Home Start Back Next End
  
14
saat
itu
Walhi
Jakarta
beranggotakan
23 NGO.
Isu
yang
diadvokasi
adalah
urban
environment,    
polusi    
industri    
(industri    
semen)    
dan    
konservasi    
pesisir.
PNLH
VIII
di
Parapat
tahun
2002
berimplikasi
pada
krisis
kepercayaan
antar
satu anggota dengan anggota yang lainnya. Bahkan ada upaya dari kelompok-kelompok
tertentu untuk menghancurkan WALHI Jakarta. Masa-masa ini adalah kondisi tersulit
dalam 
aktivitas 
advokasi 
yang 
yang 
pernah 
ada 
dalam 
sejarah 
WALHI 
Jakarta.
Pasca  peristiwa  PNLH VIII Parapatan, eksistensi WALHI Jakarta nyaris hilang.
Atas   dukungan   anggota-anggota   jaringan   yang   masih   menginginkan   keberadaan
WALHI
Jakarta,
team
careteker
dan
team
investigasi
mampu
merampungkan
tugas-
tugas untuk menyelesaikan konflik internal tersebut. Pada PDLH VI Walhi Jakarta 2006
tanggal 3 May 2006 bertempat di LBH Jakarta tercatat anggota Walhi Jakarta berjumlah
39 Lembaga dengan perincian 25 Ornop
;
Bina DEsa,
Bismi,
Dharma
Bhakti Nusantara,
Icel, KBSK, KMA, KPM, KPSM, KTB, KUB, KUN, LBH Apik, LBH Jakarta, LP3ES,
P3M,
PAN
Indonesia,
PBHI,
PBJ,
PKBI
Jakarta, SP, SPA, Yakoma,
YLBHI,
YLKI,
ZPG. dan 14 Kelompok Pecinta Alam ; Agrawitaka, aranacala, arkadia UIN,Cheby AIS,
Cicera, Eka
Citra,
Garda
Hijau FS
UI,
Kappa
FT
UI, Kempala
UT,
Magipala,
mateksapala, Manunggal Bawana, Mapala UI, Ranita UIN.
Manifesto Walhi
Mencermati  ketidakadilan  negara  dan 
modal  pada  perikehidupan  rakyat  di
seluruh pelosok Nusantara, WALHI meneguhkan diri untuk memperluas gerakan
lingkungan hidup menjadi gerakan perubahan sosial seluas-luasnya untuk mewujudkan
tatanan  masyarakat  baru  yang  demokratik  dan  berkeadilan  serta  menjamin  hak-hak
rakyat dalam
mengelola sumber-sumber kehidupannya. WALHI akan berperan sebagai
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter