1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dewasa ini, kita melihat bahwa persaingan industri yang terjadi secara
global
telah
meningkat
semakin
pesat.
Industri-industri di
dunia
berlomba-
lomba
menawarkan produk
terbaik
mereka
agar
dapat
diterima
secara
universal. Untuk kawasan asia, kita mengenal adanya ACFTA
(Asean-China
Free Trade Area),
yaitu sebuah regulasi yang
mengatur tentang perdagangan
bebas dimana
produk-produk
dari
Asia
Tenggara
dan
Cina bebas
masuk
ke
dalam suatu negara tanpa biaya tambahan.
Adanya
ACFTA
tersebut
menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
Kecenderungan
masyarakat
untuk
memilih
produk  impor  daripada
produk
lokal dapat
menggoyahkan fondasi perindustrian Indonesia. Apalagi sekarang
banyak
ditemukan produk
impor
yang
memiliki
harga
lebih
terjangkau
dibandingkan  produk  lokal.  Tentu  regulasi  ACFTA  tersebut  tidak  dapat
ditolak
begitu
saja.
Maka,
industri
kita
harus
mempersiapkan diri
untuk
meningkatkan kinerja, produktivitas dan kualitas produk
agar
dapat
bersaing
secara global.
Untuk
dapat
meningkatkan daya
saing
agar
dapat
bertahan
dalam
persaingan
global, setiap
industri
harus
mampu
meningkatkan semua
aspek
  
2
pendukung kegiatan produksi
yang dilakukan. Seperti perencanaan produksi,
proses
produksi,
pengendalian kualitas,
manajemen
sumber
daya,
dan
sebagainya. Dalam perencanaan produksi, tahap awal yang harus diperhatikan
adalah mengetahui jenis produksi yang dilakukan. Ada 3 tipe proses produksi,
yaitu Make
to
Order,
Make
to
Stock,
dan
Assembly
to
Order.
Setelah
mengetahui jenis produksi
yang dilakukan, maka selanjutnya dapat dirancang
perencanaan produksi yang tepat.
Dalam sebuah industri yang menetapkan tipe proses produksi Make to
Order atau biasa disebut Job
Order,
maka proses produksi dilakukan setelah
mendapatkan
pesanan
dari
pelanggan.
Seperti
yang
terjadi
di
PT
Gema
Air
Masindo,
dimana
proses
produksi
dilakukan
setelah
ada
permintaan dari
pelanggan, dan jumlah produk yang dibuat tetap sesuai permintaan pelanggan.
Dengan
sistem
produksi
yang
telah
berjalan
ini,
terkadang terjadi
hambatan
dalam
proses
produksi,
misalnya
jumlah
permintaan yang
terlalu
besar sehingga menyebabkan pekerja harus
lembur dalam jangka waktu yang
lama atau harus
melakukan subkontrak ke pabrik lain. Hal tersebut tentu akan
menimbulkan biaya yang besar. Selain itu, adakalanya perusahaan tidak dapat
memenuhi permintaan customer seperti yang terjadi pada tahun 2009, dimana
perusahaan mengalami lost
sales
kurang
lebih
sebesar
Rp.8.000.000,00.
Berdasarkan hal-hal
tersebut
timbulah
sebuah
pemikiran,
apabila
dilakukan
penjadwalan
sejak
awal dan produksi
dilakukan
secara kontinu,
maka
dapat
terjadi kemungkinan penghematan dari segi biaya yang dikeluarkan.
  
3
Untuk
dapat
membandingkan kedua
jenis
proses
produksi
tersebut,
maka
dilakukan
simulasi,
untuk
melihat
sistem penjadwalan
manakah
yang
lebih
optimal.
Setelah
dilakukan simulasi,
kemudian
dilakukan
perhitungan
biaya
dengan
komponen-komponen biaya
yang
timbul
untuk
mendukung
proses produksi
tersebut. Dari perhitungan biaya tersebut dapat dilihat proses
produksi
manakah
yang
menghasilkan biaya
yang
lebih
rendah.
Dari
perhitungan tersebut kemudian dapat dibuat
model
matematis untuk rumusan
perhitungan biaya. Sehingga, diharapkan dapat
menjadi bahan pertimbangan
bagi perusahaan mengenai sistem produksi yang dijalankan.
1.2
Perumusan Masalah
Dari
hasil
obervasi
yang dilakukan selama
berada
di
PT Gema
Air
Masindo, sistem produksi
yang diterapkan di perusahaan adalah sistem Make
To
Order, dimana
produk
dibuat
sesuai pesanan dari
customer.
Maksudnya
adalah,
produksi
akan
disesuaikan dengan
permintaan
customer.
Misalnya,
customer 
memesan  produk 
sejumlah 
pieces
maka 
perusahaan  akan
membuat sesuai ketentuan tersebut. Sehingga apabila
tidak ada pesanan dari
customer, maka perusahaan tidak akan melakukan produksi.
Sistem produksi tersebut menyebabkan tidak adanya persediaan karena
produksi dibuat sesuai pesanan. Masalah timbul apabila customer
melakukan
pemesanan dalam
jumlah
yang
cukup
besar
namun
jangka
waktu
yang
diberikan untuk pengerjaan produk tersebut singkat. Sehingga perlu dilakukan
  
4
lembur untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bahkan apabila lembur pun
tidak dapat memenuhi, maka perlu dilakukan subkontrak.
Lembur
dan
subkontrak
tentu
akan
mengakibatkan
biaya
yang
lebih
besar dari biaya produksi normal. Biaya lembur yang harus dikeluarkan untuk
pekerja
lebih  besar  dari  upah  regular.
Selain
itu,  jam  kerja  lembur  yang
dibatasi
hanya 2
jam setelah
jam kerja
regular
juga
mengakibatkan perlunya
subkontrak untuk memenuhi permintaan dari pelanggan, yang menyebabkan
perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk subkontrak tersebut.
Dalam
pengolahan data
yang
akan
dilakukan
selanjutnya, akan
dilakukan perhitungan biaya dengan skenario sistem produksi Make To Order
di
PT
Gema
Air
Masindo
dan
perhitungan biaya
dengan
skenario
sistem
produksi secara
kontinu
tiap
periode
tertentu. Dari
pengolahan data
tersebut
diharapkan akan muncul suatu solusi yang dapat menjadi bahan pertimbangan
bagi 
perusahaan  apabila  didapat 
hasil 
perhitungan  biaya 
untuk 
sistem
produksi secara
kontinu
lebih
kecil dibandingkan
perhitungan biaya dengan
sistem Make To Order. Namun apabila ternyata biaya dengan sistem Make To
Order lebih kecil dibandingkan dengan sistem secara kontinu, maka kebijakan
yang dimiliki perusahaan sekarang ini sudah baik dan efisien.
Dari
identifikasi
masalah
yang
telah
dijabarkan di
atas,
dapat
dibuat
suatu perumusan masalah yang berhubungan dengan masalah di atas, yaitu :
1.
Apa sajakah yang
menjadi dasar pertimbangan yang diperhatikan dalam
pemilihan produk yang akan dihitung perbandingan biayanya?
  
5
2.
Bagaimanakah pengolahan data yang dilakukan dengan metode simulasi
dan apakah hasil yang didapat dari perhitungan simulasi tersebut?
3.
Bagaimanakah    hasil    perhitungan    biaya   
yang   
didapat   
dengan
menggunakan skenario sistem produksi Make To Order di PT Gema Air
Masindo?
4.
Bagaimanakah    hasil    perhitungan    biaya   
yang   
didapat   
dengan
menggunakan skenario sistem produksi secara kontinu?
5.
Bagaimanakah  hasil  perbandingan  perhitungan  biaya  antara  skenario
sistem  produksi  Make To Order di  PT  Gema  Air  Masindo  dengan
skenario sistem produksi secara kontinu?
6.
Bagaimanakah 
hasil 
perhitugan 
analisis 
sensitivitas 
yang 
dilakukan
setelah dilakukan perubahan pada komponen biaya tertentu?
1.3
Ruang Lingkup Penelitian
Lingkup
pembahasan
yang akan
dibahas
dalam penelitian
ini
adalah
perencanaan
dan
pengendalian produksi,
dimana
akan
dilakukan
simulasi
untuk
memodelkan kembali pola
permintaan
yang
terjadi 
untuk
kemudian
disusun
penjadwalan produksinya,
yaitu
dengan
sistem
Make
To
Stock
dan
dengan sistem produksi secara kontinu.
Ruang 
lingkup 
pembahasan 
yang 
membatasi  penelitian 
yang
dilakukan ini antara lain adalah :
1.
Penelitian dilakukan di PT Gema Air Masindo.
  
6
2.
Penelitian  dilakukan  hanya  pada  produk  special part untuk  produk
baterai.
3.
Penelitian  dilakukan 
pada 
bagian 
QC 
untuk 
melihat 
data 
historis
permintaan customer,
pada
bagian
produksi
untuk
melihat
proses
produksinya, dan
bagian
marketing
untuk
mengetahui
biaya
yang
dibutuhkan.
4.
Data
historis job
order
yang didapat adalah dari periode bulan Januari
2008 - November 2009.
5.
Penelitian dilakukan dari bulan Mei 2010 – Juli 2010.
6.
Metode Simulasi yang digunakan adalah Metode Simulasi Monte Carlo.
7.
Komponen  biaya 
yang  akan  dihitung 
meliputi  biaya 
lembur,  biaya
subkontrak, biaya material, biaya kerja, dan biaya simpan.
8.
Biaya   subkontrak   diasumsikan   sebagai   biaya   untuk   produk   yang
dikerjakan oleh
vendor
diluar
PT
Gema
Air
Masindo,
namun
dengan
material yang berasal dari PT Gema Air Masindo.
9.
Komponen
biaya
simpan
didapat
dari
hasil
perhitungan
sendiri dengan
data – data yang didapat berdasarkan pengamatan di dalam dan di luar PT
Gema Air Masindo.
10.  Perhitungan untuk skenario sistem Make To Order
menggunakan asumsi
produk dibuat sesuai jumlah pesanan, lalu dikalikan 2 jumlahnya apabila
permintaan = 20, sesuai dengan kebijakan yang berlaku di PT
Gema Air
Masindo.
  
7
1.4
Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1
Tujuan
Adapun
tujuan
yang
ingin dicapai
dari
penelitian
di
PT
Gema
Air
Masindo ini adalah:
1. Menghitung  
komponen-komponen  
biaya  
yang  
timbul  
dengan
menggunakan
skenario  PT  Gema  Air  Masindo  dimana  produk  dibuat
sesuai pesanan.
2. Menghitung  
komponen-komponen  
biaya  
yang  
timbul  
dengan
menggunakan skenario usulan dimana produk dibuat secara kontinu setiap
periode tertentu.
3.   Membandingkan hasil perhitungan biaya antara skenario
Make To Stock
PT Gema Air Masindo dengan skenario usulan untuk
melihat biaya yang
lebih kecil.
4.   Memberikan  usulan  penjadwalan  produksi  yang  optimum  kepada  PT
Gema
Air
Masindo
apabila
hasil
perhitungan biaya
dari
skenario
usulan
lebih kecil dari skenario Make To Stock PT Gema Air Masindo.
1.4.2
Manfaat
Manfaat
yang diharapkan dapat berguna bagi PT
Gema
Air Masindo
adalah
agar
perusahaan
ini
dapat
mengetahui
metode
penjadwalan yang
optimum
untuk
proses
produksi
yang
dilakukan.
Dari
perhitungan yang
dilakukan dapat
terlihat biaya manakah yang lebih kecil. Bila biaya dengan
  
8
skenario Make To Order PT Gema Air Masindo
lebih kecil, maka kebijakan
yang diterapkan PT Gema Air Masindo sudah optimum. Namun apabila biaya
produksi skenario usulan dengan
sistem produksi secara kontinu
lebih kecil,
maka diharapkan
metode penjadwalan
yang
diusulkan
dapat
menjadi bahan
pertimbangan 
bagi 
perusahaan 
agar 
dapat 
meningkatkan  optimasi
penjadwalan produksinya.
1.5
Sejarah Perusahaan
1.5.1
Sejarah Singkat Berdirinya Perusahaan
PT
Gema
Air
Masindo
berdiri
sejak
tahun
1999.
Perusahaan ini
memiliki spesialisasi dalam bidang desain dan manufaktur peralatan kerja dan
komponen-komponen produk
yang
dapat
membantu
meningkatkan
produktivitas suatu perusahaan.
PT Gema Air Masindo memiliki kemampuan untuk memproduksi jig
&
fixtures,
dies
&
mould,
dan machinery
spare
parts,
dan
memiliki
kemampuan
juga
untuk
mengkustomisasi peralatan
kerja
dan
komponen-
komponen
produk
sesuai
spesifikasi
yang
diberikan
oleh
perusahaan yang
melakukan pemesanan produk.
PT
Gema
Air
Masindo
memiliki mesin-mesin produksi,
mulai
dari
mesin
konvensional
sampai
dengan
mesin
yang
telah
terkomputerisasi dan
didukung oleh
sumber
daya
manusia
yang
terampil
dan
memiliki keahlian
masing-masing sesuai dengan tugasnya. Sumber daya manusia tersebut telah
  
9
mendapatkan
pelatihan
yang
tepat
untuk
dapat
melakukan
proses
produksi
dari bahan
baku
sampai
menjadi
barang
jadi
termasuk di
dalamnya
merakit
produk-produk jadi.
PT
Gema
Air
Masindo
memiliki suatu
goal
atau
tujuan
yang
ingin
dicapai agar dapat menjadi perusahaan manufaktur yang bisa berkompetisi di
dunia industri global.
Tujuan tersebut telah menjadi tujuan
utama dari setiap
karyawan PT
Gema
Air
Masindo,
yang
mengerti
bahwa
untuk
mencapai
kesuksesan
diperlukan kerjasama dan
dukungan dari
semua pihak dalam PT
Gema
Air
Masindo.
Adapun
tujuan yang
ingin
diraih oleh
PT
Gema
Air
Masindo tersebut adalah :
 
Service
Service atau pelayanan, maksudnya disini adalah PT Gema Air Masindo
memiliki
keinginan
untuk
dapat
memberikan pelayanan
yang
sebaik-
baiknya
kepada
setiap
pelanggan. Karena
pelayanan yang
baik
menunjukkan integritas
suatu
perusahaan
untuk
berkembang menjadi
perusahaan besar.
 
Quality
Quality atau kualitas,
maksudnya disini adalah PT
Gema
Air Masindo
memiliki keinginan untuk menghasilkan produk-produk dengan kualitas
terbaik.
  
10
 
Customer Satisfaction
Customer
Satisfaction
atau
kepuasan
pelanggan,
kedua
penjelasan
di
atas
akan
mengarah
pada
kepuasan
pelanggan. Dengan
memberikan
pelayanan
dan
kualitas
terbaik,
maka
akan
menghasilkan kepuasan
pelanggan
yang
baik
pula.
Kepuasan
pelanggan
merupakan hal
yang
sangat
vital, karena dengan
menjamin kepuasan pelanggan, maka akan
semakin
banyak
pelanggan
yang
datang
sehingga
perusahaan bisa
berkembang.
  
11
1.5.2
Struktur Organisasi dan Job Description PT Gema Air Masindo
1.5.2.1 Struktur Organisasi PT Gema Air Masindo
Berikut
ini
merupakan
diagram
yang
menggambarkan struktur
organisasi pada
PT
Gema
Air
Masindo,
yang
terdiri
dari
direktur,
wakil
direktur,
7
departemen dan
berikut
staf-staf
yang
berkaitan
dengan
ke-7
departemen tersebut.
  
12
Diagram 1.1 Diagram Struktur Organisasi PT Gema Air Masindo
  
13
1.5.2.2 Job Description PT Gema Air Masindo
Berikut ini merupakan job desk dari karyawan PT Gema Air Masindo
secara keseluruhan, dimana
hanya akan dibagi
menjadi 3
bagian, yaitu
level
manajer, lead (spv), dan operator.
1.   Manajer
 
Tugas & Tanggung Jawab
Menjalankan
tugas
struktural
dalam
hal
pengaturan beban
kerja
staff, pengaturan jadwal project, penyelesaian target sesuai dengan
waktu pengiriman.
Mengkoordinasikan
penyelesaian
pekerjaan  secara  internal  dan
eksternal.
Melakukan  pengembangan  sumber  daya 
manusia  dibagiannya
secara berkala.
Melakukan meeting mingguan/bulanan (hasil target & masalah).
Berperan  serta  secara  aktif  dalam  penentuan  pembuatan  atau
modifikasi standar proses kerja di bagiannya.
Menjalankan operating procedure ISO 9001:2008 di prosesnya.
Ikut  serta  secara  aktif  dalam  membentuk  suasana  kerja  yang
kondusif,
ber-etos
kerja
tinggi,
profesional,
mempunyai
loyalitas
tinggi serta mempunyai sistem kerja manajerial.
  
14
Membuat
laporan
target
&
sasaran
mutu,
untuk
dipertanggungjawabkan ke top manajemen.
 
Wewenang
Mengajukan kepada Departemen HRD untuk mengeluarkan surat
peringatan.
Mengajukan kenaikan prestasi, mutasi, demosi karyawannya.
Mengikuti meeting bulanan dengan top manajemen.
Mengambil tindakan/keputusan yang bersifat teknik & non teknik
dalam lingkup ruang kerjanya.
2.   Lead (SPV)
 
Tugas & Tanggung Jawab
Mendistribusikan pekerjaan ke operator.
Mengarahkan, membimbing serta mengawasi kerja operator.
Melaksanakan  perintah  kerja  dari  departemen 
manajer  sesuai
dengan ruang lingkup.
Melaporkan  setiap  pelanggaran  operating procedure
instruksi
kerja ISO 9001:2008 dan Keselamatan Kerja.
Membuat “Laporan Pekerjaan” & Sasaran Mutu secara berkala.
Mempunyai  loyalitas  &  tanggung  jawab  yang  tinggi  terhadap
keberhasilan target disetiap pekerjaan.
  
15
Mendiskusikan  proses  kerja  bila  tidak  mengerti  atau  ragu  ke
atasannya.
Memeriksa form pemeriksaan mesin harian.
 
Wewenang
Mempergunakan
alat  ukur,  tool, dan  alat  bantu
lainnya
sesuai
ruang lingkup.
Mengulur  waktu  dan 
urutan  kerja  yang  akan  dilakukan  oleh
operator.
Menghentikan proses pekerjaan operator, bilamana dianggap tidak
mampu.
Mengusulkan
“Surat
Peringatan’
untuk
operator
kepada
Departemen Manajer.
Membuat
permintaan
kebutuhan
barang
untuk
kebutuhan
produksi.
Mengatur dan
membuat kerja
lembur sesuai
dengan
kebutuhan
waktu dan target produksi.
3.   Operator
 
Tugas & Tanggung Jawab
Memperhatikan  serta 
menggunakan  safety/alat  pelindung 
diri
didalam bekerja.
  
16
Mempelajari dan
menguasai terlebih dahulu cara-cara pemakaian
mesin atau alat kerja sesuai ruang lingkup.
Menerima dan mempelajari setiap gambar terlebih dahulu sebelum
diproses.
Mengkonsultasikan proses kerja bila tidak mengerti atau ragu.
Memelihara setiap mesin atau alat kerja yang dipergunakan.
Mengisi form pemeriksaan mesin setiap hari sebelum melakukan
pekerjaan.
Mempunyai
loyalitas
tinggi
terhadap
keberhasilan
setiap
proses
kerja.
Menggunakan seluruh waktu kerja secara efektif dan efisien untuk
setiap proses kerja.
Melaksanakan perintah kerja dari leader/supervisor sesuai dengan
ruang lingkup.
Menjaga selalu kebersihan diareanya dan sekitarnya.
Melaksanakan setiap
aturan/prosedur
dalam
instruksi
kerja
ISO
9001:2008.
Bertanggung jawab atas hasil kerjanya.
Mempunyai gagasan/ inovasi/ improvement untuk kemajuan kerja.
Dapat bekerja secara kelompok & secara perorangan.
  
17
 
Wewenang
Mempergunakan
alat  ukur,  tool,  dan  alat  bantu
lainnya
sesuai
ruang lingkup pekerjaan.
Mendiskusikan  kepada  leader/supervisor  apabila  ada  pendapat
atau ide untuk mempermudah proses kerja dibagian tersebut.
Meminta
kepada
leader/supervisor
perlengkapan atau
alat
kerja
untuk memperlancar proses kerja.
1.5.3
Tata Letak dan Fasilitas Pabrik
Tipe tata letak PT Gema
Air
Masindo adalah product layout, dimana
mesin-mesin
dan
fasilitas
produksi
akan
diletakkan
berdasarkan
garis
aliran
dari proses produksi tersebut. Mesin-mesin terbagi kedalam beberapa area dan
dikelompokkan berdasarkan aliran proses
yang
harus dilalui. Sehingga untuk
membuat suatu produk, produk tersebut tidak perlu dipindahkan ke area lain.
Jenis-jenis mesin yang terdapat di PT Gema Air Masindo antara lain :
Lathe Machine
   Big
Lathe
-
Type : C-6246
-  
Type : CS-6250
-
Seri : 44240
-  
Seri : 5742
-
Swing Dia : 600
-
Swing Dia : 700
-
Long  Size : 1300
-
Long  Size : 2000
  
