BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1  Tugas Karya Akhir atau Program Sebelumnya
Tabel 2.1 Perbandingan Indo Communities denga
Program Lain 
No  Judul Program  Isi Pro gr am  Perbedaan dengan Program  
yang Dibuat 
1.  Komunitas Unik 
Feature  profile  yang 
membahas  sebuah  komunitas  memiliki  perbedaan  yang  cukup 
dengan  durasi  30  menit. 
Konsep  dalam  menjelaskan 
tentang  komunitas  yan g 
diliput  adalah  dalam  bentuk 
cerita.  Tidak  ada  host  yan g 
dipakai  dalam  progr am  ini. 
Informasi  yang  didap atkan 
oleh  audiens  berasal  dari 
naskah  yang  kemudian  akan  Program  tim  produksi  juga  akan 
di-dubbing  dengan 
menggunakan  footage  video 
kegiatan  komunitas  tersebut. 
Informasi  lain  akan 
didapatkan  melalui 
wawancara  dengan  para 
anggota  komunitas.  Program 
hanya  akan  diisi  oleh 
kehadiran  oleh  para  anggota  karena  waktu  tayan g  yang  tim 
komunitas.  Shooting 
dilakukan  pada  lokasi  dimana 
Program  INDO  COMMUNITIES 
signifikan,  dimana  tim  produksi 
akan  menggunak an  h ost  pada 
program  ini.  Host  akan 
melakukan  wawancara  langsung 
kepada  anggota  komun itas  dan 
juga  akan  berinteraksi  langsung 
serta  mencoba  untuk  melakukan 
kegiatan  dari  komunitas  tersebut. 
membahas  mengenai  sejarah 
tentang  subjek komunitas tersebut 
dan  adan ya  komunitas  yang 
serupa,  terkenal  serta  sudah  ada 
sejak  dulu  di  negara-negara  lain. 
Perbedaan  lainn ya  adalah  dimana 
program  tim  produksi  dapat 
dijangkau  oleh  segala  umur 
produksi  tetapkan  yaitu  setiap 
Minggu  siang  dimana  biasanya 
Trans 7 
Hari Rabu 
Pukul 00.00 –
00.30 
  
komunitas  biasanya 
melakukan  aksi  mereka  atau  luang  untuk  bersantai  bahkan 
sekedar  berkumpul.  Beb erapa 
komunitas  yang  diliput  juga 
melakukan  interaksi  dengan 
masyarakat  sekitar.  Program 
ini  biasanya  ditayangkan 
pukul  12  tengah  malam  pada 
hari Rabu.  
waktu  tersebut  adalah  waktu 
bersama keluarga. 
2.  Warna Warni 
Program  yang  ditayangkan 
oleh  Binus  TV  ini  membahas 
mengenai  suatu  komunitas 
dengan  durasi  tayan g  30 
menit. Program ini melibatkan 
satu  host  baik  pria  maupun  melakukan  kegiatan  dari 
wanita.  Host  tersebut  tidak 
berinteraksi  langsung  dengan  bertujuan  untuk  menunjukkan 
komunitasnya.  Namun  hanya 
sebagai  pembawa  alur 
program saja.  
Host  pada  program  INDO 
COMMUNITIES  akan 
berinteraksi  langsung  den gan 
komunitas.  Tidak  melulu  han ya 
wawancara,  host  akan  mencoba 
komunitas  tersebut.  Hal  ini  untuk
bahwa  semua  orang  awam  bisa 
dan  boleh  bergabung  den gan 
komunitas tersebut.  
(2011) 
BinusTV 
Hari Jumat 
Pk 15.00 – 15.30 
2.2  Teori  atau  Konsep  yang  Berkaitan  dengan  Proses  Pembuatan  Tugas
Akhir 
2.2.1  Strategi Produksi Program Televisi
Strategi  didefinisikan  sebagai  suatu  program  umum  untuk  mencapai 
tujuan  organisasi  dalam  pelaksanaan  misi.  Kata  "program"  di  definisikan 
sebagai  suatu  peranan  aktif,  sadar,  dan  rasional, 
yan g  dimainkan  oleh  pelaku 
organisasi  dalam  merumuskan  strategi-strategi.  Strategi  juga  di  definisikan 
sebagai  pola  tanggapan  organisasi  terhadap  lingkungann ya  sep anjan g  waktu. 
Setiap  organisasi  selalu  memiliki  strategi  yang  menghubungkan  sumber  daya 
manusia  dan  berbagai  sumber  daya  lainnya.  Strategi  dijadikan sebagai  sebuah 
  
pedoman  dan  pengarahan  yang  digunakan  untuk  mencapai  suatu  tujuan.  Hal 
ini  juga  berlaku  pada  bidang  penyiaran.  Semu a  kegiatan  penyiaran  selalu 
dilakukan  melalui  tahapan  dan  proses  pelaksanaan  yang  sudah  ditentukan, 
sehingga suatu program dapat tercipta dan layak untuk disiarkan. 
Dalam memproduksi sebuah program televisi juga dibutuhkan keahlian 
dalam  men yusun  strategi  atau  disebut  juga  manajemen  strategis  (Morissan, 
2011: 273), baik dalam tahapan produksi maupun  strategi penyusunan tim atau 
kru produksi. Terlepas dari masalah teknis atau non teknis, apakah kita bekerja 
dengan  kru  yang  ban yak  atau  men gerjak annya  sendiri,  dalam  memproduksi 
sebuah  program  televisi,  kita  harus  melalui  tiga  tahap,  yaitu  p ra  p rod uksi, 
produksi, dan pascaproduksi (Zettl, 2009: 4). 
2.2.1.1 Tahap Pra Produksi
Proses pra produksi merupakan tahapan  yang dilalui sebelum kegiatan 
produksi  progr am  televisi  berlangsung.  Segala  persiapan  dan  penyusunan 
program  terjadi  di  tahap ini.  Tanpa melalui  tahap ini  maka kegiatan produksi 
tidak  akan terlaksana. Ada tiga tahapan utama  yang terdapat dalam proses pra 
produksi,  yaitu: 
Pertama  adalah  tahap  penemuan  ide.  Ide  atau  gagasan  tersebut
ditemukan  oleh  seorang  produser,  dimana  ide  tersebut  akan  dilanjutkan  ke 
tahapan selanjutnya. 
Kedua  adalah  tahap  perencanaan.  Disini  perencanaan  harus  dibuat
secara  teliti  dan  hati-hati,  sehingga  perlu  mengadakan  meeting  bersama 
kru 
produksi.  Diskusi  dengan  beberapa  kru  yang  terlibat  dalam  produksi  siaran 
televisi  merupakan  tahap  awal  dalam  pra  produksi.  Diskusi  ini  dilakukan 
untuk membicarakan perencanaan agar proses produksi dapat berjalan dengan 
lancar.  Dalam  tahap  in i,  terdapat  beberapa  kegiatan  perencanaan  seperti 
pembuatan  konsep  pro gram,  pembagian  job  desk  masing-masing  kru,  dan 
shooting schedule. 
Konsep sebu ah program  berawal dari sebuah  gagasan, dimana sebuah 
program  produksi  dapat  tercipta  dari  orang-orang  yang  memiliki  sebuah  ide 
atau  gagasan.  Pada  tahap  pembuatan  konsep,  seorang  produser  harus 
menentukan  program  seperti  apa  yang  ingin  dibuat,  karakteristik  atau 
  
perwatakan si  presenter, dan  alur  program di  setiap  segmennya  dalam  bentuk 
rundown.  Setelah  proses  perancan gan  konsep  jadi,  barulah  dibuat  sebuah 
proposal  atau  yang  biasa  disebut  dengan  desain  produksi.  Dalam  desain 
produksi,  tidak  hanya  terdapat  rancangan  konsep  program,  tetapi  juga 
terdapat tujuan program dan sasaran  yang ingin dicapai.
Setelah  rancangan  tersebut  selesai,  barulah  dikembangkan  konsep 
tersebut  den gan  pembuatan  skenario  dan  perancangan  adegan  per-adegan. 
Rancangan  ide  dan  gagasan  skenario  serta  adegan  sulit  untuk  digambarkan 
melalui  tulisan,  sehingga  tenaga  illustrator  dibutuhkan  didalam tim produksi 
untuk  membuat  storyboard  dan  layout  sebagai  gambaran  alur  program  di 
setiap segmennya. 
Selanjutnya pada tahap  ini, setiap kru  diberikan  pembagian  tugas atau 
job  desk  sesuai  dengan  keperluan  produksi.  Pada  dasarn ya,  proses  produksi 
membutuhkan  sejumlah  orang  yang  bekerja  bersama-sama  sebagai  sebuah 
tim  yang disebut dengan tim produksi. Tim produksi adalah orang-orang yang 
membantu berjalannya sebuah produksi.
Pra  produksi  dilakukan  dengan melalui  sejumlah  tahapan diantaranya 
(Rahmawati & Rusnandi, 2011: 63-82): 
1.  Meeting bersama kru produksi 
Diskusi  ini  dilakukan  biasanya  dengan  kru  produksi,  selain  itu  juga 
dengan Art  Director  atau  Penata  Artistik,  karena  seorang  penata  artistik 
akan  memberikan  masukan  serta  gagasan  set  yang  akan  diban gun. 
Sutradara juga berdiskusi dengan penata  kamera  atau D.O.P (Director of 
Photography)  untuk  menentukan  komposisi,  angle,  camera  movement 
pada saat produksi berlangsung. 
2.  Shooting Schedule 
Penjadwalan shooting dilakukan  setelah sutradara melakukan breakdown 
script, dalam hal ini sutradara biasan ya dibantu oleh assisten sutradara. 
3.  Penetapan Ide Cerita 
Penggalian  fakta  terhadap  setting  cerita  dan  karakte
harus  diperhatikan 
sebelum  produksi  dilakukan.  Selain  itu  penggalia
pemahaman  dan 
pengetahuan terhad ap informasi yang sudah ad a jug
  
4.  Pembuatan Skenario 
Pembuatan  skenario,  meskipun  lazimnya  dilakukan  dalam  proses 
produksi  film  komersial,  namun  dapat  diadaptasi  untuk  proses 
pembuatan produk audio-visual lainnya den gan penyesuaian seperlunya. 
5.  Pembuatan Storyboard dan Layout 
Storyboard  adalah  rangkaian  gambar  ilustrasi  yan g  berusaha 
menjelaskan  bahasa  tulisan  skenario  ke  dalam  bahasa  visual.  Adegan 
demi  adegan  cerita  yang  sebelumn ya  telah  dirumuskan  dalam  bentuk 
kata-kata,  dibuat  dalam  bentuk  gambaran  visual  yang  semirip  mungkin 
sehingga terbentuk sebuah ilustrasi pada saat pengambilan gambar. 
Layout  adalah  bentuk  lanjutan  dan  terakhir  dari  kegiatan  pra  produksi. 
Gambar- gambar  yang  ada  di  storyboard  dirangkai  dalam  suatu  kegiatan
editing video, sesuai sken ario.
6.  Membuat dan Mengajukan Budget 
Seorang  produser  harus  membuat  dan  mengajukan  proposal  rencana 
anggaran  biaya  produksi  program  yang  akan  dikerjakan  oleh  pihak 
produksi.  Hal ini  bertujuan  untuk  menunjang proses  produksi agar dapat 
berjalan dengan lancar d an sesuai den gan yang diinginkan.  
7.  Survei Lok asi 
Memilih  dan  mencari  lokasi pengambilan  gambar sesuai  dengan  naskah. 
Pemilihan  lokasi  ini  biasanya  dilakukan  agar  apa  yang  telah  disusun 
dalam  skenario  dapat  terwujud  semirip  mungkin  dan  dapat 
menggambarkan apa  yang ada di dalam naskah. 
8.  Mempersiapkan Talent, Properti, dan Kostum 
Kostum  dibutuhkan  agar  tokoh  cerita  dap
sesuai  dengan  penokohan 
yang  telah   disusun  dalam  naskah.  Proper
dibutuhkan  untuk 
mendapatkan  hasil  vid eo  yang  baik  da
berkualitas,  juga  untuk 
mendukung  latar  yang  telah  ditentuka
Talent  adalah  individu-individu 
yang  dapat  memerankan  tokoh  yang  tela
  
  
2.2.1.2 Tahap Produksi
Proses  produksi  merupakan  tahap  pengambilan  gambar.  Kegiatan  ini 
disebut  juga  dengan  shooting.  Tahap  produksi  dapat  dilakukan  di  dalam 
studio maupun diluar studio. 
Dalam  proses  produksi  dikenal  dua  istilah,  yaitu  live  dan  tapping. 
Produksi  live  merupakan  kegiatan  terakhir  dalam  tahap  pembuatan  sebuah 
program.  Karena  program  tersebut  disiarkan  secara  lan gsung  sehingga  tidak 
dapat  diulang.  Sedangkan  produksi  tapping  merupakan  kegiatan  pembuatan 
program  yang  dibantu  dengan  alat  perekam  dan  tidak  disiarkan  secara 
langsung, sehingga pada proses pengambilan gambar  masih  dapat mengulang 
kesalahan adegan. 
Berlangsungnya  proses  produksi  san gat  bergantung  pada  tim 
produksi.  Selain  itu  proses  produksi  program  televisi  juga  ber gantung  pada 
seseorang  atau  beberapa  orang  yang  mejadi  talent  atau  host  untuk  memandu 
jalannya  acara.  Serta  melibatkan  juga  beberapa  narasumber  untuk  beberapa 
program acara seperti talkshow dan program diskusi lainnya. 
Proses produksi  sangat terpaku  pada peralatan  yang digunakan  dalam 
pembuatan  sebuah  program  televisi.  Peralatan  yang  digunakan  untuk 
produksi  acara  TV  di  studio  dan  diluar  studio  memiliki  sedikit  perbedaan. 
Karena,  tidak semua  peralatan  yang  digunakan saat  produksi  didalam  studio, 
digunakan juga pada saat produksi diluar studio. 
Dalam  pelaksanaan  produksi,  tim  produksi  bertugas  membuat 
perencanaan  ide,  gagasan,  dan  konsep  menjadi  sebuah  gambar  yang  layak 
untuk  ditonton.  Maka  dari  itu,  diperlukan  penentuan  jenis  shoot  yang  akan 
diambil dalam tiap adegannya. 
2.2.1.3 Tahap Pasca Produksi
Tahap  ini  merupakan  tahapan  terakhir  dalam  proses  produksi  sebuah 
program  televisi.  Dalam  proses  pasca  produksi  terdapat  beberpa  tahap 
sebelum  akhirnya menjadi  sebuah  tayangan  yang layak  untuk  disiapkan. Ada 
  
dua  tahapanya  yaitu:  proses  editing  dan  evaluasi.  Proses  editing  masa  kini 
berbeda  dengan  proses  editing  dulu.  Kini  proses  editing  menggunakan 
teknologi  digital  dimana  proses  editing  yan g  dilakukan  lebih  mudah  dan 
efisien. Berbeda dengan sistem editing analog yang lebih rumit.  
  Sebelum  proses  editing  video  secara  digital  dimulai,  terdapat  tahap 
capturing.  Tahap  captu ring  merupakan  kegiatan  mentransfer  audio  visual 
yang  terekam  dalam  kaset  digital  kedalam  komputer.  Sehingga  materi  yang 
nanti akan masuk kedalam editing sudah dalam bentuk file.
  Setelah  seluruh  materi  yang  akan  digunakan  selesai  dipindahkan, 
barulah  proses  editing  dapat  dilakukan.  Proses  editing  merupakan  kegiatan 
penyusunan  dan  perangkaian  seluruh  materi  hasil  syuting  sehingga  menjadi 
sebuah  produk  akhir  (product  final)  yang  layak  dan  siap  untuk  ditayangkan. 
Orang  yang  mengerjakan  tahap  ini  disebut  sebagai  seorang  editor 
(Fachruddin,  2012:  394). .  Dalam  tahap  editing,  terdapat  tiga  langkah  utama, 
yaitu editing offline, editing online, dan mixing. 
  Editing offline  disebut  juga dengan  editing kasar,  dimana materi  hasil 
syuting  langsung  dipilih  dan  disusun  menjadi  sebuah  ran gk aian  cerita  sesuai 
dengan  rundown.  Selanjutnya  dilakukan  proses  screening,  dimana  bahan 
yang  sudah  diproses  didalam  editing  offline  diperiksa  kembali,  sehingga 
apabila  masih  ada  gamb ar  yang  ingin  ditambah  dan  dikurangi  masih  dapat 
dilakukan. 
  Setelah  tahap  editing  offline  selesai  dilakukan,   selanjutnya  masuk 
kedalam tahap editing online. editing online merupakan penyempurnaan  hasil 
editing  offline.  editing  online  biasanya  dilakukan  sekaligus  dengan  proses 
mixing.  Dimana pada tahap  ini, editor  memasukkan musik, efek  gambar,  dan 
suara  seperti  sound  effect  serta  rekaman  narasi  atau  dubbing  yang 
diselaraskan dengan gambar.
2.2.2 Konsep Program Features
Features pengertiannya  sama  dengan softnews, demikian dengan cara
membuatnya  tidak  berbeda  jauh  denan  membuat  berita  telivisi.  Namun 
karena  features  bukan  informasi  yan g  harus  cepat  disajikan  agar  tidak  basi 
  
informasinya,  mak a  Membuat  features  sangat  flesksibel  sesuai  dengan 
kebutuhan.  
Features  memiliki  pengertian  juga suatu  jenis  Berita  yang  membahas
satu  pokok Bahasan,  satu  tema  yang diungkapkan lewat  berbagai  pandangan 
yang  saling  melengkapi,  mengurai,  menyoroti  secara  kritis  dan  disajikan 
dengan  berbagai  kreasi.  Kreasi  yan g  dimaksudkan adalah  narasi  wawancara, 
vox  pop, music,sisipan puisi-puisi, bahkankadang  ada sandiwara pend ek atau 
fragmen yang dipandu seorang pembawa acara (host). 
Pen yajian  features  bobot  informasinya  ringan ,  dalam  arti  tidak 
langsung  pada  pokok  persoalan  (straight  news).  Pemaparan  bahasanya 
bertutur  dan  sifat  laporannya  investigasi  maka  features  bisa  disebut  juga 
bagian  dari liputan  mendalam. Features  adalah  gabungan  antara unsur  opini, 
dokumenter, dan ekspresi.  
Features merupakan  reportase yang dikemas lebih  mendalam  dan luas
disertai  sedikit  kebutuhan  aspek  human  interest  agar  memiliki  dramatika. 
Features  di  televisi  memiliki  pengaruh   yang  sangat  dalam  bagi  pemirsa, 
karena  dapat  dilihat  secara  fisik  tanpa  narasi  pajang.  Gambar  dan  atmosfer 
yang  terekam  dalam  kamera  lebih  memberikan  gamabaran  sesungguhnya. 
Ciri  features  televisi  lebih  luwes  p endekatannya  dibandingkan  dengan
hardnews.  Struktur  features tidak  terikat dengan  bentuk  piramida terbalik,  di 
mana  pokok  pikiran  utama  bisa  disajikan  di  tengah  atau  akhir,  karena 
kesimpulan  cerita  bisa  saja  tercapai  sebelum  cerita  itu  berakhir  (Fachruddin, 
2012 : 222-228)
Dengan demikian, program features  dapat diartikan sebagai dasar  dari 
sesautu paket program televisi. Hal ini terjadi karena: 
1.  Perencanaan,  Pra-Produksi,  Produksi  hingga  finishing  (kecuali 
editing)  dapat  dikerjakan  oleh  seorang  produser   /  reporter  dan  juru 
kamera 
2.  Tidak  memerlukan  peralatan  yan g  ban yak  karena  SDM  hanya  dua 
orang sehingga sangat efisien dan efektif  
3.  Kemurnian  materi  cerita  /    realita  atau  fakta  menjadi  Bahasan  cerita 
sehingga ada manipulasi makna dan tujuan program  
  
