3
BAB 2
DATA DAN ANALISA
2.1     Sumber Data
Data dan informasi yang digunakan dalam tugas akhir ini diperoleh dengan
menggunakan dua metode yaitu:
Metode Kualitatif
1.Wawancara dengan Narasumber
2.Observasi
3.Buku-buku literatur
4.Artikel-artikel di Internet
5.Dokumen-dokumen Terkait
Metode Kuantitatif
1.Survey yang akan dilakukan terhadap 100 responden
2.1.1  Hasil Wawancara dengan Narasumber
Demi mendapatkan data yang akurat secara langsung dari penjaja jamu
gendong, penulis melakukan riset dan wawancara secara langsung dengan Mbok
Yatmi, pedagang jamu gendong yang telah berjualan jamu gendong selama puluhan
tahun. 
1. Sudah berapa lama Anda berjualan jamu gendong?
     Apabila terhitung dari saya mulai menginjakan kaki di Jakarta, berarti saya
telah berjualan jamu gendong lebih dari 20 tahun.
2. Dalam sehari, Anda dapat menjual berapa botol jamu?
     Biasanya di pagi hari, 8 botol jamu saya terisi penuh dan sekitar jam 7 atau
jam 8 sudah habis. Lalu saya akan mulai membuat lagi untuk berjualan sore
hari dengan jumlah botol yang sama. Semuanya habis hari itu juga. 
3. Apa khasiat dan kegunaan jamu?
   Sangat banyak. Jamu ini bila diminum setiap hari dapat mencegah penyakit
dan memperkuat daya tahan tubuh. Jaman sekarang orang lebih memilih
minum obat-obatan kimia, padahal jamu jauh lebih efektif karena semua
bahan-bahannya alami dan berasal dari tanah.
4.  Adakah efek samping dari mengkonsumsi jamu?
     Selama pengalaman saya berjualan saya tidak pernah mendengar kalau
jamu tradisional memiliki efek samping, karena saya membuatnya dengan
prosedur dan tata cara yang benar dan sebelum membuat jamu.
  
4
5. Bagaimana minat orang-orang terhadap jamu sekarang ini?
Beberapa tahun terakhir ini sangat menurun. Yang membeli pun kebanyakan
pelanggan-pelanggan yang
sudah terbiasa meminum jamu saya, yang remaja dan
anak-anak sangat jarang yang suka.
2.1.2  Observasi Pembuatan Jamu
     
 
        Gambar 2.1
   
Gambar 2.2
  
5
    
Gambar
2.3
    
Gambar
2.4
2.1.3  Refrensi Buku Literatur
2.1.3.1 Refrensi  Literatur: “1001 Khasiat & Manfaat Jamu Godog”
Buku kesehatan yang berjudul “1001 Khasiat & Manfaat Jamu Godog”
ditulis oleh Faisal M. Sakri dan diterbitkan oleh penerbit Diandra Pustaka
Indonesia. Buku ini berisi tentang informasi lengkap mengenai jamu, terutama
mengenai khasiat dari jamu, bahan-bahan dasar jamu dan juga resep-resep
pembuatan jamu godog yang baik dan benar.
2.1.3.2 Refrensi  Literatur: “Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong”
  
6
Ditulis oleh Dra. Suharmiati, MSi. Apt
dan diterbitkan oleh
Penerbit
Agromedia. Jamu gendong merupakan salah satu obat tradisional yang banyak
diminati masyarakat karena harganya yang terjangkau dan mudah diperoleh.
Usaha jamu gendong pun terus berkembang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat. Karena itu, sebenarnya jamu gendong sangat potensial untuk
dikembangkan sebagai sebuah usaha atau dikonsumsi sendiri. Lewat buku ini
pembaca bisa mengetahui resep dan cara membuat jamu gendong yang praktis
dan bisa diaplikasikan, baik untuk konsumsi sendiri maupun diperdagangkan.
2.1.4  Refrensi Artikel Internet
Situs internet yang berisi artikel-artikel dan pembahasan secara lengkap
tentang budaya tradisional Indonesia. Termasuk di dalamnya ada beberapa
artikel terkait dengan jamu di Indonesia yang membahas sejarah hingga efek
samping dan efek yang menguntungkan bagi konsumen jamu.
Warisan budaya ini telah menjadi aset nasional, dan terus berkembang dengan
menyediakan produk jamu yang berkualitas tinggi, mengutamakan mutu dan
kebersihan serta efektivitas untuk memenuhi kebutuhan rakyat. 
Situs internet yang terasosiasi dengan koran Kompas. Bagian kesehatan ini
berisikan artikel-artikel sehubungan dengan kesehatan dan kedokteran.
Seringkali artikel ini membahas pengobatan alternatif dan ramuan tradisional.
Situs internet yang banyak berisi artikel-artikel termasuk artikel kesehatan
yang membahas jamu dan ramuan herbal tradisional lainnya.
2.1.5  Referensi Dokumen Terkait
2.1.5.1 Jamu as Traditional Medicine in Java, Indonesia from South
Pacific Study Vol. 23, No. 1, 2002
Ditulis oleh Soedarsono Ridwan dan Harini Sangat-Roemantyo.
Membahas tentang sejarah lengkap jamu di Indonesia dan pembagian
spesies dari tanaman obat yang ada di Indonesia.
2.1.5.2  Jamu: The Indonesian Traditional Herbal Medicine
Artikel ini berisi lengkap tentang tanaman herbal Indonesia. Bahkan
di dalam artikel ini terdapat data-data mengenai industri-industri jamu
di Indonesia berserta dengan tanaman-tanaman yang digunakan dalam
tiap-tiap varian jamunya.
  
