??? 2
GAMBARAN UMUM OBJEK
2.1  Sejarah Perusahaan
Pada
tahun
1952
di
Cianjur,
Jawa
Barat
berdiri
sebuah
pabrik
minyak,
pabrik
minyak
tersebut
menggunakan bahan
baku
kopra
dalam
pembuatannya.
Kemudian pada
tahun
1979, pabrik
minyak
ini
dibeli oleh
CV Sinar
Mas,
yang
kemudian mendirikan perusahaan minyak yang bernama PT. Sajang Heulang
yang
memiliki arti sarang burung elang
yaitu sebuah pabrik yang
memproduksi minyak
goreng. Nama Sajang Heulang diambil dari sebuah nama jalan di daerah Cianjur,
Jawa
Barat
.
Pada
tahun
1980
pabrik
minyak
ini
mencoba
menggunakan
kelapa
sawit sebagai bahan baku dalam pembuatan minyak. Pada tahun 1981 produk dari
pabrik
ini
mulai
dikomersilkan dan
kemudian
pabrik
ini
juga
memproduksi
margarine
untuk
pengembangan produk.
Tahun
1983,
PT.
Sajang
Heulang
bergabung dengan
Salim
Group
yang
kemudian
mendirikan sebuah
holding
company dengan nama PT. Sinar Mas Inti Perkasa (SMIP).
PT. Sinar Mas Inti Perkasa menaungi 4 wilayah untuk seluruh Indonesia, yaitu
Jakarta
:
PT. Sajang Heulang, PT. Solvex
Surabaya: PT. Mulyo Rejo Industry Company, PT. Kunci Mas  Wijaya
Medan
:
PT. Sawit Malinda, PT. Ivo Mas Perkasa, dan PT. Ivo   Mas Tunggal
Manado
:
PT. Bimoli, PT. Argha Giri Perkasa, PT. Witikco
Kesemua
pabrik
tersebut
diatas
merupakan
pabrik
yang  memproduksi
minyak
goreng,
terkecuali PT. Witikco.
Dimana
PT. Witikco
merupakan sebuah
pabrik
  
seng. Untuk wilayah Jakarta, Surabaya, Medan semua pabrik menggunakan bahan
baku kelapa sawit untuk memproduksi minyak, sedangkan untuk wilayah Manado
digunakan kopra sebagai bahan bakunya.
Tujuan dari penggabungan perusahaan ini adalah untuk menambah kiprah
perusahaan,
untuk
mempermudah penambahan
modal
yang
digunakan
untuk
perluasan  perusahaan, 
memperluas  jaringan  dalam  negeri  dan 
meningkatkan
ekspor ke berbagai negara.
Pada
tahun
1990,
CV
Sinar
Mas
memisahkan diri
dari
Salim
Group.
Pemisahan ini mengakibatkan bubarnya PT. Sinar Mas Inti Perkasa yang kemudian
dilakukan
pembagian
sebagai
berikut
:
CV
Sinar
Mas
mendapatkan wilayah
Surabaya
dan
Medan
kecuali
PT.
Sawit
Malinda,
sedangkan Salim
Group
mendapatkan wilayah Jakarta dan
Manado ditambah dengan PT.
Sawit Malinda.
Selain
itu,
Salim
Group
mendapatkan logo
dan
merk
dagang
Bimoli.
Dengan
demikian
CV.
Sinar
Mas
tidak
diperbolehkan memakai
merk
dagang
dan
logo
tersebut. Oleh karena itu CV. Sinar Mas menggunakan merk dagang Filma untuk
minyak gorengnya dan Cemara untuk margarinnya.
Tahun
1991,
PT.
Solvex
yang
berada
di
kawasan Pulo
Gadung
dijual,
sebagai
gantinya
dibeli
PT.
Margie Uvo
Crine
Jaya
pada
tahun
1993
dan
pada
tahun
itu
juga
didirikan
pabrik baru
dengan
nama
PT.
Intiboga
Sejahtera (IBS)
yang berlokasi di Surabaya.
Dengan berdirinya PT. Intiboga Sejahtera ini, maka dilakukan pembagian
dalam pemasaran produknya, yaitu sebagai berikut :
Jakarta
:
pemasaran untuk daerah Jawa Barat, Daerah Istimewa
Yogyakarta, Sumatra dan Kalimantan Barat.
  
Surabaya 
:
pemasaran untuk daerah Jawa Tengah sampai ke timur termasuk
Kalimantan, kecuali Kalimantan Barat.
Pada
tahun
1996,
terjadi penggabungan antara PT. Sajang Heulang dengan PT.
Margie Uvo Crine Jaya dan PT. Intiboga Sejahtera sampai saat ini.
PT. Intiboga Sejahtera memproduksi
minyak
goreng. Minyak goreng ini
merupakan
minyak kelapa sawit
yang berasal dari
minyak sawit Crude Palm Oil
(CPO)
dan
inti
sawit
Palm
Kernel
Oil
(PKO),
sedangkan untuk
minyak
kelapa
diperoleh dari pengolahan daging buah kelapa.
Dalam perkembangannya, minyak
kelapa
sawit
ini
lebih
dominan
dari
minyak
kelapa.
Hal
ini
disebabkan untuk
memenuhi
himbauan
pemerintah.
Selain
minyak
goreng,
PT
Intiboga
Sejahtera
juga memproduksi berbagai jenis margarine dan shortening.
2.2  Struktur Organisasi  Perusahaan
Karena
PT.
INTIBOGA
SEJAHTERA
ini
selain
memiliki perusahaan
yang berlokasi di Jakarta, Perusahaan ini juga memiliki anak cabang di Surabaya.
Jadi
untuk kedua perusahaan
baik yang berada di   Jakarta maupun di Surabaya
memiliki struktur organisasi
yang
berbeda.
Untuk
itu
disini 
hanya disajikan dan
dibahas
struktur
organisasi
dari
perusahaan yang
berada
di
Jakarta,
hal
ini
dikarenakan tempat dilakukannya penelitian ini adalah perusahaan yang berada di
Jakarta. PT. INTIBOGA SEJAHTERA  
mempunyai
berbagai
departemen
dalam
perusahaan   dan   dikarenakan   struktur   organisasi   besar,   untuk   itu     
akan
disajikan struktur organisasi utamanya dan selain itu akan pula disajikan struktur
organisasi dari departemen QC dimana observasi/kerja praktek dilakukan.
  
Di  PT.  INTIBOGA  SEJAHTERA  jabatan  tertinggi  dipegang  oleh
seorang General Manager dengan membawahi beberapa manager antara lain HRD
&
GA
Manager,  EDB
Manager,  National
Accounting Manager,  Corp.
Finance
Manager,  National  Purchasing 
Manager,  Jakarta 
Factory  Manager,  National
Factory
Manager,
R
&
D
Manager,
QA
Manager,
National
Sales & Marketing
Manager,
Export Manager. Setiap manager diatas akan bertanggung jawab kepada
General
Manager.
Kesemua manager diatas memiliki bawahan supervison dan staff, kecuali
Jakarta Factory Manager dan National Factory Manager. Untuk National Factory
Manager  membawahi
PPIC
Manager  yang
kemudian
PPIC
Manager  memiliki
bawahan  supervisor  dan  staff.  Untuk  Jakarta   Factory 
Manager 
membawahi
beberapa 
manager   antara 
lain 
Personel   Manager,   GA 
Manager,   QC  Lab.
Manager, 
Raw  Material 
&  Store  Manager, 
Production 
Manager 
SBU  Oil,
Production Manager SBU Margarine
&
Fat, Warehouse Finish Product Manager,
Engineering Manager. Setiap manager
ini akan bertanggung jawab kepada Jakarta
Factory   Manager.   Dan 
semua 
manager   dibawah 
manager   Jakarta  Factory
Manager  akan
membawahi Subdept. Head,
Section Head,
Supervisor, Foreman,
Techisian, Operator,
Helper dengan tingkatan jabatan sesuai urutan penulisan.
Sedangkan
untuk
Departemen QC,
jabatan
tertinggi
dipegang
oleh seorang
QC
Lab. Manager dengan membawahi seorang Subdept. Head, kemudian membawahi
4
orang
Section Head
yaitu
QC
Packaging,
Process
Control,
Raw
Material
Inspection, dan
QC
Production.
RM.
Insp.
Membawahi
2
orang
JR.
Supervisor
yaitu chem. Ingr Jr. Supervisor dan Instrument Analyst Jr Supervisor dan seorang
Analist/Inspector Microbiologi. Process Control Sect. Head
membawahi 3 orang
  
Supervisor
untuk
3
shift
dan 1
orang
Intake &
Dispatch
Jr.
Supervisor.  
QC
Production
membawahi 4
orang
Junior
Supervisor
yaitu 1
orang
FG. Inspection
dan
3
orang
Inprocess
Inspector.
QC
Packaging
membawahi 1
orang
Primary
packing Supervisor dan 1 orang Secondary Packing Jr. Supervisor. Untuk setiap Jr.
Supervisor
akan
memiliki
beberapa
orang
bawahan
yaitu
beberapa
Analyst
dan
beberapa Inspector.
Struktur Organisasi
yang
dimiliki PT. INTIBOGA
SEJAHTERA  
ini
merupakan
jenis
struktur
organisasi
fungsional
dimana
masing-masing manajer
adalah seorang spesialis atau ahli dan masing-masing bawahan/pekerja mempunyai
beberapa  pimpinan.  Manajer 
memiliki  kekuasaan  penuh 
untuk 
menjalankan
fungsi-fungsi yang menjadi tanggung jawabnya.
2.3 Sistem
Kerja
PT. 
INTIBOGA 
SEJAHTERA 
menerima 
pekerjanya  dengan
penyeleksian yang ketat. Calon pekerja diberikan serangkaian test. Dan setelah itu,
calon
pekerja akan
dilatih
(training)
selama
3
bulan.
Pekerja
di
sini
digolong ke
dalam 2 bagian yaitu pekerja perkantoran dan pekerja pabrik. Pembagian jam kerja
adalah sebagai berikut :
1.    Pekerja pabrik
Untuk pekerja pabrik atau pekerja yang melakukan kegiatan produksi dibagi
menurut sistem shift yang mana 1 hari terdapat 3 shift dengan rincian sebagai
berikut:
shift I/shift pagi, dengan jam kerja mulai 07.00 hingga 15.00
  
shift II/shift sore, dengan jam kerja mulai 15.00 hingga 23.00
shift III/shift malam, dengan jam kerja mulai 23.00 hingga 07.00
2.   Pekerja kantor
Untuk  pekerja
kantor  hanya  berlaku
jam  kantor  /  jam  kerja  normal  yaitu
dengan jam kerja mulai 08.00 hingga 17.00.
PT. INTIBOGA SEJAHTERA menjalankan kegiatan produksi selama 24 jam /
non-stop.  Dan  kegiatan  produksi  dilakukan  setiap  harinya  dari  hari  Senin
hingga Minggu,
terkecuali jika
jumlah
permintaan menurun
maka
pada
hari
minggu tidak akan diadakan kegiatan produksi.
Setiap
karyawan setiap harinya diberi
jam
istirahat selama
1
jam
yaitu
untuk operator, sedangkan untuk helper staple dan operator garam akan diberikan
waktu istirahat selama 2,4 jam dikarenakan pekerjaan yang dilakukan lebih berat.
Dan setiap tahunnya pekerja dibolehkan/diberikan hak cuti sebanyak 12 hari.
2.4  Manajemen Mutu
PT.
INTIBOGA
SEJAHTERA
sangat
memperhatikan mutu
dari
setiap
produk
yang
dihasilkan.
Dimana
pengawasan mutu
ini
sepenuhnya merupakan
tanggung
jawab
dari  Departemen
QC,  tugas
mereka
adalah
menganalisa
pada
setiap  titik  yang  telah  ditentukan
agar  produk  yang  dihasilkan  sesuai  dengan
standar
yang
ditentukan yaitu
dengan
mutu
yang
baik.
Pengawasan mutu
yang
dilakukan sangat ketat sehingga
meminimalkan kemungkinan
kelolosan terhadap
barang yang tidak sesuai standar.
  
Pengawasan mutu di PT. INTIBOGA SEJAHTERA ini dibagi menjadi 3 bagian
yaitu:
1.   Pengawasan
mutu
terhadap bahan  baku
yang
masuk (incoming raw material)
Disini dilakukan analisa terhadap bahan baku CPO
yang baru saja sampai
yang
masih berada di truk-truk minyak yaitu minyak sebelum ditransfer ke raw material
tank. Disini akan dianalisa keadaan CPO dengan menganalisa beberapa parameter
seperti FFA, M+I, IV, PV, DOBI, ß-Carotene. Bila hasil analisa baik maka minyak
akan
langsung
ditransfer
ke
raw  material  tank,  bila
tidak
maka
minyak
yang
datang tersebut akan ditolak.
2.   Pengawasan
mutu 
in-process
Pada selama pemrosesan minyak akan terus dilakukan pengawasan pada beberapa
titik.
Yaitu dengan cara dilakukan pengambilan sample
dan
dilakukan analisa di
dalam Lab. QC dan hasil pemeriksaan akan dikirimkan ke bagian produksi.
Berikut
ini
adalah
titik-titik
dimana
dilakukan
pengawasan
mutu berserta
waktu
dimana dilakukan penggulangan dan parameter yang akan dianalisa :
1.
Untuk minyak goreng
Raw
material 
tank,  setiap  hari/tangki,
FFA,  IV,  PV,  M+I,  DOBI,  AV
TOTOX, ß-Carotene.
Refinery plant, setiap hari/tangki, FFA, IV, PV, M+I, DOBI, AV TOTOX,
ß-Carotene, Fe, Cu, P.
DBPO tank, tiap jam, color
RBDPO tank,
tiap jam : color FFA
tiap shift : PV
  
tiap hari : IV, MP, DOBI, AV, TOTOX, ß-
Carotene, Fe, Cu, P.
Crystallization plant, tiap cristalyser, color, IV, PV, FFA.
RBD Stearine tank, tiap crystalyser, FFA, IV, MP, Color, PV.
PFAD tank, tiap shift, FFA.
RBD Olein tank, tiap cristalyser, FFA, IV, PV, CP, M+Vm, Color.
Filling, tiap filling : FFA, Color, IV, CP, PV
tiap shift : color, FFA, CP, PV, IV, M+Vm
tiap hari : cold stability
2.
Untuk margarin
Fat blend tank, tiap blen, FFA, IV, PV, MP, color.
Premix Tank, tiap batch, Color.
Raw material tank (water), tiap shift, Chlorine, TPC, Coliform.
Raw material tank (fat), tiap transfer, FFA, IV, PV, MP, M, Color
Brine water tank, tiap batch, pH.
Filling, tiap 2 batch : H2O
tiap 4 batch : NaCl
tiap shift : TPC, Coliform
tiap batch : N2
tiap blend : Moisture
Hasil penganalisaan yang dilakukan pihak Lab akan dikirmkan ke bagian produksi
dan
apabila
hasilnya
tidak
sesuai
standar
maka
bagian
produksi akan
melakukan
penyesuaian-penyesuaian.
  
3.   Pengawasan
mutu
untuk  finish good
Pengecekan disini tidak dilakukan pada
semua
box dan
semua
item, pengecekan
hanya  dilakukan  dengan  cara  sampling/acak.  Banyaknya  sample  yang 
harus
diambil
untuk
tiap
jenis produk
itu
sesuai
dengan
standar
yang
telah
ditentukan.
Dimana standar ini didapat dari perhitungan menurut MIL-STD. Untuk finish good
baik
untuk
produk
minyak
goreng,
margarin,
ataupun
shortening
dilakukan 2
macam pengawasan mutu.
1.Pengecekan visual
Yaitu
dimana
disini
dilakukan pengecekan terhadap
fisik
dari produk
seperti
keadaan botol, keadaan box, apakah produk bocor atau tidak.
2.Pengecekan timbang
Yaitu 
pengecekan  dilakukan 
dengan 
cara 
menimbang 
produk 
untuk
mengetahui apakan berat/isi dari produk cukup atau kurang.
Bila
ternyata
dari
hasil
pengecekan ditemukan barang
yang
tidak
baik/tidak
sesuai standar,
maka barang tersebut akan di-reject dan dikirimkan ke
bagain
recycling untuk didaur ulang.