalu
menerima
siayal
dari sedikitnya
4
buah
sate!it.
j
.
i
i
.
:
i
'
I
'
2.5.1.2 Segmen
Konkol
l
.
Segmen
kor.trol berfimgsi
untuk mengontrol
satetii
GPS
supaya tetap
berjalan
sesuai
dengan orbitnya
dan
mengatm
infonnasi
waktu.
Terdapat lima
I
,
'
'
bua.'1
stasiun kontrol
yang
terdapat
di bumi
-
4
stasi:Lc'1
tidak berawak
dan
l
j
.
l
.
stasiun
kontrol utama.
4
stasiun
yang
tidak
berawak
secara
terus
menerus
l
:
menerima
data
dari
satelit
kemudian
mengirimkan
infonnasi
tersebut ke
stasiun
j .
l
kontrol
utama. Stasiun
kontrol
utama
kemudiaJl. membetulkan
data satelit dan
mengirimka.'lllya kembali
ke satelit.
I
1 i
l
|
![]() 19
2.5.1.3
Segmen Penggnna
Merupakan
perangkat
eiektronik
yang
digunakan
oleh
pe1:gguna
yang
dapat
menerima
sinyal
dari
empat
satelit,
menghitung
perbedaan
waktu,
dan
menenrukan
posisi.
Tidak
ada
':latas
untuk
receiver
yang
dapat
digunakan
secara
bersamaan,
karena satelit
tidak
memancarkan
ke
pengguna
tertentn
tetapi
memancarkanr:ya
kesemua
pengguna.
2.5.2
Prinsip kerja
Penerima GPS
harus
mengetahui
dna
hal
untnk
dapat melakukan
fungsinya.
Yang
pertama
adzlah
mengetahui
dimana
letak
satelit
(posisinya)
dan
sejauh
mana
mereka
berada
Garak).
2.5.2.1
Lokasi
Penerima
GPS
mengambil
dua
jenis
data
dari
informasi
yang
dikirimkan
oieh
satelit.
Jenis
yang
adalah
data
'almanac',
berisi
posisi
yang
mendekati
(lokasi)
dari satelit.
Data tersebut
secara
tems
menerus
ditransmisikan
I
I
dan
disimpan
daiam
memory
penerima
GPS
sehingga
ia
dapat mengetahui
orbit
!
dari sateEt
da.'l dima:1a
setiap satelit seharusnya
berada. Data
almanac
secara
periodik
di update
dengan
inform?.si yang baru
ketika
satelit
bergerak.
Setiap
satelit
dapat
bergerak
diluar
orbit
yang
telah
ditentnkan,
karena
itu
stasiun
monitor
dibu:mi
selalu
menjaga
orbit,
ketinggian,
lokasi dan
kecepatan
satelit.
Stasiun
bumi
mengirimkan data
orbit
ke
stasiun
kontrol
pusat
yang
kemudian
membetulkan
dan
mengirimkannya
kembali
satelit.
Data
yang
te!ah
dibetulkan
dan
posisi
yang
pasti
dari
satelit
dinamakan
data
'ephemeris',
|
![]() i
'
l
'
I
20
dimana data terse\'lut aka."l benar selama kurang !ebih 6 jam, dan ditransmisikan
dalam informasi yang dikodekan ke penerima GPS. Dengart menerima data
almanac dan
ephemeris, penerima GPS dapat
mengetahui posisi dari satelit
setiap wakm.
2.5.2.2
Penerima
GPS perlu
mengetal:ui sejm.L'J. mana satelit
itu berada Qa.rak)
sehingga ia dapat menentukan
posis:nya dari bumi.
Satelit
mentrasmisikan
r:
I
sinyal
yang telah dikodekan, sinyal
yang dikodekan
tersebut
disebut 'pseudo-
'
.
random
code'
karena
mirip
seperti
signal
noise.
Ketika satelit
menghasilkan
pseudo-random code,
penerima
GPS
juga
menghasilkan kode yang
sama
dan
berusaha untuk mencocokan dengan sinyal dari satelit. Penerima GPS kemudian
membandingkan kode
tersebut
untuk
dapat
menghitung
seberapa
banyak
!
'
delay (atau menggeser) kodenya supaya cocok dengan kode dari
sateiit.
Wakt11
delay (atau geser) dikalikan dengan kecepatan untuk mengetahuijarak.
2.5.2.3
Penentu:m
Koordinat
Dengar;.
mempunyai data tentang
lokasi satelit dan
jarak, penerima GPS
dapat
menentukan posisinya dibumi.
Contoh : Pada
suatu
sateii: lokasi
kita
'
.
I
'
.
'
J
:
berjarak
11.000
mil,
maka lokasi kita dapat berada dimana saja dari suatu
l
'
lingkaran dengan radius 11.000 mil. Lalu pada sate!it kedua lokas:kita be:jarak
l
:
12.000
miL Malm pada
lingkaran pertama akan berpotongan dengan
lingkarat1
kedua
yang
membetuk potongan
lingkaran.
Jika
kita
mempunyai
sateiit yang
|
|
'
'
!
