Start Back Next End
  
2.1.4   Buku “Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia 
           jilid 10”
     
Buku ini ditulis oleh seorang
sejarahwan luar B.Hoetink yang
penulisannya secara langsung mengisahkan SBK dari sisi orang Belanda
yang saat itu hubungan mereka begitu dekat. Buku ini membantu penulis
mengetahui sisi emosional Belanda yang begitu kagum dan menyukai
karakter SBK dari kisah awal SBK di angkat menjadi Kapitan sampai
wafatnya SBK.
2.1.5   Buku “Sejarah Jakarta dari zaman prasejarah sampai Batavia”
Buku ini menceritakan awal sejarah Jakarta dari jaman prasejarah sampai
jaman Batavia. Meskipun penulis tidak banyak mendapatkan informasi
tentang SBK namun
beberapa upaya yang SBK lakukan, tertulis
didalamnya secara tidak langsung. Seperti pembangunan kasteel,
penggadaian pasar kepada kapten Cina dan parit-parit yang mengelilingi
kota.
2.1.6   Buku “Buku 1 Sejarah Kawasan dan Arsitektur”
Buku ini membahas sejarah dari aspek pola, bentuk, tata ruang kota, dan
pemanfaatan kawasan inti kota tua Jakarta.
Meskipun tidak secara
langsung membahas SBK, namun beberapa aktifitas seperti pelebaran dan
pelurusan sungai
kota untuk  memajukan aktifitas kapal dagang pada
jaman Batavia.
2.1.7   Buku “Catatan kecil mengenai Warisan Budaya Cina dijaman 
VOC-
Indonesia dari segi antropologi kota”
Jurusan Arsitektur,
Fakultas Teknik – Universitas Tarumanaga
Setelah wujud kota mulai terbentuk, dan berpenduduk lebih dari 50.000
jiwa, masyarakatnya terdiri dari 3 kelompok utama, yaitu orang-orang
VOC sendiri, kaum burgerh yaitu orang-orang yang bukan VOC tetapi
mereka merupakan orang yang merdeka seperti kaum indo-portugis, atau
indo-belanda, dan orang-orang Cina. Diluar kelompok itu ada kelompok
budak-budak dan kampong-kampung peribumi berbagai etnis. … Kota
Batavia merupakan koloni Cina di bawah naungan VOC, dengan jumlah
penduduk yang berasal dari Cina dalam dari jumlah terbanyak dari
keseluruhan penduduk Batavia. (Djauhari Sumintardja, 1999, 9)
2.1.8   Buku “Peranakan Tionghoa Indonesia”
Mula-mula Belanda membujuk Souw
Beng Kong (-+ 1580 –
1644) dan
rekan-rekannya sejumlah 400 orang untuk pindah dari Banten. Akan
tetapi, seiring dengan berkembangnya kota ini, orang Tionghoa tidak
perlu didatangkan lagi. Mereka datang sendiri untuk meraih
keberuntungan di tanah impian ini. Waktu itu jumlah warga Tionghoa di
Batavia menjadi salah satu yang terbesar. Orang Tionghoa totok
(sinkeh,artinya “tamu baru”) yang terdiri dari kaum laki-laki itu menikahi
 
4
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter