|
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Setiap
perindustrian menginginkan
agar
proses
produksinya
dapat
berjalan
dengan efektif dan efisien. Namun hal
itu tidak dapat
terjadi, bila setiap orang
yang
terlibat di dalam industri tersebut, dalam melakukan segala sesuatu tidak
sesuai dengan peraturan. Misalnya hubungan antar karyawan biasanya buruk,
mereka tidak saling bertegur sapa, berpenampilan loyo, angka absensi tinggi.
Karyawan tidak memberi saran bagaimana meningkatkan proses produksi dan
tampak tidak peduli pada pekerjaan masing-masing. Lini kerja dipenuhi dengan
barang cacat dan pekerjaan ulangan. Lebih parah lagi pada
lini kerja banyak
terdapat peralatan kotor yang seharusnya bersih, peralatan yang seharusnya ada
di tempat masing-masing, berserakan di sembarng tempat. Serta ada sejumlah
besar produk tolakan dan bagian-bagiannya. Singkatnya tempat itu berantakan.
Industri Jepang merupakan salah satu industri di dunia yang paling maju saat
ini, karena memiliki sumber daya yang berlimpah dan orang-orang di Jepang
menyadari bahwa tidak ada
yang dapat diperoleh dengan
gratis,
mereka
bersedia untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras untuk
kehidupan mereka. Angka buta huruf di Jepang termasuk paling rendah di
|
|
2
dunia. Hubungan kerjanya paling harmonis, karena karyawan menyadari
pentingnya mencari cara mengerjakan segala sesuatu dengan lebih baik supaya
lebih mudah, hasilnya lebih baik, dan kehidupan mereka lebih menyenangkan.
Yang terkenal sampai ke luar negeri ialah usaha kooperatif, seperti gugus mutu
atau disebut program
Pengendalian Mutu
Terpadu (PMT). Selain
itu juga ada
Kaizen, Just In Time (JIT), sistem Kanban, dan sejumlah besar teknik lain untuk
melibatkan setiap orang dalam menghasilkan produk yang bermutu tinggi
dengan biaya yang seminimal mungkin.
Walaupun demikian gugus kendali mutu yang nampaknya merupakan dasar,
bukan merupakan langkah pertama. Langkah pertamanya adalah sikap kerja 5S
yang memberi tekanan kepada tempat kerja yang terorganisir dengan baik.
Tanpa penekanan ini, tidak mungkin mengatakan dimana masalahnya. Tanpa
prosedur operasi yang ditaati dengan konsisten dan ditetapkan
dengan
benar,
tidak
mungkin
mengatakan
apa
yang
anda kerjakan
benar
atau
salah.
Tanpa
sikap kerja 5S tidak satupun kampanye dan inovasi lain yang telah ditemukan
untuk
memperoleh
kondisi kerja
yang lebih baik
dan
produk
unggulan
akan
berhasil.
Sikap kerja
5S
merupakan kebulatan
tekad
untuk
mengadakan
penataan, pembersihan, memelihara
kondisi yang mantap dan memelihara
kebiasaan
yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Nama
5S
berasal
dari
huruf
pertama
istilah Jepang
yaitu
Seiri
(Pemilahan),
Seiton
(Penataan), Seiso
(Pembersihan),
Seiketsu
(Pemantapan),
dan
Shitsuke
(Pembiasaan).
|
|
3
Penggunaan 5S mempunyai dampak yang besar bagi suatu perusahaan.
Perbedaan antara perusahaan yang menerapkan 5S dan yang tidak akan terlihat
dengan jelas dari penampilan tempat kerja dan performance karyawannya. Bila
pabrik tersebut kotor, meskipun produk jadinya bagus atau wiraniaganya sangat
cekatan, akan timbul kekhawatiran konsumen untuk tidak berurusan dengan
perusahaan tersebut. Pabrik merupakan realitas yang ada dan konsumen
cenderung lebih condong penilaiannya ketimbang pesan dari produk itu sendiri.
Selain penilaian dari konsumen, pengaruh juga bagi karyawan yang harus
bekerja di tempat kotor dan berantakan, otomatis karena hal itu produktivitas
akan menurun. Karyawan akan sulit konsen pada pekerjaannya karena suasana
kerja yang tidak nyaman dan akan membuat seseorang mudah emosi serta
gampang
terserang penyakit.
Hal
itu
tentu saja
tidak
baik
bagi
stabilitas
perusahaan. Jika karyawan sakit maka jalannya proses produksi akan terganggu,
hasil
produksi
tidak
sesuai
dengan
target
perusahaan, selain
itu harus
mengeluarkan biaya berobat bagi karyawan tersebut. Sehingga akan lebih
banyak kerugian yang harus ditanggung perusahaan. Disamping itu peralatan
yang tidak terawat karena diletakkan sembarangan, akan mudah rusak dan juga
saat-saat diperlukan akan sulit ditemukan, karena tidak
ingat
meletakkan
dimana dan membuang-buang waktu untuk mencari-cari peralatan yang sedang
dibutuhkan tersebut. Bila suatu perusahaan tidak menginginkan hal-hal buruk
terjadi seperti yang
telah disebutkan tadi,
maka perusahaan
harus
menerapkan
5S. Resiko kecelakaan kerja dan sakit dapat ditekan seminim
mungkin. Selain
|
|
4
itu dapat mencegah pemborosan bahan dan peralatan yang digunakan, karena
akan tertata rapi yang diletakkan sesuai dengan kebutuhan penggunaannya, serta
terawat dan mengurangi resiko kehilangan peralatan tersebut.
Mengingat peran besar yang dapat diberikan bagi perusahaan bila
menerapkan 5S,
maka sudah seharusnya perusahaan
menjalankan prinsip-
prinsip 5S. Berdasarkan pengamatan pada PT. Harapan Widyatama
Pertiwi
(UNILON) khususnya bagian pabrik terlihat bermasalah dengan 5S. Di daerah
lantai
produksi
terdapat
area
peletakan
dies,
pin,
dan
kalibrasi
yang
terlihat
tidak
teratur,
pembagian
antara dies,
pin,
dan
kalibrasi
tidak
dibedakan,
pembagian daerah untuk yang berukuran besar dan kecil juga tidak dibedakan,
untuk lebih jelas gambarnya dapat dilihat pada lampiran 1. Begitu juga kondisi
di
ruangan
maintenance sangat berantakan,
kotor, dan banyak
barang-barang
berserakan pada ruangan tersebut, banyak kabel-kabel sisa dan barang-barang
tidak
terpakai
lagi
yang tidak dibuang, tidak ada label
nama barang,. Gambar
kondisi ruangan maintenance dapat dilihat pada lampiran 2.
Akibat dari
tidak
adanya pemisahan antara barang yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan,
maka barang-barang akan menumpuk pada tempat kerja, dan sulit menemukan
barang pada saat kita membutuhkannya. Resiko kehilangan barang dapat terjadi
jika manajemen pabrik tidak memperhatikan masalah-masalah tersebut dan
tidak segera menanggulanginya.
|
|
5
1.2
Identifikasi Perumusan Masalah
Beberapa
masalah
yang ditemukan
pada
PT.
Harapan
Widyatama
Pertiwi
(UNILON) yang belum menerapkan 5S yaitu :
1.
Tidak adanya pemahaman bahwa untuk memperoleh kondisi tempat kerja
yang
sempurna,
maka
setiap
orang
dalam perusahaan
harus
bekerjasama
dalam memberi perhatian pada tempat kerjanya dan bertanggung jawab
pada setiap pekerjaannya.
2.
Ketidakpedulian pihak manajemen akan
pentingnya
pemeliharaan
dan
perawatan
peralatan
menyebabkan
perusahaan
harus
mengeluarkan
biaya
lagi jikalau ada peralatan yang rusak ataupun hilang.
3. Perusahaan tidak
memiliki suatu
sistem yang
mengatur
tentang kerapihan
dan kebersihan tempat kerja serta sikap kerja yang tertib dan disiplin.
Perusahaan
dapat
memperbaiki sistem
kerjanya apabila
mau
menjalankan
dan
menjaga
terus
sikap
kerja
5S
dalam tempat
kerjanya.
Oleh
karena
hal
tersebut, maka akan dirancang suatu sistem yang mengacu pada sikap kerja 5S
untuk diterapkan pada PT. Harapan Widyatama Pertiwi (UNILON).
Perancangan 5S dibuat karena adanya permasalahan yang timbul dalam
perusahaan ini dan dapat terselesaikan dengan prinsip-prinsip pada gerakan 5S.
|
|
6
1.3
Ruang Lingkup
Adapun
ruang lingkup perancangan 5S adalah pada bagian produksi dan
bagian maintenance. Diambil khusus pada bagian
ini karena
mempunyai
peranan penting dalam peningkatan hasil produksi perusahaan yaitu bagian
produksi
bila terjadi
kerusakan
mesin ataupun peralatan
lain
yang
dibutuhkan
untuk jalannya mesin produksi maka berhubungan dengan bagian maintenance,
yang mengatur perawatan mesin dan peralatan lainnya. Selain itu kedua bagian
tersebut terlihat paling bermasalah sehingga memerlukan 5S.
1.4
Tujuan dan Manfaat
1.4.1
Tujuan
Tujuannya yaitu :
Merancang
sikap kerja 5S
yang diperlukan
untuk bagian dalam
pabrik
yang bermasalah dengan 5S yaitu bagian produksi dan bagian
maintenance.
1.4.2
Manfaat
Manfaatnya yaitu :
1. Merupakan
kunci
penyelesaian
masalah
yang
selama
ini
mengganggu kinerja perusahaan.
|
|
7
2. Menemukan
alternatif-alternatif
pencegahan
resiko
kehilangan
peralatan.