21
;;:etiga maka
akan mempunyai dua buah
potongan
lingkaran
dimana
tiga
buah
·I
I
,
satelit
saling
be;potongan.
'
¹
'
'
1 '
Meskipun
terdapat
dua
buah kemungkinan
posisi,
mereka
sangat
berbeda
i
L
pada
posisi
lattide
atau
longitude
dan
altitude.
Untuk
menentukan
dari
lokasi
!
tersebut
yang
mana
lokasi
yang
ber. penerima
GPS
memerlukan altitude yang
mendekati,
dengan
begitu
penerima
dapat
menghitung
posisi
dua
dimensi
I
.
! :
(/attitude, longitude).
Dengan
menambah..kan
satelit ke
empat,
penerima
i
'
I
'
mempunyai
koordinat
tiga dimensi
(lattide, longitude
dan
altitude).
I
i
:
I
,
'
I
'
2.6
Perhitnngan
Pulsa
Perhirungan
pulsa
pada
sistem telepon
selular
merupakan
sesuatu
hal
I
.
yang sangat
rumit
jika dibandingan
sistem
te!epon tetap.
Sifat
dari
pelanggannya
ya.'lg
selalu bergerak
akan menyebabkan
perubahan
·- perubahan
dari
I
' '
perhittngan
pu:sa
selan1a te::jadi
pereakapan.
Karena
adanya
fasi!itas
roaming
suatu
pereakapan
yang
pertama
kali
dikategorikan sebagai
percakapan SLJJ
(Sambungan
Langsu:J.g Jarak
Jaul::)
akan
menjadi
percakapan
Jokal
jika
mobile
I
station
memasuki
area
dari
non:or
te!epo'l
yang dipanggil,
sebaliknya
suatu
'
.
j
'
percakapan
lokal
akan
menjadi
menjadi
percakapan
SLJJ
jika
mobile station
r::teninggalka:n area dari
pelayar""n lokaL
Karena hal
itu
maka
posisi
dari
mobile station
harus
dapat diketahui
dengan
pasti.
Pada
umunu:ya
untuk
dapat
menentukan
clidaerah
mana
mobile
station
tersebut
berada, sistem
billing
operator
selular
akan
melihat
di
base
station
mana
mobile station
tersebut
dilayani.
Dari
base station
tersebut
dapat
di;;:etahui apaka.1jenis pereakapan
yang
dilakukan
termasuk
lokal atau SLJJ,
juga
|
![]() .
l
} .
22
dapat
diketahui apakah
mobile station
tersebut
sedfu<g
roaming
atau
tidak. Pada
WARIEL
bergerak,
lokasi
dari
base
station
tidak
tersedia karena infonnasi
i
'
tersebut
hanya
terdapat
pada
data
percakapan
di
ser:tral
telepon,
untuk
'
l'
mengetahuinya WARTEL memerlukan
GPS dan koordinat dari
base station.
Dari
dua
data
tersebut
dapat
diketahui di
base station
mana
WARTEL
tersebut
J .
'
:
dilayani.
Hal
ini
dilakukan de;1gan
menentukan
jarak
terdekat antara koordinat
l
I
.
WARTEL
dengan
koordinat
base station.
2.6.1
Pola Penomoran
Peno!21.oran adalah
suatu
kegiatan
untuk
memberi
nomor
-
nomor
kepada
setiap pesawat pe!angga.11, Hal
ini
dimaksudkan
untuk memberikan
ciri
-
ciri
khusus kepada pesawat tersebut (Goil7
li
Saydam, 1992,
P78).
Sesuai
dengan
ketentuan ITU-T,
digit
maksimum
untuk
nomor
telepon intemasional
adalah
15
digit Untuk
memenuhi
ketentuan
ITU-
T
ini
bat,'>'i
Indonesia
yang
sudah
mempunyai
kode
negara
62 (2
digit),
makajumlah digit
maksimmn
untuk
nomor
nasior al tir:ggal
13
digit.
Awa!an Jarak .Jauh
+
Kode Wilayah
+
Nomor
Pelanggan
(Trunk
Pref!k)
(Area
Code)
(SCJbscriber Number)
Nomor
Teiepon Nasiona!
Gambar
2.6
Pola
Penomoran
(Dirjen
Postel,
2000,
pli-6)
2.6.L1
Keterntmm
l::mum
a. Awahm Jarak Jau!Jl
Adalah angka
yang
harus
diputar
terlebi:1 da.'Iulu hila
kita
ingin melakukan
pereakapan
SLJJ. Untuk
awalanjarakjauh dipal<ai angka
0
(nol)
I
.
1
'
:
I
;
.
'
.
.
l
'
'
l
'
l
i
1
I
i
l
'
l
.
j
:
|
|
I
23
b.
Kode Wilayah
Mer,;pakan
kombinasi angka
-
angka yang menunjukan wilayah tempat
pela;1ggan berada. Menurut
ketentuan ITT, bahwa digit
pertama kode
wilayah
yang bo!eh cigunakan
adalah
angka
2,3,4,5,6,7
dan
9.
