|
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1.
Mikrokontroller AVR ATMega 8535
Mikrokontroller AVR merupakan keluarga mikrokontroler keluaran Atmel
yang di buat berdasarkan architecture RISC (Reduced Instruction Set Computing)
terbaru
untuk
meningkatkan kecepatan,
ukuran
program
dan
penggunaan
catu
daya.
AVR
telah berhasil
menggabungkan fast
access register
file
dan
single
cycle
instruction
dengan
32
register x
8
bit.
Dengan 32
register AVR
dapat
mengeksekusi beberapa
instruksi
sekali
jalan
(single
cycle),
hal
inilah
yang
membuat AVR relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan mikrokontroler 8 bit
lainnya. Enam dari 32 register yang ada dapat digunakan sebagai indirect address
register
pointer
16
bit
untuk
pengalamatan data
space,
yang
memungkinkan
penghitungan alamat
yang
efisien.
AVR
mempunyai
kecepatan
dari
0-16Mhz
bahkan
AVR
yang telah
ditambahkan beberapa alat
dapat
mencapai kecepatan
20Mhz. AVR merupakan mikrokontroller yang sangat powerful dan efisien dalam
addressing code karena AVR dapat mengakses pogram memori dan data memori.
AVR
secara
umum
terbagi
dua
jenis
yaitu high-voltage dan
low-voltage
performance untuk varian ATMega tersebut perbedaan dapat di lihat pada akhiran
nomor seri setiap AVR seperti tipe ATMega 8535 dan ATMega8535L. Setiap tipe
yang berakhiran L merupan versi low-voltage dari AVR yang artinya AVR
tersebut
dapat
bekerja
pada
tegangan 2,7
V.
Untuk
seri
ATTiny
sendiri
juga
terdapat dua jenis varian misalnya pada ATTiny 2313 dan ATTiny 2313V, pada
6
|
|
7
tipe
yang
berakhiran V
berarti
very
low
Voltage
yaitu
dapat
beroperasi pada
tegangan
dibawah
2,7V.
Secara
umum,
AVR
dapat
dikelompokkan menjadi
4
kelas,
yaitu
keluarga
ATTiny,
keluarga
AT90xx,
keluarga
ATMega, dan
AT86RFxx.
Pada
dasarnya
yang
membedakan
masing-masing kelas
adalah
memori,
perangkat, dan
fungsinya. Dari
segi
arsitektur
dan
instruksi
yang
digunakan, mereka bisa dikatakan hampir sama.
Penjelasan dari masing-masing pin dari ATMega 8535L adalah sebagai berikut :
a)
Pin
1
sampai 8
(Port
B)
merupakan
port parallel
8
bit
dua
arah (bi-
directional)
dengan resistor
pull-up
internal.
Port b
dapat
difungsikan
untuk berbagai keperluan general purpose dan special feature yaitu:
PB7 : SCK ( SPI Bus Serial Clock )
PB6 : MISO ( SPI Bus Master Input /Slave Ouput )
PB5 : MOSI ( SPI Bus Master Output /Slave Input )
PB4 : SS ( SPI Slave Select Input )
PB3 : AIN1 ( Analog Comparator Negatif Input )
OC0
( Output Compare Timer /Counter 0)
PB2 : AIN0 ( Analog Comparator Positif Input )
INT2 ( External Interupt 2 input )
PB1 : T1 ( Timer /Counter 1 External Counter Input )
PB0 : T0 ( Timer /Counter 0 External Counter Input )
XCK ( USART External Clock Input /Output)
|
|
8
b)
Pin 9 (Reset) jika terdapat minimimum pulse pada saat active low.
c)
Pin 10 (VCC) dihubungkan ke Vcc (2,7 5,5Volt).
d)
Pin 11 dan 31 (GND) dihubungkan ke Vss atau Ground.
e)
Pin 12 (XTAL 2) adalah pin
masukan ke rangkaian osilator
internal.
Sebuah osilator kristal atau sumber osilator luar dapat digunakan.
f)
Pin 13 (XTAL 1) adalah pin keluaran ke
rangkaian osilator
internal.
Pin ini dipakai bila menggunakan osilator kristal.
g)
Pin
14
sampai
21 (Port D)
adalah
8-bit
dua
arah
(bi-directional
I/O)
port dengan resistor pull-up internal. Selain sebagai I/O 8-bit juga bisa
digunakan untuk general purposee dan special feature seperti :
PD7 OC2 ( Output Compare Timer /Counter 2)
: OC2 ( Output Compare Timer /Counter 2)
PD6 ICP1 ( Timer /Counter 1 Input Capture )
: ICP1 ( Timer /Counter 1 Input Capture )
PD5 OC1A ( Ouput Compare A Timer /Counter 1)
: OC1A ( Ouput Compare A Timer /Counter 1)
PD4 OC1B ( Output Compare B Timer /Counter1 )
: OC1B ( Output Compare B Timer /Counter1 )
PD3 INT1 ( External Interrupt 1 Input )
: INT1 ( External Interrupt 1 Input )
PD2 INT2 ( External Interupt 0 input )
: INT2 ( External Interupt 0 input )
PD1 TXD ( USART transmit )
: TXD ( USART transmit )
PD0 RXD ( USART receive )
: RXD ( USART receive )
h)
Pin
22
sampai
29 (Port C) adalah
8-bit
dua
arah
(bi-directional I/O)
port dengan resistor pull-up
internal. Selain sebagai I/O 8-bit juga bisa
digunakan untuk general purpose dan special feature seperti :
PC7 TOSC2 ( Timer Oscillator 2 )
: TOSC2 ( Timer Oscillator 2 )
PC6 TOSC1 ( Timer Oscillator 1 )
: TOSC1 ( Timer Oscillator 1 )
|
![]() 9
PC1 SDA ( Serial Data Input /Output,I²
: SDA ( Serial Data Input /Output,I²
C )
PC0 SCL ( Serial Clock, I²C )
: SCL ( Serial Clock, I²C )
i)
Pin 30 adalah Avcc pin penyuplai daya untuk port A dan A/D converter
dan
dihubungkan ke
Vcc.
Jika
ADC
digunakan
maka
pin
ini
dihubungkan ke Vcc dengan low pas filter.
j)
Pin
32
adalah
A
REF pin
yang
berfungsi
sebagai
referensi
untuk
pin
analog jika A/D Converter digunakan.
k)
Pin 33 sampai 40 (Port
A) adalah
8-bit dua arah (bi-directional I/O)
port dengan resistor pull-up
internal. Selain sebagai
I/O 8 bit, port A
juga dapat berfungsi sebagai masukan 8 channel ADC.
Gambar 2.1 Konfigurasi Pin Mikrokontroller AVR ATMega 8535L
|
|
10
Keistimewaan dari AVR ATMega 8535 Low Power:
-
8 bit CPU sebagai pusat pengendalian aplikasi.
-
Mempunyai 130 instruksi.
-
32 register umum yang terhubung dengan ALU (Arithmetic Logic Unit).
-
Kemampuan memproses instruksi sampai 16 MIPS (Million Instruction
Per Second) pada 18MHz.
-
Memiliki 8 Kbyte untuk Flash dalam untuk menyimpan program dan
dapat ditulis ulang hingga 10.000 kali.
-
Memiliki 512 Bytes EEPROM dengan endurance : 100,000 Write/Erase
Cycles.
-
Memiliki 512
Bytes
Internal
SRAM
(Static
Random
Access
Memory)
digunakan untuk menyimpan sementara data dari program flash.
-
ADC (Analog To Digital Converter) internal
dengan
fidelitas 10 bit
sebanyak 8 channel.
-
32 jalur I/O (Input/Output) yang terpisah dalam empat port yaitu A, port
B, port C, dan Port D.
-
16 bit timer/counter dan 8 bit timer/counter.
-
Full Duplex Universal Synchronous Asynchronous Receiver Transmitter
(USART).
-
RTC (Real Time Clock) dengan osilator terpisah.
-
SPI (Serial Peripheral Interface) untuk komunikasi serial yang memiliki
kecepatan yang relatif tinggi pada jarak dekat.
-
Enam pilihan mode sleep menghemat penggunaan daya listrik.
|
![]() 11
-
Watchdog timer yang dapat diprogram dengan osilator internal.
-
Dapat beroperasi pada tegangan 2,7 5,5V.
2.1.1
Interupsi
Interupsi adalah
kondisi
yang
mengharuskan
mikrokontroler
menghentikan sementara
eksekusi
program
utama
untuk
mengeksekusi rutin
interrupt
tertentu
/
Interrupt
Service
Routine
(ISR)
Setelah
melaksanakan ISR
secara
lengkap,
maka mikrokontroler akan
kembali
melanjutkan
eksekusi
program utama yang tadi ditinggalkan.
