4
BAB 2
DATA & ANALISA
2.1 Sumber Data
2.1.1 Literatur Buku
1.”Apa, Siapa dan Bagaimana Tan Malaka”  karya LPPM Tan Malaka
2. “Pemikiran Politik Tan Malaka, Kajian terhadap perjuangan “Sang Kiri
Nasionalis” karya Safrizal Rambe
3. “Tan Malaka, Bapak Republik Yang Dilupakan” Majalah Tempo Edisi Khusus
Hari Kemerdekaan 11-17 Agustus 2008
2.1.2 Literatur Artikel
3.
alaka
91200,id.html
sejarah.html
ceramah
4
  
5
2.2  Pengertian Biografi
Pengertian biografi
menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah bi.o.gra.fi [n]
riwayat hidup (seseorang) yg ditulis oleh orang lain. Biografi sendiri berasal dari bahasa
Yunani, yaitu bios dan graphien yang berarti hidup dan tulis. Sehingga dapat diartikan
sebagai kisah riwayat hidup seseorang.
Biografi dapat
memuat, menganalisa dan menerangkan
fakta-fakta dari kehidupan
seseorang dan peran pentingnya.
Biografi dapat bercerita tentang tokoh sejarah ataupun
tokoh yang masih hidup, orang terkenal ataupun orang yang tidak terkenal. Kebanyakan
biografi ditulis secara kronologis, dan dibagi kepada beberapa bagian. Adapula beberapa
biografi yang hanya berfokus kepada bagian-bagian atau pencapaian-pencapaian tertentu.
Macam-macam biografi :
1.   Berdasarkan sisi penulis :
-Autobiografi:
Biografi yang ditulis sendiri oleh tokoh yang terkait
-Biografi :
Biografi yang ditulus oleh orang lain. Dibagi dua berdasarkan izin penulisan
-Authorized  biography,  yaitu  biografi  yang  penulisannya  seizin  atau
sepengetahuam tokoh didalamnya
-Unauthorized
biography,
yaitu
ditulis
seseorang
tanpa
sepengetahuan
atau
izin
dari tokoh di dalamnya (biasanya karena telah wafat)
  
6
2.   Berdasarkan Isi yang dibahas:
-Biografi Perjalanan Hidup,
Isinya berupa perjalanan hidup lengkap atau sebagian paling berkesan.
-Biografi Perjalanan Karir,
Isinya berupa perjalanan karir dari awal karir hingga karir terbaru, atau sebagian
perjalanan karir dalam mencapai sukses tertentu.
3.Berdasarkan Persoalan yang dibahas :
-Biografi politik.
biografi yang ditulis dari sudut politik. Namun, biografi semacam ini kadang kala
tidak lepas dari kepentingan penulis ataupun sosok yang ditulisnya.
-Intelektual biografi
yang juga disusun melalui riset dan segenap temuan dituangkan penulisnya dalam
gaya penulisan ilmiah.
-Biografi jurnalistik ataupun biografi sastra
yaitu materi penulisan biasanya diperoleh dari hasil wawancara terhadap tokoh
yang akan ditulis maupun yang menjadi rujukan sebagai pendukung penulisan.
  
7
2.2.1
Biografi Tan Malaka
Beberapa buku atau
tulisan
yang membahas
tentang biografi atau perjalanan
hidup
Tan Malaka antara lain adalah.
1.   Tan Malaka : Strijder Voor Indonesie’s Vrijheid, levensloop van 1897 tot 1945
yang
merupakan disertasi Harry A. Poeze
untuk
Universiteit Amsterdam. Terbit
di Indonesia dalam bentuk buku dengan judul
Tan Malaka; Pergulatan Menuju
Republik, 1897-1925 (Jakarta, 1988, 2000) dan Tan Malaka: Pergulatan Republik
Indonesia, 1925-1945 (Jakarta, 1999).
2.   Tan Malaka : A Political Personality’s Struture of Experience
Karya Rudolf Mzarek yang mempelajari sosok Tan melalui studi yang disebut
"struktur pengalaman seorang personalitas politik". Pendekatan
ini adalah
upaya
untuk melihat pola-pola dalam diri seseorang secara total
.
3.   Tan Malaka “Revolutionary or Renegade?”
Karya Helen Jarvis terbit ahun 1987
4.   Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia
Ditulis oleh Muhammad Yamin.
5.   Majalah Tempo edisi khusus Kemerdekaan “Tan Malaka : Bapak Republik yang
Dilupakan.” Edisi khusus yang membahas tentang perjalanan hidup Tan Malaka,
edisi khusus ini juga dicetak ke dalam bentuk buku yang juga merupakan salah
satu rangkaian dari paket buku Bapak Bangsa - 4 Serangkai Pendiri Republik
6.   Pemikiran  Politik  Tan  Malaka,  Kajian  terhadap  perjuangan  “Sang  Kiri
Nasionalis” karya Safrizal Rambe yang juga merupakan disertasi S2 sang penulis.
7.   Apa, Siapa dan Bagaimana Tan Malaka
  
8
Diterbitkan oleh LPPM Tan Malaka dan berisi tulisan-tulisan tentang Tan Malaka
dari beberapa tokoh.
8.   Dari Penjara ke Penjara
Merupakan autobiografi
yang ditulis oleh
Tan Malaka sendiri ketika di penjara
sekitar tahun 1946 sampai dengan 1948.
Dalam
membuat
film animasi
dokumenter
ini
penulis
menggunakan
buku Tan
Malaka : Bapak Republik yang Dilupakan yang dierbitkan oleh TEMPO sebagai sumber
data dan bahan dasar untuk pembuatan karya, karena buku ini merupakan rangkuman dari
beberapa
buku
lain
yang
juga
membahas tentang Tan Malaka, selain itu buku yang
berbetuk   majalah   ini   ditulis   dengan   bahasa   yang   mudah   dimengerti   sehingga
memudahkan
dalam penulisan
cerita.
Adapun
buku
lain
yang
juga
digunakan
untuk
mendukung
dan
melengkapi
adalah Pemikiran
Politik
Tan
Malaka,
Kajian
terhadap
perjuangan “Sang Kiri Nasionalis karya Safrizal Rambe dan Apa, Siapa dan Bagaimana
Tan Malaka terbitan LPPM Tan Malaka.
2.2.2
Tan Malaka Dalam Media Hiburan/Audio Visual
1.   Opera Tan Malaka (2010)
Opera Tan Malaka adalah salah satu cerita teater
yang disutradarai oleh Goenawan
Mohamad yang dipentaskan di teater Salihara, dalam cerita opera ini cukup unik karena
sosok Tan Malaka sendiri tidak ditampilkan. Opera ini ditolak tayang oleh KSTV Kediri.
2.   Tan Malaka (2008)
  
9
Film Pendek ini berdurasi 22 menit dan disutradarai oleh Erik Wirawan ini menitik
beratkan cerita ketika perjuangan
Tan Malaka pada saat bergerilya sampai ia ditangkap,
dan beberapa kilas balik ketika Tan Malaka mengajar di Deli dan Semarang. Diperankan
oleh bebeapa actor.
3.   Pacar Merah Indonesia (1938)
Cerita fiksi berlatar sejarah karya Matu Mona, dengan tokoh-tokoh ceritanya antara
lain adalah tokoh-tokoh komunis Indonesia seperti Tan Malaka, Semaun, Muso, Alimin,
dan Darsono yang naman-namanya diubah dan disamarkan.
2.3  Data Tan Malaka
2.3.1 Riwayat Tan Malaka (berdasarkan tahun)
Gambar 1.1 Foto  Tan Malaka
  
10
1897 – Tahun ini adalah tahun dimana diperkirakan tahun lahirnya Tan Malaka oleh
Harry
A.
Poeze,
dengan
melihat
riwayatnya yang pada
6 tahun kemudian Tan Malaka
masuk
ke
sekolah
rendah
yang
menerima murid
dengan
umur
minimal
6
tahun.
Tan
Malaka
lahir
dengan
nama
asli
Ibrahim dan
biasa
dipanggil Ibra,
lahir
di
Suliki,
Desa
Nagari Pandan Gadang Sumatra barat. Ibra lahir dari Ayah yang bekerja sebagai seorang
mantri, Ibra adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ibra gemar bermain sepak bola,
layang-layang, berenang dan mengaji, pada usia 16 Ibra sudah hafal Al-Quran. Ibra ini
dikenal
sebagai
seorang
yang
pemberani dan
nakal
namun
juga
cerdas.
Karena
kecerdasannya  ia  direkomendasikan  untuk  menempuh  pendidikan  di  Sekolah  Guru
Negeri Fort de Kock (sekarang bukit tinggi)
setelah
lulus
sekolah kelas dua,
sekolah
dengan julukan “sekolah raja” karena hanya anak ningrat atau pegawai tinggi yang bisa
masuk kesana. Semenetara Tan Malaka berasal dari keluarga seorang pegawai rendahan.
Ibra  bisa  masuk  kesana  karena  asal-usul  keluarga  ibunya  dianggap  cukup  untuk
alasan mendaftar. Tan Malaka senior adalah salah satu pendiri Pandan Gadang dan juga
membawahi bebeerapa datuk, ditambah dengan kecerdasan Ibra yang luar biasa.
1907-
Ibra
terdaftar
sebagai
murid
di
Fort De
Kock,
peratauannya
ke
sini
adalah
perantauannya
yang
pertama.
Merantau adalah
salah
satu
budaya
masyarakat
Minangkabau. Merantau diyakini akan membawa nilai-nilai kebaikan yang ada diluar
sana. Di Bukittinggi Ibra banyak belajar budaya Belanda yang kala itu menjajah
Indonesia.  Di  sana  ia  belajar  bahasa  Belanda,  dan  bergabung  dengan  orkes  sebagai
pemain cello, di bawah pimpinan G.H Horensma. Di sana ia juga masih meneruskan
hobinya bermain sepak bola. G.H Horesma menganggap Ibra seperti anaknya sendiri. Ia
terkesan dengan kecerdasan dan tingkah laku yang baik dari Tan.
  
11
1913- Ibra lulus dari Sekolah guru negeri Fort de Kock ia pun kembali ke kampung
untuk
upacara
pemberian
gelar.
Kini
nama
lengkapnya
menjadi
Ibrahim Datuk
Tan
Malaka. DI tahun ini pula Tan Malaka meneruskan pendidikannya ke Belanda, atas saran
dan bantuan G.H Horesma dan bantuan dana dari para pemuka kampungnya di Suliki.
Ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru Rijkweekschool di Haarlem, Belanda.
Selama di Belanda ia tiggal berpindah-pindah tempat. Pertama ia tinggal di pemondokan
bersama murid Rijkweekschool yang lain, namun ia tidak betah disana. Ia pun pindah ke
Jacobijnestraat, ia tinggal di sebuah rumah kecil menmpati kamar loteng yang sempit dan
gelap. Pada saat Tan Malaka datang ke Belanda, Harleem diliputi aura kemiskinan yang
sedang
jatuh
bangun
menghadapi
depresi
ekonomi.
Dalam tulisannya
Tan
Malaka
mengaku mengalami konflik antara jasmani dan keadaan belum lama disana, ia juga sulit
beradaptasi dengan makanan disana yang menurutnya cara pengolahannya sangat buruk.
Ia tinggal
bersama
keluarga
miskin
E.A Snijder
dengan
uang
sakunya
yang
cuma
50
gulden tiap bulan. Selama sekolah Tan dapat mengatasi pelajaran. Ia berbakat dalam ilmu
pasti dan membenci ilmu tentang tumbuh-tumbuhan karena harus menghafal. Tan pandai
bergaul dengan teman-teman dan guru-gurunya walau ada kendala bahasa. Tan aktif
bermain biola bersama orkes dan bermain sepak bola. Tan bergabung dengan klub sepak
bola
Vlugheid
Wint.
Ia
terkenal
memiliki
tendangan
yang kencang dan
seringbermain
bola tanpa sepatu. Walau dalam kondisi
sakit Tan tetap semangat dalam bermain sepak
bola.
1915-
Karena kualitas bahan yang buruk, kamar yang tak sehat dan jarang
mengenakan   jaket   tebal.   Tan   mulai   terserang   radang   paru-paru,   sejak   saat   ini
kesehatannya tidak pernah dalam kondisi seratus persen. Sejak tanggal 24 April 1915 Tan
  