Sedangkan
a:",gka
1
di.gunakan
untuk hubunga:". intemasional terbatas. Digit 8 digunakan
U.."ltuk sambungan telepon bergerak dan
digit 0
dipak:ai
untuk
awalan
jarak
jauh.
c. Nemor Telepon
Pelanggan
Nomor
telepon pclanggan merupa.latn nomor telepon
yang
harus diputar
untuk
mencapai pelanggan dalam kota
yang sama. Bila
si pemanggil berada
disuatu kota ingin
menghubungi nomor pelanggan dikota lain, maka ia
harus
memutar
lebih
dulu
kode
\Vilayah
dari
kota
tempat pelanggan
yang
akan
dipanggiL
Untuk pelangga:telepon selular
ketentuan
ini
tidak berlaku.
I
,,
2.6.2
Pembebanan
i
Titik
pembebanan (Point Of
Charging,
POC)
adalah tempat
dimana
pembebanan
wtuk
percakapan
tersebut
ditentukan
dan dicatat, dan kegiatan
perhitungan pembebax1an dimulai. Titik pembebanan berf<lngsi scbagai jarak dan
zoning
dati percakapan telepon. Titik
pembeb2.nan
dinyatakan dalam koordinat
bumi yang bempa besaran garis bujuc (derajat, menit) dan besaran ga.r:is !intang
(derajat
+
100, Meait). (Dirjen Poste:, 2000, piV-2)
Penentuan
titik
pembebanan
m1
biasanya
berdasarkan
wilayah
pemerintahan
dikarenaka.:1
masyarakat
!ebih
mudah
mengenal
lokasi
dat:J
luas
wiiayal1 pemerintahan daripada
mengenal wilayah atau
daerah pengelolaan
|
![]() 24
operator penyedia jasa
teiekomunikasi. Penentuan titik pernbebanan dila.kukan
oleh telkom sebagai pemegang hak eksklusif penyedia jasa telepon tetap
Untuk sistem selular penentuan
titik pembebanan berdasarkan
base
station.
Penentuan titik pembebanan untuk
base
station
juga berdasarkan
v, layah pemerintal1an bukan berdasarkan cakupan dari base station tersebut
2.6.3
Z1ming
Zoning
adalah kelompok ja2:"ak pada
pemakaian jasa
telepon yang
memiliki
charging
ya11g
sama. Perhitungan
zoning
dihitung berdasarkan
jarak
udara (lengkung burni) antara titik pernbebanan pemanggii dan titik pembebanan
yang dipanggil.
Jara.k
udara
antar
titik pembebanan
dihitu.rtg
berdasa:-kan
pada
koordinat titik pembebanan dengan
melaJ::nkan suatu pendekatan bahwa
I
(satu)
menitjara.l;: le;tgkung bumi
=
1,85 km. (PT Telkom, 1997, p3)
Sekarang iai terdapat empat buah pembagian zona, nama dan jarak anta:-
zona diperlihatkan pada tabel2.2
I
No Zona
IJarak (km)
0--30
I
1
>3o-2oo
l>2o_c;_-_s_o_c
Tabel 2.2
Zoning
I
Keterangan
I
Lokal
---
-- 500
jSLJ ---------------
(PI Telkom, 1997, pXVII)
|
|
25
2.6.4
Komponen Pu!sa
a.
Air Time,
Biaya
pemakaia.'1
atau
pendudukan fi·ekuensi
oieh
pelanggan
telepon
bergerak.
Jarak, Biaya
untuk
suatcjarak
percakapan
dari
titik
pembebanan
pemanggil
dengan
titik pembebanan
y&"Ig
dipanggil
dengan
memperhatikan
zona
percakapat1 tersebut.
"'
Lokal, jika
zone dari
Jarak adalah
0
(no!),
maka
percakapan
tersebut
dikatego-::ikan sebagai
percakapan
lokal.
"'
SLJJ, jika
zone
dari
Jarak lebih besiT
dari
1
(satu),
maka percakapan
tersebut
dikategorikan
sebagai
percakapan
SLJ.T.
dL
Rnaming,
Biaya
yang dikenakan
jika
suatu
mobile
station
melakukan
suatu
i
percakapan
dil.uar daerah
pelayanan
a%lnya.
Terdiri
dari
:
"
Behan
Roaming,
biaya
beban
yang
dikenakan
pada
mobile
station
jika
ia
i
!
I
melakukan
suatu
percakapan
diluar
daerah
pelayanan
asalnya.
Pasif Roaming,
biaya yang
ditangg;;ng
oleh mobile station
jika ta
menerima
suatu
panggilan
diluar
daerah
pelayanan
asalnya.
"
Aktif Roaming,
biaya
yang
dita_nggung
oleh
mobile
station jika
ra
melakukan
suatu
panggiian
diluar
daerah
pelayanan
asalnya.
i
c.
Behan,
Biaya
tambal:'.an
yang
ditanggung oleh
pelanggan
WARTEL unt.: k
satu percakapan
telepon.
Terdiri
dari
Beban
aktif,
biaya
beban
unt,;k
melakukan
sat::r par1ggilan
Beban
pasif,
biaya
beban
untuk
menerima
satu
panggilan
d. Interval, Waktu
dari
percakapan
unr.:k dianggap
sebagai
satu
pulsa telepon.
|
![]() 26
e,
Perhitu.'lgan
pulsa
dibedakar,
untiL:C perhitungan
pada
hari kerja
dan
libur
atau
hari
raya.
f.
