48
Bab 5
Ringkasan
Jepang merupakan negara maju, walaupun negara Jepang maju, tetapi mereka tidak
melupakan tradisi mereka, yaitu matsuri. Di Jepang setiap tahunnya selalu diadakan
matsuri,  banyak  matsuri  yang  dilaksanakan,  bahkan  hampir  tiap  bulan  di  Jepang
diadakan matsuri.
Shinto adalah
kepercayaan
religius
yang
ditemukan
dalam
adat
masyarakat
di
Jepang dan diwariskan secara
turun-temurun di Jepang, termasuk juga kepercayaan
terhadap
hal-hal
yang
bersifat
gaib.
Dasar
ajaran Shinto
adalah
sebuah
konsep
kepercayaan terhadap dewa dan roh-roh.
Menurut kepercayaan Shinto, seluruh aspek kehidupan selalu berhubungan dengan
dewa yang mereka anggap akan selalu memberikan perlindungan bagi manusia. Dalam
kehidupan sehari-hari, cara mereka dalam upaya melayani serta menghormati para dewa
adalah dengan dilakukannya matsuri.
Matsuri
pada hakekatnya adalah kegiatan yang diyakini atau dipercayai oleh
masyarakat Jepang sebagai
ritual
terhadap pemujaan kepada
para
leluhur dan kepada
alam semesta.
Orang
memohon
dan
memanjatkan
rasa
syukur
atas
kemakmuran,
kesejahteraan dan keselamatan yang diperolehnya.
Aoba Matsuri adalah matsuri yang terdapat di kota Sendai. Aoba Matsuri diadakan
sebagai
peringatan
kematian
Date Masamune yang ke-350
tahun. Dalam parade Aoba
Matsuri
terdapat
pengaruh
Shinto
di
dalamnya,
yakni
:
pada tujuan dilaksanakannya
Aoba  Matsuri, yaitu
untuk 
memperingati  kematian 
Date  Masamune,  orang  yang
dianggap sebagai pahlawan karena
telah berjasa dalam
membangun kota Sendai, yang
  
49
kemudian
dihormati
sebagai kami. Menurut Ono (1998 : 6),
kami
merupakan
objek
penyembahan dalam Shinto. Dalam Aoba Jinja Mikoshi Togyo terdapat pengaruh Shinto
karena mikoshi
merupakan
miniatur kuil Shinto
yang dipergunakan saat Aoba
Matsuri
berlangsung. Menurut Ono (1998 : 68),
Mikoshi
berfungsi
sebagai
tempat
tinggal
sementara kami. Pengaruh Shinto pada parade sebelas yamaboko dalam Aoba Matsuri,
yakni : Masamunekou
Yamaboko,
Masamunekou
Yamaboko
adalah
simbol
dari
kemuliaan Date Masamune
yang
memulai pembangunan jalan baru
untuk kota Sendai.
Menurut
Ozawa
(1999
:
114), yamaboko digunakan untuk menghalau iblis yang
bertanggung
jawab
atas
penyebab
wabah
dan
bencana
alam
lainnya.
Menurut  
Ono
(1998 : 7), roh-roh leluhur, seperti roh kaisar, roh keluarga bangsawan dan roh pahlawan
nasional
juga
dihormati
sebagai kami.
Pengaruh
Shinto
pada
Masamunekou
Kabuto
Yamaboko. 
Di atas yamaboko ini terdapat patung Date Masamune yang berwujud dari
dada sampai kepala. Date Masamune adalah orang yang dianggap pahlawan karena telah
berjasa membangun kota Sendai, yang kemudian dihormati sebagai kami. Menurut Ono
(1998 : 34), patung merupakan salah satu benda yang digunakan
untuk
menghormati
kami. Biasanya patung dari pahlawan lokal atau beberapa tokoh terkemuka yang
berhubungan dengan masyarakat setempat. Pengaruh Shinto pada Goshinsen Yamaboko.
Yamaboko
ini bentuknya
seperti
kapal
laut
dan
yamaboko
ini
dipersembahkan
untuk
tujuh dewa keberuntungan (Shichifukujin). Menurut Honda (2006 : 148), Shichifukujin
merupakan dewa Shinto. Pengaruh Shinto pada Karajishi Yamaboko. Pada yamaboko ini
terdapat patung karajishi, yakni patung singa. Menurut Ono (1998 : 33), Patung singa
ditaruh
di
depan
pintu
kuil
untuk menakuti
roh
jahat. 
Pengaruh
Shinto
pada
Odai
Yamaboko. Pada
yamaboko ini
terdapat
patung ikan tai
dan
jala.
Patung
ikan
tai ini
digunakan untuk memohon kepada kami agar mendapatkan kemakmuran. Di sekitar jala
  