Gambar 2.2 Eksekusi Program Tanpa Interupsi
Gambar 2.3 Eksekusi Program dengan Interupsi
|
![]() 12
Tabel 2.1 Interrupt Vector pada ATMega 8535L
Vector
No
Program
Address
Source
Interrupt Definition
1
0x0000
RESET
External Pin, Power-on Reset,
Brown-out Reset and Watchdog
Reset
2
0x0001
INT0
External Interrupt Request 0
3
0x0002
INT1
External Interrupt Request 1
4
0x0003
TIMER2 COMP
Timer/Counter2 Compare Match
5
0x0004
TIMER2 OVF
Timer/Counter2 Overflow
6
0x0005
TIMER1 CAPT
Timer/Counter1 Capture Event
7
0x0006
TIMER1
COMPA
Timer/Counter1 Compare Match A
8
0x0007
TIMER1
COMPB
Timer/Counter1 Compare Match B
9
0x0008
TIMER1 OVF
Timer/Counter1 Overflow
10
0x0009
TIMER0 OVF
Timer/Counter0 Overflow
11
0x000A
SPI, STC
Serial Transfer Complete
12
0x000B
USART, RXC
USART, Rx Complete
13
0x000C
USART, UDRE
USART Data Register Empty
14
0x000D
USART, TXC
USART, Tx Complete
15
0x000E
ADC
ADC Conversion Complete
16
0x000F
EE_RDY
EEPROM Ready
|
![]() 13
17
0x0010
ANA_COMP
Analog Comparator
18
0x0011
TWI
Two-wire Serial Interface
19
0x0012
INT2
External Interrupt Request 2
20
0x0013
TIMER0 COMP
Timer/Counter0 Compare Match
21
0x0014
SPM_RDY
Store Program Memory Ready
2.1.2
Timer / Counter
A.
Prescaler
Timer
pada
dasarnya
hanya
menghitung pulsa
clock.
Frekuensi
pulsa
clock yang dihitung tersebut
bisa sama dengan
frekuensi
crystal
yang
dipasang
atau
dapat
diperlambat
menggunakan prescaler
dengan
faktor 8, 64,
256 atau
1024.
Sebuah
AVR
menggunakan
kristal
dengan
frekuensi
8
MHz
dan
timer
yang
digunakan
adalah
timer
16
bit,
maka
maksimum waktu
timer
yang
bisa
dihasilkan adalah :
..........................................................................(2.1)
Untuk
menghasilkan
waktu
timer
yang
lebih
lama
dapat
digunakan prescaler,
misalnya 1024, maka maksimum waktu timer yang bisa dihasilkan adalah :
.................................................................(2.2)
|
![]() 14
Ketika prescaler digunakan, waktu timer dapat diperpanjang
namun
tingkat ketelitiannya menjadi turun.
Misalnya dengan prescaler 1024
nilai timer
akan bertambah 1 setiap kelipatan 1024 pulsa dan membutuhkan waktu 1/fCLK x
1024
=
0.125uS
x
1024
=
128
uS
bandingkan
tingkat
resolusi
ini
jika
tanpa
prescaler (0.125uS).
B.
Timer 16 Bit Normal Mode
Pada
mode
normal,
TCNT1
akan
menghitung naik dan
membangkitkan
interrupt
Timer/Counter
1
ketika
nilainya berubah dari
0xFFFF
ke
0x0000.
Seringkali
penggunaan
timer
dianggap
cukup
dengan
memasukkan nilai
yang
diinginkan ke
TCNT1 dan menunggu sampai
terjadi
interrupt. Ini
menjadi benar
pada timer yang menghitung mundur,
tetapi untuk timer yang
menghitung maju,
maka diharuskan memasukkan nilai 65536-(timer value) ke dalam TCNT1.
Gambar 2.4 Blok Diagram Timer 16 Bit
|
|
15
2.1.3
Serial USART AVR
Universal
Synchronous Asynchronous
Serial
Receiver
and
Transmitter
(USART)
merupakan
protokol
komunikasi serial
yang
terdapat
pada
mikrokontroler AVR.
Serial
USART
biasa
digunakan
untuk
membuat
mikrokontroler dapat
berhubungan
dengan
perangkat
luar
lainnya.
Fasilitas
USART
dapat
dimanfaatkan
untuk
menghubungkan mikrokontroler
dengan
perangkat PC, handphone, GPS
atau bahkan
modem,
dan banyak
lagi
peralatan
yang dapat dihubungkan dengan mikrokontroler.
Komunikasi
dengan
menggunakan USART
dapat
dilakukan
dengan dua
cara. Yang pertama adalah dengan menggunakan mode sinkron dimana pengirim
data
mengeluarkan pulsa/clock untuk
sinkronisasi
data,
dan
yang
kedua
dengan
mode asinkron,
dimana
pengirim
data tidak mengeluarkan
pulsa/clock, tetapi
untuk proses sinkronisasi
memerlukan inisialisasi, agar data
yang diterima sama
dengan
data
yang
dikirimkan.
Pada
proses
inisialisasi
ini
setiap
perangkat
yang
terhubung harus memiliki baud rate (laju data ) yang sama.
A.
Baud Rate
Untuk standard kristal dan frekuensi resonansi, baud rate yang yang paling
sering digunakan untuk operasi asinkron dapat di
generalisasikan
menggunakan
seting
UBBR. Rating error
yang tinggi
masih bisa diterima, tetapi receiver akan
punya
resistansi noise
yang
sedikit
pada
saat
error
rating
yang
tinggi.
Untuk
menghitung
nilai
error
dapat digunakan
dengan
memakai
persamaan
di
bawah
ini:
|
|
16
B.
Inisialisasi USART
......................................(2.3)
Berikut
register
yang
perlu
disetting
untuk
mengatur
komunikasi serial
USART
:
UBRR
(USART
Baud
Rate
Register)
digunakan
untuk
menentukan
baud rate USART dengan rumus
:
UBRR = (fosc / 16 x baudrate) - 1; UCSRB
(USART
Control
and
Status
Register
B)
digunakan untuk
mengaktifkan
penerimaan dan pengiriman data
USART;
UCSRC
(USART Control and
Status
Register C) digunakan untuk mengatur mode komunikasi USART.
C.
Pengiriman Data
Pengiriman data
dilakukan per byte
menunggu
UDR
(USART
I/O
data
register) kosong
(UDR
register
tempat
menyimpan data
USART,
menjadi
satu
dengan register
UBRR). Jika
kosong,
maka
bit
UDRE
(USART
Data
Register
Empty)
pada
UCSRA
akan
set,
sehingga siap
menerima data
baru
yang
akan
dikirim.
D.
Penerimaan Data
Penerimaan data dilakukan dengan memeriksa bit
RXC (USART Receive
Complete) pada register UCSRA (USART Control and Status Register A). RXC
akan set 1 jika ada data yang siap dibaca. Data yang diterima akan disimpan pada
register UDR.
|
![]() 17
2.1.4
Two-wire Serial Interface
Two-wire
Serial Interface
(TWI)
adalah protocol
yang memperbolehkan
system designer untuk menghubungkan hingga 128 devices berbeda menggunakan
hanya
TWI bi-directional bus lines,
satu
untuk
clock (SCL) dan
satu
lagi
untuk
data
(SDA).
Satu-satunya external
hardware
yang
dibutuhkan
untuk
mengimplementasi busnya adalah sebuah pull-up
resistor
untuk
setiap
jalur
bus
TWI.
Semua
device
yang
terhubung
ke
bus
memiliki
alamatnya sendiri,
dan
mekanisme untuk memecahkan permasalahan bus terdapat pada protocol TWI.
Gambar 2.5 TWI Bus Interconnection
Tabel 2.2 Nilai Pull-up resistor yang digunakan pada jalur TWI
Condition
Min
Max
f
SCL
=
100 kHz
f
SCL
>
100 kHz
Ket : C
b
=
kapasitas pada satu garis jalur dalam pF
|
![]() 18
A.
Mengirimkan data
Setiap
bit
data
yang
dikirim
pada
TWI
bus
didampingi
dengan
sebuah
pulse pada jalur clock. Level tegangan pada jalur data harus stabil saat jalur clock
dalam
kondisi high.
Satu-satunya pengecualian dari
peraturan
ini
adalah
untuk
menghasilkan kondisi START dan STOP.
B.
Kondisi START dan STOP
Master memulai dan mengakhiri pengiriman data. Pengiriman dimulai saat
master
mengeluarkan kondisi
START
pada
bus,
dan
diakhiri
pada
saat
master
mengeluarkan kondisi STOP. Diantara kondisi START dan STOP, jalur
dinyatakan sibuk dan tidak ada master lain yang mencoba untuk merampas
control
bus.
Masalah khusus
muncul
saat sebuah kondisi START
baru
muncul
diantar kondisi
START
dan
STOP.
Hal
ini disebut
kondisi
REPEATED
START,
dan
digunakan saat
master
menginginkan
memulai pengiriman baru tanpa
melepas
control
bus.
Setelah sebuah
REPEATED
START,
bus
menjadi sibuk
sampai STOP
berikutnya. Kondisi
START
dan STOP
ditandai
dengan
merubah
level dari jalur SDA saat jalur SCL high.
Gambar 2.6 Kondisi START, REPEATED START, dan STOP
|
![]() 19
C.
Format paket data
Semua paket data yang dikirim pada jalur TWI memiliki panjang sembilan
bit, berisikan satu byte data dan sebuah bit acknowledge. Selama sebuah transfer
data,
master
menghasilkan
clock
dan
kondisi START
dan
STOP,
saat
penerima
bertanggung jawab
untuk
men-acknowledge
yang
ditangkap.
Sebuah
Acknowledge
(ACK)
ditandai dengan penerima membuat jalur SDA low selama
putaran
SCL
kesembilan. Jika
penerima
membiarkan jalur
SDA
high
itu
menandakan
NACK.
Saat
penerima
menerima
byte terakhir, atau
untuk sebab
lain tidak dapat menerima byte lagi, penerima harus memberitahu pengirim
dengan
mengirimkan
sebuah
NACK
setelah
byte
terakhir.
MSB
dari
byte
data
dikirim pertama.
Gambar 2.7 Format Paket Data
|
![]() 20
2.2.
Pulse Width Modulation (PWM)
Gambar 2.8 Pulsa PWM dengan perbandingan kondisi High dan Low
Berdasarkan
apabila
ingin
membuat kecepatan
motor DC berubah ubah dari Rotation Per Minute (Rpm) tinggi ke Rpm rendah,
hal
yang biasa
dilakukan adalah dengan cara menurunkan
level
tegangannya ke
tegangan yang lebih kecil. Cara seperti itu bukanlah ide yang baik karena dengan
menurunkan
level
tegangan,
maka
torsi dari
motorpun akan
semakin berkurang
sehingga apabila diaplikasikan untuk penggunaan beban yang berat akan menjadi
kurang
maksimal. Pulse
Width
Modulation
(PWM)
adalah
konsep
yang
bisa
digunakan
untuk
mengatur
kecepatan
motor dengan
menggunakan
pulsa
digital
untuk membuat beberapa nilai yang analog selain dari hanya level sinyal high dan
low. Dengan mengatur mode on dan off motor secara simultan dan apabila mode
tersebut
dilakukan
secara
cepat,
maka
akan
didapatkan kecepatan
motor
yang
diinginkan.
|
![]() 21
2.2.1
Implementasi PWM pada AVR
PWM
dapat
dibangkitkan
pada
mikrokontroler AVR
dengan
cara
menggunakan timer
dan
frekuensi
clock
yang
ada
pada
AVR
tersebut.
Pada
mikrokontroler AVR atmega 8 frekuensi clock mendekati sampai 1 MHz.
..(2.4)
Untuk mendapatkan frekuensi yang diinginkan dapat dengan cara merubah clock
timer dengan menggunakan prescaler :c
..............................................................(2.5)
Dalam pengimplementasian pada AVR ada beberapa
variable
yang dibutuhkan
untuk dapat membangkitkan PWM :
-
TOP : Jumlah dari siklus clock selama satu waktu periode PWM
.(2.6)
-
OCR: Jumlah dari siklus clock pada saat periode PWM ( output
compare register )
(2.7)
-
Timer_value
:
nilai dari timer yang
menghitung dari top ke zero dan
zero ke top pada setiap siklus.
Periode waktu untuk gelombang kotak ditentukan dengan 2 variabel T
clk
danTOP
sehingga Periode waktu tersebut didapatkan dengan menggunakan rumus:
.
.(2.8)
atau
...
(2.9)
|
![]() 22
Nilai dari periode waktu yang diinginkan bisa didapatkan dengan mengatur
control
bit
didalam
kontrol
register
pada
kedua
variabel
tersebut.
Pengaturan
dalam
PWM
menggunakan duty
cycle
yaitu
fraksi
waktu
sinyal
pada
keadaan
logika high dalam satu
siklus.
Duty cycle digambarkan sebagai persen dari
nilai
digital high ke nilai digital low yang menunjukkan suatu periode PWM.
.
.(2.10)
Untuk
mengetahui output PWM bisa didapatkan dari perbandingan timer
value
dan OCR.
Apabila timer value lebih besar dari OCR maka output PWM adalah
low, sebaliknya bila timer value
lebih kecil dari OCR maka output PWM adalah
high. Kebanyakan sistem digital menggunakan tegangan sebesar 5-volt dari power
supply,
sehingga jika
mem-filter
suatu
sinyal
yang
memiliki 50%
duty
cycle,
dapat diperoleh tegangn rata-ratanya dari 2.5 volt.
Gambar 2.9 Pulsa PWM dengan Duty Cycle yang berbeda
2.3.
Regulator Tegangan (LM 2576 , LM 7805 dan AIC 1734 33)
Regulator
tegangan
LM 2576 dipergunakan
untuk mendapatkan
tegangan stabil 5V dengan
arus
maksimal 3A.
Regulator
tegangan LM
7805
|
![]() 23
dipergunakan untuk
mendapatkan tegangan stabil 5V dengan arus
maksimal 1A.
Regulator tegangan
AIC
1734
33
dipergunakan untuk
mendapatkan
tegangan
stabisl 3.3V dengan arus maksimal 300mA.
2.3.1 LM 2576
Fitur- fitur pada regulator LM-2576:
Output bisa mencapai 3A
Adjustable output yang bias diatur dari 3,3V 15V
Thermal shutdown dan proteksi pembatas arus
Kemampuan shutdown TTL, dan daya yang rendah pada mode standby
Efisiensi tinggi
Membutuhkan hanya 4 komponen eksternal
Berikut contoh rangkaian regulator tegangan dengan LM-2576:
Gambar 2.10 Contoh Rangkaian Regulator Tegangan dengan LM-2576HV
2.3.2 LM 7805
Fitur- fitur pada regulator LM 7805:
Output bisa mencapai 1A
|
![]() 24
Tegangan output pada 5V
Thermal Overload Protection
Short Circuit Protection
Output Transistor Safe Operating Area Protection
Berikut contoh rangkaian regulator tegangan dengan LM-7805:
Gambar 2.11 Contoh Rangkaian Regulator Tegangan dengan LM-7805
2.3.3
AIC 1734 33
Regulator
AIC
1734
33
mampunyai tiga
kaki
yang
tiap
kakinya
mempunyai
fungsi
yang
berbeda-beda yang
teridiri
dari
1
kaki
input,
1
kaki
ground, dan 1 kaki output. Fitur- fitur pada regulator AIC 1734 - 33:
Output bisa mencapai 300 mA
Tegangan output pada 3.3V
Pembatasan arus dan suhu
Hanya membutuhkan kapasitor 1 µF untuk kestabilan output
Berikut contoh rangkaian regulator tegangan dengan AIC 1734-33:
|
![]() 25
Gambar 2.12 Rangkaian Regulator Tegangan dengan AIC 1734-33
2.4.
Radio Frequency Identification Device (RFID)
Radio
Frekuensi
Identification
Device
(RFID)
adalah suatu
perangkat
teknologi
komunikasi yang
bekerja
secara
wireless.
RFID
memungkinkan
pengguna untuk mengidentifikasi objek tag dengan menggunakan frekuensi radio.
Cara kerja dari
RFID adalah
mendeteksi dan
mengidentifikasikannya tag dengan
menggunakan
reader,
kemudian
mentransmisikan data
hasil
baca
ke
komputer
host atau perangkat perangkat yang lainnya untuk diproses
lebih lanjut. Secara
umum,
terdapat
beberapa
bagian
penting
dalam
RFID
yang
digunakan
dalam
suatu sistem yaitu reader, tag, dan host (controller).
2.4.1
Readers RFID
Sebuah Reader RFID adalah benar-benar radio, seperti yang ada di dalam
mobil,
yang
membedakan adalah Reader
RFID
mengambil menggunakan signal
analog bukan
hip-hop.
Reader-nya
menghasilkan listrik
yang
mengalir
melalui
kabel,
listrik tersebut
mengenai
sebagian
logam
pada
antena
dan
mengeluarkan
sinyal dengan nilai frekuensi dan panjang gelombang tertentu.
|
|
26
Reader
tidak
hanya
menghasilkan sinyal
yang
dikirim
melalui
antena
ke
angkasa,
tetapi
juga
mendengarkan respon
dari
tag
sehingga
reader
merupakan
penjembatan antara tag RFID dan modul controller. Reader RFID pada dasarnya
adalah piranti komputer mini yang terdiri dari tiga bagian: antena, modul RF yang
bertugas
untuk
berkomunikasi dengan
tag
RFID
dan
modul
controller
yang
bertugas
untuk
berkomunikasi dengan
controller.
Selain
sebagai
interrogator,
reader juga berfungsi sebagai pemberi daya (untuk tag pasif) dan menuliskan data
ke
dalam
tag
(untuk
smart
tag).
Reader
RFID
mengirimkan dan
menerima
gelombang analog dan
mengubah mereka
menjadi untaian
nol dan satu, bit dari
informasi digital.
2.4.2
Tag
Tag dapat bekerja dengan mengambil tenaga dari energi gelombang radio
yang
dipancarkan oleh
reader.
Fungsi
dari
tag
adalah
memberikan tanggapan
kepada
reader
dengan
mengirimkan sinyal
kembali
sesaat
setelah
reader
mengirimkan sinyal radio ke udara.
Tag RFID dibuat dari dua bagian dasar: chip, atau integrated circuit (IC),
dan antenna. chip adalah sebuah komputer kecil yang menyimpan nomor seri unik
dari chip. Chip juga memiliki
logika untuk
memberitahu dirinya apa
yang harus
dilakukan
saat
berada
didepan
reader.
Antena
memungkinkan chip
untuk
menerima
tenaga dan
berkomunikasi,
memungkinkan
tag
RFID
untuk bertukar
data dengan reader.
Tipe komunikasi
yang
mengijinkan perpindahan ini
terjadi
|
|
27
disebut
backscatter.
Reader
mengirimkan
gelombang elektromagnetik pada
satu
frekuensi
yang spesifik.
Gelombang
itu
mengenai Tag
RFID,
dan tag kemudian
Scatters
back
gelombangnya dengan
frekuensi
berbeda
dengan
menyandikan
informasi dari chip pada gelombang backscatter tersebut.
(Sweeney, 2005, p20)
Tag RFID terdiri dari tiga jenis yaitu:
-
Active Tag mempunyai power supply on-board seperti baterai. Ketika tag
ingin
mentransmisi data
ke
reader,
tag
mengambil
daya
dari
baterai
tersebut
untuk
mentransmisikan datanya.
Karena
itu,
active
tag
dapat
berkomunikasi dengan reader yang hanya mempuyai daya kecil dan dapat
mentransmisikan informasi dalam range yang lebih jauh hingga mencapai
10 kaki.
-
Semi
Passive
Tag,
mempunyai
baterai
terintegrasi
dan
oleh
karena
itu
tidak
memerlukan energi
dari
medan pembaca
untuk
menggerakkan chip
itu. Ini memungkinkan tag
untuk berfungsi dengan tingkatan sinyal
yang
lebih rendah, menghasilkan yang
lebih besar sampai 100 meter. Jaraknya
terbatas
karena
tak
tidak
mempunyai pemancar
terintegrasi,
dan
masih
perlu
menggunakan medan
pembaca
untuk
komunikasi
kembali
ke
pemancar itu.
-
Passive Tag, tidak mempunyai power supply on-board. Tag ini
mendapatkan daya untuk mentransmisikan data dari sinyal yang
dikirimkan dari reader. Oleh karena
itu
ukurannya lebih kecil dan
lebih
|
![]() 28
lebih
murah
dari
active
tag.
Tetapi
range
dari passive
tag
lebih
dekat
dibandingkan dengan active tag hanya 2 kaki saja.
Di bawah
ini merupakan tabel penjelasan secara
spesifik antara tag RFID
aktif dan tag RFID pasif.
Tabel 2.3 Perbedaan antara Active tag dan Passive tag
Active Tag
Passive Tag
Sumber energi tag
Dari internal ke tag
Energi
dikirim
menggunakan
frekuensi
radio dari reader
Baterai tag
Ya
Tidak
Keperluan
sinyal
kuat dari tag
Sangat kecil
Sangat besar
Jarak
Di atas 100 m
Antara 3-5 m
Kemampuan
baca
tag
Pengenalan
1000
buah
tag
lebih dari 100 mph
Beberapa ratus tag
dapat
dibaca
dalam
jarak 300m
dari reader
Penyimpanan data
Lebih dari
128
KB
atau
baca /
tulis dengan
pencarian
yang canggih dan
pengaksesan
128 Bytes dari tulis/baca
Ketersediaan
Terus menerus
Hanya
dalam
daerah
|
![]() 29
energi
jangkauan reader
Tag RFID
adalah piranti
yang
akan
menjadi
pengganti barcode
di
masa
yang
akan
datang.
RFID punya
kemampuan
untuk
membaca
informasi
tanpa
harus memerlukan kontak karena di dalam bagian tag terdapat rangkaian modern
yang
terintegrasi. Perbedaan
lain
yang
membuat
RFID
lebih
unggul dibanding
denga barcode adalah fitur RFID yang jauh lebih baik dalam hal teknis.
Tabel 2.4 Perbandingan Teknologi Barcode dengan RFID
Barcode
RFID
Transmisi data
Optik
Elektromagnetik
Ukuran data
48 bit (Code-39)
64-80 bit
Modifikasi data
Tidak bisa
Bisa & tidak bisa
Posisi pembawa data
Kontak cahaya
Tanpa kontak
Jarak komunikasi
Dari cm sampai meter
Dari cm sampai km
Supseptibilitas
Lingkungan
Debu
Dapat diabaikan
Pembacaan jarak
Tidak bisa
Bisa
|
![]() 30
2.4.3
ISO/IEC JT1/SC17
International
Organization
for Standardization
(ISO)
telah bekerjasama
dengan International Electrotechnical Commission (IEC) untuk membuat standar
untuk mengidentifikasi kartu dan alat yang berhubungan.
Tabel 2.5 ISO/IEC Standart Identifikasi Kartu
Standard
Tipe dari ID Card
Hal yang dibahas
ISO/IEC 10536
mengidentifikasi
kartu
contactless
integrated
circuit(s) cards
Smart identification
cards, menggunakan
RFID pada 13.56 MHz
Part 1: karakter fisik
Part 2: dimensi dan letak dari
area coupling
Part 3: Sinyal elektronik dan
prosedur reset
Part 4: Protokol untuk
menjawab reset dan kiriman
ISO/IEC 14443
mengidentifikasi
kartu Proximity
integrated
circuit(s) cards
Smart identification
cards dengan jarak
panjang (hingga 1
meter), menggunakan
RFID pada 13.56 MHz
Part 1: karakter fisik
Part 2: Interface udara
Part 3: Inisialisasi dan
anticollision
Part 4: Protocol pengiriman
ISO/IEC 15693
Contactless
Integrated
circuit(s) cards
Vicinity cards
Part 1: karakter fisik
Part 2: Interface udara dan
inisialiasi
Part 3: Protocol anticollison
dan pengiriman
|
|
31
ISO
10536,
14443,
dan
15693
mencakup
karakter
fisik,
interface
udara
dan
inisialisasi,
dan
protocol
anticollision
dan
pengiriman dari
Vicinity
cards
(contactless
Intergrated
circuit
cards, juga
dikenal
sebagai
Smart identification
cards). Mereka juga digunakan pada proximity cards, cakupan area seperti tenaga
frekuensi
radio
dan
interface
signal. Tag
pada smart
card
ini
dapat
digunakan
pada
beberapa
aplikasi
sehingga
pada
satu
kartu
yang
sama
dapat
digunakan
untuk akses masuk, login computer, dan pembayaran kantin.
2.4.4
RFID SL030
RFID SL030 adalah modul RFID yang mempunyai fungsi untuk membaca
dan juga
menulis suatu tag. Module RFID
ini berkomunikasi ke modul kontroler
dengan menggunakan komunikasi serial I
2
C. Konsep komunikasi I²C pada modul
RFID ini menggunakan dua buah jalur , yaitu (Serial Data Line) SDA dan (Serial
Clock Line) SCL.
Fitur fitur yang disediakan oleh modul RFID SL030:
-
Support terhadap tag : Mifare 1K, Mifare 4K, Mifare UltraLight
-
Deteksi tag secara auto
-
Built in antenna
-
Komunikasi bus I
2C
dari 0 400KHz
-
VDD beroperasi pada DC2,5V sampai DC3,6V dan toleransi pin I/O 5V
-
Bekerja pada arus kurang dari 40mA @ 3,3V
-
Power down current kurang dari 10uA
|
![]() 32
-
Jarak operasi deteksi : sampai 50mm
(tergantung dari tag)
Pada
modul
RFID
SL030
terdapat pin
I/O
sebanyak 6
buah
dengan
kegunaan
masing
masing.
Penjelasan dari
setiap
pin
modul
RFID
dijelaskan
pada
Tabel 2.6
dan
untuk
gambar
dari
modul
RFID SL030 bisa
dilihat seperti
pada Gambar 2.13
Tabel 2.6 Deskripsi pin dari modul RFID SL030
PIN
SIMBOL
TIPE
DESKRIPSI PIN
1
VDD
PWR
Suplai tegangan dari
DC2,5V - DC3,6V
2
IN
Input
Falling edge
mengaktifkan SL030 dari
mode
power down
3
SDA
Input/Output
Serial Data Line
4
SCL
Input
Serial Clock Line
5
Out
Output
Tag Detect Signal
Low level indicating tag in
High level indicating tag out
6
GND
PWR
Ground
7
NC
8
NC
9
NC
10
NC
|
![]() 33
Gambar 2.13 Konfigurasi pin modul RFID SL030
2.4.5
Format Command Pada Modul RFID SL030
Untuk
bisa
mengirimkan data
dari
host
ke
ke
modul
RFID
ataupun
sebaliknya,
terdapat
format
pengiriman
data
yang
harus diperhatikan
mengikuti
format
yang
didukung oleh
modul
RFID
SL030.
Beberapa format
deskripsi
command yang digunakan adalah sebagai berikut :
-
Host Write Command to SL030:
Karena modul RFID SL030 memakai komunikasi I²
C, maka untuk bagian
address panjang datanya adalah 1 byte yaitu 7 bit pertama adalah addres
dan
1
bit
terakhir
adalah
read/write
bit.
Apabila
host
ingin
melakukan
write command, maka addres harus bernilai 0xA0 yang apabila dijadikan
ke
biner
maka
bit
terakhirnya bernilai
0
yang
artinya
adalah
untuk
menandakan fungsi write. Len adalah length byte yaitu byte yang dihitung
|
|
34
mulai dari command code sampai pada byte terakhir dari data. Command
adalah
jenis
perintah
yang dikirimkan
dari
host
ke
modul
RFID
SL030.
Untuk
bagian
data adalah panjang byte
data
yang
akan
di
kirimkan
ke
modul RFID.
-
Host Read The Result:
Pada
saat
host
mengirimkan perintah
kepada
modul
SL030,
maka
selanjutnya akan ada balasan dari modul SL030 ke host. Hasil dari balasan
itulah
yang
menjadi
host
read
the
result.
Format
data
yang
dikirimkan
oleh
modul
RFID
SL030
mempunyai address,
length
byte,
command,
status,
dan
data.
Untuk
read panjang address
adalah
1
byte
yaitu
7
bit
pertama adalah addres dan 1 bit terakhir adalah read/write bit. Pada saat
host
membaca,
maka
modul
RFID
akan
memberikan balasan
address
dengan
nilai
0xA1
yang
apabila dijadikan
ke
biner
maka
bit terakhirnya
bernilai 1
yang artinya adalah untuk
menandakan fungsi
read. Len adalah
length
byte yaitu
byte
yang
dihitung mulai
dari command
code,
status,
sampai pada
byte
terakhir
dari data.
Command
adalah
byte
yang
isinya
perintah
yang
akan
dikirimkan. Status
adalah
bagian
yang
menyatakan
status pembacaan dari modul RFID
yang bisa dilihat pada Tabel 2.8. Data
sendiri adalah data balasan yang dikirimkan kembali ke host.
|
![]() 35
Tabel 2.7 Command Overview dari modul RFID SL030
Command
Description
0x01
Select Mifare card
0x02
Login to a sector
0x03
Read a data block
0x04
Write a data block
0x05
Read a value block
0x06
Initialize a value block
0x07
Write master key (key A)
0x08
Increment value
0x09
Decrement value
0x0A
Copy value
0x10
Read a data page (ultra_light)
0x11
Write a data page (ultra_light)
0x50
Go to Power Down mode
Tabel 2.8 Status Overview dari modul RFID SL030
Status
Description
0x00
Operation success
0x01
No tag
0x02
Login success
0x03
Login fail
0x04
Read fail
|
![]() 36
0x05
Write fail
0x06
Unable to read after write
0x0A
Collision occur
0x0C
Load key fail
0x0D
Not authenticate
0x0E
Not a value block
Command
list adalah perintah perintah yang bisa diberikan
kepada
modul
SL030.
Perintah
perintah
tersebut
mencakup beberapa
fungsi
khusus
untuk mengakses modul SL030.
A. Select Mifare Card
Command ini digunakan untuk
mengetahui jenis dan tipe tag yang
dipakai.
Dimulai
dari
host
mengirimkan
perintah
select
mifare
card
dengan
set
nilai
0x01,
kemudian
host akan
mendapatkan respon dari
modul SL030 berupa
status hasil pembacaan, beserta serial number dan tipe tag. Status yang ada pada
saat host melakukan read adalah sebagai berikut:
0x00:
Operation success
0x01:
No tag
0x0A: Collision occur
|
![]() 37
Serial number dari tag akan terdeteksi apabila operasi berhasil dijalankan. Untuk
Mifare Standard dan Mifare ProX besar memorinya adalah 4 bytes, untuk Mifare
Ultralight dan Mifare DesFire adalah sebesar 7 byte. Tipe tag yang diketahui oleh
modul SL030 adalah sebagai berikut :
0x01:
Mifare Standard 1K card
0x02:
Mifare Pro card
0x03:
Mifare UltraLight card
0x04:
Mifare Standard 4K card
0x05:
Mifare ProX card
0x06:
Mifare DesFire card
B. Login to a sector
Untuk
bisa
mengakses
informasi yang
ada
di
dalam tag,
harus
login
terlebih
dahulu
ke
dalam
sektor
yang
dipakai.
Untuk
itu
yang
harus
dikirimkan
oleh host ke modul SL030 adalah:
Dalam
setiap
sektor
terdapat
masing
masing
4
blok.
Blok
ke
3
dari
setiap
sektor
digunakan
untuk
key
A, acces
bits,
dan
key
B.
Untuk
dapat
login
ke
sektor
maka
dibutuhkan tipe key yaitu 0xAA untuk key A, dan 0xBB untuk
key B.
Untuk key
sendiri adalah banyaknya byte dalam satu key yaitu 6 byte.
Balasan
dari
modul
SL030
ke
host
akan
memberikan
status
berupa
informasi
dari
hasil membaca tag yaitu :
|
![]() 38
Untuk jenis status yang bisa dikirmkan ke host dari modul RFID adalah sebagai
berikut :
0x02: Login success
0x01: No tag
0x03: Login fail
0x0C: Load key fail
C. Read a data block
Pada tag
RFID
Dari 4
blok yang terdapat dalam setiap sektor terdapat 3
blok
yang bisa dipakai
sebagai data. Untuk dapat
membaca data blok
maka
host
mengirimkan
perintah
ke
modul
SL030
dengan
menggunakan
command
0x03
yang artinya read a data block yang kemudian diikuti blok yang ingin dibaca oleh
host.
Setelah
modul
SL030
menerima
perintah,
maka
selanjutnya memberikan
balasan kembali ke host yaitu status dari operasi baca tag tersebut dan juga data
sepanjang 16
byte
dari blok
yang
diminta oleh
host. Status
yang
terdapat
pada
fungsi read a data block adalah sebagai berikut :
0x00: Operation success
0x04: Read fail
|
![]() 39
0x0D: Not authenticate
0x01: No tag
D. Write a data block
Untuk dapat menulis blok yang ada di setiap sektor tag RFID,
maka host
mengirimkan
perintah
ke
modul
SL030
dengan
menggunakan
command
0x04
yang artinya write data block. Kemudian host juga mengirimkan blok yang mana
yang
ingin ditulis dan juga data sebesar 16
byte
yang
ingin dituliskan ke dalam
blok tersebut. Setelah modul SL030 menerima perintah dari host dan menjalankan
perintah tersebut,
maka
selanjutnya
memberikan balasan
kembali
ke
host
yaitu
berupa status
dari
hasil perintah penulisan, dan juga
data yang
sudah dituliskan
pada blok yang diinginkan. Status
yang terdapat pada
fungsi write a
data block
adalah sebagai berikut :
0x00: Operation success
0x01: No tag
0x05: Write fail
0x06: Unable to read after write
0x07: Read after write error
0x0D: Not authenticate
|
|
40
2.5.
Structured Query Language (SQL)
Structured Query Language atau yang biasa disebut SQL merupakan
bahasa pemrograman yang diaplikasikan dalam berbagai macam database dimana
SQL
memeliki
beberapa kelebihan seperti
menampilkan
isi
dari
suatu database
yang
selanjutnya
data
tersebut
dapat difilter dan dimanipulasi sesuai
kebutuhan
aplikasi. Perintah perintah dalam SQL dibagi kedalam dua kelompok besar yaitu
Data Manipulation Language dan Data Definition Language.
2.5.1
Syntax Dasar
SELECT coloums
FROM tables
WHERE conditions
Perintah
SELECT
dan
FROM
digunakan
untuk
menampilkan data
yang
ada di
database dari
table
yang
diaplikasikan dengan
membatasi
jumlah
kolom
yang ditampilkan dari tabel, sedangkan jumlah baris yang dihasilkan tidak
dibatasi. Pengambilan data yang tidak diperlukan dapat mengakibatkan penurunan
performa dari
aplikasi, oleh karena itu digunakan syntax WHERE
yang berguna
untuk menentukan kriteria dari RECORD yang ditampilkan.
|
|
41
2.5.2
Logika
AND
OR
Penggunaan
logika
AND
atau
OR
dapat
diaplikasikan dalam
membuat
suatu kriteria dengan klausa yang ada pada syntax untuk mendapatkan data yang
lebih spesifik.
2.5.3
Manipulasi Data
Selain
untuk
mengambil informasi
dari
database,
SQL
juga
dapat
digunakan memanipulasi data dengan perintah-perintah yang ada. Proses tersebut
meliputi
menambah,
menghapus,
dan
mengedit
data.
Perintah
manipulasi data
sangat
sering
digunakan dalam
aplikasi
database
dan
bahakan dapat dikatakan
menjadi inti
sebuah
aplikasi. Sebuah
tabel
dapat
diisi
dengan data,
dihapus,
maupun
diedit
datanya.
Perintah-perintah tersebut
dilaksanakan
berdasarkan
kriteria tertentu menggunakan keyword WHERE.
A.
Statement INSERT
Untuk
mengisikan data ke dalam suatu tabel digunakan perntah INSERT
yang memiliki syntax umum sebagai berkut :
INSERT table (column list)
VALUES (value list)
Apabila
perintah
INSERT
digunakan
untuk
mengisikan seluruh
kolom
yang
terdapat
di
suatu
tabel
maka
nama
kolom
tidak
perlu
disebutkan secara
eksplisit. Cukup disebutkan nilai data yang akan dimasukkan saja. Misalnya untuk
|
|
42
mengisikan data ke tabel Posisi
yang
hanya terdiri dari tiga kolom dilancarkan
perintah berikut :
INSERT Posisi
B.
Statement DELETE
Statement
DELETE
merupakan kebalikan perintah INSERT.
Perintah
ini
menghapus data
yang terdapat
di
suatu tabel. Data
dihapus
per
record atau
per
baris
berdasarkan kriteria
tertentu.
Penentuan
kriteria
record
mana
yang
akan
dihapus bisa dilakukan dengan menggunakan klausa WHERE.
Syntax umum statement ini adalah sebagai berikut :
DELETE FROM table_name
WHERE Condition
Apabila diinginkan untuk mengosongkan tabel dan menghapus semua data
yang
ada
di
dalamnya maka
digunakan
perintah
DELETE tanpa
menggunakan
kondisi WHERE.
Contoh berikut adalah perintah untuk mengosongkan isi tabel Products :
DELETE Products
Perintah tersebut hanya
mengosongkan
isi tabel saja tetapi
tidak
menghapus
tabelnya.
C.
Statement UPDATE
Apabila
ingin
mengedit atau
merubah
suatu
data
tanpa
menghapusnya
maka
digunakan
perintah
UPDATE.
Perintah
ini
juga
menggunakan kondisi
tertentu dengan klausa WHERE sebagaimana perintah DELETE.
|
|
43
Syntax umum statement UPDATE adalah sebagai berikut :
UPDATE table_name
SET Column1 = Value1, Column2 = Value2
WHERE condition
Perintah tersebut
melakukan
perubahan pada
kolom
tertentu
sebagaimana
yang
disebutkan dalam
perintah
SET.
Perubahan
dilakukan
terhadap
record
yang
memenuhi kriteria di klausa WHERE.
2.6.
Komunikasi Serial
Kelebihan dari komunikasi serial
ialah panjang kabelnya bisa
jauh
lebih
panjang dibandingkan dengan paralel, karena port serial
mengirimkan logika 1
dengan kisaran
tegangan -3V
hingga -25V dan
logika
0
sebagai +3V
hingga
+25V
sehingga
kehilangan daya
karena
masalah
panjang
kabel
bukan
menjadi
masalah
dalam
komunikasi
serial.
Bandingkan dengan
port
paralel
yang
menggunakan tegangan berkisar 0V untuk logika 0 dan +5V untuk logika 1.
Untuk port serial
lebih sulit ditangani karena peralatan yang dihubungkan
ke
port
serial
harus
berkomunikasi dengan
menggunakan
transmisi
serial,
sedangkan data di komputer diolah secara paralel. Oleh karena
itu data dari dan
ke port serial
harus dikonversikan ke dan dari bentuk paralel agar bisa diproses
oleh komputer. Sedangkan untuk komunikasi secara paralel, bisa
langsung
diakses ke dan dari komputer secara langsung tanpa adanya konverter.
|
![]() 44
2.6.1
Universal Asynchronous Receiver-Transmitter (UART)
UART atau Universal Asynchronous Receiver-Transmitter adalah bagian
perangkat keras komputer yang menerjemahkan antara bit-bit paralel data dan bit-
bit
serial.
UART
biasanya
berupa
sirkuit
terintegrasi yang
digunakan
untuk
komunikasi serial pada komputer atau port serial perangkat periperal.
Gambar 2.14 Pengiriman Data pada UART
Pengiriman data pada UART dimulai dari start bit, lalu data dimulai dari LSB,
parity bit, dan dua stop bit. UART
harus disesuaikan antar dua komponen untuk
dapat berkomunikasi.
Gambar 2.15 Perubahan Level Tegangan pada UART
2.6.2
MAX 232
MAX-232 adalah dual
driver/receiver
yang
meliputi
sebuah pembangkit
tegangan kapasitif
untuk men-supply
tingkat tegangan TIA/EIA-232-F
dari
|
![]() 45
sebuah supply tegangan 5V. setiap receiver merubah TIA/EIA-232-F yang masuk
menjadi
tingkat
5V
TTL/CMOS. Receiver
ini
memiliki
1.3V
threshold,
0.5V
hysteresis,
dan
dapat
menerima ±
30V
input.
Setiap
driver
merubah
tingkat
tegangan
TTL/CMOS pada
input
menjadi
tingkat tegangan
TIA/EIA-232-F.
IC
MAX-232 ini memiliki fungsi :
Beroperasi dari sebuah supply tenaga 5V dengan 1.0µF kapasitor Charge-
Pump
Bekerja hingga 120 Kbit/s
Dua driver dan dua receiver
±
30V tingkat input
Arus supply rendah sebesar 8mA
Gambar 2.16 Contoh Rangkaian Standar MAX-232
|
![]() 46
2.7.
Motor DC
Motor
DC
adalah
sistem
mesin
yang
berfungsi
mengubah
tenaga
listrik
arus searah menjadi tenaga gerak atau mekanis. Motor DC hampir dapat dijumpai
di
setiap
peralatan baik
rumah
tangga,
kendaraan bahkan
dalam
dunia
industri
sekalipun, dari yang beukuran mikro sampai motor yang memiliki kekuatan
ribuan daya kuda.
2.7.1
Pengendalian Motor DC
Setiap
arus
yang
mengalir
melalui
sebuah
konduktor akan
menimbulkan
medan magnet. Arah
medan magnet dapat ditentukan dengan kaidah tangan kiri.
Ibu
jari
tangan menunjukkan arah aliran arus
listrik sedangkan jari-jari yang lain
menunjukkan arah
medan
magnet
yang
timbul,
seperti
yang
ditunjukkan oleh
gambar berikut ini.
Gambar 2.17 Kaidah Tangan Kiri
|
![]() 47
Jika suatu konduktor
yang
dialiri
arus
listrik
ditempatkan
dalam sebuah
medan
magnet,
kombinasi
medan
magnet
akan
ditunjukkan
oleh
Gambar
2.17.
Arah
aliran arus
listrik dalam konduktor ditunjukkan dengan tanda x atau
..
anda
x
menunjukkan arah
arus listrik
mengalir
menjauhi
pembaca
gambar,
tanda . menunjukkan arah arus listrik mengalir mendekati pembaca gambar.