Jam,
Perhitungan
pulsa
dibedakan
ur:tuk
perhitungan
pada
jam- jam
sibuk
dan
pada
jam tidak
sibuk
seperti
pada
malam
hari.
Dilikn:ll,
Besamya
diskon
yang
diberikan
oleh pengelola
WARTEL
pada
waktu,
jenis
par,ggil&'l dan
Tipe pelanggan
tertentu.
2.6.5
Perhitlmgan
Pulsa
Untuk
perhitangan
pulsa
pada
WARTEL
bergerak
berdasarkan pada
perhitungan
pulsa
pelanggan
Cl.JlVlA
biasa
dengan
melakukan
beberapa
penyesuaian
terutama
pada
perhitungan
antara
mobile station
ke
mobile
station
dima:na
letak
mobile station
dipanggil
tida.J,: dapat
diketahui.
2.6.5.1
Mobile
Station
Operator
Je!is
percakapan
ini
te::iadi
jika
pelanggan
WARTEL
menghubungi
mobile station
sistem
CDMA
Untuk
mengetahuinya, dila.l<ukan
dengan
menganalisa
digit
nomor
telepon
yang
dipanggil,
dimana
mobile station
CDWlA
mempunyai
office
code (Kode awalanjarakjauh
+
kode
wilayah)
082181.
Jeris
percakapan
ini
dibagi
kedalam
beberapa
kategori:
a.
keMSCDMA
Pelm1ggan WA..TEL
memanggil.
mobile station
CDMA,
keduanya
tidak ada
ya1:g
mela.'<:ukan
roaming
(Gan1bar 2.7)
Pulsa
BebanAktif+ 2
*Air Time+
JaraL ........................................(2.1)
Dimana:
.Tarak =
POC
MSC C:::J 1A Kota B -
POC
WARTEL
|
![]() -
--.&
I
i:
27
Jika
Jara.k
ZO
maka Jarak
=
Rp
0.00
MSC CDMA K<>ta
A
MSC CPMA Kot:> 1';1
1';1
/
G
MS CD.\fA KMn A
(WARTEL)
MS COMA Ket&D
Ga.uhar
2.7
Call Flow
WARTELke MS CDMA
b.
W
ARTEL
Roaming ke
MS CDMA
i
Pelanggan
WARTEL
mema.'"lggil
mobile station
CDMA.
WARTEL sedang
:
herada
dalam posisi
roaming
(Gam bar
2.8)
l':.ilsa =Behan Aktif + 2
*
Air Time
+ Jarak
+Behan
Roaming ...........
(2.2)
Dimanz. : Jarai>:
=
POC
MSC
CDMA
Kota B
-
POC
WARTEL
Jika
Jarak =
ZO
maka Jarak =
Rp 0.00
Gantbac 2.8
Call Flow
WARTEL
Roaming
ke
:'viS CDMA
2.6.5.2 W
ARTEL
ke
Mobile .Ytation Bedm Operator
J
enis
percakapan
ini
adalalt
setiap
percakapan yang
dilakukan
oleh
pelanggan
WARTEL
jika
ia
menghubungi
penyedia
jasa
telepon
bergerak
lain
selain
CDMA.
Seperti
menghubungi
lvfobile station A.MPS,
N2'v1T atau
GSM.
Untuk
mengetahliL'lya,
dilakukan dengan
mer.ganalisa
office code,
dimana
I
,.
i
I·
|
![]()
28
mobile station
selain
CO!v'LA
memounyai
office code
08 selain
082181
(COMA)
dan
080 (layanan
JAPATI)
a. WARTELke MS Non CDMA
Pehmggan WARTEf
memanggil
mobile station Non
COMA, WARTEL
tidak
berada
dalam
posisi
roaming
(Gambar
2.9)
Pulsa
=
Beban
Aktif
+
2
*Air Time+
Jarak
....................................(2A)
Dimana
:
Janik
POC MSC
Non
CDMA- POC
WARTEL
MSCD MK<>b.A
(WAR'fEl)
Gam'Jar 2.9
Cali
Flow
WARTEL
ke MS
Non
COMA
h.
W
ARTEL Roaming ke ffS Non CDMA
Peim::gga\1
WARTEL
memanggil
mobile station
Non
CDMA,
WARIEL
berada dalam
posisi
roaming
(Gambar
2.10)
P
u.sa
1
=
B
ec
b
nL
Ak1"1"
'
'
·
_
7
*
·
1
4
r
r·
zme .-
·.
Jara
k
+
B
e
b
ar1
R
oamm
·
g
.............-
(
7
·
5\
,
Dimana
:
Jarak =
POC
MSC
Non
CDMA-
POC
WARTEL
I
-u..-
m
WI
MS
on CD;!;1A
MS<:rioo
rioo
COMA
Gombar 2.10 CallFlowWARTELRoaming
MSNon CDMA
|
![]() 29
2.6.5.3
WARIEL ke PSTN
Pada
jenis
percakapa_rt
ini
adaiah
setiap
percakapan
yang
dilakukan
oleh
pelanggan
WARTEL
jika
ia
menghubungi
sistem
telepon tetap.
