|
5
saja hal ini akan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit baik dari segi biaya maupun
waktu. Maka, diperlukan revisi dan evaluasi terhadap sistem perawatan yang selama
ini
diberlakukan pada PT. Gajah Tunggal.
Dalam
hal
ini,
maka
perusahaan
perlu
melakukan
preventive maintenance
dengan
mempertimbangkan breakdown analysis dan waktu yang tepat untuk melakukan
perawatan. Dengan melakukan preventive maintenance, maka perusahaan dapat
mencegah atau meminimalisasi kemungkinan terjadinya kerusakan mesin (breakdown)
sewaktu
proses
produksi
berlangsung
terutama
pada
mesin
Ban
Burry
Mixer
(ABM)
yang
mengalami kerusakan dengan
tingkat
frekuensi breakdown rata-rata
yang tertinggi
selama 6 bulan sebesar 30 kali/bulan daripada mesin lainnya (ATB:23, ATC:15,
ABC:14, ATE:13, ABG:7, ALT:7, ASQ:6, ACL:5) dan membutuhkan total waktu
downtime
rata-rata
yang
paling
lama,
yaitu
sebesar
34,86
jam daripada
mesin
lainnya
(ATB:26,37jam, ATE:21,17jam, ABC:18,79jam, ATC:14,54jam, ALT:9,26jam,
ASQ:7,01jam,
ABG:6,28jam,
ACL:5,63jam).
Selain
itu,
mesin
ABM
dikatagorikan
kritis karena
mesin
ini
berada di awal proses produksi
yang
menghasilkan
raw material
yang selanjutnya dipergunakan pada mesin-mesin yang lain; sehingga keberadaannya
menjadi sangat kritis karena bila mesin ini berhenti beroperasi, maka mesin yang lainnya
tidak
dapat
beroperasi.
Disamping
itu
juga,
mesin
ABM
di
plant A
ini
juga
harus
menopang
kebutuhan
raw
material
berupa
compound
untuk
proses
produksi
ban
luar
dan ban dalam motor di plant B.
Untuk
menerapkan
suatu
kegiatan maintenance yang
baik
efektif
serta
efisien,
maka perlu dilakukan observasi data histories dari kerusakan akan mesin (downtime
mesin)
yang
disebabkan
oleh
komponen
yang
mengalami
kerusakan,
hal
ini
dilakukan
|