|
Bab 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Di masa sekarang ini, semakin sulit bagi kita untuk menemukan seseorang yang tidak
mengidentifikasikan dirinya sebagai penggemar sesuatu. Objek kegemaran setiap orang
berbeda-beda.
Ada
yang
menggemari
sesuatu
yang
spesifik
dalam bentuk
seorang
penyanyi,
pemain
sepakbola,
atau
sebuah
klub olahraga. Kemudian ada juga yang
menggemari
sesuatu
yang bersifat
lebih
luas
seperti
film horor,
musik
jazz, olahraga
sepakbola, komik Jepang, anime dan lain sebagainya (Siahaan, 2004 : 109).
Demikian juga di Jepang, fenomena penggemar sudah terjadi sejak lama, seperti para
Sumo yang sejak dahulu dianggap sebagai semacam idola oleh masyarakat Jepang, dan
juga kabuki pada jaman Edo. Dari berbagai fenomena ini, ada dua benang merah yang
terlihat. Pertama adalah bahwa fenomena penggemar
memiliki kaitan
yang sangat erat
dengan perkembangan budaya populer atau masal di masing-masing ruang dan waktu.
Kedua, bahwa fenomena penggemar merupakan bagian dari budaya konsumsi
yang
memiliki
sifat
sosial
yang
kuat.
Seorang
penggemar
umumnya
menggemari
sesuatu
tidak sendiri, tetapi selalu bersama-sama dengan orang lain.
1.1.1. Fenomena Anime dan Otaku
Menonton anime
dan membaca manga adalah bagian dari kehidupan sehari-hari
orang
Jepang.
Budaya
anime telah
menjadi
budaya
yang
populer di
Jepang.
Anime
pertama yang diekspor keluar dan diperkenalkan
kepada
masyarakat
Amerika Serikat
adalah
Astro Boy (1961).
Pada
tahun
1980-an,
kemampuan
untuk
mengakses
televisi
|
|
kabel
membuat
anime
seperti
Sailormoon dan
Starblazers
menjadi
populer,
sehingga
kemudian
menciptakan
dasar
untuk basis penggemar di
Amerika Serikat.
Pada
tahun
1999, anime Pokemon
telah
menembus pasar masal di Amerika Serikat, tidak seperti
anime lainnya yang telah masuk sebelumnya
Anime dan
manga
menarik
begitu
banyak
penggemar,
baik
orang
Jepang
sendiri
maupun
orang
mancanegara,
seperti
yang
telah dikatakan oleh Jean Marie Bouissou
bahwa
anime
dan
manga
sangat
menarik
karena
mereka
adalah
produk
kesenangan
murni yang merupakan bentuk hiburan tidak mahal untuk dinikmati (MacWilliams,
2008 : 5). Ada penggemar yang memang hanya menyukai menonton anime atau
membaca komik, namun banyak juga yang amat sangat terobsesi dengan hal-hal tersebut,
sampai
mengoleksi
barang-barang
yang
berhubungan dengan hobi mereka dan sangat
tergila-gila akan
hobi mereka. Orang-orang demikian disebut dengan Otaku. Istilah
ini
pertama
kali
dikemukakan
oleh
kolumnis
Nakamori
Akio
dalam artikel Otaku
no
Kenkyu (Penelitian tentang Otaku).
Istilah
Otaku biasa ditulis dengan huruf katakana untuk
membedakan dengan kata
sopan dalam bahasa Jepang karena sebenarnya, Otaku sendiri berarti kata
ganti orang
kedua yang berarti Anda. Kemudian pada tahun 1980-an, istilah Otaku diadopsi oleh
penggemar
berat
anime dan
manga
sebagai bahasa slang yang
merujuk pada
mereka
(Haghirian, 2010
:
113).
Banyak
orang
berpikir bahwa julukan
Otaku hanya
sekedar
untuk
pecandu
anime,
manga
atau
game saja,
tetapi
sebenarnya
ada
berbagai
macam
jenis Otaku seperti Seiyuu Ota, Tetsudou Ota, Figure Ota, Pasocon Ota dan sebagainya.
Otaku juga disebut sebagai nerd atau kutu buku (Galbraith 2009 : 171).
|
![]() Gambar 1.1
Gambaran Otaku di Jepang
(Sumber : Densha Otoko, 2005)
Okada Toshio adalah seorang produser di Studio Gainax, dan meneliti tentang Otaku.
Ia mengeluarkan buku yang berjudul Otaku wa Sude ni Shindeiru, yang berarti Otaku
telah
mati.
Okada
bisa
mendeteksi bahwa orang
yang
ia
lihat
adalah
seorang Otaku,
hanya dari melihat dari belakang.
Menurut
Okada (2008
:
13), surga
dari
para
Otaku adalah
Akihabara.
Tempat
ini
adalah
wilayah
pusat
perbelanjaan yang terletak di Stasiun
Akihabara, Tokyo, Jepang.
Akihabara sering juga disebut dengan Akiba. Mengapa Akiba disebut sebagai surga bagi
para Otaku? Hal ini dikarenakan Akiba merupakan pusat dari anime, manga, video game
dan
komputer
di
Jepang.
Barang-barangnya
tersebar
di
seluruh
toko-toko
elektronik
yang ada di sana. Selain toko-toko elektronik, terdapat juga kafe
yang disebut dengan
Maid Cafe, dimana yang melayani adalah para wanita dengan memakai seragam pelayan,
dan
sangat
memanjakan
pelanggannya
seperti
karakter
di
anime.
Ada
juga
kissaten
manga (kafe komik), suatu jenis kafe internet di mana pelanggan dapat membaca komik
dan menonton DVD selain memiliki akses ke internet. Setiap harinya anime ota, seiyuu
|
|
ota, dan game ota berkumpul beramai-ramai di Akiba.
Mereka berlomba
untuk
mendapatkan gelar siapakah yang terkuat dalam Moe Batoru (Pertempuran Moe).
Moe adalah
istilah
slang
dalam
bahasa
Jepang
yang
berarti
minat
kuat
terhadap
karakter
wanita
tertentu
dalam
video
game
maupun
anime dan
manga.
Otaku-
Akihabara-Moe
akhir-akhir
ini
merupakan
istilah
yang
digunakan
menjadi
satu
set.
Moe
tidak
hanya diartikan
sebagai
tanaman
yang
kuncup,
namun
seperti
yang
kita
tahu, istilah Moe saat ini juga menjadi penting dalam berbicara tentang Otaku. (Okada,
2008 : 25).
Di
Jepang, ada beberapa
kasus
aneh
yang
dilakukan
oleh seorang Otaku, bahkan
tindakan kriminalitas. Pada
tahun 1988 dan 1989, seorang pemuda bernama Miyazaki
Tsutomu membunuh empat gadis cilik yang umurnya berkisar antara empat sampai tujuh
tahun. Setelah membunuh
mereka,
ia memutilasi dan
melakukan penganiayaan seksual
serta memakan mayat mereka. Ketika kamar Miyazaki Tsutomu diselidiki, banyak
koleksi video-video yang isinya berupa korban-korban yang dibunuhnya, lalu sejumlah
anime porno dan
film-film yang benar-benar sadis. Oleh karena insiden
ini, ia dijuluki
sebagai Otaku Murderer. Kemudian, pada tahun 2009, seorang pemuda Jepang
dengan
inisial
nama Sal9000, menikahi Nene Anegasaki, seorang karakter video game
Nintendo DS yang berjudul Love Plus. Dari kasus pembunuhan yang dilakukan oleh
Miyazaki
Tsutomu,
memunculkan
stereotip
yang
negatif
dari
masyarakat
Jepang
terhadap kaum Otaku.
1.1.2. Gambaran Umum Drama atau Film Jepang
Penulis akan meninjau masalah Otaku yang diambil dari sebuah drama Jepang.
Drama adalah salah satu karya sastra yang penampilan fisiknya memperlihatkan secara
|
|
verbal adanya dialog atau cakapan di antara tokoh-tokoh yang ada (Budianta 2006 : 95).
Menurut
Wiyanto
(2007
:
10),
berdasarkan sarana
atau
alat
yang
digunakan
untuk
menyampaikan kepada penonton atau pendengar, drama dapat dibedakan menjadi enam
jenis yaitu drama panggung, drama radio, drama televisi, drama film, drama wayang dan
drama boneka. Dalam penelitian ini penulis akan menganalisi drama dengan jenis drama
televisi (terebi dorama), yaitu drama yang dapat didengar dan dilihat (meskipun hanya
gambar), namun drama televisi tidak dapat diraba. Selain didominasi oleh cakapan yang
langsung
itu,
drama
juga
memperlihatkan
adanya
semacam
petunjuk
pemanggungan
yang akan memberikan gambar tentang suasana, lokasi, atau apa yang dilakukan oleh
tokoh.
Drama Jepang berbeda dengan sinetron di Indonesia, yang memiliki banyak episode.
Jumlah episode drama-drama di Jepang biasanya hanya berkisar antara 10 sampai 12
episode, kecuali untuk drama keluarga di stasiun televisi NHK yang biasanya memiliki
jumlah episode
di
atas 100.
Hal
ini
dapat
dibuktikan
dengan
pendapat
Macwilliams
(2008
:
60),
yang
mengatakan bahwa program penyajian drama yang memakan waktu
bertahun-tahun
adalah
suatu
pengecualian bagi
Jepang.
Biasanya
periode
pemutaran
drama berlangsung selama tiga sampai enam bulan, dan untuk drama-drama tertentu bisa
mencapai
setahun
atau
dua
tahun.
Dengan demikian,
aktor,
sutradara, sekaligus
penonton mendapatkan keuntungannya, daripada harus memainkan suatu drama yang
memiliki
jangka
waktu yang
sangat
lama
dan
juga
bisa
menurunkan
kualitas drama
tersebut.
Drama yang akan penulis bahas dalam
penelitian
ini berjudul Densha Otoko (Train
Man). Drama
ini ditayangkan di Jepang pada tahun 2005 di stasiun Fuji TV yang
disutradarai oleh Takeuchi Hideki, Nishiura Masaki, dan Kobayashi Kazuhiro. Penulis
|
|
skenarionya adalah Muto Shogo dan Tokunaga Tomokazu. Tokoh utama dari drama ini
bernama Yamada Tsuyoshi yang diperankan oleh Ito Atsushi, kemudian Aoyama Saori
yang diperankan oleh Ito Misaki.
Yamada
Tsuyoshi
adalah
seorang
penggemar
berat
anime dan
manga.
Di
dalam
kamarnya
dipenuhi
oleh
koleksi-koleksi
boneka,
action figure,
poster,
dan
mainan-
mainan
lainnya
yang
berhubungan
dengan anime atau manga.
Hanya
dengan
melihat
penampilannya,
kata
Otaku
pasti
muncul dalam pikiran orang-orang
di
sekitarnya.
Tsuyoshi
bertubuh
pendek
dan
memakai
kacamata.
Gaya
rambutnya
berantakan dan
bajunya
selalu
dimasukkan
ke
dalam celana,
sehingga
benar-benar
kelihatan
nerd.
Tsuyoshi
pintar
memainkan
video game,
dan
seringkali
ikut
acara-acara
yang
berhubungan dengan anime atau seiyuu (pengisi suara karakter di anime).
Dengan
label
Otaku
pada
dirinya,
seringkali orang-orang
di
sekitanya
merendahkan dirinya, bahkan keluarganya sekalipun. Misalnya, seorang teman Aoyama
yang
bernama
Sawazaki
Kaho
langsung
menghindari sentuhan fisik ketika Tsuyoshi
hendak
memberikan kuas
make-up miliknya.
Tak
hanya
itu,
dengan
raut
wajah
yang
muak terhadap Tsuyoshi, Kaho langsung membuang kuas tersebut ke tempat sampah.
Adik
Tsuyoshi
pun
menganggap
bahwa
kakaknya
itu
menjijikan.
Ayahnya
juga
seringkali tidak mempedulikannya. Tsuyoshi hanya bisa berteman baik dengan Otaku-
otaku
lainnya, karena memiliki hobi yang sama dengan mereka. Hubungan dengan
orang-orang sekitarnya kurang baik dan jarang sekali berkomunikasi karena ia
kebanyakan
menghabiskan
waktunya di kamar
untuk
menonton anime,
bermain video
game, atau pergi ke Akihabara untuk mengikuti acara-acara dengan perkumpulan otaku
lainnya. Jangankan berpacaran, berbicara dengan seorang wanita saja seluruh tubuhnya
bisa gemetar.
|
|
Tsuyoshi
jatuh
cinta pada
pandangan
pertama
kepada
wanita
cantik
Aoyama
Saori
yang ditemuinya di kereta.
Dengan dukungan teman-teman Yamada di forum internet,
Tsuyoshi yang tadinya tidak memiliki keberanian sama sekali untuk menelpon seorang
wanita, sedikit demi
sedikit berubah menjadi seseorang yang lebih terbuka, memiliki
inisiatif, termasuk juga merubah penampilan dirinya. Ia mendekati Saori perlahan-lahan,
sampai akhirnya berani menyatakan perasaan pada Saori.
Tsuyoshi hanya
ingin orang-
orang di sekitarnya menerima dirinya yang adalah seorang Otaku.
Setiap orang pasti memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai suatu hal, benda,
atau seseorang. Misalnya, ada sekelompok
orang
yang
menganggap
bahwa
kepemimpinan Presiden SBY sangat baik, namun kelompok lainnya menganggap bahwa
kepemimpinannya tidak becus atau tidak adil, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali.
Plotnik
(2005
: 124),
mendefinisikan persepsi sebagai pengalaman
yang dimiliki
individu setelah otak menyusun dan mengombinasikan ribuan sensasi (hasil
penginderaan) yang tidak bermakna menjadi suatu pola atau kesan yang bermakna.
Mengenai fenomena Otaku pun pasti menghasilkan interpretasi dan persepsi yang
berbeda-beda. Seperti yang dialami Yamada Tsuyoshi dan teman-temannya, dengan cara
pandang orang-orang di sekitarnya yang negatif dan terkesan meremehkan kaum Otaku.
Oleh karena itu penulis tertarik untuk
menganalisis bagaimana pandangan tokoh-tokoh
yang
ada
dalam
drama
Densha
Otoko
terhadap
tokoh
utama
yang
berperan
sebagai
Otaku yaitu Yamada Tsuyoshi.
1.2. Rumusan Permasalahan
Rumusan
permasalahan
dalam skripsi
ini
adalah
analisis
pandangan
tokoh-tokoh
terhadap tokoh utama sebagai otaku dalam drama Densha Otoko.
|
|
1.3. Ruang Lingkup Permasalahan
Sesuai dengan rumusan permasalahan di atas, maka ruang lingkup permasalahan
dalam penelitian
ini adalah
menganalisis pandangan tokoh-tokoh terhadap tokoh
utama
Yamada Tsuyoshi dalam drama Densha Otoko karya Muto Shogo dan Tokunaga
Tomokazu . Episode yang akan penulis bahas adalah episode 1-3, 5 dan 8. Penulis juga
akan membahas mengenai penyebab dari pandangan setiap tokoh.
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian
ini
bertujuan
untuk mengetahui
bagaimana
pandangan
dari
tokoh-tokoh
terhadap tokoh utama sebagai otaku dalam drama Densha Otoko karya Muto Shogo dan
Tokunaga Tomokazu.
Manfaat penelitian ini adalah agar penulis dan pembaca dapat
memahami
lebih
lagi
mengenai
fenomena
otaku dan pandangan
yang
datang
dari
tokoh-tokoh
lain terhadap
tokoh utama Yamada Tsuyoshi sebagai Otaku.
1.5. Metode Penelitian
Metode penelitian yang
penulis
gunakan
dalam penelitian
ini
adalah
metode
kepustakaan dan deskriptif analitis. Metode kepustakaan merupakan pengumpulan data
dari buku, bacaan, dan artikel lain yang diharapkan dapat menunjang proses analisa yang
dilakukan (Zed, 2004 : 3).
Sedangkan
metode deskriptif
analitis
menurut
Rahman
(2007
:
155)
yaitu
metode
yang
menggambarkan
dan
menganalisis
peristiwa
yang
terjadi secara
kronologis,
menganalisis fakta-fakta secara sistematis dan rasional.
|
|
Langkah pertama yang penulis lakukan adalah menonton drama-drama Jepang.
Kedua , penulis
memfilter drama-drama tersebut yang memiliki unsur
Otaku di
dalamnya.
Akihabara Deep dan
Densha Otoko merupakan drama yang
memiliki unsur
tersebut. Dari kedua drama tersebut, penulis
memfilternya
lebih
lagi dan
memutuskan
untuk
memilih
drama
Densha
Otoko sebagai
acuan
penelitian
penulis
karena
drama
tersebut
paling
banyak
memiliki
masalah
otaku di
dalamnya.
Kemudian
penulis
akan
menganalisis pandangan tokoh-tokoh terhadap tokoh utama sebagai otaku dari cerita dan
dialig-dialog
dalam drama
tersebut.
Terakhir, penulis
membuat kesimpulan
dari
hasil
analisis penulis.
1.6. Sistematika Penulisan
Untuk mencapai tujuan penulisan mengenai penelitian yang akan penulis teliti,
adapun sistematika penulisan penelitian ini terdiri dari lima bab.
Bab
pertama,
yaitu
Pendahuluan,
berisi
tentang
latar
belakang
penulisan
proposal
serta
menggambarkan
alasan
pemilihan
topik
skripsi.
Selain
itu
juga berisi rumusan
permasalahan, ruang lingkup permasalahan dan metode penelitian yang akan digunakan.
Bab dua adalah tentang
landasan
teori, berisi teori
yang akan
menjadi acuan dalam
menganalisis data.
Bab
tiga,
berisi tentang
pembahasan pandangan
tokoh-tokoh terhadap
tokoh
utama
sebagai otaku dalam drama Densha Otoko. Dengan menggunakan landansan teori pada
bab dua diharapkan akan memudahkan proses analisis dengan cara menganalisis teks.
Bab
empat,
merupakan
simpulan
dari
penelitian
dan
saran yang dapat penulis
kemukakan berdasarkan penelitian yang dilakukan.
|
|
Bab lima, merupakan penutup
yang berisi ringkasan dari bab pertama hingga bab
keempat.
|