Gambar 2.18 Konduktor Berarus Listrik Dalam Medan Magnet
Sebuah cara
lagi
untuk
menunjukkan hubungan
antara
arus
listrik
yang
mengalir didalam sebuah konduktor, medan magnet dan arah gerak, adalah kaidah
tangan kanan untuk motor seperti yang diperlihatkan pada gambar dibawah ini.
|
![]() 48
Gambar 2.19 Kaidah Tangan Kanan Untuk Motor
Kaidah tangan kanan untuk motor menunjukkan arah arus yang mengalir
didalam sebuah konduktor yang berada dalam
medan
magnet. Jari tengah
menunjukkan arah arus yang mengalir pada konduktor, jari telunjuk menunjukkan
arah medan magnet dan ibu jari menunjukkan arah gaya putar. Adapun besarnya
gaya yang bekerja pada konduktor tersebut dapat dirumuskan dengan :
.....................................................................................(2.11)
Dimana :
B
=
kerapatan fluks magnet (weber)
L
=
panjang konduktor (meter)
I = arus listrik ( ampere)
2.7.2
Karakteristik Motor DC
Kutub
medan. Secara sederhana digambarkan bahwa interaksi dua kutub
magnet
akan
menyebabkan perputaran pada
motor
DC.
Motor
DC
memiliki
kutub
medan
yang
stasioner
dan
dinamo
yang
menggerakkan
|
|
49
bearing pada ruang diantara kutub medan. Motor DC sederhana memiliki
dua
kutub
medan:
kutub
utara
dan
kutub selatan.
Garis
magnetik
energi
membesar
melintasi
bukan
diantara
kutub-kutub dari
utara
ke
selatan.
Untuk
motor yang lebih besar atau lebih komplek terdapat satu atau lebih
elektromagnet. Elektromagnet menerima listrik dari sumber daya dari luar
sebagai penyedia struktur medan.
Dinamo.
Bila
arus
masuk
menuju
dinamo,
maka
arus
ini
akan
menjadi
elektromagnet. Dinamo
yang
berbentuk
silinder,
dihubungkan
ke
as
penggerak untuk menggerakan beban. Untuk kasus motor
DC yang kecil,
dinamo
berputar
dalam
medan
magnet
yang
dibentuk oleh
kutub-kutub,
sampai kutub utara dan selatan magnet berganti lokasi. Jika hal ini terjadi,
arusnya berbalik untuk merubah kutub-kutub utara dan selatan dinamo.
Commutator.
Komponen
ini
terutama
ditemukan dalam
motor DC.
Kegunaannya
adalah
untuk
membalikan
arah
arus
listrik
dalam
dinamo.
Commutator
juga
membantu dalam
transmisi
arus
antara
dinamo
dan
sumber
daya.
Keuntungan utama
motor
DC
adalah
sebagai
pengendali
kecepatan,
yang
tidak
mempengaruhi kualitas
pasokan
daya.
Motor
ini
dapat dikendalikan dengan mengatur:
Tegangan dynamo
meningkatkan tegangan dinamo
akan
meningkatkan
kecepatan.
Arus medan menurunkan arus medan akan meningkatkan kecepatan.
|
![]() 50
2.8.
Opto-isolator
Sebuah opto-isolator integrated circuit, terdiri atas sebuah infrared
LED
dan silicon photodiode dengan integrated amplifier stage. Pada elektronika,
sebuah opto-isolator (optical isolator, optocoupler, photocouple, atau photoMOS)
adalah
sebuah alat
yang
menggunakan
optical
transmission
jarak
pendek
untuk
mentransfer signal antara element dari rangkaian, secara khusus sebuah
transmitter
dan
receiver,
dengan
menjaga
elektrikalnya terpisah.
Karena
signal
berubah dari
signal elektrik ke signal cahaya dan kembali menjadi signal
listrik,
kontak listrik sepanjang jalurnya putus.
2.8.1
Konfigurasi Opto-isolator
Gambar 2.20 Skematik diagram dengan sebuah LED dan phototransistor
Implementasi umum yang menggunakan LED dan phototransitor, terpisah
sehingga jalur cahaya berjalan melewati penghalang tetapi arus
listrik tidak. Saat
sebuah
sinyal
elektrik diberikan ke
input
dari
opto-isolator,
LED-nya
menyala,
sensor cahayanya kemudian aktif, dan sinyal elektrik yang bersesuaian dihasilkan
pada outputnya.
|
![]() 51
Dengan sebuah phototdiode sebagai detektor, arus output sebanding
dengan jumlah
cahaya yang disediakan oleh emitter. Diode dapat digunakan pada
photovoltaic mode atau photoconductive mode.
Pada photocoltaic mode, diode bertindak seperti sumber arus
yang paralel
dengan
diode
prategangan maju.
Arus
dan
tegangan
output
tergantung
pada
impedance beban dan intensitas cahaya.
Pada photoconductive mode, diode dihubungkan dengan supplay tegangan,
dan perbesaran arus yang dihasilkan secara langsung sebanding dengan intensitas
cahaya.
Gambar 2.21 Contoh rangkaian penggunaan opto-isolator
Diantara aplikasi lain, opto-isolator dapat membantu mengurangi ground
loops, menghalangi spike tegangan, dan menghasilkan electrical isolation.
|
![]() 52
2.9.
Teori gir dan rantai
Gir
secara
umum
dipakai
dalam
mentransmisikan
tenaga
atau
kekuatan
untuk beberapa alasan. Mereka dapat diskalakan untuk mentransmisikan kekuatan
dari sumber yang kecil, sampai sumber yang memiliki kekuatan torsi yang sangat
besar. Gir terdiri dari banyak bentuk dan
ukuran standar, dalam inci dan metrik.
Mereka bervariasi dalam ukuran diameter, ukuran gigi, lebar dari gir, dan bentuk
gigi.
Adapun
dua
gir
yang
dapat
dipasangkan ukurannya
dapat
dipergunakan
bersama-sama
untuk
mentransmisi rasio
yang
sangat
besar
ke
dalam
langkah
tunggal. Gir tersedia dalam bentuk spur, internal, seperti bentuk sekerup (helical),
herringbone (double
helical),
bevel,
berpilin,
hypoid,
worm,
dan
harmonik.
Masing-masing
jenis
punya
karakteristik dan kegunaan,
meliputi perbedaan
di
efisiensi, rasio, batang sudut, noise, dan biaya. Gambar 2.22
menunjukkan profil
dasar dari sebuah gir jenis spur, gir silindris dengan gigi yang lurus dan paralel ke
sumbu rotasi. Mereka biasanya mengirimkan gerak di antara garis lintang sejajar
batang.
Gambar 2.22 Terminologi gerigi gir
|
![]() 53
2.9.1
Roller Chain
Roller chain atau yang disebut dengan rantai roller adalah suatu cara yang
dipakai
untuk
mentransfer kekuatan
secara
efisien.
Disebut
rantai
roller karena
mempunyai alat penggulung pin
yang dijaga kesatuannya oleh hubungan terkait.
Pada
beberapa
aplikasi
tidak
memerlukan
pretensioning
yang
tepat dari
katrol.
Rantai
roller
dapat
digunakan
untuk
pengurangan single
stage
dengan
perbandingan 6:1 dengan mengatur jarak katrol, sehingga membuat cara tersebut
dinilai
sederhana
untuk
memperoleh
nilai
yang
efisien,
dan
pengurangan dari
sebuah system
gerak.
Seperti yang
ditunjukkan pada
Gambar
2.23,
rantai
roller
terdapat dalam banyak ukuran dan jenis, beberapa diantaranya berguna untuk hal
lainnya selain untuk mengirim kekuatan dari satu katrol ke katrol lainnya.
Gambar 2.23 Adaptasi Pitch Standar
2.9.2
Gir Worm
Gir
worm diseberangi poros
gerigi
seperti
bentuk
sekerup
dimana sudut
garis sekrup dari salah satu gigi pada gerigi (worm) punya ketinggian sudut garis
sekrup,
menyerupai suatu sekrup.
Gir semacam ini dipergunakan terutama untuk
pengurangan tinggi rasio dari 5:1
menjadi 100:1. Pada pengurangan
rasio yang
|
![]() 54
lebih besar, mereka dapat mengunci diri, yaitu ketika kekuatan input dipadamkan,
keluaran tidak akan berputar.
Gambar 2.24 Gear worm
2.10.
Line Follower
Line
follower
adalah
satu
tehnik
yang
digunakan
untuk
mengikuti
satu
alur.
Dimana
alur dapat
berupa
garis
hitam
pada
permukaan putih
(atau
sebaliknya) atau
dapat
seperti
suatu
medan
magnet
yang
tak
terlihat. Cara
ini
bekerja dengan mendeteksi suatu garis dan mengatur manuver dari robot sehingga
dapat berada pada posisinya, sementara itu secara konstan
mengkoreksi
gerakan
mekanisme yang salah dengan menggunakan
umpan balik membentuk suatu
sistem sederhana closed loop yang efektif.
|
![]() 55
2.10.1 Konfigurasi Line Follower
Robot menggunakan sensor IR untuk mendeteksi garis, suatu array dari 6
IR
Led
(Tx) dan
sensor
(Rx),
menghadap ke
lantai
yang
telah
disusun
sesuai
penggunaan. Output dari sensor adalah suatu sinyal analog yang mana bergantung
kepada sejumlah cahaya
yang direfleksikan balik, sinyal analog ini
diberikan ke
komparator
untuk
menghasilkan nilai
logika
0
dan
1
yang
mana
kemudian di
inputkan ke kontroler.
Untuk
diagram konfigurasi dari
line follower
yang
digunakan dapat dilihat pada Gambar 2.25.
Gambar 2.25. Blok diagram Line Follower
Untuk
algoritma
dari
6
sensor
Tx dan Rx, digunakan
suatu
teknik array
dimana
3
sensor
diletakkan dibagian
depan
dan
3
sensor
lainnya
dibagian
belakang. Dimulai dari tengah tiap-tiap sensor diberi nama LF, CF, RF, LB, CB,
RB. Susunan array digambarkan seperti Gambar 2.26.
|
![]() 56
LF
LB
CF
CB
RF
RB
0/1
0/1
0/1
0/1
0/1
0/1
Left
Center
Right
Gambar 2.26 Susunan array dari 6 sensor Tx dan Rx
Dari susunan array yang digambarkan tersebut bisa dibuat suatu algoritma untuk
mengontrol pergerakan dari
robot sesuai dari
input
dari
nilai array
yang
dihasilkan. Ketika
semua
array
bernilai 1
maka
bisa dikatakan robot berada di
home
base,
dan
jika
akumulasi
dari
nilai
L
>
R
maka bisa
disimpulkan robot
condong kearah kanan (dan begitu sebaliknya).
2.11.
H-Bridge
Gambar 2.27 rangkaian H-bridge
|
![]() 57
Rangkaian H-bridge
digunakan
sebagai
driver
motor
DC
yaitu
untuk
mengatur
arah
perputaran
dari
motor
DC
dan
juga
dapat
diaplikasikan
sebagai
pengatur
motor
DC
dengan
menggunakan tehnik PWM. H-bridge
menggunakan
transistor-transistor
sebagai switching untuk mengatur arah putar motor baik
dalam
arah
clockwise
atau
counterclockwise.
Transistor yang
digunakan
menggunakan 2 tipe yaitu
NPN dan
PNP. Penggunaan transistor jenis
NPN dan
PNP
yaitu
untuk
memastikan bahwa
tegangan
pada
base
berada
pada
level
tegangan yang pantas untuk membuat transistor dalam keadaan saturasi sehinggga
memastikan antara collector dan emitter terhubung ke ground atau ke 12V. Pada
h-bridge, 2 transistor PNP dihubungkan ke 12V, sementara itu 2 transistor NPN
dihubungkan ke ground.
Gambar 2.28 Konfigurasi transistor NPN dan PNP
Untuk
penggunaan besarnya
nilai
hambatan
yang
digunakan
pada
base
dapat
dilakukan
perhitungan switching
transistor
dengan
menggunakan
persamaan John Hewes yaitu :
|
![]() 58
.
.(2.12)
Vc = Sumber tegangan yang digunakan untuk mengendalikan base dari transistor
(biasanya dalam tegangan TTL).
hFE = Penguatan arus transistor.
Gambar 2.29 Konfigurasi input data A=1 dan B=0
A='0'; B='1'. Saat input A diberi logika '0' (0V) dan input B diberi logika
'1' (5V)
maka Q2
akan saturasi sedangkan Q1
tetap cut off.
Karena Q2
bersifat
saturasi
atau
seperti
saklar
yang tertutup
maka basis
Q3
akan
mendapat picuan
sehingga Q3 juga bersifat saturasi. Akibatnya arus akan
mengalir dengan
urutan
seperti
berikut
:
Vs Q3
motor
Q2 ground, sehingga
motor
akan
berputar searah
jarum jam.
A=1; B=0. Saat input A diberi logika '1' (5V) dan input B diberi logika '0'
(0V)
maka Q
1
akan saturasi
sedangkan Q2
cut
off.
Akibatnya Q4
juga
akan
menjadi saturasi karena basis Q4
mendapat picuan dari Q1. Sehingga arus akan
|
|
59
mengalir dengan urutan seperti berikut : Vs Q4 motor Q1 ground dan motor akan
berputar berlawanan arah jarum jam.
2.12.
L298
L298
adalah
Integrated monolithic circuit dalam
bungkus 15-lead
multiwatt dan powerS020.
L298 adalah dual full-bridge driver yang bertegangan
dan berarus tinggi
yang dirancang untuk
menerima logika
TTL tingkat standard
dan berfungsi untuk
men-drive
beban
induktif
seperti
relay, solenoid, DC,
dan
motor
stepper. Pada IC
ini
terdapat
dua
input
enable
yang
dapat
mengaktifkan
atau
me-non aktifkan
alat
secara
independent
berdasarkan
sinyal
input.
Emitter
dari transistor
pada
setiap bridge
terhubung bersama dan sambungan
luar
yang
bersesuaian dapat
digunakan
untuk penghubung external
sensing resistor. Input
tenaga
tambahan
menetapkan supaya
pada
tegangan
lebih
rendah
logika
tetap
bekerja.
|
![]() 60
Gambar 2.30 Contoh rangkaian untuk sebuah motor menggunakan L298
Table 2.9 Tabel logika L298
Input
Output
V
en
=H
C=H ; D=L
Maju
C=L ; D=H
Mundur
C=D
Fast Motor Stop
V
en
=L
C=X ; D=X
Free Running Motor Stop
2.13.
Titik Berat
Setiap
sistem,
terdapat
sebuah
lokasi
yang
adalah
posisi rata-rata
dari
kumpulan tiap sistemnya. Lokasi itu disebut dengan pusat massa benda. Banyak
|
![]() 61
perhitungan
dalam
suatu
alat
mekanis
membutuhkan lokasi
dari
sistem
pusat
massanya. Dengan adanya pusat massa dari suatu benda maka keseimbangan dari
sistem pada benda bisa diatur sehingga benda dapat bekerja dengan optimal. Pusat
massa dipengaruhi oleh beberapa elemen seperti berat dari benda, ruang lingkup
benda,
gaya gravitasi,
dan penempatan dari beban
yang
dikenakan
ke benda
tersebut.
Gambar 2.31 Rectangular Plate
Untuk perhitungan secara matematis dgunakan persamaan sebagai berikut :
.
..(2.13)
Massa disimbolkan
dengan m
n
dan nilai posisi dari pusat masa dari system
disimbolkan dengan
r
n
.
Gambar 2.32 Lokasi Pusat Massa
|
![]() 62
2.14.
Berat dan Massa
..
..(2.14)
(2.15)
Jika sebuah benda dengan massa M
dibiarkan jatuh bebas, percepatannya
adalah
percepatan
gravitasi g dan gaya
yang
bekerja padanya adalah
gaya
berat
W.
Pada benda
jatuh bebas berlaku
hokum
Newton kedua, F
=
ma,
yang akan
memperoleh
persamaan untuk
gaya
berat benda, W
=
mg.
Baik
W
maupun g,
kedanya adalah
vector
yang mengarah ke pusat bumi, dengan
W
dan g adalah
besar vektor berat dan vektor percepatan.
Gambar 2.33 Sistem Gaya Pada Katrol
Untuk mencegah agar benda berada dalam keadaan diam atau stabil, harus
ada gaya keatas yang besarnya sama dengan W supaya
gaya netto sama dengan
nol.
Dalam
gambar
2.33
tegangan tali
pada
katrol bertindak sebagai
gaya
ini.
Untuk system statik tegangan pada, T
B
=
r
B
(F1-F2), begitu juga tegangan pada,
|
![]() 63
TC
= r
C
(F
1
-F
2
). Dari persamaan
tersebut
bias diperoleh
perbandingan
antar
Tegangan B dan C yaitu, T
B
= (r
B
/ rC) x T
C.
Gambar 2.34 Sistem Gaya Pada Link
Pada sistem
gaya dalam
Gambar 2.34, berlaku
hukum Newton pertama,
?F = 0, karena dianggap nilai percepatan a sama dengan nol. Untuk mencari gaya
yang bekerja pada tiap titiknya maka tentukan dahulu titik acuan dari setiap gaya
yang bekerja pada link tersebut. Nilai dari
tiap gaya yang bekerja yaitu,
...
(2.16)
...
..(2.17)
|