|
8
8
BAB 2
LANDASAN TEORI
Kepemimpinan bagi masyakarat kebanyakan merupakan sebuah kata yang
dianggap sebagai topik yang sangat berat untuk dibahas. Namun pada kenyataannya
segala
hal
yang
terjadi
di
dunia
ini
tergantung
pada
kepemimpinan.
Ada
banyak
orang
memiliki
konsep
yang
keliru
mengenai
arti
dari
kepemimpinan
itu
sendiri.
Oleh karena itu, dalam bab
ini penulis akan membahas
lebih
lanjut
mengenai definisi,
konsep dan kualitas kepemimpinan.
2.1
Definisi Kepemimpinan
Istilah kepemimpinan dalam Bahasa Mandarin terdiri dari dua kata; Ling (?)
dan
Xiu(?). Ling(?)
berarti
kerah, bagian atas baju.
Sederetan
kancing
baju
yang
bermula
dari
bagian
kerah
dan
turun
ke
bagian
bawah
baju.
Sementara,
xiu
(?)
berarti
lengan
baju,
baik
panjang
maupun
pendek,
yang
melebar
atau
mengerut.
Lengan baju pendek
yang
hanya sampai pada bagian pergelangan tangan akan
memperlihatkan
lengan
si pemakai
jika
meregangkan
tangan.
Lengan baju panjang
yang sampai pada ujung tangan dapat menyembunyikan tangan pemakainya.
Ling
xiu(?
?
)mengacu pada pemimpin,
seseorang yang menggunakan
akalnya
untuk
melakukan
analisis,
menilai, membuat
strategi,
dan
memerintahkan
bawahannya
untuk bertindak. Kecakapan kepemimpinan
menentukan
keberlangsungan dan masa depan kelompoknya.
Menurut
para
ahli
kepemimpinan
terdapat
beragam definisi
mengenai
kepemimpinan
itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Sun Zi (??) seorang ahli
|
|
9
8
strategi
militer
china
kuno
bahwa
kepemimpinan
adalah pengaruh
moral.
Pengaruh
|
|
9
9
moral di sini
hanya berarti
membujuk orang agar sehati dan sepikiran dengan
pemimpin. Sementara itu, James C. Georges mengatakan secara sangat efektif:
Apakah kepemimpinan itu?
Singkirkan sesaat persoalan moral di
belakangnya, dan hanya ada satu definisi: Kepemimpinan adalah kemampuan
memperoleh pengikut (Mengembangkan Kepemimpinan di dalam diri Anda,
1995; 11).
Fred Smith menegaskan bahwa kepemimpinan adalah membuat orang lain
bekerja untuknya ketika mereka tidak diwajibkan (Learning to Lead
[waco:Word,1986]
117).
Dalam buku-buku
yang
telah
ditulisnya,
John C.Maxwell
berpendapat bahwa
kepemimpinan adalah pengaruh. Tidak lebih;tidak kurang.
Pemimpin yang tidak memiliki pengaruh bukanlah seorang pemimpin yang efektif.
Dalam organisasi,
orang
yang
mempunyai
posisi
mempunyai
kekuasaan
yang
luar
biasa. Dalam militer, pemimpin dapat menggunakan pangkat. Dalam bisnis, bos
mempunyai kekuasaan
luar
biasa dalam bentuk
gaji, tunjangan dan
upah. Pengikut
dalam organisasi sukarela tidak dapat dipaksa untuk
mengikuti. Bila pemimpin tidak
mempunyai pengaruh atas diri mereka, maka mereka tidak akan mengikuti.
Para ahli sosiologi mengatakan bahwa bahkan orang yang paling tertutup pun
akan mempengaruhi sepuluh ribu orang lainnya dalam masa hidupnya sehingga
dapat
disimpulkan
bahwa
masing-masing
individu mempengaruhi dan dipengaruhi
orang lain. Ini dapat berarti bahwa dalam beberapa bidang seorang individu
memimpin,
namun
dalam bidang
lainnya
ialah
yang
dipimpin.
