1
Bab 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Jepang adalah
salah satu
negara
yang
banyak
memberikan pengaruh terhadap
negara-negara
lainnya,
baik
dalam
bidang
teknologi,
budaya,
maupun
hiburan.
Salah
satu pengaruh Jepang dalam bidang
hiburan
yang dapat kita rasakan, selain musik dan
dorama, adalah tayangan anime atau film animasi Jepang yang saat ini banyak diputar di
televisi. Di
Indonesia, kita
dapat
menyaksikan anime seperti Doraemon, Sailor
Moon,
Dragon Ball, dan sebagainya.
Seawright (2000),
mengemukakan bahwa anime
(
???
)
merupakan
bahasa
serapan
dari
bahasa Inggris,
yaitu
animation” yang  
diucapkan oleh
orang
Jepang
menjadi  “anime-shon”, 
yang  dalam  katakana  ditulis  sebagai 
???????
.
Sebagaimana kebiasaan
orang
Jepang
untuk
memudahkan pengucapan,
maka
kata
tersebut disingkat menjadi anime.
Bagi
masyarakat
Jepang, semua
film
animasi
baik
dari
Amerika,
Inggris, atau
negara
lainnya dapat disebut sebagai anime, tetapi bagi
masyarakat negara
lain, anime
hanya tertuju pada film animasi khas Jepang. Di Jepang, anime adalah salah satu hiburan
yang sangat diminati, mulai dari film seri TV, film bioskop, bahkan anime dalam bentuk
video (OVA Original Video Animation). Berbeda dengan film animasi barat yang lebih
banyak ditujukan pada anak-anak dan
memiliki tema superhero, anime memiliki genre
yang
lebih
beraneka
ragam,
mulai
dari anime
untuk anak-anak
hingga
anime
untuk
  
2
orang dewasa, anime yang lucu hingga anime horor, dan dari yang hanya berupa hiburan
hingga yang bersifat mendidik.
Anime mampu menarik perhatian para penonton karena memiliki alur cerita dan
cara penggambaran karakter yang berbeda dengan film kartun Barat
yang
lebih banyak
bertema superhero seperti yang selama ini kita saksikan. Salah satu anime yang menarik
dan 
berhasil
mendapatkan
pengakuan
serta  berbagai
penghargaan
dari 
dunia
internasional adalah
anime
produksi
Studio Ghibli
yang
berjudul
Sen
to
Chihiro
no
Kamikakushi.
Berdasarkan Spirited Away dalam Wikipedia, the free Encyclopedia (2006), Sen
to Chihiro no Kamikakushi (
????????
)
atau
yang lebih dikenal dengan judul
Spirited Away merupakan salah satu karya terbaik Miyazaki Hayao,
seorang sutradara
ternama
di
Jepang.
Anime
yang
dirilis
di
Jepang
pada
bulan
Juli
2001
ini
berhasil
meraup keuntungan sebesar 30 miliar yen dan disaksikan oleh sekitar 23 juta penduduk
Jepang. Hal
ini
menjadikannya sebagai
film
dengan pendapatan tertinggi
mengalahkan
Titanic
pada
tahun
1997,
dan
juga
sebagai
anime
dengan
pendapatan tertinggi
mengalahkan  Mononoke Hime (Princess Mononoke),  yang  juga  merupakan  anime
produksi Studio Ghibli,
pada tahun 1997. Kemudian,
anime
ini dialih
suara
ke
dalam
bahasa Inggris dan dirilis
di
Amerika
oleh Walt Disney Picture
dengan
judul
Spirited
Away.
Kepopuleran Spirited Away membuat anime ini berhasil memenangkan berbagai
penghargaan. Pada
tahun
2003,
Spirited
Away
menjadi
film
animasi
pertama
yang
berhasil
memenangkan piala
Oscar
dalam kategori
film
animasi
terbaik.
Selain
piala
Oscar, anime ini juga berhasil meraih penghargaan lainnya, seperti penghargaan Golden
  
