|
7
BAB 2
LANDAS AN TEORI
2.1
Pendekatan Basis Data
2.1.1 Pengertian Basis Data
M
enurut Atzeni (2005, p 2), Basis data adalah kump ulan d ari d ata y ang d igunakan
untuk merep resentasikan informasi dari suatu sistem informasi.
M
enurut Connolly dan Begg (2002, p 14), Basis data adalah sekump ulan data y an g
terhubung secara log ikal,
dan
deskrip si dari data tersebut, y ang dap at digunakan oleh
bany ak
user, dan dibentuk untuk dap at
menghasilkan infor masi y ang dibutuhkan oleh
organ sasi.
isasi.
M
enurut M annino
(2001, p 4),
Basis
data adalah sekump ulan d ata y ang secar a
terus menerus y ang dap at digunakan o eh bany ak user dan salin g berkaitan.
leh bany ak user dan salin g berkaitan.
M
enurut Date (2000, p 10), Basis data adalah seku mp ulan data y ang secara terus
menerus dap at digunak an untuk sistem ap likasi suatu p erusahaan.
Sehin gga secar a keseluruh an Basis data adalah sekump ulan data y ang d igunakan
oleh bany ak user dan terhubun g secara logikal untuk men gh asilkan suatu sistem
informasi y ang d butuhkan oleh p erusahaan.
ibutuhkan oleh p erusahaan.
a.
Kelebihan Basis Data
M
enurut
Hoffer, Presscott,
M
cFadden (2005, p 23-25), basis data memp uny ai
beberap a keuntungan antara lain :
|
|
8
1) Program Data Independence
Dengan adany a basis data, maka d eskrip si data disimp an dalam lok asi
p
usat y ang disebut repository. Prop erti sistem basis data ini memun gkink an
data organisasi
untuk
diub ah dan
dikemban gkan
tanp a men gubah
ap likasi
p
rogram y ang memp roses.
2) Minimal Data Redudan cy
Tujuan dari basis data
adalah
men gintegr asikan d ata
y
ang duluny a
tersebar
menjad i
satu struktur logikal. Basis
data tidak
men ghilan g semu a
redudansi tetap i membantu desainer
untuk mengontrol tip e dan jumlah
redudansi itu secara h ati-hati.
3) Improved Data Consistency
Dengan
men geliminasi
dan
men gontrol data
y
ang
redudansi,
dap at
memp erkecil resiko d ari konsistensi data y ang terjad i. M isalny a jika alamat
hany a
disimp an
dalam satu
temp at
maka alamat
tersebut tidak
dap at
diragukan lagi keb enaranny a.
4) Improved Data Sharing
Sebuah
basis data
y
ang didesain
untuk
digun akan
sebagai
sumber
informasi
p
erusahaan
y
ang
dap at
digunakan oleh
semua
oran g.
User
terotorisasi internal
maup un
eksternal
den gan
men ggunakan b asis
data in i
|
|
9
tetap dengan
i dengan
kemamp uan y ang berb eda dalam
men ggun akan fasilitas basis
data ini.
5) Increased Productivity of App lica tion Development
Keuntungan
utama d ari b asis
data
ad alah d ap at
mengur an gi waktu
dan biay a untuk p engemban gan ap likasi bisnis baru.
6) Enforcement o Standards
f Standards
Ketika basis data
diimp lementasikan
dengan
dukun gan
p
enuh
dari
manajemen,
maka
administrator
basis
data seharusny a akan
b
erfun gsi
sebagai
oran g
y
ang bertan ggun g
jawab
untuk men ghasilkan
suatu
standarisasi data untuk organisasi.
7) Improved Data Quality
Dengan
adany a basis data diimp lementasikan den gan dukun gan
p
enuh dari man ajemen mak a ad ministrator basis data seh arusny a akan
berfungsi seb agai or an g y ang b ertanggun g jawab untuk men gh asilkan suatu
standarisasi data untuk organisasi.
8) Improved Data Accessibility and Responsiveness
Dengan
relasional
database, end user y ang
tidak
memp uny ai
kemamp uan
ataup un
p
engalaman
programming bisa
mendap atkan
dan
menamp ilkan d ata bahkan melewati batasan dep artemen.
|
|
10
9) Reduced Program maintenance
Untuk
menguran gi kegiatan maintenance
program
maka
data y ang
disimp an harus
dap at
sering diubah untuk beberap a alasan, misalny a adany a
tambahan data baru, format data berubah dan sebagainy a.
b.
Kekurangan Basis Data
Selain
itu
p
enggunaan
basis
data menurut Hoffer,
Prescott,
dan
M
cFadden (2005, p 25-26) juga memp uny ai resiko dan biay a antara lain :
1) New Spesialized Personnel
Serin g kali,
suatu
or ganisasi y ang
men ggun akan
b
asis data p erlu
untuk
memp erkerjakan atau
melatih
oran g
untuk
mend esain
d
an
men gimp lementasikan
basis data,
meny ediakan
p
elay anan
basis data,
dan
men gatur staff y ang terdir dari or an g-oran g baru.
i dari or an g-oran g baru.
2) Installation Manag ement Cost and Complexity
Multiuser database management system adalah software y ang san gat
rumit dan memp uny ai har ga initial y ang tinggi, seh ingga
memerluk an staff
y
ang
terlatih untuk meng-install, men gop erasikan serta setiap tahun
memer lukan p emelihar aan d an biay a p endukung. M eng-insta ll suatu sistem
juga mun gkin memerlukan hardware, y ang tebih baik d an sistem komunik asi
dalam or ganisasi.
|
|
11
3)
Conversion Cost
Biay a ju ga
dip erkirak an
untuk men gkonv ersi sistem lama
menjadi
sistem y ang baru den gan berb asiskan sistem basis data y ang modern,
y
ang
dap at diukur dengan uan g d an waktu.
4)
Need for Exp licit Ba ckup and Recovery
Sebuah
b
asis data
y
ang
digunak an
secar a
bersama-sama
h
aruslah
akurat dan
dap at digunakan
setiap saat.
Hal
ini
mengharuskan
p
rosedur-
p
rosedur sep erti dikembangk an
dan digunakan
untuk
meny ediakan backup
dari data, untuk memulihkan basis data bila terjad kerusakan.
i kerusakan.
5)
Organizational Conflict
Penggunaan basis d ata secara bersama-sama dalam satu p erusahaan
memer lukan kesep akatan dalam hal defin isi data dan kep emilikan d ata, sama
halny a den gan p ertanggun gjawaban terhadap keakur atan dalam terhad i p ada
definisi data, for mat data, p emp rograman d ata, dan kemamp uan untuk
men gupdate data
y
ang digun akan, telah men jadi
masalah y ang serin g dan
sulit untuk
diselesaikan. Untuk
menan gan i masalah
in i
memer lukan
komitmen or ganisasi d alam basis data.
|
|
12
2.1.2 Database Management System (DBMS
)
a.
Pengertian DBMS
M
enurut
Connolly
dan
Begg (2002, p 16),
DBM S adalah sebu ah
sistem
p ranti lunak y ang memp erbolehk an p engguna untuk mend efinisik an, membu at,
iranti lunak y ang memp erbolehk an p engguna untuk mend efinisik an, membu at,
memelihar a dan men gontrol akses ke basis data.
M
enurut Paolo
Atzeni
(2005, p 3), DBM S
adalah
sebuah
sistem p iranti
lunak y ang dap at
digunak an untuk mengelola kump ulan dari data dalam jumlah
besar,
dap at digun akan
b
ersamasama
d
an
secara terus menerus,
dan untuk
memastikan data tersebut dap at dip ercay a dan rahasia.
M
enurut Korth dan Silberschatz (2002, p 21), DBM S adalah kump ulan dar i
data y ang salin g berk aitan dan p rogram untuk men gakses data tersebut.
M
enurut M annino (2001, p 4), DBM S adalah kump ulan dari p iranti lunak
y
ang mendukun g p embuatan, p enggunaan dan p emeliharaan basis data.
Sehin gga dap at
disimp ulkan DBM S adalah sebuah
sistem p iranti lunak
y
ang
digun akan
untuk
mendefinisikan,
membuat,
men gelo la,
memelihara
dan
men gontrol akses ke basis data.
b. Keuntungan DBMS
M
enurut Conolly dan
Begg (2005, p 26), terdap at beberap a
keuntungan
DBM S, y aitu :
1)
Pengend alian Data Redundan (Control o f Data Redudan cy)
Pemborosan ruan g den gan p eny mp anan informasi y ang sama di dalam file
imp anan informasi y ang sama di dalam file
lebih
dar i satu.
Pendekatan
usaha basis
data untuk
menghap uskan
|
|
13
p
emborosan
dengan
p
en gintegrasian file
y
ang
sedemikian
rup a
sehin gga
berbagai salinan d ata y ang sama tidak ah tersimp an.
lah tersimp an.
2)
Konsistensi Data (Data Consistency)
Dengan
men gelimin ir atau men gend alik an redudan, resiko
inkonsistensi
dap at dikurangi. Jika suatu jen is data disimp an lebih dari sek ali, sistem dap at
memastikan bahwa semua salinan dijaga konsistensiny a.
3)
Informasi Lebih dari Jumlah Data y ang Sama (More In formation from the
Same Amount of Data)
Dengan
p
engintegr asian
data op erasional,
memun gk inkan
bagi
organisasi
untuk memp eroleh informasi tamb ahan dar data y ang sama.
i data y ang sama.
4)
Berbagi Data (Sharing of Data)
File
dimiliki oleh oran goran g atau
dep artemen y ang
men ggunak anny a.
Pada sisi lain, basis data kep uny aan seluruh organisasi dan dap at digunakan
bersama o leh
semua
p
engguna
y
ang
diber i
hak
akses.
Den gan
d
emik an,
ian,
p
ara p engguna b erbagi lebih b any ak data.
5)
Integritas Data Ditingkatkan (Improved Data Integrity)
Integritas basis data men gacu p ada konsistensi dan validitas dari d ata y ang
disimp an.
|
|
14
6)
Keamanan y an g Ditingk atkan (Improved Security)
Keamanan
basis data
adalah
p
erlindun gan
basis data
dari
p
ara p engguna
y
ang
tidak
sah.
Format nama p enggun a
dan
kata
sandi
digun akan
untuk
men gidentifik asikan or an goran g y an g d beri hak untuk men ggunakan basis
iberi hak untuk men ggunakan basis
data.
7)
Standar Pelaksan aan (En forcement o Standards)
f Standards)
Pengintegrasian
men gijinkan
Database Administrator (DBA) untuk
men gidentifik asikan dan men guatkan standard y ang p erlu.
8)
Skala Ekonomi (Economy o f Scale)
Kombinasi semua data organ isasi op erasional ke dalam suatu basis data dan
mencip takan
satu
set
ap likasi y ang bekerja p ada
sumber data,
y
ang dap at
men gakib atkan
uang tabun gan
biay a. Anggaran
y
ang akan
secara normal
dialokasik an dap at dikombinasikan dan mendorong ke suatu skala ekonomi.
Anggaran
y
ang
d
ikombin asikan
dap at
digun akan untuk membeli suatu
konfigur asi sistem y ang leb h disesuaik an untuk kebutuhan organ sasi.
ih disesuaik an untuk kebutuhan organ sasi.
isasi.
9)
M
eny eimbangk an
Ketidaksesuaian
Kebutuhan
(Ba ance of
lance of
Conflicting
Requirements)
M
asingmasin g p engguna atau dep artemen memp uny ai kebutuhan y ang
mungk in tidak sesuai dengan kebutuhan p engguna y ang lain. Basis data ada
di bawah kendali
DBA, sehingga
DBA
dap at
membuat kep utusan tentang
|
|
15
desain dan p enggunaan op erasional basis data y ang meny ediakan p en gguna
sumber day a organ sasi y ang terbaik secara k eseluruhan.
isasi y ang terbaik secara k eseluruhan.
10) M engemban gkan
Akses
Data
(Improved
Data
Accessibility
and
Responsiveness)
Sebagai hasil p engintegrasian, d ata lintas batas p er dep artemen, secara
lan gsung d ap at diakses kep ada end-users.
11) M eningkatkan Produktifitas (Increased Productivity)
DBM S meny ediakan bany ak
dar i fun gsi standar bahwa p rogrammer
akan
secara normal harus memberi suara den gan menu lis dalam suatu filebased
system. DBM S juga
meny ediakan suatu fourtgeneration
y
ang terdiri d ari
tools untuk
meny ederhanakan
p
engemban gan
ap likasi basis data.
Hal
ini
meny ebabkan
p
roduktivitas
p
rogrammer
ditin gkatkan
dan men gur an gi
waktu p engemb an gan (p engh ematan biay a).
12) M engemban gkan
Pemelih araan
M
elalui
Data
Indep endent
(Improve
Maintenance Through Data Independence)
Deskrip si data dan logik a untuk men gakses data diban gun k e dalam p rogr am
ap likasi masin gmasin g dan membuat p rogram ter gantun g p ada data.
|
|
16
13) M eningkatkan Persetujuan (Increased Concurrency)
Jika dua atau lebih p ara p en gguna d iijinkan untuk men gakses file y ang sama
secara seremp ak, memun gkinkan bahwa akses ak an bertentangan satu sama
lain,
y
ang dap at
menghasilkan
hilan gny a informasi atau bahkan
hilan gny a
integritas.
14) M engemban gkan
Backup
dan
Pelay anan Recovery
(Improved
Backup
and
Recovery Services)
Tanggun g jawab p ada p enggguna
den gan
meny ediak an
ukuran
untuk
melindun gi data dari kegagalan sistem komp uter atau p rogram ap likasi. Hal
ini dap at melib atkan p engambilan suatu backup data, backup direstore dan
p
ekerjaan y ang telah ber lan gsun g sejak b ackup
ini hilan g d an
harus dire-
entered. DBM S meny ediakan
fasilitas untuk
memp erkecil
jumlah
p
engolahan y an g hilan g beserta kegagalanny a.
c.
Kerugian DBMS
M
enurut Conolly dan Begg
(2005, p 29), terdap at
beberap a beberap a
kerugian DBM S :
1)
Komp leksitas (Complexity)
Ketetap an kemamp uan y ang diharap kan dari suatu DBM S y ang baik adalah
p
embuatan DBM S suatu p otongan p ranti lunak y ang san gat komp eks. Para
iranti lunak y ang san gat komp eks. Para
leks. Para
|
|
17
p
erancang b asis data dan p engemban g data dan DBA, dan endusers harus
memah ami k emamp uan ini untuk men gamb l keuntun gan.
il keuntun gan.
2)
Ukuran (Size)
Komp leksitas
dan kemamp uan
y
ang luas
membuat
DBM S suatu p otongan
p ranti
iranti
lunak y ang sangat
besar,
menduduki bany ak
megaby tes
ruang disk
dan sejumlah memori y ang substansial menuntut
untuk menjalankan secara
efisien.
3)
Biay a DBM S (Cost of DBMS)
Biay a DBM S bervariasi secara signif ikan, tergantung p ada kemamp uan dan
lin gkun gan y ang d sajik an.
isajik an.
4)
Tambahan Biay a Peran gkat Keras (Additional Hardware Costs)
Kebutuhan disk
p
eny imp anan
untuk DBM S dan basis
data
men gharuskan
p
embelian ruan g p eny imp anan tambahan. Untuk mencap ai p erformance
y
ang
dip erlukan,
memun gk inkan
untuk
membeli
suatu
mesin
y
ang
lebih
besar.
5)
Biay a Konversi (Cost of Conversion)
Biay a
konversi
ap likasi
y
ang sedang berjalan
untuk
menjalankan
DBM S
y
ang baru d an p eran gkat keras. B ay a ini melip uti biay a p elatihan staf untuk
iay a ini melip uti biay a p elatihan staf untuk
|
|
18
men ggunakan sistem baru,
dan
ju ga tenaga kerja staf
sp esialis
untuk
membantu konversi dan b erjalanny a sistem.
6)
Pekerjaan ( Performance)
Suatu
filebased system d itulis untuk
suatu
ap likasi
sp esifik,
untuk
p
erformance y ang lebih baik.
7)
Damp ak Kegagalan y ang Lebih Tin ggi (High er Impact of a Fa ilure)
Pemusatan sumber
day a menin gk atkan sifat
mudah
terken a
masalah p ada
sistem.
Sejak
semua
p
enggun a
dan
ap likasi
berstandar
p
ada ketersediaan
DBM S, kegagalan tentang segala komp onen dap at membawa op erasi kep ada
suatu p emberhentian.
d.
Fungsi Fungsi DBMS
1)
Data Storage, R etrieval d an Up date (Data Storage, Retrieval, and Update)
M
erup akan fungsi p okok DBM S, suatu DBM S harus
melen gkap i p ara
p
emakai den gan kemamp uan untuk meny imp an, mendap atkan kembali, dan
memp erbaharui d ata di dalam basis data.
2)
Katalog Akses Penggun a (a User-Accessible Catalog)
Suatu
DBM S
harus
melen gkap i
suatu
katalo g dimana
deskrip si data item
disimp an dan mana y an g dap at diakses ke p ara p emakai.
|
|
19
3)
M
endukung Transaksi (Transaction Supp ort)
Suatu
DBM S harus
melen gkap i suatu
mekan isme y an g ak an
memastikan
bahwa semua p embaharu an sesuai den gan transaksi y ang ditentukan.
4)
Pelay anan Kontrol Persetujuan (Concurrency Control Services)
Suatu DBM S harus melen gkap i suatu mekanisme untuk memastikan bahwa
basis data dip erbaharui dengan tep at ketika
p
ara
p
engguna sedan g
memp erbaharui b asis data secara b ersamaan.
5)
Pelay anan Recovery (Recovery Services)
Suatu DBM S harus
melengk ap i suatu
mekanisme untuk mengendalikan
basis data seandainy a terjadi kerusak an p ada basis data.
6)
Pelay anan Hak Akses Pengguna (Au thorization Services)
Suatu DBM S harus melen gkap i suatu mekanisme untuk memastikan bahwa
hany a p ara p engguna y ang d beri h ak dap at mengakses basis data.
iberi h ak dap at mengakses basis data.
7)
Pendukung Komunik asi Data (Support for Data Communication)
Suatu DBM S harus
mamp u mengintegr asikan den gan p ranti lunak
iranti lunak
komunikasi.
|
|
20
8)
Pelay anan Integritas (Integrity Services)
Suatu
DBM S
melen gkap i
makn a
untuk
memastikan bahwa kedua d ata di
dalam b asis data dan men gub ah data men gikuti kep ada aturan tertentu.
9)
Pelay anan Untuk M emajukan Data Indep endent
(Services to Promote Data
Independence)
Suatu DBM S harus melip uti fasilitas untuk mendukun g indep enden p rogr am
dari struktur basis data y ang ny ata.
10) Pelay anan Penggun aan (Utility Services)
Suatu DBM S p erlu meny ediakan sep eran gkat utilitas p enggun aan.
e.
Komponen DBMS
M
enurut Connolly dan Begg (2005, p 18), terdap at lima komp onen DBM S :
1)
Perangk at Keras (Hardware)
Perangk at
keras
y
ang d igunakan
untuk
menjalankan
DBM S dan
ap likasi-
ap likasi.