2.2.2.1 Karakteristik Program Features 
Program  features  kadang  syarat  dengan  kadar  keilmuan,  hanya 
pengolahannya  secara  popular,  sehingga  nyaman  disimak  dan  menghibur. 
“Cerita  features  adalah  pengemasan  informasi  yang  kreatif,  kadang-kadang 
subjektif,  yang  terutama  dimaksudkan  untuk  Membuat  senang  dan  memberi 
informasi  kepada  pemirsa  tentang  suatu  kejadian,  keadaan  atau  aspek 
kehidupan. Berikut karakteristik program features yang akan diproduksi: 
a.  Kreativitas (creative)  
Berbeda  dari  Berita  (hardnews),  features  memungkinkan 
jurnalis  menciptakan  sebuah cerita.  Cerita  features  dicitrakan sebagai 
cerminan  karya  kreatif  individual  seorang  jurnalis.  Meskipun  masih 
diikat etika bahwa  features  harus akurat,  karangan fiktif  dan khayalan 
tidak  diperbolehkan. Jurnalis  bisa  mencari  features  dalam  pikirannya, 
kemudian  setelah  mengadakan  penelitian  terhadap  gagasann ya  itu,  ia 
bisa memulai memproduksi secara b ertah ap.  
b.  Informatif 
Features  bisa  memberikan  informasi  kepad a  Masyarakat 
mengenai  situasi  atau  aspek  kehidupan  yang  mungkin  diabaikan 
dalam kemasan informasi si berita hardnews.  
Aspek  informatif  mengenai  program  features  bisa  juga  dalam 
bentuk lain.  Features bisa menjadi alat  yang ampuh sebagai pembawa 
pesan moral  tertentu yang ingin  disampaikan  kepada  pemirsa. Seperti 
nilai-nilai  kejujuran,  kesetiaan,  sikap  tulus  tanpa  pamrih, 
pengorbanan,  kegigihan  suatu  perjuanga,  kebersihan  hati,  keluhuran 
budi,  pengabdian,  dan  cinta  kasih.  Features  bisa  men ggelitik  hati 
sanubari manuasia untuk menciptakan perubahan yang konstruktif. 
c.  Menghibur (Entertainment) 
Dalam  persaingan  program  televisi  yang  sangat  ketat  saat  ini, 
features  menjadi  alternatif  untuk  meng-counter  program  sinetron, 
reality  show,  dan  sebagainya,  karena  memiliki  segmentasi  audiensi 
yang  berbeda.  Bagi  stasiun  televisi,  menayangkan  features 
membutuhkan  biaya  yang  relatif  terjangkau,  namun  menghadirkan 
sentuhan perasaan manusia. 
  
10 
d.  Awet (Timeless) 
Berita  (hardnews)  mudah  sekali  “punah”  dimakan  waktu, 
tetapi  features  bisa  ditayangkan  kapan  saja  bahkan  berkali-kali 
disiarkan pun masih tetap menarik perhatian pemirsa.  
e.  Subjektivitas 
Beberapa  features  ditulis  dalam  bentuk  “aku ”,  sehingga 
memungkinkan  pada  program  features  jurnali
memasukkan  emosi 
dan pikirannya sendiri.  
2.2.2.2 Fungsi Program Features Televisi  
Dengan  kedudukan  yang  terbukti  sangat  penting    (berdasarkan  data  / 
realita  pada  rating  features  distasiun  televisi),  maka  fungsi  program  features 
televisi mencakup lima hal berikut:  
1.  Sebagai  pelengkap  sekaligus  variasi  program  berita.  Tanpa 
features,  program  berita  terkesan  monoton,  harus  ada  strategi 
menjaga  kesin ambungan  pemirsa  untuk  tetap  menonton  berita 
secar a  utuh.  Dalam  jurnalistik  tidak  semata-mata  suatu 
keterampilan,  jurnalistik  sekaligus juga  seni.  Pada seni  terkandun g 
proses kreatif yang memiliki daya tarik dan menggoda.
2.  Memberikan  informasi  tentang  suatu  situasi,  keadaan  atau 
peristiwa  yang  telah  terjadi  dari  perspektif  jurnalis  dengan 
pendekatan  human interest yang dominan. Informasi yang disajikan 
berita  sangat  formal  dan  hanya  menunjuk  pada  hal-hal  yang 
sifatnya  penting  sekali.  Adapun  features  sebalikn ya,  serpihan 
informasi  ringan,  unik,  menyentuh  perasaan,  dan  terperinci  yan g 
belum  teran gkut  pada  program  menjadi  materi  berharga  dalam 
kisah  jurnalistik  (features)  yan g  b erbobot  karena  pemirsa  televisi 
membutuhkan informasi tersebut.   
3.  Memberikan  hiburan  atau  saran  rekreasi  (yang hadir  di  layar kaca) 
dan  pengembangan  imajinasi  yang  menyenan gkan  (pemirsa  -
enjoy).  Fungsi  menghibur  (to  entertain)  senantiasa  melekat  pada 
setiap  Bentuk  media.  Hampir  80%  media  elektronik  televisi 
memanjakan  pemirsanya  dengan  pro gram  yang  sifatnya
  
11 
menghibur. Fungsi menghibur tak pernah terpisahkan  bagaikan dua 
sisi  mata  uang.  Pemirsa  membutuhkan  program    televisi  karena 
terdesak  akan  hiburan  untuk  mengembangkan  imajinasi  bagi 
keseimbangan kejiwaannya dalam segala tingkatan usia. 
4.  Sebagai  wahana  pemberi  nilai  dan  makna  terhadap  suata  keadaan 
atau  peristiwa  unik  yang  terlewatkan  atau  belum  diketahui  secara 
luas.  
5.  Sebagai  saran a  ekspresi  yang  paling  efektif  dalam  memengaruhi 
pemirsa televisi.  
2.2.3  Teknik Pengambilan Gambar
Setelah  memahami  kon sep  sebuah  pro gram  fea tures  maka  seorang 
cameraperson  dapat  melaksanak an  tugas-tugasnya  d engan  baik  dengan 
menggabungkan  berbagai  unsur  dan  elemen   dalam  video grafi  untuk 
membentuk  gambar  yang  baik.  Banyak  unsur   yang  h arus  diperhatikan 
seorang  cameraperson,  seperti  ukuran  gambar,  sudut  pengambilan  gambar, 
komposisi gambar, kesinambungan gambar, dan lainnya.
Pada  tahapan  pra-produksi,  kameramen  akan 
berunding  dan  bertukar 
pikiran  dengan  produser  mengenai  konsep  episode  dan  gambar-gambar  apa 
saja  yang  diinginkan  oleh  produser  untuk  dapat  memvisualisasikan  pesan 
yang  ingin  disampaikan  oleh   produser.  Cameraperson  juga  akan 
mendiskusikan  gambar-gambar  apa  saja  yang  perlu  diambil  dan  dari  sudut 
apa. 
Seorang  kameramen  ak an  berperan  paling  dominan  dalam  proses 
produksi  dimana  dilaksanakan  proses  shooting.  Ia  harus  menerapkan  hasil 
diskusi  dengan  p roduser   tersebut  dalam  pelaksanaan  proses  shooting.  Hal 
pertama  yang  harus  dilakukan  ad alah  mengatur   pengaturan  dalam  kamera 
agar sesuai dengan lokasi shooting.  
Pengertian  atas  pegambilan  gambar  dari  sebuah  shoot  atau  ukuran 
gambar  sangat  berpengaruh  pada  cara  sutradara  mengarahkan  juru  kamera 
untuk  mengambil  gambar-gambar  yang  dibutuhkan.  Adapun  sutradara 
televisi  berpen garuh  memberi  komando  penyutradaraan  kepada  seluruh  kru 
produksi baik di studio atau luar studio. 
  
12 
Persiapan  yan g  harus  dilakukan  sebelum  perekaman  gambar  adalah 
pastikan objek dalam keadaan : 
1.  Fokus (gambar harus tajam tidak blur) 
2.  Irish (teraang tampak alamiah) 
3.  Shot size (ukuran gambar) 
4.  Komposisi gambar 
5.  Stabil tidak goyang 
6.  Gerakan kamera kalau diperlukan 
7.  Continuity (kesinambungan gambar) 
8.  Motivasi atau alasan yang kuat 
Dalam  bahasa  visual,  dasar-dasar  pembingkaian  gambar  dikenal
dengan  the  grammar  of  the  shot  oleh  Roy  Thomson  dalam  buku  Naratama. 
Masih  dalam  buku  Naratama,  Desi  K.  Bognar  menyatakan Shoot adalah “the 
single  continous  take  by  the  camera  in  one  set  up”.  Dengan  kata  lain  shoot 
merupakan  bagian  dari  rangkaian  gambar  yang  b egitu  panjang,  yang  hanya 
direkam dengan satu take saja. 
Diki  Umbara  menyatakan  teknik  pengambilan  gambar  merupakan 
teknik  mengumpulkan   materi  untuk  membangun  suatu  cerita.  Maka  dari 
teknik  ini  harus  sangat  diperhatikan  oleh  kameran  dalam  proses  shooting. 
Beberapa  hal  teknis  seperti  cara  pengambilan  tipe  shot,  komposisi  gambar, 
sudut  pengambilan  gambar,  pergerakan  kamera,  membangun  sequence,  dan 
garis imajiner harus dipahami oleh seorang cameraperson guna menghasilkan 
gambar  yan g  baik  dan  juga  memiliki  rasa  seni  yang  tinggi.  (Diki  Umbara, 
2009:88-89) 
Maka  dari  itu,  selanjutnya  akan  dibahas  unsur-unsur  yang  harus 
dipahami  lebih  dalam 
oleh  cameraperson  dalam  proses  shooting.  Unsur-
unsur  ini  dijelaskan  oleh  Andi  Fachruddin  dalam  bukunya  Dasar-Dasar 
Produksi Televisi. 
2.2.3.1 Ukuran Gambar
Dalam  pengambilan  gambar,  kita  harus  mengetahui  terlebih  dahulu 
bentuk  gambar yan g  ingin kita  ambil.  Pengambilan  gambar akan  membentuk 
gambaran subjek di pikiran masyarakat.  
  
13 
1.  Extreme long shot (ELS) :  ukuran gambar ELS merupakan kekuatan yang 
ingin  menetapkan  suatu  (peristiwa,  pemandangan)  yang  sangat-sangat 
jauh  dan  panjang  dan  luas  berdimensi  lebar.  Biasa  digunakan  untuk 
komposisi gambar indah pada sebuah panorama. 
2.  Very  Long  Shot  (VLS)  :  gambar-gambar  opening  scene  atau  bridging 
scene  dimana  permisa  divisualkan  adegan  kolosal, kota  metropolitan  dan 
sebagaainya.  Posisi  kamera  diletakkan  beragam  seperti  top  angle  dari 
helikopter,  menggunakan  crane  atau  jimmy  jib.  Tidak  cocok  dengan
handheld atau dipanggul di bahu.
3.  Long  shot  (LS)  :  k eseluruhan  gamb aran  d ari  po kok  materi  dilihat  dari 
kepala  ke  kaki  atau  gambar  manusia  sepenuhnya.  Dikenal  dengan 
landscape format.
4.  Medium  Long  Shot  (MLS)  :  memotong  pokok  materi  dari  lutut  sampai 
puncak kepala pokok materi. Dari Long  Shot ditarik  garis imajiner  lalu di 
zoom  in  sehingga  lebih  padat  dan  menjadi  MLS.  Angle  ini  dipak ai  untuk 
memperkaya keindahan gambar.
5.  Medium  Shot  (MS)  :  gambar  dari  pinggul  pokok  materi  sampai  pada 
kepala  pokok  materi.  Komposisi  gambar  terbaik  untuk  wawancara. 
Pemirsa dapat melihat dengan jelas ekspresi dan emosi. 
6.  Middle  Close Up  (MCU) : dari dada pokok  materi  sampai puncak kepala. 
Potret  setengah  badan  dengan  keleluasaan  background  yang  masih  bisa 
dinikmati.  Memperdalam  gambar  dengan  menunjukkan  profil  dari  objek 
yang direkam. 
7.  Close  Up  (CU)  :  sudut  ini  meliput  wajah  yang  keseluruhan  dari  pokok 
materi.  Objek  menjadi  titik  perhatian  utama  dalam  pengambilan  gambar 
dan latar belakan g  han ya terlihat  sedikit.  Fokus  kepada  wajah, digunakan 
sebagai  komposisi gambar  yang paling baik untuk  menggambarkan  emosi 
atau reaksi seseorang. 
8.  Big  Close  Up  (BCU)  :  lebih  tajam  dari  Close  Up,  mampu 
mengungkapkan  kedalaman  pandangan  mata,  kebencian  raut  muka  dan 
emosional  wajah.  Tanpa  intonasi/narasi,  Big  Close  Up  sudah  bisa 
mewujudkan arti reaksi spontanitas atau refleks seseorang. 
9.  Extreme  Close  Up   (ECU)  :  kekuataann ya  ada  pada  kedekatan  dan 
ketajaman  yang  hanya  fokus  pada  satu  objek.  Sering  digunakan  untuk 
  
14 
memperhebat  emosi  dari  suatu  pertunjukkan  musik  ata
situasi  yang 
dramatis.  Kesulitannya  adalah  dalam  menciptakan  dept
of  field,  karena 
jarak objek dan jangkauan lensa kamera terlalu dekat. 
2.2.3.2 Sudut Pengambilan Gambar
Seorang  kameramen  juga  harus  memahami  sudut  pengambilan 
gambar  pada kamera  kar ena  hal  ini sangat  vital.  Beda  sudut pengambilan 
maka makna yang dihasilkan pun akan beda juga.  
Sudut  pengambilan  gambar    merupakan  aspek  penting  untuk 
membentuk  gambaran  sebuah  subjek.  Beberapa  pilihan  dalam  sudut 
pengambilan gambar adalah 
1.  High  angle,  adalah  pengambilan  gambar  d engan  meletakkan 
tinggi  kamera di atas  objek/garis mata orang. Kesan  yang  ingin 
disampaikan objek tampak seperti tertekan atau imperior. 
2.  Eye  level  (normal),  dimana  tinggi  kamera  sejajar  dengan  garis 
mata  objek  yang  dituju.  Kesan  yang  disajikan  kewajaran, 
kesetaraan  dan  sederajat.  Tidak  ada  inntervensi  khusus  yang 
terlihat pada subjek.  
3.  Low  Angle,  adalah    pengambilan  gambar  dengan  meletakkan 
tinggi  kamera  di  bawah  objek  atau  garis  mat
orang.  Objek 
akan tampak berwibawa, dominan, menekan dan superior
2.2.3.3 Komposisi Gambar
Komposisi  adalah pengaturan / penataan  dan  penempatan unsur-unsur 
gambar  ke  dalam  frame  /bingkai  gambar.  Komposisi  sangat  erat  kaitannya 
dengan  rasa  seni, p erasaan  dan  ekspresi  seseoran g.  Komposisi  gambar  harus 
memerhatikan  faktor  keseimbangan,  keindahan,  ruang  dan  warna dari  unsur-
unsur  gambar  serta  daya  tarik  tersendiri.  Unsur-unsur  gambar  dalam 
komposisi : tokoh/manusia  (obyek)  termasuk  perlengkapan  kostum  dan make 
up; lokasi gedung, dekorasi dan properti; warna, cahaya, dan lainnya. 
  
15 
Framing  merupakan penempatan  unsur-unsur  gambar  ke d alam frame
yang  b ertujuan  menempatkan  objek  pada  komposisi  yang  baik,  serta 
terpenuhinya unsur keseimbangan frame kiri dan kanan, atas dan bawah. 
1.  Trianggulasi 
Pusat  perhatian  ditempatkan  pada  puncak  suatu  segitiga.  Bagian-
bagian  lainnya  ditempatkan  pada  pangkal  dasar  suatu  koomposisi. 
Keseimbangan  sisi  kiri  dan  kanan   objek  serta  atas  dengan  background 
yang mengesankan objek menjadi elegan dan enak dipandang. 
2.  The rule of thirds (The golden mean)
Pedoman  dalam  penempatan  unsur-unsur  gambar  dalam  frame  yang 
dibagi  atas  tiga  bagian  secara  vertikal  dan  tiga  bagian  secara  horizontal. 
Perpotongan  garis  v ertikal  dan  horizontal  merupakan  titik  perhatian 
pemirsa  dalam  menyaksikan  suatu  adegan.  Interest  point  of  object  (pusat 
perhatian) sebaiknya ditempatkan pada titik-titik perpotongan tersebut. 
3.  Walking room (lead room)
Ruang  yang  menunjukkan  arah  jalan  objek  sampai  tepi  frame,  ruang 
depan  lebih  luas  dua  kali  dibanding  ruang  belakang  (30-50%).  Teknik 
pengambilan  gamb ar  dengan  memberikan  sisa  jarak  ketika  seseoran g 
bergerak  ke  arah  tertentu.  Tanpa  memperhatikan  walking  room,  objek 
gambar orang akan tampak terhalangi  atau terhenti di layar televisi. 
4.  Looking room/ nose room
Jarak pandan g objek ke depan dengan  perbandingan dua  bagian  depan 
satu  bagian  belakang  ( 30-50%).  Ketika  objek  gambar  melihat  atau 
menunjuk  ke  suatu  arah,  harus  tersedia  ruang  kosong  p ada  arah  yan g 
dituju.  Pengambilan  gambar tanpa  looking room  akan terlihat janggal dan 
tidak seimbang. 
5.  Head room
Teknik  pen gambilan  gambar  ini,  ruang  dari  atas  kepala  sampai  tepi 
atas  frame,  ruang  bagian  ini  sepermpat  dari  kepala  objek.  Ruang  kosong 
yang  berada  di  atas  kepala  harus  seimbang  dengan  tepi  layar  televisi. 
Namun  kalau  kebanyakan,  maka  gambar  tampak  tidak  seimbang  dan 
objek  tampak  tenggelam  di  layar  televisi,  gambar  akan  tidak  n yaman 
dilihat. 
6.  Aerial Shot
  
16 
Pengambilan  gambar  daratan  dari  udara  dengan  meletakkan  posisi 
kamera  pad a  pesawat  udara.  Fungsi  pengambilan  gambar  ini  untuk 
melihat suasana di bawah daratan secara menyeluruh dan leluasa.  
7.  Over the shoulder shot
Kamera  berada  di  salah  satu  pelaku,  di  belakang  objek  yan g 
membelakangi  dan  tampak  di  dalam  frame.  Sementara  objek utama lebih 
difokuskan  tampak  menghadap  kamera  den gan  latar  depan  bahu  lawan 
main. 
8.  Establishing shot
Pengambilan  gambar  yang menampilkan  keseluruhan objek  ditambah 
dengan ruan g  di sekitarnya  sebagai pemandangan  atau  suatu tempat untuk 
memberi  orientasi  dimana  peristiwa  atau  bagimana  kondisi  adegan  itu 
terjadi. 
9.  Point of view
Teknik  pengambilan gambar  yang menghasilkan arah pandang pelaku 
atau objek utama dalam frame. 
10. Canted shot
Kamera dalam posisi miring ke kiri atau kanan dengan statis, sehingga 
menggambarkan  frame  menjadi  diagonal  dengan  kesan  atraktif  objek 
yang  dituju. Biasanya  digunakan  pada  tayangan  MTV,  saat  opening  oleh 
presenter. 
11. Crazy shot
Menggerakan  k amera  ke  kiri  dan  kanan  secara  dinamis.  Tidak  lazim 
pada  program  formal dan normal.  Jenis ini  sering digun akan  sebagai cara 
untuk  menggairahkan  gambar  yang  disesuaikan  d engan  ritmen ya.  Sering 
digunakan dalam proses pembuatan video klip. 
12. Subjective shot dan objective shot 
Teknik  pengambilan  gambar  yang  secara  psikologis  melibatkan 
penonton sebagai pelaku dalam scene tersebut. 
13. Type of shot 
Produksi  program  televisi  yang  akan  disesuaikan  dengan  format 
program  yang  telah  ditetapkan  sbelumn ya.  Hal  ini  akan  mempermudah 
proses  penyampaian  pesan,  menghibur  dan  memberikan   makna  yang 
  
17 
afektif pada  pemirsa televisi,  sehingga tipe  pen gambilan  gambar  menjadi 
dasar pembuatan program acara tv adalah sebagai berikut : 
a.  Simple shot 
Proses  pengambilan  gambar  yang  men ggunakan  pengambilan 
statis,  tanpa  pergerakan  dengan  cut  to  cut. Biasanya  digunakan  untuk 
merekam penyiar berita.  
b.  Complex shot  
Proses  yang  bervariasi  dengan  kombinasi  antara  statis  dengan 
pergerakan  lensa,  sehingga  menghasilkan  komposisi  gambar  yang 
indah  dan  enak  ditonton.  Biasanya  digunakan d alam  program  fashion 
show, kuis, dan lainnya.  
c.  Developing shot 
Proses  dengan   menggunakan  seluruh  pergerakan  kamera 
dengan berbagai angle, sehingga terbentuk pen gambilan  gambar  yang 
dramatis. 
14. Object in frame
Pengambilan  gambar  or ang  oleh  kamera  dalam  satu  frame  dengan 
mengabaikan  shot  size  orang  tersebut.    Pengambilan  gambar  ini  dibagi 
atas  one  shot,  two  shot,  three  shot,  group  shot.  One  Shot  adalah  dimana 
hanya  terdapat  satu  oran g  dalam  sebuah  frame.  Two  Shot  saat  merekam 
dua  oran g  dalam  satu  frame.  Three  Shot  adalah  adanya  tiga  orang  yan g 
berada  dalam  satu  frame  dalam  proses  perekaman  gambar.  Group  Shot 
adalah  proses  perekaman  gambar  dimana  ada  sekelompok  orang  yan g 
berjumlah dari tiga yang berada dalam satu frame.   
2.2.3.4 Pergerakan Kamera
Untuk  dapat  membuat  sebuah  gambar  bercerita  dengan  baik,  maka 
kameramen juga harus  memahami tentan g  pergerakan kamera.  Hal ini supaya 
gambar  memiliki  efek  yang  tepat untuk  menggambarkan  tentang  pesan  yang 
ingin  disampaikan.  Beberapa  jenis  pergerakan  kamera  menurut  Andi 
Fachruddin adalah : 
  
18 
1.  Crub/truck 
Pergerakan  seluruh  badan kamera secara  horizontal ke kiri  dan  kanan 
dengan  sasaran  menunjukkan  keberadaan  objek  agar  mempertahankan 
komposisi awal dan menunjukkan perubahan latar belakang. 
2.  Swing 
Pergerakan  seluruh  badan  kamera  ke kiri dan kanan  membentuk  oval, 
tujuann ya  adalah  untuk  menunjukkan  keb eradaan  objek  dengan 
mempertahankan komposisi awal. 
3.  Zoom in and out
Zoom in dimana lensa pada kamera bergerak maju untuk mendapatkan
gambar  objek  yang  lebih  besar.  Zoom  out  saat  lena  kamera  bergerak 
mundur  agar  gambar  melebar  dan  objek  tampak  menjauhkan  obyek  dari 
close up ke  long shot.
4.  Pan left and right
Panning  adalah  gerakan  kamera  menyamping.  Pan  left  saat  kamera
bergerak  memutar  ke  kiri  dan  pan  right  adalah  saat  kamera  bergerak 
memutar ke kanan. 
5.  Tilt up and down
Pergerakan  kamera  secara  vertikal  saat  mengambil  gambar.  Kamera 
bergerak ke atas saat tilt up dan kamera bergerak ke bawah saat tilt down. 
2.2.3.5 Kesinambungan Gambar
Continuity  adalah  teknik  penggabungan  dan  pemotongan  gambar
untuk  mengikuti  suatu  aksi  melalui  satu  patokan  tertentu.  Contohnya  seperti 
gambar  seseorang  yan g  sedang  memandang  ke  arah  sisi  layar  televisi 
dilanjutkan  dengan  gambar  yang memperlihatkan  objek  apa  yang  dilihat  oleh 
orang tersebut. 
Kesinambungan  gambar  memang  diciptakan  oleh  editor  pada  tahap 
pasca-produksi,  namun   sebelumn ya,  kameramen  harus  berhasil  untuk 
mendapatkan  gambar  yang  tepat  yang  nantin ya  akan  digunakan  oleh  editor 
pada tahap editing.  
Tujuannya untuk  menghubungkan berbagai  shot yan g ada adalah  agar 
aliran  adegan  menjadi  jelas,  halus  dan  lancar.  Bentuk  continuity  yang 
  
19 
digunakan  agar  memudahkan  penyampaian  pesan,  menghibur  dan 
memberikan makna yang berdampak afektif bagi pemirsa televisi : 
1.  One scene three shot continuity direction 
Penggabungan  gambar  dalam  satu  scene  yang  terdiri  dari  tiga  shot 
dengan  continuity  dari  gambar  fokus  objek  one  scene  shot,  dilanjutkan 
one scene shot lawan mainnya dan diakhiri dengan two shot dramatis.
2.  Three shot continuity action, two object one moment 
Menyajikan  aksi  dua  objek  yang  sedang  beraktivitas  dengan 
background  statis  pada  suatu  momen.  Three  shot  one  scene  tanpa 
pergerakan  kamera  untuk  merekam  action  object  yang  seluruhnya  stabil 
dengan two shot. 
3.  Three shoot contrinuity direction 
Digunakan  untuk  memperjelas  dialog  yang  sedan g  berlangsung. 
Biasanya  digunakan  pada  acara  talkshow.  Men ggabungkan  front  middle 
left  side,  long  shot,  front  middle  right  side,  sehingga  emosional 
pernyataan serta ekspresi objek yang berdialog terekam secara alamiah. 
4.  Three shot continious direction scene 
Penggabungan  three  shot  gambar  dalam  satu  scene  yang 
memfokuskan  masing-masing  objek, saat  sedang  berinteraksi  aktif secara 
terus  menerus.  Diawali  shot  front  middle  side  object  yang  saling 
berhadapan  dengan  shot  front  middle  right  side,  sehingga  dapat  terlihat 
interaksinya,  lalu  diakhiri  tw o  shot  di  mana  kedua  objek  saling 
berhadapan. 
2.2.4  Komunikasi Organisasi
Komunikasi  berasal  dari  bahasa  latin  'communis'  atau  d alam  bahasa 
inggris  'common'  yang  berarti  sama.  Sehingga  kegiatan  komunikasi  dapat 
diartikan  sebagai kegiatan  yang  dilakukan  untuk  mencapai kesamaan makna. 
Melalui komunikasi  kita  mencoba  berbagi  informasi, gagasan,  maupun  sikap 
dengan lawan komunikasi (Rohim, 2009: 109). 
Organisasi terdiri dari tindakan-tindakan, interaksi, dan transaksi yang 
melibatkan orang-orang ( Pace &  Faules, 2001:  11). Organisasi diciptakan dan 
  
20 
dipupuk  melalui  kontak-kontak  yang  terus  menerus  berubah  yang  dilakukan 
orang-orang yang perilakunya membentuk organisasi tersebut. 
Komunikasi  organisasi  dapat  didefinisikan  sebagai  pertunjukan  dan 
penafsiran  pesan  diantara  unit-unit  komunikasi  yang  merupakan  bagian  dari 
suatu  organisasi  tertentu   (Pace  &  Faules,  2001:  31).  Suatu  organisasi  terdiri 
dari  unit-unit  komunikasi  dalam  hubun gan-hubungan  hierarkis  antara  yang 
satu dengan lainn ya dan berfungsi dalam suatu lingkungan. 
Komunikasi  adalah  sebuah  cara  yang  dilakukan  oleh  seorang 
pemimpin  organisasi  kepada  para  anggotanya,  agar  anggotan ya  mengetahui 
dan  men yadari  tujuan  dan  rencana  dari  organisasi  tersebut,  sehingga  mereka 
dapat 
berp eran  secara  penuh  dan  efektif  untuk  mencapai  tujuan  yang  telah 
ditetapkan.  Kinerja  organisasi  sangat  tergantung  pada  kinerja  individu  yang 
ada  di  dalamnya.   Berbagai  upaya  meningkatkan  produktivitas  organisasi 
harus
dimulai dari perbaikan produktivitas individu (Yunus, 2012: 170). 
Tim  produksi  menggunakan  konsep  komunikasi  organisasi  dalam 
penggarapan  program  INDO  COMMUNITIES.  Adany
kerja  sama  antar 
divisi  dalam  sebuah  struktur  oganisasi  untuk  mencap
hasil  akhir  membuat 
komunikasi  organisasi  harus dapat diter apkan d engan  bai
dalam internal tim 
produksi.  Adanya  kerja  sama  yan g  baik  dan   komunika
yang  lancar  an tara 
kameramen,  editor  dan  produser  sangat  diperlukan 
dala
proses 
memproduksi sebuah program.  
2.2.4.1 Arah Aliran Komunikasi
Menurut  Pace  &  Faules  (2001)  ada  empat  jenis  aliran  komunikasi 
yang mengalir di dalam sebuah organisasi yaitu: 
1.  Komunikasi ke Bawah 
Komunikasi  ke  bawah  dalam  sebuah  organisasi  berarti  bahwa 
informasi  mengalir  dari  jabatan  b erotoritas  lebih  tinggi  kepada  mereka 
yang  berotoritas  lebih  rendah.  Biasanya  ada  anggapan  bahwa  informasi 
bergerak  dari manajemen kepada  para pegawai; namun,  dalam  organisasi 
kebanyakan hubungan ada pada kelompok manajemen (Davis, 1967).  
  
21 
Ada  dua  masalah  utama  di  dalam  komunikasi  ke  bawah  yaitu:  (1)  jenis 
informasi  apa  yan g  disebarkan  dari  tingkat  manajemen  kepada  para 
pegawai dan (2) bagaimana informasi tersebut disediakan. 
Ada  lima  jenis  informasi  yang    biasa  dikomunikasikan  dari  atasan 
kepada  bawahan  (Katz  &  Kahn,  1996):  (1)  informasi  mengenai 
bagaimana melakukan pekerjaan, (2) informasi mengenai dasar  pemikiran 
untuk  melakukan  pekerjaan,  (3)  informasi  mengenai  kebijakan  dan 
praktik-praktik  organisasi,  (4)  info rmasi  men genai  kinerja  pegawai,  dan 
(5)  informasi  untuk  mengembangkan  rasa  memiliki  tugas  (sense  of 
mission). 
2.  Komunikasi ke Atas 
Komunikasi  ke  atas dalam  sebuah  organisasi  berarti  bahwa  informasi 
mengalir  dari  tingkat  yang  lebih  rendah  (bawahan) ke  tin gkat  yang  lebih 
tinggi  (penyelia).  Setiap  bawahan  yan g    memiliki  alasan  yang  baik  atau 
meminta  informasi  dari  atau  memberi  informasi  kepada  seseorang  yang 
otoritasn ya lebih tinggi dari dia menjadi  salah satu syarat untuk terjadinya 
komunikasi ke atas. 
3.  Komunikasi Horisontal 
Komunikasi  horisontal  terdiri  dari  penyampaian  informasi  di  antara 
rekan-rekan kerja  yang  berada di  dalam  unit kerja  yang  sama.  Unit  kerja 
meliputi  individu-individu  yang  ditempatkan  pada  tingkat  otoritas  yang 
sama dalam organisasi dan mempunyai atasan yang sama. 
4.  Komunikasi Lintas Saluran 
Komunikasi  lintas saluran adalah  pen yampaian informasi  yang  terjadi 
di  dalam  suatu  organisasi,  dimana  para  anggotany
melintasi  jalur 
fungsional  dan  berkomunikasi  dengan  orang-o rang  yan
diawasi  dan 
yang mengawasi tetapi bukan atasan  atau bawahan mereka.  
2.2.4.2 Manajemen Ilmiah Taylor 
Pendekatan  Taylor  (191 7)  terhadap  manajemen  dilakukan  di  sekittar 
empat  unsur  kunci:  pembagian  kerja,  proses  skalar  dan  fungsional,  struktur, 
dan  rentang kekuasaan  Menggunakan  analisis  Sofer  (1972) p embahasan  dari 
poin tersebut adalah sebagai berikut : 
  
22 
1.  Pembagian Kerja 
Pembagian  kerja  menyangkut  bagaimana  tugas,  kewajiban  dan 
pekerjaan  or ganisasi  didistribusikan.  Dalam  pengertian  birokratik, 
kewajiban  perusahaan  secar a  sistematis  dibebankan  kepada  jabatan-
jabatan dalam suatu  tatanan  spesialisasi  yang  menurun. Pekerjaan setiap 
orang  terb atas  pada  pelaksanaan  suatu  fungsi,  yang  merupakan  konsep 
pembagian kerja. 
2.  Proses Skalar dan Fungsional 
Proses  skalar  dan  fungsional  berkaitan  dengan  pertumbuhan  vertikal 
dan  horisontal  organisasi.  Proses  skalar menujukkan rantai perintah atau 
dimensi  vertikal  organisasi.  Pembagian  kerja ke  dalam  tugas-tugas  yan g 
lebih  khusus  dan  pembentukan  kembali  bagian-bagian  lebih  khusus 
menjadi  unit-unit  yang  sesuai  adalah  hal-hal  yang  b erkaitan  dengan 
proses-proses fungsional dan ekspansi horisontal organisasi. 
3.  Struktur 
Teori  klasik  berfokus  p ada  dua  struktur  dasar  yang  disebut  lini  dan 
staf.  Struktur  lini  menyangkut  saluran-saluran  kewenan gan  organisasi 
yang  berkaitan  dengan  pencapaian  tujuan  or ganisasi.  Nilai  dasar  yang 
membedakan  lini  dan  staf  terletak  pada  wilayah  pembuatan  keputusan. 
Istilah  lini  berarti 
bahwa  kewenangan  terkahir  terletak  pada  jabatan-
jabatan  dalam  struktur  itu.  Sedangkan,  tenaga  staf  memberi  nasihat  dan 
jasa untuk membantu lini. 
4.  Rentang Pengawasan 
Rentang  pengawasan  (span of  control)  menunjukkan  jumlah  bawahan 
yang  berada  di  bawah  pengawasan  seorang  atasan.  Meskipun  serin g 
dinyatakan bahwa  jumlah  bawahan  yan g  dapat  diawasi  seorang  manajer 
adalah lima atau enam orang, dalam praktik rentang pengawasan tersebut 
bervariasi. (Pace & Faules, 2001: 49 - 52).