I
a. W ARTEL ke PSTN
Pel<mggan
WARTEL
memartggii
PSTN,
WARTEL
tidak
berada
dalam
pasisi
roaming
(Gambar
2.11)
I
!'·
P
tlsa
Beban
Aktlf +
Air
Time+
Jarak
.........................................(2.6)
Dimana:
Jarak
=
POC
PSTN- POC
WARTEL
/
MS CD!Y.A Raln
A
\'WAR TEL)
I
---[!]
'
'
!\.'ilK CDIHAb:olli
b:olli
A
Sootr.ol P$TN
G:::mbar 2.11
Call
Flow WARTEL
ke PSTN
b. WARTEL
Roaming
ke PSTN
Pelanggan
WARTEL
memanggil
PSTN,
WARTEL
berada
dalam
posisi
roaming
(Gambar
2.12)
Pu!sa
=Behan Aktif +
Air Tii.ze
+
Jarak"'" Beban
Roaming
.................(2.7)
Dimana
: Jarak
POC
PSTN- POC
WARTEL
MSC COMA
K
la A
Gan:bar
2.12
Call
How WARTEL
Roaming- PSTN
|
![]() 30
2.6.5.4 WARTEL ke IDD
Pada jenis percakapa.'t
ini ao.alah setiap percakapan
yang dilakukan o!eh
pelanggan
W
ARTEL jika ia menghubungi
nomor
IDD
a.
WARTEL
ke
mD
Peianggan
WARTEL
memanggil
IDD,
WARTEL tidak berada dalam
pos:si
maming (Gambar
2.13)
Pulsa
=
Beban
1ctif
+
Air
Time
-i
IDD .........................................(2.8)
MS
('!J)l.A Kt
ta A
(WARTft.)
Ganbar 2.13
Call
Flow
WARIEL
ke
IDD
.
IJ.
W
ARTEI.Roami11g
ke
Pelanggan
W
TEL
memanggil
IDD,
WARTEL
berada
dalam
posisi
roaming
(Gambar
2.14)
Puisa =Behan
Aktif
+
Air Time+
IDD + Beban
Roaming
................(2.9}
MSC
COMA
Kota
A
MSC COMA K<lta C
Gambar 2.14
Call
Flow
WARTEl..
Roaming
ke IDD
|
![]() 31
2.6.5.5 WARTEL
Menerima
Panggilan
Pada
jenis
percakapac'l ini adalah
setiap
percakapan
yang
dilakukan
oleh
pelanggan
WARTEL
jika ia
dihubungi
oleh
semua
sistem
telepon
a. WARTEL Menerima
Panggilru:n
Pelanggan WAR'fEL
meneriDia
panggilan,
WARTEL
tidak
berada
daiam
posisi
roaming
(Gambar
2.15)
Pulsa =
Beban
Pasif .................................................................
(2.10)
MS CDMA
Kot!A
{WARTEL)
Gambar
2.15
Call
Flow WARTEL
me:1erima panggilan
b. WARTEL
Roaming
Menerima
Panggi!:lll:l!
Peianggan
WARTEL
mer:erima
panggilan,
WARTEL
berada
dalam
posisi
roaming
(Gambar
2.16)
Pulsa
=
Beban
Pasif +
Beban
Roaming+
Jarak ..............................
(2.11)
Dimac'la:
Jarak
=
POC
WARIEL- POC
KOTA
A
Gambar
2. i6
Call
Flow
WARTEL
Roaming
menerima
panggilan
|
|
|
|
32
2.1
::vl:ikrok<llltroler AT8\IC51
AT89C51
adalah
suam produk
mikrokontroler
buatan
ATMEL
yang
kompatibel
dengan
MCS-5
rn.
AT89C51
merupakan
mikrokontroler
8
bit
yang
mempunyai
daya
rendah,
CMOS berdaya
kelja
tinggi
dengan
4K bytes
Flash
programmable
dan erasable
read
only
memory
(PEROM).
Mikrokontroler
ini
di.produksi
dengan
teknologi
Nonvolatile
memory
yang
berkerapatan
tinggi
dan
instruction
set
dan
pinout-nya kompatibel
dengan
standar 80C5l dan
80C52.
Dengan
adanya
fasilitas
flash
on-chip
menjadikan
Program
Memory
dapat
diprogram
ulang
didalam
sistem
atau melah.ti
programer
Nonvolatile
memory
yang
konventionaL
Fit:ur yang terda;Jat pada
AT89C51
adalah
$
CPU
8-bit
yang
dioptimasikau untuk aplikasi
control
@
32
VO
bidirectional
dan dapat
dialamati
secara
terpisah
<>
128
bytes
Data
RAM
on-chip
Dua 16-bit
timer/counter
* Full Duplex
t;ART
e 5 sumber
Interupt dengan
2
level
prioritas
4K
bytes Program
Memory
on-chip
"
64K Bytes ruEL'lg alamat
Program Memory
e
64K
Bytes
rua=:1g alamat
Data
Memory
2.8
DTYAF
Decoder
MT8870
MT8870
merupakan
suatu
perangkat
decoder
untuk DTMF
yang
mengintegrasikan
fungsi dari
bandsplit filter
dan
digital decoder.
