7
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Konsep Sistem Informasi
Konsep
sistem informasi
mencakup
sistem informasi,
piramida
sistem
informasi, jenis sistem informasi, serta perbedaan MIS, DSS, dan EIS.
2.1.1
Pengertian Data dan Informasi
Data
mengandung fakta atau deskripsi yang secara relatif kurang berarti
bagi penerimanya, sedangkan informasi adalah data yang telah diproses sehingga
berarti bagi penerimanya (McLeod et al, 2001, p12).
Selain itu, informasi juga dapat didefinisikan sebagai data yang telah
diproses ke dalam bentuk yang berarti bagi penerimanya dan memiliki nilai yang
real maupun yang dipersepsikan dalam mengambil tindakan dan keputusan pada
saat kini maupun yang akan datang. Definisi tersebut memperlihatkan nilai dari
informasi dalam pengambilan keputusan yang spesifik dan nilai informasi dalam
memotivasi,
pembuatan
model
dan pembentukan
latar
belakang
yang
mempengaruhi tindakan dan keputusan pada masa yang akan datang. Informasi
biasanya berupa laporan
yang dapat berbentuk
hasil cetakan, tampilan di
layar
komputer, maupun file komputer. (McLeod et al, 2001, p12).
Menurut pendapat kami, data adalah kumpulan fakta yang diperoleh dari
pengamatan (observasi),
eksperimen, atau pengukuran,
yang
dapat diproses ke
dalam bentuk yang bermanfaat berupa informasi.
  
8
2.1.2
Pengertian Sistem
Sistem adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dengan maksud yang
sama untuk mencapai suatu tujuan (McLeod et al, 2001, p9).
Sistem adalah
sekelompok
dua
atau
lebih
komponen-komponen
yang
saling berkaitan atau subsistem-subsistem yang bersatu,
untuk
mencapai tujuan
yang sama (Hall, 2001, p5).
Menurut pendapat kami, sistem adalah sekumpulan entitas, nyata maupun
abstrak, yang menyusun suatu keseluruhan dimana setiap komponen berinteraksi
atau berkaitan dengan setidaknya satu komponen lainnya dan semua
entitas
tersebut memiliki tujuan (sasaran) yang sama.
2.1.3
Pengertian Sistem Informasi
Sistem informasi dapat berupa penggabungan terorganisasi dari manusia,
hardware, software, jaringan komputer, dan sumber data yang mengumpulkan,
mentransformasikan,
dan
menyebarkan
informasi
di
dalam suatu
organisasi
(O’Brien, 2003, p7).
Sistem informasi adalah sebuah sistem yang bertujuan untuk menyimpan,
memproses, dan menyebarkan informasi (Mallach,1997, p75).
Sistem  informasi 
adalah 
sekumpulan 
komponen 
yang 
saling
berhubungan yang bekerjasama mengumpulkan
(mengambil),
memproses,
menyimpan, dan menyebarkan informasi untuk mendukung pengambilan
keputusan, koordinasi, dan pengawasan dalam suatu organisasi
(Laudon, 2002,
p7).
  
9
Sistem informasi
adalah
susunan
dari
orang,
data,
proses,
penyajian
informasi,
dan
teknologi
informasi yang
berinteraksi
untuk
mendukung
dan
mengembangkan
pengoperasian
sehingga
dapat
membantu
dalam penyelesaian
masalah dan pembuatan keputusan yang
dibutuhkan
oleh
manajemen
dan
user
(Whitten et al, 2001, p8).
Menurut pendapat kami, sistem informasi adalah sistem yang menerima
sumber daya data sebagai input dan mengolahnya menjadi output berupa
informasi;
sebuah
sistem
yang
menggunakan
sumber
daya
hardware,
software
dan manusia untuk melaksanakan aktivitas input, proses, output,
penyimpanan
dan kontrol yang mengubah data menjadi informasi; sebuah sistem yang khusus
dirancang 
untuk 
menyatukan 
data, 
komputer, 
prosedur, 
dan 
orang 
untuk
mengatur informasi yang berguna bagi pencapaian sasaran organisasi.
2.1.4
Piramida Sistem Informasi
Karena kebutuhan informasi untuk masing-masing tingkatan manajerial
adalah berbeda,
maka
informasi
yang
disajikan
juga
berbeda.
Tidak
ada
satu
sistem yang
dapat
menyediakan seluruh
kebutuhan
informasi
organisasi.
Oleh
karena
itu,
sistem informasi
(SI)
terbagi
menjadi
beberapa
tingkatan
sebagai
berikut:
1. 
SI
tingkat
operasional
(operational-level
system): sistem yang
mendukung
manajer  operasional  dengan  memonitor  aktivitas  dan  kegiatan  organisasi
pada tingkat dasar, seperti penjualan,
penerimaan,
penyimpanan
kas,
penggajian, keputusan kredit, dan aliran bahan mentah dalam suatu pabrik.
  
10
2.   SI tingkat
manajemen (management-level system): sistem
yang mendukung
pengawasan
(monitoring),   
pengontrolan   
(controlling),   
pengambilan
keputusan
(decision-making),
dan aktivitas
administratif
dari
manager
menengah. 
Management-level 
system  biasanya
menyediakan 
laporan
periodik daripada informasi langsung tentang kegiatan operasional.
3.   SI tingkat strategis (strategic-level system): sistem yang mendukung manajer
tingkat atas untuk menghadapi masalah-masalah yang bersifat strategis dan
jangka
panjang,
baik
di
dalam perusahaan
maupun
lingkungan
eksternal.
Prinsipnya 
adalah 
menyesuaikan  perubahan  pada 
lingkungan  eksternal
dengan kemampuan yang dimiliki organisasi.
Untuk memperjelas hubungan antar tingkatan SI dapat dilihat pada gambar 2.1.
Gambar 2.1 Jenis-jenis Sistem Informasi
(Sumber: Laudon, K.C dan Laudon, J.P., 2006, p39)
  
11
2.1.5
Jenis Sistem Informasi
Untuk  memenuhi  kebutuhan  pada  ketiga  tingkatan  SI  tersebut,  maka
diperlukan 4 jenis SI antara lain:
1.   Transaction Processing Systems (TPS)
TPS adalah sistem bisnis dasar
yang mendukung tingkat operasional
dalam organisasi. TPS merupakan sistem terkomputerisasi yang menjalankan
dan mencatat transaksi rutin sehari-hari
yang diperlukan untuk
menjalankan
bisnis. Pada tingkat operasional, tugas,
sumber
daya,
dan
sasaran
telah
ditentukan dan sangat terstruktur.
2.   Management Information Systems (MIS)
MIS
mendukung
tingkat
manajemen dalam organisasi, menyediakan
laporan
bagi
manajer
dan
seringkali akses langsung terhadap kinerja
organisasi
saat
ini
dan
catatan historis.
MIS
terutama
mendukung
fungsi-
fungsi perencanaan, pengontrolan, dan pengambilan keputusan pada tingkat
manajemen. Umumnya, MIS bergantung pada TPS sebagai sumber datanya.
3.   Decision Support Systems (DSS)
DSS
juga
mendukung
tingkat
manajemen
dalam organisasi.
DSS
membantu manajer membuat keputusan yang unik, selalu berubah-ubah, dan
tidak 
mudah  ditentukan  terlebih 
dulu. 
DSS 
menangani 
masalah 
yang
prosedur penyelesaiannya mungkin belum ditentukan sebelumnya. Meskipun
DSS
menggunakan
informasi internal dari TPS dan MIS, mereka seringkali
menggunakan  informasi  dari  sumber  eksternal,  seperti  harga  saham  atau
harga produk pesaing.
  
12
4.   Executive Support Systems (ESS)
ESS 
mendukung 
tingkat 
strategis  dalam  organisasi  dengan
mendukung
manajer
tingkat
atas
dalam mengambil
keputusan.
ESS
menangani keputusan non-rutin yang memerlukan penilaian, evaluasi, dan
pandangan karena tidak ada prosedur yang telah disepakati/ditentukan untuk
mencapai solusi. ESS dirancang untuk menyaring, memadatkan, dan melacak
data penting, menampilkan data yang paling penting bagi manajer tingkat
atas,
baik
data
tentang
peristiwa
eksternal,
seperti
aturan perpajakan atau
pesaing baru, maupun informasi ringkas dari MIS dan DSS internal.
Gambar
2.2
memperlihatkan
jenis
spesifik
dari
sistem   informasi
yang
berhubungan dengan masing-masing tingkat organisasi.
  
13
Gambar 2.2 Empat Jenis Utama Sistem Informasi
(Sumber: Laudon, K.C dan Laudon, J.P., 2006, p40)
2.1.6
Perbedaan MIS, DSS, dan EIS
Dari perbedaan antara MIS, DSS, dan EIS yang disajikan pada tabel 2.1
dapat dilihat secara garis besar perbedaan dari masing-masing dimensinya.
Tabel 2.1 Perbedaan MIS, DSS, dan EIS
(Sumber: Hugh J. Watson, George Houdeshel, Rex Kelly Rainer, JR., 1997, p12)
Dimensi
EIS
CONVENTIONAL
MIS
DSS
Fungsi
(penggunaan)
utama
Mengarahkan kegiatan
Kontrol
Merencanakan,
mengatur, menyusun
staff (staffing), dan
mengontrol
Aplikasi
Pemantauan
lingkungan, evaluasi
kinerja, identifikasi
masalah dan peluang
Pengontrolan
produksi, peramalan
penjualan, analisis
keuangan, manajemen
sumber daya manusia
Berbagai area
dimana keputusan
manajerial dibuat
Basis data
(database)
Perusahaan, khusus
Perusahaan
Khusus
Kemampuan
pendukung
keputusan
Dukungan tidak
langsung, terutama
keputusan dan
kebijakan tingkat
tinggi dan tidak
terstruktur
Dukungan langsung
atau tidak langsung;
terutama masalah
rutin, terstruktur;
menggunakan riset
operasi standar dan
model lainnya
Mendukung
pengambilan
keputusan semi-
terstruktur dan tidak
terstruktur, terutama
yang bersifat ad hoc,
namun keputusan
berulang
  
14
Dimensi
EIS
CONVENTIONAL
MIS
DSS
Adaptabilitas
terhadap
pengguna
individual
Dirancang untuk
eksekutif secara
perorangan
Biasanya tidak ada,
memiliki standarisasi
Memungkinkan
penilaian individual,
kemampuan what-if,
beberapa pilihan
gaya dialog
Grafik
Suatu keharusan
Dapat digunakan,
sesuai kebutuhan
Pilihan gaya dialog
terintegrasi dalam
berbagai DSS
Keramahan
terhadap
pengguna
Suatu keharusan
Dapat digunakan,
sesuai kebutuhan
Suatu keharusan jika
tidak ada perantara
yang digunakan
Penanganan
informasi
Menyaring dan
memadatkan
informasi, melacak
data dan informasi
yang penting
Informasi disediakan
bagi berbagai
kelompok pengguna
yang kemudian
memanipulasinya atau
meringkasnya sesuai
kebutuhan
Informasi yang
disediakan oleh EIS
dan/atau MIS
digunakan sebagai
input bagi DSS
Dukungan
terhadap
informasi rinci
Akses langsung ke
detil pendukung dari
berbagai ringkasan
Laporan yang tidak
fleksibel, tidak dapat
memperoleh detil
pendukung dengan
cepat
Dapat diprogram ke
dalam DSS
Basis model
Dapat ditambahkan.
Seringkali tidak
disertakan atau
biasanya terbatas.
Model standar
tersedia, namun tidak
diatur
Inti dari DSS
  
15
Dimensi
EIS
CONVENTIONAL
MIS
DSS
Konstruksi
Oleh vendors,
spesialis SI atau staf
EIS
Oleh spesialis SI
Oleh pengguna, baik
sendiri maupun
bekerjasama dengan
spesialis dari
departemen SI atau
kelompok DSS
Hardware
Mainframe, micro,
atau sistem
terdistribusi
Mainframe, micro,
atau sistem
terdistribusi
Mainframe, micro,
atau sistem
terdistribusi
Sifat dasar dari
paket
komputasi
Interaktif, kemudahan
akses ke banyak
database, akses online,
kemampuan DBMS
yang canggih,
hubungan yang
kompleks
Berorientasi aplikasi,
laporan kinerja,
kemampuan pelaporan
yang kuat,
keuangan
statistik standar,
model ilmiah dari
akuntansi dan
manajemen
Kemampuan
komputasi yang
besar, bahasa
pemodelan dan
simulasi dan
penghasil DSS (DSS
generators)
2.2
Konsep Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Konsep SPK atau DSS diciptakan pertama kali yang memungkinkan
seseorang dapat berinteraksi langsung tanpa harus spesialis informasi.
SPK diciptakan untuk dapat menyediakan kebutuhan informasi yang
spesifik untuk memecahkan masalah yang spesifik. SPK menyediakan informasi
pemecahan
masalah
maupun
komunikasi
dalam memecahkan
masalah
semi
terstruktur dan tidak terstruktur.
  
16
2.2.1
Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Definisi  awal  SPK 
(Decision
Support  Systems)
menunjukkan 
SPK
sebagai
sebuah
sistem yang
dimaksudkan
untuk
mendukung
para
pengambil
keputusan 
manajerial 
dalam  situasi 
keputusan 
semi 
terstruktur. 
SPK
dimaksudkan untuk menjadi alat bantu bagi para pengambil keputusan untuk
memperluas kapabilitas mereka, namun tidak untuk menggantikan penilaian
mereka. SPK ditujukan untuk keputusan-keputusan yang memerlukan penilaian
atau
pada
keputusan-keputusan
yang sama
sekali
tidak
dapat
didukung
oleh
algoritma.
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p136)
2.2.1.1 Definisi SPK
SPK
merupakan suatu pendekatan (atau
metodologi)
untuk
mendukung
pengambilan 
keputusan.  SPK 
menggunakan  computer-based  information
systems (CBIS) yang fleksibel, interaktif, dan dapat diadaptasi, yang
dikembangkan untuk mendukung solusi bagi masalah manajemen spesifik yang
semi
terstruktur. SPK menggunakan data, memberikan user interface yang
mudah, dan dapat menggabungkan pemikiran
pengambil
keputusan.
Sebagai
tambahan, SPK biasanya menggunakan berbagai model dan dibangun (seringkali
oleh pengguna akhir) melalui suatu proses interaktif dan iterative. Ia mendukung
semua fase
pengambilan keputusan dan dapat memasukkan suatu komponen
pengetahuan.
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p138)
  
17
2.2.1.2 Jenis-Jenis Keputusan
Keen dan Scott Morton (Mallach, 1997, p32) membagi keputusan
berdasarkan keharusan keputusan dibuat dan cakupan keputusan tersebut, yaitu:
1. Keputusan
terstruktur:
sebuah
keputusan
terstruktur
dapat
merupakan
keputusan
yang
dihasilkan
oleh
program komputer,
keputusan
terstruktur
diambil untuk memecahkan masalah yang pernah terjadi sebelumnya.
2.
Keputusan tidak terstruktur: keputusan
yang
diambil
untuk
memecahkan
masalah baru atau sangat jarang terjadi, sehingga perlu dipelajari secara hati-
hati. Komputer tetap dapat membantu pembuat keputusan, tetapi hanya dapat
memberikan sedikit dukungan.
3. Keputusan
semi
terstruktur:
merupakan
keputusan
diantara
keputusan
terstruktur dan tidak terstruktur.
2.2.1.3 Tahap-Tahap Pengambilan Keputusan
Menurut
Simon
(1977)
proses
pengambilan
keputusan
terdiri
dari
tiga
fase utama: inteligensi, desain, dan kriteria, serta fase keempat yaitu
implementasi.
1.   Inteligensi
Inteligensi
dalam pengambilan
keputusan
meliputi
scanning
(pemindaian) lingkungan untuk identifikasi situasi atau peluang-peluang
masalah, Pada
fase
inteligensi, realitas diuji, dan masalah diidentifikasi dan
ditentukan. Kepemilikan masalah juga ditetapkan di sini.
  
18
2.   Desain
Pada fase desain akan dikonstruksi sebuah model yang
merepresentasikan sistem. Hal ini dilakukan dengan membuat asumsi-asumsi
yang menyederhanakan realitas dan menuliskan
hubungan
di
antara
semua
variabel.
Model
ini
kemudian
divalidasi, dan ditentukanlah
kriteria
dengan
menggunakan prinsip memilih untuk mengevaluasi alternatif tindakan yang
telah
diidentifikasi.
Proses
pengembangan model sering mengidentifikasi
solusi-solusi alternatif, dan demikian sebaliknya.
3.   Pilihan
Fase pilihan meliputi pilihan terhadap solusi yang diusulkan tampak
masuk akal, kita siap untuk fase terakhir: fase implementasi keputusan.
4.   Implementasi
Hasil implementasi yang berhasil adalah terpecahkannya masalah riil.
Kegagalan implementasi membuat kita harus kembali ke fase sebelumnya.
  
19
Gambar 2.3 Proses Pengambilan Keputusan
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p64-65)
2.2.1.4 Tujuan SPK
Tujuan-tujuan SPK berhubungan dengan tiga prinsip dasar dari konsep
SPK, yaitu:
1.   Struktur
masalah:
membantu
manajer
membuat
keputusan
dan
menyelesaikan masalah semi terstruktur.
2.   Dukungan keputusan: DSS mendukung pengambilan keputusan manajer, dan
bukan menggantikannya.
  
20
3.   Efektivitas  keputusan: 
meningkatkan  efektivitas  pengambilan 
keputusan
daripada efisiensinya.
2.2.1.5 Karakteristik dan Kapabilitas SPK
Karakteristik dan kapabilitas dari SPK adalah (ditunjukkan pada Gambar
2.4):
Gambar 2.4 Karakteristik dan Kapabilitas SPK
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p141-143)
1.   Dukungan untuk pengambil keputusan, terutama pada situasi semi terstruktur
dan tidak terstruktur, dengan
menyertakan penilaian manusia dan informasi
  
21
terkomputerisasi.  Masalah-masalah  tersebut  tidak  dapat  dipecahkan  oleh
sistem komputer lain atau oleh metode atau alat kuantitatif standar.
2.   Dukungan  untuk  semua  level  manajerial,  dari  eksekutif  puncak  sampai
manajer lini.
3. 
Dukungan
untuk
individu dan kelompok. Masalah
yang
kurang
terstruktur
sering memerlukan keterlibatan individu dari departemen dan tingkat
organisasional
yang
berbeda
atau bahkan dari organisasi lain. SPK
mendukung tim virtual melalui alat-alat Web kolaboratif.
4.   Dukungan  untuk  keputusan  independen  dan  atau  sekuensial.  Keputusan
dapat
dibuat
satu
kali,
beberapa
kali, atau
berulang
(dalam
interval
yang
sama).
5.   Dukungan di semua fase proses pengambilan keputusan: inteligensi, desain,
pilihan, dan implementasi.
6.   Dukungan di berbagai proses dan gaya pengambilan keputusan.
7.   Adaptivitas sepanjang waktu. Pengambil keputusan seharusnya reaktif, dapat
menghadapi  perubahan  kondisi  secara  cepat,  dan  dapat  mengadaptasikan
SPK untuk memenuhi perubahan tersebut. SPK bersifat fleksibel dan karena
itu pengguna dapat menambahkan, menghapus, menggabungkan, mengubah,
atau menyusun kembali elemen-elemen dasar. SPK juga fleksibel dalam hal
dapat dimodifikasi untuk memecahkan masalah lain yang sejenis.
8. 
Pengguna merasa seperti di rumah. User-friendly, kapabilitas grafis yang
sangat
kuat,
dan
antarmuka
manusia-mesin
interaktif
dengan
satu
bahasa
  
22
alami  dapat  sangat  meningkatkan  keefektifan  SPK.  Kebanyakan  aplikasi
SPK yang baru menggunakan antarmuka berbasis-Web.
9. Peningkatan 
terhadap 
keefektifan 
pengambilan 
keputusan 
(akurasi,
timeliness, kualitas) daripada pada efisiensinya (biaya pengambilan
keputusan).
10. Kontrol
penuh
oleh
pengambil
keputusan
terhadap
semua
langkah
proses
pengambilan
keputusan
dalam memecahkan
suatu
masalah.
SPK
tidak
menggantikan pengambil keputusan.
11. Pengguna  akhir  dapat  mengembangkan  dan  memodifikasi  sendiri  sistem
sederhana.
12. Biasanya
model-model
digunakan
untuk
menganalisis
situasi pengambilan
keputusan. Kapabilitas pemodelan
memungkinkan
eksperimen
dengan
berbagai strategi yang berbeda di bawah konfigurasi yang berbeda.
13. Akses disediakan
untuk berbagai sumber data, format, dan tipe,
mulai dari
sistem informasi geografis (GIS) sampai sistem berorientasi objek.
14. Dapat  dilakukan  sebagai  alat  stand alone yang  digunakan  oleh  seorang
pengambil keputusan pada satu lokasi
atau
didistribusikan
di
seluruh
organisasi dan di beberapa organisasi sepanjang rantai persediaan. Dapat
diintegrasikan
dengan   SPK   lain   dan   atau   aplikasi   lain,   dan   dapat
didistribusikan 
secara 
internal 
dan 
eksternal 
dengan  menggunakan
networking dan teknologi Web.
  
23
Karakteristik  dan  kapabilitas  kunci  dari  SPK  tersebut  memungkinkan
para pengambil keputusan untuk membuat keputusan yang lebih baik dan lebih
konsisten pada satu cara yang dibatasi waktu.
2.2.1.6 Komponen SPK
Sistem lainnya yang
berbasis komputer
Internet, Intranet,
Ekstranet
Manajemen Data
Manajemen
Model
Model Eksternal
Subsistem
berbasis
Pengetahuan
Antarmuka
Pengguna
Basis
Pengetahuan
Organisasional
Manajer
(pengguna)
Gambar 2.5 Komponen SPK
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p144)
Menurut Turban (2005, p145) Aplikasi DSS dapat terdiri dari subsistem
seperti   ditunjukkan   pada   Gambar   2.5.   Berdasarkan   definisi,   DSS   harus
mencakup tiga komponen utama dari DBMS, MBMS dan antarmuka pengguna.
  
24
Subsistem manajemen
berbasis
pengetahuan
adalah
opsional,
namun
dapat
memberikan 
banyak 
manfaat  karena  memberikan  intelegensi  bagi  tiga
komponen
utama
tersebut.
Seperti
pada
semua
system informasi
manajemen,
pengguna dapat dianggap sebagai komponen DSS.
Komponen-komponen
tersebut
membentuk
sistem aplikasi
DSS
yang
dapat
dikoneksikan
ke
intranet
perusahaan, ke ekstranet, atau ke internet.
Umumnya komponen berkomunikasi via teknologi internet.
1.   Subsistem Manajemen Data: subsistem manajemen data memasukkan satu
database
yang
berisi
data
yang
relevan
untuk
situasi
dan dikelola oleh
perangkat 
lunak 
yang 
disebut 
sistem 
manajemen 
database 
(DBMS 
Database
Management   Systems). 
Subsistem  
manajemen   data  
dapat
diinterkoneksikan dengan data warehouse perusahaan, suatu repositori untuk
data perusahaan yang relevan untuk pengambilan keputusan. Biasanya data
disimpan atau diakses via server Web database.
2.
Subsistem Manajemen Model:
merupakan
paket
perangkat
lunak
yang
memasukkan model keuangan, statistic, ilmu manajemen, atau model
kuantitatif lainnya yang memberikan kapabilitas analitik dan manajemen
perangkat lunak yang tepat. Bahasa-bahasa permodelan untuk membangun
model-model custom juga dimasukkan. Perangkat lunak ini sering disebut
sistem 
manajemen 
basis 
model 
(MBMS 
Model 
Base 
Management
Systems). Komponen
ini dapat dikoneksikan ke penyimpanan korporat atau
eksternal yang ada pada model. Sistem manajemen dan metode solusi model
  
25
diimplementasikan  pada  sistem  pengembangan  Web  untuk  berjalan  pada
server aplikasi.
3.
Subsistem Antarmuka Pengguna:
pengguna
komunikasi
dengan
dan
memerintahkan
DSS
melalui
subsistem ini.
Pengguna
adalah
bagian
yang
dipertimbangkan
dari
sistem.
Para
peneliti menegaskan bahwa beberapa
konstruksi unik dari DSS berasal dari interaksi yang intensif antara komputer
dan
pembuat
keputusan. Browser
Web memberikan struktur antarmuka
pengguna grafis yang familiar dan konsisten bagi kebanyakan DSS.
4. Subsistem
Manajemen
Berbasis-Pengetahuan:
subsistem
ini
dapat
mendukung
semua
subsistem lain
atau bertindak
sebagai
suatu
komponen
independen. Ia memberikan inteligensi untuk memperbesar pengetahuan si
pengambil keputusan. Subsistem ini
dapat diinterkoneksikan dengan
repositori
pengetahuan  
perusahaan  
(bagian  
dari  
sistem  
manajemen
pengetahuan),
yang    
kadang-kadang    
disebut    
basis    
pengetahuan
organisasional. Pengetahuan dapat disediakan via server Web.
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p143-144)
2.2.1.7 Tahapan Pengembangan SPK
Pengembangan 
merupakan 
tahap 
yang 
penting 
dalam  rangka
mewujudkan sistem.
Dalam pengembangan sistem diperlukan suatu
metodologi
untuk
menyediakan
struktur bagi
pengembangan sistem tersebut,
yang
disebut
System Development
Life
Cycle
(SDLC).
Menurut
Dennis
&
Wixon
(Dikutip
  
26
dari Turban & Aronson, 2001, p229-231), SDLC tradisional terdiri dari 4 tahap
utama yaitu:
1.   Perencanaan  (Planning):  
fase   perencanaan   memulai   dengan   sebuah
kebutuhan
bisnis
yang
belum terpenuhi.
Meliputi
peluang-peluang
yang
mungkin yang diidentifikasi dengan membaca lingkungan. Apakah ada suatu
masalah yang perlu dipecahkan?
Inisiasi proyek melibatkan sebuah sistem
yang telah diputuskan. Jika kelihatan bermanfaat, maka dilakukan studi
kelayakan. Studi kelayakan mempertimbangkan apakah gagasan tersebut
masuk akal. Pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan kelayakan teknis,
kelayakan biaya, dan kelayakan organisasional dijawab disini. Jika proyek
disetujui, maka ditugaskanlah seorang manajer proyek dan ia menyusun
sebuah rencana kerja, mengorganisasi proyek, dan mengadopsi metode-
metode untuk mengelolanya.
2.
Analisis (Analysis):
fase
analisis
seperti
wawancara
wartawan.
Fase
ini
menanyakan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seperti siapa para
pengguna sistem, apa yang akan dicapai oleh sistem, dan dimana serta kapan
sistem akan
dijalankan.
Fase
ini
memulai
dengan
pengembangan
sebuah
strategi analisis atau suatu rencana untuk memandu proyek. Jika sebelumnya
sudah
ada
sistem yang
berjalan,
maka
sistem tersebut
dianalisis
bersama
dengan berbagai cara
untuk mengarah kepada sistem baru. Hal
ini
mengacu
kepada pengumpulan informasi lebih lanjut, pengembangan sebuah model
proses dan sebuah model data.
  
27
3.   Perancangan (Design): fase perancangan menandai bagaimana sistem akan
bekerja, mempertimbangkan semua detail perangkat keras, perangkat
lunak,
infrastruktur jaringan, antarmuka pengguna, dan lain-lain. Pada fase ini,
antarmuka pengguna, form, display, program dan laporan, database, dan file
ditetapkan.
Pada
strategi
design,
ditetapkanlah
jumlah
sistem
untuk
dibeli
atau dikontrak (versus membangun
in-house). Hal ini mengacu pada
rancangan
arsitektur,
yang
mengacu
kepada
rancangan
database
dan
file,
yang pada
gilirannya
mengacu kepada rancangan program. Secara bersama-
sama, hal-hal tersebut merupakan spesifikasi sistem.
4.
Implementasi (Implementation): fase implementasi membawa semua hal
bersama-sama. Inilah tempat dimana sistem dibangun atau dibeli. Konstruksi
melibatkan tidak hanya membangun sistem, tetapi juga mengujinya untuk
memverifikasi bahwa sistem
tersebut
bekerja.
Perencanaan
yang
lebih
baik
dapat
mendorong
ke
arah
sistem dengan
lebih
sedikit
bug.
Instalasi
merupakan
langkah
terakhir
dan
melibatkan
apakah
sistem benar-benar
berjalan.
  
28
Gambar 2.6 Tahap Pengembangan SPK
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p402)
2.2.1.8  Klasifikasi SPK
Holsaple dan Whinston (1996) mengklasifikasikan 
DSS  menjadi  enam
kerangka kerja yaitu text-oriented DSS, database-oriented DSS, spreadsheet-
oriented DSS, solver-oriented DSS, rule-oriented DSS, dan compound DSS.
a) 
Text-oriented DSS
Informasi (meliputi data dan pengetahuan) sering disimpan dalam
format teks dan harus diakses oleh pengambil keputusan. Dengan demikian,
adalah penting untuk menyajikan dan memproses dokumen dan fragmen teks
secara efektif dan efisien. SPK berorientasi
teks
mendukung
pengambil
keputusan dengan secara elektronik melacak informasi yang disajikan secara
teks yang dapat mempengaruhi keputusan.
SPK
tersebut
memungkinkan
dokumen-dokumen
dibuat
secara
elektronik,
direvisi,
dan dilihat
ketika
diperlukan.
  
29
b)  Database-oriented DSS
Pada 
SPK 
ini, 
database 
organisasi  punya  peran  penting 
dalam
struktur DSS.
Generasi awal dari SPK berorientasi database terutama
menggunakan konfigurasi database relasional. Informasi yang ditangani oleh
database relasional cenderung sangat berisi, deskriptif, dan sangat terstruktur.
SPK berorientasi database bercirikan pembuatan laporan yang baik dan
kapabilitas query.
c) 
Spreadsheet-oriented DSS
SPK
berorientasi
spreadsheet
merupakan
sistem pemodelan
yang
memungkinkan  pengguna  mengembangkan  model-model  untuk
mengeksekusi analisis SPK. Model ini tidak hanya membuat, melihat, dan
memodifikasi
pengetahuan
procedural, tetapi
juga
menginstruksikan
sistem
untuk
mengeksekusi
instruksi
self-contained mereka
(macro).
Spreadsheet
digunakan secara luas pada SPK yang dikembangkan oleh pengguna akhir.
End-user tool
yang
paling
populer
untuk
mengembangkan
SPK
adalah
Microsoft Excel.
d)  Solver-oriented DSS
Solver adalah suatu algoritma atau prosedur yang ditulis sebagai satu
program komputer untuk
melakukan komputasi tertentu
untuk memecahkan
suatu tipe masalah tertentu. Contoh-contoh solver dapat berupa prosedur
economic order
quantity untuk
menghitung
kuantitas
pesanan
optimal
atau
linear
regression
routine
untuk
menghitung
suatu
tren.
Solver dapat
diprogram secara komersial dalam perangkat lunak pengembangan. Sebagai
  
30
contoh,
Excel
memasukkan
beberapa
solver powerful
function dan
procedure
yang memecahkan sejumlah
masalah bisnis. Pembangun SPK
dapat menggabungkan beberapa solver ketika membuat aplikasi SPK.
e) 
Rule-oriented DSS
Komponen pengetahuan dari SPK mencakup aturan prosedural
maupun inferensial
(reasoning), seperti dalam format expert system (sistem
pakar). Aturan ini bisa jadi kualitatif atau kuantitatif, dan komponen seperti
itu dapat menggantikan atau diintegrasikan dengan model kualitatif.
f)   Compound DSS
SPK
gabungan
adalah
suatu
hybrid
system yang
meliputi
dua
atau
lebih dari lima struktur dasar yang telah dijelaskan sebelumnya.
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p166)
2.2.2
Konsep Model SPK
Karakteristik utama dari SPK termasuk kemampuan permodelannya. Ide
dasar
untuk
menjalankan
analisis SPK
adalah
dengan
menggunakan
model.
Model dapat
merepresentasikan sistem atau
masalah dengan berbagai
tingkatan
abstraksi.   Model   diklasifikasikan   menjadi   tiga   jenis   berdasarkan   tingkat
abstraksi, antara lain:
1) 
Model Iconic (Scale)
Model iconic
tipe model dengan abstraksi yang paling rendah –
merupakan  replika  fisik  dari  sebuah  sistem,  biasanya  pada  skala  yang
berbeda  dari  aslinya.  Model  iconic bisa  berupa  tiga  dimensi,  misalnya
  
31
pesawat terbang, mobil, jembatan, atau lini produksi. Fotografi adalah model
skala iconic dua dimensi.
2) 
Model Analog
Model analog bertindak seperti
sistem riil, tetapi tidak
mirip. Model
ini 
lebih 
abstrak 
dibanding 
model 
iconic 
dan 
merupakan  representasi
simbolis dari
realitas. Model dengan tipe
ini biasanya bagan atau diagram
dua dimensi. Model ini dapat berupa model fisik, namun bentuk model
berbeda dari sistem aktual. Beberapa contoh meliputi:
Bagan  organisasi 
yang 
menggambarkan  struktur,  otoritas,  dan
tanggung jawab.
Peta dengan warna-warna berbeda merepresentasikan objek-objek,
seperti mata air atau gunung.
Bagan  pasar  saham 
yang 
merepresentasikan  pergerakan 
harga
saham.
Cetak biru sebuah mesin atau rumah.
Animasi, video, dan film.
3) 
Model Matematika (Kuantitatif)
Kompleksitas
hubungan
di
banyak
sistem organisasi
tidak
dapat
direpresentasikan 
dengan 
icon 
atau 
secara 
analogi 
karena  representasi
tersebut akan
segera
membingungkan, dan
akan
makan banyak
waktu jika
menggunakan  kedua  hal  tersebut.  Dengan  demikian,  model  yang  lebih
abstrak dijelaskan secara matematika. Sebagian besar analisis SPK dilakukan
secara numerik dengan model matematika atau model kuantitatif lainnya.
  
32
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p63)
2.2.2.1 Model
Karakteristik 
utama 
dari 
SPK  adalah 
kemampuannya 
dalam
menggunakan model. Turban (1995, p42)
menuliskan bahwa model adalah
penyederhanaan atau abstraksi dari realita (kenyataan). Model selalu sederhana
karena realita terlalu kompleks untuk ditiru
dengan
tepat
dan
karena
banyak
kompleksitas yang sebenarnya tidak relevan dengan masalah yang spesifik.
2.2.2.2 Jenis Model
Tabel di bawah mengelompokkan model-model DSS menjadi tujuh
kelompok dan mendaftarkan beberapa teknik representif untuk setiap kategori.
Masing-masing teknik dapat diterapkan pada model
statis
atau
dinamis
yang
dapat dikonstruksi di bawah lingkungan yang pasti, tidak pasti atau risiko.
Tabel 2.2 Kategori-Kategori Model
(Sumber: Efraim Turban, Jay E. Aronson, & Ting-Peng Liang, 2005, p196)
Kategori
Proses dan Tujuan
Teknik-Teknik Representatif
Optimalisasi
masalah dengan
sedikit alternatif.
Menemukan solusi terbaik dari
sejumlah kecil alternatif.
Tabel keputusan, pohon
keputusan.
Optimalisasi via
algoritma.
Menemukan solusi terbaik dari
sejumlah besar alternatif dengan
menggunakan proses pendekatan
langkah demi langkah.
Model pemograman matematika
linier dan lainnya, model
jaringan.
Optimalisasi via
Menemukan solusi terbaik dalam
Beberapa model inventori.
  
33
Kategori
Proses dan Tujuan
Teknik-Teknik Representatif
rumusan analitik.
satu langkah dengan
menggunakan satu rumus.
Simulasi.
Menemukan satu solusi yang
cukup baik atau yang terbaik di
antara berbagai alternatif yang
dipilih dengan menggunakan
eksperimen.
Beberapa tipe simulasi.
Heuristik.
Menemukan satu solusi yang
cukup baik dengan menggunakan
aturan-aturan.
Pemograman heuristik, sistem
pakar.
Model-model
prediktif.
Memprediksi masa depan untuk
skenario yang ditentukan.
Model forecasting, analisis
Markov.
Model-model
lainnya.
Memecahkan kasus bagaimana-
jika (what-if) dengan
menggunakan sebuah rumus.
Pemodelan keuangan, waiting
lines.
2.2.2.3 Keuntungan dan Kerugian Model
Keuntungan (manfaat) yang diperoleh dari penggunaan model dalam
sistem pendukung
keputusan
menurut
Turban,
Aronson
&
Ting-Peng
Liang
(2005, p63) antara lain:
Manipulasi model (mengubah variabel keputusan atau lingkungan) jauh lebih
mudah ketimbang memanipulasi sistem riil. Eksperimentasi lebih mudah dan
tidak berinterferensi dengan operasional harian dan organisasi.
Model  
memungkinkan  
kompresi  
waktu.  
Tahun-tahun   operasi  
dapat
disimulasi dalam hitungan menit atau detik (dari waktu komputer).
  
34
Biaya
analisis
pemodelan
jauh
lebih
rendah
ketimbang
biaya
eksperimen
serupa yang dilakukan pada sebuah sistem riil.
Biaya pembuatan kesalahan selama eksperimen coba-salah jauh lebih rendah
ketika menggunakan model-model, dibanding menggunakan sistem riil.
Lingkungan
bisnis
mencakup
ketidakpastian
yang
dapat
dipertimbangkan.
Dengan 
pemodelan, 
manajer  dapat 
mengestimasi 
risiko 
dari  tindakan-
tindakan tertentu.
Model
matematika
memungkinkan
analisis
terhadap
sejumlah
solusi
yang
mungkin yang sangat besar, dan kadang-kadang tak
terbatas. Bahkan pada
masalah 
sederhana, 
manajer  sering 
memiliki  sejumlah  alternatif 
untuk
dipilih.
Model memperkuat pembelajaran dan pelatihan.
Metode model dan solusi tersedia di Web.
Ada banyak applet Java (dan program Web lainnya) yang telah memecahkan
model-model.
Keuntungan  pembuatan 
model  diimbangi  dengan  2  kerugian  utama
model, yaitu:
Kesulitan
pembuatan
model
sistem
bisnis
akan
menghasilkan
model
yang
tidak
menangkap   semua   pengaruh   pada   entitas.   Pertimbangan   yang
menyeluruh diperlukan dalam menerapkan keputusan yang didasarkan
hasil
simulasi.
  
35
Keahlian 
matematika 
tingkat 
tinggi 
diperlukan 
untuk 
mengembangkan
sendiri model-model yang lebih kompleks. Keahlian itu juga
diperlukan
dalam menafsirkan output secara tepat.
2.2.3
Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk
Pengambilan  keputusan  kriteria 
majemuk 
dilakukan 
dengan
menggunakan model Analytic Hierarchy Process (AHP).
2.2.3.1 Definisi Analytic Hierarchy Process (AHP)
Analytic Hierarchy Process (AHP) adalah suatu model yang luwes yang
memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun
gagasan-gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat asumsi
mereka
masing-masing dan
memperoleh
pemecahan
yang
diinginkan
darinya
(Saaty, 1991, p23).
Menurut Marshall (1995, p278), AHP
adalah
suatu
metode
yang
dikembangkan   untuk   menghasilkan   tingkatan   alternatif   keputusan   dengan
struktur
matematis.
Ide
utamanya
adalah
untuk
menemukan
trade-off atribut
melalui perbandingan atribut berpasangan. Menemukan nilai setiap alternatif
keputusan berpasangan dalam atribut tersebut.
2.2.3.2 Keuntungan AHP
Saaty (1991, p25) menyebutkan berbagai keuntungan AHP yaitu:
1.   Kesatuan
  
36
AHP memberikan suatu model tunggal yang mudah dimengerti dan luwes
untuk aneka ragam persoalan tak terstruktur.
2.   Kompleksitas
AHP
memadukan
rancangan
deduktif
dan rancangan berdasarkan sistem
dalam memecahkan persoalan kompleks.
3.   Saling ketergantungan
AHP
dapat
menangani
saling
ketergantungan
elemen-elemen
dalam suatu
sistem dan tidak memaksakan pemikiran linier.
4.   Penyusunan hirarki
AHP mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah-milah
elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan
struktur yang serupa dalam setiap tingkat.
5.   Pengukuran
AHP memberikan suatu skala untuk mengukur
hal-hal dan terwujud suatu
metode untuk menetapkan prioritas.
6.   Konsistensi
AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang
digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas.
7.   Sintesis
AHP menuntun ke suatu taksiran
menyeluruh tentang kebaikan setiap
alternatif.
8.   Tawar-menawar
  
37
AHP 
mempertimbangkan 
prioritas-prioritas 
relatif 
dari  berbagai 
faktor
sistem dan
memungkinkan
orang
memilih
alternatif
terbaik
berdasarkan
tujuan-tujuan mereka.
9.   Penilaian dan konsensus
AHP
tidak
memaksakan
konsensus
tetapi mensintesis suatu hasil yang
representatif dari berbagai penilaian yang berbeda-beda.
10. Pengulangan proses
AHP memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada suatu
persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melalui
pengulangan.
2.2.3.3 Prinsip Dasar AHP
Ada empat prinsip dasar AHP (Mulyono, 2004, p335-337):
a.
Decomposition, yaitu memecahkan masalah yang utuh menjadi unsur-
unsurnya.
Jika
ingin
mendapat
hasil
akurat, pemecahan
juga
dilakukan
terhadap
unsur-unsurnya sampai
tidak mungkin dilakukan pemecahan
lebih
lanjut sehingga didapat beberapa tingkatan dari persoalan tadi. Proses analisi
ini dinamakan hirarki.
Ada dua jenis hirarki, yaitu lengkap dan tidak lengkap. Dalam hirarki
lengkap, semua elemen pada suatu tingkat memiliki semua elemen yang ada
pada tingkat berikutnya. Jika tidak demikian
maka dinamakan
hirarki tidak
lengkap.
  
38
b.
Comparative Judgement, prinsip ini berarti membuat penilaian tentang
kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya
dengan tingkat diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena ia
akan  berpengaruh  terhadap  prioritas  elemen-elemen.  Dalam  penyusunan
skala kepentingan ini digunakan tabel berikut:
Tabel 2.3 Skala Perbandingan Berpasangan (Aksioma AHP)
Tingkat
Kepentingan
Definisi
1
Sama pentingnya dibanding yang lain.
3
Moderat atau sedikit lebih penting dibanding yang lain.
5
Kuat pentingnya dibanding yang lain.
7
Sangat kuat pentingnya dibanding yang lain.
9
Ekstrim pentingnya dibanding yang lain.
2, 4, 6, 8
Nilai di antara dua pertimbangan yang berdekatan.
c.   Synthesis of Priority,  dari  setiap  matriks  pairwise comparison  kemudian
dicari
eigen vector-nya
untuk
mendapatkan
local priority. Karena
matriks
pairwise comparison terdapat pada semua tingkat, maka untuk mendapatkan
global
priority
harus
dilakukan
sintesa
di
antara local
priority.
Prosedur
melakukan sintesis berbeda menurut bentuk hirarki. Pengurutan elemen-
elemen
menurut
kepentingan relatif
melalui
prosedur
sintesis
dinamakan
priority setting.
d.   Logical Consistency,  konsistensi  memiliki  dua 
makna.  Pertama  adalah
bahwa 
obyek-obyek 
yang 
serupa 
dapat  dikelompokkan 
sesuai 
dengan
  
39
keseragaman dan relevansi. Arti kedua adalah menyangkut tingkat hubungan
antara obyek-obyek yang didasarkan pada kriteria tertentu.
2.2.3.4 Kelebihan AHP
Menurut  Kadarsah  (2002,  p131),  kelebihan  AHP  dibanding  dengan
model yang lainnya adalah:
a.   Struktur yang hirarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai
pada subkriteria-subkriteria yang paling dalam.
b.   Memperhitungkan  validitas  sampai  dengan  batas  toleransi 
inkonsistensi
berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan.
c.   Memperhitungkan  daya  tahan  atau  ketahanan  output  analisis  sensitivitas
pengambilan keputusan.
2.2.3.5 Struktur AHP
Membuat
struktur
hirarki
diawali dengan
tujuan
umum,
dilanjutkan
dengan sub-sub tujuan, kriteria, dan kemungkinan alternatif-alternatif pada
tingkat kriteria yang paling bawah (Kadarsah, 2002, p131).
  
40
Gambar 2.7 Struktur Hirarki AHP
2.2.3.6 Langkah-langkah Menentukan Prioritas
Langkah ini diawali dengan melihat hirarki yang telah dibuat lalu
membentuk
matriks
pairwise comparison.
Nilai
pada
matriks
ini
didapat dari
memberi  pertanyaan  berapa  kali  lipat  suatu  kriteria  dibandingkan  terhadap
kriteria lainnya.
Contoh:
Kriteria
L
W
T
L
1
0.5
0.25
W
2
1
0.5
T
4
2
1
Langkah kedua yaitu matriks pairwise comparison dinormalisasi dengan
cara membagi unsur pada setiap kolom dengan hasil nilai jumlah kolom.
Contoh:
  
41
Kriteria
L
W
T
L
1/7 = 0.14
0.5/3.5 = 0.14
0.25/1.75 = 0.14
W
2/7 = 0.29
1/3.5 = 0.29
0.5/1.75 = 0.29
T
4/7 = 0.57
2/3.5 = 0.57
1/1.75 = 0.57
Langkah
selanjutnya
yaitu
langkah
ketiga adalah
menjumlahkan setiap
baris matriks yang telah dinormalisasi dan dibagi dengan n (banyaknya unsur),
dalam kasus ini adalah 3. Hasilnya merupakan prioritas atau bobot yang dicari.
Contoh:
0.14 + 0.14 + 0.14 = 0.14, dan seterusnya
3
Langkah
keempat
yaitu
mencari Eigen
Value (Z) dengan cara
menjumlahkan baris nilai kriteria pada matriks pairwise comparison dengan nilai
bobot ketiga kriteria, kemudian dibagi dengan bobot kriteria yang bersangkutan.
Setelah mendapatkan nilai
Z,
dicari
Z
maksimal
yaitu
dengan
menjumlahkan Z dan membagi dengan jumlah kriteria yang ada.
Langkah 
terakhir 
yaitu 
mencari 
nilai 
Consistency 
Index 
(CI) 
dan
Consistency Ratio (CR) dengan rumus:
CI = (Z
maks
-
n) / (n - 1)
CR =
 
CI 
Random Consistency Index
Nilai dari CR seharusnya kurang dari 10% (0.1).
Tabel 2.4 Random Consistency Index
N
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
RCI
0
0
0.58
0.9
1.12
1.24
1.32
1.41
1.45
1.49
  
42
2.3
Alat Bantu Analisis dan Perancangan Sistem
Alat  bantu  yang  digunakan  dalam  analisis  dan  perancangan  SPK  ini
antara lain adalah Data Flow Diagram (DFD), Entity Relationship Diagram
(ERD), dan State Transition Diagram (STD).
2.3.1
Data Flow Diagram (DFD)
Berikut 
ini  akan  dijelaskan  mengenai  definisi, 
manfaat,  komponen,
hirarki dan aturan-aturan DFD.
2.3.1.1 Definisi DFD
DFD 
(Whitten, 
2001, 
p168) 
adalah 
sebuah 
diagram  yang
menggambarkan proses-proses yang sedang berjalan dan atau yang akan
ditawarkan dalam sebuah sistem beserta seluruh input, output dan file dari sistem
tersebut.
DFD (Marakas, 2006, p117) adalah sebuah piranti grafis yang
menggambarkan urutan dari proses-proses dan fungsi-fungsi di dalam sebuah
batasan sistem tertentu dan juga aliran data yang ada di dalam sistem tersebut.
2.3.1.2 Manfaat DFD
Manfaat dari DFD adalah:
Menggambarkan 
aliran 
data 
dari 
sebuah 
sistem 
serta 
pekerjaan 
atau
pemrosesan yang dijalankan oleh sistem tersebut (Whitten, 2001, p308).
  
43
Mengilustrasikan
kebutuhan-kebutuhan
dari
proses
bisnis
(Whitten,
2001,
p96).
Mengilustrasikan
bagaimana
data
akan
dikumpulkan,
disimpan,
digunakan
dan dipelihara (Whitten, 2001, p169).
2.3.1.3 Komponen DFD
Komponen-komponen pembentuk DFD (Gane & Sarson) adalah:
1.   Process
(proses):
sarana
pengubah
data
ke
dalam bentuk
lain,
digunakan
untuk menciptakan data baru atau dirangkai menjadi hasil keluaran yang
berguna. Dalam pemodelan logis, proses data dilakukan oleh mesin, manusia
atau komputer. Proses diatur berdasarkan urutan terjadinya
masing-masing
proses, hal ini digambarkan dengan adanya identitas nomor
untuk
setiap
proses (Marakas, 2006, p118-119).
Gambar 2.8 Bentuk Process (Proses)
(Marakas, 2006, p118)
2. 
Data
Store:
mewakili
sebuah tempat penyimpanan
untuk data,
baik
yang
bersifat
sementara
atau
selamanya
disimpan
di
dalam
sistem tersebut
(Marakas, 2006, p118).
  
44
Gambar 2.9 Bentuk Data Store
(Marakas, 2006, p118)
3.
Data Flow (Aliran Data): representasi pergerakan data, arah dan isi dari data
(Marakas, 2006, p118).
Gambar 2.10 Bentuk Data Flow (Aliran Data)
(Marakas, 2006, p118)
4.   External
Agent
seseorang
atau
sesuatu
yang
berinteraksi
dengan
sistem
namun berada di luar batasan sistem dan oleh karena itu tidak berada dalam
kontrol sistem atau pengguna sistem. External Agent bisa berbentuk sebagai
sebuah Sink ataupun sebuah Source (Marakas, 2006, p118).
Sink: external agent
yang
merupakan tujuan keluarnya aliran data dari
sistem.
Source:  external agent yang  merupakan  sumber  atau  asal  keluarnya
aliran data menuju ke dalam sistem.
Gambar 2.11 Bentuk External Agent
(Marakas, 2006, p118)
  
45
2.3.1.4 Hirarki DFD
Hirarki  dari  penggambaran  DFD  (Marakas,  2006,  p120-123)  adalah
sebagai berikut:
1.   Diagram Level Konteks
Merupakan
diagram level
pertama
yang
menampilkan
sistem dengan
sangat global (tidak detil), bertujuan untuk mengidentifikasi batasan sistem
serta hubungannya dengan berbagai source ataupun sink. Diagram Konteks
hanya memiliki satu proses yang ditandai dengan nama dari sistem dan tidak
ada penggambaran data store.
2.   Diagram Level Nol
Merupakan
penggambaran
detil atau
penjabaran
dari
Diagram
Konteks.
Menggambarkan
proses-proses
utama
yang
terdapat
dalam sebuah
sistem,
urutan dari proses tersebut, semua data store yang diakses oleh proses dan
juga source serta sink
yang berinteraksi dengan sistem
sesuai dengan
yang
sudah digambarkan di Diagram Konteks. Proses ditandai dengan penomoran
1.0, 2.0, dan seterusnya.
3.   Diagram Level 1 hingga N (Rinci)
Merupakan
penggambaran
lebih detil
dari
masing-masing
proses
di
Diagram Nol atau
level sebelumnya
yang
membutuhkan penjabaran. Semua
penggambaran komponen yang terlibat, harus sesuai dengan penggambaran
yang   sudah   dilakukan   di   level   sebelumnya.   Proses   ditandai   dengan
penomoran
1.1,
2.1,
1.1.1,
2.1.1,
3.1,
dan
seterusnya.
Proses
yang
sudah
  
46
terjabarkan 
hingga 
sempurna, 
maka 
tidak 
perlu 
digambarkan 
ke 
level
selanjutnya dan disebut sebagai functional primitive.
2.3.1.5 Aturan-aturan DFD
Larangan dalam penggambaran proses (Whitten, 2001, p315):
Proses
yang
memiliki
input
namun
tidak
memiliki
output
disebut sebagai
Black Hole.
Proses
yang
memiliki
output
namun
tidak
memiliki
input
disebut sebagai
Miracle.
Proses yang jumlah input-nya kurang untuk dapat menghasilkan output yang
diinginkan (ada aliran data masuk yang kurang) disebut sebagai Grey Hole.
Larangan dalam Penggambaran Data Flow (aliran data)
Data Flow Ilegal
Data Flow Terkoreksi
Gambar 2.12 Aturan Data Flow (Aliran Data)
(Whitten, 2001, p325)
  
47
2.3.2
Entity Relationship Diagram (ERD)
Pembahasan mengenai ERD mencakup definisi, manfaat dan komponen ERD.
2.3.2.1 Definisi ERD
ERD 
(Whitten, 
2001, 
p260) 
adalah 
sebuah 
diagram  yang
menggambarkan
data
dalam bentuk
entitas-entitas
beserta
hubungan
yang
terbentuk antar data tersebut.
ERD  (Marakas,  2006,  p145)  adalah  sebuah  diagram  yang  digunakan
untuk menggambarkan kebutuhan konseptual data dari sistem yang direncanakan
serta mengidentifikasikan aturan dan hubungan antar data.
2.3.2.2 Manfaat ERD
Manfaat dari ERD adalah:
Untuk 
memodelkan 
data 
mentah 
yang 
dihasilkan 
oleh 
sebuah 
sistem
(Whitten, 2001, p169).
Untuk memodelkan kebutuhan data perusahaan (Whitten, 2001, p97).
2.3.2.3
Komponen ERD
Komponen-komponen   pembentuk   ERD   (Whitten,   2001,   p260-267)
adalah:
1.   Entitas: sesuatu mengenai bisnis yang butuh untuk disimpan datanya. Entitas
bisa berupa sekumpulan manusia, tempat, objek, kejadian atau konsep.
  
48
Gambar 2.13 Bentuk Entitas
(Whitten, 2001, p260)
2.   Atribut: sebuah properti deskriptif atau karakteristik dari sebuah entitas.
MAHASISWA
NIM
Nama
Alamat
No. HP
Tanggal Lahir
Jenis
Kelamin
Ras
IPK
Gambar 2.14 Contoh Atribut-atribut Sebuah Entitas
(Marakas, 2006, p149)
  
49
3.   Relationship (hubungan):
sebuah
asosiasi
dalam
lingkup
lingkungan
bisnis
dan  organisasi  antar  satu  entitas  dengan  entitas  lainnya  (Marakas,  2006,
p149).
MAHASISWA
NIM
Nama
Alamat
No. HP
Tanggal Lahir
Jenis Kelamin
IPK
KURIKULUM
Kd. Program Studi
Judul Program
Gelar
Gambar 2.15 Contoh Hubungan Antar Entitas
(Marakas, 2006, p149)
  
50
4.   Identification atau Key: sebuah atribut atau sekumpulan atribut, yang bernilai
unik untuk setiap contoh dari entitas (Whitten, 2001, p262).
Primary
Key
(PK):
sebuah
key yang
paling
unik
digunakan
untuk
mengidentifikasi sebuah contoh tunggal dari sebuah entitas (Marakas, 2006,
p148).
Foreign Key (FK): sebuah PK dari suatu entitas
yang berada di entitas lain
untuk 
mengidentifikasi  hubungan  antar  entitas  tersebut  (Whitten,  2001,
p267).
MAHASISWA
NIM (PK)
Nama
Alamat
No. HP
Tanggal Lahir
Jenis
Kelamin
IPK
KURIKULUM
Kd. Program Studi (PK)
Judul Program
Gelar
JURUSAN
ID Jurusan (PK)
NIM (PK)
Kd. Program Studi (PK)
Tanggal Pengambilan
Gambar 2.16 Contoh Key Entitas
(Whitten, 2001, p262)
5.   Kardinalitas: mendefinisikan
nilai minimum dan
maksimum dari
terjadinya
suatu  hubungan  antar  sebuah  entitas  dengan  entitas  lainnya.  Kardinalitas
  
51
harus  ditentukan  untuk  kedua  arah  dari  suatu  hubungan  (Whitten,  2001,
p264).
MAHASISWA
NIM (PK)
Nama
Alamat
No. HP
Tanggal Lahir
Jenis
Kelamin
IPK
KURIKULUM
Kd. Program Studi (PK)
Judul Program
Gelar
JURUSAN
ID Jurusan (PK)
NIM (PK)
Kd. Program Studi (PK)
Tanggal Pengambilan
Gambar 2.17 Contoh Kardinalitas Hubungan Antar Entitas
(Whitten, 2001, p264)
  
52
Tabel 2.5 Notasi Kardinalitas
(Whitten, 2001, p265)
Interpretasi
Kardinalitas
Nilai
Minimum
Nilai
Maksimum
Notasi Grafik
Tepat satu
(Satu dan hanya satu)
1
1
Nol atau satu
0
1
Satu atau lebih
1
Banyak
(> 1)
Nol, satu atau lebih
0
Banyak
(> 1)
Lebih dari satu
> 1
> 1
2.3.3
State Transition Diagram (STD)
2.3.3.1 Definisi STD
STD
(Marakas,
2006,
p135)
adalah sebuah
diagram yang
memodelkan
bagaimana
dua
atau
lebih
proses
saling berhubungan satu sama lainnya dalam
suatu cakupan waktu.
STD merupakan suatu alat yang digunakan untuk menggambarkan sistem
yang
berdasarkan
sifat
ketergantungan
dari
sistem terhadap
waktu
serta
perubahan dari
suatu
keadaan
ke
keadaan
lain
karena
adanya
suatu
aksi
dan
  
53
digunakan untuk memperjelas suatu situasi dimana terdapat banyak kondisi yang
dapat mempengaruhi status dari sistem.
STD
digunakan
untuk
menggambarkan
state
dari
sebuah
kelas,
event
yang merubah suatu keadaan ke state yang lain dan action yang dihasilkan dari
perubahan state tersebut. Sebuah STD
menunjukkan
gambaran
sebuah
model
yang dinamis dari sebuah kelas atau
seluruh sistem.
Dalam analisa, STD akan
digunakan untuk mengidentifikasikan sifat dinamis dari sistem, sedangkan dalam
desain, STD digunakan untuk merancang suatu kelas.
STD memiliki 2 elemen penting, yaitu:
State
Melambangkan keadaan sebuah obyek, baik atribut obyek itu sendiri maupun
hubungan dari obyek tersebut dengan obyek lain dari sistem.
Name
Action
State Transition
Merupakan suatu kejadian yang menyebabkan perubahan state dalam sistem.
Setiap state transition menghubungkan 2 buah state. Sebuah state dapat saja
mempunyai
transisi
ke diri
sendiri dan sangat
lazim bagi
suatu
state
yang
sama, meskipun setiap transisi haruslah unik. Unik dalam arti tidak akan ada
lebih dari 1 state transition dari state yang sama melalui event yang sama.
Event / Action
  
54
2.3.3.2 Manfaat STD
Manfaat
dari
STD
adalah
mengilustrasikan
beragam status
yang dapat
dimiliki
oleh
sebuah
komponen
sistem dalam
hubungannya
dengan
kejadian-
kejadian atau kondisi-kondisi yang menyebabkan sebuah perubahan dari status
yang satu dengan yang lainnya (Marakas, 2006, p135).
2.3.3.3 Komponen STD
Komponen-komponen pembentuk STD (Marakas, 2006, p135) adalah:
1.   State (status): sebuah kondisi akan keberadaan atau bentuk yang dapat dipilih
oleh sebuah sistem komponen.
State
(status)
2.   Event (kejadian) atau Transition (transisi): sebuah aksi atau
fenomena atau
pemicu yang menyebabkan terjadinya pergantian status.
Transition (transisi) atau Event (kejadian)
3.   Current State (status sekarang): status dimana sistem sedang berada saat ini.
4.   Final State (status  akhir):  status  dimana  terjadi  saat  dipicu  oleh  sebuah
kejadian yang menyebabkan tidak adanya jalan keluar atau alternatif lainnya,
yang menyebabkan pengakhiran sempurna dari sebuah sistem.