50
terdapat 
banyak 
gambar  kuda 
yang 
digambar 
pada  sebuah 
lembaran 
kayu 
yang
berbentuk segi
lima, yang disebut dengan ema. Menurut Tanaka (1997 : 325), ikan tai
melambangkan kebahagiaan dan kemakmuran.
Menurut Picken (1994 : 183), dahulu,
kuda merupakan persembahan tradisional untuk kami. Saat ini, sebagai penggantinya di
kuil  dijual  ema (gambar  kuda).  Pengaruh  Shinto pada  Ebisu Yamaboko. Di  atas
yamaboko ini
terdapat patung dewa Ebisu. Dewa Ebisu adalah
salah satu dewa dalam
Shichifukujin (tujuh dewa keberuntungan). Menurut Picken (1994 : 119-
120), dewa
Ebisu
merupakan dewa kemakmuran. Pengaruh Shinto pada Daikokuten Yamaboko. Di
atas yamaboko ini terdapat patung dewa Daikokuten. Dewa Daikokuten adalah salah satu
dewa dalam Shichifukujin
(tujuh
dewa
keberuntungan).
Menurut
Picken
(1994
:
120),
dewa Daikokuten merupakan dewa kekayaan. Pengaruh Shinto pada Shichifuku Odaiko
Yamaboko. Pada
yamaboko ini
terdapat
taiko.
Menurut
Sudjianto
(2002
:
107), taiko
dimainkan untuk memanjatkan doa agar memperoleh hasil panen atau hasil nelayan
dengan 
baik 
atau 
dimainkan 
untuk 
menenangkan 
arwah 
nenek 
moyang 
mereka.
Pengaruh Shinto pada Aobagoma Yamaboko. Pada yamaboko ini terdapat patung miharu
goma, yakni patung kuda. Di dalam Shinto, kuda
merupakan
salah satu binatang
yang
dianggap 
suci. 
Menurut 
Picken 
(1994  : 
183), 
dahulu 
kala, 
kuda 
biasanya
dipersembahkan
sebagai
persembahan
tradisional
untuk kami.
Pengaruh
Shinto pada
Miyabi Yamaboko. Miyabi Yamaboko adalah
yamaboko yang dibuat seperti kuil Osaki
Hachimangu.
Terdapat
pengaruh
Shinto
dalam Miyabi
Yamaboko,
karena
kuil
Osaki
Hachimangu merupakan kuil Shinto yang dibangun oleh Date Masamune. Yamaboko ini
merupakan persembahan
untuk kami, yaitu Date Masamune. Menurut Ono (1998 : 6),
kami merupakan objek penyembahan dalam Shinto. Roh-roh leluhur, seperti roh kaisar,
roh keluarga bangsawan dan roh pahlawan nasional dihormati
sebagai kami. Pengaruh
  
51
Shinto
dalam
Hayashi
Yamaboko,
yakni
terdapatnya
iringan
musik
dan
kagura
serta
drama  dan  nyanyian  sebagai  bentuk  hiburan  yang  bertujuan  untuk  dipersembahkan
kepada kami. Menurut Ono (1998 : 55), berbagai bentuk dari pertunjukkan, seperti tarian,
drama,
seni
memanah
dan
gulat,
adalah beberapa
kegiatan
yang
dilakukan
untuk
menghormati dan menyembah kami.