Bagiac'1 filter
I
I
'
|
![]() 33
menggunakan teknik
penyambungan
kapasitor
untuk
menyarL11g
kelompok
frekuensi
tinggi
dan
rendac. Bagian
decoder
menggunakan
teknik
perhitnnga11
digital
untuk
mendeteksi
dan
mengkodekan
16
pasang
tone
dari
DTiv!F
ked>Lam
kode 4
bit
Jumlah
perangkat
eksterna!
dibrangi dengan
adanya
rangkaian
internal
seperti
penguat
differensial,
Clock
oscillator
dan
bus
three-
state.
DTMF
Decoder
ini
terdiri
dari
beberapa
sub sistem
yaitu filter,
decoder,
oscillator
dan
rangkaian
steering.
Diagram
Blok
dari
DTMF
Decoder
qjelask '1
pada
gambar
2.17.
j!-Jy·····-'-"'-
?-1-· ,,,, ......
GS-lf-----1
:::.>co----,--1>
c...,
OSC1
STD
TOE
Gambar
2.17
Diagram
Blok
'\1T8870
2.7.1
Filter
Pemisalllm
kelompok
tone rendah
dan tinggi
dilakukan
dengan
memasukan
sinyal DTMF
kedalam
dua
filter
kapasitor
berorde
enam,
yang
menghasilkan
kelompok
frekuensi
rendah
dan
kelompok
frekuensi
tinggi
Bagian
filter
ini
juga
membuailg
frekuensi
dari
dial
tone
(350
Hz
dan
440 Hz).
Masing-
|
|
34
masing
keluaran
filter
dimasukan
kembali
ke
dalam
filter
kapasitor
berorde
tw1ggal
untuk
mengha!uskan
kembali
sinyaL
2.7.2
Decoder
Seteial: difilter
sinyal
tersebut
kemudian
dimasc;kan
ke
dalam
sebuah
decoder
yang
berfungsi
lliltuk
menentukan
frekuensi
dari
tone
yang
diterima
dan
untllk
mernastikan
bal1wa
tone
tersebut
memenuhi
standar
dari
frekuensi
D'Th1F.
S:Jatu
algoritma
perata
-
rataan yang
sangat komplek
diterapkan
tmtuk
menghindari adanya
suatu
tone
palsu
yang
berasal
dari
sinyallain
seperti
suara
dengarr rnernberika.c'1 tolerasi
yang
kecil
pada
deviasi
dan variasi
frekuensi
.
2.7.3
R1mgkll.ian
Steering
Sebelum
sinyal
yang telah
di kodekan
di
keluarkan,
sebelumnya
sinyal
tersebut
dicheck
apak:ah
durasi dari
sinyal benar.
Jika
durasinya
benar
baru
sinyal
tersebut
dikelurkan
melalui
output
Q1
-
Q4
yang
aka.11
merepresentasikan
niiai
biner
dari
berbagai
macal!l keadaan
input.
2.7.4
Osilator l!Uistal
Rangkaian
Clock
internal
dari
MT
8870
cukup d!lengkapi
suatu
kristal
'
\
eksternal
sebesar
3.579545
MHz.
LCD
HD44780U
LCD
(Liquid
Crystal
Display)
:yang
digunakan pada
alat
ini
diatur
melalui
Slli!tu controller
atau driver HD44780U
dari Hitachi
yang
dapat
|
![]() 10
Tulis !R sebagai
operasi
inte1nal (Contoh
:
Bersihkan
Layar)
l
1
Baca
Busy
flag
[ilB7)
and address
counter
(DBO-DB6)
1
0
Tulis
DR sebagai
operasi
internal
..
I
l
I
Baca DR sebagai
operasi
intemal
I
=l
35
menampilkan
huruf
alphanumeric,
karakter
kana
Jepang
dan
simbol.
LCD
yang
digunaka<1pada alat
ini
berukuran
16
karakter
X
2
bari s
dengan
ukuran
karakter
5
x
7
dot
matrik
dan
1
baris dibawahnya
yac'l.g dign11akan untuk
kursor.
LCD
HD44780U
dapat
dikonfigurasi
untthlc bekerja
pada
mikroprosesor
4 bit
atau
8
bit.
LCD
HD44780U
mempunyai
Character
Generator
ROM
(CGROM)
yang
:nampu
menampilkac'l
208
karakter
pada
ukuran
karakter
5
x
8
dotma0Jc
2.8.1
Register
Didala:n
kontroler
LCD
terdapat
dua
Register
8
bit,
Instruction
Register
(IR) dfu'1
Data
Register
(DR).
Meialui
sinyal
Register
Selector
(RS),
pemilihan
dua
Register tersebut
dila..kthlcan.
