BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 
Latar
Belakang
Masalah
PT.
AQUA
Golden
Mississippi
didirikan 
pada
tahun 
1973 
oleh
Tirto 
Utomo,
sebagai
produsen
pelopor
air
minum
dalam
kemasan
di
Indonesia.
Pada
tahun
1998,
AQUA
(yang  
berada 
dibawah 
naungan 
PT.
Tirta 
Investama)  
melakukan  
langkah
strategis 
untuk 
bergabung 
dengan 
Group 
DANONE,
yang 
merupakan 
salah 
satu
kelompok
perusahaan
air
minum
dalam
kemasan
terbesar
di dunia.
PT
Tirta 
Investama   selaku 
pioneer di dalam
air 
minum 
dalam  kemasan,
berusaha
menjaga  pangsa
pasar yang
telah
mereka
miliki
dengan
mencoba
bersaing
di
dalam
bisnis minuman  isotonik
yaitu
dengan
meluncurkan
produk
Mizone
pada
27
September
2005.
Mizone adalah
jenis
minuman  ringan
berion
dengan
fungsi
menggantikan
ion
tubuh
yang
hilang.
Mizone mengangkat 
tema
"be 100
"dalam
mengkomunikasikan    produknya.  
Mizone 
bukan  
kategori  
produk  
pertama  
pada
minuman   berion, 
sebelumnya   sudah 
terlebih   dahulu   muncul 
Pocari  Sweat 
dan
Powerade
Isotonik   dimana 
keduanya 
adalah 
pemain  asing.
Setelah
produk 
asing
sukses maka
diikutilah  oleh
produsen
lokal, seperti Vitazone, Prosweat, Xion, Revive,
dan
Gatorade.
Strategi
yang
digunakan
oleh
Mizone untuk
mencuri
perhatian
pasar
ialah
dengan
menawarkan
harga 
yang
lebih
murah 
dibanding 
pesaingnya, yaitu 
sebesar
Rp
2500/botol. Dengan
harga
sebesar
itu, 
value Mizone
menjadi
lebih
tinggi.
Selain
itu   Mizone  menggunakan  
volume   botol 
yang 
lebih 
besar 
dibandingkan  
dengan
produk  
pesaingnya,   bentuk  
botol   yang  
fleksibel  
untuk   dibawa  
kemana-mana,
kemasan
botol  berwarna 
biru  untuk  membidik 
segmen
konsumen  yang
lebih  luas,
  
2
menawarkan
varian 
rasa  flavor
fruit yang
kaya 
akan 
vitamin, 
menggunakan jalur
distribusi
Aqua
yang
sudah
menasional,
berusaha  menjadi 
leading 
brand
yang 
tidak
hanya 
memperbesar  
pasar 
isotonik, 
tapi 
juga 
menjadi  
inovative 
brand 
dan 
tidak
hanya
membatasi
diri dalam
kategori
isotonik,
serta
berusaha   
memposisikan
produk
sebagai "everyday
restoration drink':
Dengan 
berbagai 
keunggulannya 
itu,
penjualan   Mizone 
langsung 
meroket.
Sejak
kehadiran 
Mizone, pasar
isotonik  yang  tumbuh 
secara
gradua/sejak
10
tahun
lalu, mendadak  menjadi  400%.
Mizone
sendiri
menjadi pemain
nomor
dua
di
industri
minuman  
isotonik  
dan   berhasil   meraih   pangsa   pasar 
yang 
cukup  
besar, 
yakni
mengambil sekitar
30%
pangsa
pemimpin 
pasar.
Menjelang  tutup  tahun  2006,
tepatnya 
pada
November 
2006, tiba-tiba 
awan
hitam   menggelayut  di 
PT  Tirta   Investama.  Perusahaan 
yang 
melegenda  
berkat
kepeloporannya 
di 
kategori   produk 
air 
minum  
dalam   kemasan 
di 
Tanah 
Air 
ini
dipaksa  menarik 
produk 
yang  belum  lama
mereka  luncurkan,  Mizone.
Produk  yang
bermain 
di
kategori 
minuman 
isotonik 
ini
dianggap 
menyalahi 
aturan 
karena  tidak
mencantumkan
salah
satu
bahan
pengawet 
yang
digunakannya 
pada
label
kemasan
produknya.
Dari
isu  yang 
beredar,  bahan  pengawet
tersebut 
dikhawatirkan
dapat
menyebabkan 
penyakit 
lupus.
Oleh
karena 
itu,
sejak  tanggal  28
November 
sampai
dengan
tanggal
12
Desember
2006, produk
Mizone
ditarik 
dari
peredaran  oleh
BPOM
RI
untuk
memperbaiki label pada
kemasannya.
Realita  yang  ada  pada
saat  penarikan 
produk 
Mizone
cukup 
tragis. 
Hal
ini
dikarenakan 
produk 
Mizone  sebelumnya 
sudah  beredar 
di
30 
depo,
50 
distributor
dan 
1
juta 
outlet 
di
seluruh 
Indonesia.
Namun,  karena 
tertimpa  
kasus
penarikan
produk 
oleh
BPOM RI,  
maka  penjualan 
Mizone
menurun
drastis,
sedikitnya 
Rp
35
miliar
per
hari. Hal ini
pun
menyebabkan  terjadinya  krisis
kepercayaan
konsumen.
  
3
Penarikan
Mizone
dari
pasaran
mengundang  berbagai
kontroversi.
Ada yang
menyebut    bahwa  
isu  
tersebut    sengaja  
dibesar-besarkan  
oleh  
kompetitornya.
Maklumlah,  sejak 
diluncurkan  
pada 
akhir 
2005,
penjualan 
Mizone  terus 
meroket.
Bahkan,   produk  
ini 
juga    berhasil   menambah  
akselerasi   pertumbuhan  
kategori
minuman
isotonik
yang
kala
itu
tengah
mengalami
pertumbuhan  yang sangat
baik.
Namun, 
terlepas 
dari 
berbagai 
kontroversi 
tersebut,  
Direktur 
Pemasaran
Mizone, 
Danone 
Aqua
11,  Yohanes
Pauly,
mengakui 
adanya 
faktor   
human
error
dalam   pembuatan   label 
pada 
kemasan   Mizone. 
Dia 
menjelaskan,  
kadar 
aman
menurut   Permenkes  No.
722/Menkes/IX/88
adalah 
natrium benzoat
600 
mg/liter,
dan  
kalium
sorbat 
1.000  
mg/liter. 
Sementara  
kandungan  
kedua 
jenis  
bahan
pengawet 
tersebut
pada
produk  Mizone
jauh
di
bawahnya,
yaitu
masing-masing
100
mg/liter.
Beliau
menegaskan 
bahwa
sebenarnya 
tidak
ada
masalah
dengan
produk,
hanya
ada
kekurangjelasan 
pada
label
saja.
Pauly
juga
menekankan 
bahwa
produk
Mizone
dijamin  aman
untuk
dikonsumsi.
Apa
pun
alasannya,
nasi
sudah
menjadi  bubur.  PT. Tirta 
Investama 
harus
tetap 
melaksanakan   kewajibannya   dengan 
menarik 
produk 
Mizone 
dari 
pasaran.
Kendati dibutuhkan  usaha luar
biasa
besar, karena
distribusi
produk
ini sudah sangat
meluas
ke
seluruh
Indonesia, PT. Tirta
Investama 
mencoba
konsekuen.
Tak
sampai
satu
bulan, peredaran
Mizone berhasil
dihentikan.
Dihadapkan 
pada  permasalahan 
isu  bahan  pengawet,
PT. Tirta 
Investama
menjalankan 
aksi
recovery
dan
kembali  menambah 
akselerasi Mizone.    Pada 
Juni
2008
Mizone
berhasil  melakukan  
turn around
bahkan 
penjualannya 
tertinggi  sejak
diluncurkan.   Strategi 
yang 
digunakan   Mizone  untuk 
mengembalikan 
kepercayaan
konsumen 
atas 
merek 
Mizone 
dan 
untuk 
merebut  
kembali 
hati 
konsumen 
ialah
melalui
program  dan
aktivitas
edukasi
konsumen, peluncuran
varian
baru
rasa 
lychee
lemon
dan  disusul
dengan 
apple guava,
fokus
dalam
mengkomunikasikan 
manfaat
  
4
Mizone
antara 
lain
melalui
iklan 
testimonial
yang
mengedepankan 
unsur
orisinalitas
dan
realitas  pada
konsumen,
kampanye 
360 degrees integrated
marketing activities
"tantangan 
Mizone 
jadi    100%  
kamu",  
serta  
melalui  
kampanye  
baru  
dengan
menciptakan 
karakter
animasi
Mizone:
mibody
(stamina), 
mimind
(konsentrasi),
dan
mimood (semangat),
dengan
tetap
senantiasa
mengkomunikasikan 
sisi
manfaat 
dari
Mizone.
Langkah
ini
tergolong 
tepat.  Pertumbuhan  penjualan  Mizone
telah
kembali
ke
jalur
yang
benar.
Namun
Pauly
tidak
bersedia
berbicara
soal angka,
yang
menurut
beliau
merupakan  rahasia
perusahaan.
Merek
(brand)
merupakan  sebuah
identitas
yang
sangat
penting
bagi sebuah
perusahaan  yang
berpengaruh 
bagi 
image
atau
kesan
pelanggan
terhadap  individu
atau  perusahaan  tersebut. 
Sebuah
isu
dapat  muncul 
sewaktu-waktu 
dan 
merusak
image
sebuah
produk.
Inilati yang
dinamakan
krisis merek.
Jika
hal ini
sudah terjadi,
perusahaan 
harus  segera  mengambil 
tindakan 
cepat 
agar  isu
yang  beredar 
tidak
semakin
berkembang 
dan
semakin
menjatuhkan 
image
yang
telah
terbentuk
selama
ini.
Salah satunya
dengan
melakukan
edukasi
pasar
sebagai
bentuk
dari
komunikasi
pemasaran, yakni melalui 
public relation
dan
periklanan
yang edukatif.
Keputusan  
pembelian  
konsumen  
adalah  
reaksi  
riil  
atas  
keberhasilan
program 
pemasaran 
sebuah 
produk.   
Berangkat  dari
upaya 
image recovery
yang
dilakukan  PT.
Tirta 
Investama 
terhadap  produk  Mizone
melalui 
public relation
dan
periklanan   yang 
edukatif,   maka 
penting 
untuk 
diketahui 
bagaimanakah 
perilaku
konsumen  terhadap  citra 
merek
Mizone
pasca
pemulihan  citra 
Mizone, yang 
dapat
diselidiki
melalui
perilaku
keputusan
pembelian
konsumen.
Untuk  
mengetahui  
sejauh  
mana   tingkat  
efektivitas  
dari  
upaya  
image
recovery
yang
dijalankan  PT.
Tirta
Investama 
atas
produk
Mizone,
yang
bisa
diukur
dari
kondisi 
brand image
Mizone
di
benak
konsumen
terkait  kasus
penarikan
produk
dari  
pasar   oleh   BPOM  dan  
kondisi  
brand  image 
Mizone 
setelah  
perusahaan
  
5
melaksanakan  
image 
recovery, 
lalu  
untuk  
mengetahui  
adanya  
dan  
besarnya
kontribusi 
public
relation
dan 
periklanan 
dalam 
pembentukan 
image Mizone yang
baru
(setelah 
adanya  image
recovery)
di
benak
konsumen,
serta  untuk  mengetahui
dampak
yang
ditimbulkan 
dari adanya
public relation, periklanan
maupun  dari
brand
image
Mizone 
yang 
baru 
terhadap  
keputusan 
pembelian   konsumen, 
maka 
saya
tertarik
untuk 
meneliti 
tentang 
peran 
Public 
Relation dan
Periklanan
yang  edukatif
dalam 
Image  Recovery untuk
menciptakan 
keputusan 
pembelian 
konsumen 
pada
produk
minuman  Mizone.
Dalam 
penulisan 
skripsi  ini,
peneliti 
menggunakan   jurnal 
pendukung  
dari
skripsi
yang  berjudul
"Image Recovery Mela/ui  Periklanan dan  Public  Relation  Yang
Edukatif Dalam  Menghadapi Wabah
Flu
Burung Pada
Makanan Fastfood (Studi
Kasus
Pada
PT.Fastfood Indonesia  Tbk.,
Kentucky Fried
Chicken)';
yang
diteliti
oleh
Audrey
Jessica pada
tahun
2008.
Analisis data
pada
penelitian
tersebut
menghasilkan  bahwa
Periklanan  dan  Public Relation
terbukti  dapat 
me-recovery
image  KFC yang
sempat
terganggu 
akibat 
wabah  flu  burung,  dan  terdapat 
perbedaan 
antara 
Brand  Image
KFC
pada saat
beredar
isu
wabah
flu
burung
dan
setelah
dilakukan
Image
Recovery.
Selain
itu,  penelitian 
pada 
skripsi
ini  juga 
didukung 
dari  jurnal 
penelitian
terkait 
pengaruh 
citra  merek 
dengan 
keputusan  pembelian  konsumen  yang 
pernah
dilakukan   oleh 
saudari   Verawati   Sinaga 
pada 
tahun 
2005 
dengan 
judul  
skripsi
"Pengaruh  Citra  
Merek  
(Brand  Image) 
Terhadap
Proses   Keputusan 
Pembelian
Konsumen (Studi
Pada
Pengguna Kosmetik Merek
Avon
di Kota
Bandung}'.
Dari hasil
penelitian 
tersebut   disimpulkan  
bahwa
citra 
merek 
Avon 
dibenak 
sebagian 
besar
konsumen  adalah
positif,
sehingga
semakin
positif  persepsi konsumen
terhadap  citra
merek  maka
semakin  mendorong 
proses  keputusan 
pembelian  konsumen  terhadap
kosmetik
merek
Avon di kota
Bandung.
  
6
1.2 
Identifikasi
Masalah
Perumusan  
masalah   merupakan  
hal 
yang  
paling  
penting  
dalam  
suatu
penelitian,  hal 
ini  diperlukan 
agar  batasan 
masalah 
menjadi 
jelas 
sehingga 
dapat
dijadikan
pedoman
dalam
melakukan
penelitian.
Adapun perumusan
masalah
pada
penelitian
ini adalah
:
1.  Bagaimanakah Brand Image Mizone
terkait 
penarikan 
produk 
oleh
BPOM (Badan
Pengawas 
Obat
dan Makanan)
Republik
Indonesia?
2.
Apakah  
Public 
Relation  dan
Periklanan 
yang 
edukatif, 
secara 
individual   atau
bersama,
mempengaruhi
pembentukan 
image
Mizone
yang
baru
setelah
dilakukan
image recovery?
3.
Apakah
terdapat 
perbedaan  antara 
brand image
Mizone
terkait 
penarikan 
produk
Mizone   oleh  
BPOM  dengan  
brand 
image 
Mizone   setelah  
dilakukan    image
recovery?
4.
Adakah 
pengaruh 
secara 
langsung 
antara  
Public 
Relation
dan 
Periklanan 
yang
edukatif,
secara individual
ataupun
bersama,
terhadap
keputusan
pembelian
konsumen?
5.
Adakah 
pengaruh 
secara  tidak 
langsung 
antara 
Public 
Relation
dan 
Periklanan
yang
edukatif,
secara individual  ataupun
bersama, terhadap  keputusan
pembelian
konsumen 
dengan 
image
Mizone 
yang 
baru 
setelah 
dilakukan   image. recovery
sebagai
variabel
intervening?
6. Seberapa
besarkah
pengaruh 
antara 
Public
Relation
dan
Periklanan
yang
edukatif
terhadap  brand image Mizone
yang
baru
setelah
dilakukan  image
recovery?
  
7
7.
Seberapa
besarkah
pengaruh  antara 
Public
Relation
dan
Periklanan
yang
edukatif
serta  brand
image
Mizone
yang
baru 
setelah
dilakukan  image
recovery terhadap
keputusan
pembelian
konsumen?
8.
Variabel manakah
yang
paling
dominan
untuk
mempengaruhi
pembentukan  image
Mizone
yang
baru
setelah
dilakukan  image recovery?
9.
Variabel    manakah  
yang    paling  
dominan   
untuk  
mempengaruhi   
keputusan
pembelian
konsumen
pada
produk
Mizone?
1.3  
Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian
yang
ingin
dicapai
dalam
penulisan
skripsi ini adalah
1. 
Untuk
mengetahui  bagaimanakah 
Brand 
Image Mizone
terkait 
penarikan 
produk
oleh
BPOM (Badan
Pengawas  Obat
dan
Makanan)
Republik Indonesia.
2.
Untuk 
mengetahui 
bahwa 
Public  Relation
dan 
Periklanan
yang 
edukatif,
secara
individual 
atau 
bersama,
mempengaruhi
pembentukan 
image 
Mizone
yang 
baru
setelah
dilakukan
image recovery.
3.
Untuk  
mengetahui  
adanya  
perbedaan  
antara  
brand 
image   
Mizone 
terkait
penarikan  
produk  
Mizone 
oleh   BPOM
dengan  
brand 
image  
Mizone 
setelah
dilakukan
image recovery.
4.
Untuk
mengetahui 
adanya  pengaruh 
secara
langsung
antara 
Public
Relation
dan
Periklanan
yang
edukatif, secara
individual
ataupun
bersama,
terhadap
keputusan
pembelian
konsumen.
5.
Untuk
mengetahui  adanya
pengaruh 
secara
tidak
langsung
antara  Public
Relation
dan 
Periklanan 
yang   edukatif,  
secara 
individual  
ataupun  
bersama, 
terhadap
  
8
keputusan   pembelian   konsumen   dengan  
image  
Mizone 
yang  
baru   setelah
dilakukan
image
recove!Jisebagai
variabel
intervening.
6. Untuk
mengetahui
besarnya
pengaruh
antara
Public
Relation
dan
Periklanan yang
edukatif
terhadap
image
Mizone yang
baru
setelah
dilakukan
image
recovery.
7. Untuk
mengetahui
besarnya
pengaruh
antara
Public
Relation
dan
Periklanan yang
edukatif  serta  brand
image  Mizone
yang
baru
setelah
dilakukan
image 
recove!JI
terhadap keputusan
pembelian
konsumen.
8.
Untuk  
mengidentifikasi  
variabel   yang   paling 
dominan  
untuk   mempengaruhi
pembentukan
image
Mizone yang baru setelah dilakukan
image
recovery.
9.
Untuk  
mengidentifikasi  
variabel 
yang  
paling 
dominan  
untuk   mempengaruhi
keputusan
pembelian
konsumen pada
produk
Mizone.
1.4    Manfaat
Penelitian
1. 
Bagi peneliti
Penelitian
merupakan
kesempatan
yang
baik
untuk
menerapkan
teori
kasus
di
bidang 
pemasaran
ke
dalam
dunia
praktek 
yang
sesungguhnya
serta 
untuk
mengembangkan   pemikiran   mengenai 
ilmu 
pengetahuan 
tentang  
pemasaran
dalam
menghadapi
isu-isu
atau
masalah
terkait  produk  dan
merek,
yang
dapat
menimbulkan 
krisis  kepercayaan  konsumen  dan
masyarakat  atas  merek  suatu
produk, sehingga
hal
itu 
dapat
menurunkan
citra  merek
suatu
produk  di
benak
konsumen,
dimana 
dalam  hal
ini  yaitu  mengetahui  bagaimana
peranan  public
relation  dan
periklanan
yang edukatif
berpengaruh
terhadap
pembentukan
image
Mizone yang
baru
setelah
dilakukan
image  recove!JI pasca
penarikan
Mizone
oleh
BPOM
RI
dan
mengetahui dampaknya terhadap keputusan
pembelian konsumen.
  
9
2. 
Bagi perusahaan
Hasil  penelitian 
ini  dapat 
dijadikan 
bahan  masukan 
yang  bermanfaat   bagi
perusahaan,  dalam 
hal  ini
ialah 
bagi
PT.
Tirta 
Investama, yaitu 
sebagai
bahan
masukan   
apakah 
Public  
Relation    dan
Periklanan  
yang 
edukatif 
mampu
membentuk 
image  positif
atau  memulihkan 
citra 
merek  Mizone
pasca
penarikan
produk 
Mizone  oleh 
BPOM
RI 
dan 
bagaimana 
citra 
merek 
Mizone 
yang 
baru
berdampak 
terhadap 
keputusan 
pembelian 
konsumen.  Selain itu,
hasil
penelitian
ini
dapat  menjadi  bahan
perbandingan
brand  image
Mizone
sebelum
dan
setelah
image
recovery.
3. 
Bagi pihak
lain
Hasil
penelitian 
ini
dapat 
digunakan 
sebagai
bahan
referensi
bagi
pembaca
dan 
dapat 
memberikan  
informasi  
bagi 
penelitian   lain 
yang 
berkaitan 
dengan
bidang
pemasaran.