3. Memberikan
perbandingan antara
sebelum
dan
sesudah
penerapan
5S.
4. Meningkatkan produktivitas dan keuntungan.
5. Menghasilkan sistem kerja yang lebih baik.
1.5
Gambaran Umum Perusahaan
PT. Harapan Widyatama Pertiwi adalah perusahaan yang bergerak di bidang
pembuatan pipa PVC dengan berbagai macam bentuk serta ukuran. Awal mula
berdiri tahun 1982 oleh Bapak Hendra Tjong Chandra dengan nama PD.
Harapan Utama yang bergerak dalam usaha perdagangan dengan menjadi agen
atas beberapa merek pipa PVC. Pada saat
itu produk
utama
yang dijual adalah
hasil
produksi PT. Pralon Corporation yang bermerek Pralon. Setelah 4
tahun
berjalan, PD. Harapan Utama
semakin mendapat kepercayaan dari
pelanggannya
yang kebanyakan
bergerak di bidang konstruksi dan pedagang
bahan bangunan. Oleh sebab meningkatnya pesanan, maka perusahaan
mengambil langkah untuk mengembangkan skala perusahaannya menjadi badan
usaha dengan nama PT. Harapan Widyatama Pertiwi
yang berlokasi di Jakarta
dengan alamat Jalan Agung Karya V no. 8 9, Sunter Podomoro.
|
|
8
Pada
tahun
1986
PT.
Harapan
Widyatama
Pertiwi
memulai keberadaannya
di bidang usaha pembuatan pipa dengan melakukan import aksesori
(sambungan) pipa, seiring dengan usaha
perdagangannya.
Namun,
karena
kapasitas permintaan pelanggan semakin bertambah sedangkan para produsen
pipa yang
lama
mengalami kesulitan untuk
memenuhi permintaan barang
yang
dikeluarkan oleh PT. Harapan Widyatama Pertiwi,
maka timbul rencana untuk
memiliki
sebuah
rumah
produksi
pipa
PVC
sendiri.
Rencananya
pabrik
pipa
baru
akan
didirikan
pada
sebuah lahan
kosong
milik
Bapak
Hendra
Tjong
Chandra
yang
berlokasi
di
Bekasi
dengan
alamat Jalan
Bantar
Gebang
Pangkalan V Desa Cikiwul.
Pada
awalnya lahan
kosong tersebut
disiapkan
terlebih
dahulu
konstruksi
pendukungnya untuk keperluan produksi. Kemudian pada tahun 1990 mencari
produsen mesin yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat investasi yang
direncanakan. Saat itu mesin
yang
dipilih
bermerek Cincinnati Milacron dari
Austria.
Pada
bulan
Januari tahun 1991,
kontrak
pembelian
mesin
dilakukan
dengan membayar uang muka 20% dan sisanya 80% dibayar dengan L/C
selama 6 bulan. Pada saat itu, dana 80% diadakan oleh sbuah perusahaan
Leasing dari Perancis
yang memiliki perwakilan di Jakarta. Tetapi disebabkan
adanya kebijaksanaan pengetatan uang (TMP) tahun 1992, maka perusahaan
Leasing tersebut mengundurkan diri. Pada akhirnya, UNI
BANK bersedia
menyediakan dana untuk membayar mesin-mesin yang telah dipesan dengan
bunga 29% per tahun
yang
mana saat
itu suku bungan sangat
tinggi. Sampai
|
|
9
dengan saat
ini
perusahaan
terus
menjalankan
produksi
dengan
produk
pipa
yang bernama UNILON yang
telah diekspor ke Srilangka tahun 2004,
Singapura tahun 2000, Vietnam tahun 2003, serta Bangladesh tahun 2001.
1.5.1
Struktur Organisasi
Pimpinan perusahaan yang ada pada PT. Harapan Widyatama Pertiwi
dipegang
langsung
oleh pemilik
perusahaan
dengan
seorang
Direktur
yang membawahi langsung beberapa orang manajer untuk melakukan
kegiatannya yang dibantu oleh beberapa kepala bagian.
Agar informasi yang mengalir di lingkungan perusahaan dapat akurat
dan
tepat waktu,
maka PT.
Harapan Widyatama Pertiwi
memiliki
struktur organisasi yang dapat dilihat pada halaman lampiran. Adapun
jabatan beserta tugas-tugasnya adalah sebagai berikut :
1. Presiden Direktur bertugas :
a.
Merumuskan dan menetapkan visi, misi, dan kebijakan
perusahaan untuk dipahami oleh seluruh karyawan perusahaan,
serta memberi penugasan kerja kepada karyawan yang ditunjuk
untuk melakukan kegiatan tertentu.
b. Menetapkan tujuan dan rencana serta strategi perusahaan dalam
rangka untuk mencapai misi dan terlaksananya kebijakan
|
|
10
perusahaan,
serta
mengawasi
pelaksanaan
operasional
perusahaan.
2. Direktur bertugas :
a.