Tabel2.3
Pemilihan
Register
IRS
j_ru_w_"+l-op_er_ _on
I
lR
berfungsi
t;Utth
men}1mpan
kode
-
kode
instmksi
seperti
membersihkan
layar
da:1
menggeser
cursor,
juga rr<enggeser informasi
alamat
dari
Display
Data RAM
(DDRA,\1) dan Character
Generator
RAM
(CGR.l\M).
lR
hanya
dapat
dirubah
oleh
mikroprosesor. DR
berfungsi
pe11yimpanan data sel:lentara
yang
akan ditulis
kedalam
DDRAM
atau
CGRAM.
|
|
36
2.8.2
Busy Flag
Ketika
busy
flag bernilai
1,
maka
controller
dari
LCD sedang
berada
dalam
mode
operasi
internal,
dan
instruksi
berikutnya tidak
akan
diterima.
Ketika
RS 0
dan
R
!W
=1
busy
flag
dikeiuarkan
pada
output
DB7.
2.8.3
Address Counter
(AC)
Address
Counter
(AC)
berisi
pengala:tr..atan
untuk
DDRAM
dan
CGRAM.
Ketika
suatu
alamat
dari
ilh'ltn:ksi diMis
kedalam
IR,
informasi
alamat
dikirim
dari
lR
ke
AC.
Pemilihan
antara
DDRAM
atau
CGRA\1
juga
ditentukan
secara
bersamaan
dengan
insttuksi.
Setelah
menulis
atau
membaca
DDRA'vf atau
CGRAM,
Nilai
AC
secara
i
otomatis
bertambah
atau
berkurang
1.
Nilai
AC
kemudian
dikeluarkan
ke
DBO
sampai
DB6
ketika RS
=
0
atau
RIW = l
2.8.4
Display
Data RAM
(DDRAM)
Display
Data
RA\1 (DDRAM)
men:y1mpan
data
display
yang
direpresentasikan
dalam
kode
character
8
bit
Mempunyai
kemampuan
80 x 8
bit
atau
80
karakter. AC
akan
menunjukan aiarnat
dari
display
yang
tarnpil.
Setiap
DDRAM
mempunyai
alamat
relatif.
;,
2.8.5
Character Generator
RAM
(CGRA.'VI)
'
Pa.da
Character Generator
RAM,
seorang
user
dapat
menulis
sendiri
pola
karakter
melalui
program.
Terdapat
8
pola
karakter
yang
dapat
dibuat.
|
|
37
2.8.6
Character Generator
ROM (CGROM)
Untuk
menampilkan
display
ke
dahL'TI
LCD, kita cukup
menuliskan
koce
ASCII-nya.
Di LCD
terdapat
CGROM
yang akan
mengkonversi
kode
ASCII
menjadi
pola
karaktcor 5 x
7
dot
matrik
yang
akan ditampilkan
di
LCD.
2.8.7
Instrnksi
I
Seorang
user
dapat
mengatur
fungsi dari
LCD
melalui
IR
dm1 membaca
!
atau
menulis
melaiui
DR.
Semua
intruksi
dari
LCD
dapat
dikategorikan kedalam
tiga
kategori
a.. Mengatur
fungsi
dari
LCD
b. Penga!amatan
RAM
internal
c.
Menulis
atau membaca
RAM
intel1l!ll.
2.9
Real
Time Clock
DS12C887
IC
Dallas
DS12C887
merupakan
sebuah
IC
Real Time Clock
(RTC).
Yang
dimaksud
dengan
RTC
adalah
IC
ini
mmnpu
meyedia.kan
Clock
yang
tetap
benar
waiaupun
tidak
ada
tegangan.
Selain
menyediakan
Clock,
IC ini
juga
menyediakan Kalender,
Oscilator
kotak
yang
dapat
diprogram,
Time Alarm
dan
User
Rmn..
IC
ini
dapat
berkerja
berdasarkan
dua
Tipe
bus
prosesor
Motorola
dan
Ir
tel,
dimana
pengaiurannya
dilakukan
melalui
pin
MOT.
IC
irJ
sudah
mempunyai
baterai
lithium
da.>
Quartz
yang
membuat
isi
RAM
dari
DS12C887
dapat
bertahan
smnpai
l
0
tahun
sedangkan
kale:;.demya valid
sa.mpai tahun
2100.
Tiga
bual1
maemn
lnterupt
disediakan
dan
dapat
diprogram
melalui
softwore. Representasi
wa.ktn, kalender dan
alarm
dapat
dipilih antara
binary
|
![]() 38
ataE
BCD.
Mode
dati
jam
juga
dapat
dipilih
e41tara :uode
12
jam
(AM,
?M)
atau
dengan
mode
24
jam.
Untuk
mengefisiensikan
bus
IC
ini
sudah
me-multtjlex-kru1
antara
bus data
dengan
bus
ala..'TI.atuya. RTC
pada
slu
psi
ini
digunakan
sebagai
pewak:u
selain
ini
User
RAM
nya
digunakan
sebagai
buffer
dari
serial
RS232.
Diagram
Blok
dari
RTC dapat dilihat
pada
gam"!:Jar 2.18.
SQW
D
CCNTURY BYTE
G&'TI.bar
2.18
Diagra..m Biok
DS12C887
2.9.I
Pemetaan Alamat RTC
Pengalamatan
dari
DS12C887
dapat
dijelask<L'l pada
gambar
2.19.