7
2.1.6  Survey Online
Penulis melakukan survei dengan membagikan kuesioner kepada 100
responden yang dilakukan melalui surveymonkey.com dengan ragam usia mulai dari
18 hingga 30 tahun ke atas untuk mengetahui minat masyarakat terhadap minuman
jamu serta pengetahuan umum yang mereka miliki mengenai jamu gendong. 
1)
51 orang (51%) responden adalah pria dan 49 orang (49%) sisanya
adalah wanita,
2)
Dari 100 responden, 78 responden (78%) berusia 25-30 tahun. 13
orang (13%) berusia 18-25 tahun, 6 responden (6%) berusia 26-30
tahun dan 3 responden (3%) berusia di atas 30 tahun,
3)
Dari 100 responden, 80 responden (80%) merupakan mahasiswa.
12 orang (12%) karyawan, dan 8 responden (8%) merupakan
wiraswastawan,
4)
Dari 100 responden, 53 responden (53%) membaca 1-2 buku setiap
bulan. 17 orang (17%) 3-4 buku, 12 responden (12%) membaca lebih
dari 5 buku dan 18 responden (18%) tidak pernah membaca buku,
5)
Dari 100 responden, 78 responden (78%) pernah meminum jamu,
6)
Dari 100 responden, 78 responden (78%) pernah mendengar
tentang jamu gendong,
7)
Dari 100 responden, 90 responden (90%) berpendapat bahwa
meminum jamu berkhasiat bagi tubuh.
Essay: 
Meskipun 78% responden mengatakan bahwa mereka pernah mendengar
tentang jamu gendong, namun banyak yang tidak bisa mendeskripsikan
dan menyebutkan jenis-jenis jamu gendong.
Hampir semua responden mengatakan bahwa industri jamu gendong
mulai memudar di kalangan masyarakat karena tertutup dengan
hadirnya multivitamin modern dan jamu bubuk lain yang lebih praktis,
Banyak yang antusias dan menyambut baik dibuatnya buku visual tentang
jamu gendong ini. Mereka berpendapat buku ini dapat menjadi coffee
table book
yang baik apabila dibuat dengan visual dan desain yang
diolah secara menarik.
2.2 
Data Proyek
Sekilas Tentang Jamu
Asal Mula Jamu
Penggunaan tanaman sebagai obat-obatan telah berlangsung sejak ribuan tahun
yang lalu. Ahli-ahli kesehatan di zaman Mesir Kuno membuat resep-resep
pengobatan berbagai penyakit yang berdasar pada khasiat tanaman obat sebagaimana
tercatat dalam Papyrus Ehers.
Di Indonesia, pemanfaatan tanaman sebagai obat-obatan juga telah
berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Tetapi penggunaannya belum
  
8
terdokumentasikan dengan baik. Pada pertengahan abad ke-17, seorang ahli botani,
yaitu Jacobus Rontius (1592-1631), mencatatkan khasiat tumbuh-tumbuhan dalam
bukunya, De Indiae Untriusquere Naturali et Medica.
Leluhur bangsa Indonesia sudah menggunakan resep pengobatan yang terbuat
dari daun, akar, dan umbi-umbian untuk mendapatkan kesehatan dan meyembuhkan
berbagai penyakit. Racikan ini juga digunakan untuk perawatan kecantikan wajah
dan tubuh. Campuran tanaman obat tradisional ini dikenal dengan istilah jamu.
Sejarah Jamu Gendong
Kata jamu berasal dari kata jampi (dalam krama Jawa kuno). Jampi berarti
ramuan ajaib. Jampi-jampi berarti mantera oleh dukun, sedangkan kata menjampi
berarti menyembuhkan dengan magis/mantera. Artinya saat dukun membuat jamu,
dia harus berdoa meminta restu dari Tuhan (Tilaar, 2010). Pada masa pemerintahan
kerajaan di Jawa Tengah, dari kerajaan Mataram yang selanjutnya pecah menjadi
Keraton Ngayogjokarto dan Surokarto, penyelenggaraan pelayanan kesehatan tidak
dilakukan sampai pelosok desa. Hal ini disebabkan sistem transportasi belum maju
seperti saat ini. Pusat kesehatan milik kerajaan yang disebut Dinas Kesehatan
Kerajaan berkedudukan di ibukota kerajaan. Rumah sakit untuk pengobatan modern
yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda juga berada di ibukota. Hal
ini mendorong masyarakat untuk berupaya mengatasi masalah kesehatannya sendiri
dengan memanfaatkan potensi yang ada. Praktik-praktik pengobatan yang dilakukan
oleh “orang pintar”, dukun atau wiku sebagian besar menggunakan ramuan (jamu),
sebagian menggunakan ilmu kebatinan dan ada yang menggabungkan kedua cara
tersebut. Orang pintar itulah yang pertama kali membuat ramuan dari tumbuh-
tumbuhan. Pembuatan ramuan itu biasanya berdasarkan wangsit atau wahyu.
Meskipun demikian ada pula yang berdasarkan ketajaman daya nalarnya untuk
mengenal tumbuhan (Suharmiati, 2003). 
Bahan Baku
Asem Jawa
Asem jawa (Tamarinus indica) merupakan sebuah kultivar daerah tropis dan
termasuk tumbuhan berbuah polong. Ia berasal dari Afrika dan biasa ditanam sebagai
pohon perindang. Pohonnya bisa mencapai ketinggian 25 m. Nama lain dari asem
jawa adalah bakme
(Aceh), acamlagi
(Gayo), asam jawa, kayu asam cumalagi
(Minangkabau), celangi, tangkal asem
(Sunda), acem
(Madura), asang jawi
(Gorontalo), camba (Makasar), cempa (Bugis), dan asam jawa (Kalimantan).
Brotowali
Brotowali (Tinospora crispa L.) adalah tumbuhan liar di hutan dan ladang.
Namun ia juga biasa ditanam di dekat pagar di halaman rumah sebagai tanaman obat.
Ia menyukai tempat yang panas, termasuk perdu. Batangnya bisa mencapai
ketinggian 2,5 m.
Delima Putih
Delima putih (Punica granatum Linn.) merupakan tumbuhan liar di hutan dan
ditanam orang di halaman rumah sebagai tanaman hiasan atau buah-buahan.
Daunnya berbentuk taji. Batangnya bulat panjang seperti pipa. Sedangkan bunganya
berwarna putih.
  
9
Kulit buah delima mengandung zat samak dan zat lendir. Abunya mengandung
boorzuur (acidum boricum), sedangkan kulit akarnya mengandung berbagai macam
alkaloida yang berkhasiat mengobati radang gusi, disentri, mencret, keputihan, serta
menghilangkan bau yang kurang sedap.
Cengkeh
Cengkeh (Eugenia aromatica) banyak ditanam di kebun, dekat pantai, dan
pegunungan. Tingginya bisa mencapai 18 m atau lebih. Umurnya dapat mencapai
ratusan tahun. Daun cengkeh berbentuk lonjong, tebal, berujung lancip, dan agak
mengkilat. Panjang daunnya kira-kira 10 cm dan lebarnya 3 cm.
Bunga cengkeh berkelopak daun empat, bergerombol di ujung-ujung ranting,
dan berwarna coklat tua. Kuncup bunganya biasanya diambil dan dijemur sampai
coklat kehitaman. Baunya harum pedas.
Selain kuntum bunganya, daunnya juga dipakai dalam pengobatan. Daun dan
kuncup bunganya mengandung minyak terbang (eugenol, asetileugenol, kariofilen,
furfurol, metil-amilketon, vanilin), kariofilin, gom, serat, dan zat semak serta
berkhasiat menghangatkan, menghilangkan rasa sakit setempat, membantu
mengeluarkan angin, mengharumkan, anti-bakteri, menghilangkan kejang perut,
mengobati sakit gigi, bau mulut, mual, nyeri haid, batuk rejan, demam akibat malaria,
menghitamkan alis, dan mengobati masuk angin.
Jahe
Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah tumbuhan yang berasal dari India dan
China, tapi kini ditemukan juga di wilayah tropis dan sub-tropis. Ia dapat ditanam di
daerah yang beriklim panas, juga di tanah yang gembur, kering dan, subur.
Jahe mempunyai
batang yang tegak, berakar serabut, dan berumbi dengan
rimpang mendatar. Tumbuhan semak berbatang semu ini tingginya adalah 30 cm
hingga 1 m.
Rimpang jahe yang berkulit agak tebal membungkus daging umbi yang
berserat dan berwarna coklat serta beraroma khas. Bentuk daunnya bulat panjang dan
tidak lebar. Ia juga berdaun tunggal dan berbentuk lanset dengan panjang 15-28 mm.
Kapulaga
Kapulaga (Elettaria cardamomum) berasal dan hidup di hutan tropis di India
Selatan dan Srilanka. Di Indonesia, ia ditemukan tumbuh liar dan ditanam di wilayah
perbukitan di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Kapulaga adalah tanaman yang berumbi akar dengan tinggi 2-3 m. Daunnya
lonjong berujung runcing dengan panjang sekitar 30 cm dan lebar 10 cm. Bunganya
simetris dua sisi, berwarna
kemerah-merahan dan terbagi menjadi tiga bagian. Dari
sana akan dihasilkan buah kotak berwarna putih yang harum sehingga bisa
digunakan sebagai obat maupun bumbu. 
Kapulaga dapat digunakan sebagai obat gosok untuk encok dan obat demam. Ia
juga bisa mengobati kesulitan bernapas, mulut berbau, batuk, gatal di tenggorokan,
mengencerkan dahak, memudahkan pengeluaran angin dari perut, membersihkan
darah, menghilangkan rasa sakit, radang amandel, perut kembung, mual, bau mulut,
perut mulas karena kedinginan, dan keringat berbau.
Kencur
Kencur (Kaemferia galanga L.) banyak ditanam orang di pekarangan sebagai
  
10
tanaman hias. Nama lain dari kencur adalah cikur
(Sunda), ceuko
(Aceh), kencor
(Madura), cekun (Bali), sekung (Minahasa), asauli, sauleh, soul, umpa (Ambon) dan
cekir (Sumba). Ia merupakan tanaman yang tumbuh subur di daerah dataran rendah
atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air.
Kencur adalah salah satu jenis tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-
temuan (Zingiberaceae) karena rimpang atau rizhoma tanaman ini mengandung
minyak atsiri dan alkaloid yang bermanfaat sebagai stimulan. Kandungan minyak
atsirinya berupa sineol, asam metil kanil, pentadekaan, asam sinamat, etil ester,
borneol, kamphene, paraeumarin, asam anisat, alkaloid, dan gom.
Pinang
Pinang atau jambe (Areca catechu) umumnya ditanam di pekarangan rumah, di
taman-taman atau dibudidayakan, dan kadang-kadang tumbuh liar di tepi sungai
serta tempat-tempat lain. Buah pinang oleh para peracik jamu dikenal dengan nama
simplisia Arecae fructus.
Pohon pinang berbatang langsing, tumbuh tegak, tinggi 10-30 m, diameter 15-
20 cm, dan tidak bercabang dengan bekas daun yang lepas. Biji pinang mengandung
0,3-0,6 persen alkaloid, seperti Arekolin, arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine,
dan isoguvasine. Ia juga mengandung red tanin 15 persen, lemak 14 persen (palmitic,
oleic, strearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji, dan resin. Biji pinang
segar mengandung kira-kira 50 persen lebih banyak alkaloid dibanding
biji yang
telah diproses.
Sirih
Sirih (Piper betle L.) adalah tanaman dari suku Piperaceae yang dapat
merambat hingga mencapai ketinggian 15 m. Cukup dengan menggunakan stek dan
diberi air, tanaman ini bisa tumbuh baik di tempat panas maupun di tempat yang
terlindung. Adapun jenis-jenis sirih antara lain sirih jawa (daun lebih lembut, kurang
tajam, hijau rumput), sirih belanda (daun besar, hijau tuam rasa dan bau tajam dan
pedas), sirih cengkeh (kecil, daun kuning, rasa seperti cengkeh), sirih kuning, dan
sirih hitam. Batang sirih berwarna coklat kehijauan, berbentuk bulat, beruas dan
merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung,
berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang
sedap bila diremas.
Tata Cara Meracik dan Mengolah
Alat-alat
Pada umumnya, peralatan yang digunakan oleh penjual jamu gendong untuk
meracik jamunya tidaklah rumit. Kebanyakan hanya menggunakan alat-alat dapur
biasa seperti wajan, panci, saringan, kompor, layah dan ulekan, pisau, wadah baskom,
sendok, dan botol-botol penampung jamu yang sudah diracik.
Kompor
Kompor adalah alat masak yang menghasilkan panas tinggi. Istilah ini sering
diartikan ruang tertutup di mana bahan bakar dibakar untuk memberikan pemanasan,
baik untuk memanaskan ruangan di mana kompor itu berada ataupun untuk
memanaskan kompor itu sendiri, dan barang-barang yang diletakkan di atasnya.
  
11
Panci
Panci adalah alat masak
yang terbuat dari
logam (alumunium, baja, dll) dan
berbentuk silinder atau mengecil pada bagian bawahnya. Panci bisa memiliki gagang
tunggal atau dua "telinga" pada kedua sisinya dan biasanya digunakan untuk
memasak air, sayur berkuah, dll. Ukuran panci biasanya dinyatakan dengan
volumenya (biasanya antara 1-8 liter).
Saringan
Penyaringan atau saringan adalah alat dapur yang berfungsi menyaring atau
meniriskan bahan jamu yang sudah ditumbuk dan dihaluskan untuk dipisahkan
antara sari dan ampasnya.
Layah dan Ulekan
Untuk menghaluskan bahan baku jamu. Meski dapat digantikan dengan
blender atau parutan yang lebih praktis, namun bahan yang dihaluskan secara manual
dengan ulekan akan lebih terasa dan keluar sari-sarinya.
Botol
Botol adalah tempat penyimpanan dengan bagian leher yang lebih sempit dari pada
badan dan "mulut"-nya. Botol umumnya terbuat dari gelas, plastik, ataualuminium,
dan digunakan untuk menyimpan cairan seperti
air,
,
anggur, obat, sabun cair, tinta, dll. Botol dari plastik biasanya dibuat secara ekstrusi.
Langkah-langkah Pengolahan
Ada dua cara dalam membuat jamu gendong. Pertama dengan merebus semua
bahan. Kedua dengan memeras sari yang ada kemudian mencampurnya dengan air
matang. Untuk jamu jenis pahitan, sinom, dan cabe puyang, cara yang digunakan
untuk mengolahnya adalah dengan cara merebus semua bahan jamu dengan air.
Sedangkan untuk jamu seperti beras kencur, kunir asam, kunci suruh, kudu laos, dan
gepyokan, cara yang digunakan adalah ditumbuk halus terlebih dahulu, baru
kemudian disaring untuk diambil sarinya dan dicampurkan dengan air matang.
Jenis-jenis Jamu yang Dijajakan Oleh Penjual Jamu Gendong
Jenis jamu gendong yang biasa dijual oleh penjual jamu gendong sangat
bervariasi. Hal tersebut tergantung dari kebiasaan yang mereka pelajari dari
pengalaman tentang jamu yang diminati dan pesanan yang diminta konsumen. Jenis-
jenis jamu ini mudah dibuat sendiri di rumah. 
Dalam pembuatan jamu gendong, tampaknya tidak ada perbedaan bahan baku
pokok untuk setiap jenis jamu. Hal ini dapat terjadi mungkin karena pengetahuan
resep jamu gendong yang mereka peroleh dari sumber yang berasal dari satu daerah
yang sama. Cara perolehan pengetahuan dengan cara magang di pembuat jamu, yaitu
dengan melihat atau membantu pekerjaan mereka membuat komposisi resep. Resep
  
12
yang dibuat tidak sama antar pembuat jamu. Ketidaksamaan dimungkinkan karena
cara mereka membuat jamu tanpa takaran standar, hanya dengan perkiraan sehingga
terjadi perbedaan dalam setiap pembuatan jamu. Di samping itu, kadar kandungan
zat berkhasiat yang berbeda-beda untuk setiap kali pembelian bahan baku akan
mempengaruhi pula hasil olahan jamu.
Dalam penggunaan bahan baku sebagai bahan pokok tampaknya sesuai dengan
khasiat yang dikenal. Seperti: kudu laos menggunakan buah kudu yang mempunyai
khasiat sebagai penurun tekanan darah tinggi, beras kencur memberikan tambahan
vitamin B dan kencur yang bermanfaat sebagai analgesik. Bahan-bahan yang
digunakan berkhasiat antara lain untuk memperbaiki pencernaan makanan sehingga
meningkatkan nafsu makan (temulawak, kunyit) serta menghilangkan nyeri dan
pegal (jahe, kencur,puyang). Sedangkan daun-daunan yang digunakan seperti katuk,
bermanfaat untuk meningkatkan air susu ibu. Manfaat dari tanaman obat tersebut
memang dibutuhkan oleh ibu yang menyusui, yang biasanya dalam keadaan cukup
letih dan lelah karena harus mengasuh bayinya. 
Beberapa jenis jamu yang dimaksud di antaranya beras kencur, cabe puyang,
kudu laos, kunci siruh, uyup- uyup atau gepyokan, kunir asam, pahitan dan sinom.  
1. Jamu Beras Kencur
Jamu beras kencur dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu
yang dapat menghilangkan pegal-pegal pada tubuh. Dengan membiasakan
minum jamu beras kencur, tubuh akan terhindar dari pegal-pegal dan linu
yang biasa timbul bila bekerja terlalu payah. Selain itu, banyak pula yang
berpendapat bahwa jamu beras kencur dapat merangsang nafsu makan,
sehingga selera makan meningkat dan tubuh menjadi lebih sehat.
Dalam pembuatan jamu beras kencur, terdapat beberapa variasi bahan yang
digunakan, namun terdapat dua bahan dasar pokok yang selalu dipakai, yaitu
beras dan kencur. Kedua bahan ini sesuai dengan nama jamu, dan jamu ini
selalu ada meskipun komposisinya tidak selalu sama di antara penjual jamu.
Bahan-bahan lain yang biasa dicampurkan ke dalam racikan jamu beras
kencur adalah biji kedawung, rimpang jahe, biji kapulogo, buah asam, kunci,
kayu keningar, kunir, jeruk nipis, dan buah pala. Sebagai pemanis digunakan
gula merah dicampur gula putih dan seringkali mereka juga mencampurkan
gula buatan.
Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda, yaitu direbus dan
dibiarkan sampai dingin, kemudian disediakan sesuai kebutuhan. Mula-mula
beras disangan, selanjutnya ditumbuk sampai halus. Bahan-bahan lain sesuai
dengan komposisi racikan ditumbuk menggunakan lumpang dan alu besi atau
batu. Kedua bahan ini kemudian dicampur, diperas, dan disaring dengan
saringan atau diperas melalui kain pembungkus bahan. Sari perasan bahan
dicampurkan ke dalam air matang yang sudah tersedia, diaduk rata.
Selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol.
  
13
2. Jamu Kunir Asam
Jamu Kunir asam dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu
'adem-ademan atau seger-segeran' yang dapat diartikan sebagai jamu untuk
menyegarkan tubuh atau dapat membuat tubuh menjadi dingin. Ada pula
yang mengatakan bermanfaat untuk menghindarkan dari panas dalam atau
sariawan, serta membuat perut menjadi dingin. Seorang penjual jamu
mengatakan bahwa jamu jenis ini baik dikonsumsi oleh ibu yang sedang
hamil muda dan dapat menyuburkan kandungan. Ada pula penjual jamu yang
menganjurkan minum jamu kunir asam untuk melancarkan haid.
Penggunaan bahan baku jamu kunir asam pada umumnya tidak jauh berbeda
di antara pembuat. Perbedaan terlihat pada komposisi bahan penyusunnya.
Jamu dibuat dengan bahan utama buah asam ditambah kunir/kunyit, namun
beberapa pembuatnya ada yang mencampur dengan sinom (daun asam
muda), temulawak, biji kedawung, dan air perasan buah jeruk nipis. Sebagai
pemanis digunakan gula merah dicampur gula putih dan seringkali mereka
juga mencampurkan gula buatan, serta dibubuhkan sedikit garam.
Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda antar penjual jamu, yaitu
direbus sampai mendidih dan jumlahnya sesuai kebutuhan. Bahan-bahan
sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk secara kasar menggunakan
lumpang dan alu besi atau batu atau diiris tipis-tipis (kunyit), dimasukkan ke
dalam air mendidih dan direbus sampai mendidih beberapa saat. Selanjutnya,
ditambahkan gula (atau pemanis buatan) sampai diperoleh rasa manis sesuai
selera (dicicipi). Rebusan yang diperoleh dibiarkan sampai agak dingin,
kemudian disaring dengan saringan. Rebusan yang sudah disaring dibiarkan
dalam panci dan selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol dan siap untuk
dijajakan.
3. Jamu Sinom
Manfaat, bahan penyusun, serta cara pembuatan jamu sinom tidak banyak
berbeda dengan jamu kunir asam. Perbedaan hanya terletak pada tambahan
bahan sinom. Bahkan, beberapa penjual tidak menambahkan sinom, tetapi
dengan cara mengencerkan jamu kunir asam dengan mengurangi jumlah
bahan baku yang selanjutnya ditambahkan gula secukupnya.
4. Jamu Cabe Puyang
Jamu cabe puyang dikatakan oleh sebagian besar penjual jamu sebagai jamu
'pegal linu'. Artinya, untuk menghilangkan cikalen, pegal, dan linu-linu di
tubuh, terutama pegal-pegal di pinggang. Namun, ada pula yang mengatakan
untuk menghilangkan dan menghindarkan kesemutan, menghilangkan
keluhan badan panas dingin atau demam. Seorang penjual mengatakan
minuman ini baik diminum oleh ibu yang sedang hamil tua.
  
14
Bahan dasar jamu cabe puyang adalah cabe jamu dan puyang. Tambahan
bahan baku lain dalam jamu cabe puyang sangat bervariasi, baik jenis
maupun jumlahnya. Bahan lain yang ditambahkan antara lain temu ireng,
temulawak, jahe, kudu, adas, pulosari, kunir, merica, kedawung, keningar,
buah asam, dan kunci. Sebagai pemanis digunakan gula merah dicampur gula
putih dan kadangkala mereka juga mencampurkan gula buatan serta
dibubuhkan sedikit garam.
Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda, yaitu pertama-tama air
direbus sampai mendidih dan dibiarkan sehingga dingin, jumlahnya sesuai
dengan kebutuhan. Bahan-bahan sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk
menggunakan lumpang dan alu besi atau batu. Seluruh bahan ini kemudian
diperas melalui saringan ke dalam air matang yang sudah tersedia.
Selanjutnya, ramuan yang diperoleh diaduk rata kemudian dimasukkan ke
dalam botol-botol.
5. Jamu Pahitan
Jamu pahitan dimanfaatkan untuk berbagai masalah kesehatan. Penjual jamu
memberikan jawaban yang bervariasi tentang manfaat jamu ini, namun
utamanya adalah untuk gatal-gatal dan kencing manis. Penjual yang lain
mengatakan manfaatnya untuk 'cuci darah', kurang nafsu makan,
menghilangkan bau badan, menurunkan kolesterol, perut kembung/sebah,
jerawat, pegal, dan pusing.
Khusus untuk jamu pahitan, ternyata tidak semua pembuat jamu mampu
meracik sendiri bahan-bahannya. Enam orang mengatakan membeli racikan
jamu pahitan dan pada umumnya dibeli di tempat asalnya, yaitu dari peracik
jamu di Solo. Bahan baku dasar dari jamu pahitan adalah sambiloto. Racikan
pahitan sangat bervariasi, ada yang hanya terdiri dari sambiloto, tetapi ada
pula yang menambahkan bahan-bahan lain yang rasanya juga pahit seperti
brotowali, widoro laut, doro putih, dan babakan pule. Ada pula yang
mencampurkan bahan lain seperti adas dan atau empon-empon (bahan
rimpang yang dipergunakan dalam bumbu masakan).
Pembuatan jamu pahitan adalah dengan merebus semua bahan ke dalam air
sampai air rebusan menjadi tersisa sekitar separuhnya. Cara ini dimaksudkan
agar semua zat berkhasiat yang terkandung dalam bahan dapat larut ke dalam
air rebusan. Sebagai hasil akhirnya, diperoleh rebusan dengan rasa sangat
pahit.
Khusus jamu pahitan, tidak diberikan gula atau bahan pemanis lain.
Sebagai penawar rasa pahit, konsumen minum jamu gendong lain yang
mempunyai rasa manis dan segar seperti sinom atau kunir asam.
6. Jamu Kunci Suruh
Jamu kunci suruh dimanfaatkan oleh wanita, terutama ibu-ibu untuk
mengobati keluhan keputihan (fluor albus). Sedangkan manfaat lain yaitu
untuk merapatkan bagian intim wanita (vagina), menghilangkan bau badan,
mengecilkan rahim dan perut, serta dikatakan dapat menguatkan gigi.
  
15
Bahan baku jamu ini sesuai dengan namanya, yaitu rimpang kunci dan daun
sirih. Biasanya selalu ditambahkan buah asam yang masak. Beberapa penjual
jamu menambahkan bahan-bahan lain yang biasa digunakan dalam ramuan
jamu keputihan atau jamu sari rapat seperti buah delima, buah pinang, kunci
pepet, dan majakan. Dalam penelitian ini, ditemukan bahan lain yang
ditambahkan, yaitu jambe, manis jangan, kayu legi, beluntas, dan kencur.
Sebagai pemanis digunakan gula pasir, gula merah, dan dibubuhkan sedikit
garam.
Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda antar penjual jamu, yaitu
air direbus sampai mendidih sesuai dengan kebutuhan. Bahan-bahan sesuai
dengan komposisi racikan ditumbuk secara kasar menggunakan lumpang dan
alu besi atau batu atau diiris tipis-tipis (kunyit), diperas, disaring, dan
dimasukkan ke dalam air matang yang sudah didinginkan. Selanjutnya,
ditambahkan gula sesuai kebutuhan, sampai diperoleh rasa manis sesuai
selera dengan cara dicicipi. Ramuan selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-
botol dan siap untuk dijajakan.
7. Jamu Kudu Laos
Menurut sebagian besar penjual jamu, khasiat jamu kudu laos adalah untuk
menurunkan tekanan darah. Tetapi, ada pula yang mengatakan untuk
melancarkan peredaran darah, menghangatkan badan, membuat perut terasa
nyaman, menambah nafsu makan, melancarkan haid, dan menyegarkan
badan. Bahan baku jamu kudu laos adalah buah mengkudu masak ditambah
rimpang laos dan biasanya ditambahkan buah asam masak (asam kawak).
Sedangkan bahan tambahan lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah
merica, bawang putih, kedawung, jeruk nipis, bahkan ada yang
menambahkan tape singkong. Sebagai pemanis digunakan gula merah dan
gula putih, ditambahkan sedikit garam.
Cara pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda antar penjual jamu yaitu
pertama-tama air direbus sampai mendidih sejumlah sesuai kebutuhan.
Bahan-bahan sesuai dengan komposisi racikan ditumbuk secara kasar
menggunakan lumpang dan alu besi atau batu kemudian diperas dan disaring
dimasukkan ke dalam air matang yang sudah dingin. Selanjutnya
ditambahkan gula sampai diperoleh rasa manis sesuai selera (dicicipi).
Ramuan selanjutnya dimasukkan ke dalam botol-botol dan siap untuk
dijajakan.
8. Jamu Uyup-uyup/Gepyokan
Jamu uyup-uyup atau gepyokan adalah jamu yang digunakan untuk
meningkatkan produksi air susu ibu pada ibu yang sedang menyusui. Hanya
seorang penjual jamu yang mengatakan bahwa ada khasiat lain, yaitu untuk
menghilangkan bau badan yang kurang sedap, baik pada ibu maupun anak
dan 'mendinginkan' perut.
Bahan baku jamu uyup-uyup sangat bervariasi antar pembuat jamu, namun
pada umumnya selalu menggunakan bahan empon-empon yang terdiri dari
  
16
kencur, jahe, bangle, laos, kunir, temulawak, puyang, dan temugiring. Cara
pengolahan pada umumnya tidak jauh berbeda antar penjual jamu, yaitu
semua bahan dicuci bersih tanpa dikupas, selanjutnya empon-empon dirajang
(diiris tipis) ditambah bahan-bahan lain dan ditumbuk kasar, lalu diperas serta
disaring. Perasan dimasukkan ke dalam air matang yang sudah dingin. 
2.3
Data Mandatoris
Gambar 2.5
R&W Publishing didirikan di Jakarta pada tahun 2004. Nama R&W merupakan
kepanjangan dari Red and White
atau merah dan putih, yang merupakan warna
bendera nasional Indonesia.  Dengan nama tersebut, penerbit R&W Publishing
mengusung semangat untuk mempromosikan seni dan sejarah Indonesia kepada
khalayak internasional pada umumnya. Buku-buku cetakan R&W Publishing
juga
bertekad untuk menghasilkan buku dengan tema yang berkualitas diimbangi dengan
kualitas cetakan yang tinggi dan memiliki desain yang unik. 
 
R&W Publishing
memiliki target yaitu para pembaca dewasa muda ke atas.
Buku-buku yang sudah diterbitkan oleh R&W Publishing pun sangat beragam, mulai
dari buku desain, seni, fotografi, sosial politik, alam, budaya, musik, fashion, dan
lain-lain.  Contoh beberapa judul buku yang telah diterbitkan oleh R&W Publishing
antara lain yaitu 101 butterflies of Indonesias Lowland; After 10 Years: Friends Call
Us Unkle; A walk in The Clouds; Bisikan Alam; Energi Positif: 100 Opini tokoh
Indonesia Era Kepemimpinan SBY; Kamus Brand; Kopassus: Untuk Indonesia; Yuni
Jie: Contemporary Urban Living; dan lain-lain.
R&W Publishing
Jalan Merpati Raya no. 45 ?
Jakarta 18270 Indonesia ?
Tel +62 21 8306819 ?
Fax +62 21 8290612
2.4 
Data Target
a. Demografi
Gender
: Pria dan Wanita
Usia
: 1.  25 - 35 tahun 
  
  2.  di atas 35 tahun
  3.  18 - 24 tahun
Kewarganegaraan
: Indonesia
Pekerjaan
: Mahasiswa, Karyawan, Wiraswasta, Pemerhati budaya
Kelas sosial
: A - B
  
17
b. Geografi
Domisili
:  Wilayah perkotaan
Wilayah
:  Kota-kota besar di Indonesia, terutama DKI Jakarta dan 
   sekitarnya
c. Psikografi
Kepribadian
: Terbuka, aktif, penyuka hal-hal yang unik
Minat
: Membaca, budaya, hal-hal tradisional, memperhatikan 
  kesehatan, tertarik dengan jamu tradisional
2.5 
Kompetitor
 
Gambar 2.6
2.5.1  Obat-obatan dan Multivitamin Kimia Modern
Belakangan ini, banyak dijual makanan tambahan atau food suplemen dan
multivitamin. Bentuk dan jenisnya juga beragam. Ada yang berbentuk pil, cair, dan
tablet. Sedang fungsinya sangat beragam, sesuai zat penyusun di dalamnya.
Gambar 2.7
  
18
2.5.2  Jamu Modern yang Dibuat Lebih Praktis
Masyarakat modern sekarang banyak yang lebih memilih jamu berbentuk kapsul atau
kaplet karena menurut mereka jamu yang berbentuk kapsul dan kaplet lebih praktis,
dapat diminum kapan saja, serta lebih higienis.
2.6 S.W.O.T
Strenght (kekuatan)
Buku ini dilengkapi dengan sketsa visual serta desain cover yang unik dan
tidak biasa,
Konsep buku ini dirancang sangat tradisional dan sangat kental dengan
budaya jamu yang diwariskan turun-temurun.
Weakness (kelemahan)
  
Belum ada yang tertarik membuat buku yang membahas mengenai jamu
gendong secara lengkap,
  
Produsen jamu tradisional belum mencapai golongan atas, akibatnya
apresiasi masyarakat masa kini terhadap minuman jamu,
terutama jamu
gendong, menjadi rendah,
  
Keberadaan penjaja jamu gendong yang mulai pudar di masyarakat.
Opportunity (peluang)
  
Banyak munculnya anak-anak muda yang mulai mengapresiasi budaya dan
tradisi lokal,
  
Indonesia merupakan negara yang kaya akan rempah-rempah dan herbal
yang berguna untuk penyembuhan maupun pencegahan penyakit,
  
Masih sedikitnya buku yang membahas tentang jamu, buku-buku tentang
jamu yang beredar di pasaran pun masih kurang menarik bagi pembaca
karena tidak didukung dengan visual dan desain yang menarik,
  
Tingginya tingkat membaca konsumen (berdasarkan hasil suvei).
Threat (ancaman)
  
Anggapan negatif serta rumor-rumor yang berkembang di masyarakat bahwa
jamu itu berbahaya untuk kesehatan,
  
Masyarakat mempertanyakan tingkat kehigienisan dari jamu gendong,
  
Masyarakat lebih memilih sesuatu yang praktis seperti jamu bungkusan, 
vitamin, suplemen makanan, atau obat dokter.