Membantu
Presiden Direktur
dalam menetapkan
tujuan
dan
rencana perusahaan untuk mencapai misi dan terlaksananya
kebijakan perusahaan.
b.
Melakukan pengawasan dan pengendalian serta memberikan
pengarahan terhadap pelaksanaan operasional perusahaan sesuai
dengan rencana dan tujuannya.
3. Quality Management Representative (QMR) bertugas :
a.
Melakukan pengawasan terhadap penerapan
sistem manajemen
mutu
yang ditetapkan dan dijalankan perusahaan, dan
melaporkan hasilnya kepada direksi secara periodik.
b.
Melakukan tindakan penyelesaian masalah dan tindakan
perbaikan atas terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam
pelaksanaan sistem manajemen mutu.
4. Manajer Fabrikasi dan Umum bertugas :
a. Melakukan peninjauan atas pesanan pelanggan untuk produk
yang akan diproses melalui proses Fabrikasi.
b.
Mengawasi dan
memonitor pekerjaan bawahan dan kelancaran
kegiatan masing-
masing bagian yang ada dibawahnya, serta
melakukan perbaikan jika perlu.
|
|
11
5. Manajer Penjualan bertugas :
a. Melaksanakan
pemasaran dan
penjualan produk
perusahaan
sesuai dengan target dan rencana yang telah dietapkan serta
memelihara
hubungan
baik
dengan pelanggan
dan
semua
pihak
terkait dalam usaha meningkatkan penjualan produk.
b.
Melakukan perencanaan dan menganalisa situasi pasar untuk
mendukung tercapainya target penjualan.
6. Manajer Keuangan bertugas :
a. mengatur pengeluaran dan pemasukan keuangan perusahaan
untuk menjaga kelancaran dan posisi keuangan perusahaan.
b. Menyelenggarakan
dan
memonitor
kegiatan
akutansi
keuangan
dan
biaya
secara
tertib dan
teratur
serta
memberikan
laporan
kepada pihak manajemen terhadap posisi dan keadaan keuangan
perusahaan secara berkala.
7. Manajer Pabrik bertugas :
a. Menetapkan
dan
mengatur
rencana,
strategi,
dan
kegiatan-
kegiatan yang dilakukan di dalam lingkungan pabrik.
b.
Melakukan koordinasi, pengaturan,
penugasan,
dan
pengarahan
kepada
masing-
masing
bagian
yang
ada
dalam pelaksanaan
pekerjaan
yang
dilakukan
serta memberikan
peneguran
jika
bawahan melakukan hal yang tidak sesuai.
|
|
12
8. Kepala Bagian
Gudang Pusat
(bagian dari Manajer
Fabrikasi dan
Umum):
a. Mengatur dan melakukan pengawasan terhadap penyimpanan
dan pengeluaran barang yang ada dan akan disimpan dalam
gudang
serta
mencatat
laporan
dan penyediaan data-
data yang
diperlukan.
b.
Menerima
dan
meninjau
pesanan pelanggan untuk diketahui
tersedianya barang yang diperlukan.
9. Kepala
Bagian Fabrikasi
(bagian dari
Manajer
Fabrikasi
dan
Umum) :
a.
Meninjau pesanan yang diminta
oleh
pelanggan,
membuat
permintaan pengeluaran dan pemakaian bahan untuk melakukan
pekerjaan, serta membuat laporan kepada manajer fabrikasi dan
umum.
b. Mengatur pemakaian alat dan
mesin serta jadwal pekerjaan
sesuai dengan kebutuhan dan target/ rencana kerja yang ada.
10. Kepala Bagian Penjualan bertugas :
a. Menerima
pesanan
atau
order
dari
pelanggan
secara
langsung
atau yang melewati pihak manajemen atau bagian marketing dan
mengecek apakah produk / barang yang diminta tersedia di
gudang.
|
|
13
b. Melakukan pendataan dan penyimpanan arsip penjualan produk
berikut laporan yang dibuat.
11. Kepala Bagian Marketing bertugas :
a. Melakukan pemasaran dan penjualan produk perusahaan kepada
pelanggan baik yang baru maupun yang lama dengan membuat
penawaran dan menerima order sesuai kemampuan perusahaan.
b. Membuat laporan hasil penjualan yang dilakukan kepada
manajer marketing.
12. Kepala Bagian Penagihan bertugas :
a.
Mengatur dan memberikan penugasan kepada bawahan setelah
membuat rencana penagihan untuk melakukan penagihan kepada
pelanggan serta memonitor kegiatan penagihan tersebut.
b. Membuat
laporan
hasil
penagihan
kepada
pimpinan
dan
melaporkan masalah- masalah yang terjadi.
13. Kepala Bagian Keuangan bertugas :
a.
Mengatur dan melakukan perhitungan atas posisi keuangan
perusahaan
untuk
menjaga
kelancaran
arus
kas
perusahaan
dengan
meminta
persetujuan
kepada
manajemen
atas
pengeluaran biaya sesuai ketentuan perusahaan.
b. Memberikan
laporan
kepada
pihak
manajemen
atas
posisi
keuangan, neraca, rugi- laba secara periodik.
|
|
14
14. Kepala Bagian Akuntansi bertugas :
a.
