![]() '
,,
22
S:m1pk numh :;;.
1.:"'
normal
order
(l
ll_!1! 1
(llllll
HHin
;
1111\
I
!
J!
i_t:l
f!ln
l
Ill
]it
'
I
i
I
i
!\UH
J:!;!
I
fi
!ol;t
iPi
I
I
1
ru1
;
I
j;q
c
I
'
!1<
I
I
I
I
S:m:.pk
number;;
-;tft:... r
l;j
r:_·,:..::·:.-;d
P
I
II \Uil
,
ifll:l\
\
!:
!
H; !i
l'l!jli
j .;
..;
:
l
iJ!
1
:w;:
I
i, (
Gsmbar 2.10 Bit Reversal
Dari
gambar
2.1 0,
setelah sinyal-sinyal
hasil
dekomposisi
tersebut
diurutkan
kembaii
dan
dituliskan da!am
format
binernya,
maka
teriihat
bahwa
antara
nilai
biner
pada
sinyal
input (normal
order)
berkebalikan
dengan
nilai
biner
pada
sinya!-sinyal
hasil
dekomposisi.
Sehingga
jelas
bahwa
telah terjadi
pombaiikan
bit
(bit
reversal)
pada
sinya!
hasil
dekomposisi
dibandingkan
terhadap
sinyai inputnya
semula.
Maka
dekomposisi
pada
FFT
dapat
dilak\Llaki
dengan
menggunakan
algoritma
bit
reversal,
seperti
yang ditunjukkan
oleh gambar
2.10.
Langkah kedua
daiam algoritma
FFT
yaitu menentukan
spektrum
frekuensi
dari sinyal
1
titik
ya.'1g
dihasi!kan sebelumnya.
Da11
ini
merupakan hal
yang
paling
mudah,
karena
spoktrum
frekuensi dari
sinyal
I
titik
itu
adalah
dirinya sendiri.
Hal
ini
berarti
bahwa
tidak
dibutuhkan
perhituugan
lagi
pada
langkah
ini.
Dan yang. penting
untuk
diingat
bahwa
tiap sinyal
1
titik
tersebut
sekarang
telah
menjadi
spoktmm
frekuensi
itu
sendiri, dan
bukan
lagi sinyal
dalam
domain
\vaktu.
|