3
Bear
dalam
Berlin
International Film
Festival
(2002),
film
terbaik
dalam
Japanese
Academy Awards (2001), film Asia terbaik dalam Hong Kong Film Awards (2002), dan
sebagainya.
Sen to chihiro no kamikakushi sendiri
menceritakan tentang kisah seorang gadis
cilik
bernama
Chihiro
yang
terjebak dalam dunia para
kami
(dewa). Kedua orangtua
Chihiro berubah
menjadi babi akibat memakan makanan
yang ada di dunia para kami
tersebut.  Chihiro  berusaha 
untuk  menyelamatkan  kedua  orangtuanya.  Agar 
dapat
bertahan hidup di
dunia para kami, ia
harus
bekerja keras di pemandian milik seorang
penyihir bernama Yubaba. Dalam usahanya tersebut, ia dibantu oleh seorang anak laki-
laki
misterius
bernama
Haku.
Selain
Haku,
Chihiro
juga
menemukan teman-teman
lainnya yang bersedia membantunya, seperti Kaonashi, Kamajii, Rin, dan lain-lain. Pada
akhirnya,
Chihiro
dapat
menyelamatkan
kedua
orangtuanya
dan
kembali
ke
dunianya
sendiri.
Tema yang sederhana, jalan cerita
yang menarik, dan penciptaan karakter
yang
kuat
menambah daya
tarik anime
ini.
Selain
itu, selama cerita berlangsung, kita
dapat
melihat kuatnya unsur Shinto dalam anime ini.
Seperti  yang  kita  ketahui,  Shinto  (
??
)  adalah  kepercayaan
asli  dan  juga
merupakan
kepercayaan utama di
Jepang
yang
memuja banyak
kami
(
?
)
atau
dewa
(Picken, 1994:
xxi-xxii). Sudah
sejak
lama
Shinto
dihormati
sebagai
salah
satu
unsur
yang
sangat
penting
dalam
dunia
keagamaan di
Jepang
karena
memiliki
ciri
khas
tersendiri (Kuroda, 1993: 7).
  
4
Ajaran
Shinto
itu
sendiri
sangat
mempengaruhi kehidupan
masyarakat Jepang
pada
umumnya. Secara
sadar
maupun
tidak
sadar, banyak
sekali
hal
yang
berkaitan
dengan konsep Shinto dalam kehidupan masyarakat Jepang. Dalam dunia
hiburan pun,
seringkali
kita
mendapati karya-karya yang
memiliki
konsep
Shinto
di
dalamnya,
misalnya dalam anime, dorama, game, dan sebagainya.
Mori
(2004)
menyatakan bahwa
cerita
mengenai
para
kami,
yang
diceritakan
dalam Nihon Shoki dan Kojiki (dua dokumen sejarah yang memuat kisah-kisah mitologi
Shinto), sampai saat ini
masih tetap dikenal dan menjadi sumber bagi
jalan cerita dan
gambaran dalam seni, puisi, dan sastra Jepang, termasuk di dalamnya manga dan anime,
yang  benar-benar
bergantung
pada  mitos,
karakter,
dan  jalan  cerita  yang  digabung
dengan imajinasi para seniman dan penulis itu sendiri.
Dalam anime sendiri, pengaruh Shinto dapat dilihat mulai dari hal-hal kecil yang
sudah
membudaya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang, seperti keberadaan
seorang
miko, berdoa di
kuil,
atau
hanya berupa
gambaran sebuah
torii, hingga cerita
yang benar-benar berdasarkan konsep dan mitologi Shinto.
Bila kita perhatikan, selain memiliki tema dan penggambaran karakter yang unik,
seringkali  kita  temukan 
unsur-unsur 
Shinto  dalam  karya-karya  Miyazaki 
Hayao,
termasuk Sen to Chihiro no Kamikakushi, sehingga karya-karyanya memiliki daya tarik
tersendiri.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Vallen dan Thorpe (2002), Miyazaki
pernah menyatakan alasan ketertarikannya pada Shinto sebagai berikut:
My
understanding of the
history of Shinto
is that
many centuries ago they,
the
originators of Japan, used Shinto to unify the country and that it then ended up
inspiring many wars of aggression against our neighbors.
So, there is still a
great deal of ambiguity and contradiction within Japan about
our
relationship to Shinto,
many
wish
to deny it,
reject it. My
feeling
is that I
  