Menyelenggarakan kegiatan akuntansi keuangan dan akuntansi
biaya
secara
teratur
dan
tertib
sesuai
dengan tujuannya
dan
mengawasi pelaksanaan anggaran perusahaan yang ditetapkan
serta melaporkan masalah- masalah yang terjadi.
b. Membantu
bagian keuangan
dalam
pengurusan
administrasi
yang berhubungan dengan perpajakan, bank, dan penagihan serta
pihak- pihak luar lainnya.
15. Kepala Bagian Personalia bertugas :
a. Melakukan
proses
penerimaan,
penempatan,
dan
juga
pengeluaran karyawan sesuai kebutuhan.
b. Melakukan penilaian atas pekerjaan yang dilakukan oleh
karyawan
termasuk
mengawasi
kedisiplinan, tingkah laku, dan
absensi karyawan.
c. Menyelenggarakan kegiatan administrasi kepegawaian, seperti
data lembur, cuti, dan sebagainya.
16. Kepala Bagian Produksi/ Gudang bertugas :
a. Menerima
order
produksi
dan
bersama
manjer
pabrik
merencanakan jadwal produksi dan penugasan kerja serta
mengkoordinasikan, mengatur, dan memberi pengarahan pada
supervisor dan operator produksi.
|
|
15
b. Mengawasi dan
memonitor pelaksanaan kegiatan produksi serta
hasil
yang
dicapai
pada setiap
jalur/
mesin
produksi, dan
meninjau laporan produksi yang dibuat oleh bagian administrasi.
17. Kepala Bagian QC bertugas :
a.
Memonitor dan mengawasi pelaksanaan pemeriksaan/ inspeksi
yang dilakukan oleh staf dan operator QC sesuai.
b.
Memberikan masukan dan usulan kepada bagian produksi atas
masalah dan penyimpangan proses produksi dan hasil produksi
yang dihasilkan.
1.5.2
Proses Produksi
PT. Harapan
Widyatama Pertiwi adalah suatu manufaktur yang
memproduksi pipa PVC. Produknya dihasilkan berdasarkan pesanan
pelanggan (Job Order), dari hasil pengamatan dapat diketahui jalannya
proses
produksi,
mulai
dari
pencampuran bahan baku (mixing) untuk
membuat pipa dan juga proses pengolahannya.
1. Proses Mixing
Pipa PVC yang ada selama ini merupakan hasil perpaduan dari
berbagai
macam bahan
kimia
yang
berfungsi
sebagai
penyusun,
mengokohkan bentuk pipa dan memberi kekuatan ataupun elastisitas
|
|
16
pada pipa jenis tertentu. Berikut adalah komposisi dasar pembentuk
pipa, yaitu :
1. Resin
Adalah
unsur
utama
dalam membuat
pipa
PVC
(Polyvinly
Chloride).
Resin
memiliki
ductility atau
kelenturan
serat
sifat
plastis yang tidak terdapat pada benda lain. Sehingga pipa
memiliki
daya
tahan impact
dan
kekuatan
yang
baik
namun
ringan.
2. CaCO3 (Kapur)
Adalah zat yang mempengaruhi kegetasan pipa
sesuai
dengan
jumlah konsentrasinya yang dicampurkan. Campuran dengan
kadar
Resin dan
Kapur
tertentu
sangat
mempengaruhi
tingkat
harga pipa serta kegunaannya dari segi beban kerja. Seperti pipa
golongan ringan dan murah
untuk pelindung kabel di
luar
tembok. Pipa jenis ini digunakan pada lingkungan yang tidak
terlalu ekstrim dari segi tekanan dan beban kerjanya.
3. Stabilizer
Merupakan gabungan dari 3 bahan
lainnya,
digunakan
dengan
perbandingan 1 kg untuk setiap 100 kg Resin.
a. Pipe Complex jenisnya yaitu :
-
Normal Lead Stearid
-
Dibasic Lead Stearid
|
|
17
-
Tribasic Lead Stearid
-
Steraic Acid
b. Lubricant untuk melicinkan pipa jenisnya yaitu :
-
Parafin
-
G 20
-
G 60
-
PEW
c. Pigmen jenisnya yaitu :
-
Black Carbon
-
Titanium
-
Yellow
-
B. Orange
-
Marine Blue
Dari
ketiga jenis
zat
tersebut,
tidak
semuanya
dipakai.
Tergantung
pipa
yang akan
dibuat, jadi
sebelumnya
beberapa
jenis
dari
zat
tersebut
akan ditakar
dengan
perbandingan
tertentu
untuk
pipa jenis tertentu seperti yang terlihat pada OPC. Setelah bahan-
bahan
tersebut ditakar, barulah disatukan dengan
Resin dan CaCO3
di tempat pencampuran yaitu mixer. Proses mixing berjalan dengan
cara
pengadukan
secara
cepat
sampai
bahan-bahan
tercampur
rata
dan
menjadi compond. Kemudian
compond tersebut didinginkan
dengan perantara air. Selanjutnya compond ditiup keluar oleh tenaga
|
|
18
angin menuju karung yang akan membawanya menuju proses
berikutnya.
Semua pipa dibuat tergantung permintaan pelanggan, sehingga
pembuatannya juga mempunyai komposisi yang berbeda-beda. Ada
juga jenis pipa tertentu yang tidak membutuhkan Resin sebagai
bahan
utamanya
misalnya
pipa Indosat. Bahan yang dipakai hanya
high
density
polyetilene
dan
pigmen sebagai
pewarna.
Hasilnya
menjadi pipa selentur selang air, digunakan
untuk
melindungi serat
optik sebagai perangkat komunikasi..
2. Proses Pengolahan
Compond selanjutnya mengalami
proses pengolahan, bubuk
compond dimasukkan ke sebuah Hopper yang berhubungan
langsung
dengan
mesin
Extruder.
Dalam
mesin
terdapat Screw
panjang yang berputar, mengaduk compond dan memampatkannya
menjadi sebuah bentuk awal silinder badan pipa. Proses ini
berlangsung
dengan
temperatur
antara
140
derajat
celcius
sampai
200 derajat celcius, biasanya dimulai pada suhu 150 derajat celcius.
Dengan pemanasan yang tinggi maka compond
menjadi lunak dan
mudah
dicetak oleh dyes
dengan
diameter
tertentu
yang
berada
di
ujung mesin.
|
![]() 19
Tabel 1.1 Tabel Kapasitas Produksi Machine Extruder
Machine Extruder Lines
Kapasitas Maksimum
Kg/jam
Kg/hari (24 jam)
CMT 45 PVC PIPE
200
4800
CMT 45 EXC PVC PIPE
200
4800
CMT 58 PVC PIPE
350
8400
CMT 58 EXC PVC PIPE
350
8400
CMT 68 PVC PIPE
450
10800
CMT 68 PVC PIPE
450
10800
CMT 68 PVC PIPE
450
10800
CMT 98 PVC PIPE
800
19200
BEX 90-2 PVC PIPE
450
10800
TOTAL
3700
88800
Kemudian hasil
yang
keluar
dari
dyes didinginkan
dalam ruang
vakum untuk
menjaga
keutuhan
bantuk
pipa,
lalu
spray
mendinginkan pipa dengan air dingin. Proses mendinginkan dapat
berlangsung selama 2 kali, yaitu pertama dilakukan untuk
mengeraskan pipa dan menurunkan suhu permukaan pipa. Namun
karena
proses
yang
pertama
belum menjamin pipa sudah dingin,
maka
dilakukanlah
proses pendinginan
yang
kedua, sama
saja
dengan
proses
pertama
hanya
saja ruangan
tidak
perlu
divakum.
Proses ini berlangsung terus sampai dihasilkan pipa yang panjang.
Untuk memudahkan mesin extruder pada saat mendorong
material PVC, dipakailah haul off yang menggunakan tenaga angin
untuk menarik pipa menuju proses pemotongan (cutting).
Pemotongannya diatur dengan sensor
yang ada pada haul off.
|
|
20
Selanjutnya pipa
melewati alat printing
untuk
mencetak
merek atau
kode pada permukaan pipa.
Untuk permintaan pelanggan, diameter ujung pipa dapat
diperbesar untuk sambungan (socket). Pada proses ini mesin yang
digunakan adalah mesin belling, dengan cara ujung pipa yang ingin
diperbesar diameternya dipanaskan kembali. Dengan proses
pemanasan,
pipa
kembali
menjadi lunak sehingga dapat dibentuk
sesuai diameter yang diinginkan. Langkah selanjutnya yaitu
pendinginan untuk mengeraskan pipa kembali. Gambar peta proses
operasi (OPC) pembuatan pipa PVC dapat dilihat pada halaman
berikutnya.
1.5.3
Pengujian Kualitas Produk
Sebelum dipasarkan ke konsumen produk-prosuk yang dihasilkan
akan melewati tahap pengujian kualitas. Pengujian kualitas tersebut
berdasarkan standar ISO 9001 tentang kualitas produk jadi. Adapun
jenis-jenis pengujian yang dilakukan sebagai berikut :
A. Pengujian Ovalitas
Pengujian yang dilakukan cukup dengan pengukuran jangka sorong,
yaitu dengan cara mengukur selisih antara diameter luas maksimum
pipa dengan diameter luar minimum.
|
|
21
B. Pengujian Eksentrisitas
Mengukur ketebalan maksimum pipa dikurangi ketebalan minimum.
