46
Bab 5
Ringkasan
Seperti kita ketahui bahwa di seluruh dunia
terdapat berbagai bahasa
yang berbeda-
beda baik tata bahasa, bunyi, dan
hal
lainnya. Khususnya dari
segi bunyi bahasa, pasti
terdapat beberapa fonem yang ada pada sistem bahasa yang satu, namun tidak ada pada
sistem
bahasa
yang
lain.
Hal
inilah
yang
menyebabkan
terjadi
penyimpangan bunyi
bahasa ketika seseorang
mempelajari bahasa kedua
yang bukan merupakan bahasa
ibu
orang
tersebut.
Penyimpangan ini
juga
terjadi
pada
pemelajar
bahasa
Jepang
yang
berbahasa ibu
bahasa Indonesia. Hal
ini disebabkan oleh
tidak adanya beberapa
fonem
bahasa Jepang pada sistem bahasa Indonesia.
Agar  bahasa  dapat  digunakan  sebagai  alat 
komunikasi  serta  dapat  memenuhi
fungsinya
dengan
baik,
maka
dibutuhkan
pengetahuan yang
cukup
mengenai
bunyi
bahasa.
Pengetahuan yang
dibutuhkan
untuk
mendalami
dan
mengkaji
bunyi
bahasa
adalah fonologi, yaitu ilmu
yang mempelajari bunyi suatu bahasa. Ilmu ini tidak hanya
sekedar membahas bagaimana perbedaan bunyi bahasa yang satu dengan bahasa lainnya,
namun
juga
membahas
bagaimana bunyi
ujaran
dihasilkan yang
ditinjau
dari
segi
artikulatoris serta dari segi yang lain.
Jika berbicara mengenai bunyi suatu bahasa, tentu saja erat kaitannya dengan bahasa
lisan. Karena dengan bahasa lisan, kita dapat mendengar bunyi bahasa. Walaupun bunyi
bahasa
tersebut
dapat
ditranskripsikan ke
dalam
bentuk
tulisan,
tetapi
untuk
dapat
ditranskripsikan ke dalam bentuk tulisan, dibutuhkan pembunyian suatu bahasa melalui
bahasa lisan.
  
47
Analisis
yang
dilakukan
penulis berhubungan dengan
pelafalan kata
dalam bahasa
Jepang
yang
dilakukan
oleh
responden berbahasa ibu bahasa
Indonesia. Bunyi
yang
diteliti terdiri dari tiga bunyi bahasa Jepang, yaitu bunyi shi, tsu, dan zu. Bunyi-bunyi ini
masih sering salah dilafalkan oleh pemelajar asing, khususnya bangsa Indonesia dengan
bahasa ibu bahasa Indonesia.
Merupakan hal
yang wajar dan sering terjadi bila
terjadi pergeseran saat seseorang
mempelajari bahasa
lain
yang
asing
bagi
dirinya.
Seperti
pergeseran
bunyi
yang
disebabkan  adanya  perbedaan  bunyi  antara  bahasa  yang  biasa  dipakai  oleh  orang
tersebut  dengan  bahasa  kedua  yang  dipelajarinya.
Pergeseran
tersebut  dapat  terjadi
karena
bunyi cenderung dipengaruhi
lingkungannya. Lingkungan
yang
dimaksud
yaitu
lingkungan suatu
bunyi.
Pergeseran
tersebut
dapat
juga
terjadi
karena
alat-alat
ucap
seseorang tidak mampu dengan sengaja mengucapkan dua bunyi yang benar-benar sama.
Seperti pergeseran di antara bunyi [e] dan [e] atau di antara bunyi
[o] dan [
?
]. Kedua
bunyi [e] dan [e] dapat diucapkan pada vokal e yang terdapat pada kata rela, meja, dan
beda sebagai bunyi [e] maupun sebagai bunyi [e].
Dengan
memperhatikan
pergeseran-pergeseran seperti
itu,
maka
dapat
saja
terjadi
pergeseran
pelafalan bahasa
lain
dengan
melakukan
penyesuaian lafal
dengan
bahasa
sendiri, baik disadari maupun tidak disadari.
Banyak sekali orang Indonesia
yang
melafalkan bahasa Jepang dengan
tidak sesuai
bunyi aslinya.
Banyak
terjadi penyimpangan bunyi
yang
disebabkan oleh
penyesuaian
bunyi yang tidak terdapat dalam sistem bunyi bahasa Indonesia. Dalam beberapa kasus,
hal ini dapat menimbulkan masalah pengertian makna maupun kesalahan penulisan kata
saat  pendiktean.  Misalnya  bunyi 
??
(tsuki) yang memiliki makna “bulan”, dan
  