2)
Perangk at Lunak (Software)
Komp onen p erangkat
lunak terdiri dari p erangkat
lunak
DBM S
itu sendiri
dan p rogramp rogram ap likasi, bersama sistem op erasi termasuk p erangk at
lunak jar n gan jika DBM S men ggunakan jarin gan.
in gan jika DBM S men ggunakan jarin gan.
|
|
21
3)
Data
Komp onen y ang p alin g p enting dari DBM S, khususny a dari sudut p andang
end-user men genai data.
4)
Prosedur (Procedure)
Cara
untuk
menjalankan
sistem
y
ang
men gacu
p
ada
instruksi
dan
aturan
untuk mendesain dan men ggunakan b asis data.
5)
M
anusia (People)
Komp enen DBM S y ang
terakh r ad alah manusia y ang terlibat d en gan
ir ad alah manusia y ang terlibat d en gan
sistem.
2.1.3 Structure Query Language
2.1.3.1 Data Definition Language (DDL)
M
enurut
Connolly dan
Begg (2005,
p
16), DDL adalah suatu
bahasa y ang
memp erbolehkan database admin istrator atau p enggun a untuk membuat
sp esifikasi tip e
data, mendefinisikan basis data, struktur data dan constraint data untuk disimp an dalam
basis data.
2.1.3.2 Data Manipulation Language (DML)
M
enurut Connolly dan Begg (2005, p 16), DM L memp erbolehkan p enggun a untuk
memasukkan, memp erbaharui, men ghap us dan
men girim
atau men gambil data
dar i
suatu basis data.
|
|
22
2.1.4
Fourth Generation Language
Didalam 4GL user lebih menek ankan p ada p endefinisian ap a y ang akan dik erjak an,
darip ada bagaimana men ger akanny a. 4GL melip uti : (Connolly , 2005, p 42-43)
jakanny a. 4GL melip uti : (Connolly , 2005, p 42-43)
1. Forms Generators, merup akan fasilitas interaktif untuk membuat form inp ut data
dan tamp ilanny a. M endefinisikan design tamp ilan, informasai ap a y ang akan
disajikan, ko mp onen warna p ada lay ar dan karakteristik lainny a.
2. Rep ort Generators, membuat lap oran (rep orts) y ang datany a diambil dari
database. M emungkinkan user untuk men gambil data y ang dip erlukan untuk
lap oran. Lebih menekannk an kead aan ran can gan outp ut, y aitu bagaimana suatu
lap oran akan disajikan.
3. Grap hics Generators, digunakan untuk men gambil d ata dari database, d an
menamp ilkanny a dalam bentuk grafik, sep erti : bar ch art, p e chart, line chart
ie chart, line chart
dan lainny a.
4. Appp lication Generators, fasilitas untuk menghasilk an p rogram y an g
berhubungan den gan d ata, menentukan bagaimana menamp ilkan fun gsi-fun gsi.
M
enurut Connolly (2005, p 4), 4GL memp uny ai kemamp uan sebagai b erikut :
1. Bahasa p resentasi, sep erti query language d an rep ort generator.
2. Bahasa khusus (sp eciality language), sep erti sp redsheets dan bahasa basisdata.
3. Pembuat ap likasi (ap p lication gener ators) y ang membuat, melakukan insert,
up date, dan mengambil d ata dari basisdata untuk memb an gun ap likasi.
4. Bahasa tingk at sangat tinggi (very high- evel lan gu ages) y ang digun akan untuk
level lan gu ages) y ang digun akan untuk
men gerjakan kode ap likasi.
|
![]() 23
2.1.5
Siklus Hidup Aplikasi Basis Data
Siklus atau daur
hidup
sebuah
ap likasi basis
data menurut Connolly and
Begg
(2005, p 284) digambark an sebagai berikut :
Gambar 2.1 Sik us Ap likasi Basis Data
lus Ap likasi Basis Data
|
|
24
Adap un p enjelasan dari d aur hidup diatas adalah :
2.1.5.1 Perancanaan Basis Data (Database planning)
M
enurut
Connolly dan Begg p erencanaan basis
data (2005, p 285) adalah
aktivitas manajemen y an g memun gkink an tahap an dari ap likasi basis data untuk dap at
direalisasikan
seefisien dan seefektif mun gkin.
Per encan aan
b
asis data
h
arus dap at
diintegr asikan den gan keseluruh an strategi sistem informasi or ganisasi. Terdap at tiga hal
p
enting y ang terlibat dalam memformu lasikan sebu ah strategi sistem infor masi den gan
p
erencanaan basis data, y aitu :
a)
M
engidentifikasikan r encan a dan
tujuan
p
erusahaan
den gan
menentuan
sistem informasi y ang dip erlukan.
b)
M
engevaluasi
sistem
informasi
y
ang
d gunakan
igunakan
sek aran g
untuk
menentukan kekuatan dan k elemahan.
c)
Penilaian
tentang
p
eluan g
teknolo gi
informasi
y
an g
mun gk n
in
men ghasilk an keuntungan y ang komp etitif.
Perencanaan basis d ata ju ga harus melip uti p engemb an gan standar p en gump ulan
data, bagaiman a p enetap an format dan dokumentasi y ang dip erlukan, bagaimana desain
dan imp ementasi dip roses.
lementasi dip roses.
2.1.5.2 Definisi Sistem (System Definition)
Kegiatan
utamany a
adalah
mensp esifikasikan
ruan g
lin gkup dan
batasan
dari
ap likasi basis data dan user view utama. M enurut Connolly dan Begg (2005, p 286) user
view mendefinisik an
ap a
y
ang dibutuhkan ap likasi basis
data berdasarkan dari sudut
|
|
25
p
andang p eran p ekerjaan tertentu (misal manager atau supervisor) atau area enterprise
(misal marketin g, p ersonil, atau control stok).
Setiap
p
erusahaan
memilik i
sistem dan
setiap sistem
memiliki sebu ah
ap likasi
basis data y ang memp uny ai satu atau lebih user view y ang merup akan asp ek terp enting.
Alasanny a adalah k arena sistem y ang
d buat
ibuat
harus sesuai d en gan
masin g-masin g
kebutuhan user
y
ang
beker ja di
sistem tersebut.
Tujuan dari user
view adalah
untuk
membantu dan
memastikan tidak
ad a p enggun a dar i basis data
y
an g terlup akan saat
memban gun d an men gemban gk an kebutuhan-kebutuhan untuk ap likasi baru.
2.1.5.3 Pengumpulan dan Analisa Data (Requirements Collection and Analysis )
Proses
mengu mp ulkan dan
men gan alisa
informasi atau d ata
men genai
bagian
dari organ isasi y ang didukung oleh ap likasi basis data. Dengan menggun akan informasi
ini bertujuan
untuk
mengidentifikasi kebutuhan p enggun a
sistem baru.
Informasi
tersebut diambil berdasarkan dar i tiap -tiap user view y ang p enting dimana di dalamny a
termasuk :
a)
Deksrip si tentang bagaimana d ata digunakan d an dibuat.
b)
Penjelasan b agaimana d ata akan digun akan atau dibu at.
c)
Kebutuhan tambahan untuk ap likasi basis data baru.
Pada bagian
ini dilakukan p engu mp ulan
dan
analisa
infor masi tentang bagian-
bagian dari or ganisasi y ang memiliki keterkaitan den gan
basis
data
y
ang akan
dibuat.
Untuk itu digunakan teknik Fact Find ng Techniqu es.
ing Techniqu es.
M
enurut Connolly dan Begg terdap at lima teknik Fact Find ing Techniques y ang
umum digunak an (2005, p 315) :
|
|
26
a)
Pengkajian terhad ap dokumen
Pengkajian terhad ap
dokumen sep erti lap oran, dokumen p enting,
faktur, dan berbagai data y ang b erkaitan den gan sistem, y ang ak an san gat
bergun a dalam menentukan kebutuhan basis data y ang ak an diban gun.
b)
Wawancar a
Digunak an
untuk
men gump ulkan
informasi
secara lan gsun g
melalui tatap
muka dengan ind ividual
y
ang berk aitan.
Beberap a
tujuan
dari teknik ini adalah men gump ulkan fakta-fakta, memeriksa k ebenar an
fakta y ang
ada d an men gklar ifikasik an, men gidentifikasi kebutuhan-
kebutuhan dan men gump ulkan id e-ide p endap at.
c)
M
engobservasi jalanny a kegiatan kerja p erusahaan
San gat ber guna ap abila k ta men emukan k ejan ggalan analisis data
ita men emukan k ejan ggalan analisis data
dari metode y an g telah d ilakuk an sebelu mny a dengan berp artisip asi
lan gsung untuk
mendap atkan
gambaran
lan gsun g dari
sistem
y
ang
sedang b erjalan.
d)
Penelitian
M
encari referensi sep erti jurnal, buku, dan
melalui
internet
y
ang
memiliki p emecahan atas masalah serup a dengan masalah y ang sedan g
dihadap .
i.
e)
Kuisioner
Pengump ulan
dokumen
den gan tujuan
khusus
y
ang didap at
dari
p
engump ulan fakta-fakta dari bany ak oran g sambil
menjaga kontrol
terhadap tanggap an y ang dib erikan.
|
|
27
2.1.5.4 Desain Basis Data (Database Design)
Desain basis data ad alah p roses dalam mencip takan desain untuk basis data y an g
akan mendukun g op erasi dan tujuan or ganisasi. Desain basis data dibuat dalam tiga f ase,
y
aitu :
a)
Desain konsep tual basis data
Proses p engkonstruksian / memban gun model informas i y ang
digun akan dalam sebuah or gan isasi, y ang terbebas
d
ari
semu a
p
ertimbangan fisik.
b)
Desain lo gikal basis data
Proses
memban gun
mod el
informasi
y
ang digun akan d alam
sebuah enterprise y ang did asarkan o eh data model sp esifik, dan terbebas
leh data model sp esifik, dan terbebas
dari
sistem
manajemen
basis data
(DBM S)
tertentu
dan
p
ertimbangan
fisik lainny a.
c)
Desain fisik basis data
Proses memp roduksi
sebuah
deskrip si
dari
imp lementasi
basis
data dalam secondary strorage, y an g menjelaskan relasi d asar, or gan sasi
isasi
file, dan
ind eks
y
ang digun akan untuk
mencap ai akses
y
ang efisien ke
data dan
setiap
integrity constrain t y ang
salin g b erhubun gan
d
an ju ga
p
engukuran keamanan.
2.1.5.5 Penyeleksian DBMS (DBMS Selection)
Pada tahap ini dilakukan seleksi sistem manajemen basis data y ang cocok untuk
mendukun g ap likasi b asis data. Berikut ini adalah tahap an utama untuk menseleksi basis
data adalah :
|
|
28
a)
M
enggambarkan cakup an tugas berdasark an kebutuhan p erusahaan.
b)
M
embuat p erbandingan men gen ai dua atau tiga p roduk.
c)
M
engevaluasi p roduk-p roduk sistem manajemen b asis data y ang dip ilih.
d)
M
erekomendasikan p emilihan
sistem
man ajemen basis
data dan
membuat lap oran hasil ev aluasi p roduk-p roduk sistem manajemen basis
data tersebut.
2.1.5.6 Desain Aplikasi (Application Design)
Desain ap likasi y aitu mendesain antarmuka p engguna d an p rogram ap likasi y an g
men ggunakan dan memp roses basis data. Pada tahap
ini harus d ip astikan semua
sp esifikasi kebutuhan p engguna
terdap at
di dalam desain
ap likasi
untuk ap likasi basis
data. Desain ap likasi dibagi men adi du a asp ek, y aitu :
jadi du a asp ek, y aitu :
a)
Desain Transaksi
Transaksi
dap at diartikan
sebagai sebu ah
atau
seran gkaian
aksi,
y
an g
dilakukan
oleh
seor an g user
atau p rogram ap likasi, y an g men gakses atau
men gubah isi d ari basis data. Terdap at tiga utama transaksi :
1. Retrieval Transaction, contohny a tamp ilan
detil data p rop erti
(data
ditamp ilkan dalam bentuk an gka).
2. Update Transaction, contohny a op erasi untuk memasukkan detil data
property baru ke dalam b asis data.
3. Mixed Transaction,
contohny a op erasi
untuk mencari detil data
p op erti, menamp ilkanny a dan kemudian men gupdate nilainy a.
rop erti, menamp ilkanny a dan kemudian men gupdate nilainy a.
|
|
29
b)
Panduan desain antarmuk a p engguna
Elemen-elemen
dalam
mer ancan g
suatu
antarmuka p enggun a
(user
interface) antara
lain
p
enetap an
judul
y
ang
ber makna, instruksi-instruksi
y
ang dap at dip ahami, p engelomp okan logika dan p engurutan kolom, bentuk
form
y
ang
menarik
secar a visual,
judu l kolom
y
ang d ikenal, p enggun aan
istilah
dan
singk atan
y
ang
konsisten,
p
enggunaan
warn a
y
ang
konsisten,
ruang d an batasan y ang terlibat untuk men ginput ko lom, p ergerakan kursor
y
ang
mudah, p erbaikan kesalahan untuk satu huruf dan semua kolom,
mencegah
kesalahan, men amp ilkan p esan
kesalah an
terhadap nilai y ang
tidak sesuai, p emberian tanda terhadap kolom berup a p ilihan (optional
field), p esan-p esan y ang bersifat p enjelasan
untuk suatu kolom, p emberian
tanda p eny elesaian.
2.1.5.7 Proto
typing
Prototyping
ad alah p roses
memban gun
mod el kerja (working
model)
dari
ap likasi basis data. Tujuan utama dari memb an gun prototyp e ap likasi basis data adalah
untuk memungkink an p enggun a men ggunak an
prototype tersebut
untuk
men gidentifisik an
fitur
dari
sistem
y
ang bek erja
den gan
baik, d an
ap abila
memun gkink an untuk dap at
meny arankan imp rovisasi atau bahkan membuat
fitur baru
ke ap likasi basis data.
|
|
30
2.1.5.8 Implementasi (Implementation)
Imp lementasi
adalah
realisasi
f
isik
dar i
basis data
dan
d
esain ap likasi.
Imp lementasi data
dilakuk an
den gan
men ggunak an
Data
Defin ition
Language (DLL)
dari DBM S y ang dip ilih atau den gan
men ggunak an Graphical User
Interface (GUI),
y
ang meny ediak an
fun gsionalitas y ang sama den gan
saat
meny embuny ikan
statemen
low-level DLL.
Program ap likasi
diimp lementasikan
men ggunak an b ahasa
generasi ketiga atau
kemp at (3GL atau 4GL). Bagian dar i p rogram ap likasi
ini adalah transaksi b asis data,
y
ang diimp lementasikan den gan
men ggunak an
Data Manipula tion
Language (DM L),
y
ang biasany a
sudah
terdap at
dalam bahasa p emp rograman. Selain
itu
p
ada tahap
ini
diimp lementasikan p ula keaman an dan kontrol integritas.
2.1.5.9 Loa ding dan konversi data (Data conversion and loading)
Pada tahap ini dilakukan transfer semua data ke dalam basis data y ang baru dan
men gkonversi ap likasi y an g ada untuk dijalank an di basis data y ang b aru.
2.1.5.10 Testing
Testing
adalah
men geksekusi p rogram
ap likasi den gan
tujuan menemuk an
kesalahan. B eberap a keuntungan melakukan testing :
a)
M
enemukan error
(kesalahan) p rogram ap likasi dan
mun gkin ju ga
kesalahan struktur basis data.
|
|
31
b)
Testing mend emonstrasikan bahwa basis data d an p rogram ap likasi dap at
berjalan sesuai dengan kebutuhan p erforma dan sp esifikasi
y
ang
diin ginkan atau tidak.
2.1.5.11 Perawatan operasional (Operational Maintenance)
Perawatan op erasional adalah p roses
monitor dan
merawat
sistem setelah
dilakukan instalasi. Pada tahap ini melibatkan beb erap a aktivitas :
a)
M
emonitor p erforma sistem.
Ap abila p erforma
berada
di
level
bawah
maka dibutuhkan tunn ng atau reor gan sasi basis data.
ing atau reor gan sasi basis data.
isasi basis data.
b)
M
emelihara dan men gupdate
ap likasi basis data (ap abila dibutuhkan).
2.1.6
Entity-Relationship Modeling (ER Mo deling)
M
enurut Connolly
dan
Begg (2005,
p
342),
salah
satu
asp ek
terp enting dalam
p
erancangan basis data adalah suatu keny ataan bahwa seorang p erancang, programmer,
dan end-user cenderun g dalam melihat data
memilik i cara
y
ang b erbeda. Oleh karen a
itu, untuk memastikan p emahaman y ang tep at tentang sifat data bagaimana d ata tersebut
digun akan
o
leh
or ganisasi /
p
erusahaan, maka dibutuhkan
suatu
mod el
untuk
berkomunikasi y an g bersif at non teknis dan bebas dari amb iguitas. Salah satu contohny a
adalah : model Entity Rela
tionship.
Pemodelan Entity Rela tionship men ggunakan p endekatan basis data secar a top-
down untuk
merancan g b asis data
den gan cara
men gidentifik asi data p enting disebut
entityes
dan
relationship
antara data
y
ang harus
ditamp ilkan dalam
mod el.
Kemudian
menamb ahkan
lebih
bany ak detil sep erti informasi
men genai entityes dan relationship
|
![]() 32
y
ang
disebut atributes dan berbagai constraints dalam entityes, relationship, dan
attributes.
2.1.6.1 Tipe Entity (Entity Type)
Tip e entity
adalah
sekump ulan objek
den gan property y ang sama
y
ang
mana
diidentifikasik an
oleh
suatu organ isasi / p erusahaan y ang keber adaanny a bersifat
indep enden. Konsep dasar dari
model en tity rela tionship
adalah tip e entity. Suatu tip e
entity memilik i keberad aan y ang bebas dan bisa menjad i objek den gan physical (ny ata)
keberadaaanny a atau objek den gan keber adaan b ersifat konsep tual (abstrak).
Setiap objek
dari
suatu
tip e
entity
dap at diidentifikasikan
secar a
unik.
Yan g
disebut sebagai en tity occurrence. Setiap entity
digambarkan d alam bentuk segiemp at
y
ang dijelaskan
melalui
nama dar i entity tersebut, y ang biasany a
berup a kata benda
tunggal. Dalam UM L huruf p ertama setiap kata dalam nama entity
b
erup a huruf kap tal.
ital.
Gambar 2.2 Contoh Tip e Entity
2.1.6.2 Tipe Relasi (Relationship Types)
Tipe relasi ad alah sejumlah
hubun gan
antara satu atau b any ak tip e entity y ang
terlibat. Setiap
tip e relasi memiliki nama y ang menggambarkan
fun gsiny a. Suatu
|
![]() 33
asosiasi
y
ang digamb arkan secar a
unik,
y
ang didalamny a
memilik i satu
kejadian dar i
setiap bagian dar tip e entity.
i tip e entity.
Setiap
tip e
relasi
ditamp ilkan
sebagai sebuah
garis
y
ang d hubun gkan
ihubun gkan
den gan
tip e entity, ditandai den gan nama dari relasi. Dan setiap
relasi hany a ditandai oleh satu
gar is. Secar a u mum sebu ah r elasi dinamai men ggunakan kata ker a (contoh : supervises
ja (contoh : supervises
atau manages) atau frase p endek termasuk didalamny a kata kerja ( contoh : leased b y).
Setiap
huruf p ertama dari
setiap kata dalam nama relasi ditulis dengan huruf besar. Jika
memun gkink an, setiap relasi harus unik untuk setiap model ER y ang dib erikan.
Gambar 2.3 Contoh Tip e Relasi
Derajat tipe relasi adalah sekumpulan tipe entity y ang terlibat dalam satu relasi.
Entity y ang terlibat dalam sebuah tip e relationship tertentu dikenal sebagai participan t
dalam relationship
tersebut. Jumlah participant dalam
tip e relasi disebut derajat dari
suatu relasi (relationship). Oleh karen a itu derajat
menjelaskan b ahwa jumlah dar i tip e
entity
memiliki k eterikatan dalam sebuah r elasi. Sebuah relasi y ang memliki dua der ajat
disebut binary.
|
![]() 34
Gambar 2.4 Contoh tip e relasi binary
Sebuah r elasi (relationship) y an g berder ajat tiga disebut ternary.
Gambar 2.5 Contoh Tip e relasi ternary
Sebuah r elasi y an g berder ajat emp at disebut quarternary.
Gambar 2.6 Contoh tip e relasi quarternary
2.1.6.3 Atribut
M
enurut Connolly dan
Begg (2005, p 350)
atribut
adalah sebuah property dari
satu
entity
atau
tip e
relasi
(rela tionship type). Setiap atribut diasosiasikan
den gan
|
|
35
sejumlah n ilai disebut domain. Domain tersebut
memilik i nilai p otensial
y
ang atribut
tersebut dap at disimp an sama halny a dengan konsep domain d alam model relational.
Simple attribu te ad alah sebu ah atribut y ang diran gkai dari satu buah komp onen
dengan keb eradaanny a bebas. S imple a ttribute tidak
dap at dibagi k e d alam komp onen
y
ang lebih k ecil. M isal
:
atribut
p
osisi dan
gaji d ari en tity p egawai. Simple a ttribute
terkadang d isebut atomic
a
ttribute. Composite
a
ttribute
adalah
sebu ah
atribut y ang
diran gkai
dar i
beberap a
komp onen
y
ang
setiap atribut
tersebut
memiliki
keb eradaan
y
ang bebas.
Beberap a atribut dap at dip ecah menjadi beber ap a komp onen dengan keberadaan
y
ang bebas dari masin g- masin gny a. Contohny a atribut alamat dari entity k antor caban g
y
ang men gandun g nilai
(jalan, kota, kode p os)
bisa
dip ecahkan
menjadi
atribut
sederhana jalan, kota, dan kod e p os.
Single valued attribu te adalah sebuah atribut y ang hany a meny imp an 1 nilai dar i
setiap kejadian / sifat dari tip e entity. Multi valued attribute ad alah sebuah atribut y ang
memiliki b any ak nilai d ari setiap sifat / kejadian y ang ber ada dar i setiap tip e entity.
Derived
attribute adalah
sebuah atribut y ang menunjuk an
nilai
y
ang dip eroleh
dari atribut y ang berhubun gan tidak terlalu p erlu dalam tip e entity y ang sama.
2.1.6.4 Keys
Candidate key ad alah
jumlah
minimal
dar i
sekump ulan atribut
y
ang
diidentifikasik an secar a unik dalam setiap kejad ian / sif at dari tip e entity.
Primary key adalah
ju mlah key
y
ang digun akan secara
unik
untuk
men genali
setiap
occurrence (kejadian) dari suatu
tip e entity.
Terp ilihny a primary key dari
suatu
|
|
36
entity menjad i dasar dari p ertimbangan p anjan gny a atribut, jumlah minimal atribut y ang
dibutuhkan, serta keunikan-keunik an y ang lain suatu atribut.
Composite key adalah
suatu
candidate key y an g terdiri dua
atau
lebih
atribut.
Contohny a, entity advert memiliki atribut Prop erty No, newsp ap erName, dateAdvert dan
cost. Bany ak p eop erti y ang diiklank an dalam bany ak koran p ada waktu y ang diberik an.
Jadi, entity advert memp uny ai composite primary key y ang berasal dari
atribut
p op ertyNo, newsp ap erName dan dateAdvert.
rop ertyNo, newsp ap erName dan dateAdvert.
2.1.6.5 Stuctural Contraints
Constraint
mencermink an
p
embatasan
(restriction) p ada relationship sebagai
p
erhatian (perceived) didalam keny ataan. Tip e utama dari constraint adalah multiplicity.
M
enurut Connolly dan
Begg
(2005, p 356) multiplicity
adalah
ju mlah
k
emun gkin an
occurrence d ari sebu ah
entity y an g men ghubun gkan
sebu ah occurrence
tunggal dar i
hubungan entity melalui relationship
tertentu. Multiplicity constraint adalah jalan
dimana entity dihubun gk an melalu relationship tertentu.
i relationship tertentu.
Sep erti y ang disebutkan seb elumny a bahwa rela tionship b erderajat dua (b nary),
inary),
umumny a bisa ditunjukan sebagai hubun gan one to one (1 :1), on e to many (1 :*) atau
many to many (*.*).
2.1.7 Perancangan Basis Data
M
enurut Connolly
dan
Begg ( 2002,p 419 ), p erancan gan
basis data
adalah
p
roses p embuatan sebuah rancan gan untuk sebuah b asis data y ang mendukun g op erasi
tujuan dari p erusahaan.
|
|
37
M
enurut Connolly
dan
Begg (
2002, p 418
),
sebuah
metodolo gi p erancan gan
basis data
terdiri atas fase-fase y ang
masin g-masin g terdiri
d
ari
seju mlah lan gk ah-
lan gkah,
y
an g
memandu p erancan g
k
e
dalam teknik-teknik
y
an g
tep at p ada
setiap
tingkatan p roy ek.
Perancan gan
basis data dibagi ke dalam 3
( tiga
) tahap an utama,
y
aitu
Perancan gan
b
asis
data konsep tual, Perancan gan
b
asis
data lo gikal, dan
Per ancan gan
basis data fisikal.
2.1.7.1 Perancangan Konseptual
M
enurut Connolly dan Begg ( 2002, p 419 ), p erancangan konsep tual basis data
adalah p roses mamban gun sebu ah model data dari informasi y an g digunak an p erusahaan
y
ang bebas dari p ertimban gan f isikal. Tujuan utama d ari p erancan gn a konsep tual basis
data adalah
memb an gun
sebuah
model d ata konsep tual
lokal dari sebu ah
p
erusahaan
untuk jenjan g y ang lebih sp esifik.
Berikut ini adalah lan gkah-lan gkah dalam p erancan gan basis data konsep tual :
Langkah 1 Membangun model konseptual data lokal untuk setiap user view
Untuk memban gun
model konsep tual data lokal dari p erusahaan untuk
setiap view y ang khusus ada beber ap a lan gkah sebagai ber kut.
ikut.
Lan gkah 1.1
Identifikasi tip e entity
Untuk mengidentifikasi tip e entity
utama y ang dibutuhkan
oleh view.
|
|
38
Lan gkah 1.2
Identifikasi tip e relationship
Untuk mengidentifik asi hubun gan p enting y ang ada
Lan gkah 1.3
Identifikasi
tip e dan
men ggabun gkan
attributes p ada tiap
entity
Untuk menggabun gk an attribut dengan entity
y
ang sesuai
atau tip e relationship .
Lan gkah 1.4
M
enentukan domain attribute
Untuk menentukan daerah asal atribut p ada konseptual
data model.
Lan gkah 1.5
M
enentukan attributes
candidate and primary key
Untuk
mengidentifikasi candidate
key
setiap tip e
entity ,
jika
terdap at
lebih
dari
satu candidate key, maka
dip ilih
satu menjadi primary key.
Lan gkah 1.6
M
emp ertimbangkan
konsep
p
emodelan
enhanced
(optional step )
Untuk
memp ertimbangkan
p
enggun aan
dar i
konsep
p
emodelan enhan ced,
sep erti
sp esialisasi/generalisasi,
p
engump ulan, dan komp osisi.
Lan gkah 1.7
Cek model d ari
p
erulan gan d ata
Untuk mengecek adany a p erulan gan data di d alam model.
Lan gkah 1.8
Validasi
mod el
konsep tual
lokal
terhadap
transaksi
p
engguna
|
|
39
Untuk
memastikan bahwa
model
konsep tual
lokal
mendukun g transaksi y ang dibutuhkan oleh v ew
iew
Lan gkah 1.9 Review model konsep tual data lokal terhadap p enggun a
Untuk
meninjau
model konsep tual data
lok al d en gan
p
enggun a untuk memastikan bahwa model rep resentasi
dari view b enar.
2.1.7.2 Perancangan Logikal
M
enurut Connolly dan
Begg ( 2002,
p
419 ), p erancangan
basis data
lo gikal
adalah p roses
untuk membuat sebuah rancangan informasi y ang
digunakan d alam
p
erusahaan berdasarkan suatu mod el data sp esifik, tetap i masih bebas dar i DBM S dan
p
ertimbangan-p ertimban gan fisik lainny a.
Berikut ini adalah lan gkah-lan gkah dalam Per ancan gan Basis Data Lo gikal :
Langkah 2 Membangun
dan memvalidasi model logikal data lokal
untuk setiap
user view
Untuk memban gun mod el lo gikal data lok al d ari
model konsep tual data
lokal
y
an g
mewak ili view tertentu
dari
p
erusahaan
dan ju ga
v
alid asi
model
ini untuk memastikan struktur
y
ang
digun akan adalah ben ar
(men ggunakan
teknik
nor malisasi)
dan
untuk
memastikan
mendukun g
transaksi y ang dip erlukan.
Lan gkah 2.1
M
enghilan gkan
features
tidak comp atible
terhadap
model
relational
(op tional step )
|
|
40
Untuk
memp erbaiki
mod el konsep tual data
lok al untuk
men ghilan gkan
features y ang tidak
co mp atible
terhadap
model relational.
Lan gkah 2.2
M
enentukan relasi untuk model lo gikal data lokal
Untuk membuat relasi mod el lo gikal d ata lokal
untuk
mewakili entity ,
relationship ,
dan atribut
y
ang sudah
teridentifikasi.
Lan gkah 2.3
Validasi relasi den gan men ggun akan normalisasi
Untuk validasi relasi
model
lo gikal data
lok al
men ggunakan teknik nor malisasi.
Lan gkah 2.4
Validasi relasi terhadap transaksi user
Untuk
memastikan relasi di
model lo gikal data lok al
mendukun g transaksi y ang dibutuhkan oleh v ew.
iew.
Lan gkah 2.5
M
enentukan kendala integr ty
ity
Untuk
menjelaskan kendala
integrity
y
ang
diberik an
oleh
view.
Lan gkah 2.6
Review model lo gik al
data ok al terhadap p engguna
lok al terhadap p engguna
Untuk
memastikan model
lo gikal
d
ata
lokal dan
dokumentasi p endukung
y
ang
men ggambark an
mod el
adalah r ep resentasi dari view.
Langkah 3 Membangun dan memvalidasi model logikal data global
Untuk
menggabun gkan
indiv du
idu
model lo gikal d ata
lokal
men adi satu
jadi satu
model lo gikal d ata global y an g direp resentasikan p erusahaan.
|
|
41
Lan gkah 3.1
M
enggabun gk an mod el
lo gikal data lokal kedalam
mod el
logikal d ata global
Untuk
menggabun gkan
indiv du
idu
model lo gikal data
lok al
ke dalam model lo gik al data glob al ke p erusahaan.
Lan gkah 3.2
M
emvalidasi model lo gik al data glob al
Untuk
validasi
relasi
y
ang dibuat dari
model
logikal
data
glob al
men ggunak an
teknik
normalisasi
dan
untuk
memastikan relasi mendukun g transaksi y ang dibutuhkan.
Lan gkah 3.3
Cek model terhad ap p erkembangan selanjutny a
Untuk
menentukan ap akah
ada p erubahan
y
ang sinif ikan
dalam waktu dekat
dan
untuk
menilai ap akah
mod el
logikal
data
global
dap at mengakomodasi p erubahan-
p
erubahan ini.
Lan gkah 3.4
Review model lo gik al data glob al terhadap p engguna
Untuk
memastikan bahwa
model
logikal
data glob al
merup akan rep resentasi dari p erusahaan.
2.1.7.3 Perancangan Fisikal
M
enurut Connolly dan
Begg ( 2002, p 419 ), p erancangan
basis data
fisikal
adalah p roses
mengh asilkan sebu ah deskrip si dari imp lementasi basisi data p ada media
p
eny imp anan
sekunder,
den gan
men ggamb arkan
hubun gan dasar,
or ganisasi
file d an
indeks y ang
digunak an
untuk
memp eroleh
akses
y
ang
efisien
terhadap data,
beserta
segala in tegrity constraints y ang terkait dan p ertimbangan k eamanan.
Berikut ini adalah lan gkah-lan gkah dalam p erancan gan Basis Data fisikal :
|
|
42
Langkah 4 Menerjemahkan model logikal data global menjadi target DBMS
Untuk
menghasilkan
skema
relasi b asis data
dar
i
mod el
lo gikal data
glob al y ang d ap at diimp lementasikan ke tar get DBM S.
Lan gkah 4.1
M
erancang relasi dasar
Untuk memutuskan bagaimana rep resentasi relasi dasar
y
ang
teridentifikasi di
mod el lo gikal data glob al
p
ada
target DBM S.
Lan gkah 4.2
M
erancang rep resentasi kebutuhan data
Untuk
memutuskan
bagaimana
merep resentasikan
setiap
data
y
ang
dip eroleh di model lo gik al
d
ata global
p
ada
target DBM S.
Lan gkah 4.3
M
erancang kend ala p erusahaan
Untuk merancan g kendala p erusahaan untuk target DBM S.
Langkah 5 Merancang representasi fisikal
Untuk menentukan op timal organisasi untuk meny imp an basis relasi dan
indeks y ang dibutuhkan untuk mencap ai hasil y ang dap at diterima.
Lan gkah 5.1
Analisis Transaksi
Untuk
memahami
k
emamp uan
dari
transaksi
y
ang
akan
dijalankan o eh b asis data dan untuk men ganalisa transaksi
leh b asis data dan untuk men ganalisa transaksi
y
ang p enting.
Lan gkah 5.2
M
emilih organisasi file
Untuk
menentukan organ isasi
file y ang
efisien
untuk
setiap basis relasi.
|
|
43
Lan gkah 5.3 Pemilih an indeks
Untuk menentukan ap akah menambahk an indeks
dap at
men gemb an gkan hasil dari sistem.
Lan gkah 5.4 Estimasi kebutuhan disk space
Untuk
memp erkirakan
bany akny a
disk
space
y
ang
dibutuhkan oleh basis data.
Langkah 6 Perancangan user view
Untuk
merancan g
user
view y ang telah
teridentifik asi
selama
p
engump ulan
p
ersy aratan
dan
tahap
mengan alisa
dar i
database
application lifecycle.
Langkah 7 Perancangan mekanisme security
Untuk
merancan g lan gkah- lan gkah
k
eman an
untuk basis data y ang
ditentukan oleh p engguna.
Langkah 8 Mempertimbangkan kontrol redundancy
Untuk
memutuskan ap akah
memp erkenalkan redundancy
dengan aturan
normalisasi akan men gemb an gkan hasil dari sistem.
Langkah 9 Monitor dan merubah sistem operasional
Untuk memonitor sistem op erasional dan men gemb an gkan hasil dar i
sistem
y
ang tidak sesuai
den gan
kep utusan
desain atau
mencermink an
p
erubahan kebutuhan.
|
|
44
2.1.8
Normalisasi
M
enurut
Connolly
(2005, p 388),
normalisasi ad alah
sebuah teknik untuk
men ghasilk an sekump ulan relasi den gan p rop erti
y
ang
diin gink an, y ang
ak an
member ikan kebutuhan data bagi p erusahaan. Relasi ad alah sebuah tabel den gan kolo m
dan
baris. Basis data
dian ggap
normal
jik a basis
data
tersebut
tidak
mengulan gi data
(data redudancy) atau tidak
menimbu lkan keanehan
(abnomaly)
p
ada p roses update,
delete, atau insert.
Tujuan normalisasi adalah sebagai berikut :
1. M enghilan gkan
kump ulan relasi d ari inserting, upda ting, d an detele dep edency
y
ang tidak diharap kan.
2. M engurangi kebutuhan
restrukturisasi kump ulan
relasi
dan
menin gkatkan
life
spam p rogram ap likasi.
3. M embuat model relational y an g leb h informative.
ih informative.
4. M embuat sekecil mun gkin terjad ny a data rangk ap .
iny a data rangk ap .
5. M enghindarkan
adany a data y ang tidak konsisten terutama bila
dilakuk an
p
enghap usan dan p enambahan data sebagai akib at adany a data rangk ap .
6. M enjamin bahwa
identitas tabel secara
tunggal sebagai
determin an semu a
atribut.
Hal p enting y ang p erlu dip erhatiakan dalam p roses
normalisasi untuk basis data
relational ad alah hany a bentuk normal p ertama (first normal form / 1NF) y ang menjad i
kritis dalam membuat relasi. Semu a bentuk normal b erikutny a adalah optiona l. Tetap i
untuk
menghind arkan update anomalies (relasi y an g memiliki p en gulan gan atau
redudansi
data
y
ang
dap at meny ebabkan
masalah)
biasany a
dianjurk an
samp ai
p
ada
|
|
45
tahap ketiga
(3NF). Normalisasi
y
ang
umum
dip akai adalah
samp ai
den gan
bentuk
normal ketiga. B erikut ini ad alah p roses normalisasi.
2.1.8.3 First Normal Form (1NF)
Sebelum memasuki tahap 1NF, status sebelum 1NF disebut dengan Unormalized
Form (UNF), y aitu
sebuah
tabel
y
ang
mengandun g
satu
atau
lebih
kelomp ok y ang
berulan g. First Normal Form
(1NF) adalah
sebuah
r
elasi
dimana p ersimp angan
dar i
setiap baris dan kolom y ang men gandun g satu dan hany a satu nilai saja.
Untuk mengubah tabel UNF kedalam 1NF harus mengid entifikasi dan
men ghilan gkan
repea ting group p ada
tabel.
Sebuah
rep eating group ad alah
sebu ah
atribut atau kump ulan atribut p ada suatu
tabel
y
ang
terdap at lebih dari satu nilai
(multiple) untuk sebuah occurrence tunggal d ari key
atributny a y ang ditunjuk d alam
tabel.