Pengalamatru1 tersebut
terdiri
dari
113
byte
yang
digunakan
untuk
user
RAM.
11
byte
R.Arv1
berisi
wktu RTC,
kalender
dan
data
alarm,
4
by1e digunakan untuk
menenmkarc
status
dan
control.
Keselun:han
dari
128
byte
tersebut
dapat
ditu!is
dan
dibaoa
kecUJJ.li untuk
beberapa
hal
dibawah
ini
:
|
![]() =>
,
'
50
.,
J
39
a.
Register
C
dan
D
hanya
dapat
dibaca
b.
Bit
7
dari
Register
A
hanya
dapat
dibaca
c.
Bit
high
order
bit
byte vvaktu hanya
dapat
dibaca
BYTES
SECONDS ALARM
OD
2
MINUTES
14
I
OE
3
MINUTES ALARM
"
HOURS
"
,_
'
DAY OF THE WEEK
""
s
HOURS ALARM
"-
51
7
DAY OF
THE
MOf\f'Tli
l!il
MONTH
[
,_
5
YEAR
0:
10
REGISTER A
"'
1
REGISTER E!
l
REGfSTERC
1l
REG(STERD
5ll
CENTURY
Gambar2.19
Pemctaan
Alamat
Informasi
waktu
dan
kalender
dilakukan
dengan
membaca
byte
ya.'1g
bersesuaian.
Sedangkan
untuk
menginisialisasi
atau
mengatcr
nilai
dari waktu,
kalender
dan
alarm
dilakukan
dengan
cn::enulis
byte
yang
bersangkutan.
Ni!ai
dari
10
byte
dari waktu,
kalender
da..TI
ala:-m
dapat
ber..tpa
binary
atau
BCD dilakukan
dengan
mengatur
nilai
DM
(Data
Mode)
pada
Register
B.
Sebelum
menulis
kedalam
Register
waktu,
kalender
dan
aim-m, nilai
dari
SET bit
di
Register
B
hants
ditu!is
ke
logika
satu
untuk
menghindari
update
yang
terjadi
ketika
sedang
menulis/membaca.
Setelah
penulisan
selesai
nilai
bit
pada
Register
B
harus
diclearkan
kemba!i agar
RTC dapat
melakukan
update data.
|
|
40
Tiga
bual1 byte
a!at-m dapat
digunakan
dengan
dua
cara.
Cara
pertama,
ketika waktu alarm
dituliskan kedalam
lokasi
ja.rn,
menit dan
detik yang
bersesuaian,
maka
alarm
interrupt
aka,,
ctiinisialisasi
pacta
waktu
yang
te-pat
setiap
harinya
jika
bit
enable-nya
bemilai
satu.
Cara
yang
kedua
ctengan megisi
kondisi
"don't
care"
pada satu atau
lebih
tiga
buah
byte alarm.
Kode
"don't
care"
adalah semua nilai
hexadecimal
da.ri
CO samapai FF Jika
"don't
care'
dimasukan
pada
byte
jam maka
Alarm lnterupt
akan
di!aksanakan
setiap
Jam
pacta
menit
dan
detik
yang
bersesuaian..
Jika
"don't care'
dimasukan
pada
byte
jam
dan
menit
maka
Alarm lnterupt
akan
dilaksanakan
setiap
menit
pada
detik
yang
bersesuaian..
Sedangkan
jika
semuanya
kita
i1llis
dengan
kode
"don't
care"
malca alarm
interrupt
akan teljadi
setiap
detik.
2.9.3
Register
Kontrol
DS12C887
memiiiki
empat
buah
Register
kontrol
yang
kesemuanya
da?at
cliakses
setiap saat
walaupun
pada
saat update cycle.
Register
tersebut
terdiri
dari
Register
A,
B,
C
dan
D,
Untuk
melakukan
pengaturan
terhadap
RTC
dilakukan
dengan
mengatur
isi bit dari
keempat
register
tersebut
2.9.4
Nonvolatile
RAM
113
Nonvolatile
RAM
tidak digunakan oleh
DS12C887 dan dapat
digunakan
sebagai
user
RAM.
Pada
system
kita
1i3
Nonvolatile
tersebut
digunakan
oleh
Mikrokontroler
sebagai
buffer
dala.m tra:unisi
data
seriaL
Hal
ir.i
dilalcrkan
karena
padatnya komunikasi
antara
komputer
dengan
Mikrokontroler.
|
|
41
2.9.5
Register
Abad
Register
Abad
terletak
pada
alarn.at 32h, fonnat
datanya
selalu
dalam
bentuk
BCD. Ketika
Register
tahu11
berubah
dari
99
menjadi
00
maka
Register
abad
akan
berubah
menjadi
20.
Register
abad
ini
merupakan
salal1 satJ
kelebihan
dari DS
l2c887
dibandingkan
dengan
IC
Real
Time
Clock
sebehannya. Dengan
penarnbahal"l
register
abad
maka
IC
RTC
memp;.myai fitur Y2K
Ready.
|