12
Malaka pindah ke rumah pasangan Gerrit van Der Mij Jacobijnestraat dengan kondisi
kamar
yang
lebih
baik setelah
mendapat pinjaman
pendidik 1.550
gulden
dari
(NIOS)
Dana Pendidikan dan Studi Hindia Belanda.  Pondokan di Jacobijnestraat adalah tempat
berseminya pemahaman politik Tan Malaka. Dia sering berdiskusi dengan teman satu
kosnya
Herman Wouters seorang pengungsi dari Belgia yang
lari dari
serangan
Jerman
ke  negaranya  dan  Van  Der  Mij,  dari  situ
Tan  mulai  mengenal  kata-kata  baru  yang
menjadi subyek
misterius
:
Revolusi. Namun
ia tak
langsung
menjadi partisipan aktif,
pada
awalnya
ia
hanya
mengamati ,
mendengar
dan
ikut-ikutan
membaca De Telegraf
koran
langganan
milik
mij, sebuah
surat kabar
anti
Jerman
dan Het Volk
media
yang
sering
dibaca
Wouters. Koran-koran
“kiri” yang
ia baca
dan
perang
yang
berkecamuk
mempengaruhi pemikirannya. Ia pun mulai lapar informasi-informasi politik. Ia juga
membaca buku karya Friedrich Nietszche yang populer pada masa itu seperti Thus Spoke
Zarathustra, Will to Power, dan buku yang
mengenalkan dia dengan
semboyan
liberte,
egalite,   fraternite   (kebebasan,  persamaan,  dan  persaudaraan)  yaitu   The   French
Revolution
karya
Thomas Carlyle. Ia pun
merasa
berada
dalam paham
dan
semangat
yang lazim dinamai revolusioner.
1916-
Tan meninggalkan Haarlem dan pindah ke Bussum dan tinggal bersama
keluarga Koopmans. Kepindahannya ini membuat ia tersadar, dia merasakan perbedaan
gaya hidup yang mencolok antara gaya hidup mewah keluarga Koopmans yang borjuis
dan keluarga Van Der Mij tempat ia tinggal dulu yang proletar.
1917-  Terjadi Revolusi Komunis yang meledak di Rusia pada Oktober 1917,
memberi keyakinan pada Tan bahwa dunia sedang bergerak kearah sosialisme. Muncul
berbagai
gagasan
tentang
bagaimana
seharusnya bangsa
Indonesia
dibangun pada
diri
  
13
Tan.
Datang Ki
Hajar
Dewanta
yang
meminta dirinya menjadi
wakil di acara Indische
Vereeniging  dalam  kongres  pemuda  Indonesia  dan  pelajar  Indologie  di 
Deventer,
Belanda
karena
Ki
Hajar
akan
kembali
ke
Hindia
Belanda.
Dalam forum inilah
ia
menyampaikan gagasan-gagasan yang ia miliki. Lalu Tan pindah ke Goilandschweg,
sebuah kawasan borjuis. Disini Tan mulai putus asa karena tak lulus menjadi pengajar di
Belanda. Padahal ia harus bekerja agar bisa membayar hutangnya pada NIOS. Ia juga
makin aktif mengunjungi rapat-rapat yang sering diadakan Himpounan Hindia.
1919-
Tan
Malaka
memutuskan
pulang ke Indonesia.
Dengan
cita-cita,
mengubah
nasib bangsa Indonesia. Ia merasa sudah saatnya ada revolusi di Indonesia agar terlpeas
dari penjajahan dan muali membangun sistem sosialisme. Ia banyak mendapat pelajaran
penting terutama tentang politik di Belanda. kembali ke Indonesia ia menjadi pengajar di
sebuah
perkebunan
di
Deli.
Di
sinilah
ia
melihat
sebuah
ketidakadilan,
ketimpangan
sosial antara tuan tanah dan para pekerjanya. Bagi para tuan tanah pendidikan bagi para
kuli pekerja hanyalah buang-buang uang dan juga ada ketakutan bagi mereka apabila para
kuli itu diberi pendidikan akan membuatnya berani membangkang, sementara bagi Tan
Malaka setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Tan Malaka akhirnya memutuskan
untuk mundur sebagai pengajar disana, semangat radikalnya pun muncul. Ia dihadapkan
dengan kecenderungan ajaran marxis yang dipelajarinya dengan kenyataan.
1921- Ia pindah ke Jawa dengan
modal
surat dari ketua
Boedi Oetomo di Medan
ia
diterima sepeti saudara oleh Boedi Oetomo
Yogya.. Tan Malaka menghadiri kongres
Sarekat Islam (SI), disini ia bertemu dengan tokoh-tokoh seperti
HOS
Tjokroaminoto,
Agus Salim, Semaun
dan
lainnya.
Disini
ia
cocok
dengan SI
Semarang
yang
menjadi
cikal  bakal  PKI.  Setelah  kongres  ia  ikut  dengan  Semaun  ke  Semarang  dan  sepakat
  
14
mendirikan sekolah rakyat. Ketika Semaun di buang ke Moskow
Tan Malaka ditunjuk
sebagai ketua PKI karena keluasan pengetahuan dan teori yang dimilikinya. SI dan PKI
mulai mengalami perpecahan, namun Tan Malaka berpendapat agar Partai Komunis dan
Sarekat
Islam bersatu
untuk
melawan
penjajah.
Tan
malaka
juga
aktif
memimpin
pergerakan buruh dan mengatur solidaritas yang dilaksanakan VSDP karena inilah ia
dituduh
menganggu
keseimbangan
dan
ditangkap
pemerintah
penjajah
Belanda,
lalu
dibuang ke Kupang.
Gambar 1. 2 Semaun
1922-
Tan Malaka dibuang ke Kupang, lalu pada bulan yang sama
ia dbuang ke
Belanda,
dan
disambut
hangat
oleh
kaum komunis
yang
ada
disana.
Tan
Malaka
dicalonkan untuk duduk di parlemen sebagai wakil
partai
komunis
Belanda
tersebut.
Namun
gagal
karena
umurnya belum mencapai
30 tahun.
Tan
gagal
memperjuangkan
kemerdekaan
Indonesia
melalui
posisinya
apabila
ia
diterima di
parlemen.
Setelahnya
Tan pun pergi ke Jerman, dan sempat
mendaftar
menjadi
legion asing,
namun Jerman
tidak
membuka pendaftaran
legiun asing.
Di
Jerman
Tan
juga
sempat
menulis
tulisan
  
15
yang  menjadi  pembantahannya  atas  tuduhan  Belanda  yang  menangkap  dan
membuangnya. Setelah itu ia pergi ke Moskow, Russia untuk menghadiri Kongers
Komintern   (komunis   internasional)   sebagai   wakil   dari   Indonesia.   Ia   mendapat
kesempatan pidato selama lima
menit. Ia pun menyampaikan
gagasanya bahwa penting
bagi komunis untuk bekarja sama dengan Islam dalam melawan imperialisme. Dalam
kongres ini bertemu dengan tokoh-tokoh komunis lain seperto Ho Chin Minh dan Lenin.
Setelah kongres ia meminta komintern menyekolahkan dia namun ditolak. Namun ia
ditugaskan
untuk
membentuk
biro
serikat pekerja
timur
merah
“Red
Eastern
Labour
Union” di Canton,china oleh komintern. Sebelumnya di Russia ia sempat menulis buku
berjudul
Indonesia,
ejo
mesto
na
proboezdajoestsjemsja Vostoke
atau
Indonesia
dan
Tempatnya di Timur yang Sedang Bangkit.
Gambar 1.3 Tan Malaka Muda
1923-
Tan
Malaka
pergi
ke
Tiongkok
(Cina) sebagai
wakil
Komintern,
disana
ia
berjumpa dengan tokoh komunis cina Sun Yat Sen yang menurutnya adalah pengalaman
yang
istimewa.
Tan
menjadi
Ketua
Organisi
Buruh
Lalu
Lintas
Biro
Kanton.
Tugas
  
16
pertamanya adalah menerbitkan majalah, ia pun memipn majalah The Dawn.  Di kota ini
juga Tan
menulis Naar de Republiek Indonesia. Buku pertama
yang menggagas sebuah
Negara merdeka
bernama Republik Indonesia. Di
Kanton
penyakit
paru-parunya
mula
kambuh karena suhu yang dingin. Setelah beberapa kali berobat ia pun disarankan
untukpergi ke daerah yang cuacanya hangat.
1924 – Tan Malaka
mengajukan permohonan
untuk minta izin pulang ke Indonesia
kepada gubernur Jenderal Belanda Dick Fock, namun ditolak. Akhirnya ia pergi ke
Filipina dengan nama samara
Elias Fuentes, tak sampai dua tahun dia ditangkap polisi
Filipina yang berada dalam kekuasaan intel Amerika, Belanda dan Inggris.
1926-
Ia
mendirikan PARI
(Partai Republik Indonesia) di Bangkok, setelah
sebelumnya tidak mendukung gagasan PKI yang akan melakukan pemberontakan di
Indonesia. Karena hal inilah ia dan PKI mulai pecah. Ia juga menulis salah satu karyanya
Massa Actie yang ditujukan pada komunis di tanah air tentang tata cara revolusi, namun
sayangnya terlambat. Kelak 30 tahun kemudian ketidak setujuannya ini membuat ia
dianggap 
sebagai 
pengkhianat 
partai, 
disamakan  atau 
dikatakan 
sebagai 
Trotskys
(pengikut Leon Trotsky, lawan politik Stalin) oleh D.N Aidit ketua PKI pada saat itu.
1927-  Ia pun kembali ke tiongkok. Kali ini ia ke kota Amoy
1932-
Pecah perang antara Jepang dan Cina ia pindah ke Hong Kong menyamar
sebagai
Ong Song Lee.
Di
Kowloon
ia
dikira
sebagai Dawood buron dari singaura, ia
bersilat minang melawan polisi Hong Kong yang memakai jurus kungfu. Ia menang,
namun muncul Gurkha. Ia pun menyerah di tangan mereka. Setelah dipenjara di Hong
Kong
ia
diputuskan akan
dibuang
ke shanghai. Namun
Tan
berhasil
mengecoh
polisi
yang
mengawalnya dan berhasil meloloskan diri di Pelabuhan
Amoy. 
Disana penyakit
  
17
paru-parunya kambuh namun Sinse Choa tabib lokal disana berhasil menyembuhkannya
dengan ramuan tradisional.
1937- Tan Malaka pergi meninggalkan Tiongkok ketika
Jepang
menyerang, dengan
nama samara Tan Min Siong, ia pergi menuju Rangoon, Burma. Dari Burma ia menuju
Singapura dengan nama samara Tan Ho Seng.
1942- ketika Jepang
menyerbu singapura
ia kembali ke Medan dengan
nama
Legas
Hussein, dan kembali ke Padang disanalah ia bertemu dengan Tan Malaka palsu buatan
Jepang untuk memancing munculnya tokoh-tokoh radikalis.
1942-1943 Tan Malaka pergi ke Desa Rawajati, Kalibata, Jakarta. Disini ia menulis
karyanya yang cukup penting dan
dikatakat karya terbesar MADILOG (Materialisme,
Dialektika, dan Logika). Yang meruapakan buah pikir dari pengembaraannya. Inti dari
Madilog adalah penglihatan masa depan Indonesia yang merdeka dan sosialis, serta
merupakan
upaya
untuk
merombak
system
berpikir
bangsa
Indonesia
dari
pola
pokir
yang
penuh
dengan
mistik
kepada
satu
cara berpikir yang rasional. Dalam menulis
Madilog ini
ia selalu berdiskusi
dengan
pemuda,
dia
banyak
bercerita
tentang
kesengsaraan  penduduk  di  bawah  penguasaan  Jepang.  Karena  kativitasnya  inilah  ia
pernah digeledah, namun karena tak ditemukan bukti yang memberatkannya pejabat yang
menggeledahnya (Aisten Wedana Pasar Minggu)
meminta
maaf kepadanya. Ia tak tahu
bahwa Tan menyembunyikan kertas-kertasnya di kandang ayam dan disamarkan sebagai
kaki meja.
1943- Tan Malaka
pergi
ke
Bayah, Banten dengan
nama
samaran
Ilyas
Hussein
ia
bekerja disana setelah melamar ke kantor sosial. Tan Malaka membutuhkan penghasilan
  
