|
1
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diambil adalah, kawasan setubabakan merupakan
kawasan yang tepat untuk digunakan sebagai kawasan wisata budaya betawi,
terlihat dari sejarah dan kondisi geografis setubabakan dimana terdapat danau
yang digunakan sebagai dasar filosofi masyarakat betawi pinggiran dimana
warga mengikuti alur sungai atau danau sebagai tempat mereka tinggal (
sumber, Cokorda Gede Alit Semarajaya,2012,Identifikasi Pola Permukiman
Tradisional Kampung Budaya Betawi Setu Babakan). Dengan perkembangan
jaman, maka mulai tergeserlah budaya betawi yang tinggal didalam kawasan
setubabakan itu sendiri. terlihat dari data analisa yang sudah dijelaskan bahwa
keadaan setubabakan sekarang mulai timbul banyak masalah dari segi program
ruang dan bentuk tipologi arsitekturalnya. permasalahan yang ada dalam tapak
dengan kondisi ini, membutuhkan penyelesaian rancangan berdaarkan teori
yang saya ambil yaitu: Figure/Ground, Hamid Shirvani Penyelesaian tersebut
disesuaikan dengan aspek non-fisik dimana terlihat pada kebudayaan dan
aktifitas yang dilakukan oleh warga betawi dalam menjalani kehidupannya.
Hasil yang diperoleh adalah beberapa fungsi ruang bangunan yang baru
dengan pendekatan bentuk bangunan kontekstual budaya betawi.
Kesimpulan kedua setelah melakukan penelitian dan sintesa kawasan,
maka terdapat 6 tahapan dalam merancang kawasan terpadu dengan morfologi
budaya betawi di setubabakan itu sendiri
|
![]() Gambar 5.1 Tahapan Pertama
Sumber: Olahan Peneliti (software sketchup)
Tahapan Pertama meliputi kawasan tapak yang akan diolah tersebut dijadikan
meniadi 1 bentuk massa dan bangunan dengan fungsi yang berbeda.
Gambar 5.2 Tahapan Kedua
Sumber: Olahan Peneliti (software sketchup)
Tahapan kedua akan dilakukan pengklasifikasian kawasan
sesuai analisa Tata
Guna Lahan, oleh karena itu terdapat 3 Tata Guna Lahan yang ada dalam
perancangan kawasan Tapak tersebut.
|
![]() Gambar 5.3 Tahapan Ketiga
Sumber: Olahan Peneliti (software sketchup)
Tahapan ketiga didalam kawasan Hunian, akan melakukan perubahan
pola yang tidak teratur menjadi pola grid sesuai dengan teori Hamid Shirvani.
Kesimpulan ini berdasarkan Analisa Tata Guna Lahan.
Gambar 5.4 Tahapan keempat
Sumber: Olahan Peneliti (software sketchup)
Tahapan keempat, didalam didalam kawasan Hunian, akan melakukan
perubahan sesuai dengan elemen Void Figure/Ground. Kesimpulan ini
berdasarkan Analisa Tata Guna Lahan.
|
![]() Gambar 5.5 Tahapan kelima
Sumber: Olahan Peneliti (software sketchup)
Tahapan Kelima, Sudah mendapatkan program zoning
yang terakhir.
terdapat elemen-elemen pembentuk kawaasn yang sudah menempati area tapak
yang akan dirancang. Zoning
ini berdasarkan 3 teori yaitu ;
Hamid shirvani,
Figure/Ground
Gambar 5.6 Tahapan keenam
Sumber: Olahan Peneliti (software sketchup)
Tahapan Keenam, menambah elemen open space, dimana dibutuhkan
untuk sirkulasi dan pendukung aktifitas dalam kawasan tapak yang akan saya
rancang. Elemen Open space itu sendiri berdasarkan teori Hamid Shirvani. Dan
menambah beberapa elemen pembantu seperti budidaya ikan
sebagai aktifitas
penunjang keseharian warga kampung setubabakan.
|
![]() Setelah program ruang telah terbentuk sesuai dengan filosofi yang ada,
maka tipologi arsitektural betawi yang sudah ada sejak dahulu kala kembali
dimunculkan dalam kawasan setubabakan ini.
berbagai filosofi dan tipologi
yang kembali dimunculkan adalah :
Tabel 5.1 Elemen Rumah Betawi
No
Struktur
Keterangan
Gambar
1
Atap
-
Bapang
-
Joglo
-
Gudang
2.
Paseban
Bagian depan
bangunan betawi yang
terbentuktanpa
dinding.
Terbuat dari kayu atau
papan yang biasanya
terbuat dari pohon
nangka
3.
Langkan
Bagian tepi paseban,
dan memiliki motif
yang bervariasi, yang
biasanya memiliki
motif gigi balang.
4.
Tapang
Tapang adalah bale-
bale bambu yang
digunakan sebagai
tempat bersantai
|
![]() 5.
Jendela Jejake
Jendela intip dan tidak
mempunyai daun
jendela
6.
Jendela
Krepyak
Sumber : Olahan pribadi
Dan filosofi yang kembali dimunculkan adalah sebagai berikut :
Tabel 5.2 Filosofi Rumah Betawi
No
Filosofi
Keterangan
Gambar
1.
Filosofi
balaksuji
Konstruksi tangga pada
rumah panggung
Betawi. Pada rumah
betawi panggung
siapapun yang akan
memasuki rumah harus
melewati tangga
terlebih dahulu. artinya
orang yang sedang
|
![]() memasuki tangga
menuju proses kesucian.
2.
Filosofi Ragam
hias
Ragam Hias yang ada
dalam adat betawi
melambangkan makna-
makna filosofi yang
menggambarkan sifat-
sifat yang dimiliki
masyarakat Betawi.
3.
Filosofi
Langkan
Langkan atau pembatas
yang ada didalam
rumah betawi memiliki
simbol patung manusia
yang diartikan sebagai
simbol penjaga rumah.
4.
Filosofi
pendaringan
Pendaringan diartikan
sebagai tempat pusaka
menaruh beras.
pendaringan biasanya
diletakan didalam dapur
dan tidak boleh terlihat
oleh orang luar rumah.
|
![]() 5.
Filosofi Kendi
Kendi memiliki filosofi
sebagai tempat menaruh
air dan digunakan untuk
membasuh muka dan
kaki para musafir yang
sedang melewat.
6.
Filosofi Lampu
Lampu dalam adat
betawi merupakan
lampu gembreng, yang
memiliki filosofi
sebagai penyeimbang
hidup dalam menjalani
kehidupan.
7.
Filosofi Kaca
Cermin
Kaca dalam rumah
betawi memiliki arti
sebagai sifat orang
dimana harus
mengetahui posisi dia
dalam menempatkan
diri di kehidupan.
|
![]() 8.
Filosofi Kebun
Kebun digunakan
sebagai cadangan
makanan dan obat-
obatan dalam kehidupan
masyarakat betawi.
9.
Filosofi
Tanaman
Tanaman yang ada
dalam kebun
merupakan tanaman
obat untuk kepentingan
pemilik rumah.
10.
Filosofi warna
hijau dan
kuning
Fasad rumah betawi
memiliki campuran
warna hijau dan kuning,
yang memiliki arti
warna hijau adalah
kesuburan dan warna
kuning adalah
kesejahteraan.
Sumber : Olahan pribadi
|
|
Saran yang ditampilkan dalam analisa adalah mengembalikan kawasan
wisata budaya dan kampung permukiman budaya betawi di setubabakan dapat
kembali muncul dan tidak lekang oleh waktu. karena sesuai dengan morfologi
budaya betawi dimana perubahan muncul dalam perkembangan material yang
ada namun bentuk dan tipologi budaya betawi tersebut tidak akan berubah.
|
|
11
REFERENSI
1.
Buku:
-
Breen ann and Rigby Dick, 1994, Waterfront-Cities Reclaim Their Edge,
-
Broadbent, Geoffrey 1990: Emerging Concepts in Urban Space Design, Van
Nostrand Reinhold (International), London New York
-
Derrida, J 1982: Margins of Philosophy, trans Alan Bass, University of
Chicago Press, Chicago
-
Danisworo, 2003, Diktat Teori Perancangan Urban, Program
-
Doni Swadarma & Yunus Aryanto2011, Rumah Etnik Betawi
2.
Jurnal:
-
Aldin Meidani Algatia dan Achmad Syarief, MSD, PhD, 2012, Rancangan
Panel Informasi Interaktif Mengenai Bangunan Cagar Budaya di Kota
Bandung
-
Alexander Sastrawan, Hendra Rahman, 2006, Pola Penataan Zona, Massa,
dan Ruang Terbuka Pada Perumahan Waterfront
-
Muhammad Syaiful Moechtar, Sang Made Sarwadana, Cokorda Gede Alit
Semarajaya,2012,Identifikasi Pola Permukiman Tradisional Kampung
Budaya Betawi Setu Babakan, Kelurahan
Srengseng Sawah, Kecamatan
Jagakarsa,Kota Administrasi Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta
-
Sutiyono, 2008,Pemberdayaan Masyarakat Desa Dalam Pelaksanaan Program
Desa Wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta
-
Tajuk Panarung Andriani S.Kusni , Cagar Budaya
3.
Website:
|