3
BAB II
DATA & ANALISA
2.1 Sumber Data
Data-data dan literatur berikut di dapat dari berbagai macam media, baik buku, internet,
wawancara dan video referensi.
2.1.1
Literatur Buku
1.
”Dongeng Klasik Si Tudung Merah (Little Red Riding Hood) 
  Karya Endar W.
2.
“Dongeng Animasi Si Tudung Merah” PT BHUANA ILMU POPULER.
3.
“Membuat Komik” SCOTT MCLOUD.
2.1.2 Literatur Artikel
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
2.1.3 Wawancara
1.
Keluarga dari Sumatra barat, keluarga Sofyan Hasan (yang tinggal di jakarta).
2.
Wawancara pendek tokoh dan Sutradara Theater Jose Rizal Manua yang  juga
berasal dari sumatra barat mengenai penceritaan Si Tudung Merah 
bermuatan
lokal ke dalam media animasi khususnya Motion Comic.
3.
Wawancara Dengan Casting Director “Negeri Lima Menara”(film yang bersetting
di pinggir danau maninjau di awal scene) Shakti Harimurti tentang pengkarakteran
dan visual dari karakter yang berasal dari Sumatera.
  
4
4.
Survey Mengenai Motion Comic.
2.2 Ruang Lingkup Cerita
2.2.1 Definisi Dongeng
Dongeng adalah suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata,
menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan
cara berinteraksi dengan makhluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan
imajinasi
dari pemikiran seseorang yang kemudian diceritakan secara turun-temurun  .
(
)
2.2.2 Latar Belakang Cerita (Charles Perrault)
Charles Perrault (lahir di Paris, Perancis, 12 Januari1628 – meninggal di Paris, Perancis,
pada umur 75 tahun) adalah seorang penulisdongeng
dan teori sastra, serta
pengarang puisi asal Perancis. Karier sastranya dimulai ketika Charles menulis puisi dan ayat
menyindir berjudul The Burlesque Aeneid (1948) ketika dia sedang mempelajari ilmu hukum.
Beberapa karyanya yang dikenal di seluruh dunia adalah Kisah Si Kerudung Merah, Putri Tidur
(Sleeping beauty), Kucing dalam Sepatu Bot (Puss in boots), Cinderella, Tiga Permintaan, Kulit
(Donkey-skin), dan lain-lain. Pada tahun 1661, Charles Perrault pernah bekerja pada
pemerintahan monarki absolut
Perancis yang dipimpin oleh Louis XIV
karena ketika itu, raja
lebih memilih kalangan biasa dibandingkan kaum aristokrasi untuk melayani publik. Beberapa
dongeng Charles telah diceritakan kembali dengan versi yang berbeda oleh Grimm bersaudara.
Namun, cerita asli yang ditulis Charles lebih kontras dengan versi dongeng Grimm bersaudara,
contohnya cerita Si kerudung merah yang tidak selamat di akhir cerita dan Putri Tidur yang
menikah dengan pangeran namun ternyata putri tersebut adalah raksasa
atau gergasi (ogre).
(
)
2.2.3  Tokoh Dalam Cerita
1.
Si Tudung Merah, Gadis Kecil kira-kira berumur 5-7 Tahun. Baik dan periang.
2.
Ibu Si Tudung Merah, Ibu yang menitipkan Rantang berisi makanan untuk nenek
kepada Si Tudung Merah.
3.
Nenek Si Tudung Merah, Nenek yang sakit dan hendak di jenguk oleh Si Tudung
Merah.
  
5
4.
Harimau jahat, Harimau yang terlepas dari cagar alam yang hendak ingin memakan
Si Tudung Merah setelah memakan nenek Si Tudung Merah.
5.
Pemburu babi hutan, Pemburu yang sedang berpatroli mencari harimau yang lepas.
2.2.4  Latar Belakang Kebudayaan
Menurut Edward B.Taylor, dalam koentjaraningrat kebudayaan merupakan keseluruhan
yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaaan, kesenian, moral,
hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat. Sedangkan definisi lain menyebutkan bahwa kebudayaan adalah semua,
seperangkat sistem gagasan, tindakan, hasil atau benda-benda manusia yang diperoleh dengan
cara belajar dalam rangka hidup bermasyarakat dan dimiliki oleh manusia. Kebudayaan :
1.
Gagasan atau ide, norma, nilai, aturan (apa yang dibenak manusia)
2.
Tindakan atau perilaku manusia
3.
Benda-benda kebudayaan ( hal yang paling mudah berubah diantara kedua wuhud
kebudayaan lainya)
Dari berbagai definisi tentang kebudayaan tersebut maka dapat diperoleh pengertian
kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem gagasan atau ide yang terdapat
dalam pikiran manusia. Sedangkan perwujudan budaya itu sendiri
diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk berbudaya, berupa norma-norma, perilaku, bahasa, moral, peralatan hidup,
benda-benda kebudayaan, religi, dan segala sesuatu untuk membantu melangsungkan kehidupan
yang bermasyarakat.
Kehidupan bermasyarakat menciptakan suatu kebudayaan kolektif, yang kemudian
tersebar dan diwariskan secara turun temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara
tradisional dalam versi yang berbeda baik secara lisan maupun disertai gerak isyarat maupun
alat bantu pengingat. Hal itu kemudian disebut juga sebagai folklor. Menurut Jan Harold
Brunvand, dalam James Danandjaja (1984:21) seorang ahli folklor dari AS, Folklor dibagi
dalam tiga bentuk, yaitu folklor lisan, sebagian lisan dan bukan lisan.
Folklor lisan adalah folklor yang memang bentuknya lisan, folklor sebagian lisan adalah
folklor yang merupakan campuran folklor lisan dan bukan lisan, sedangkan folklor bukan lisan
adalah folklor yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembuatanya diajarkan secara lisan.
  
6
Salah satu contoh Folklor lisan adalah cerita prosa rakyat. Menurut William R. Bascom,
yang dipetik oleh Danandjaja, Cerita prosa rakyat dibagi dalam tiga golongan besar, yaitu mite,
legenda, dan dongeng. Mite adalah prosa rakyat yang dianggap pernah terjadi dan dianggap suci
oleh yang empunya, legenda hampir sama pengertianya dengan mite, kejadiannya dianggap
pernah terjadi namun tidak dianggap suci.
Sedangkan dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi dan
tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Dongeng merupakan cerita pendek kolektif kesustraan
lisan. Dongeng diceritakan untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran,
berisikan pelajaran (moral) atau bahkan sindiran.
Anti Aarne dan Smith Thompson dalam James Danandjaja membagi jenis-jenis
dongeng ke dalam empat golongan besar yaitu:
1.
Dongeng Binatang (animal tales)
Dongeng binatang adalah dongeng yang ditokohi oleh binatang peliharaan dan
binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata (reptilia), ikan
dan serangga. Binatang-binatang ini dalam cerita jenis ini dapat berbicara dan
berakal budi seperti manusia.
2.
Dongeng Biasa (ordinary tales)
Dongeng biasa adalah jenis dongeng yang ditokohi manusia dan biasanya adalah
kisah suka duka seorang. Dongeng biasa banyak mempunyai kesamaan cerita
maupun tema tidak hanya di indonesia namun juga di luar negeri. Misalnya
Cinderella
dengan dongeng Ande-ande Lumut, dan kisah Bawang Merah dan
Bawang Putih, Oedipus dengan Sangkuriang, dan Watu Gunung.
2.3   Sumatra Barat
Sumatera Barat
adalah salah satu provinsi
yang terletak di pesisir barat
pulau Sumatera dengan ibu kota Padang. Sumatera Barat berbatasan langsung dengan Samudra
Hindia di sebelah barat, provinsi Jambi dan provinsi Bengkulu di sebelah selatan, provinsi Riau
di sebelah timur, dan provinsi Sumatera Utara
di sebelah utara. Berdasarkan data dari Badan
Pusat Statistik, Sumatera Barat merupakan salah satu dari sebelas provinsi di Indonesia yang
paling sering dikunjungi oleh para wisatawan.
Provinsi yang identik dengan kampung halaman Minangkabau
ini memiliki luas
42.297,30 km2
, terdiri dari 12 kabupaten
dan 7 kota
dengan jumlah penduduk lebih dari
4.800.000 jiwa, serta memiliki 391 pulau
yang 191 diantaranya belum bernama. Sementara
  