18
sekaligus
tempat
bersembunyi.
Tan
dikenal sebagai
kerani
yang
baik
hati,
sering
membelikan
makanan
pada
para
pekerja romusha
dari
upahnya
sendiri.
Ia
pun
mengusulkan tentang peningkatan kesejahteraan romusha.
1944-
Soekarno dan Hatta berkunjung ke Bayah. Tan menjadi anggota panitia
penyambutan tamu. Soekarno memberikan pidato yang berisi bahwa Jepang akan
memberikan kemerdekaan kepada Imdonesia setelah mengalahkan sekutu. Ketika
moderator
membuka sesi
tanya
jawab.
Tan
mengajukan pertanyaan, apakah
tidak
lebih
tepat kemerdekaan Indonesialah kelak yang menjamin kemenaangan terakhir?. Soekarno
menjawaba
bahwa
Indonesia
harus
menghormati jasa Jepang menyingkirkan tentara
Belanda, namun Tan membantah menurutnya rakyat akan berjuangdengan semangat yang
lebih besar 
membela kemeredekaan yang ada daripada yang dijanjikan. Tan melihat
Soekarno jengkel.
1945- Tan datang ke Jakarta dari Bayah dengan
memperkenalkan diri sebagai Ilyas
Hussein. Ia bertemu dengan para pemuda seperti Sukarni, Chaerul Saleh, B.M Diah. Ia
menyampaikan gagasannya tentang kemerdekaan dan proklamasi yang membuat Sukarni
terpukau.
Sukarni
pun
yakin
bahwa
proklamasi
harus
segera
diumumkan.
Setelah
dari
sana Tan kembali ke Banten untuk menggerakan para pemuda Banten. Setelahnya ia
kembali lagi ke Jakarta, namun ia gagal menemui tokoh-tokoh pemuda. Ia tidak tahu
bahwa tokoh-tokoh pemuda akan
menculik Soekarno-Hatta ke rengas dengklok. Ketika
Proklamasi
Tan
Malaka
tidak
mengetahuinya, in
sungguh
ironis
karena
Tan
lah
yang
menggagas konsep republik Indonesia. Setelah proklamasi para pemuda masih sulit untuk
ditemui Tan, akhirnya Tan menuju rumah Ahmad Soebardjo. Soebardjo terkejut karena
mengira  Tan  telah  mati,  mereka  pernah  bertemu  di  Belanda  pada  tahun  1919.  Tan
  
19
dikenalkan oleh Soebardjo dengan tokoh-tokoh seperti Iwa Koesoema Soemantri, Gatot
Taroenimihardjo, Boentaran Martoatmojo, dan Nishijima Shigetada, asisten Laksamana
Maeda.  Nishijima 
terheran-heran  dengan  pemikiran 
Tan 
tentang 
revolusi, 
ia 
pun
menjabat erat tangan Tan ketika Soebardjo mengenalkannya. Pemerintah yang tidak
bekerja membuat para pemuda terus bergerak, sebagian dari pemuda mengusulkan untuk
diadakannya demonstrasi. Sukarni menyatakan ini saat yang tepat untuk melaksanakan
Massa Actie, mengutip buku Tan yang menjadi
pegangan para pemuda. Tan lalu
mengusulkan agar propaganda dilakukan lewat semboyan-semboyan. Sejak saat itu
Soekarno mendengar kemunculan Tan Malaka, akhirnya mereka bertemu dua kali pada
awal
September
1945.
Pertemuan
itu
menjadi
rahim lahirnya
testamen
politik
apabila
Soekarno-Hatta  ditangkap  kepemimpinan  agar  diteruskan  oleh  Tan  Malaka.  
Namun
Hatta tidak setuju, dengan jalan tengah bahwa ahli waris revolusi harus diberikan kepada
empat
orang
yang
mewakili
empat
kutub.
Tan
Malaka
aliran
kiri,
Sjahrir
aliran
kiri
tengah, Wongsonegoro sebagai wakil kalangan kanan, serta Soekiman dari wakil
kelompok
Islam.
Tan
pun
memegang
naskah testamen
dan
naskah
proklamasi,
dan
melakukan
perjalana
keliling Jawa
selain
untuk memperkenalkan
diri
pada rakyat
juga
untuk mengukur seberapa besar pengaruhnya. Ketika Tan Malaka melakukan perjalanan
ini  ia  menyaksikan  perlawan  perjuangan  rakyar  yang  meluap-luap  terhadap  tentara
Inggris  dengan  gagah  berani.  Tan  heran  dengan  keputusan  pemerintah  yang  tetap
memilih jalan diplomasi dan tidak mendukung perjuangan rakyat.
1946-    
Pada 
Bulan 
Januari 
1946 
Tan 
membangun 
persatuan 
perjuangan 
di
Purwokerto
sebagai
upaya
menyerang politik diplomasi
yang
dilaksanakan
pemerintah.
Rapat kongres ini dihadiri oleh pemimpin pusat partai sosialis, partai komunis Indonesia,
  
20
Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Buruh Indonesia. Hizbullah,
Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi, dan Persatuan
Wanita
Indonenisa,
Panglima
Besar
Jenderal Soedirman
juga
hadir
disini.
Dari
sini
melahirkan tujuh pasal program minimum yaitu :
1. Merdeka 100%
2. Membentuk Pemerintahan Rakyat
3. Menyita Perkebunan Musuh
4. Menyita Pabrik Musuh
5. Membentuk Tentara Rakyat
6. Melucuti Tentara Jepang
7. Mengurus tawanan bangsa Eropa
Karena oposisi terhadap pemerintah
ini Tan ditangkap dan dipenjarakan di sejumlah
tempat   tanpa   diadili.   Ia   berpindah-pindah   dari   wirogunan,   Yogyakarta,   Madiun,
Ponorogo, Tawangmangu, dan Magelang. Pada saat ini pula ia menulis otobiografinya
Dari  Penjara  ke  Penjara.  Pertemuan  Purwokerto  ini  diakui  memberikan  sumbangan
besar pikiran Tan pada kongres ini dan pada buku GERPOLEK menurut A.H Nasution
mneyuburkan
ide perang rakyat semesta yang membuat rakyat berhasil
melawan Agresi
Milter Belanda sebanyak dua kali, terlpeas dari pandangan politik ia berkata Tan Malaka
harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.
  
21
Gambar 1.4. Tan Malaka Sedang Membaca
1948-    Tan Malaka bebas dan bertemu dengan Jenderal Soedirman. di Yogyakarta,
Tan mengatakan akan bergerilya ke Jawa
Timur sekitar November
1948 melawan
Belanda. Soedirman lalu memberinya surat pengantar dan satu regu pengawal.  Surat dari
Soedirman
itu
diserahkan
ke
Panglima Divis Jawa Timur
Jenderal Sungkono. Oleh
Sungkono, Tan dianjurkan bergerak ke Kepanjen, Malang Selatan, namun ia memutuskan
pergi ke Kediri. Pada tahun ini pula Tan Malaka dan Sukarni mendirikan Partai MURBA.
1949- Pada tanggal 21 Februari 1949 Tan Malaka ditembak mati oleh TNI di Kediri
ketika sedang bergerilya, menurut penelitian Harry A. Poeze. Sebelumnya, kematian Tan
Malaka menjadi kontroversi, beberapa pendapat menyampaikan bahwa PKI berada di
belakang   kejadian   ini,   adapula   pendapat   yang   menyatakan   bahwa   kematiannya
diakibatkan karena perintah yang tak jelas. Pada saat itu
muncul radiogram bahwa Tan
Malaka disebutkan melakukan aktivitas pergerakan yang berbahaya sehingga harus
dihentikan dan bila ada perlawanan bisa digunakan hukum militer.
1963-
Tan Malaka diangkat sebagai pahlawan nasional pada 28 Maret 1963 oleh
presiden Soekarno. Melalui keputusan Presiden No. 53 Tahun 1963
  
22
1966- Pada
masa Orde Baru
nama
Tan Malaka dihapuskan dari buku-buku sejarah
walaupun gelar pahlawannya tidak dicabut.
2009- Makam yang diduga sebagai kuburan Tan Malaka ditemukan di Kediri.
2.3.2 Karya atau Buah Pemikiran Tan Malaka
Beberapa karya atau buah pemikiran Tan Malaka dan keterangannya yang berhasil
didapat penulis.
1. Sovyet atau Parlemen (1921)
Berisi uraian tentang sitem pemerintahan parlemen yang ada pada saat itu hanya akan
menjadi alat dari penjajah yang memerintah.
2. SI Semarang dan Onderwijs (1921)
Ditulis ketia
Tan
merumuskan
tujuan
pendidikan
dari
sekolah
SI.
Yang
berisikan
pokok-pokok ajaran yang akan diajarkan di sekolahnya
3. Toendoek Kepada Kekoeasaan, Tetapi Tidak Kepada Kebenaran (1922)
Ditulis di Berlin, tentang pembelaannya ketika ditangkap di Bandung dan dibuang ke
Kupang 
dan 
ke 
Belanda 
oleh 
pemerintah 
penjajah 
karena 
dituduh 
mengganggu
ketertiban.
  
23
4. Goetji Wasiat Kaoem Militer (1924)
Ditulis di Saigon ditulis dengan nama Sumendap dan Daniel.menurt Poeze mungkin
ditulis oleh Tan Malaka
5. Indonesia, ejo mesto na proboezdajoestsjemsja Vostoke / Indonesia dan Tempatnya
di Timur yang Sedang Bangkit (1924)
Ditulis dan diterbitkan di Moskow, berisi tentang thesis bagi keadaan sosial dan
ekonomi serta tuntuan berorganisasi yang mengambangkan strategi dan taktik untuk
diterapkan di Indonesia.
6. Naar de Republik Indonesia / Menuju Republik Indonesia (1925)
Ditulis dan diterbitkan di Canton dan Manila yang disamarkan sebagai Tokyo untuk
mengelabui intel yang mengejarnya. Berisi tentang uraiannya akan kondisi dunia
pertentangan kapitalis dan komunis yang menurutnya akan dimenangkan oleh komunis.
Dan tentang situasi di Indonesia yang
sedang dijajah dengan sewenag-wenang oleh
Belanda. Pada cetakan
yang kedua
Tan Malaka menambahakn satu bab tentang Majelis
Permusyawaratan Nasional yang mandiri dengan ada atau tidak adanya persetujuan dari
penjajah.
Bung Karno
muda
yang pada kala itu
memimpin Klub Debat Bandung
sering
membaca buku ini. Melalui buku ini Muhammad Yamin mengatakan Tan sebagai Bapak
Republik seperi halnya George Washington di Amerika.
7. Semangat Moeda (1926)
Ditulis di Manila
  
24
8. Massa Actie (1926)
Ditulis
di
Singapura
tahun
1926,
rencananya untuk
mencegah
rencana
Prambanan
yang dilaksanakan oleh PKI. Namun buku ini terlambat cetak, berisi
tentang pedoman-
pedoman  revolusi,  buku  ini  menjadi  pegangan  bagi  para  pemuda  kaum  nasionalis.
Kalimat “Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu dan tulangmu. Iulah tempat
yang selayaknya bagimu, seorang putra tanah
Indonesia
tempat
darahmu
tertumpah”,
menjadi inspirasi bagi W.R Supratman dalam menciptakan lagu Indonesia Raya.
9. Manifesto Pari (1927)
Berisi tentang perlunya membentuk partai PARI untu kepentingan Indonesia
10. Materialisme-Dialektika-Logika/MADILOG (1942-1943)
Karya  terbesar  Tan  Malaka,  diniatkan  sebagai 
upaya 
untuk 
merombak  system
berpikir bangsa Indonesia dari pola berpikir yang penuh dengan mistik kepada satu cara
berpikir yang rasional.
11. ASIA bergabung (gabungan ASLIA) (1943)
Hanya selesai separuh menurut Harry A. Poeze.
12. Poitik (1945)
  
25
Berisi
tentang
percakapan
antara Godam
(simbolisasi kaum buruh),
Pacul
(Petani)
Toke (Pedagang) Den Mas (Ningrat) dan Mr.Apal (Ningrat).
13. Rencana Ekonomi (1945)
Berisi simbolisasi yang sama dengan politik, mengurai tentang rencan ekonomi.
14. Moeslihat (1945)
Berisi tentang simbolisasi
yang sama dengan politik dan ekonomi,
mengurai
taktik
dalam perjuangan membawa Indonesia kearah kemerdekaan.
15. Manifesto PARI (Manifesto Jakarta) (1945)
Berisi
tentang
penolakan
pendirian
Republik
Indonesia
yang
kapitalis
dan
membatalkan semua upaya dari luar negeri untuk menjajah kembali Indonesia.
16. Thesis (1946)
Berisi
tentang
ajarannya
mengenai
pembentukan
negara
sosialistis.
Uraina
tentang
perjuangan mencapai kemerdekaan 100 persen.
17. Dari Pendjara ke Pendjara (1946-1947)
Otobiografi Tan Malaka yang ditulisnya semasa di penjara.
18. Koehandel di Kaliung (1948)
  
26
Berisi tentang penolakan terhadap perjuangan diplomasi yang dilakukan pemerintah
pada saat itu.
19. Surat Kepada Partai Rakyat (1948)
Ditulis sebagai
sambutan
tertulis
partai
rakayat
yang
memperhatikan
dan
memperjuangkan rakyat MURBA.
20. Proklamasi 17-8-1945, isi dan Pelaksanaanya
Berisi 
tentang 
penolakan 
perundingan 
yang  dilakukan 
Indonesia  saat 
itu  dan
persiapan perang kemerdekaan dalam menghadapi agresi militer Belanda.
21. Uraian Mendadak
Berisi tentang
reorganisasi partai dan uraian
untuk
tetap
mempertahankan Republik
Proklamasi 17 Agustus 1945
22. GERPOLEK (Gerilya Politik Ekonomi) (1948)
Berisi tentang
ajarannya
dalam
melakukan
gerilya
politik
maupun
ekonomi. Uraina
cara bergerilya dalam poltik dengan strategi militer, maupun dengan penguatan ekonomi
dengan merebut seluruh kekuasaan milik asing. Keduanya menjadi satu dan saling
menguatkan.
  
27
2.3.3 Pandangan politik Tan Malaka
Safrizal
Rambe
dalam
bukunya Pemikiran
Politik
Tan
Malaka,
Kajian
terhadap
perjuangan “Sang Kiri Nasionalis”
menjabarkan bahwa Tan Malaka adalah seorang
revolusioner,
radikal
dan
seorang
kiri
yang nasionalis. Dia
tidak pernah
terlihat
menginginkan
perjuangan
kelas
yang
mengambi
posisi
penting
dalam pemikiran
Marxisme yang diterpakan secara mentah-mentah di Indonesia. Ia tidak memperlakukan
Marxisme
sebagai
dogma
yang
kaku.
Dalam
Tradisi
politik,
kiri diartikan sebagai
kelompok
paling
ekstrim
yang
anti
kemapanan,
anti status
quo,
anti
penindasan
dan
cenderung
radikal
dalam
gerak-gerakannya berupaya
mengubah
struktur
masyarakat
secara fundamental, dan kanan diidentikan dengan orang-orang yang konservatif,
reaksioner, berusaha mempertahankan kondisi sekarang dengan acuan masa lalu. Dalam
masa
perjuangan
di
Indonesia
posisi
politik kiri
berarti
anti
penindasan,
dan
anti
imperialisme,
dan
dalam konteks
Indonesia,
sebenarnya
nasionalisme
itu
kiri,
namun
belakangan kiri diidentikan dengan pengikut Marx. Walaupun sebenarnya kiri tidak harus
didominasi oleh kelompok Marxis, sikap kiri ini juga bisa lahir dari Agama, yang juga
bersifat membawa kebebasan dari ketertindasan. Istilah kiri dan kanan bermula dari
pengaturan
tempat duduk
dalam parlemen
revolusi Prancis
1789.
Tempat
duduk
yang
berbentuk tapal kuda menempatkan posisi para tiap-tiap golongan,
sebelah kiri para
penentang
raja,
dan
kanan
para
pendukung
raja.
Dalam hal
ini
Safrizal
Rambe
menjelaskaan tokoh-tokoh kiri di Indonesia antara lain Bung Karno, Tan Malaka, Bung
Hatta, Sjahrir, Tjokroaminoto, Agus salim, Natsir dan lain-lain. Safrizal Rambe juga
menuturkan bahwa aspek nasionalis dari Tan Malaka selama
ini kurang diekspose atau
dieksplorasi.
  
28
2.3.4 Perlakuan Pemerintah terhadap Tan Malaka dan hal-hal yang ke-kiri-an
Pada  28  Maret  1963  melalui  Kepres  No. 53 Tahun 1963  Tan  Malaka  diangkat
menjadi
Pahlawan
Nasional
oleh
Soekarno melalui
ketetapan
pemerintah.
Namun,
pemerintah Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun di Indonesia dengan segala
kekuasaannya, sangat anti terhadap hal-hal yang berbau ke”kiri”an. Salah satunya dengan
mengeluarkan Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 Mengenai Pelarangan
Penyebaran ajaran
Komunisme-Marxisme/Leninisme,
serta
pernyaataan
PKI
sebagai
organsiasi   terlarang.   Dengan   keputusan   ketetapan   ini   dengan   berbagai   macam
propaganda
lainnya
yang
menggambarkan
bahwa
komunis
adalah
orang
kejam
yang
tidak beradab berhasil
membuat ketakutan di masyrakat akan
hal-hal yang ke “kiri”an,
serta membuat para tokoh-tokoh seperti Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer dan tokoh-
tokoh  lainnya  yang  identik  dengan  pandangan  yang  ke-“kiri”-an  seakan  hilang  dari
sejarah Indonesia.
Hal
ini juga diakui Harry A. Poeze seorang peneliti
Tan Malaka,
ia
mengatakan nama Tan Malaka dicoret dari sejarah sama sekali. Tan Malaka sendiri pada
masa  orde  baru  kerap  kali  dihubungkan  dengan  PKI  walaupun  dalam  perjalanan
hidupnya
Tan
Malaka
sendiri
akhirnya berseberangan
dengan
PKI.
Buku-buku
Tan
Malaka
sangat
sulit
untuk
didapatkan
di masa
orde
baru,
dan
diskusi-diskusi
yang
membahas  tentang  dirinya  dilakukan  secara  diam-diam.  Pada  era  reformasi,  barulah
buku-buku Tan Malaka mulai dapat ditemukan, dan diskusi-diskusi tentang dirinya dapat
lebih terbuka, Pakar Sejarah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Aswi Warman
Adam juga mengatakan bahwa nama Tan Malaka harus di rehabilitasi. Walaupun begitu
opera Tan Malaka yang pernah dipentaskan di teater Salihara, sempat dilarang tayang di
  