Untuk
mendukung
pernyataan ini, di dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia disebutkan bahwa:
Kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai keterampilan
memanfaatkan
kekuasaan
dan
wewenang
untuk
mempengaruhi
orang
lain
dalam upaya
mencapai sasaran.
|
|
10
10
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa
kepemimpinan
merupakan
proses
untuk mempengaruhi orang/sekelompok orang yang dipimpin.
2.2 Biografi John. C. Maxwell
John. C. Maxwell dilahirkan pada tahun 1950 di Circleville, Ohio. Sejak kecil
bercita-cita menjadi pendeta yang diputuskan saat berusia 3 tahun dan mulai
merealisasikannya
saat
berusia
13
tahun.
Pada
usia
17
tahun,
Maxwell menempuh
pendidikan
di
Circleville
Bible
College
dan
menyelesaikannya
pada
tahun
1969.
Pada bulan Juni di tahun yang sama, Maxwell menikah dan pindah ke Tiny Hillham,
Indiana dimana tugas pertamanya sebagai pendeta di sebuah gereja kecil dimulai.
Ketika bertugas di
gereja kedua, Maxwell mulai
mempelajari
hubungan
antara kepemimpinan yang efektif dengan majelis kependetaan
yang efektif. Setelah
berceramah
pada
perayaan
200
tahun
hari kemerdekaan
Amerika,
seorang
pendeta
menghubunginya dan memintanya
untuk
menjadi asisten dalam
membina gerejanya.
4
tahun
kemudian,
dengan
dasar
yang
informal, Maxwell
telah
membantu
sesama
pendeta. Kemudian, pada tahun 1980, Maxwell diminta untuk menjadi Direktur
Eksekutif Evangelis (pengabar Injil) untuk kesatuan Wesleyan.
Pada
tahun
1981
Maxwell
kembali
ke
dalam kependetaan
di
gereja
skyline
wesleyan di daerah San Diego, California. Para anggota dewan skyline
mengijinkannya untuk meneruskan mementori dan membantu para pendeta.
Pada
tahun
1985, Maxwell
mengambil
langkah
yang
amat
penting
dalam
pengembangan kepemimpinan. Beliau membangun sebuah perusahaan baru yang
bernama
INJOY Group
dan
membuat The
INJOY Life Club yang dilengkapi kaset
bulanan.
Kedua
perusahaan
ini
memusatkan diri pada
pengembangan dan pelatihan
pemimpin. The INJOY Group terdiri dari 3 perusahaan nyata yang memiliki 200
orang
pegawai
dan
menyediakan
sumber-sumber
dan
pelayanan
untuk
membantu
|
|
11
11
orang-orang untuk mengenal pribadi mereka dan mengembangkan potensi
kepemimpinan dalam diri
mereka.
Dalam upaya
membangun organisasi
yang sukses,
Maxwell telah
menulis lebih dari 30 buah buku termasuk The 21 Irrefutable Laws of
Leadership (21 Hukum kepemimpinan sejati) yang menjadi Best Seller menurut
versi
New York Times dan telah terjual sebanyak lebih dari 7 juta kopi di seluruh dunia.
Pada tahun 1995, Maxwell
mengundurkan diri dari posisinya sebagai pendeta
senior di Skyline setelah 14 tahun. Maxwell mulai mendedikasikan seluruh waktunya
untuk menulis, berbicara dan memberikan konsultasi untuk mengajarkan
kepemimpinan secara
internasional. Setiap tahun Maxwell berbicara secara langsung
kepada lebih dari 350.000 orang dan Beliau telah
mendapatkan
gelar
Kesarjanaan,
Master, dan Doktoral. Beliau juga menerima 5 gelar Doktor kehormatan.
Maxwell juga
membangun
EQUIP,
organisasi
nirlaba
yang
melatih
para
pemimpin
di
dalam masyarakat
kota,
institusi
pendidikan
dan
organisasi
internasional.
EQUIP menjadi
ujung
tombak
perubahan
dengan
lebih
dari
satu
juta
pendeta yang terdaftar sebagai rekan pendoa yang berjanji untuk berdoa secara
khusus untuk para penggembala domba Allah.
Peter Lowe dari Lowe International menggambarkan John C Maxwell sebagai
pemimpinnya
para
pemimpin.
Lowe
juga
menambahkan
bahwa
Maxwell
tahu
betul
apa yang harus dilakukan untuk meraih sukses. Dalam semua buku yang dikarangnya,
John C Maxwell, selalu menekankan pentingnya berpikir besar. Menurut Maxwell,
berpikir
besar
akan
memacu
setiap
orang
untuk
selalu
berusaha
melakukan
perkara-perkara yang besar, dan tidak dibatasi oleh ketidakmampuan, dan
ketidakyakinan
untuk
melakukan
hal-hal
tersebut.
Dengan
berpikir
mengenai
perkara-perkara
yang besar juga selalu
memacu
meningkatkan kemampuan diri
|
|
12
12
(pengetahuan
dan
keterampilan)
agar
bisa
melakukan
hal-hal
besar
tersebut,
atau
melakukan hal-hal yang lebih besar lagi untuk kali yang berikutnya.
Selain
berpikir
mengenai
hal-hal
yang
besar, Maxwell
juga
selalu
menganjurkan orang
untuk berpikir positif. Berpikir positif memacu seseorang
untuk
selalu
memiliki
harapan
dan
motivasi
untuk maju
dan
menyelesaikan
segala
permasalahan yang
dihadapi.
Berpikir
positif memberi
jalan
keluar
atas
tantangan-tantangan yang datang
menghadang. Tanpa berpikir positif,
tidak akan ada
perubahan.
Tanpa
berpikir
positif,
tidak
akan
ada
kemajuan.
Berpikir
positif
membuat hidup lebih bernilai.
Di
bukunya
Strategi
Menuju
Sukses
yang
dikarang
bersama
dengan Jim
Dorman,
Maxwell
berpendapat
bahwa
untuk
sukses sebagai
pemimpin,
seseorang
perlu
memiliki daya
juang tinggi
untuk senantiasa berusaha meraih yang terbaik dari
apa yang bisa dilakukannya. Untuk mencapai yang terbaik, seorang pemimpin tidak
bisa melakukan segala sesuatunya
sendirian, ia perlu bantuan banyak orang. Dengan
demikian, dalam meraih yang terbaik, seorang pemimpin perlu
memberdayakan
orang lain untuk juga meraih yang terbaik,
sehingga
bersama-sama
mereka
bisa
mempersembahkan
karya
yang
mendekati sempurna.
Prinsip
ini
jugalah
yang
diterapkan
oleh
Maxwell
yang
membagikan
ilmu
kepemimpinannya
dalam
berbagai buku dan seminar untuk membantu orang lain juga
menjadi pemimpin-pemimpin yang handal.
Berpikir
mengenai
perkara
yang
besar,
berpikir positif,
dan selalu
berusaha
melakukan
yang terbaik
merupakan tiga dari banyak kualitas John C Maxwel
yang
perlu
diteladani.
Dengan
kualitas
positif
ini
Maxwell
telah berhasil
meraih sukses
bukan
hanya
sebagai pemimpin di perusahaan konsultasinya sendiri, melainkan juga
sukses sebagai pemimpinnya para pemimpin di berbagai belahan dunia.
|
|
13
13
2.3
Faktor Kepemimpinan yang paling penting
John
C.Maxwell,
dalam bukunya Mengembangkan
Kepemimpinan
di
dalam
diri Anda mengemukakan bahwa faktor terpenting yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin adalah integritas. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan integritas
sebagai keadaan
menjadi lengkap, merupakan kesatuan. Hal
ini dapat diartikan bila
seseorang memiliki
integritas maka
ada
kesesuaian
antara
perkataan
dan
perbuatannya. Seseorang yang memiliki integritas tidak membagi kesetiaannya.
