|
BAB2
DATA
DAN
ANALISA
2.1
Narasumber
p
2.1.1
Literatur
2.1.1.1
Komik:
Kreatif
Tanpa
Batas
-
Indira Maharsi, Msn.
(p95)
llustrasi
mengarah
pada
tujuh
pola:
(1)
Gabungan khusus
kata-kata,
artinya
4
ilustrasi
hanya
sebagai
pendukung dan
tidak
menambah
banyak
makna
karena
teks
yang
ada
sudah
komplit; (2)
Gabungan khusus
gambar,
maksudnya adalah
kata-kata hanya
sebagai
efek
suara
dari
ilustrasi
yang a
a; (3)
Gabungan
khusus
duo,
kata-kata dan
ilustrasi
menempati
kedudukan
yang sama
karena
keduanya
menyampaikan pesan
yang
sama
pent
ng;
(4)
Gabungan aditif
atau
gabungan yang
saling
menguatkan, artinya
,
kata"kata
.
memperkuat atau
memp
.
erqalam
makna
ilustrasi
dan
delnikian
pula
seba!iknya;
(5)
Gabungan
Paralel, kata-kata
dan
ilustrasi
mengikuti alur
yang 'berbeda
tanpa
saling
bersimpangan; (6)
Gabungan montase,
disini
kata-kata
dan
ilustrasi
diperlakukan sebagai
unsure
yang
penting
dalam
>;·
gambar;
(7)
Gabungan
interpenden, gabungan
ini
paling
banyak
digunakan
karena
kata-kata dan
gambar
sama-sama berperan
dalam
menyampaikan
gagasan
yang
tidak.dapat dilakukan oleh
banya
salah
satu
dari
keduanya.
2.1.1.2
The
Visual
Dictionary of
Illustration - Mark
Wigan
Menunjukkan
bahwa
buku-buku anak
yang
sukses
mampu
menciptakan
keyakinan
akan
dunia
cerita
itu sendiri,
dengan
gambar yang
menarik
dan
originaL
Penggunaan warna,
ide
kuat,
konsistensi
karakterisasi, dan
kepandaian
mendesain telah
dikombinasikan menjadi
sebuah
paket
untuk
merangsang imajinasi
dan
kreatifitas (daya
khayal)
anak
3
|
![]() I
4
2.2 Data Produk
2.2.1
The Miraculous Journey of Edward Tulane ( Perjalanan Ajaib Edward
Tulane)
Ukuran
Tebal
Diterjemahkan
dan
Diterbitkan
Penulis
Ilustrator
Jenis
Buku
:
17,5
cmx20,5
em
:
208
halaman,
Soft
Cover
: PT
Gramedia Pustaka
Utama
:
Kate
DiCamillo
:
Bagram
Ibatoulinne
:
Buku
cerita
klasik
I
novel
anak
\,'·
.
Kate
DiCamillo ac!alah seorang
penuJ.is buku
anak-anak asal
Amerika. Salah
satu
bukunya adalah The
Miraculous Journey
of
Edward
Tulane
(Perjalanan Ajaib
Edward
Tulane). Buku
ini
menceritakan tentang
Edward
Tulane, boneka
kelinci
porselen milik
gad.is berumur
10
tahun
bernama Abilene.
Dia
menikmati kehidupan 'sia-sia'
yang
menyenangkan
·
dei]gan
nyonya
muda,
yang
memperlakukan d.ia dengan
kasih
sepenuhnya
i
dan
hormat,
sampai
sebuah
insiden disayangkan
menemukan d.ia jatuh
ke
!aut
saat
berlibur di
sebuah
kapallaut. Selama
peljalanannya untuk
kembali
'I
pulang,
ia
belar arti
nilai
cinta,
kehilangan dan
pesan
tak
terbantahkan
1!
bahwa mencintai dan
kehilangan adalah
lebih
baik
daripada tidak
pernah
inenCintai sama sekali. ·
Gambar 2.1
Kate
DiCamillo
Gambar 2.2
Bagram
Ibatoulinne
Bersama ilustrator bernama Bagram
lbatoulinne, buku
Peljalanan
Ajaib
Edward Tulane,
d.ikategorikan
sebagai buku
novel
anak
(literasi)
klasik.
Kolaborasi cerita
dan
gambar tersebut
memiliki
bentuk
gabungan
khusus
kata-kata, yang
artinya ilustrasi
hanya
sebagai pendukung dan
tidak
menambahkan banyak
makna
karena naskah yang
terlalu
mendetail.
|
![]() 5
Gambar
2.3
Cover
Depan
Perjalanan Ajaib
Edward Tulane
2.2.2
Perancangan
Ulang Produk
'
'
Ukuran
T
-
ebal
..
·
Diteijemahkan
dan
Diterbitkan
.
:22cmx22cm
:
44
halaman, Soft
Cover
:
PT
Gramedia Pustaka Utama
Pada
perancangan ulang,
produk akan
dibagi
menjadi 3 seri
buku
cerita,
dengan data
sebagai
berikut:
\,'·
Buku
Seri
1
Judul: Miraculous
Journey
of Edward
Tulane- I
Naskah
cerita
buku
1
sebagai
berikut:
Dahulu, di
rumah di Egypt Street,
tinggallah kelinci
yang
hampir
selurulmya terbuat
dari
porselen.
Ia
memiliki lengan
dan
kaki
porselen.
Lengan dan
kakinya
dihubungkan dan
disatukan dengan
kawat
sehingga siku
dan
lututnya
bisa
ditekuk,
memberinya kebebasan
bergerak.
Telinganya terbuat
dari
bulu
kelinci asli,
dan
di
balik
bulu
itu
terdapat
kawat
kuat
dan
bisa
dilengkungkan, yang
menyebabkan
telinganya
dapat
diatur ke
berbagai posisi
yang
menggambarkan suasana hati
si
kelinci-ceria,
Ielah,
bosan.
Ekomya juga
terbuat dari
bulu
kelinci asli
dan !embut serta
berbentuk
indah.
Nama
kelinci
itu
Edward Tulane, dania
jangkung. Panjangnya hampir
sembilan puluh
sentimeter dari
ujung
telinga
sampai ujung
kaki;
matanya
dicat
wama
biru
yang
tajam
dan
cerdas.
|
![]() 6
biasa.
Secara keseluruhan, Edward
Tulane
merasa
dirinya
makhluk yang
luar
Pemilik Edward adalah
anak
perempuan berumur
sepuluh
tahun
dan
... .
berambut
gelap
yang
bernama Abilene Tulane,
yang
menganggap Edward
hampir
seistimewa anggapannya sendiri.
Setiap pagi
setelah
berganti
pakaian
untuk
ke sekolah,
ia
mendadani Edward.
Kelinci porselen
itu
mempunyai
koleksi
pakaian
sangat
banyak,
yang
terdiri
atas
setelan
sutra,
sepatu
dari
kulit
paling
bagus
dan
didesain khusus
untuk
kaki
kelincinya, dan
berbagai topi
yang
dilengkapi
lubang
supaya
bisa
dengan
mudah
dimasuki kuping
Edward
yang
besar
dan
ekspresi£
Masing
masing
celananya dilengkapi saku
kecil
untukjam saku
emas
Edward.
Setiap
pagi
Abilene
memutarkan
per
jam
untuknya.
"Nah, Edward,'4
katanya setelah
se1esai
memutar
per
jam,
"kalau
jarum
besar
di
angka
dua
belas
danjarum kecil
di angka
tiga,
aku
akan
pulang
dan
menemuimu."
Di
malam
hari,
Edward duduk
di
meja
ruang
makan
bersama
anggota
anggota
lain
keluarga
Tulane:
Abielene; ibu
dan
ayahnya;
dan
nenek
Abilene,
Y,ang bernama Pellegrina. Orangtua
Abilene
senang
Abilene
menganggap
Edward makhluk sungguhan, dan
bahwa
ia
kadang
meminta
suatu
frase
atau
cerita
diulang
karena
Edward tidak
mendengarnya.
,
"Papa,",begitu Abilene berkata," kurasa
Edward tidak
menangkap
·
bagiim
terakhir
tadi."
.
Ayah
Abilene
lalu
berpaling ke arah
telinga
Edward
dan
berbicara
pelaii.-pelan; mengulangi
apa
yang
barusan diucapkannya untuk
kelinci
porselen
tersebut.
Nenek
Abilene,
Pellegrina, sudah
sangat
tua.
Hidungnya besar
dan
tajam,
matanya
hitam,
bersinar
bagai
bintang
kelam.
Pellegrina-lah yang
bertanggungjawab atas
keberadaan Edward.
Dialah
yang
meminta
Edward
.
dibuat,
ia
yang
memesan setelan sutra
dan
jam
sakunya,
topi-topinya
yang
gaya
dan
telinganya
yang
Jentur, sepatu
kulitnya yang bagus
dan
lengan
serta
kakinya
yang
bersendi, semua
berasal
dari ahli
boneka
di negeri
asalnya,
Perancis.
Pellegrina-lah yang
memberikan Edward pada
Abilene
sebagai
kado
ulang
tahun
ketujuh.
Dan
Pellegrina yang
setiap malam
menidurkan Abilene
di
ranjangnya,
begitu
juga
Edward.
"Maukah
kau
bercerita
pada
kami,
Pellegrina?" Abilene
bertanya
pada
neneknya setiap
malam.
"Malam ini
tidak,
Nona," jawab
Pellegrina.
"Kapan?" tanya
Abilene.
"Malam apa?"
"Segera," sahut
Pellegrina. "Tidak
lama
Jagi akan
ada
cerita."
Lalu
ia
mematikan Jampu,
dan
Edward serta
Abilene
pun
berbaring
dalam
kegelapan
kamar.
"Aku
sayang
padamu,
Edward," kata
Abilene
setiap
malam
setelah
Pellegrina
pergi.
|
![]() 7
Kadang-kadang, kalau
Abilene
membaringkannya di
tempat
tidurnya,
ia
bisa
melihat
melalui
celah
di
gorden
dan
memandangi malam
gelap.
Pada
malam
yang
cerah,
bintang-bintang bersinar, dan
kelap-kelip cahayanya
menenangkan Edward dengan
cara
yang
tidak
bisa
dipahaminya.
Sering
ia
menatap
bintang-bintang itu
sepanjang malam sampai
kegelapan
akhimya
berganti menjadi
cahaya
fajar.
.
Dn seperti itulah
hari-hari
Edward berlalu,
satu
demi
satu.
Tak
ada
kejadian
luar
biasa.
Oh, sesekali
memang ada
drama
rumah
tangga
kecil.
Pemah, ketika
Abilene
ke
sekolah, anjing
tetangga, anjing
jantan
bewama
kelabu
bintik-bintik yang
entah
kenapa
dinamai Rosie,
masuk
ke
rumah
tanpa
diundang dan
mengangkat sebelah
kakinya
di
meja
rnakan,
mengencingi
taplak meja
putih.
Ia
lalu
mendatangi dan
mengendus Edward, dan
sebelwn
Edward
sempat memikirltan apa
yang
akan
feijadi
kalau
ia
diendus
anjing,
ia
sudah
berada
dalam
mulut
Rosie
dan
Rosie
mengguncang-guncangnya
penuh
semangat, sambil
menggeram
dan
meneteskan air
liur.