48
seharusnya
dilafalkan
[ts
?
ki]
sering  dilafalkan
sebagai
??
(suki)    yang  memiliki
makna
“suka”,
dan
seharusnya dilafalkan [s
?
ki]. Apabila
saat
melakukan pendiktean,
pendikte
salah
melakukan suatu
kata,
maka
penulis
kata
yang
didiktekan
tentu
menuliskannya dengan
salah
pula.
Hal-hal
seperti
inilah
yang
dapat
menimbulkan
kesalahan yang fatal.
Hal-hal
inilah
yang
membuat
penulis
terinspirasi untuk
melakukan penelitian
ini.
Maka
penulis
meneliti
sejauh
mana
kesalahan
seperti
itu  dilakukan
oleh  pemelajar
bahasa Jepang.
Yang menjadi rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah penyebab kesalahan
pengucapan bunyi shi, tsu, dan zu dalam bahasa Jepang yang diucapkan oleh responden
berbahasa  ibu  bahasa  Indonesia.  Lebih  jauh  lagi  peneliti  meneliti  bagaimana  dan
mengapa  kesalahan  pengucapan  tersebut  terjadi.  Penulis 
memilih  responden  yang
diambil dari mahasiswa semester delapan tahun 2008 jurusan sastra Jepang
Universitas
Bina Nusantara.
Tujuan
dari
dilakukannya penelitian
ini
adalah
untuk
menganalisis kesalahan
pengucapan bunyi
?
(shi),
?
(tsu), dan
?
/
?
(zu)
dalam bahasa
Jepang,
yaitu
lebih
tepatnya
mengetahui bunyi
apa
saja
di
antara bunyi
?
(shi),
?
(tsu), dan
?
/
?
(zu)
dalam bahasa Jepang
yang
masih
sering dilafalkan secara tidak benar oleh pemelajar
berbahasa ibu
bahasa Indonesia, serta
mengetahui alasan
terjadinya kesalahan
tersebut
yang dilakukan oleh mahasiswa sastra Jepang tingkat akhir Universitas Bina Nusantara,
juga
memperbaiki kesalahan
pengucapan tersebut
yang
relevan
bagi
setiap
pemelajar
bahasa Jepang. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk mengingatkan para pemelajar
  
49
bahasa Jepang agar memperhatikan hal
ini sebagai
hal
yang penting dalam mempelajari
suatu
bahasa
serta
menghimbau agar
pemelajar
bahasa
Jepang
dapat
memperbaiki
kesalahan yang terjadi.
Berdasarkan bunyi-bunyi konsonan
bahasa
Jepang yang
penulis pilih
untuk diteliti,
yaitu bunyi konsonan [
?
i], [ts
?
], dan [z
?
]
atau [dz
?
], dikelompokkan lagi menurut jenis
kesalahannya
berdasarkan
pembagian
interferensi
bunyi  bahasa 
menurut  Weinreich.
Dari empat jenis gejala interferensi bunyi bahasa yang diuraikan oleh Weinreich, penulis
memperoleh dua
gejala
interferensi
yang
terjadi
pada
responden
yang
melakukan
kesalahan bunyi konsonan [
?
i], [ts
?
], dan [z
?
]
atau [dz
?
], yaitu:
1) 
Pembedaan fonem yang berkekurangan, yang terjadi karena dua bunyi yang berbeda
dalam bahasa kedua/ bahasa sasaran (bahasa Jepang) tidak dibedakan dalam bahasa
pertama (bahasa Indonesia). Kesalahan
yang termasuk dalam kelompok jenis gejala
interferensi ini yaitu:
a) 
Kesalahan pelafalan
bunyi konsonan  [
?
i]  menjadi
[si]
disebabkan karena
oleh
penutur bahasa Indonesia bunyi [
?
i] dan [si] dianggap sama, sehingga responden
menyamaratakan bunyi [?i] dan [si]. Keduanya merupakan bunyi desis (frikatif),
namun berbeda titik artikulasinya.
b) 
Kesalahan pelafalan bunyi konsonan [ts
?
]
menjadi [s
?
]
disebabkan karena tidak
adanya
bunyi
konsonan
[ts]
sistem
dalam
bahasa
Indonesia, maka
responden
melafalkan  bunyi  [ts]  menjadi  bunyi  [s]  yang  lebih  mudah  diucapkan  dan
  
50
bunyinya
mendekati
bunyi
[ts].
Kedua
bunyi
ini
memiliki
titik
artikulasi
yang
sama,
yaitu dental-alveolar,
tetapi kontak
ujung
lidah
dengan
bagian
belakang
gigi seri atas dan gusi (alveolum) tidak dilakukan pada bunyi [s].
Pada kata-kata
yang
mengandung bunyi [ts
?
]
pada bagian
tengah atau
akhir kata,
responden
dapat
mengucapkannya dengan benar,
disebabkan karena
ada awalan
bunyi vokal
yang memungkinkan mengucapkan bunyi konsonan [t]
sebelum bunyi [s] dibunyikan.
c) 
Kesalahan  pelafalan  bunyi  [z
?
]
atau  [dz
?
]
menjadi  [s
?
]
serta  kesalahan
pelafalan bunyi [dz
?
]
menjadi [z
?
]
disebabkan karena tidak adanya bunyi [dz]
dalam
sistem
bunyi
bahasa
Indonesia,
yang
menyebabkan responden
mengucapkan
bunyi
lain  yang  mendekati
dan  lebih  mudah
diucapkan,
yaitu
bunyi [z] yang dilafalkan pada awal kata sebagai bunyi [dz] dan bunyi [s]
yang
dilafalkan pada tengah atau akhir kata sebagai pengganti bunyi [z].
Alasan
kesalahan pengucapan bunyi-bunyi tersebut dikelompokkan dalam
gejala
interferensi
ini
karena
bagi responden
antara bunyi
bahasa
kedua
(bahasa
Jepang)
dan
bunyi
yang
diucapkan terdapat
kemiripan bunyi,
sehingga
kemiripan tersebut
digunakan sebagai akibat dari fonem dalam bahasa Indonesia tidak mengenal bunyi
bahasa Jepang tersebut. Dan kemiripan bunyi tersebut tidak dianggap berbeda dalam
bahasa Indonesia.
  
51
2) 
Penggantian bunyi, yang terjadi jika terdapat bunyi-bunyi yang tampak sama dalam
kedua
bahasa,
tetapi
dalam
kenyataannya dilafalkan
dengan
cara
yang
berbeda.
Kesalahan yang termasuk dalam gejala interferensi ini yaitu:
a) 
Kesalahan 
pelafalan 
bunyi 
[ts
?
]  menjadi 
[t
??
]  
yang 
terjadi  karena 
saat
membunyikan bunyi [ts], responden menganggap bunyi [ts] dan [t
?
]
adalah bunyi
yang
tampak sama sehingga mereka
mengucapkan bunyi [t
?
]
sebagai pengganti
bunyi 
yang 
mendekati  bunyi  [ts].  Kesalahan  ini  dilakukan  karena  adanya
pergeseran posisi
lidah
pada
titik
artikulasi
yang
bukan
seharusnya. Yang
seharusnya
lidah  
bergeser  
ke  
arah   gusi   (alveolum),   tetapi  
responden
memposisikan lidah yang lebih bergeser ke arah langit-langit keras (palatum).
b) 
Kesalahan pelafalan
bunyi
[ts
?
]
menjadi
[z
?
]
yang
hanya
terjadi
pada
satu
orang
responden.
Maka
penulis
menarik
dua
buah
kesimpulan penyebab
terjadinya kesalahan ini, yaitu:
1.
Terjadi
kesalahan
pembacaan
teks
saat
perekaman
pengambilan suara
dilakukan. Kesalahan pembacaan ini dapat saja terjadi, karena aksara
?
(tsu)
dalam bahasa Jepang jika diberi tanda (
?
) maka akan menjadi
?
(zu).
2.   Responden ingin memposisikan lidah seperti saat membunyikan konsonan [s]
seperti
kesalahan
yang
banyak
dilakukan
oleh
responden
yang
lain,
tetapi
saat  posisi  lidah  dalam  membentuk  bunyi  [s]  telah  tercapai,  responden
  
52
melakukan
ledakan
udara
yang
disertai desahan.
Ledakan
udara
ini
tidak
perlu dilakukan pada bunyi [s].
Kesalahan  ini  juga  terjadi  akibat  penempatan  lidah  yang  seharusnya
terjadi kontak dengan gigi seri dan
gusi
(dental-alveolum) serta pelepasan udara
yang tidak disertai ledakan udara tidak dilakukan oleh responden. Sehingga yang
dihasilkan adalah bunyi [z].
Alasan
kesalahan
pengucapan
bunyi-bunyi
tersebut
dikelompokkan dalam
gejala
interferensi ini
karena bunyi
yang
diucapkan oleh responden benar-benar berbeda dari
bunyi
seharusnya, tetapi
karena
dalam
bahasa
Indonesia
tidak
mengenal
bunyi
yang
seharusnya, maka
responden
mencari
bunyi
terdekat
untuk
pengganti
bunyi
tersebut.
Namun daripada itu, responden mengetahui bahwa bunyi yang diucapkannya sebenarnya
merupakan bunyi yang berbeda dari bunyi aslinya.
Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah:
1)
Distribusi konsonan
bahasa
Jepang
yang
tidak
terdapat
dalam
bahasa
Indonesia
seringkali menyulitkan responden dalam melafalkan konsonan-konsonan tersebut.
2) 
Kesalahan dapat juga
ditimbulkan
oleh
kesalahan
pembacaan kata
yang
dilakukan
responden
saat
membaca
bahasa
Jepang
dengan
aksara-aksara yang
tidak
biasa
digunakan dalam bahasa Indonesia.
3) 
Dari ketiga bunyi bahasa Jepang yang diteliti, yaitu
?
(shi),
?
(tsu), dan
?
/
?
(zu),
diketahui bahwa ketiga bunyi tersebut masih sering dilafalkan secara salah.
  
53
4) 
Kesalahan bunyi-bunyi yang diucapkan responden merupakan bunyi yang mendekati
dengan bunyi bahasa Jepang yang tidak ada dalam bahasa Indonesia dan responden
melakukan penyesuaian pelafalan.
5) 
Pada umumnya responden mengucapkan bunyi-bunyi konsonan bahasa Jepang yang
tidak terdapat dalam bunyi bahasa
Indonesia berdasarkan bunyi yang mereka kenal
dari bahasa Indonesia dan melakukan penyamarataan bunyi-bunyi tersebut, sehingga
menimbulkan bunyi yang berbeda di telinga orang Jepang.
6) Kesalahan 
pelafalan 
yang 
dilakukan 
oleh 
responden 
dapat 
menyebabkan
kesalahpahaman atau bahkan ketidakpahaman pendengar akan bunyi yang diucapkan,
karena
bunyi
yang
diucapkan menjadi
berbeda
dan
pada
beberapa
kata
dapat
menimbulkan perbedaan makna.