Orang
yang
memiliki
integritas
tidak punya apapun
untuk
disembunyikan
dan
tidak
punya
apapun
untuk
ditakuti.
V.
Gilbert
Beers mengatakan
seseorang
yang
punya
integritas
adalah
orang
yang
menetapkan
sistem norma
untuk
menilai
semua
kehidupan. Integritas bukanlah apa
yang dilakukan namun lebih banyak kepada siapa
diri sendiri sebenarnya.
2.4
Kualitas Kepemimpinan menurut John C. Maxwell
Segala hal yang terjadi di dunia ini tergantung pada kepemimpinan. Dan
kepemimpinan merupakan proses yang panjang. Kepemimpinan berkembang setiap
harinya,
bukan
dalam satu
hari.
Mempelajari
hukum-hukum kepemimpinan
adalah
bagian
dari
pengembangan seorang
pemimpin
(Maxwell, 21 kualitas kepemimpinan
sejati, 6). Namun sebenarnya apakah yang membuat seseorang ingin mengikuti orang
lainnya dan menjadikan orang tersebut pemimpinnya, mengapa orang enggan
mengikuti
pemimpin
yang
satu
namun
bersemangat
mengikuti
pemimpin
lainnya.
Hal ini dikarenakan kualitas yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan. Maxwell,
telah meneliti
para pemimpin
yang
telah
memberikan
dampak
pada
sejarah
dan
akhirnya beliau menemukan bahwa para pemimpin-pemimpin besar tersebut
|
|
14
14
memiliki 21 kualitas pemimpin sejati. Adapun kualitas tersebut adalah :
2.4.1
Karakter
Kepercayaan merupakan landasan dari kepemimpinan. Seperti yang
telah diungkapkan sebelumnya bahwa kepemimpinan adalah pengaruh dan
pengikut hanya akan mengikuti pemimpin yang mereka percayai. Untuk
membangun kepercayaan, seorang pemimpin harus memiliki karakter yang
kuat.
Anthony
Harigan (Presiden
U.S.
Business
an
industrial
Council)
mengatakan:
Peran
karakter
selalu
menjadi
faktor
kunci
dalam jatuh
bangunnya
bangsa. Dan yakinlah bahwa Amerika tidak terkecuali. Kita takkan
selamat sebagai sebuah negara karena
lebih cerdas atau lebih canggih,
melainkan karena mudah-mudahan
kita lebih kuat secara
batin.
Singkatnya
karakter
adalah
satu-satunya
pertahanan
yang
efektif terhadap kuasa inernal maupun eksternal yang dapat membawa
kepada disintegrasi atau keruntuhan bangsa. (Kepemimpinan
101,2004; 103-104)
Karakter dapat dikategorikan kemampuan
untuk melaksanakan
sebuah
pemecahan
setelah
emosi
yang menyertai
pembuatan
pemecahan
itu
telah
berlalu
(Sukses
Memimpin,
2003;
63).
Menurut Maxwell,
karakter
merupakan
kualitas
pertama
yang
harus dimiliki
oleh
seorang
pemimpin.
Karakter merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin untuk memupuk rasa percaya. Jika karakter seorang pemimpin itu
kuat, maka orang lain akan mempercayai dan mengikutinya.
|
|
15
15
2.4.2
Karisma
Salah satu ciri pemimpin yang efektif
adalah
pemimpin
yang
berkarisma. Karisma adalah kemampuan untuk menarik orang pada Anda.
Sehingga karisma dapat dikembangkan. Cara termudah untuk mengarah pada
hal tersebut adalah dengan menunjukkan kepedulian. Seperti
halnya pendapat
Les Giblin yang menyatakan bahwa, Semakin Anda membuat orang itu
merasa penting, semakin besar tanggapan mereka terhadap Anda.
Orang
tidak
peduli
seberapa
banyak yang Anda
ketahui
sampai
mereka tahu seberapa besar Anda peduli. Inilah yang menjadi kunci dari
karisma. Peduli pada orang lain. Para pemimpin yang mendahulukan orang
lain
serta
keprihatinan
mereka
ketimbang
diri
sendiri
memperlihatkan
karisma. Hal inilah yang membuktikan bahwa seorang pemimpin yang efektif
harus dapat memiliki karisma.