Ada
dua p endekatan
umum
untuk
menghilan gk an
repeating group p ada tabel
UNF, antara lain :
1. Pendekatan p ertama,
mengh ilan gk an
repeating group den gan memasukan
data y ang b erleb han k e d alam kolo m d an bar s y ang kosong. Sehin gga hasil
ihan k e d alam kolo m d an bar s y ang kosong. Sehin gga hasil
is y ang kosong. Sehin gga hasil
dari tabel nantiny a hany a men gandun g nilai atomik (tunggal).
2. Pendekatan kedua,
men gh ilan gk an
repeating group den gan menemp atkan
data y ang ber ebih an, selanjutny a dengan
lebih an, selanjutny a dengan
men g- copy atribut
kunciny a y ang
asli dalam sebuah r elasi y an g dip isahkan.
Kedua p endekatan
ini b enar.
Tetap i p endekatan kedua
awalny a
men ghasilkan
relasi y an g p alin g sed kit p ada 1NF dengan men guran gi
ikit p ada 1NF dengan men guran gi
redudansi.
Jika
men ggunak an
|
|
46
p
endekatan p ertama, relasi 1NF ad alah buruk, selanjutny a selama lan gkah nor malisasi
berikutny a akan men ghasilk an relasi y ang sama y ang dih asilkan o eh p endekatan kedua.
leh p endekatan kedua.
2.1.8.4 Second Normal Form (2NF)
Second Normal Form
(2NF)
adalah
sebuah relasi
dimana
p
ada bentuk normal
p
ertama dan setiap atribut y ang bukan primary key adalah secara fun gsional tergantun g
dengan primary key. Primary key ad alah candida te key y an g dip ilih untuk
men gidentifik asi tuple secara
un ik
p
ada sebuah
relasi. Sed an gkan
tup le ad alah b aris
p
ada sebuah relasi.
Proses
normalisasi 1NF ke 2NF
melibatkan p enghilan gan
partia depeden cies
l depeden cies
.
Jika terdap at partial depedencies, maka atribut fungctiona lly dep endent dar relasi ak an
i relasi ak an
dihilan gk an
den gan
menemp atkanny a p ada
sebuah
relasi baru
bersama
dengan
cop y
determinant mereka.
Full fung tional
deped ency
adalah suatu keadaan dimana
jika
A
d
an
B
adalah
atribut,
B
secara
fungsional
sangat
tergantun g p ada
A dan
jika
B
secara
fungsional
bergantung p ada A, tetap bukan subset dari A.
i bukan subset dari A.
2.1.8.5 Third Normal Form (3NF)
Third Normal Form (3NF) adalah sebuah relasi d iman a bentuk normal p ertama
dan kedua, dan dimana tidak ada atribut y ang
bukan primary key
secara transitif
tergantung p ada primary key. Transitive d epeden cy adalah sebu ah kondisi dimana A, B,
C adalah atribut dari relasi d iman a A?B dan B?C, maka C adalah transitive
depedency p ada A melalui B.
|
|
47
Proses
normalisasi dari relasi 2NF
ke 3NF melibatkan p enghilan gan
dar i
ketergantun gan transitif. Jika sebuah k etergantungan transitif muncul, mak a dih ilan gk an
ketergantun gan transitif antara atributny a dengan men emp atkan atribut tersebut kedalam
relasi baru, selanjutny a dengan sebuah salinan dar determin anny a.
i determin anny a.
2.1.9 Data Flow Diagram (DFD)
Data Flow
Diagram (DFD) adalah alat p embuatan model y ang memun gkink an
p
rofesional
sistem
untuk
menggambarkan
sistem
sebagai suatu
jar in gan
p
roses
fungsional
y
ang
dihubun gk an
satu
sama
lain
den gan
alur
data,
baik
secara manual
maup un komp uterisasi.
DFD
ini sering disebut juga den gan nama Bubble chart, Bubble diagr am, model
p
roses, diagram alur kerja, atau model fun gsi.
DFD ini adalah salah satu alat p embuatan mod el y an g serin g digunak an,
khususny a bila fun gsi-fun gsi sistem merup akan bagian y ang lebih p enting dan komp eks
leks
dari p ada data y ang dimanip ulasi oleh sistem.
Dengan
kata
lain,
DFD adalah
alat
p
embuatan
model
y
ang
memberik an
p
enekanan hany a p ada fungsi sistem.
DFD
ini merup akan alat
p
erancan gan
sistem y ang b erorientasi p ada alur data
dengan
konsep dekomp osisi
dap at digun akan
untuk
p
enggambar an analisa
maup un
rancan gan sistem y an g mudah d ikomunik asikan o leh p rofesional sistem kep ada p emakai
maup un p embuat p rogram.
|
![]() 48
2.1.9.1 Komponen DFD
Komp onen-komp onen y ang terdap at
dalam data
flow
d agram ad alah
iagram ad alah
sebagai
berikut:
1. Terminator
Terminator
mewakili
entitas eksternal
y
ang
berkomunikasi
den gan
sistem
y
ang
sedan g dikemban gkan.
Biasany a terminator diken al d en gan
nama
entitas luar (external entity).
Terdap at dua jenis terminator :
a.
Terminator Sumber (source) : merup akan termin ator y ang menjadi
sumber.
b. Terminator Tujuan (sink) : merup akan terminator y ang menjadi tujuan
data / informasi sistem.
2. Proses
Komp onen p roses menggamb arkan bagian dar sistem y ang
i sistem y ang
mentransformasikan inp ut menjadi outp ut.
3. Data Store
Data store ini biasany a berkaitan den gan p eny imp anan-p eny imp anan, sep erti
file atau database y an g berkaitan den gan p eny imp anan secara komp uterisasi,
misalny a file d sket, file hardd sk, file p ta magnetik. Data store juga
isket, file hardd sk, file p ta magnetik. Data store juga
isk, file p ta magnetik. Data store juga
ita magnetik. Data store juga
berkaitan den gan p eny imp anan secara manual sep erti buku
alamat, file fold er, dan agenda.
|
|
49
4. Alur Data
Suatu data flow (alur data) digambark an den gan anak p anah, y ang
menunjukkan arah menuju ke d an kelu ar dari suatu p roses. Alur data ini
digun akan untuk mener an gkan p erp indahan data atau p aket data/informasi
dari satu bagian sistem ke bagian lainny a.
2.1.9.2 Pembuatan DFD
Tahap an dalam membuat DFD adalah sebagai berikut:
1. M embuat Diagram Konteks
Diagr am in i adalah diagram level tertinggi d ari DFD y ang men ggambarkan
hubungan sistem den gan lin gkun gan luarny a.
2. M embuat Diagram Level Zero
Diagr am in i adalah deko mp osisi dari diagram konteks.
2.2
Sistem Berbasis Web
2.2.1
PHP
Dalam
memban gun sistem
berb asis basis data,
dip erlukan
softwaresoftware
y
ang khusus untuk sistem tersebut. Salah satu software y ang bany ak digunakan adalah
PHP. Untuk dap at menggunakan software ini p erlu dilakukan instalasi dan konfigur asi.
M
enurut Nugroho (2004, p 140) PHP adalah
bahasa
standar
y
ang
digunak an
dalam
dunia
website. PHP adalah
bahasa
p
emro graman
y
ang berbentuk
script
y
ang
diletakkan di d alam server web.
PHP bermula d ari ide R asmus Lerdo lf y an g membuat script perl. Scrip t tersebut
sebenarny a
digunakan sebagai p rogram
untuk
diriny a
send ri,
iri,
tetap i
kemudian
|
|
50
dikemban gk an
lagi
menjadi bahasa
y
ang disebut
Personal
Home Page,
dari
sinilah
awal mula muncu lny a PHP.
2.2.2
Ado be Dreamweaver CS 3
Dreamweaver ad alah sebuah
HTM L editor p rofessional
y
ang digunak an
untuk
mendesain secara visual dan men gelola situs
web maup un halaman web. Dreamweav er
meny ediakan tool tool y ang
san gat
bergun a dalam menin gk atkan kemamp uan dan
p
engalaman dalam membu at web.
Dreamweaver
men gikutsertakan
bany ak
tool
untuk
kodekode d alam
halaman
web beserta
fasilitasfasilitasny a,
antara
lain
:
HTM L,
CSS, Javascrip t
debugger d an
editor code y ang mengijink an
p
engeditan
kode Javascrip t,
XM L, PHP,
JSP, ASP dan
dokumen text lainny a.
2.2.3
Internet
M
enurut Turban (2001, p 208) Internet adalah sebuah interkoneksi jarin gan y an g
besar dari jar in ganjarin gan ko mp uter dan komp uterkomp uter di seluruh p enjuru
dunia,
lewat
salur an
telep on,
satelit, dan sistem komunikasi lainny a
guna
melakuk an
p
ertukaran informasi.
2.2.4
Web
M
enurut
Betha, Husni
(2007, p 5), Web Browser adalah p iranti lunak
y
ang
digun akan untuk menamp ilkan informasi dar i web server. Web Browser berkomunikasi
melalui jarin gan (termasuk jarin gan internet) den gan web server,
men ggunak an HTTP.
|
![]() 51
Browser akan men girimk an request ke server untuk meminta doku men atau lay anan lain
y
ang disediakan o eh serv er. Server memb erikan dokumen atau lay ananny a jika tersedia
leh serv er. Server memb erikan dokumen atau lay ananny a jika tersedia
juga den gan men ggunak an p rotokol HTTP.
2.2.5 Protokol
M
enurut Lukas
(2006,
p
14)
Protokol adalah p roses
kontrol komunikasi
antar
komp uter
atau
antar
jaringan komp uter
y
ang
memer lukan
satu
konsep sistem y ang
men gendalikan p roses p emindahan d ata. Protokol digunak an untuk berkomunik asi
antara
entitas dalam
sistem
y
ang
berbeda.
Entitas adalah
segala
sesuatu y ang
memp uny ai kemamp uan men gir m atau menerima infor masi.
im atau menerima infor masi.
2.3 Workflows
2.3.1 Pengertian Workflows
M
enurut
Wikip edia
(ht p ://id.wikip edia.or g/wik i/A lir_k erja)
tp ://id.wikip edia.or g/wik i/A lir_k erja)
workflows adalah
otomatisasi p roses
bisnis y ang melip uti p erp indahan dokumen
melalu i suatu
p
rosedur
kerja.Proses otomatisasi
ini dilakukan oleh
Ap likasi Sistem
M
anagement Workflow
y
ang merup akan suatu p rogram
komp uter y ang berfungsi untuk
meny imp an dokumen
serta
mendistribusikan
data.
Workflow ini
bermanfaat antara
lain
untuk
memastikan
p
roses bisnis dilakukan sesuai p rosedur.
Gambar 2.7 Workflows
|
|
52
2.3.2
Penugasan
Penugasan
memiliki
kata dasar
tugas (Kamus Besar
Bahasa
Indonesia)
y
ang
berarti sesuatu y ang wajib diker akan atau y ang ditentukan untuk dikerjakan.
jakan atau y ang ditentukan untuk dikerjakan.
M
enurut p ustaka
GATRA
p
enugasan
adalah
surat p erintah
y
ang
dibuat oleh
p
enanggun g jawab rubrik y ang d berik an kep ada rep orter dan fotografer untuk mencar i
iberik an kep ada rep orter dan fotografer untuk mencar i
berita.
Jadi p enugasan bisa diartikan
sebagai surat p erintah y ang mewajibkan
rep orter
dan fotograf er untuk men cari berita. Dalam
surat p enugasan b erisi top ik y ang akan d i
angk at
narasumber y ang harus
diwawancar ai oleh rep orter dan foto y ang harus diambil
oleh fotograf er. Kemud ian rep orter dan fotograf er tersebut
membuat lap oran dar i
p
enugasan y ang telah d berik an.
iberik an.
2.3.3
Tulisan
M
enurut Kamus Besar Bahasa Indon esia tulisan adalah h asil
menulis karan gan
(dalam
majalah,
surat kabar
dan
sebagainy a)
atau
y
ang
berup a
cerita,
dongen g dan
sebagainy a.
M
enurut p ustaka GATRA tulisan adalah kesimp ulan dar i beb erap a lap oran y an g
dilihat dari sudut p andang an gle dan outlin e.
Jadi bisa disimp ulkan bahwa tulisan adalah
hasil menulis
y
ang dilakukan oleh
kary awan redaksi y ang
dibuat berdasarkan lap oran-lap oran y ang
telah dibuat oleh
rep orter dan fotografer. Tulisan y an g dibu at tidak boleh
meny imp ang dari sudut
p
andang dan outline y an g telah ditetap kan dalam r ap at redaksi.
|
|
53
2.3.4 La poran
M
enurut M unawir
(2004,
p
1) Pelap oran
adalah
bagian
d
ari p roses p enilaian
karena dalam lap oran dijelaskan semua hal y an g berkaitan den gan p enu gasan dan hasil
y
ang dip eroleh. Dan
lap oran
ini b isa
menjadi
faktor p enting dalam
men gambil
kep utusan bagi p hak y ang memb eri p enugasan ataup un p hak lainny a y ang terkait.
ihak y ang memb eri p enugasan ataup un p hak lainny a y ang terkait.
ihak lainny a y ang terkait.
Peny usunan
lap oran adalah p roses terakhir dari seluruh
p
roses p enilaian. Dan
umumny a p roses p embuatan p elap oran
akan
membutuhkan
waktu
y
ang sama den gan
p
roses
p
enugasan dilap an gan dikar enakan bany akny a
p
ertimbangan y ang
harus
dip utuskan sebelum lap oran diterbitkan.
M
enurut p ustaka GATRA
lap oran adalah hasil dari p elip utan ke beberap a
narasumber
y
an g
disesuik an
den gan
p
enugasan. Lap oran
dap at ditambahkan sesuai
dengan kebutuhan namun tidak bo eh dikur an gi.
leh dikur an gi.
Jadi bisa
disimp ulkan
bahwa lap oran
adalah
hasil
b
aik
berup a
foto
maup un
tulisan y ang dibuat oleh rep orter dan fotograf er dalam r an gka meny elesaik an tugas y an g
diberikan k ep ada mereka. Lap oran y ang dibuat
harus
memilik i kelen gk ap an y ang telah
ditetap kan oleh p erusahaan, jika tidak lap oran y ang d ibuat tidak akan d ap at di an gkat
menjad berita.
i berita.
2.3.5 Kertas Merah
M
enurut p ustaka GATRA kertas merah adalah rencana rubrik y ang akan dimu at
dalam
majalah.
Kertas
merah b erisi
ju mlah
kolom,
jumlah p hoto
y
ang harus dicetak
p
ada suatu artikel majalah. Kertas mer ah dibu at oleh redaktur p elaksana y ang k emudian
|
|
54
diberikan k ep ada p enanggun g jawab
rubrik. Pen an ggun g jawab rubrik k emudian
membuat tulisan berdasark an kertas merah y an g telah dib erikan.
Kertas merah
juga
bisa
diartikan
sebagai
izin
bagi
p
enanggun g jawab
rubrik
untuk dap at
membuat tulisan dari lap oran
y
ang dibu at
oleh rep orter dan fotograf er,
karena lap oran-lap oran y ang telah dikirim oleh rep orter belum tentu bisa dimuat dalam
majalah jika tidak
memiliki
k
elen gk ap an
y
ang
telah
d
itetap kan
sep erti
kehan gatan,
kedekatan, fenomenal, eksklusif, tenar, un k dan p ertama kali. Jik a kelen gkap an tersebut
ik dan p ertama kali. Jik a kelen gkap an tersebut
telah
terp enuhi
semua, b arulah
redaktur p elaksana
member ikan
k
ertas
merah
kep ada
p
enanggun g jawab rubr k, barulah lap oran bisa dian gkat menjadi tulisan dalam majalah.
ik, barulah lap oran bisa dian gkat menjadi tulisan dalam majalah.
2.3.6 Vel
M
enurut p ustaka
GATRA vel adalah
kump ulan
halaman
y
ang akan dicetak di
p
ercetakan sesuai dengan jadwal y ang telah ditentukan. GATRA memiliki beb erap a vel
y
ang berbeda
y
an g memlik i jadwal cetak
y
ang b erbeda
ju ga.
Vel d i buat dalam tiga
tahap an y aitu vel 1 y ang h arus dicetak p ada hari ju mat, vel 2 harus cetak p ada h ari r abu
dan
vel 3
harus cetak p ada hari kamis.
Vel di buat dalam tiga
tahap an
dengan tujuan
agar p encetakan majalah tidak men galami keterlambatan terbit.
2.3.7 Rubrik
M
enurut Kamus
Besar
Bahasa
Indonesia rubrik adalah
kep ala karan gan
dalam
surat kabar, majalah dan seb againy a.
M
enurut p ustaka
GATRA rubrik
adalah kategori dar i artikel artikel y an g ad a
p
ada
majalah
GATRA. Di
dalam
majalah
GATRA memiliki
bebrap a
macam
rubrik
|
|
55
antara
lain
rubrik
nasional, ragam, olahraga,
ekono mi
buday a dan
masih
bany ak
lagi.
Rubrik-rubrik
tersebut memiliki
p
enan ggun g jawab
y
ang
disebut p enanggun g jawab
rubrik (jabrik).
Jadi bisa d isimp ulkan bahwa rubr ik
ad alah
kep ala k aran gan
d
ari artikel y an g
teradap at dalam
majalah.
Rubrik
memisahkan
artikel-artikel
y
ag
ad a dalam
majalah
dalam
kelo mp ok-kelomp ok
tertentu,
misalny a nasional, r agam,
olahr aga d an
sebagainy a.
2.3.8 Naskah
M
enurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia naskah adalah
k
aran gan surat dan
sebagainy a
y
ang masih d itulis
den gan
tan gan; kop i
kar an gan
y
ang
akan
dicetak atau
akan diterbitkan.
M
enurut
naskah adalah
semu a
dokumen tertulis y ang
ditulis tangan, dib edakan d ari dokumen cetakan atau
p
erbany akanny a dengan cara lain.
Kata 'naskah' diamb il
dar i bahasa Arab
nuskhatum
y
ang berarti sebuah p otongan kertas.
M
enurut p ustaka GATRA naskah adalah kesatuan tulisan d an foto y ang akan d -
i-
edit dan
disuntin g hin gga
menjadi
suatu
berita y ang menar ik dalam
majalah. Naskah
dibuat oleh p enanggun g jawab rubrik,
setelah jadi naskah
tersebut dik irim kep ada
redaktur p elaksana untuk p eny untingan. Setelah p eny untingan selesai naskah
lalu
dikirim kep ada ed itor
naskah
untuk
diedit dar i
segi bahasany a
dan teakhir
n
askah
tersebut dikirim
kep ada Produksi Tata Muka
(PTM ) untuk
didesain
lalu
dikirim ke
p
ercetakan untuk di catak menjad i sebuah artikel dalam majalah.
|
|
56
2.3.9
Kompartemen
M
enurut p ustaka GATRA
komp artemen adalah ku mp ulan dari beb erap a rubrik.
M
ajalah GATRA memiliki emp at komp artemen y aitu lap oran utama (lap ut), ekonomi,
hukum dan nasional. M asing-masin g komp artemen membawahi beb erap a rubrik. Setiap
komp artemen dip imp n oleh seorang r edaksi p elaksana (r edp el).
in oleh seorang r edaksi p elaksana (r edp el).
|