29
stasiun  TV  swasta  Kediri.  Di  masa  pemerintahan  Gus  Dur  di  era  reformasi  sempat
tercetus ide untuk menghapuskan ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966, namun hal
ini
menimbulkan kontroversi di
masyarakat karena banyak
yang
menolak
terutama dari
kalangan ormas-ormas Islam, yang pada akhirnya pencabutan ini dibatalkan.
2.3.5 Animasi Dokumenter
Film animasi dokumenter pertama kali dikenalkan oleh Windsor Mckay dalam
film
The Sinking of Lusitania
(1918) dimana
ia menggunakan animasi untuk menampilkan
peristiwa tenggelamnya kapal RMS Lusitania karena terkena serangan torpedo. Dimana
tidak ada rekaman nyata dari kejadian
ini.
Contoh
lain dari film Animasi Dokumenter
adalah Abductees
(2005)
karya
Paul
Vester,
film ini
menampilkan
wawancara
dengan
beberapa 
orang 
yang 
mengaku 
pernah 
diculik 
oleh 
makhluk 
luar 
angkasa, 
dari
wawancara tersebut pengalam mereka ditampilkan kembali dalam bentuk animasi. Selain
itu
ada
juga Waltz
With Bashir (2008)
yang
masuk
dalam nominasi
Academy
Awards
sebagai
Best Foreign Languages
Film
menceritakan
tentang
perang
Libanon
di
tahun
1982
dibuat
dalam bentuk
animasi
sepenuhnya.
Dari
hal
tersebut,
kita
dapat
melihat
penggunaan 
animasi 
dalam  mewujudkan 
suatu 
kejadian 
yang 
tidak 
mungkin
diwujudukan lagi atau suatu kejadian yang tidak pernah terekam atau terdokumentasikan
ke dalam sebuah film, selain itu yang menjadi kekuataan animasi adalah fungsinya untuk
menghibur
walaupun
tema
yang
diangkat
ke dalam film animasi
dokumenter
tersebut
adalah tema yang berat, dengan animasi juga dapat memudahkan penyampaina data-data
atau  informasi  penting  yang  harus  disampaikan  dalam  sebuah  dokumenter.    Dalam
  
30
konteks tugas akhir ini, penulis menggunakan
animasi
untuk
menggambarkan
kembali
beberapa hal yang pernah terjadi dengan menggunakan animasi sebagai media untuk
menyampaikan
tema
yang
diangkat
ke
dalam sebuah
film.
Karena
dengan
media
film
animasi dokumenter permasalahan yang diangkat penulis bisa lebih menarik dan lebih
mudah untuk dipaparkan dalam penyampaiannya.
2.4 Target Audiens
2.4.1 Target Primer
Berusia sekitar 17-25 tahun, laki-laki atau perempuan, tinggal di Jakarta atau kota
besar lainnya, memiliki pengetahuan dan pendidikan minimal SMA atau Perguruan
Tinggi, memiliki ketertarikan di bidang sejarah, ilmu pengetahuan, film, animasi, komik.
Tingkat kemampuan ekonomi menengah hingga atas.
2.5       Analisa Kasus
2.5.1 Faktor Pendukung dan Penghambat
2.5.1.1 Faktor Pendukung
1.   Masih  jarangnya  serial  animasi  di  Indonesia  yang  mengangkat  cerita  dari  tokoh
sejarah atau pahlawan.
2.   Animasi  kini  banyak  diminati  masyarakat  sehingga  membuat  film  animasi  dapat
menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk masyarakat Indonesia.
  
31
3. 
Menjadi
salah
satu pilihan tontonan
alternatif
sebagai
hiburan
sekaligus
membuka
wawasan tentang sejarah, terutama tentang kisah hidup Tan Malaka yang sebelumnya
tidak banyak diungkap.
4.   Medium  Animasi  dapat  merekonstruksi  kembali  kejadian-kejadian  sejarah  yang
pernah terjadi.
2.5.1.2  Faktor Penghambat :
1.   Masih banyak masyarakat yang kurang tertarik untuk mengetahui sejarah atau kisah
para pahlawan bangsa.
2.   Tema yang akan diangkat masih dianggap beberapa pihak sebagai tema yang sensitif.
3.
Sejarah tentang Tan Malaka memiliki berbagai macam versi.
4.   Karena keterbatasan waktu sehingga tidak semua detail perjalanan hidup Tan Malaka
dapat disampaikan.
2.5.1.3 Analisa Biografi Tan Malaka dan Penetepan-penetapannnya
Melihat dari sumber-sumber yang menjadi dasar penulis dalam membuat
dokumenter animasi
ini. Maka akan dibuat dokumenter Animasi
Biografi
Tan
Malaka
yang meliputi profil-pribadinya, organisasi/institusi yang pernah diikutinya, prestasi dan
kontribusinya, karya-karya pentingnya, serta tokoh-tokoh penting yang berkaitan
dengannya. Dimana hal-hal tersebut berhubungan dengan sisi nasionalisme perjuangan
Tan Malaka terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia.