|
sehari-harinya,
atau
dari
lingkungan
induknya.
Masa
ini
merupakan
inisiasi,
yaitu
suatu
proses
ritual wajib dilalui oleh pelaku ritual.
2.4
Konsep Matsuri
Perayaan
tahunan
di
Jepang
dibagi
menjadi
dua
bagian,
yaitu
matsuri
(pesta
rakyat)
dan
nenchuu
gyouji
(perayaan
tahunan)
yang
juga
sering
disebut
dengan
Nenchu
gyouji.
Lawanda
(2000: 55-58), mengatakan pengertian
matsuri sebagai agama dan sosial menjadikan matsuri
sumber
dari
dan
untuk
kehidupan
masyarakat orang
Jepang.
Matsuri
sendiri
merupakan
sistem
kepercayaan keagamaan
sekaligus
merupakan
ekspresi
keyakinan
keagamaan
Jepang.
Sebagai
keyakinan, matsuri diselenggarakan dengan struktur-struktur yang
terkait dengan dan
ada
di
dalam
matsuri yaitu Ie yang menjadi dasar dalam kehidupan sosial orang Jepang dan sumber hidup orang
Jepang.
Matsuri
ditetapkan atau
disusun dan
diselenggarakan oleh
sekumpulan Ie
yang
meyakini
dewa
yang
dipuja
dalam
setiap
pelaksanaan
matsuri. Pemujaan
dewa
oleh
sekelompok
Ie
yang
terintegrasi
dalam
dewa
yang
sama
dipuja
yaitu
senso,
untuk
memperoleh
berkah
dari
leluhur
pendiri
kelompok
keturunannya.
Dewa
yang
dipuja
oleh
suatu
matsuri
berpusat
di
kuil
Shinto
(jinja) dengan sekelompok Ie dibawah satu kepala Ie (honke) merupakan anggota jinja bersangkutan.
Dalam
Shinto
seluruh
kehidupan adalah
kerukunan dan
keserasian pemikiran dengan
kami.
Kehidupan sehari hari dihormati sebagai pelayanan untuk kami yaitu sebagai dengan diadakannya
matsuri,
yang
artinya
lebih
dalam
dari
pelayanan
dan
peribadatan. Matsuri
dibuat
besar
besaran
dari
yang
sederhana hingga
yang
rumit.
Setiap
individu
beribadat di
depan
altar
dan
persembahan
pagi dan malam dilakukan oleh pendeta, ribuan orang bisa hadir dalam setiap matsuri.
|