|
Aksesoris Interior menunjuk kepada b enda-benda pelengkap ruang (baca :
tempat) yang benar-benar memiliki fungsi praktis serta mutlak d emi penggunaan secara
optimal sebuah ruang, misalnya ruan g salon kecantikan yang dilengkapi dengan meja,
kursi, cermin, lampubeserta perlengkapan rias. Sementara pada dinding atau di bagian
ruang (tempat) yang lain dari salon ini digantungkan poster atau lukisan d engan bingkai
yang indah dengan tujuan memberi suatu suasana tertentu, sekalipun seb enarnya tanpa
poster dan lukisan iniaktivitas di sebuah ruang salon ini masih bisa terlaksana. Dengan
demikian, poster atau lukisan di sini termasuk dalam kategori aksesoris dekoratif,
sedangkan meja, kursi,lampu, cermin dan perlengkapan rias lainnya termasuk dalam
kategori aksesoris fungsional, karena tanpa aksesoris yan g terakhir ini aktivitas salon
tidak bisa terjadi. (Honggowidjaja:2003).
Ken yataan di lapangan menunjukkan tidak jarang sebuah aksesoris bisa
termasuk fungsional sekaligus dekoratif, misalnya sebuah cermin yang cukup besar
dengan bingkai yang mantap, serasi dan menarik dapat digunakan untuk bercermin
sekaligus berperan seb agai focal point sebuah ruang (tempat), (Honggowidjaja:2003).
John F.Pile (1988) dalam Honggowidjaja menjelaskan bahwa Aksesoris sebagai unsur
focal point, eye catching, penangkap perhatian visual, seba
unsur surprising, yan g
mampu menimbulkan kejutan yang indah sering digunakan
ruang awal setelah pintu
masuk (hall, foyer).
A. Klasifikasi Aksesoris Interior
Beberapa penulis pada prinsipn ya mengkategorikan aksesoris menjadi dua
kategori, yakni aksesoris fun gsional dan akseso ris dekoratif (Allen Tate & C. Ray
Smith, 1986). Aksesoris Interior dapat berperan selaku ikon:
1. Budaya
2. Benda pusaka
3. Benda memorabilia
4. Investasi
5. Simbol status
6. Informasi
7. Ekspresi atau pencerminan aspirasi, karakter
|