.C. Pengujian Flattening
Pada proses ini, silinder pipa ditekan sampai pipih. Dilakukan untuk
semua
jenis
pipa
kecuali
pipa
jenis
PE
(Polyetilene). Standar
penekanannya
adalah
untuk
pipa PVC 50%
dari
diameter
luar
dan
untuk pipa telkom 40% dari diameter luar.
D. Pengujian terhadap tekanan udara
Pengujian dilakukan dengan tekanan udara selama 50 menit sebesar
10 Bar. Setelah pengujian, pipa tidak boleh bocor ataupun pecah bila
ingin lolos spesifikasi.
E. Pengujian terhadap perubahan arah panjang
Dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh penambahan panjang
pipa setelah pemuaian, dengan
cara sampel pipa dipanaskan (untuk
pipa PE 110 derajat celsius dan pipa PVC 150 derajat Celsius).
Waktu pemanasan tergantung ketebalan pipa.
F.
Pengujian Melt Flow Index
Dilakukan untuk mengetahui kepadatan bahan baku jenis PE
(Polyetilene).
Hasil
lelehan
akan
ditimbang
dan
dibandingkan
dengan standar supplier.
|
|
22
G. Pengujian Tarik Statik
Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui samapi seberapa jauh
sifat elastisitas dan kekuatan tarik pipa seperti terhadap gempa atau
pergeseran tanah. Caranya, sampel pipa yang telah dipotong seperti
spatula dijepit ke sebuah mesin penarik yang akan bergerak dua sisi
(atas
dan
bawah).
Mesin
ini
berhubungan
dengan
komputer
yang
akan
memprogram sampai sejauh
mana penarikan akan dilakukan.
Setelah
program dieksekusi,
penjepit
akan
bergerak
berlawanan
secara
perlahan
dan
menarik
pipa
sampai
batas elastis atau putus.
Hasil pengujian dan kurva secara otomatis tergambar oleh progran
komputer tersebut.
H. Elongation
Digunakan untuk melihat perubahan panjang pada pipa.
I.
Pengujian Hidrostatik
Pengujiannya dilakukan dengan cara memampatkan ujung-ujung
pipa lalu dialirkan air dengan
tekanan
tertentu.
Berguna
untuk
mengetahui ketahanan pipa terhadap kekuatan air seperti pada pipa
PDAM.
J.
Pengujian Lentur
Caranya, sebatang besi elastis dimasukkan ke dalam rongga pipa dan
kemudian pipa ditekuk, pada suhu 180 derajat celsius.
|
|
23
K. Pengujian Kekerasan
Caranya, pada permukaan pipa dijatuhkan beban dengan berat
khusus
dengan ketinggian
tertentu
selama
beberapa
kali tergantung
jenis standar pengujian. Dengan pengujian ini dapat diketahui
ketahanan bahan pada pipa.
L.
Uji ketahanan terhadap tarikan
M. Pengujian ketahanan terhadap Metil Chloride
Potongan
pipa direndam ke dalam cairan metil chloride bersuhu 20
derajat celsius selama 20
menit atau
dalam cairan dikloro metana
bersuhu 15 derajat celsius selama 30 menit. Bila permukaan pipa
yang direndam tidak terkelupas maka dinyatakan lolos.
1.5.4
Perencanaan dan Pengendalian Produksi
Dalam pelaksanaan perencanaan kebutuhan bahan baku PT. Harapan
Widyatama Pertiwi
memiliki
alur
perencanaan
yang
terorganisasi
dengan rapi. Karena merupakan perusahaan yang memproduksi barang
sesuai permintaan konsumen (job order), maka pemesanan bahan baku
akan di
lakukan jika ada order. PT. Harapan Widyatama Pertiwi
memiliki kerjasama dengan beberapa supplier yang tentunya telah
memenuhi persyaratan yang di buat oleh perusahaan.
|
![]() 24
Perencanaan produksi di pabrik pembuatan pipa PVC ini dapat
diuraikan sebagai berikut :
1. Konsumen memesan pipa lewat
marketing dan bagian marketing
akan membuat Purchasing Order.
2.
Pertama-tama bagian marketing
akan
menyampaikan pesanan pada
kantor PT. Harapan Widyatama Pertiwi di Sunter. Jika produk yang
dipesan masih ada di Sunter, maka tidak dibuat Surat Pesanan
Barang (SPB) ke pabrik. Jika tidak ada, maka pihak kantor di Sunter
harus mengeluarkan Lembar Order (LO) yang terdiri dari :
a. SPB Fiting Fabrikasi, biasanya
fiting berupa
modofikasi
ujung-
ujung pipa seperti pemberian sambungan.
b. SPB
Pipa
untuk
pabrik,
surat
yang
dikeluarkan
untuk
memerintahkan jajaran pabrik melaksanakan produksi.
c. Apabila diperlukan, kedua surat di atas dapat dikeluarkan.
3. Setelah dibuat SPB untuk pabrik, pihak pabrik akan membuat jadwla
produksi
dan
menurunkan
perintah untuk
menjalankan
proses
produksi pada setiap pihak yang terkait.
