|
BAB 2
DATA & ANAL ISA
2.1 Tinjauan Umum
2.1.1 Asal Usul Ngaben
Bali den gan umat yang memeluk agama Hindu yang
menganut kepercayaan adanya roh masih hidup setelah
badan kasar tak b ergerak dan terbentang kaku, mempunyai
upacara yan g khas dalam penyelenggaraan jazad seseorang
yang berpulang yang disebut Pitra Yajna dimana rangkaian
dari upacara ini biasa dikenal den gan Istilah Ngaben /
Palebon / Pralina dll, dan disesuaikan dengan tingkat dan
kedudukan seseorang yan g bernilai Desa-Kala-Patra-
Nista-Madya-Utama.
Secara garis besarnya Ngaben itu dimaksudkan adalah
untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam
besar ini dan mengantarkan Atma (R oh) kealam Pitra
dengan memutuskan keterikatann ya dengan badan duniawi
itu. Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan
dunianya, Ia akan dapat kembali pada alamnya, yakni alam
Pitra.
Kemudian yang menjad i tujuan upacara Ngaben adalah
agar Ragha Sarira (badan / Tubuh) cepat dapat kembali
kepada asalnya, yaitu Panca Maha Bhuta di alam ini dan
Atma dapat selamat dapat pergi ke alam Pitra. Oleh
karenanya ngaben tidak bisa ditunda-tunda, mestinya begitu
meninggal segera harus diaben. Agama Hindu di India
|
|
sudah mener apkan cara ini sejak dulu kala, dimana dalam
waktu yang singkat sudah diaben, tidak ada upacara yang
menjelimet, hanya perlu Pancaka tempat pembakaran,
kayu-kayu harum sebagai kayu apinya dan tampak
mantram-mantram atau kidung yang terus mengalun.
Agama Hindu di Bali juga p ada prinsipnya mengikuti cara-
cara ini. Cuma saja masih memberikan alternatif untuk
menunggu sementara, mungkin dimaksudkan untuk
berkumpulnya para sanak keluarga, menunggu dewasa (hari
baik) menurut sasih dll, tetapi tidak boleh lewat dari
setahun. Tetapi sebenarnya dengan mengambil jenis ngaben
sederhan a yang telah ditetapkan dalam Lontar,
sesungguhnya ngaben akan dapat dilaksanakan oleh
siapapun dan dalam keadaan bagaimana ju ga. Yang penting
tujuan utama
upacara ngaben dapat terlaksana. Sementara
menunggu waktu setahun untuk diaben, sawa (jenasah /
jasad / badan kasar orang yang sudah meninggal) harus
dipendhem (dikubur) di setra (kuburan). Untuk tidak
menimbulkan sesuatu hal yang tidak diinginkan, sawa pun
dibuatkan upacara-upacara tirta pengentas. Dan proses
pengembalian Pan ca Maha Bhuta terutama Unsur
Prthiwin ya akan berjalan dalam upacara mependhem ini.
Ngaben selalu berkonotasi pemborosan, karena tanpa biaya
besar kerap tidak bisa ngaben. Dari sini muncul pendapat
yang sudah tentu tidak benar yaitu : Ngaben b erasal dari
kata Ngabehin, artinya berlebihan. Jadi tanpa mempunyai
dana lebih, or ang tidak akan berani ngaben. Anggapan
keliru ini kemudian mentradisi. Akhirnya banyak umat
Hindu yang tidak bisa ngaben, lantaran biaya yang terb atas.
Akibatnya leluhurnya bertahun-tahun dikubur.
|
|
Hal ini sangat bertentangan dengan konsep dasar dari
upacara ngaben itu. Dari beberapa penelusuran terhadap
berbagai lontar di Bali, ngaben ternyata tidak selalu besar.
Ada beberapa jenis ngaben yang justru san gat sederhana.
Ngaben-ngaben jenis ini antara lain Mitrayadn ya, Pranawa
dan Swasta. Namun demikian, terdapat juga berbagai jenis
upacara yang tergolong besar, seperti sawa prateka dan
sawa wedhana.
Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara
pembakaran mayat, kendatipun dari asal-usul etimologi, itu
kurang tepat. Sebab ada tradisi ngaben yang tid ak melalui
pembakaran mayat. Ngaben sesungguhnya berasal dari kata
beya artinya biaya atau bekal, kata beya ini dalam kalimat
aktif (melakukan pekerjaan) menjadi meyanin. Kata
meyanin sudah menjadi bahasa baku untuk men yebutkan
upacara sawa wadhana. Boleh juga disebut Ngabeyain.
Kata ini kemudian diucapkan dengan pend ek, menjadi
Ngaben.
Ngaben atau meyanin dalam istilah baku lainnya yang
disebut-sebut dalam lontar adalah atiwa-atiwa. Kata atiwa
inipun belum dapat dicari asal usulnya kemungkinan
berasal dari bahasa asli Nusantara (Austronesia), mengingat
upacara sejenis ini juga kita jumpai pada suku dayak, di
kalimantan yang disebut tiwah. Demikian juga di Batak kita
dengar dengan sebutan tibal untuk menyebutkan upacara
setelah kematian ini.
