5
BAB 2
DATA DAN ANALISA
2.1 Sumber Data
Sumber  data  dan  informasi  untuk  mendukung  proyek  Tugas  Akhir  ini  didapat
melalui:
1.   Observasi (pengamatan)
2.   Penyebaran angket / kuesioner
3.   FGD (Focus Group Discussion)
Data-data yang ada kemudian penulis kelompokkan menjadi:
2.1.1  Data Kuantitatif
Dari skala 20 (dua puluh) kuesioner yang disebarkan dengan batasan
usia
antara 20-65 tahun (usia produktif), dapat disimpulkan hasilnya sebagai
berikut:
1.   Nama  Glodok  sudah  banyak  dikenal  oleh  responden  sebagai  salah  satu
daerah berbudaya China
2. 
Yang dikenal
hanya
nama
”Glodok”, sedangkan
untuk kuliner
di
Glodok,
hanya kira-kira
65%
(+ 13 responden) yang
mengetahui
adanya
kuliner
di
Glodok dan hanya
kira-kira 35% (+ 7
responden)
yang mengenal makanan
eksotis khas Glodok.
  
6
3.   Makanan-makanan  yang  dikenal  responden  sebagai 
makanan  di  daerah
Glodok diantaranya kwetiaw, swikiaw, kue mochi, bakpao, mie, babi
panggang,
nasi
campur,
mie
kangkung,
pioh,
bektim,
kuotieh,
kue
bulan
(tapi hanya ramai pada saat hari raya Imlek), siomay, bakpia, dan manisan.
4.   90% responden setuju bahwa Glodok masih memiliki ciri khas budaya China
dan menyebutnya Pecinan.
2.1.2  Data Kualitatif
1. 
Ada berbagai jenis kuliner eksotik khas di
Glodok seperti pioh, swikee,
swikiaw, dan lain-lain
2.  Glodok sudah cukup dikenal sebagai daerah khas Tionghoa
3.   Selain
masakan khas etnis Tionghoa, di Glodok juga terdapat berbagai
macam masakan khas etnis lain, seperti Jawa, Sunda, Manado, dll
2.4.1
Data Primer
1.   Glodok memiliki beragam jenis kuliner yang khas dan unik
2.   Kuliner Glodok sudah dikenal sejak jaman penjajahan Belanda
3.   Animo masyarakat akan kulinari di Glodok masih minim
  
7
2.4.2
Data Sekunder
1.   Nama
Glodok sudah sangat dikenal
masyarakat sebagai kawasan berbudaya
Tionghoa sejak jaman penjajahan Belanda
2.   Daerah Glodok sudah menjadi tempat makan favorit
masyarakat keturunan
Eropa jaman VOC
3.   Tersedia makanan khas dari daratan China
2.4.3
Data Formatif
2.1.5.1 Sejarah Glodok
Asal
nama
Glodok
dari
kata grojok yang merupakan sebutan dari
bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada
semacam
waduk
penampungan
air
kali
Ciliwung.
Orang
Tionghoa
dan  keturunan  Tionghoa  menyebut  grojok  sebagai  glodok  karena
orang
Tionghoa
sulit
mengucap kata grojok
seperti
layaknya orang
pribumi. Menurut Alwi Shahab dalam bukunya “Betawi: Queen from
The East” tentang asal-muasal nama
“Glodok”. Konon nama Glodok
bermula
dari bunyi
air
‘grojok-grojok’ di
daerah
itu karena
semula
merupakan tempat pemberhentian dan pemberian
minum kuda–kuda
penarik beban. Namun menurut Mariah Waworuntu, seorang
pemerhati sejarah
dari
Universitas
Indonesia,
nama Glodok
berasal
  
8
dari kata grobak, tempat membawa dan menjual air dari Pancoran,
yaitu glodok.
Di kawasan Glodok dan sekitarnya inilah terdapat tempat dan
bangunan tua yang mempunyai nilai dan keterikatan dengan jejak
sejarah etnis Tionghoa
di
Jakarta. Tempat dan bangunan bersejarah
yang masih tersisa di kawasan ini antara lain: De Groot Kanaal (Kali
Besar), Jembatan Intan, Toko Obat Lay An Tong, Rumah Keluarga
Souw, Jalan Perniagaan, Gang Kali Mati, gedung kantor Harian
Indonesia, SMUN 19, Kelenteng Toa Se Bio (Hong San Bio), dan
Gereja Santa Maria Fatima.
Di Glodok inilah pelbagai grosir besar hingga pedagang eceran dapat
ditemui di kawasan yang membentang hingga wilayah Pinangsia
(dahulu  Financieren,  pusat  keuangan-Red)  di  timur,  Perniagaan,
Pasar Pagi, Asemka, dan Bandengan (dahulu Bacheragracht-Red) di
utara, tidak ketinggalan beragam kulinari juga tersedia di Glodok.
2.1.5.2 Pengertian Kuliner
Secara etimologis, kata kuliner berasal dari bahasa Latin ” culinarius”
(dari  kata  ”culina”)  dan  bahasa  Italia  “cucina”  yang  sama-sama
berarti
dapur.
Kuliner adalah sebuah seni
memasak.
Kata
“kuliner”
  
9
menunjukkan  suatu  hal  yang  berhubungan  dengan  masakan  atau
dapur. Kata ”dapur” itu sendiri tergantung pada tipe dan kondisinya,
misalnya mengenai bisnis, restoran, dan lain-lain.
2.4.4
Data Summatif
2.1.6.1 Perkembangan Dunia Kulinari di Glodok
Dunia kulinari tidak akan pernah berhenti, sebaliknya berputar terus
mengikuti perkembangan zaman. Dunia kulinari saat ini berkembang
sangat
pesat
dan
modern.
Para kulinari
pun
tidak
segan-segan
bereksperimen dengan memadukan cita rasa masakan. Ada yang
bereksperimen ”besar-besaran” tanpa menghilangkan cita rasa asli
masakannya. Ada pula yang memilih mengolah masakan sesuai
dengan resep dan budaya hasil tradisi turun-temurun.
Makanan khas dari daerah atau budaya tertentu pun ada yang semakin
menonjol, ada pula yang semakin tergusur. Demikian pula dengan
makanan khas budaya China yang ada di Glodok karena kawasan ini
termasuk dalam kawasan Pecinan (China Town) sejak VOC berkuasa
di
Batavia.
Di
sini
orang
bisa
menikmati
masakan khas
dari suku-
suku
di
daratan
China
seperti Hokkian, Hakka,
Tio
Ciu
dan
sebagainya.
  
10
Semua  masakan  itu  bisa  dinikmati  di  restoran  besar  atau  sekadar
kedai-kedai kecil
yang
tersebar
di beberapa
titik
seperti
di
samping
pusat belanja Gloria atau Petak Sembilan. Atau kalau mau berwisata
lebih jauh, kita bisa menikmati beberapa makanan ringan seperti otak-
otak, kerupuk kulit atau martabak di pinggiran kali Jalan Toko Tiga,
Pancoran. Kelezatan masakan-masakan
tersebut
akan serasa
lebih
nikmat kalau kita ikut merasakan nuansa bangunan-bangunan bergaya
arsitektur 
khas 
negeri 
Tiongkok 
yang 
masih 
berdiri 
di 
sekitar
kawasan. Namun sayang beberapa atribut khas tempat ini sudah
banyak yang dirubah sehingga nuansa China Town kawasan ini jadi
berkurang.
Tapi   kapan   sebenarnya   kawasan   wisata   kuliner   Pancoran   ini
terbentuk, tidak ada catatan pasti mengenai hal itu. Namun
diperkirakan kawasan tempat jajan ini tetap merupakan kawasan jajan
tertua di Jakarta karena sudah berdiri sejak awal
abad
20.
Keistimewaan kawasan jajan
ini tak hanya dari segi
usia
saja, sebab
menurut penuturan sejumlah tokoh senior di kawasan Glodok dan
sekitarnya, kawasan Pancoran juga merupakan tempat kegemaran dari
seorang  tokoh  kontroversial  seperti  Kapten  Raymond  Westerling,
yang telah membantai 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan. Tokoh penuh
sensasi
ini
konon
pernah
berdinas di
kawaan
yang dulu
merupakan
kawasan
pusat
kota
Batavia
ini.
Dan
ketika
dirinya
tidak
bertugas
  
11
(lepas  dinas),  dia  bersama  teman-temannya  kerap 
menghabiskan
waktu
untuk
bersantap
atau
sekadar
minum bis
di
kawasan
jajan
Pancoran ini.
Ternyata Pancoran juga bukan hanya menjadi tempat favorit
Westerling, hampir semua penduduk keturunan Eropa terutama
Belanda
yang
bermukim di
kawasan
Kota
Tua
kerap
menikmati
suasana pasar malam kawasan ini. Mereka berkumpul dan
becengkrama di kawasan Pancoran ini. Tokoh Belanda yang cukup
terkemuka yang kerap datang ke sana
adalah Dr Van Roijen yang
merupakan wakil Belanda dalam perundingan Roem-Roijen.
Konon tokoh ini kerap makan di Pancoran hingga akhir tahun 1950.
Kebiasaan masyarakat keturunan
Belanda
ini
kemudian
berangur-
angsur
berkurang
sejak
tahun
1952,
tepatnya ketika Indonesia dan
Belanda berseteru dalam masalah Irian Barat.
Sejak peristiwa itu gelombang anti-Belanda hingga tahun 1957 terus
berkobar. Bahkan akhirnya sejumlah perwakilan dagang Belanda
angkat kaki dari Indonesia. Dan kawasan Pancoran pun harus
mengalami imbasnya karena mereka kehilangan pelanggan setia dari
  
12
warga
keturunan
Belanda.
Namun demikian kawasan ini tetap
berkembang
menjadi
kawasan
kuliner yang diperhitungkan. Di era
tahun 1980-an, kawasan ini memasuki masa keemasan karena
sejumlah wisatawan dari Hongkong dan Singapura kerap datang ke
sana. Bahkan actor
laga, Wang Yu yang sangat terkenal di masa itu
sengaja datang ke kawasan Pancoran untuk menikmati hidangan khas
di sana.
Dari sekadar kue-kue tradisional, minuman ringan
hingga
"makanan
berat" dapat menjadi pilihan kita untuk melepas lelah di sana. Jenis
makanan  yang  disajikan  juga  sangat  beraneka  ragam,  ada 
yang
berasal 
dari 
suku 
Betawi, 
Padang,  Sunda  hingga 
masakan 
dari
berbagai pelosok negeri bisa kita cari di sini.
Namun masakan yang paling mendominasi adalah masakan khas
Tionghoa  karena  kawasan 
ini  termasuk  dalam  kawasan  Pecinan
(China Town) sejak VOC berkuasa di
Batavia. Di sini orang bisa
menikmati masakan khas dari suku-suku di daratan China seperti
Hokkian, Hakka, Tio Ciu dan sebagainya.
  
13
"Menurut cerita orang-orang tua
di
sini,
Pancoran
memang
merupakan tempat favorit bagi Westerling ketika dia berdinas di
Batavia dulu," ujar Jacky Sutiono, Wakil Ketua Paguyuban Kota Tua.
2.2 Karakteristik Buku
Jumlah menu makanan: 10 menu
Harga buku : Rp. 70.000,00
2.3  Produk
Jenis-jenis makanan yang tersedia di Glodok adalah:
1.   Mie Kangkung
2.   Pioh
3.   Bektim
4.   Ketupat Sayur
5.   Mipan
6.   Rujak juhi
7.   Rujak Shanghai
8.   Kuotieh
9.   Gado-gado
10. dan lain-lain
  
14
2.4 Analisis SWOT
1.   Strength
Glodok memiliki kuliner yang beraneka ragam dan unik.
Identitas  Glodok  sebagai  daerah  Pecinan  sudah  sangat  melekat  di
masyarakat
2.   Weakness
Keadaan Glodok yang kurang nyaman dan macet
Glodok 
lebih  terkenal  sebagai  pusat  elektronik  dan  DVD  bajakan
dibandingkan kulinernya
Daerah Glodok terkesan tidak terawat
3.   Opportunity
Glodok akan semakin dikenal masyarakat melalui kuliner uniknya.
Mempermudah
menarik
minat
masyarakat
melalui
pengenalan
ragam
kulinernya,
Mempermudah
mengenalkan
Glodok
karena
identitasnya
yang
sudah
cukup dikenal masyarakat.
4.   Threat
Kurangnya menarik minat masyarakat untuk berkunjung
Kebanyakan 
generasi 
muda 
menganggap 
bahwa  Glodok  hanyalah
tempat yang cocok untuk orang-orang tua. Hal ini mengakibatkan
Glodok
tidak
menjadi pilihan
dalam daftar
tempat
”patut dikunjungi”
oleh generasi muda.