Untunglah ibu
Abilene lewat
ruang
makan
dan
melihat
penderitaan
Edward.
"Letakkan benda
itu!"
ia
berteriak
pada
Rosie.
Dan
Rosie,
kaget
sehingga jadi
menurut, mematuhi
perintahnya.
Setelan
sutra
Edward kotor
kena
air
liur
dan
kepalanya
sakit
selama
bebe apa
hari
kemudian, narnun
egonyalah
yang
paling
menderita. Ibu
Abilei).e menyebutnya "benda",
dan
marah
karena
taplak
mejanya
dikotori
.
Ur-ine anjing,
bukan
karena
penghlnaim yang
dialami
Edward akibat
berada
·
dalam'cengkraman rahang
Rosie.
. Kasus
Rosie
-
itulah
drama
terhebat dalam
hidup
Edward
sampai
malam ulang
tahun
kesebelas Abilene ketika
di
meja
rnakan,
saat
kue
ulang
tahun
dihidangkan,
kapal
itu
disebut-sebut.
Malam
itu,
ketika
Abilene
bertanya
apakah
ada
cerita,
seperti
yang
dilakukannya setiap
malam,
Pellegrina
menjawab,
"Malam
ini,
Nona,
akan
ada
cerita."
Abilene duduk
tegak
di
tempat
tidur.
"Kurasa Edward
hams
duduk
di
sini
denganku," katanya,
"supaya ia
bisa
mendengar ceritanya juga."
"Menurutku itulah
yang
terbaik," sahut
Pellegrina. "Ya,
kupikir
kelinci
itu
harus
mendengar ceritanya."
Zaman
dahulu ada
putri
yang
sangat
cantik. Ia
gemerlapan
bagai
bintang-bintang
di
langit
tanpa
bulan.
Tapi
apa
bedanya
bahwa
ia
cantik?
Nihil.
Tak
ada
bedanya.
"Kenapa tidak
ada
bedanya?" Abilene ingin
tahu.
"Karena," jawab
Pellegrina, "ia
putri
yang
tidak
menyayangi siapa
pun
dan
tidak
peduli
pada
rasa
sayang, meskipun
banyak yang
menyayanginya."
Di
cerita
ini,
Pellegrina berhenti
dan
menatap
Edward. Ia
memandang
jauh
ke
dalam
matanya
yang
dicat,
dan
sekali
lagi, Edward merasa
sekujur
tubuhnya
bergidik.
|
![]() 8
"Jadi," kata
Pellegrina, sambil
tetap
menatap
Edward.
"Apa
yang
teljadi pada
sang
putri?" tanya
Abilene.
"Jadi," kata
Pellegrina, kembali
memandang Abilene,
"sang raja,
ayahnya,
berkata bahwa
putri
itu
harus
menikah;
dan
tidak
lama
kemudian,
datanglah pangeran dari
kerajaan tetangga. Ia melihat sang
putri
dan,
segera,
jatuh
cinta
padanya.
Ia
memberi putri
itu
cincin
dari
emas
murni.
Dipasarlgnya cincin itu
di
jari
sang
putri.
Ia
mengucapkan kata-kata
ini
padanya:
'Aku cinta
padamu.' Tapi
tahukah kau
apa
yang
dilakukan
putri
itu?"
.--
.
Abilene
menggeleng.
"Ia
menelan cine
in
tersebut. Ia
melepasnya dari
jarinya
dan
menelannya. Ia
berkata, 'Itulah
pendapatku tentang cinta.'
Dan
ia berlari
meninggalkan si
pangetan.
Ia
pergi
dari
isfana
dan
masukjauh
ke dalam
hutan.
Begitulah sang
putri
tersesat dalam
hutan.
Ia
berkelana
berhari-hari.
Akhimya ia
menemukan pondok
kecil,
dan
mengetuk
pintunya.
Ia
berkata,
'Izinkan
aku
masuk. Aku
kedinginan.'
"Tak adajawaban.
"Ia
mengetuk
lagi.
Katanya, 'Izinkan aku
masuk.
Aku
kelaparan.'
"Terdengar seuara
menyeramkan
menjawabnya. Suara itu
berkata,
'Masuklah kalau
memang harus.'
,
"Putri <>antik
itu
pun
masuk,
dania melihat
penyihir
duduk
di
meja
sambil
menghitung
potongan-p()tongan emas.
"'Tiga ribu
enam
ratus
dua
puluh
dua,'
ujar
penyihir
itu.
·
'
"'Aku
tersesat,' kata
sang
putri
cantik.
"'Memangnya kenapa?' si
penyihir bertanya.
'Tiga ribu
enam
ratus
dua
puluh
tiga.'
"'Aku lapar,' sang
putri
berkata lagi.
"'Bukan
urusanku,' tukas
si
penyihir.
'Tiga ribu
enam
ratus
dua
.
puluh
empat.'
"'Aku
kan
putri
yang
cantik,' kata
sang
putri.
"'Tiga ribu
enam
ratus
dua
puluh
lima,' balas
sang
penyihir.
"'Ayahku,' sang
putri
berkata, 'adalah raja
yang
berkuasa. Kau
harus
membantuku, kalau
tidak,
akan
ada
akibatnya.'
"'Akibatnya?' si
penyihir
mengulangi. Ia
mengangkat
kepala
dari
emas-emasnya. Dipandanginya sang
putri.
'Kau berani
bicara
soal
akibat
padaku?
Baiklah, kalau
begitu,
kita
akan
bicara
tentang akibat.'
Si
penyihir mengangkat sebelah tangannya dan
mengucapkan sepatah
kata,
'Farthfigery. '
"Dan
putri
yang
cantik
itu
pun
berubah
jadi
babi
hutan.
"Prajurit-prajurit raja
ada
di
hutanjuga.
Dan
apa
yang
mereka
cari?
Putri
yang
cantik.
Jadi
waktu
mereka
menemukan babi
hutan
yangjelek
itu,
mereka segera
menembaknya. Dor!"
'Tidak," kata
Abilene.
|
|
9
"Ya," sahut
Pellegrina. "Prajurit-prajurit membawa babi
hutan
tersebut kembali ke
istana
dan
juru
masak membelah
perutnya.
Di
dalamnya
ia
menemukan cincin dari
emas
mumi. Malam itu
banyak
yang
kelaparan di
istana
dan
semua
menunggu diberi
makan.
Jadijuru masak
memakai
cincin
itu
di
jarinya
dan
meneruskan memotong si
babi
hutan.
Dan
cincin
yang
ditelan
sang
putri
pun
bersinar
eli tangan juru
masak
ketika
ia
melakukan
pekeljaaiinya. Selesai."
"Selesai?" kata
Abilene
kesal.
"Ya," jawab
Pellegrina, "selesai."
"Tak mungkin."
"Kenapa?"
"Karena terlalu
cepat.
Karena tidak
ada
yang
hidup
bahagia
selamanya, itu
sebabnya,''
Pellegrina
mengangguk. Ia
terdiam
beberapa
saat.
"Tapi
cobajawab
ini:
bagaimana
cerita
bisa
berakhir
bahagia
kalau
tidak
ada
cinta?
Tapi.
Yah.
Sekarang sudah
malam.
Dan
kau
harus
tidur."
"Edward," panggil
Abilene,
"aku sayang
padamu. Aku
tak
peduli
berapa
pun
umurku, aku
akan
selalu
menyayangimu."
'
Ya,
ya,
pikir
Edward.
Rumah
di
Egypt
Street
jaeli pernah
aktivitas ketika
keluarga
Tulane
berstap-siap menjelang
peljalanan
mereka
ke Inggris.
Edward
memiliki
peti
baju
K:ecil, dan
Abilene
mengemasinya
untuknya,
mengisinya dengan
setelan
,
sete!an
terbaik
Edward, beberapa
opi
terbaiknya, dan
tiga
pasang
sepatu,
semua
itu
supaya
si
kelinci
tampil
memesona di
London.
Sebelum
menaruh
masing-masing
benda
tersebut eli
dalam
peti.
Kemudian, akhimya, pada
suatu
Sabtu pagi
yang
cerah
di bulan
mei,
Edward, Abilene, M.
Dan
Mrs.
Tulane naik
kapal,
bereliri di dekat
pagamya.
Pellegrina di
dok.
Di
kepalanya, ia
memakai topi
Iebar
yang
dihias
rangkaian
'' ·
bunga.
Ia
menatap lurus
Edward. Matanya yang
kelam
tampak
berkilau.
·
"Selamat tinggal
!"Abilene
berteriak pada
neneknya.
"Aku sayang
padamu."
Kapal pun
menjauh dari
dok.
Pel!egrina
melambai
pada
Abilene.
"Selamat tinggal,
Nona!" serunya,
"Selamat
tinggal!"
Seperti
yang
bisa
diperkirakan, Edward Tulane
menarik banyak
perhatian di
kapal.
"Kelinci yang
bagus
sekali," kata
wanita
tua
yang
memakai
kalung
mutiara tiga
lapis.
Ia
membungkuk
untuk
memandang Edward lebih
cermat.
"Terima kasih," sahut
Abilene.
Beberapa gadis
kecil
eli
kapal
melirik
Edward lama-lama karena
kepingin.
Mereka
bertanya pada
Abilene apakah
boleh
memeluknya.
"Tidak," jawab
Abilene, "menurutku
ia bukan
jenis
kelinci
yang
suka
dipeluk orang
yang
tak
dikenal."
Dua
anak
laki-laki, kakak-beradik bemama Martin dan
Amos,
menaruh minat
pada
Edward.
|
![]() 10
"Apa yang
bisa
dilakukannya?" Martin
bertanya
pada
Abilene
pada
hari
kedua
mereka
di !aut.
Ia
mennnjuk Edwrad yang
duduk
di
kursi
dek,
kakinya
yang
panjang
terjulur di
hadapannya.
"Ia
tidak
bisa
apa-apa," sahut
Abilene.
."Ia bisa
bergerak
karena
punya
pegas,
ya?" tanya
Amos.
"Tidak," kata
Abilene, "ia
tidak
punya
pegas
kok."
"Lalu apa
gunanya
dia?"
Martin
menukas.
"Gunanya ya
jadi
Edward," balas
Abilene.
"Kurang berguna ah,"
kata
Amos.
"Betul," Martin
menimpali.
Kemudian, setelah
lama
berpikir,
ia
berkata,
"Aku
sih
tidak
bakal
mau
didandani seperti
itu."
Edward,
seperti biasa,
mengabaikan percakapan tersebut.
Angin
semilir
bertiup
dari
!aut,
dan
syal
sutra
di
sekeliling
lehernya
melarnbai
di
belakangnya.
Di
kepalanya,
ia
memakai
topi
jerarni.
Kelinci
itu
berpikir
ia
pasti
tampak
memesona.
Ia
kaget
bukan
kepalang waktu
disambar dari
kursi
dek
dan
mula
mula
syalnya,
lalu
jaket
dan
celananya, disentakkan dari
badannya.
Ia
mendengar jam
sakunya
jatuh
di
dek
kapal;
kemudian, dalam
posisi
terbalik,
ia Ihenatap
jam
itu
menggelinding riang
ke
arah
kaki
Abilene.
"TIDAK!!!!!" pekik
Abilene.
,
Edward
memerhatikan sekarang. Ia
ngeri
sekali.
Ia
telanjang bulat,
Cuma
ada
topi
di
kepala,
dan
penumpang-penumpang lain
di
kapal
ineniandanginya, melontarkan
lirik(Ui ingin
tahu
dan
malu
ke arahnya.
·'
"Kembalikan dia
padaku!" Abilene berteriak. "Ia
punyaku." jerit
Abilene.
"Jangan
lemparkan dia.
Ia
terbuat dari
porselen.
Ia
bisa
pecah."
Martin
melemparkan Edward.
Dan
Edward
melayang telanjang di
udara.
Baru
sesaat
yang
lalu
kelinci
itu
berpikir
bahwa
telanjang di
depan
sekumpulan
penwnpang
yang
''
·
tak
dikenalnya adalah
peristiwa
paling
buruk yang
bisa
menimpanya. Ia salah.
Jauh
lebih
buruk
dilempar-lempar begini,
dalam
keadaan
telanjangjuga,
dari
tangan
anak
laki-laki
yang
kasar
dan
tertawa-tawa ke tangan
anak
laki-laki
lain.
"Lemparkan dia
kemari!" Martin
berseru.
Amos
mengangkat tangan,
namun
tepat
ketika
ia
bersiap
melemparkan Edward,
Abilene
menyerangnya, menyerudukkan kepalanya
ke
perut
bocah
itu, sehingga
mengacaukan arah
lemparannya.
Jadi
Edward
tidak
terbang kembali ke
tangan
kotor
Martin.
Edward terjun
ke !aut.
Bagaimana kelinci
porselen
mati?
Apakah
kelinci porselen
bisa
mati?
Apakah
topiku
masih
di
kepala?
Inilah
pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan Edward pada
dirinya
sendiri
ketika
ia
melayang menuju
!aut
biru.
Matahari
tinggi
di
langit,
dan
dari
|
![]() 11
ternpat
yang
sepertinya amat
sangat
jauh,
Edward
mendengar Abilene
memanggilnya.
"Edwaaard!" ia
berteriak, "kembali!"
Kembali? Teriakan
macam
apa
itu?
pikir
Edward.
.
Ketika
jungkir-balik, telinga dan
ekor
jumpalitan, ia berhasil
melihat
sekilas
Abilene
untuk
terakhir kali.
Gaelis itu
berdiri
di
dek
kapal,
berpegangan pada
pagar
dengan
satu
tangan.
Di
tangannya yang
lain
ada
lampu-bukan, yang
dipegang Abilene itujam saku
emasnya.
Abilene
mengangkatnya tinggi -tinggi,
dan
benda
tersebut
memantulkan sinar
matahari.
Jam
saku
milikku, pikimya. Aku
membutuhkannya.
Lalu
Abilene
hilang
dari
pandangan dan
si
kelinci
tercebur
ke
air
begitu
keras
sehingga
topinya terlepas dari
kepala.
Kemudian
ia
tenggelam.
Ia terns,
terns,
terns
tenggelam. Kedua
matanya
memandang air
yang
akhimya bernbah menjadi sehitam
malam.
Edward meluncur
makinjauh ke
bawah.
Ia
berkata
dalam
hati,
Kalau
akt,t
memang
akan
tenggelam, sekarang
mestinya
sudah
terjadi.
Jauh
eli atasnya,
kapal
yang
elitumpangi
Abilene
terns
berlayar
mulus;
dan
kelinci
porselen
itu
mendarat, akhimya,
di
dasar
!aut,
terselungkup. Di
sana,,dengan kepala
terbenam dalam
lumpur,
ia
merasakan emosi
tulus
dan
murni)ertamanya.
Edward Tulane
takut.
-'
Ia
berkata
pada
elirinya seneliri
bahwa
Abilene
pasti
akan
mencari
dan
menemukannya. Ini,
pikir
Edward, mirip
dengan
menunggu Abilene pulang
sekolah.
Aku
akan
pura-pura
berada
di
ruang
makan
rumah
di Egypt
Street,
menantijarnm pendek
pindah
ke angka
tiga
danjarum panjang
panjang
mendarat
di
dua
belas.
Kalau
saja
ada
jam,
aku
akan
bisa
tabu
pasti.
Tapi
,,. · tidak
penting;
Abilene akan
sampai eli sini
sebentar Jagi, takkan
lama.
·
Jam-jam
berlalu.
Lalu
hari-hari. Dan
minggu-minggu. Dan
bulan-
bulan.
Abilene
tidak
datang.
Edward, karena
tak
punya
kegiatan
lain
yang
lebih
baik,
mulai
berpikir. Ia
memikirkan bintang-bintang. Ia teringat seperti
apa
bintang
bintang
itu
kalau
dilihat
dari
jendela
kamamya.
Apa
yang
membuat
mereka bersinar begitu
cemerlang, ya? Pikimya,
dan
apakah
mereka
tetap
bersinar
eli suatu
tempat
walaupun
ia
tidak
bisa
melihatnya? Seumur hidup,
ia
berpikir,
tak
pemah aku
Jebihjauh dari
bintang
bintang
elibanelingkan saat
ini.
Pada
hari
ke-
297
penderitaan Edward, teijadi
badai.
Badai
itu
begitu
kuat
sehingga
mengangkat Edward
dari
dasar
!aut
dan
membuatnya
menari
nari
gila,
liar
dan
berputar-putar. Air
memukulinya,
mengangkat, dan
mengempaskannya.
Tolong!
pikir
Edward.
|
|
12
Ia terempas naik-turun, maju-mundur, sampai badai capek sendiri,
dan Edward melihat ia mulai turun pelan-pelan lagi ke dasar !aut.
Oh, tolong aku, pikirnya. Aku tak mau lagi kembali ke sana. Tolong
aku.
-
Kemudian, tiba-tiba, jala besar dan Iebar milik nelayan terhampar dan
;·
.
menyambar si kelinci. Jala itu mengangkatnya makin tinggi dan terns makin
tinggi saihpai tampak cahaya yang nyaris membutakan mata dan Edward
kembali ke dunia, tergeletak di dek kapal, dikelilingi ikan-ikan.
"Eh,
apa ini?" tanya suara.
"Bukan ikan," kata suara lain. "Itujelas."
Cahayanya begitu terang sehingga Edward suiit melihat. Tapi
akhirnya, bentuk-bentuk bermunculan dari cahaya itu, kemudian wajah
wajah. Dan Edward memandang dua laku-laki, satu masih muda dan satu lagi
sudah tua.
"Kelihatarmya seperti boneka," ujar si pria tua yang lusuh. Ia
membungkuk dan memungut Edward, memegang tangannya, mengamatinya.
"Kelinci, kurasa. Ada ekornya. Dan kuping kelinci, setidakuya bentuknya
kuping kelinci."
"Yeah, tentu, boneka kelinci," sahut pria yang lebih muda dan ia
berbalik.
,
"Akan lqlbawa pulang untuk Nellie. Biar ia membersihkan dan
inemoetulkannya. Memberikannya pada anak kecil."
Laki-laki tua itu dengan h11ii-hati menaruh Edward di atas peti,
mengatur posisinya sehingga ia duduk tegak dan bisa memandang !aut.
Edward sangat berterirna kasih atas tindakan ini.
"Duduk manis ya," kata laki-laki tua itu.
Ketika mereka kernbali ke pantai, Edward rnerasakan sinar rnatahari
di wajalrnya, angin rneniup sedikit bulu yang tersisa di kupingnya, dan
sesuatu pun bagai memenuhi dadanya, perasaan yang indah.
Di darat, nelayan tua itu berhenti untuk menyalakan pipa, kernudian,
dengan pipa teijepit di antara giginya, ia berjalan pulang, memanggul Edward
di bahu kiri seakan ia pahlawan yang menang perang. Ia berbicara pada kelinci
tersebut dengan suara lembut dan pelan saat mereka beijalan.
"Kau akan suka Nellie, pasti," kata si pria tua. "Ia sering bersedih,
tapi orangnya asyik kok."
"Itu dia," nelayan itu berkata. Ia mencabut pipa dari mulut dan
dengan batangnya menunjuk ke bintang di langit bewarna keunguan. "Di sana
Bintang Utara-mu. Kau takkan pernah tersesat kalau tahu di mana sobat itu."
Edward memandangi cahaya terang bintang kecil tersebut.
Apa semuanya punya nama? ia bertanya-tanya dalarn hati.
"Coba dengarkan aku ini," kata si nelayan, "bicara pada boneka. Oh,
well, kita sampai." Dan dengan Edward masih di bahunya, nelayan itu
menyusuri jalan setapak natu dan masuk ke rumah hijau kecil.
"Lihat ini, Nellie," ia berkata. "Kubawa kau sesuatu
dari !aut."
|
|
13
Seorang wanita
tua
melangkah keluar
dari
dapur,
sambil
mengusapkan
tangannya
ke
celemek. Ketika
melihat
Edward, ia
menjatuhkan
celemek itu
dan
menggenggam kedua tangannya sendiri, lalu
berkata,
"Oh,
Lawrence, kau
membawakan aku
kelinci."
-
"Oh," kata
Nellie,
"sini." Ia
bertepuk tangan
lagi
dan
Lawrence
menyerahkan Edward
padanya.
Nellie
memegang si
kelinci
di
depannya dan
memandanginya dari
ujung
rambut
sampai ujung
kaki.
Ia tersenyum. "Pemahkah
seumur hidupmu
kau
melihat
sesuatu
yang
begini indah?" tanyanya.
Edward segera
merasa Nellie wanita
yang
sangat
tajam
matanya.
"Gadis ini
cantik," desah
Nellie.
Sesaat
Edward bingung.
Apakah ada
benda
indah
lain
di
ruangan
ini?
"Kunamai apa
ya
dia?"
"Susanna?" usul
Lawrence.
"Cocok," Nellie
menimpali. "Susanna." Ia
menatap tajam
mata
Edward.
"Pertama-tama, Susanna butuh pakaian."
Jadi
Edward
Tulane
pun
menjadi
Susanna.
Nellie
menjahit
beberapa
pakaian
untuknya:
gaun
pink
berenda untuk
acara-acara
istimewa,
baju
sed
'
erhana
yang
dibuat
dari
kain
bermotifbunga-bunga untuk
dipakai sehari-
hari,
dan
gaun
putih
panjang
dari
bahan
katun
untuk
dipakai Edward saat
tidur.
Sebagai
tambahan, ia
membuat
lagi
telinga
Edward, membuang sisa-
-
4
.
sisa
bulunya dan
mendesain sepasang telinga
baru.
·
Mula-mula Edward
ngeri.
Bagaimanapun, ia
kan
kelinci
jantan.
Ia
.
tidakmau
dipakaikan baju-baju anak
perempuan. Dan
baju-baju itu,
yang
untuk .acara istimewa sekalipun, begitu
sederhana, begitu
biasa.