7
pembagian wilayah administratif sesudah kecamatan
di seluruh kabupaten (kecuali kabupaten
Kepulauan Mentawai) adalah bernama nagari—sebelumnya tahun 1979
diganti dengan nama
desa, namun sejak 2001 dikembalikan pada nama semula.Pada 30 September2009, gempa bumi
dengan kekuatan 7,6 Skala Richter
mengguncang beberapa kabupaten
dan kota
di Sumatera
Barat, kemudian pada 26 Oktober2010
2.3.1
Sejarah
Kawasan Sumatera Barat pada masa lalu merupakan bagian dari Kerajaan Pagaruyung.
Namun wilayah Sumatera Barat saat ini tidak mencerminkan keseluruhan luas dari wilayah
Kerajaan pagaruyung. Hal ini tidak terlepas dari penguasaan penjajah yang telah memecah
wilayah Pagaruyung hingga menyisakan sebatas wilayah Provinsi Sumatera Barat yang dikenal
saat ini.
Bermula dari pemerintahan kolonial Inggris di Sumatera pada tahun 1811 yang memilih
pusat pemerintahannya di Bengkulu. Wilayah Pagaruyung saat itu dimasukkan dalam wilayah
pesisir Barat (West Coast region). Sebuah wilayah yang membentang dari bagian Selatan
Lampung sampai ke Singkil di bagian pesisir Barat Aceh. Gubernur Jenderal Raffles
membentuk kesatuan wilayah ini setelah melihat fakta rangkaian mata rantai sebaran etnis
Minang pesisir yang tidak terputus di sepanjang pesisir Barat Sumatera pada masa itu. Setelah
penyerahan wilayah Sumatera kepada Kerajaan Belanda
pasca rekapitulasi Napoleon
di Eropa,
Inggris hanya menyisakan wilayah Bengkulu
sebagai basisnya di Sumatera yang berakses ke
Samudera Hindia. Dalam hal ini penentuan batas Bengkulu dilakukan sepihak oleh Inggris
dengan memasukkan wilayah Minangkabau Mukomuko dalam administrasi Bengkulu. Setelah
penyerahan Bengkulu kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda
tahun 1824, wilayah
Mukomuko tetap dipertahankan dalam administratif Bengkulu.
Kedatangan Belanda ke wilayah Sumatera Barat pasca penyerahan dari Inggris,
bersamaan dengan saat terjadinya Perang Padri yang mengoyak bumi Pagaruyung. Perang yang
sejatinya bermula dari konflik internal masyarakat Minangkabau sejak tahun 1803, berubah
menjadi perang besar setelah Belanda melibatkan diri dalam konflik tersebut pada tahun 1821.
Belanda yang berniat menguasai daerah Pagaruyung, memihak dan membantu golongan adat
dan bangsawan yang berperang melawan golongan Ulama Pembaharuan (Paderi). Perang
diakhiri dengan kekalahan pihak
pejuang Paderi pada tahun 1837 dan benteng terakhir kaum
  
8
ditaklukkan. Setelah perjanjian yang dibuat oleh pemuka Adat
serta kerabat Yang Dipertuan Pagaruyung, dan berakhirnya Perang Padri, kawasan ini menjadi
dalam pengawasan Belanda
Selanjutnya dalam perkembangan administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda
pasca Perang Paderi, daerah ini tergabung dalam Gouvernement Sumatra's Westkust. Dalam hal
ini meliputi wilayah Pagaruyung ditambah wilayah Residentie Bengkulu yang baru diserahkan
Inggris kepada Belanda. Selanjutnya wilayah Gouvernement Sumatra's Westkust diperluas oleh
pemerintahan kolonial Hindia Belanda hingga juga mencakup daerah Tapanuli, dan Singkil. Hal
ini mendapat protes keras dari tokoh adat Minangkabau yang tidak menyetujui dimasukkannya
wilayah pedalaman Tapanuli yang bersuku Batak ke dalamGouvernement Sumatra's Westkust,
kecuali sepanjang daerah pesisir yang beretnis Minang. Kemudian pada tahun 1905
wilayah
Tapanuli ditingkatkan statusnya menjadi Residentie Tapanuli. Sedangkan wilayah Singkil
diberikan kepada Residentie Atjeh. Wilayah Bengkulu kembali menjadi sebuah wilayah
Residentie Bengkulu.
Wilayah Minangkabau menyisakan Residentie Padangsche Benedenlanden
dan
Residentie Padangsche Bovenlanden. Dalam hal ini minus Mukomuko dan daerah pesisir dari
Natal hingga Singkil yang beretnis Minang pesisir. Namun saat dilakukan pelepasan wilayah
Residentie Tapanuli
tersebut, oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dilepaskan pula
beberapa wilayah Minangkabau pedalaman yaitu : wilayah Rokan Hulu
dan wilayah Kuantan
Singingi yang diberikan kepada Residentie Riouw yang baru dibentuk saat itu pasca pemecahan
Gouvernement Sumatra's Oostkust. Wilayah Kerinci diserahkan kepada Residentie Djambi yang
juga baru dibentuk pada periode yang hampir bersamaan.
Kemudian di tahun 1914, Gouvernement Sumatra's Westkust, diturunkan statusnya
menjadi Residentie Sumatra's Westkust. Pemerintahan kolonial Hindia Belanda
menambahkan
wilayah Kepulauan Mentawai di Samudera Hindia yang beretnis non Minangkabau ke dalam
Residentie Sumatra's Westkust. Selanjutnya pada tahun 1935
wilayah Kerinci
digabungkan ke
dalam Residentie Sumatra's Westkust
Pada masa pendudukan tentara Jepang Residentie Sumatra's Westkust berubah nama
menjadi Sumatora Nishi Kaigan Shu. Atas dasar geostrategis militer, daerah Kampar
/
dikeluarkan dari Sumatora Nishi Kaigan Shu
dan dimasukkan ke dalam
wilayah Rhio Shu.
  
9
di tahun 1945, wilayah Sumatera Barat tergabung
dalam provinsi Sumatera
yang berpusat di Bukittinggi. Pada tahun 1949, Provinsi Sumatera
kemudian dipecah menjadi tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera
Selatan. Sumatera Barat beserta Riau dan Jambi
merupakan bagian dari keresidenan di dalam
Pasca kekalahan PRRI di Sumatera, berdasarkan Undang-undang
darurat nomor 19
tahun 1957, oleh Pemerintah Pusat, Provinsi Sumatera Tengah kemudian dipecah lagi menjadi 3
memperoleh bagian wilayah yang paling kecil diantara ketiga provinsi baru ini, karena
beberapa wilayah bersuku Minang dilepaskan dari induk rumpunnya.
Wilayah Kerinci yang sebelumnya tergabung dalam Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci,
residensi
Sumatera Barat, digabungkan ke dalam Provinsi Jambi
sebagai kabupaten tersendiri.
Begitu pula wilayah Kampar, Rokan Hulu, dan Kuantan Singingi yang bersuku, berbudaya, dan
berbahasa Minang semuanya ditetapkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau. Pada awalnya
ibu kota provinsi Sumatera Barat yang baru ini adalah masih tetap di kota Bukittinggi.
Kemudian ibukota dipindahkan ke kota Padang berdasarkan SK. Gubernur Sumatera Barat No.
1/g/PD/1958, tanggal 29 Mai 1958 secara de facto menetapkan kota Padang menjadi ibukota
2.3.2
Geografi
Sumatera Barat terletak di pesisir barat bagian tengah pulau Sumatera, memiliki dataran
rendah di pantai barat, serta dataran tinggi vulkanik yang dibentuk oleh Bukit Barisan. Garis
pantai provinsi ini seluruhnya bersentuhan dengan Samudera Hindia
sepanjang 375 km.
Kepulauan Mentawai yang terletak di Samudera Hindia dan beberapa puluh kilometer dari lepas
pantai Sumatera Barat termasuk dalam provinsi ini.
Sumatera Barat memiliki beberapa danau, di antaranya adalah danau Singkarak
yang
membentang di kabupaten Solok
dengan luas 130,1 km², danau
dengan luas 99,5 km², dan danau Kembar di kabupaten Solok
yakni danau Diatas dengan luas 31,5 km², dan danau Dibawah dengan luas 14,0 km² .
Beberapa sungai besar di pulau Sumatera
berhulu di provinsi ini, di antaranya adalah
(disebut sebagai Batang Kuantan
di bagian
  
