|
27
Rancangan Pasif
Perancangan pasif merupakan cara
penghematan
energi
melalui
pemanfaatan energi matahari secara pasif, yaitu tanpa mengonversikan energi
matahari menjadi energi listrik. Rancangan pasif lebih mengandalkan kemampuan
arsitek bagaimana rancangan bangunan dengan sendirinya
mampu mengantisipasi
permasalahan iklim luar.
Perancangan pasif di wilayah tropis
basah
seperti
Indonesia
umumnya
dilakukan untuk mengupayakan bagaimana pemanasan bangunan karena radiasi
matahari dapat dicegah, tanpa harus mengorbankan kebutuhan penerangan alami.
Sinar matahari yang terdiri atas cahaya dan panas hanya akan dimanfaatkan
komponen cahayanya dan menepis panasnya.
Strategi
perancangan
bangunan
secara
pasif di Indonesia bisa dijumpai
terutama
pada
bangunan
lama
karya Silaban: Masjid Istiqal dan Bank Indonesia;
karya Sujudi: Kedutaan Prancis di Jakarta
dan
Gedung
Departemen
Pendidikan
Nasional Pusat; serta sebagian besar bangunan kolonial karya arsitek-arsitek
Belanda. Meskipun demikian, beberapa bangunan modern di Jakarta juga tampak
diselesaikan
dengan
konsep
perancangan
pasif,
seperti
halnya
Gedung
S
Widjojo
dan Wisma Dharmala Sakti, keduanya terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.
Rancangan Aktif: Solar Sel
Dalam rancangan aktif, energi matahari dikonversi menjadi energi listrik sel
solar, kemudian energi listrik inilah yang digunakan memenuhi kebutuhan
bangunan. Dalam perancangan secara aktif, secara simultan arsitek juga harus
|