Tabel 1.2 Tabel Jadwal Produksi
Bulan :
Tgl/mesin
|
|
25
4. Hasil dari produksi akan didata untuk keperluan konsumen. Dan sisa
stock akan disimpan dalam warehouse yang dicatat pada kartu stock.
5. Pihak
perusahaan
baik
di
Sunter
maupun
dari
pabrik
akan
mengeluarkan
surat
jalan
untuk
pengiriman
(Delivery Order) baik
dalam kota maupun luar kota.
6.
Pihak perusahaan juga akan mengelurakan lembar keluhan
pelanggan
terhadap
hasil
produksi, yang
berisi
keluhan pelanggan
serta hasil penelusuran untuk memastikan kepuasan pelanggan.
1.5.5
Tata Letak Pabrik
PT. Harapan Widyatama
Pertiwi memiliki luas gedung dan pabrik
sebesar 49.200
m². Dengan
luas tersebut perusahaan ini
telah memiliki
lahan yang cukup besar untuk melakukan setiap proses produksi yang
ada, serta peletakan mesin yang di sesuaikan dengan tahap-tahap proses
yang ada.
Pabrik dan kantor pada perusahaan ini terletak dalam satu area
kawasan
yang
sama.
Gudang
pada
pabrik ini
terdapat
2
jenis,
yaitu:
gudang bahan baku resin, gudang bahan baku HDPE, sedangkan untuk
pipa-pipa yang telah diproduksi akan disimpan
untuk
sementara waktu
dalam sebuah
tempat
penyimpanan.
Namun
PT.
Harapan
Widyatama
|
|
26
Pertiwi
sendiri
belum mempunyai
gudang
khusus
untuk penyimpanan
barang jadi (Warehouse). Sehingga penyimpanan dilakukan pada
pinggir-pinggir area manufaktur, ada
juga
yang sebagian
lagi ditumpuk
di luar area manufaktur. Pipa-pipa yang berdiameter besar digunakan
untuk menyimpan pipa-pipa yang diameternya lebih kecil. Saat ini area
warehouse sedang
dibangun
di
luar
area
manufaktur.
Selain
itu
pada
lantai
produksi
terdapat
ruang
Stabilizer yaitu ruangan untuk
menyimpan bahan baku stabilizer dan tempat pencampuran bahan baku
pembuatan pipa
,
ruang Tool Cribs
adalah
ruangan
untuk supervusor
produksi dan tempat menyimpan alat-alat produksi yang berukuran
kecil,
ruang Maintenance
yaitu
gudang
tempat
menyimpan
peralatan
untuk
keperluan
perawatan
mesin.
Material
handling yang digunakan
pada pabrik ini adalah fork lift TCM, hoist crane dan hand lift.
1.5.6
Sistem Kerja
PT. Harapan Widyatama Pertiwi memiliki jumlah karyawan
sebanyak orang terdiri dari buruh pabrik termasuk didalamnya satpam,
supir
beserta
kenek
dan
orang
karyawan
kantor.
Sistem kerja
pada
perusahaan
ini
terbagi
dalam 2
jenis,
yaitu
sistem
kerja
untuk
buruh
pabrik dan karyawan kantor. Untuk buruh pabrik, terdapat pembagian 3
shift
kerja.
Hari
senin
sampai
minggu
yang
berjalan
selama
24
jam,
|
![]() 27
shift 1 adalah 08:0016:00 dengan waktu istirahat 12:3013:00, shift 2
adalah 16:0000:00 dengan waktu
istirahat 20:3021:30, shift 3 adalah
00:00-08.00 dengan waktu
istirahat 04.30-05.00. Pergantian ketiga shift
tersebut
diatur
berdasarkan
4 regu
yang
telah
dibentuk
Pada
shift
1
terdapat 1 kepala bagian produksi, 1 supervisor produksi, 1 supervisor
maintenance, operator maintenance sebanyak 12 orang, 3 orang kepala
regu dan 7 orang
workshop. Sedangkan untuk shift 2 dan 3 hanya
dilakukan pergantian supervisor
produksi
dan
operator
produksi,
sedangkan kepala produksi, supervisor
maintenance, dan operator
maintenance tidak ada pada
shift
2
dan
3,
bila
terjadi
kerusakan
yang
parah pada mesin produksi dan
membutuhkan adanya operator
maintenance, maka akan dihubungi untuk segera datang menangani
kerusakan mesin tersebut Untuk lebih jelasnya penjadwalan kerja dapat
dilihat pada contoh tabel dibawah ini.
Tabel 1.3 Tabel Penjadwalan Kerja
Hari
Shift
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu
1
A
A
D
D
C
C
B
2
B
B
A
A
D
D
C
3
C
C
B
B
A
A
D
Waktu
kerja
bagi
karyawan kantor,
adalah
8:0017:00
untuk
hari
senin sampai
jumat dengan waktu istirahat 12:00 -13:00 dan untuk hari
sabtu adalah 08:0014:00, tanpa istirahat.
|