Upacara ngab en atau meyanin, atau juga atiwa-atiwa, untuk
umat Hindu di pegunungan Ten gger dikenal dengan nama
entas-entas. Kata entas mengingatkan kita pada upacara
|
|
pokok ngaben di Bali. Yakni Tirta pan gentas yang
berfungsi untuk memutuskan hubungan kecintaan sang
Atma (roh) dengan badan jasmaninya dan mengantarkan
Atma ke alam Pitara.
Dalam bahasa lain di Bali, yang berkonotasi halus, ngaben
itu disebut Palebon yang berasal dari kata lebu yang artinya
prathiwi atau tanah. Dengan demikian
Palebon berarti
menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada
dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanamkan
kedalam tanah. Namun cara membakar adalah yang paling
cepat.
Diantara pendap at diatas, ada satu pendapat lagi yang
terkait dengan pertanyaan itu. Bahwa kata Ngaben itu
berasal dari kata api. Kata api mendapat prefiks ng
menjadi ngapi dan mendapat sufiks an menjadi
ngapian yang setelah mengalami proses sandi menjadi
ngapen. Dan karena ter jadi perubahan fonem p menjadi
b menurut hukum perubahan bunyi b-p-m-w lalu
menjadi ngaben. Den gan demikian kata Ngaben berarti
menuju api.
Adapun yang dimaksud api di sini adalah Brahma
(Pencipta). Itu berarti atma sang mati melalui upacara ritual
Ngaben akan menuju Brahma-loka yaitu lin ggih Dewa
Brahma sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam Mencipta
(utpeti). (Drs. I Nyoman Singin W, 2002: 5-49)
|
|
2.1.2 Tatacara Prosesi Ngaben
Ngaben adalah upacara pembakaran mayat yang dilakukan
di Bali, khususnya oleh yang beragama Hindu, dimana
Hindu adalah agama mayoritas di Pulau Seribu Pura ini. Di
dalam Panca Yadnya, upacar a ini termasuk dalam Pitra
Yadnya, yaitu upacara yang ditujukan untuk roh lelulur.
Makna upacara Ngaben pada intinya adalah untuk
mengembalikan roh leluhur (orang yang sudah meninggal)
ke tempat asaln ya. Seorang Pedanda/Pinandita mengatakan
manusia memiliki Bayu, Sabda, Idep, dan setelah
meninggal Bayu, Sabd a, Id ep itu dikembalikan ke Brahma,
Wisnu, Siwa.
Upacara Ngaben biasanya dilaksanakan oleh keluarga sanak
saudara dari orang yang meninggal, sebagai wujud rasa
hormat seorang anak terhadap orang tuanya. Dalam sekali
upacara ini biasan ya menghabiskan dana 15 juta s/d 20 juta
rupiah (saat ini sudah ada Ngaben massal yang biaya lebih
irit).
Upacara ini biasanya dilakukan dengan semarak, tidak ada
isak tangis, karena di Bali ada suatu keyakin an bahwa kita
tidak boleh menangisi orang yang telah meninggal karena
itu dapat menghambat perjalanan sang arwah menuju
tempatnya.
Hari pelaksanaan Ngaben ditentukan dengan mencari hari
baik yang biasanya ditentukan oleh Pedanda/Pinandita yang
akan memimpin upacara. Beberapa hari sebelum upacara
Ngaben dilaksanakan keluarga dibantu oleh masyarakat
akan membuat Bade dan Lembu yan g san gat megah
|
|
terbuat dari kayu, kertas warna-warni dan bahan lainnya.
Bad e dan Lembu ini merupakan temp at mayat yang akan
dilaksanakan Ngaben.
Pagi hari ketika upacara ini dilaksanakan, keluarga dan
sanak saudara serta masyarakat akan berkumpul
mempersiapkan upacara. Mayat akan
dibersihkan/dimandikan atau yang biasa disebut
Nyiramin oleh masyarakat dan keluarga. Nyiramin ini
dipimpin oleh orang yang dianggap paling tu a didalam
masyarakat.
Setelah itu mayat akan dipakaikan pakaian adat Bali seperti
layaknya oran g yang masih hidup. Sebelum acara puncak
dilaksanakan, seluruh keluarga akan memberikan
penghormatan terakhir dan memberikan doa semoga arwah
yang diupacarai memperoleh tempat yang baik.
Setelah semuanya siap, maka mayat akan ditempatkan di
Bad e untuk diusung beramai-ramai ke kuburan tempat
upacara Ngaben, diiringi dengan gamelan, kidung suci,
dan diikuti seluruh keluarga dan masyarakat, di depan
Bad e terdapat kain putih yang panjang yang bermakna
sebagai pembuka jalan sang arwah menuju tempat asalnya.