2.4.3
Komitmen
Seorang pemimpin pasti akan menghadapi banyak hambatan serta
pertentangan.
Dan
untuk
mencapai
suatu tujuan dibutuhkan fokus untuk
mencapainya. Pada akhirnya komitmen akan menjadi satu-satunya hal yang
mendorong
pemimpin
untuk
maju.
Satu-satunya ukuran sejati dari komitmen
adalah perbuatan. Arthur Gordon mengakui
:
Tak ada
yang lebih
mudah dari
pada mengucapkan kata-kata. Tak ada yang lebih sulit dari
pada
mengamalkan
perkataan kita
setiap harinya.
(21
Kualitas Kepemimpinan
Sejati, 2001; 32)
Arti komitmen bagi setiap orang berbeda-beda, namun bagi pemimpin
artinya adalah berbuat lebih karena semua orang bergantung padanya.
Pemimpin
yang
efektif
harus
memiliki
komitmen. Komitmen
menunjukkan
|
|
16
16
bahwa
pemimpin
tersebut
punya
keyakinan.
Pengikut
hanya
percaya
pada
pemimpin yang percaya kepada tujuannya sendiri.
2.4.4
Komunikasi
Kepemimpinan dimulai dengan hati, bukan kepala. Komunikasi telah
menjadi
tantangan
yang
besar
dalam suksesnya
suatu
kepemimpinan.
Kurangnya saling memahami
akan mempengaruhi suatu kelompok.
Akibatnya tidak
tercapai kesamaan tujuan, tidak ada arah yang jelas dan tidak
ada semangat kebersamaan yang menyatukan.
Mengembangkan keterampilan berkomunikasi yang sempurna
sungguh penting bagi kepemimpinan yang efektif (Gilbert Amelio, Presiden
dan Direktur Utama National Semi Conductor Coorp). Jika seorang
pemimpin
tidak
dapat
menyampaikan pesan
dengan
jelas
dan
tidak
dapat
memotivasi
orang
lain untuk
menindaklanjutinya,
maka
bahkan
memiliki
pesan untuk disampaikanpun menjadi percuma.
2.4.5
Kompetensi
Kompetensi
lebih
dari
sekedar
kata-kata. Kompetensi
adalah
kemampuan
pemimpin
untuk
mengatakan,
merencanakan, dan
melakukan
dengan sedemikian rupa sehingga orang
lain
mengetahui
caranya
dan
mengetahui bahwa mereka ingin menjadi pengikutnya. Dengan demikian
orang lain akan mengetahui sejauh mana kemampuan pemimpin yang mereka
ikuti.
Para pemimpin yang berkompetensi tinggi menginspirasi dan
memotivasi orang lain untuk melakukan
hal
yang
sama.
Pemimpin
yang
efektif
memadukan
keterampilan
dalam
membina
hubungan
dengan
orang
|
|
17
17
lain dengan kompetensi yang tinggi untuk membawa kelompoknya ke tingkat
kesempurnaan.
2.4.6
Keberanian
John C. Maxwell menyatakan bahwa keberanian
mudah dilihat dalam
diri para pahlawan perang, namun keberanian juga tampak pada pemimpin
besar
dalam bisnis,
pemerintahan
atau
gereja.
Setiap
kali
terlihat
suatu
kemajuan
pesat
dalam sebuah
organisasi,
maka
akan
diketahui
bahwa
pemimpinnya telah mengambil keputusan yang berani.
Keberanian
bukanlah
berarti
tidak adanya
rasa
takut.
Melainkan
melakukan apa yang takut untuk dilakukan. Keberanian itu menular (Billy
Graham, 21 Kualitas Kepemimpinan Sejati, 2001; 62). Jika seorang
pemberani
memegang
teguh
prinsipnya,
yang
lainnya
akan turut
berani.
Keberanian yang diperlihatkan oleh siapapun akan menjadikan yang lainnya
berani.
Kepemimpinan
adalah
ungkapan keberanian yang mendorong orang
lain untuk melakukan hal yang benar.
2.4.7
Pengertian
Pengertian dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk menemukan
akar
persoalan.
John
C.Maxwell mengungkapkan
bahwa:
Para
pemimpin
yang cerdik
hanya
mempercayai
sebagian yang didengarnya. Para
pemimpin
yang memiliki pengertian mengetahui bagian mana yang harus
dipercayainya
Pengertian
dalam kepemimpinan
sangat
diperlukan
dalam
menghadapi
segala
hal
yang
terjadi
di
dalam dan
luar
lingkungan
yang
dipimpin.
Seorang
pemimpin
harus
peka
dengan
keadaan
pengikutnya.
|
|
18
18
Pemimpin
yang efektif penting untuk mengetahui keinginan para pengikutnya
dengan demikian penting baginya untuk memahami
dan mengerti para
pengikut.
2.4.8
Fokus
Ada
sebuah
ungkapan
yang berbunyi:
Siapapun
dapat
mengemudikan kapalnya, namun hanya pemimpinlah yang dapat menentukan
arahnya. Sangat penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui dengan
jelas arah
yang dituju kelompok
yang dipimpinnya. Walapun tak seorangpun
dapat sepenuhnya menghindari kelemahan,
namun hal tersebut dapat sebisa
mungkin diminimalisasi dan pemimpin dapat melakukannya dengan
mendelegasikannya (John C. Maxwell, 21 Kualitas kepemimpinan sejati,
2001; 82). Misalnya, segala pekerjaan detil didelegasikan kepada yang lain,
sehingga pemimpin dapat menfokuskan diri kepada hal yang lebih besar.
Para pengikut membutuhkan pemimpin untuk secara efektif
menunjukkan arah tujuan. Kuncinya adalah prioritas dan konsentrasi. Para
pemimpin tahu bagaimana cara mendapatkan apa yang seharusnya mereka
inginkan.
2.4.9
Kemurahan Hati
Tak ada yang lebih jelas berbicara kepada seseorang atau melayaninya
dengan
baik ketimbang
kemurahan
hati seorang pemimpin.
Kemurahan
hati
yang sejati bukanlah suatu
kejadian
sesekali. John C. Maxwell
menyatakan
bahwa
kemurahan
hati
berasal
dari
dalam
hati
dan
merembes
ke
seluruh
aspek kehidupan seorang pemimpin. Para pemimpin yang efektif, tidaklah
mengumpulkan barang-barang bagi diri sendiri; mereka melakukannya untuk
|
|
19
19
membaginya
kepada
yang
lain.
Ukuran seorang
pemimpin
bukanlah jumlah
yang melayaninya, tetapi jumlah yang dilayani olehnya.
2.4.10
Inisiatif
Tiada yang abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri. Oleh
karena itu, setiap kelompok harus terus berkembang jika tak ingin tertinggal
dari yang lain. Dalam buku
21
Hukum
kepemimpinan
sejati,
Maxwell
menunjukkan bahwa para pemimpin bertanggung jawab untuk
menginisiatifkan hubungan dengan para
pengikutnya. Namun kemudian
Maxwell
kembali
menegaskan
dalam 21
kulitas
kepemimpinan
sejati bahwa
para
pemimpin
bukan
hanya
dalam bidang
tersebut
saja
harus
memperlihatkan
inisiatif
namun
mereka
harus
selalu
mencari
peluang
dan
siap mengambil tindakan dalam setiap situasi dan kondisi yang berlangsung.
2.4.11
Mendengarkan
Ciri utama dari seorang pemimpin adalah mampu berkomunikasi
dengan
baik.
Dan
aspek
terpenting dalam komunikasi
adalah
mendengarkan.
Kepemimpinan terus berkembang setiap
harinya
dan
dengan
mendengarkan
orang
lain,
seorang
pemimpin
yang baik akan
mendorong
para pengikutnya
untuk memberitahunya apa yang perlu diketahuinya, bukannya apa yang
ingin didengarnya (John C. Maxwell, 21 kualitas kepemimpinan sejati, 107).
Para pemimpin yang baik selalu memprioritaskan
untuk
mengadakan kontak
dengan mereka yang dilayaninya.
2.4.12
Semangat yang tinggi
Manusia
diciptakan
sedemikian
rupa sehingga
jiwanya
terbakar
oleh
sesuatu, kemustahilan akan
lenyap. Itulah sebabnya
mengapa para pemimpin
|
|
20
20
yang bersemangat begitu efektif. Seorang pemimpin yang
memiliki semangat
besar
dan
sedikit
keterampilan
selalu lebih
unggul
daripada
pemimpin
yang
memiliki keterampilan hebat namun tidak bersemangat. Para pemimpin tidak
mungkin memulai api di dalam organisasinya kecuali ada api di dalam
dirinya.
2.4.13
Sikap Positif
Bagi seorang pemimpin yang efektif, sikap positif itu penting. Sikap
positif
tidak hanya
menentukan
tingkat
kecukupan
diri
sebagai
individu,
melainkan juga berdampak pada bagaimana orang lain berinteraksi dengan
Anda (John C. Maxwell, 21 Kualitas kepemimpinan sejati, 2001; 130). Denis
Waitley, seorang ahli keluarga mengatakan bahwa letak keunggulan seorang
pemenang
bukanlah
terletak
pada
bawaan
sejal
lahir, IQ
yang
tinggi,
atau
talenta.
Keunggulan
pemenang
adalah
dalam sikap,
bukan
pada
ketinggian.
Sikap
adalah
kriteria
sukses
sejati.
Sikap
penting
karena hal
tersebut
yang
menentukan tindakan selanjutnya. Cara terbaik
untuk
melatihnya
adalah
dengan mencegah pikiran menuju jalan negatif.
2.4.14
Pemecahan Masalah
Apapun bidang yang ditekuni seorang pemimpin, pasti akan banyak
persoalan
yang
dihadapi.
Berbagai
persoalan tersebut
tidak
terhindarkan
karena tiga alasan. Pertama, kita hidup di dunia yang semakin rumit serta
semakin
beragam.
Kedua,
kita
berinteraksi
dengan
orang
lain.
Dan
ketiga,
kita
tak mungkin mengendalikan semua situasi yang kita hadapi sendiri. Para
pemimpin
yang
efektif,
selalu
bangkit
menghadapi
tantangan
(John C.
Maxwell, 21 Kualitas kepemimpinan sejati, 2001; 140).
|
|
21
21
Para pemimpin harus selalu melihat gambaran besarnya. Mereka tidak
boleh dikuasai oleh emosi atau membiarkan
diri
begitu
terpuruk
dan
melupakan hal-hal yang penting. Seorang pemimpin dapat dinilai dari ukuran
persoalan-persoalan yang ditanganinya.
2.4.15
Hubungan
Theodore Roosevelt,
seorang
Presiden
Amerika
Serikat
mengemukakan bahwa
unsur terpenting dalam rumusan meraih sukses adalah
mengetahui
bagaimana
menjalin
hubungan baik dengan orang lain. Oleh
karena
itu, kerja sama
merupakan kunci sukses dalam sebuah kelompok. Hal
tersebut
hanya
akan terjadi
bila hubungan
antara pemimpin dan pengikutnya
telah berlangsung dengan baik. Jika
seorang
pemimpin
telah
menjalin
hubungan dengan para pengikutnya, maka
dapat dilihat dari jalannya
kelompok tersebut. Akan ada loyalitas dan etika kerja yang luar biasa diantara
para pengikutnya.
Kualitas
pertama
dari
seorang pemimpin
yang
dapat
menjalin
hubungan baik dengan sesama adalah kemampuan
memahami
perasaan serta
pikiran orang lain (John C. Maxwell, 21 kualitas kepemimpinan sejati, 151).