10
hulunya), sungai Kampar, dan Batang Hari. Semua sungai ini bermuara di pantai timur
Sumatera, di provinsi Riau dan Jambi. Sementara sungai-sungai yang bermuara di provinsi ini
berjarak pendek, di antaranya adalah Batang Anai, Batang Arau, dan Batang Tarusan.
Sumatera Barat memiliki 29 gunung yang tersebar di 7 kabupaten dan kota. Beberapa di
antaranya adalah gunung Talamau
yang merupakan gunung
tertinggi di provinsi ini dengan ketinggian 2.913 meter, gunung Marapi
dengan ketinggian 2.891 m, gunung Sago
dengan ketinggian
di kabupaten Agam dengan ketinggian 2.877 m, gunung Tandikat
di kabupaten Padang Pariaman dengan ketinggian 2.438 m, gunung Talang
dengan ketinggian 2.572 m, dan gunung Pasaman
di kabupaten Pasaman Barat dengan
ketinggian 2.190 m.
2.3.3
Keanekaragaman Hayati
Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber
keanekaragaman hayati. Sebagian
besar wilayahnya masih merupakan hutan tropis alami dan
dilindungi. Berbagai spesies langka masih dapat dijumpai, misalnya Rafflesia arnoldii
(bunga
terbesar di dunia), harimau sumatera, siamang, tapir, rusa, beruang, dan berbagai jenis burung
dan kupu-kupu.
Terdapat dua Taman Nasional di provinsi ini, yaitu Taman Nasional Siberut
yang
terdapat di pulau Siberut (Kabupaten Kepulauan Mentawai) dan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Taman nasional terakhir ini wilayahnya membentang di empat provinsi: Sumatera Barat, Jambi,
Selain kedua Taman Nasional tersebut terdapat juga beberapa cagar alam lainnya, yaitu
Cagar Alam Rimbo Panti, Cagar Alam Lembah Anai, Cagar Alam Batang Palupuh, Cagar Alam
Air Putih di daerah Kelok Sembilan, Cagar Alam Lembah Harau, Cagar Alam Beringin Sakti
2.3.3.1   Harimau Sumatra
Harimau Sumatra
(Panthera tigris sumatrae) hanya
ditemukan di Pulau Sumatra
di Indonesia, merupakan
  
11
satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan
termasuk
dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah
spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan
antara 400-500 ekor, terutama hidup di Taman-taman nasional di Sumatra. Uji genetik mutakhir
telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini
mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari. Penghancuran habitat
adalah ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di
taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara 1998 dan
2000.
1.
Ciri-ciri
Harimau Sumatra adalah subspesies
harimau terkecil. Harimau Sumatra mempunyai
warna paling gelap di antara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar
dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Harimau Sumatra jantan memiliki panjang rata-rata 92
inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300
pound atau sekitar 140kg, sedangkan tinggi dari jantan dewasa dapat mencapai 60cm. Betinanya
rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198cm dan berat 200 pound atau sekitar 91kg.
Belang
Harimau Sumatra lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Warna kulit Harimau
Sumatra merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-
merahan hingga oranye tua. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai
dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya
menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu
berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang
buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika
melahirkan.
2.
Habitat
Harimau Sumatra hanya ditemukan di pulau Sumatra. Kucing besar ini mampu hidup di
manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat
yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan
sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang
  
12
250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia. Harimau Sumatra mengalami
ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah,
lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian
dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan.
Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah
yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat
memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.
3.
Makanan
Makanan Harimau Sumatra tergantung tempat tinggalnya dan seberapa berlimpah
mangsanya. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mepertahankan populasi
mangsa liar yang ada dibawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan
yang mereka makan dapat terjaga. Mereka memiliki indera pendengaran dan
penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien.
Harimau Sumatra merupakan hewan soliter, dan mereka berburu di malam hari, mengintai
mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Mereka memakan
apapun yang dapat ditangkap, umumnya celeng dan rusa, dan kadang-kadang unggas atau ikan.
Orangutan juga dapat jadi mangsa, mereka jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah, dan
karena itu jarang ditangkap harimau.
4.
Reproduksi
Harimau Sumatra dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari.
Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6
ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun anak harimau di kebun
binatang ada yang tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu
induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun
mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang
pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian
pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri. Harimau
Sumatra dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan.Menurut
penduduk setempat Harimau Sumatra juga gemar makan durian. Harimau Sumatra juga mampu
berenang dan memanjat pohon ketika memburu mangsa. Luas kawasan perburuan Harimau
Sumatra tidak diketahui dengan tepat, tetapi diperkirakan bahwa 4-5 ekor Harimau Sumatra
  
13
dewasa memerlukan kawasan jelajah seluas 100 kilometer di kawasan dataran rendah dengan  
jumlah hewan buruan yang optimal (tidak diburu oleh manusia).
(
2.3.3.2  Rafflesia arnoldii
Padma raksasa
(Rafflesia arnoldii) merupakan
obligat yang terkenal karena memiliki
berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga
terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan
merambat (liana) Tetrastigma
dan tidak memiliki daun
sehingga tidak mampu berfotosintesis. Penamaan bunga
raksasa ini tidak terlepas oleh sejarah penemuannya
pertama kali pada tahun 1818 di hutan tropis Bengkulu
(Sumatera) di suatu tempat dekat Sungai Manna, Lubuk
Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan, sehingga Bengkulu
dikenal di dunia sebagai The Land of Rafflesia atau Bumi
Rafflesia. Seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph
Arnold yang menemukan bunga raksasa ini pertama kali. Dr. Joseph Arnold sendiri saat itu
tengah mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. Jadi penamaan bunga
Rafflesia arnoldii didasarkan dari gabungan nama Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpin
ekspedisi dan Dr. Joseph Arnold sebagai penemu bunga. Tumbuhan ini endemik
Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional
Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini. Jenis ini, bersama-sama dengan
anggota genus Rafflesia
yang lainnya, terancam statusnya akibat penggundulan hutan yang
dahsyat. Di Pulau Jawa tumbuh hanya satu jenis patma parasit, Rafflesia patma.
Bunga merupakan parasit tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Diameter
bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram. Bunga
menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inang Tetrastigma. Satu-satunya bagian
yang bisa disebut sebagai "tanaman" adalah jaringan yang tumbuh di tumbuhan merambat
Tetrastigma. Bunga mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat
seperti mulut gentong. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri, berisi benang
atau putik
bergantung pada jenis kelamin bunga, jantan atau betina. Hewan penyerbuk
adalah lalat
yang tertarik dengan bau busuk yang dikeluarkan bunga. Bunga hanya berumur
  
14
sekitar satu minggu (5-7 hari) dan setelah itu layu dan mati. Persentase pembuahan sangat kecil,
karena bunga jantan dan bunga betina sangat jarang bisa mekar bersamaan dalam satu minggu,
itu pun kalau ada lalat yang datang membuahi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Patma_raksasa)
2.3.4
Kependudukan
(Suku bangsa) Mayoritas penduduk Sumatera Barat merupakan suku Minangkabau. Di
daerah Pasaman selain suku Minang berdiam pula suku Batak
Mentawai terdapat di Kepulauan Mentawai. Di beberapa kota di Sumatera Barat terutama kota
terdapat etnis Tionghoa, Tamil
dan di beberapa daerah transmigrasi
dan lainnya) terdapat pula suku Jawa.
Sebagian diantaranya adalah keturunan imigran berdarah Jawa dari Suriname
yang memilih
kembali ke Indonesia pada masa akhir tahun 1950an. Oleh Presiden Soekarno
saat itu
diputuskan mereka ditempatkan di sekitar daerah Sitiung. Hal ini juga tidak lepas dari aspek
politik pemerintah pusat pasca rekapitulasi PRRI
yang juga baru
dibentuk saat itu.Selain itu juga terdapat beragam suku nusantara lainnya yang masuk pasca
kemerdekaan sebagai perantau dan pekerja di berbagai bidang.
2.3.5
Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam keseharian ialah bahasa daerah yaitu Bahasa
Minangkabau yang memiliki beberapa dialek, seperti dialek Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek
Pesisir Selatan, dan dialek Payakumbuh. Di daerah Pasaman
yang
berbatasan dengan Sumatera Utara, dituturkan juga Bahasa Batak
dialek
Mandailing. Sementara itu di daerah kepulauan Mentawai.
2.3.6
Musik
(Saluang) Nuansa Minangkabau yang ada di dalam setiap musik Sumatera Barat yang
dicampur dengan jenis musik apapun saat ini pasti akan terlihat dari setiap karya lagu yang
beredar di masyarat. Hal ini karena musik Minang bisa diracik dengan aliran musik jenis apapun
sehingga enak didengar dan bisa diterima oleh masyarakat. Unsur musik pemberi nuansa terdiri
dari instrumen alat musik tradisional saluang, bansi, talempong, rabab, dan gandang tabuik.Ada
pula saluang jo dendang, yakni penyampaian dendang (cerita berlagu) yang diiringi saluang
yang dikenal juga dengan nama sijobang.Musik Minangkabau berupa instrumentalia dan lagu-
  