Di setiap pertigaan atau perempatan maka Bade akan
diputar sebanyak 3 kali. Sesampainya di kuburan, upacara
Ngaben dilaksanakan den gan meletakkan mayat di
Lembu yang telah disiapkan diawali dengan upacara-
upacara lainn ya dan doa mantra dari Ida Pedanda/Pinandita,
kemudian Lembu dibakar sampai menjadi Abu. Abu ini
kemudian dibuang ke Laut atau sungai yang dian ggap su ci.
|
![]() Setelah upacara ini, keluarga dapat tenang mendoakan
leluhur dari tempat suci dan pura masing-masing. Inilah
yang men yebabkan ikatan keluarga di Bali sangat kuat,
karena mereka selalu ingat dan menghormati lelulur dan
juga orang tuanya. Terdapat kepercayaan bahwa roh leluhur
yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran
keluarga lagi, jadi biasanya seorang cucu merupakan
reinkarnasi dari orang tu anya.
2.1.3 DATA PENDUKUNG
HASIL WAWANCARA
Pura Aditya Jaya di Rawamangun
Gambar 2.1
Gerbang tembok Pura Aditya Jaya
|
|
PROFIL SINGKAT
Pura Aditya Jaya terletak di Jl. Daksinapati Raya No. 10
Rawamangun, Jakarta, Indonesia 13220. Pura ini adalah
pura pertama di DKI Jakarta dan pusat agama Hindu.
Pembangunan pura ini dilaksanakan secara bertahap mulai
tahun 1972 hingga tahun 1997. Bahkan sekarang sudah
berdiri Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH).
WAWANCARA
Kedatangan penulis dalam wawancara bersama Pak I Gusti
Made Arya,biasa dipanggil Pak Made adalah salah satu
dosen bersarjana Strata 2 yang mengajar d i Sekolah
Perguruan Tinggi Agama Hindu yang selokasi dengan Pura
Aditya Jaya, selain itu masih ada beberapa dosen sekitar 5-6
orang yang ikut memberi penjelasan mengenai makna dan
tatacara upacara Ngaben dengan ramah, sabar, dan detail.
Mereka mengaku bahwa dirinya merasa senang karena
masih ada mahasiswa yang ingin tertarik mengangkat
budaya Ngaben sebagai penelitian tugas akhir, karena
menurut mereka jarang mahasiswa sekarang mengangkat
topik Ngaben. Pak Made selain menjelaskan tentang
Ngaben, beliau juga membantu meminjamkan buku-buku
rekomendasi mengenai Ngaben d ari perpustakaan sekolah
disana untuk dibawa pulang untuk di pelajari tanpa
memungut biaya ataupun jaminan. Para dosen STAH juga
menjelaskan bahwa di DKI Jakarta juga melaksanakan
proses upacara Ngaben tetapi tidak serumit tahap-
tahapannya seperti di Bali, letaknya berada di Cilincing
dikarnakan setiap abu yang h asil pembakaran haruslah di
larutkan ke lautan. Bila terdapat anggota kerajaan di Bali
meninggal maka akan diadakan festival Ngaben yang
sangat mewah dan meriah dan terkadan g para tour&travel
|
|
akan menjadikan salah satu objek wisata bud aya dengan
mengumumkan kepada tourist mancanegara untuk datang
ke Bali menyaksikan festival tersebut. Bahkan rasa ingin
tahu tourist terhadap up acara kematian Ngab en ini lebih
besar dib andingkan masyarakat Indonesia sendiri. Maka
dari itu juga ia mengak ui sangat sen ang bila ada sebuah
buku ilustrasi yang menjelaskan tentan g prosesi upacara
kematian Ngaben dilengkapi dengan makna maknanya.
2.1.4 Target Komunikasi
Prof il Target
A. Sasaran Primer
Demografis
-
Jenis kelamin : Pria dan wanita
-
Usia : 25 40 tahun
-
Profesi : Dosen, Kolektor buku, Budayawan, Turis Asing
-
SES : A
-
Pendidikan : S1 & S2
Geografis
-
Hidup di kawasan pusat kota.
Psikografis
1. Bekerja, suka melakukan penelitian budaya.
2. Suka nongkrong dan jalan jalan di mall.
3. Mengunjungi pameran seni lukisan maupun musik.
4. Sering ke toko buku untuk membeli buku.
|
|
5. Sering ke perpustakaan untuk membaca buku.
Karakter
1. Berjiwa dan pecinta seni.
2. Pecinta dan menghargai budaya Indonesia.
3. Terbuka dengan hal baru dan rasa ingin tahu yang tinggi.
4. Memiliki semangat untuk memperluas wawasan.
5. Rajin membaca buku dan berita.
6. Selalu mempunyai pikiran positif.
7. Dewasa dalam berpikir.
8. Menyukai hal hal yang berbau mistik, unik dan
berserajah dari budaya Indonesia.
Interest
1. Men yukai warna warna yang cenderung terang atau
light colour.
2. Menyukai bahasan mengenai kepercayaan animisme.
3. Suka membaca atau menonton National Geographic.
4. Tertarik mengunjungi galeri lukisan maupun museum
bersejarah.
5. Sangat gemar membaca dan mengoleksi buku.
6. Senang membaca fakta fakta terselubung yan g
misterius.
B. Sasaran Sekunder
Demografis
-
Jenis kelamin : Pria dan wanita
-
Usia : 20 25 tahun
|
![]() -
Profesi : Karyawan, Wirausahawan, Mahasiswa
-
SES : A B
Geografis
-
Hidup di kawasan pusat kota.
Psikografis
-
Tertarik terhadap hal yang berbau mistis, unik, dan
bersejarah.
-
Mencintai dan men gh argai budaya Indonesia.
-
Senang mengoleksi buku.
-
Menyukai ilmu pengetahuan dari kuno maupun modern.
-
Suka mengunjungi pameran seni.
2.1.5 Data Kompetitor
2.1.5.1 Buku NGABEN ( Upacara dari Tingkat
Sederhana sampai Utama)
Buku ini terbit pada tahun 2002, ditulis/penerjemah oleh
Drs. I Nyoman Singin W, membahas tentang mengapa Pitra
Yajna wajib dilakukan, maksud dan tujuan ngaben, rincian
ngaben sederhana, arti simbolik upakara/sesajennya,
ngaben sarat dan relevansin ya dengan saat ini, jenis ngaben
sarat, dewasa ngaben, landasan filosofis ngaben, dlsb.
Tetapi tanpa ditunjang oleh desain dan komposisi layout
yang menarik.
|
![]() Gambar 2..2
Buku NGABEN ( Upacara dari Tingkat Sederhana sampai Utama)
2.1.5.2 Buku Proses Kremasi & Esensi Perjalanan
Atman Menuju Moksa
Buku yang ditulis oleh A.S. Kobalen.Mba, membahas
mengenai perlunya agama Hindu dipandan g, karena
merupakan agama paling tua di dunia, namun masih banyak
para intelektual non-hindu yang salah paham dengan
konsep-konsep Hindu, apalagi terhadap konsep kematian
dan kremasi atau ngaben ini.
|
![]() Gambar 2.3
Buku Proses Kremasi & Esensi Perjalanan Atman Menuju Moksa
2.1.6 STRUKTUR BUKU
Buku ilustrasi Upacara Kematian Umat Hindu di Bali ini
dirancang menjadi satu buah buku yang berukuran cukup
besar dan tebal. Buku ini berisi tentang gambaran umum
asal usul Ngaben, serta langsung difokuskan ke upacara
kematian Ngaben. Buku ini akan diselimuti oleh packaging
dari bahan yang cukup kuat dan jug
terdapat gambar dan
informasinya. Alasan menggunaka
packaging dari bahan
yang cukup kuat agar mendukung buku untu
menjadi lebih
kolektif, tahan lama dan tidak merusak bagia
|
![]() Berikut adalah struktur buku yang telah disusun :
1. Packaging buku
2. Halaman cov er buku
3. Halaman pembuka
4. Colophon
5. Halaman judul
6. Daftar isi
7. Prakata
8. Isi
Bab 1. Asal usul Ngaben
-
Pengertian
-
Filosofis
-
Maksud & Tujuan
Bab 2. Tata cara p rosesi Upacara Ngaben
-
Urutan proses upacara kematian
9. Halaman penutup
10. Halaman belakang
2.1.7 DATA PENYELENGGARA
Gramedia Pustaka Ut ama merupakan anak perusahaan
dari Kelompok Kompas Gramedia yang bergerak dibidang
penerbitan buku yang mulai menerbitkan buku sejak tahun
1947. Buku pertam yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka
Utama adalah novel berjudul Kamila, yang kemudian
disusul dengan beberapa buku diantaranya adalah buku seri
anak anak dan terbitan buku non-fiksi pertama oleh
Gramedia Pustaka Utama adalah Hanya Satu Bumi.
|
|
Gramedia Pustaka Utama selalu menerbitkan buku buku
bermutu baik terjemahan maupun karya asli dalam negri.
Perjalanan jauh memakan asam garam dari menerbitkan
buku sudah dialami oleh Gramedia Pustaka Utama dan
mereka memutuskan untuk focus pada buku fiksi dan non-
fiksi. Dalam hal ini, buku ilustrasi Upacara Kematian di
Bali termasuk dalam kategori yang dapat diterbitkan oleh
Gramedia Pustaka Utama.
2.2 Tinjauan Khusus
2.2.1 Definisi Buku
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) buku
mempunyai pengertian yaitu lembar kertas yang berjilid,
berisi tulisan atau kosong. Sedangkan menurut Kamus
Oxford, buku berpengertian sebagai hasil karya yang ditulis
atau dicetak dengan halaman-halaman yang dijilid pada
satu sisi ataupun juga merupakan su atu hasil karya yang
ditujukan untuk penerbitan. Buku d apat dikatakan sebagai
salah satu sarana yang efektif untuk mengedark an gagasan.
Lewat buku seseorang dapat mendalami maksud seorang
penulis secara hampir tuntas. Lewat buku pula seorang
penulis dapat menunjukan dirinya secara hampir utuh dan
terstruktur. Juga melalui buku ilmu dikembangkan dan
temuan- temuan baru dibidang apa saja dapat terus
diperbaiki dan diperb arui secara signifikan.
Saat ini banyak terd apat buku yang ditampilkan dalam
bentuk gambar-gambar untuk menarik perhatian dan
kesukaan membaca pada setiap orang terutama anak- anak,
karena setiap orang pada umumnya lebih tertarik pada
|
|
bahasa pen yampaian secara visual daripada bahasa verbal.
(Drs. Ngalim M. Purwanto. 1992)
Maka itu penulis pun merancang visual buku karena
mendukung salah satu fungsi buku sebagai sarana efektif
untuk memaparkan gagasan apalagi didukung dengan
unsur-unsur visual sehingga memudahkan p embaca dalam
memandu dirinya untuk memahami buku.
2.2.2 Definisi Publikasi
Publikasi adalah industri yang mendukung desain suatu
buku. Dan arti kata publishing sendiri adalah untuk
menyatakan ide-ide atau gagasan-gagasan didepan umum.,
secara terbuka dan membuat ide-ide atau gagasan-gagasan
tersebut diketahui oleh dan secara umum. (Jennings,
Simon..1987). Karena alasan inilah penulis mempermudah
tampilan- tampilan gagasan tersebut dengan setiap visual
yang mendukung sehingga semakin mudah untuk diketahui
dan diingat oleh umum.
Pengertian publikasi secara terminology adalah
pengumuman atau pener bitan. Ton Kertapati menjelaskan
dalam bukunya Dasar-Dasar Publisistik Dalam
Perkembangannya
Di Indonesia Menjadi Ilmu Komunikasi
bahwa istilah publisistik berasal dari kata kerja bahasa latin
publicare yang berarti mengumumkan. Dari penjelasan
tersebut, penulis dapat menarik kesimpulan bah wa istilah
publikasi dapat diartikan pengumuman tentang suatu hal
yang disiarkan lewat media elektronik dan atau diterbitkan
di media cetak.
|
|
Kaitannya dalam buku ilustrasi Upacar a Adat Ngaben Umat
Hindu Bali ini adalah merupakan salah satu media cetak
yang akan ber guna untuk penyiaran atau pen yebaran
informasi tentang budaya Upacara kematian di Bali kepada
siapapun yang membacanya.
2.2.3 Teori Ilustrasi
Ilustrasi merup akan salah satu unsure yang terpenting
dalam sebuah komunikasi sebuah buku, karena sering
dianggap sebagai bahasa universal yang dapat ditimpulkan
oleh perbedaan bahasa k ata-kata (Ir wan Wirya,19 93:3)
Fungsi Ilustrasi pada buku yaitu:
Untuk menarik perhatian, dapat dilihat dari warna,
bentuk dan ukuran ilustrasi tersebut.
Untuk merangsang minat audience agar membaca
keseluruhan isi pesan yang ingin disampaikan desainer.
Untuk menjelaskan suatu pern yataan dalam bentuk
visual.
Untuk menciptakan suatu suasana yang khas dari gaya
ilustrasi.
Gaya
1. Kombinasi fitur khas ekspresi seni, eksekusi, atau
kinerja sebagai karakteristik orang tertentu, kelompok,
sekolah atau era.
2. Sebuah kualitas imajinasi dan individualitas dinyatakan
dalam tindakan seseo rang dan selera.
3. Sebuah modus tertentu atau teknik dimana sesuatu
dilakukan dibuat, dilakukan atau diungkapkan.
|
|
4. Sebuah fashion saat ini.
5. Sebuah khas kualitas, bentuk, atau jenis sesuatu.
Dari beberapa p engertian dari para ahli mengenai maknai
ilustrasi adalah sebuah visualisasi dari suatu tulisan yang
dapat berupa sketsa, lukisan, vector graphic, foto atau
teknik seni rupa lainnya yang lebih menekankan pada
penjelasan tulisan daripada bentuk. Selain itu ilustrasi
dimaksudkan untuk mempercantik tulisan atau melengkapi
suatu tulisan. Terdapat beberapa teknik yan g dikenal dalam
pembuatan ilustrasi yaitu teknik Woodcut, Fine Art, dan Art
Nouveau.
Teknik Fine Art digunakan untuk melukiskan visualisasi
dari sebuah cerita atau dongeng, mempresentasikan suatu
keadaan secara natu ral sebagaimana yang ter gambar jika
menggunakan kamera un tuk memotret suatu keadaan.
Kaitannya dalam buku ilustrasi Upacar a Adat Ngaben Umat
Hindu Bali adalah karena ingin memberikan penjelasan
secara bentuk gambar dan suasana keadaan daripada
menggunakan tulisan dan dibuat untuk menjelaskan
informasi yang terkandung dari teks. Ini juga termasuk
dalam Teknik Fine Art yang digunakan untuk melukiskan
sebuah cerita dan berusaha membuaat keadaan secara
natural atau perumpamaan sebagaimana yang tergambar
pada aslinya.
2.2.4 Teori Tipografi
Tipografi menurut Stanley Marrison (2007: 104)
didefinisikan sebagai keterampilan mengatur b ahan cetak
|
|
secara baik dengan tujuan tertentu, seperti men gatur tulisan,
membagi-b agi ruang/spasi, dan menata / menjaga huruf
untuk membantu secara maksimal agar pembaca memahami
teks. Tipografi merupakan cara hemat untuk benar-benar
membuat bermanfaat dan hanya secara kebetulan mencapai
hasil estetis, oleh karena menikmati pola-pola, jarang sekali
menjadi tujuan utama.
Ilmu tipografi digunakan pada banyak bidang diantaranya
desain grafis, desain web, percetakan, majalah, desain
produk dll. Tipografi digunakan oleh para desainer untuk
berkomunikasi dengan pembacanya secara visual agar
maksud dari tulisan lebih mudah dipahami. Tipografi
memegang peran penting dalam penyampaian bahasa non
verbal untuk segala bentuk publikasi, seperti mengetahui
hal dalam mengatur ukuran tulisan yang akan kita gunakan,
efek dan bentuk yang akan ditampilkan sehingga muatan
emosi dan sifat dari pesan yang muncul sesuai dengan
tujuan komunikasi yang ingin kita sampaikan kepada
publik. Anatomi huruf terbagi menjadi 5 bentuk dasar yaitu
serif, sans serif, script,dan decorative.
Serif, huruf jenis ini memiliki sirip (serif) dengan berbagai
macam bentuk dengan ketebalan yang sama atau hamper
sama. Biasanya berbentuk lancip pada ujungnya. Kesan
yang ditimbulkan oleh huruf ini adalah klasik, anggun,
bersejarah, mewah, dan dewasa.
Script, huruf jenis ini menyerupai goresan tangan yang
dikerjakan dengan pena atau pensil tajam dan biasanya
miring ke kanan. Biasanya kaligrafi termasuk d alam jenis
ini. Kesan yang ditimbulkan adalah sifat pribadi dan akrab.
|
|
Decorative, dalam jenis ini merupakan pengembangan dari
bentuk -bentuk yang sudah
ada ditambah hiasan ornament
atau garis-garis dekoratif atau bahkan dikurangkan. Kesan
yang ditimbulkan oleh huruf ini adalah dekoratif dan
ornamental. Prinsip dalam tipografi terdiri dari Clearity,
Readability, Legibility, yaitu keterbacaan dan jenis huruf
tersebut dan Visibility, lebih menekankan pada keindahan
jenis huruf tersebut.
Kaitannya dalam buku ilustrasi Upacar a Adat Ngaben Umat
Hindu Bali ini adalah karena adan ya beberapa penekanan
pada makna makna yang ingin diangkat dan difokuskan
namun tetap memenuhi syarat Readibility dan Legibility.
Selain untuk menimbulkan kesan sedikit modern,
ornamental dan otentik akan digunakan huruf jenis Serif,
Sans Serif, Decorative.
2.2.5 Teori Prinsip Desain
Prinsip dasar desain merupakan pengorganisasian unsur-
unsur dasar desain dengan memperhatikan prinsip-prinsip
dalam menciptakan dan mengaplikasikan kreativitas. Frank
Jefkins (1997: 245) mengelompokkan prinsip-prinsip
desain menjadi: kesatuan, keberagaman, keseimbangan,
ritme, keserasian, proporsi, skala, dan penekanan.
A. Kesatuan (unity)
Kesatuan merupakan sebuah upaya untuk menggabungkan
unsur-unsr desain menjadi suatu bentuk yang proporsional
dan menyatu satu sama lain ke dalam sebuah media.
|
|
Kesatuan desain merupakan hal yang penting dalam sebuah
desain, tanpa ada kesatuan unsur-unsur desain akan
terpecah berdiri sendiri-sendiri tidak memiliki
keseimbangan dan keharmonisan yang utuh.
B. Keberagaman (variety)
Keberagaman dalam desain bertujuan untuk menghindari
suatu desain yang mono ton. Untuk itu diperlukan sebuah
perubahan dan pengkontrasan yang sesuai. Adanya
perbedaan besar kecil, tebal tipis pada huruf, pemanfaatan
pada gambar, perbed aan warna yang serasi, dan keragaman
unsur-unsur lain yang serasi akan menimbulkan variasi
yang harmonis.
C. Ritme/irama (rhythm)
Aliran secara keseluruhan terhadap desain selalu
menyiratkan irama yang nyaman. Suatu gerak yang
dijadikan sebagai dasar suatu irama dan ciri khasnya
terletak pada
pengulangan-pengulangan yang dilakukan
secara teratur yang diberi tekanan atau aksen. Ritme
membuat adanya kesan gerak yan g menyir atkan mata pada
tampilan yang nyaman dan berirama.
D. Keserasian (harmony)
Suptandar (1995:19) mengartikan keserasian sebagai usaha
dari berbagai macam bentuk, bangun, warna, tekstur, dan
elemen lain yang disusun secar a seimban g dalam suatu
komposisi utuh agar nik mat untuk dipandang. Keserasian
adalah keteraturan di antara bagian-bagian suatu karya.
|
|
E. Proporsi (proportion)
Proporsi merupakan perbandingan antara suatu bilangan
dari suatu obyek atau komposisi (Kusmiati, 1999:19
Bisa
dikatakan bahwa proporsi merupakan kesesuaian ukuran
dan bentuk hingga tercipta keselarasan dalam sebuah
bidang. Terdapat tiga hal yang berkaitan den ga
masalah
proporsi, yaitu penempatan susunan yang menarik,
penentuan ukuran dan bentuk yang tepat, dan penentua
ukuran sehingga dapat diukur atau disusun sebaik mungkin.
F. Penekanan (emphasis)
Frank Jeffkin (1997:246) menyebutkan bahwa: Dalam
penekanan, all emphasis is no emphasis, bila semua
ditonjolkan, maka yang terjadi adalah tidak ada hal yang
ditonjolkan. Adanya penekanan dalam desain merupakan
hal yang penting untuk menghindari kesan monoton.
Penekanan dapat dilakukan pada jenis huruf, ruang kosong,
warna, maupun yang lainnya akan menjadikan desain
menjadi menarik bila dilakukan dalam proporsi yang cukup
dan tidak berlebihan.
Kaitannya dalam buku ilustrasi Upacar a Adat Ngaben Umat
Hindu Bali ini adalah karena keseluruhan prinsip desain
yang ada di atas akan digunakan dalam merancang buku ini
diantaranya adalah :
1. Terutama penggunaan pola yang berulang namun
memiliki irama (Rhythm) pada halaman pembuka untuk
menjelaskan secara tidak langsun g isi dari buku ini
secara singkat.
|
|
2. Penggunaan gaya ilustrasi yang sama dari awal sampai
akhir untuk menunjukan kesan kesatuan (Unity).
3. Dan prinsip desain lainnya akan diterapkan pada bagian
isi dari buku ini.
2.2.6 Teori Warna
Warna menurut banyak ahli psikologi dianggap dapat
memengaruhi kejiwaan dan karakter seseorang. karena
sangat bergantung dengan faktor sub yekif, maka setiap
orang dalam memilih warna berdasarkan cara pandang yang
berbeda. Kemampuan warna menciptakan impresi, mampu
menimbulkan efek-efek tertentu. Secara psikologis
diuraikan oleh J.Linschoten dan Drs. Mansyur tentang
warna adalah warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang
hanya dapat di amati saja, warna itu memperngaruhi
kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian
estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan
bermacam-macam benda. Dari pemahaman diatas dapat
dijelaskan bahwa warna, selain hanya dapat di lihat dengan
mata ternyata mampu memperngaruhi perilaku seseorang,
memperngaruhi penilaian ezstetis dan turut menentukan
suka tidaknya seseorang pada suatu benda.
Apapun perkembanganya, warna menjadi sesuatu yang
penting terutama untuk memberi kesan positif pada kita,
oleh karena itu kita perlu mengetahui warna-warna berikut
yang memiliki kesan berbeda untuk pemakainya..
Berikut penjelasannya warna warna tersebut serta pengaruh
psikologis dari si pemakai serta kapan saat waktu yang
|
|
tepat untuk memakain ya. Berikut penjelasan makna-makna
untuk setiap warna, yakni:
1. Merah
Melambangkan kesan energi, kekuatan, hasrat, erotisme,
keberanian, simbol dari api, pencapaian tujuan, darah,
resiko, ketenaran, cinta, perjuangan, perhatian , perang,
bahaya, kecepatan, panas, kekerasan. Warna ini dapat
menyampaikan kecenderungan untuk menampilkan gambar
dan teks secar a lebih besar dan dekat. warna merah dapat
mengganggu apabila digunakan pada ukuran yang besar.
Merah cocok untuk tema yang menunjukkan keberanian
seseorang. energi misal mobil, kendaraan bermotor,
olahraga dan permainan.
2. Putih
Menunjukkan kedamaian, Permohonan maaf, pencapaian
diri, spiritualitas, kedewaan, keperawanan atau kesucian,
kesederh anaan, kesempurnaan, kebersihan, cahaya,
takbersalah, keamanan, persatuan. Warna putih sangat
bagus untuk menampilkan atau menekankan warna lain
serta memberi kesan kesederhan aan dan kebersihan.
3. Hitam
Melambangkan perlindungan, pengusiran, sesuatu yang
negatif, men gikat, kekuatan, formalitas, misteri, kekayaan,
ketakutan, kejahatan, ketidak bahagiaan, perasaan yang
dalam, kesedihan, kemarahan, sesuatu yang melanggar
(underground), modern music, harga diri, anti kemapanan.
|
|
4. Biru
Memberikan kesan ko munikasi, peruntungan yang baik,
kebijakan, perlindungan, inspirasi spiritual, tenang,
kelembutan, dinamis, air, laut, kreativitas, cinta, kedamaian,
kepercayaan, loyalitas, kepandaian, panutan, kekuatan dari
adlam, kesedihan, kestabilan, kepercayaan diri, kesadaran,
pesan, ide, berbagi, idealisme, persahabatan dan harmoni,
kasih sayang.
Warna ini memberi kesan tenang d an menekankan
keinginan. Biru tidak meminta mata untuk memperhatikan.
Obyek dan gambar biru pada dasarn ya dapat menciptakan
perasaan yang dingin dan tenang. Warna Biru juga
dapat
menampilkan kekuatan teknologi, kebersihan, udara, air
dan kedalaman laut. Selain itu, jika digabungkan dengan
warna merah dan kuning dapat memberikan kesan
kepercayaan dan kesehatan.
5. Hijau
Menunjukkan warna bumi, penyembuhan fisik, kelimpahan,
keajaiban, tanaman dan pohon, kesubur an, pertumbuhan,
muda, kesuksesan materi, pembaharuan, daya tahan,
keseimbangan, ketergantungan dan persahabatan. Dapat
digunakan untuk relaksasi, menetralisir mata,
memenangkan pikiran, merangsang kreatifitas.
6. Kuning
Merujuk pada matahari, ingatan, imajinasi logis, energi
sosial, kerjasama, kebah agiaan, kegembiraan, kehangatan,
|
|
loyalitas, tekanan mental, persepsi, pemahaman,
kebijaksanaan, pen ghianatan, kecemburuan, penipuan,
kelemahan, pen akut, aksi, idealisme, optimisme, imajinasi,
harapan, musim panas, filosofi, ketidak pastian, resah dan
curiga. Warna Kuning merangsang aktivitas mental dan
menarik perhatian, Sangat efektif digunakan pada blogsite
yang menekank an pada perasaan bahagia dan kekanakan.
7. Merah Muda
Warna Merah Muda menunjukkan simbol kasih sayang dan
cinta, persahabatan, feminin, kepercayaan, niat baik,
pengobatan emosi, damai, perasaan yan g halus, perasaa
yang manis dan indah.
8. Ungu
Menunjukkan pengaruh, pandangan ketiga, kekuatan
spiritual, pengetahuan yan g tersembunyi, aspirasi yang
tinggi, kebangsawanan, upacara, misteri, pencerahan,
telepati, empati, arogan, intuisi, kepercayaan yang dalam,
ambisi, magic atau keajaiban, har ga diri.
9. Orange
Menunjukkan kehangatan, antusiasme, persahabatan,
pencapaian bisnis, karier, kesuksesan, kesehatan pikiran,
keadilan, daya tahan, kegembiraan, gerak cepat, sesuatu
yang tumbuh, ketertarikan, independensi. Pada Blog dapat
meningkatkan aktifitas mental. Disamping itu warna
Orange memberi kesan yang kuat pada elemen yang
dianggap penting.
|
|
10. Coklat
Menunjukkan Persahabatan, kejadian yang khusus, bumi,
pemikiran yang materialis, reliabilitas, kedamaian,
produktivitas, praktis, kerja keras.
11. Abu-abu
Mencerminkan keamanan, kepandaian, tenang da
serius,
kesederh anaan, kedewasaaan, konservatif, praktis,
kesedihan, bosan, profesional, kualitas, diam, tenang.
12. Emas
Mencerminkan prestis (kedudukan), kesehatan, keamanan,
kegembiraan, kebijakan, arti, tujuan, pencarian kedalam
hati, kekuatan mistis, ilmu pengetahuan, perasaan kagum,
konsentrasi.
Kaitannya dalam buku ilustrasi Upacar a Adat Ngaben Umat
Hindu Bali ini adalah penggunaan warna-warna
berdasarkan psikologis, warna yang digunakan dalam buku
ini adalah kuning merupakan ciri khas yg mendominasi
budaya Pulau Bali yang melambangkan kemakmuran,
warna merah melambangkan keberanian fisik, kekuatan,
meriah, serta perlambangan dari Dewa Brahma (Pencipta),
warna emas melambangkan kegembiraan, kedudukan,
kekuatan mistis, warna biru melambangkan kebijakan,
perlindungan, inspirasi spiritual, tenang, kelembutan,
dinamis, air, laut, kreativitas, cinta, kedamaian,
kepercayaan, loyalitas, kepandaian, panutan, kekuatan dari
alam, kesedihan, kestabilan, kepercayaan diri, kesadaran,
|
|
pesan, ide, berbagi, idealisme, persahabatan dan harmoni
kasih sayang.
2.2.7 Analisa SWOT
2.2.7.1 Strength
Buku yang akan di buat merupakan buku tentang Ngaben
sebagai tradisi budaya, juga berisi tata cara prosesi
upacaranya, hingga penjabaran peralatan-peralatan yang
dibutuhkan, serta memiliki layout dan visual yang menarik
2.2.7.2 Weakness
Minimnya keingintahuan dan kepedulian masyarakat
terutama generasi muda sekarang terhadap begitu banyak
ragam budaya unik yang berada di Indonesia.
2.6.3 Opportunity
Menyadark an masyarakat dunia untuk kembali peduli
mengenal salah satu budaya Bali yang unik, memberikan
peluang untuk buku ini dapat laku dipasarkan
2.6.4 Threat
Gaya hidup generasi masyarakat modern sekarang yang
lebih tertarik melihat budaya luar negeri seperti negara
Korea dan Jepang, menyebabkan masyarakat tidak concern
mengenai budaya milikinya sendiri.
|