2.4.16
Tanggung Jawab
Seorang pemimpin dapat melupakan apapun, kecuali tanggung jawab.
Orang-orang yang bertanggung jawab
bersedia melakukan apapun yang
diperlukan
untuk
menuntaskan pekerjaan yang
telah
menjadi
tugasnya (John
C.
Maxwell, 21 kualitas kepemimpinan sejati, 162). Suatu kualitas yang
dimiliki oleh semua orang sukses adalah kemampuan memikul tanggung
jawab. Kualitas tertinggi dari seseorang
yang bertanggung
jawab adalah
|
|
22
22
kemampuan untuk menuntaskan hingga akhir.
2.4.17
Kemapanan
Kekhawatiran terbesar sebagian pemimpin adalah ketakutannya
akan
digantikan oleh orang lain. Namun sesungguhnya satu-satunya cara untuk
membuat
pemimpin
tidak
tergantikan
justru
adalah
dengan
menjadikan
dirinya dapat tergantikan. Dan hanya pemimpin yang mapanlah yang mampu
untuk melakukannya dengan memberikan kekuatannya para orang lain. Para
pemimpin
yang
mapan
percaya
kepada orang lain, karena mereka percaya
kepada
diri
sendiri
sehingga
mereka dapat
memberikan
kekuatan
pada orang
lain. Mereka tidak sombong; mereka tahu kekuatan dan kelemahan diri
sendiri
dan
menghargai
diri
sendiri. Mereka akan sangat menghargai dan
meninggikan para zpengikutnya sehingga mereka dapat berprestasi maksimal.
2.4.18
Disiplin Diri
Belajar secara terus menerus merupakan persyaratan minimum untuk
berhasil.
Oleh
karena
itu Maxwell
berpendapat
bahwa
seberapapun
berbakatnya
seorang
pemimpin,
ia takkan
pernah
mencapai
potensi
maksimalnya tanpa disiplin diri. Disiplin diri memposisikan seorang
pemimpin untuk mencapai tingkat tertinggi dan merupakan kunci bagi
kepemimpinan yang langgeng.
2.4. 19 Kepelayanan
Seperti halnya telah dijelaskan dalam kemurahan hati, ukuran seorang
pemimpin
bukanlah
jumlah
yang
melayaninya, tetapi jumlah yang dilayani
olehnya. Oleh karena itu penting bagi seorang pemimpin sejati untuk mampu
menjadi
pelayan.
Tak
peduli
caranya
tidak
populer
atau
bahkan
ditentang
|
|
23
23
namun
mereka
selalu
mendahulukan
orang
lain
ketimbang
kepentingan
pribadi.
2.4.20 Sikap mau Belajar
Pertumbuhan sama dengan perubahan, untuk menjadi lebih baik maka
harus terus berubah dan memperbaiki diri (John C.Maxwell,21 kualitas
kepemimpinan
sejati, 82).
Di
atas
langit
masih
ada
langit.
Hal
ini
membuktikan
bahwa
sehebat
apapun
seseorang
pasti
masih
ada
yang
lebih
tinggi dan lebih hebat daripadanya. Pemimpin yang sukses adalah orang yang
mau
belajar. Dan
proses belajarnya berkelanjutan
sebagai
hasil
dari
disiplin
diri serta ketekunan.
2.4.21 Visi
Tak seorangpun dapat mencapai hal-hal besar sendirian. Oleh karena
itu,
penting bagi
pemimpin
untuk
memiliki
pengaruh
dalam
pengikutnya.
Dalam buku
21
kualitas
kepemipinan
sejati,
John
C.
Maxwell
menyatakan
bahwa landasan dari pengaruh
itu sendiri adalah visi. Karena pengikut
hanya akan mengikuti pemimpin yang jelas
visinya. Visilah yang memimpin
para pemimpin. Visi juga merupakan
pemicu
orang
lain
yang
lmenjadi
pengikut sang pemimpin. Seorang pemimpin yang tidak memiliki memiliki
visi takkan ke mana-mana.
|