![]() 3
BAB II
DATA DAN ANALISA
2.1 Sumber Data
2.1.1 Data Literature
Pencarian data yang dilakukan oleh penulis ialah
Thesis, Upacara Kematian dan Pemakaman Pada Masyarakat
Tionghoa di Karawang,1985 oleh Ninawati
Buku
The Manners and Customs of The Chinese of Straits
Settlements, oleh J.D Vaughan halaman 30-43, 53-65.
2.1.2 Artikel
2.1.2.1 Artikel Media Cetak
Sampai saat ini belum ada media cetak yang
membahas tentang adat tradisi pemakaman Tionghoa di
Indonesia.
2.1.2.2 Artikel Media Elektronik
Website yang menjadi acuan penulis ialah :
2.1.3 Data Kuisioner
Kuisioner disebarkan melalui media elektronik seperti facebook,
kaskus, indowebster. Tujuan pengisian kuisioner ini ialah untuk
mengetahui tingkat keingintauan masyarakat kepada adat tradisonal
Tionghoa khususnya pada adat tradisional pemakamannya. Kuisioner
mempunyai target orang-orang yang berumur antara 18-25tahun, 26-
33tahun, dan 34-41tahun. Dan kuisioner ini memberikan beberapa
pertanyaan yang bertujuan untuk melihat seberapa pedulinya
masyarakat sekarang dalam menjaga tradisi tersebut, karena tradisi
pemakaman Tionghoa sekarang ini telah banyak bercampur dengan
budaya Barat.
2.1.4 Data Nara Sumber
Dalam penyusunan buku ini penulis juga mempunyai seorang nara
|
|
4
sumber terpercaya yang menjelaskan tentang proses pemakaman
tradisional adat Tionghoa ini kepada penulis. Beliau adalah Bapak
Sugiarto Lim,
B.Lit,MTCSOL seorang dosen Sastra Cina di
Universitas Bina Nusantara.
2.1.5 Data Publisher
PT. Gramedia Asri Meida
adalah anak perusahaan Kelompok
yang menyediakan jaringan
dengan nama Toko Buku Gramedia di beberapa kota di
dengan diawali dari satu toko buku kecil
berukuran 25m² di daerah Jakarta Barat dan sampai tahun 2002
telah berkembang menjadi lebih dari 50 toko yang tersebar di
seluruh Indonesia. Selain menyediakan buku, toko-toko
Gramedia juga menyediakan berbagai produk lain seperti
tulis, perlengkapan kantor, alat olahraga, dll.
Perusahaan ini bekerja sama dengan
baik dalam maupun luar negeri. Dari kelompok usahanya
sendiri, pemasok ke Toko Buku Gramedia antara lain adalah
Bhuana Ilmu Populer, dan
sementara dari luar negeri misalnya Prentice Hall, McGraw Hill
,
Addison Wesley, dll.
2.1.6 Data Kompetitor
Kompetitor atau disebut juga dengan pesaing, ialah orang yang
mempunyai usaha yang sejenis dengan usaha yang kita tekuni.
Dalam penulisan buku tentang proses pemakaman adat tradisional
tionghoa penulis juga menemukan buku lain yang berpotensi menjadi
kompetitor dengan buku yang dibuat oleh penulis.
Berikut adalah buku beberapa buku yang memiliki potensi tersebut :
|
![]() 5
Buku dengan judul Budaya Dayak Permasalahan dan
Alternatifnya diterbitkan oleh Bayu Media Publishing, buku
ini membahas tentang kebudayaan Dayak di tengah
kemajemukan suku bangsa.
|
![]() 6
Buku dengan judul Secret Bali yang diterbitkan oleh PT.
Phoenix Communication, buku ini membahas tentang tradisi-
tradisi yang ada di bali, misalnya ngaben, kremasi, wedding
dan beberapa tradisi lain yang ada di Bali.
Oleh karena itu penulis memilih buku tersebut karena mempunyai
konsep yang sama dengan buku yang akan dibuat oleh penulis yaitu
sama-sama membahas tentang tradisi.
2.2 Struktur Buku
Dalam buku Pemakaman Tradisional Tionghoa Sumatera Barat terdapat 3
bab, yaitu :
-
Bab 1. Kata Pengantar
-
Bab 2. Mengenal Pemakaman Tionghoa di Sumatera Barat
-
Bab 3. Tata Cara Pemakaman Tionghoa di Sumatera Barat
Bab 1. Kata Pengantar
Penulis menjelaskan pengertian kematian dan pemakaman secara umum.
Bab 2. Mengenal Pemakaman Tionghoa di Sumatera Barat
Penulis menjelaskan filosfi pemakaman Tionghoa, materi yang digunakan,
tujuan pemakaman.
Bab 3. Tata Cara Pemakaman Tionghoa di Sumatera Barat
Menjelaskan tahap
tahap dari pemakaman Tionghoa itu sendiri yang terdiri
dari 4 tahap, yaitu upacara memasukkan jenazah ke dalam peti (Ji Bok), upacara
menjelang pemakaman (Mai Song), upacara pemberangkatan jenazah (Sang
Seng), upacara pemakaman jenazah (Ji Gong)
2.3 Pembahasan Adat Pemakaman Tradisional Tionghoa
Pemakaman tradisional Tionghoa pada saat ini sudah sangat jarang
ditemukan karena adanya pengaruh dari budaya barat dan ada juga pengaruh
agama seperti agama Kristen Protestan, contohnya sembahyang tradisional yang
menggunakan dupa atau hio
terkadang tidak dipakai pada
saat upacara
pemakaman tersebut padahal upacara tradisional yang sesungguhnya diwajibkan
untuk menggunakan dupa atau hio
untuk menyembahyangi atau menghormati
orang yang meninggal tersebut. Dalam pemakaman adat tionghoa ada beberapa
tahapan yang harus dilakukan seperti : upacara sebelum masuk peti, upacara
sesudah masuk peti, upacara pemakaman, upacara sesudah pemakaman.
Berikut ini adalah pemabahsan mengenai tahap-tahap tersebut serta filosofinya
Filisofi dari ada Pemakaman Tionghoa
Dipercaya bahwa arwah
dari orang yang telah meninggal tersebut tidak
lenyap hanya berpindah dari dunia Yang (dunia positif) ke dunia Yin (dunia
negative) karena dipercaya bahwa arwah itu tidak ada akan lenyap hanya
berpindah tempat saja.
Dan dipercaya bahwa di dalam tubuh kita terdapat 3arwah : arwah yang akan
naik ke langit, arwah yang turun ke neraka ( disana di adili dan apabila
|
|
7
dianggap baik maka akan naik ke langit), dan tetap tinggal di makam( untuk
menjaga makam tersebut ).
Materi yang digunakan
Baju sering dia pakai selama hidup di dunia
Uang kertas ( dibakar dan dianggap sebagai api abadi tidak boleh padam
selama proses pemakaman dan belanja almarhum di dunia alam baka)
Dupa ( diletakkan di depan almarhum )
Wewangian agar almarhum tidak membusuk
Makanan di meja altar dan disuapkan ke mulut( supaya almarhum tidak
kelaparan pada saat jalan di alam baka )
Bambu( di tangan kiri agar almarhum dapat mengusir anjing-anjing jahat
yang mengganggu selama perjalanan almarhum)
Kain putih diletakkan di depan pintu ( apabila sudah meninggal suami
istrinya makan kain tersebut diletakkan dengan posisi silang, tetapi apabila
hanya salah satu maka kain putih hanya diletakkan di satu sisi saja)
Upacara belum masuk peti
Secara tradisional diletakkan di rumah dan diberitaukan kepada keluarga dan
kerabat tetapi memberitaukannya harus dari luar tidak boleh masuk ke rumah
karena dianggap bisa membawa sial tetapi pada zaman sekarang
menggunakan telepon atau lewat BBM
Kemudian almarhum dipindahkan dengan cepat ke ranjang khusus yang
terbuat dari papan.
Kapas dimasukkan ke hidung untuk memastikan apakah almarhum sudah
meninggal atau belum
Kemudian almarhum dimandikan oleh keluarganya
Almarhum kemudian diangkat bersama-sama oleh keluarga ke dalam peti (
tetapi anak-anak yang kebetulan mendapatkan ciong pada saat itu tidak boleh
ikut mengangkat karena dipercaya akan mendapatkan sial apabila ikut
mengangkat )
Upacara masuk peti
Keluarga harus menggunakan baju tertentu yang terbuat dari blacu tapi dalam
keadaan terbalik
Kemudian almarhum disembahyangkan selama beberapa hari sebelum
dikuburkan
Dan keluarga berlutut di sekitar peti pada saat ada orang yang datang untuk
berbela sungkawa dan harus di sungkem (soja)
Dan pada saat penutupan peti dilakukan ritual yang dipimpin oleh cayma,dan
musik liangkeng diputar selama ritual tersebut sementar keluarga berjalan
memutari peti selama proses tersebut berlangsung
Peti diletakkan di dalam rumah selama 3-5hari, dan dipilih juga hari bagus
untuk menguburkan atau mengkremasi jenazah tersebut.
|
|
8
Tetapi pada zaman dulu pada saat dinasti Song proses memajang jenazah
ditentukan oleh tingkatan atau kedudukan seseorang, pada rakyat biasa hanya
3hari, pada pejabat 5hari, dan untuk keluarga kerajaan seperti kaisar sampai
dengan 7hari lamanya
Keluarga juga menyediakan uang
kertas, rumah kertas, mobil supaya
almarhum tidak mengalami kesulitan selama di dunia sana, karena konsep
hidupnya sama dengan konsep hidup manusia yang masih hidup
Upacara Pemakaman
Menjelang pemakaman juga harus dilakukan penghormatan terakhir yang
dipimpin oleh cayma
Keluarga harus mengitari peti selama upacara tersebut berlangsung
Kemudian jenazah diangkat menuju tempat pemakaman
Anak tertua berjalan paling depan memegang foto dan dupa almarhum
sampai ke tempat pemakaman
Dan uang kertas dilempar sepanjang jalan supaya almarhum tidak diganggu
selama jalan ( seperti membuka jalan untuk almarhum )
Dan pada saat pemakaman keluarga yang mendapatkan ciong harus
membalikkan badan tidak boleh melihat proses tersebut karena bisa
mendapatkan sial
Kalau dikremasi
juga berlaku hal sama, dikremasi dengan tujuan agar
almarhum dapat dengan cepat sampai ke alam baka
Pada saat pergi ke tempat pemakaman maka barang-barang yang ada di
rumah pada saat berkabung harus dirapikan dengan cepat agar pada saat
keluarga balik tidak terlihat kalau sedang berkabung
Pada saat proses pemakaman selesai maka diletakkan uang kertas dan batu
diletakkan diatasnya supaya tidak terbang ketika terkena angin
Sesudah upacara pemakaman selesai keluarga balik dan membasuh muka
dengan air yang sudah dicampur kembang
Upacara Sesudah Pemakaman
Sesudah meninggal keluarga diwajibkan mengikatkan kain hitam di lengan
atau tali putih yang terdapat dalam pelita diikat di pergelangan tangan selama
3tahun tidak boleh dilepas( menurut adat lama ) tetapi sekarang sudah jarang
ditemukan
Upacara 49 hari dilakukan setiap 7hari setelah almarhum dimakamkan atau
dikremasi, itu sesuai dengan teori Tao bahwa untuk meracik obat-obat yang
berkahsiat dewa. Sedangkan menurut teori KongHuChu manusia dipercaya
mempunya 7jiwa setiap disembahyangkan maka 1jiwa akan terlepas dari
raganya
Jenazah akan sadar kalau dia telah meninggal biasanya pada hari ke35, itu
menurut kepercayaan orang China lama
Pada tradisi Cina lama biasanya akan ada papan nama orang yang telah
meninggal dan kemudian dibawa pulang ke rumah dan diletakkan di rumah,
tetapi tidak boleh diletakkan selama 3 tahun, sebelum 3 tahun papan nama
tersebut harus diantar ke rumah leluhur yang isinya hanyalah papan nama
orang-orang marga Lim yang telah meninggal, misalnya orang cina bermarga
Lim maka papan nama tersebut harus diletakkan ke rumah leluhur marga Lim
untuk disembahyangkan disana dan tidak boleh dibawa pulang kembali
|
![]() 9
Pada tradisi Cina lama biasanya kuburan akan dibongkar setelah 5tahun dan
sisa dari jenazah tersebut hanya akan tersisa tulang-tulang dan tulang tersebut
dimasukkan ke dalam sebuah guci kecil dan kemudian dikuburkan kembali
dalam kuburan baru yang kecil. Ini merupakan tahap yang paling susah
prosesnya dari semua tahap proses sesudah pemakaman karena banyak ritual
yang haru dijalankan.
2.4 Target
Target bisa diartikan juga sebagai sasaran tapi dalam batasan tertentu seperti
usia maupun pekerjaan, batasan perlu ditetapkan untuk mencapai suatu target
yang telah ditetapkan sesuai dengan rencana agar memberikan hasil yang baik.
Untuk itu kita perlu mengetahui situasi pasar sebelum menentukan target yang
ingin dicapai.
Target dari buku adat pemakaman tradisi Tionghoa ini ialah orang-orang
keturunan Tionghoa agar dapat lebih mengetahui tradisi pemakaman Tionghoa
yang secara lengkap karena seperti yang diketahui sekarang tradisi tersebut
sudah sangat disederhanakan, dan orang-orang yang tertarik dan mau
mempelajari hal-hal yang terkait dengan budaya.
2.4.1 Consumer Behavior
Orang-orang yang mempunyai kebiasaan menjalankan tradisi lama,
senang membaca buku-buku yang berhubungan dengan tradisi atau
budaya.
2.4.2 Psikografi
Target piskografi yang dipilih penulis adalah sebagai berikut :
Suka membaca.
Mempunyai ketertatikan dan rasa ingin tahu tentang budaya
dan tradisi.
Menyenangi fotografi.
2.4.3 Demografi
Target demografi yang dipilih penulis adalah sebagai berikut :
Jenis kelamin:
pria dan wanita
Usia :
18 25 tahun
Status:
sudah atau belum menikah
Pekerjaan:
mahasiswa, ahli sejarah, budayawan
Kelas sosial:
menengah ke atas (B - A)
Kewarganegaraan:
masyarakat Indonesia
2.4.4 Geografi
Target geografi yang dipilih penulis ialah masyarakat yang tinggal
di daerah Sumater barat.
|
|
10
2.5 Analisa SWOT
Analisis SWOT adalah salah satu teknik analisis untuk mengkaji organisasi
dalam suatu lingkungan perusahaan secara keseluruhan.
Untuk mengkaji suatu organisasi perlu dilakukan analisis dengan melihat
faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor Internal yang dianalisis ialah
Strength
Weakness
Faktor Eksternal yang dianalisis ialah
Oppurtunity
Threat
Berikut analisis faktor SWOT dari buku yang dibuat penulis
Strength
Memberikan visualisasi masyarakat tentang adat tradisi pemakaman
Tionghoa.
Weakness
-
Tidak adanya modal untuk mempromosikan buku tersebut.
-
Kurang memahami kondisi pasar.
Oppurtunity
Karena buku yang membahas tradisi pemakaman adat Tionghoa
sebelumnya tidak ada yang menggunakan bahasa Cina tetapi masih
menggunakan bahasa mandarin ( dengan tulisan kanji ).
Threat
Kurangnya inisiatif masyarakat untuk membacanya.
|