18
   Medium Lathe
-
Type : BJ – 1640GD
Type : LC – 410A
-
Seri : 04091093
-
Swing Dia : 300
Swing Dia : 410
-
Long  Size : 1200
-
Long  Size : 1000
   Small Lathe
-
Seri : C 0630
-
Swing Dia : 200
-
Bed Lenght : 700
   Plano Miller
-
Type : CH – 2000
-
Seri : 300
-
Table Size : 2000 x 1000 x 600
Milling Machine
 
Dahlih DL
-
Tipe : DL – GH950
-
Tipe : DL – GH950
-
Seri : 950464
Seri : 950465
-
Table Size : 1000x500x400
-
Table Size : 1000x800x600
 
Bridgeport
-
Tipe : CT 06606
-
Seri : BR 259839
  
19
-
Table Size : 300 x 400 x 600
 
Top One
-
Seri : 79071
-
Table Size : 300 x 400 x 600
 
Bridgeport-Series
One
-
Seri : BR 259779
-
Table Size : 600 x 400 x 300
 
Okamoto Moa
-
Tipe : 350 DX
-
Table Size : 300 x 150 x 200
Design, Assembling, Quality Control
   Standard
-
Tipe : SM4
-
Seri : 0300017
-
Table Size : 300 x 600 x 400
   Sunwind M80
30A
-
Tipe : D 250 L
-
Table Size : 500 x 300 x 300
   Precision Surface Grinding
Machines
-
Tipe : 3060AH
-
Seri : 510
  
20
-
Table Size : 300-650
   Universal Cylindrical Grinding Machines
-
Tipe : GU
-
Table Size : 600 x 300
   Quality Control
Equipment
-
Hardness Tester
-
Digital Callipher
-
Digital High Gage
-
Digital Micrometer
-
Digital Surface Indicator
1.5.4
Perencanaan dan Pengendalian Produksi
Strategi produksi
yang dijalankan oleh PT
Gema Air
Masindo
dalam
melakukan proses produksinya adalah membuat produk sesuai dengan jumlah
pesanan pelanggan, atau biasa disebut Make To Order. Maka, proses produksi
baru akan dilakukan setelah ada order yang datang dari pelanggan.
Setelah order diterima, bagian PPIC akan bekerja sama dengan bagian
Produksi  dan  Engineering untuk  membuat  Master Schedule,  yang  berisi
jadwal
pembuatan
produk,
sampai
waktu
pengirimannya. Setelah
itu,
akan
diteruskan ke bagian Purchasing agar dapat mempersiapkan bahan baku yang
dibutuhkan. Lalu, setelah bahan baku yang dibutuhkan sudah
lengkap, bagian
produksi  akan  melakukan  proses  produksi  sesuai  jadwal.  Apabila  dalam
  
21
proses  produksi 
tidak  dapat 
memenuhi  jumlah 
yang  dibutuhkan, 
maka
dilakukan subkontrak.
1.5.5
Proses Produksi
Karena
keberagaman produk
yang
dihasilkan
oleh
PT
Gema
Air
Masindo,  maka  terdapat  beragam  proses  produksi  yang  terjadi.  Namun,
karena yang menjadi fokus penelitian ini adalah produk base plug, maka akan
dijelaskan mengenai urutan proses produksi base plug, sebagai berikut :
1. 
Bahan baku berupa batangan besi dibubut
dahulu,
namun belum
diatur
ukurannya. Pembubutan
ini
dilakukan
untuk
memperkecil
diameter
dari
bahan baku. Pembubutan menggunakan bantuan cairan brumus agar scrap
tidak menempel pada batang.
2.   Setelah melalui proses pembubutan, material kemudian akan dipindahkan
ke  mesin  gerinda  untuk  mengalami  proses  grinding.  Pada  proses  ini
ukuran diameter material sudah
sesuai dengan
ukuran
yang diminta oleh
customer,
atau
yang
tertera
pada
gambar.
Proses
ini
bertujuan untuk
menghaluskan permukaan material dengan dibantu cairan simetik.
3.
Setelah
melalui
proses
penghalusan permukaan
di
mesin
grinding,
selanjutnya kembali
lagi
ke
mesin
bubut
untuk
mengalami proses
pemotongan.
Di
sini
material
dipotong-potong sesuai
ukuran
yang
telah
ditentukan.
  
22
4. 
Setelah
material
dipotong-potong sesuai
ukuran
yang
telah
ditentukan,
selanjutnya material akan mengalami proses hardening. Proses hardening
adalah proses
pengerasan material,
agar
nantinya dapat berfungsi dengan
optimal saat digunakan. Biasanya proses hardening akan memakan waktu
paling lama dibandingkan dengan proses-proses sebelumnya.
5. 
Setelah
mengalami proses
hardening,
material
akan
mengalami proses
terakhir,  yaitu  grinding.  Ini  adalah  proses  penghalusan  material  pada
bagian kanan dan kiri material. Proses ini bertujuan agar produk memiliki
tingkat kerataan yang sama.
Material
harus
sangat
diperhatikan saat
mengalami
proses
produksi.
Material tersebut
harus
dihindarkan dari kerusakan,
misalnya patah atau
ada
permukaan  yang  tidak  rata.  Karena  sedikit  saja  terjadi  kerusakan  pada
material, misalnya pembubutan yang
pemakanannya tidak rata sehingga
ada
bagian yang pemakanannya lebih dalam, maka material tersebut akan menjadi
produk gagal/NG.
1.5.6
Sumber Daya Manusia
Seperti
telah
dijelaskan
sebelumnya, sumber
daya
manusia
yang
dimiliki
oleh
PT
Gema
Air
Masindo
adalah
sumber
daya-sumber daya
berkualitas
yang
telah
diberikan
pelatihan
sebelumnya. Tenaga
kerja
yang
terdapat di PT Gema Air Masindo sampai saat ini adalah 55 orang. Pembagian
shift di PT Gema Air Masindo adalah 1 shift, yaitu pukul 08.00-17.00. Namun
  
23
apabila  produk  harus  dibuat  cepat,  maka  bisa  dilakukan  lembur,  namun
terbatas hanya sampai 2 jam setelah jam kerja regular, atau dilakukan di
hari
sabtu
atau
minggu.  
Apabila produk
sudah sangat
mendesak
untuk
dibuat,
maka
lembur diatas
2
jam kerja diperkenankan, sampai
produk
yang
dibuat
memenuhi target yang telah ditetapkan.
Untuk
sistem
absensi,
di
PT
Gema
Air
Masindo
diterapkan sistem
finger print. Hal tersebut mencegah adanya karyawan berlaku curang dengan
menitip absen. Karyawan diberi jatah cuti 1 kali dalam sebulan, yang berarti
ada 12
hari dalam setahun. Jatah tersebut sudah
termasuk cuti bersama yang
ditetapkan oleh pemerintah. Apabila karyawan sudah
bekerja diatas 6
tahun,
maka bisa mendapat tambahan libur selama 1 minggu.
Untuk
sistem pengupahan, PT
Gema
Air
Masindo
mengikuti standar
UMR. Namun, pekerja juga mendapat ongkos makan dan transport diluar gaji
pokok
mereka. Selain
itu,
untuk pekerja
yang
memang memiliki skill
yang
lebih,
perusahaan
akan
memberi
upah
tambahan yang
nilainya disesuaikan
dengan tingkat keahlian yang dimiliki. PT Gema
Air Masindo juga memiliki
kebijakan
untuk
memberikan insentif
kepada
karyawan,
sebagai
bentuk
penghargaan terhadap
pekerja
yang
tepat
waktu.
Apabila
dalam
seminggu
terdapat
3
kali
keterlambatan, maka
pekerja
tersebut
tidak
mendapatkan
insentif.
Untuk
karyawan baru,
biasanya
training
atau
pelatihan dilakukan
langsung di lantai produksi (training on the job). Jadi pekerja secara langsung
  
24
dapat
mencoba
dan
berlatih
melakukan proses
produksi
agar
mengetahui
kondisi
medan
kerja
yang
sebenarnya. Untuk
tingkat
manajerial,
biasanya
diikutsertakan  untuk  mengikuti  pelatihan-pelatihan  untuk  menambah  skill
yang dimiliki, biasanya lebih bersifat soft skill.
1.5.7
Produk-produk yang dihasilkan PT Gema Air Masindo
Seperti yang telah dijabarkan di atas, PT Gema Air Masindo memiliki
spesialisasi dalam pembuatan JIG, Fixtures,
Dies dan Moulding,
dan special
parts
yang
mendukung
proses
produksi.
Berikut
ini adalah contoh beberapa
produk yang dihasilkan oleh PT Gema Air Masindo.
  
25
Gambar 1.1 Gambar Produk-produk PT Gema Air Masindo