|
18
bit yang digunakan sebagai kunci sangat berpengaruh.
Untuk
mengatasi
hal
itu,
maka
NIST
mempersiapkan algoritma
pengganti
DES,
yang
disebut
Advanced
Encryption
Standard(AES).
Kontes
terbuka
untuk
mendapatkan
AES
dimulai
tahun
1997
dengan
jumlah peserta sebanyak 21 tim. Pada seleksi tahap1, enam algoritma gugur, karena
dinilai tidak sesuai kriteria. Seleksi tahap 2 menggugurkan 10 dari 15 algoritma lainnya
yang dianggap kurang aman ataupun kurang efisien untuk diimplementasikan. Setelah
terpilih 5 kandidat, akhirnya pada tahun 2000 terpilih sebuah algoritma AES yang
dikenal juga dengan nama Rijndael, sesuai dengan nama penciptanya Dr.Vincent
Rijmen dan Dr. Joan Daemen. Alasan terpilihnya Rijndael adalah karena algoritma
tersebut
memiliki
keseimbangan
antara
keamanan
dan
fleksibilitas
dalam berbagai
platform
baik
sofware maupun
hardware.
Selain
itu,
kesederhanaan
dari
rancangan
algoritma
ini
membuatnya
memakan
waktu yang
lebih singkat, bila dibandingkan
dengan kandidat-kandidat pesaingnya. Kriteria dari AES sendiri adalah sebagai berikut :
1. Algoritma dipublikasikan secara meluas untuk memeriksa tingkat keamanannya
2. Algoritma harus merupakan block chipher
3. Diharuskan
untuk dapat diimplementasikan dalam sofware dan hardware secara
cepat
4. Masukan berupa blok dengan ukuran sepanjang 128 bit
5. Kunci yang digunakan fleksibel dengan panjang 128 bit, 192 bit dan 256 bit
6.
Algoritma
harus
mencakup
fungsi hash(fungsi
satu
arah)
yang
memiliki
kemampuan mengkompresi dan hasil kompresinya tidak dapat dikembalikan ke
asalnya
7. Dapat
mengenkrip data
yang berukuran 32 bit atau 64 bit,
yang
memungkinkan
untuk mengenkrip aliran video dan audio secara real time
|