|
Namun sekarang ini keberadaan kain tenun Toraja mulai menghilang,
tidak banyak orang
yang mengenal kain ini, dibandingkan dengan kain
tradisional lainnya. Ditambah dengan pengaruh fashion dari luar, membuat
kain tenun ini tidak banyak diminati. Untuk membantu melestarikan serta
membantu para penenun di Tana Toraja, seorang aktivis perempuan
bernama Ibu Dinny Jusuf tergerak hatinya untuk membuat
sebuah
perusahaan tenun yang
berbasis sosial
dengan nama
TorajaMelo. Bersama
dengan adiknya,
seorang desainer lulusan San Fransisco, Ibu Nina Jusuf.
Mereka membuat sebuah fashion brand dengan
mengeksplorasi kain tenun
Toraja, menggabungkan etnik Toraja dengan fashion masa kini. Berlokasi di
daerah Kemang, Jakarta Selatan, TorajaMelo
merupakan sebuah toko
mungil
yang menjual
produkproduk
fashion
berbahan dasar kain tenun
Toraja,
kain tenun yang digunakan langsung dibuat oleh para penenun di
Tana Toraja.
Selain
menjual produknya di
satu tempat, TorajaMelo juga kerap
mengikuti acara fashion show untuk turut memperkenalkan kain tenun
Toraja kepada masyarakat umum
dalam bentuk yang berbeda. Namun
sekarang ini brand
TorajaMelo tidak banyak dikenal oleh masyarakat
khususnya kalangan anak muda karena kurangnya promosi yang dilakukan
di media sosial. Website, instagram, facebook, semua media sosial dari
TorajaMelo tidak berjalan dengan baik.
Oleh karena itu, TorajaMelo membutuhkan sebuah rejuvenasi pada
identitasnya agar sesuai dengan target market yang sebenarnya ingin dicapai
oleh TorajaMelo yaitu kalangan anak muda. Perancangan ini juga bertujuan
sekaligus untuk mendukung
promosi kebudayaan Tana Toraja serta dapat
mengkomunikasikan lebih jelas apa itu kain tenun Toraja dengan cara yang
lebih modern. Penulis tertarik untuk mengambil topik ini setelah mencari
tahu tentang kain tenun
Toraja
di desa Sadan, Tana Toraja
yang tidak
banyak dikenal namun memiliki
pesona indah dibagian
corak
motif dan
warnanya.
|