5
have a
very warm appreciation for the
various,
very humble rural Shinto rituals
that continue to this day throughout rural Japan. Especially one ritual that takes
place on the solstice when the villagers call forth all of the local Gods and invite
them to bathe in their baths.
Terjemahan:
Pengertian saya mengenai sejarah Shinto adalah bahwa beberapa abad yang lalu
mereka, orang asli Jepang, menggunakan Shinto untuk menyatukan negara dan
pada akhirnya hal ini menginspirasikan perang-perang melawan saudara kami.
Jadi,
masih
ada
kontradiksi
yang
besar
di
Jepang
mengenai
hubungan
kami
dengan Shinto, banyak yang mengingkari dan menolaknya. Perasaan saya adalah
saya
sangat menghargai berbagai
ritual
Shinto
yang sederhana dan
masih ada
hingga saat ini dalam masyarakat Jepang. Terutama sebuah ritual yang diadakan
saat
matahari
tenggelam
ketika
penduduk
memanggil
semua
dewa
lokal
dan
mengajak mereka untuk membersihkan diri di tempat pemandian mereka.
Miyazaki
menggabungkan konsep
dan
mitologi
Shinto
dengan
ide
ceritanya
sendiri sehingga ia berhasil menciptakan karya-karya yang sangat menarik. Selain Sen to
Chihiro no Kamikakushi, anime karya Miyazaki Hayao lainnya yang mengandung unsur
Shinto
adalah
Mononoke Hime,
Kaze
no
Tani
no
Nausicaa,
dan
Tonari
no
Totoro.
Berbeda
dengan
Sen
to
Chihiro
no
Kamikakushi,
unsur
Shinto
yang
terdapat
dalam
anime yang lain lebih bersifat tersirat dan tidak ditonjolkan.
Ketertarikan penulis
terhadap anime
dan
ajaran Shinto
membuat penulis untuk
melakukan penelitian
akan
kedua
hal
tersebut.
Sen
to
Chihiro
no
Kamikakushi dipilih
sebagai anime
yang akan
diteliti
karena
kuatnya
unsur
Shinto
dalam anime tersebut.
Selain
itu,
menurut
penulis
Sen
to
Chihiro
no
Kamikakushi
sendiri
juga
merupakan
anime yang sangat menarik.
1.2 Rumusan Permasalahan
Permasalahan yang akan penulis teliti adalah simbol-simbol Shinto yang terdapat
dalam anime berjudul Sen to Chihiro no Kamikakushi.
  
6
1.3 Ruang Lingkup Permasalahan
Ruang
lingkup dalam
penelitian
ini
hanya
sebatas pada
hal-hal
yang
berkaitan
dengan simbol-simbol Shinto. Hal ini berupa benda-benda, ritual, dan tokoh-tokoh yang
terdapat
di
dalam
anime
Sen
to
Chihiro
no
Kamikakushi yang
berhubungan
dengan
Shinto.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis lebih dalam simbol-simbol
Shinto yang terdapat di dalam anime Sen to Chihiro no Kamikakushi. Penulis berharap
agar
penelitian
ini
dapat
membantu para
pembaca
dalam
mengenal dan
memahami
Shinto.
1.5 Metode Penelitian
Metodologi penelitian
yang
digunakan
oleh
penulis
adalah
metode
deskriptif
analitis. Pertama penulis akan
melakukan pengamatan langsung pada anime yang
akan
diteliti,
yaitu anime
berjudul
Sen
to
Chihiro
no
Kamikakushi. Kemudian
penulis
akan
menghubungkan
dan
membandingkannya dengan
fakta-fakta
yang
telah
penulis
dapatkan.
Untuk  memperoleh
data,  penulis
menggunakan
metode
kepustakaan,
dimana
data-data pendukung yang diperoleh didapat dari buku-buku, artikel, jurnal online, dan
internet.
Buku-buku
yang
dijadikan sebagai
korpus
data
adalah
buku-buku
yang
berhubungan 
dengan   Shinto.   Sedangkan 
data-data   yang   diperoleh 
dari   internet
digunakan
sebagai
data
pendukung. Penulis
memilih
metode
ini
karena
metode
ini
dianggap sebagai metode yang paling sesuai dalam penelitian yang akan dilakukan.
  
7
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai
berikut:
Bab 1  Pendahuluan
Bab
ini
menjelaskan
latar
belakang
permasalahan, rumusan
dan
ruang
lingkup
permasalahan, tujuan
dan
manfaat
penelitian,
metode
penelitian,
dan
sistematika
penulisan.
Bab 2 
Landasan Teori
Bab
ini
menjelaskan teori-teori
yang
akan digunakan
dalam penelitian.
Teori-
teori
tersebut
adalah konsep
Shinto
dan
teori simbol.
Konsep Shinto terbagi atas
tiga
subbab, yaitu makoto no kokoro, kegare dan harae.
Bab 3  Analisis Data
Bab
ini
menjelaskan
analisis
yang
dilakukan
oleh
penulis
terhadap
data-data
yang
telah
diperoleh.
Analisis
tersebut
berupa
analisis
simbol-simbol Shinto
yang
terdapat dalam anime Sen to Chihiro no Kamikakushi, analisis bentuk dan peran kami,
analisis kegare dan harae, dan analisis perubahan perilaku dan pola pikir
tokoh-tokoh
anime Sen to Chihiro no Kamikakushi sehingga mencapai ketulusan.
Bab 4  Simpulan dan Saran
Bab
ini
berisi
simpulan
dari
penelitian
yang
telah
dilakukan oleh penulis
dan
saran-saran dari penulis agar pembaca dapat mengambil manfaat dari penelitian ini.
Bab 5  Ringkasan
Bab ini berisi ringkasan dari penelitian yang telah dilakukan oleh penulis.