Tidak
anggun
dan
berseni seperti
bajunya
yang
sebenarnya. Tapi
Edward lalu
teringat
pada
pengalamannya tergeletak
di
dasar
laut,
lumpur
di
wajahnya,
bintang-bintang
begitu
jatuh,
dania berkata
pada
diri
sendiri, Apa
sih
bedanya sebetulnya?
''
· Pakai
gaun
tidak
apa-apa kok.
Lagi
pula,
kehidupan
di
rumah hijau
kecil
bersama si
nelayan
dan
·
sitrinya
tersebut
menyenangkan. Nellie suka
sekali
memasak, jadi
ia
seharian
di
dapur
terns.
Diletakkannya Edward
di
meja
dan
disandarkan
di toples
tepung,
dirapikannya
gaunnya
di
bagian
lutut.
Kemudian ia
mulai
bekerja,
menguleni tepung
untuk
roti
dan
menggiling adonan
untuk
kue
dan
pai.
Dan
sambil bekeija, Nellie
bicara.
Ia
bercerita pada
Edward tentang anak-anaknya, putrinya,
Lolly,
yang
bekeijajadi sekretaris, dan
anak-anak lelakinya: Ralph, yang
masukjadi
tentara,
dan
Raymond, yang
meninggal akibat radang
paru-paru ketika
baru
berumur
lima
tahun.
"Mengerikan,
menakutkan, sangat tidak
enak,
melihat
orang
yang
kau
sayangi
meninggal di
hadapanmu dan
kau
tidak
bisa
berbuat
apa-apa
untuk
menolongnya. Hamper
setiap malam
aku
bennimpi tentang
dia."
Nellie
menghapus air
matanya
dengan
punggung tangan. Ia
tersenyum
pada
Edward.
|
|
14
"Kurasa kau
menganggap aku
konyol,
bicara
dengan
boneka
begini.
Tapi
aku merasa
kau
bisa
mendengarku, Susanna."
Dan
Edward
terkejut saat
mendapati
ia
memang mendengarkan.
Sebelum
ini,
kalau
Abilene
bicara
padanya, semua
terasa
begitu
membosankan,
begitu
tak
berguna. Tapi
sekarang, kisah-kisah yang
diceritakan Nellie
bagai
sesuatu
yang
paling penting
di dunia
dan
ia
mendengarkan seolah
hidupnya tergantung pada
apa
yang
dikatakan wanita
tuaitu.
.--
'
Setiap
malam
setelah
bersantap, Lawrence
mengatakan ingin
keluar
menghirup udara
segar
dan
bertanya apakah Susanna
ingin
ikut
dengannya.
Ditaruhnya Edward
di
bahunya seperti pada
malam
pertama
itu,
ketika
ia
membawa Edward
melintasi kota,
mengantarkannya ke
Nellie.
Mereka pergi
ke
luar
dan
Lawrence menyalakan
pipa
lalu
memegangi
Edward
di
bahunya. Kalau cuaca
malam
itu
cerah,
Lawrence memberitahukan
nama
rasi-rasi bintang satu
demi
satu,
Andromeda, Pegasus, sambil
menunjuk
dengan
pipanya.
Edward sangat suka
memandang nama
rasi-rasi bintang itu.
Nama-nama
itu
terdengar
manis
di
telinga
beludrunya.
Hidup,
lama
sekali,
terasa
menyenangkan.
Lalu
anak
perempuan Lawrence
dan
Nellie
datang berkunjung.
Lolly
adalah wanita
bertubuh gempal yang
suaranya terlalu keras
dan
lips!iknya
terlalutebal. Ia
masuk
ke
rumah
dan
segera
melihat
Edward yang
·
dudtik
di
sofa
ruang
tamu.
·
"Apa
ini?"
ia
bertanya.
Ditaruhnya
kopemya dan
diambilnya Edward
dengan
mengangkat sebelah
kakinya. Ia
memegang Edward
terbalik.
"Itu
Susanna," jawab
Nellie.
"Susanna!" teriak Lolly.
Diguncangnya
Edward.
Gaun
Edward
menutupi
kepalanya sehingga ia
tidak
bisa
melihat apa
apa.
Belum-belum ia
sudah
benci
campur takut
pada
Lolly.
"Kau sudah
sinting ya?"
teriak
Lolly.
"Kelinci tidak
butuh
baju."
"Yah," kata
Nellie. Suaranya
bergetar. "Yang satu
ini
kelihatannya
butuh."
Lolly
melemparkan Edward kembali ke
sofa.
Ia
mendarat
terlungkup
dengan tangan
terangkat ke atas
kepala dan
bajunya
masih
menutupi
muka.
Ia
tetap
begitu
sepanjang makan
malam.
Tentu saja,
setelah
makan
malam
Edward tidak
pergi
ke
luar
dan
berdiri
di
bawah
bintang-bintang, menemani
Lawrence merokok. Dan
Nellie,
untuk pertama kali
sejak
Edward tinggal
bersamanya, tidak
meninabobokannya. Edward diabaikan
dan
dilupakan sampai
keesokan
paginya, ketika
Lolly
mengambilnya lagi
dan
menurunkan bajunya
lalu
menatap
matanya.
"Merebut hati
orangtuaku
ya?"
kata
Lolly.
"Aku mendengar
omongan orang-orang
di
kota.
Bahwa mereka
memperlakukan
kau
seperti
anak."
|
![]() 15
Sambi!memegang telinga Edward, Lolly
berderap masuk
dan
menjejalkannya ke
tempat
sampab.
"Ma!" teriak
Lolly.
"Aku bawa
truknya. Aku
mau
pergi,
ada
yang
perlu
kulakukan."
.
"Oh," terdengar suara
Nellie
yang
bergetar,
"bagus, Sayang. Sampai
nanti."
truk.
8ampai nanti,
piker
Edward waktu
Lolly
menaikan tempat
sampab ke
"Sampai nanti!"Nellie berseru
lagi,
kali
ini lebih
keras.
Jauh
di
dalam
dada porselennya, Edward
merasakan sakit
yang
teramat sangat.
Untuk pertama
kalinya,
hatinya berseru padanya.
Hatinya mengu
mpkan
dua
kata:
Nellie,
Lawrence.
Buku
Seri
2
Judul: Miraculous
Journey of Edward Tulane- II
Buku
Seri
3
Judul: Miraculous
Journey of Edward Tulane-
ill
<
2.3 Data Kompetit6r
Utama
Beatrix Potter bisa
dikatakan sebagai
kompetitor
utama
dari
buku
The
Miraculous Journey of
Edward Tulane. Selain
dikenal sebagai
penulis
buku
anak-anak,
Beliau juga
dikenal dengan
babasa
ceritanya
yang
ringan,
ilustrasinya sangat
khas
dengan cat
air,
wama-wama lembut pastel,
dan
detail
landscape
yang
selalu
menjadi
andalannya. Bagi
sebagian anak
mungkin tidak mengenal Beliau,
tapi
tentu
mereka
kenai IIengan karakter Peter
Rabbit dan
kawan-kawannya. Buku
karya
Beatrix Potter
termasuk
kittegori
buku
cerita
klasik.
pffi_R'ifAiiBiT(
Bf
AMIN
BuNNY
Gambar
2.4
Beatrix Potter
2.5
Cover
Depan
Peter
Rabbit
2.4 Target Audience
|
![]() 16
Target
Audience Primer
Target
Primer
Usia
Jenis
Kelamin
Golongan
Wilayah
Pendidikan
:
Anak-anak
:
10-12 tahun
:
Laki-laki danPerempuan
:Level
B-A
:Jakarta
:
Sekolah Dasar,
home schooling
Sifat
Berpikir
universal,
berwawasan
luas,
rasa
kingintahuan yang
besar
membuatnya ingin
mehtkukan banyak eksplorasi
dan
mencoba hal
baru.
Sedang belajar
mengenal diri
sendiri
dan
lingkungannya. Adanya perkembangan emosi
dan
cara
berpikir.
Kondisi, di Rumah
:
Hobi
·'
.-- .
Aktivitas
Aktivitas bersama orangtua
rata-rata hanya
saat
akhir
pekan. rangtua sibuk
bekerja
danjarang di
rumah,
segala
kebutuhan sudah
diberikan sehingga tak
jarang
anak
meraskesepian.
Membaca, bennain
game,jalan-jalan, menonton
televisi,
browsing internet.
i
Gemar
I
suka
membaca di
waktu
luang,
walau
hanya
sekedar
untuk
hiburan ringan. Selalu
ke
perpustakaan
sekolah saat
menunggu orangtua menjemput
pulang.
Suka
berbelanja ke
toko
buku
untuk
membeli
bacaan
bacaan baru.
Lebih
banyak
melakukan kegiatannya di
rumah
dan
di
sekolah
dibandingkan bennain di
luar.
Jika
pergi
ke
luar
rumah,
biasa
bersama
orangtua atau
teman-temannya.
Target Audience Sekunder:
Orangtua
yang
sibuk
berkarir,
dan
hanya
memiliki
waktu
sedikit untuk
dihabiskan
bersama
keluarga.
Namun
masih
memiliki waktu
untuk
memonitor
kegiatan
anak
anaknya, seperti
belajar,
les,
atau
sekedar
mengantar-jemput anak
ke
sekolah,
dan
menyempatkan rekreasi bersama keluarga di
akhir
pekan.
|
![]() --
-- -
--- --I
17
lbu Rumah Tangga, yang biasanya menjadi
parental role
model
untuk anak
anaknya dan selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Guru private atau guru sekolah sebagai 'orangtua' kedua bagi anak-anak.
2.5SWOT
Strength (Kekuatan):
Buku cerita yang dapat dinikmati oleh semua usia.
Nilai moral
I
positif yang bisa didapat dari buku cerita tersebut. ·
llustrasi yang mendukung sekaligus merangkum isi cerita.
Isi buku bersifat menjembatAni hubungan bagi orangtua atau orang dewasa
kepada anak-anak.
Buku dibuat dalam bentuk berseri menjadi peluang karena menarik rasa
penasaran pembacanya.
Weakness (Kelemahan):
Buku dibuatgalam
bentuk berseri, sehingga penyampaian pesan isi cerita
cenderung tidak langsung.
·
Mahahlya har_ga produksi sehingga mempengaruhi harga jual.
Opportunitties (Kesempatan):
An:;t,k
7
anak masih memiliki minat membaca yang tinggi.
Buku cerita bergambar masih digemari oleh kalangan umum, anak-anak maupun
orangtua.
Kisah-kisah yang memuat kisian moral sangat disukai oleh orangtua untuk
membangun kepribadian anak mereka.
Target Audience menyukai cerita imajinatif I
fiksi dibandingkan fakta.
Threads
(Ancaman):
Banyak buku bergambar sejenis yang memiliki kualitas gambar dan cerita lebih
baik.
Semakin beraneka ragamnya gambar-gambar
I
ilustrasi yang digunakan untuk buku
cerita.
Anak-anak cenderung cepat bosan dengan bacaan yang sudah mereka baca.
'li:
I
1
,
.·
|