15
lagu dari daerah ini pada umumnya bersifat melankolis. Hal ini berkaitan erat dengan struktur
masyarakatnya yang memiliki rasa persaudaraan, hubungan kekeluargaan dan kecintaan akan
kampung halaman yang tinggi ditunjang dengan kebiasaan pergi merantau.Industri musik di
Sumatera Barat semakin berkembang dengan munculnya seniman-seniman Minang yang bisa
membaurkan musik modern ke dalam musik tradisional Minangkabau. Perkembangan musik
Minang modern di Sumatera Barat sudah dimulai sejak tahun 1950-an ditandai dengan lahirnya
adalah penyanyi daerah Sumatera
Barat yang terkenal di era 1970-an hingga saat ini.
Perusahaan-perusahaan rekaman di Sumatera Barat antara lain: Tanama Record, Planet
Saat ini para penyanyi, pencipta lagu, dan penata musik di Sumatera Barat bernaung
dibawah organisasi PAPPRI
(Persatuan Artis Penyanyi Pencipta lagu Penata musik Rekaman
Indonesia) dan PARMI (Persatuan Artis Minang Indonesia).
2.3.7
Rumah Adat
Rumah adat Sumatera Barat khususnya dari
etnis Minangkabau disebut Rumah Gadang. Rumah
Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah
milik keluarga induk dalam suku/kaum tersebut
secara turun temurun. Tidak jauh dari komplek
rumah gadang tersebut biasanya juga dibangun
sebuah surau
kaum yang berfungsi sebagai tempat
ibadah dan tempat tinggal lelaki dewasa kaum
tersebut namun belum menikah.
Rumah Gadang ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua
bahagian muka dan belakang, umumnya berbahan kayu, dan sepintas kelihatan seperti berbentuk
rumah panggung dengan atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau, masyarakat setempat
menyebutnya Gonjong dan dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan atap seng.
Rumah Bagonjongini menurut masyarakat setempat diilhami dari tambo, yang mengisahkan
kedatangan nenek moyang mereka dengan kapal
dari laut. Ciri khas lain rumah adat ini adalah
  
16
tidak memakai paku besi tapi menggunakan pasak dari kayu, namun cukup kuat sebagai
pengikat. 
Sementara etnis Mentawai juga memiliki rumah adat yang berbentuk rumah panggung
besar dengan tinggi lantai dari tanah mencapai satu meter yang disebut dengan uma. Uma
ini
dihuni oleh secara bersama oleh lima sampai sepuluh keluarga. Secara umum konstruksi uma ini
dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu serta sistem sambungan silang
bertakik.
2.4  Sinopsis Little Red Riding Hood (Charles Perrault)
Tudung Merah sebutanya, Gadis kecil yang selalu mengenakan kerudung merah.Ia
diminta ibunya mengunjungi nenek yang sakit. Ibunya berpesan supaya ia tidak berhenti dijalan.
Tapi, Tudung Merah tidak mengingat dan mengabaikan pesan ibunya. Akhirnya ia bertemu
dengan serigala yang jahat. Serigala itu bertanya hendak kemana Si Tudung Merah. Si Tudung
Merah menjawab bahwa ia hendak mengunjungi neneknya di ujung hutan. Akhirnya Serigala
jahat mengelabui dengan menunjukan taman bunga-bunga di hutan. Serigala itupun berhasil
mengelabui Si Tudung Merah, dan segera berlari kerumah nenek Si Tudung Merah. Akibatnya
ia terlambat tiba dirumah Nenek
karena keasyikan mengumpulkan bunga. Neneknya telah
ditelan si Serigala lalu si Serigala menyamar menjadi Sang Nenek. Sesampainya dirumah nenek
si tudung merah mencurigai wajah nenek yang berbeda, akhirnya karena sudah tidak tahan, Si
Tudung Merah
hendak dilahapnya juga.
Si Tudung Merah
pun bereriak.
Untunglah seorang
pemburu
mendengar teriakan Si Tudung Merah dan
berhasil membunuh si Serigala dan
mengeluarkan Nenek dari perutnya. Pada akhirnya Tudung Merah berkumpul kembali bersama
ibu dan neneknya.
2.4.1  Sinopsis Si Tudung Merah Versi Penulis
Ia Dipanggil si tudung merah.Gadis kecil yang selalu mengenakan kerudung merah
pemberian ibunya adalah anak yang riang dan polos .Ia diminta ibunya mengunjungi nenek yang
sakit dan memberikan rantang berisi Makanan. Ibunya berpesan supaya ia tidak bermain dalam
perjalanan dan segera pulang. Tapi, Tudung Merah tidak mengingat dan mengabaikan pesan
ibunya. Akhirnya di perjalanan menyusuri hutan di bukit maninjau ia bertemu dengan harimau
yang jahat. Harimau ini terlepas dari taman suaka dan sedang mencari mangsa. Melihat Tudung
merah yang terlihat lezat dan polos lalu harimau itu bertanya hendak kemana Si Tudung Merah.
Si Tudung Merah menjawab bahwa ia hendak mengunjungi neneknya di balik bukit menyusuri
hutan. Akhirnya Harimau mengelabui Di Tudung Merah dengan menunjukan Bunga reflesia di
  
17
hutan. Harimau itupun berhasil mengelabui Si Tudung Merah, dan segera berlari kerumah nenek
Si Tudung Merah. Akibatnya ia terlambat tiba dirumah Nenek karena Tersesat dihutan setelah di
tinggal Harimau itu. Neneknya telah ditelan si Harimau lalu si Harimau
menyamar menjadi
Sang Nenek. Sesampainya dirumah nenek si tudung merah mencurigai wajah nenek yang
berbeda, akhirnya karena sudah tidak tahan, Si Tudung Merah hendak dilahapnya juga. Si
Tudung Merah pun bereriak. Untunglah seorang pemburu
babi hutan yang sedang berpatro;i
dengan anjingnya mendengar teriakan Si Tudung Merah dan berhasil menembak si Harimau dan
melumpuhkanya yang membuat harimau berteriak kesakitan dan
mengeluarkan Nenek dari
perutnya. Pada akhirnya Tudung Merah selamat dan harimau itu di kembalikan ke penangkaran.
2.5
Target Audiens
Penulis membagi target audiens menjadi dua:
2.5.1  Target primer
Anak-anak umur 5-10  tahun. Menyukai dongeng, cerita bergambar, kaya imajinasi.
2.5.2  Target Sekunder
Laki-laki atau perempuan berusia 10-25
tahun, SD sampai Mahasiswa atau perguruan
tinggi. Menyukai drama, Cerita bergambar, Komik, Animasi, game
dan Tingkat ekonomi
menengah ke atas.
2.6
Analisa kasus
2.6.1
Faktor Pendukung Dan penghambat
2.6.1.1
Faktor Pendukung
1.
Memperkenalkan karakter
Si Tudung Merah yang di sebagian masyarakat kurang
familiar.
2.
Belum ada yang membuat cerita Si Tudung merah dalam Versi Indonesia.
3.
Sebagai hiburan untuk ditonton, menambah satu dari beberapa versi Si Tudung
Merah yang pernah dibuat di Indonesia maupun Eropa.
2.6.1.2
Faktor Penghambat
1.
CeritaSi Tudung Merah. Kurang familiar di telinga masyarakat.
  
18
2.
Perbedaan ending cerita menurut Charles Perrault dan Grimm bersaudara membuat
makin banyaknya perbedaan plot dan ending cerita.
3.
Kurangnya ketertarikan masyarakat menonton dongeng klasik yang di buat ulang.