|
mementingkan kesinambungan image dan teks, dan sebagian lain lebih menekankan
sifat kesinambungannya (sequential). Definisi komik sendiri sangat supel karena itu
berkembanglah berbagai istilah baru seperti:
Picture stories Rodolphe Topffer (1845)
Pictorial narratives Frans Masereel and Lynd Ward (1930s)
Picture novella dengan nama samaran Drake Waller (1950s).
Illustories Charles Biro (1950s)
Picto-fiction Bill Gaine (1950s)
Sequential art(graphic novel) Will Eisner (1978)
Nouvelle manga Frederic Boilet (2001)
Untuk lingkup nusantara, terdapat sebutan tersendiri untuk komik seperti
diungkapkan oleh pengamat budaya Arswendo Atmowiloto (1986) yaitu cerita
bergambar atau disingkat menjadi cergam yang dicetuskan oleh seorang komikus
Medan bernama Zam Nuldyn sekitar tahun 1970. Akronim cerita bergambar, menurut
Marcell Boneff mengikuti istilah cerpen (cerita pendek) yang sudah lebih dulu
digunakan, dan konotasinya menjadi lebih bagus, meski terlepas dari masalah tepat
tidaknya dari segi kebahasaan atau etimologis kata-nya.
Adanya teks dan gambar secara bersamaan dinilai oleh Francis Laccasin (1971) sebagai
sarana pengungkapan yang benar-benar orisinal. Kehadiran teks bukan lagi suatu
keharusan karena ada unsur motion yang bisa dipertimbangkan sebagai jati diri komik.
Karena itu di dalam istilah komik klasik indonesia, cerita bergambar tak lagi harus
bergantung kepada cerita tertulis. Hal ini disebut Eisner sebagai graphic narration.
|