|
BABl
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Saat
ini
pola
kehidupan
masyarakat modern yang berdomisili khususnya
di
daerah
perkotaan
terasa
semakin
kompleks. Padatnya rutinitas pekerjaan
dan hingar
bingarnya kegiatan
perkotaan yang tidak
menentu
membuat pola
hidup
masyarakat kota
semakin bergerak cepat. Kesibukan
ini
sudah
menjadi ciri
khas
masyarakat
urban pada
umumnya. Sudah bisa dipastikan, waktu menjadi
sangat
berharga
bagi mereka, sehingga
sesuatu hal
yang praktis dan
efisien akan
menjadi pilihan. Tak
heran jika mal
menjadi
salah
satu
pilihan
favorit
masyarakat perkotaan untuk melepas
penat sekaligus
menjadi
gaya
hidup
kaum
urban saat ini.
Dalam
beberapa tahun
belakangan ini, tingkat persaingan pusat
perbelanjaan
di
kota
besar
maupun
daerah
semakin
berjamur
dengan
adanya
bangunan-bangunan pusat
perbelanjaan yang
baru.
Ketua asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan
Indonesia DKI
JAKARTA,
Steffanus Ridwan,
dalam
sebuah
konfrensi pers yang
dilakukan di
Plaza
Semanggi
mengatakan bahwa
jumlah
mal
di seluruh
Indonesia saat ini mencapai
90, dan
diperkirakan
akan
bertambah
sekitar
22
persennya
pada
tahun
2010
(http:
I/bataviase.co.id).
Semakin
meningkatnya
persaingan antar pusat
perbelanjaan juga didukung
adanya
perubahan
gaya hidup
konsumen
dan telah terjadi
pergeseran
budaya
dalam
berbelanja, dimana transaksi jual
beli
yang biasa
terjadi
di
pasar
tradisional, kini
telah
bergeser
menjadi
beragam
kegiatan, bahkan menjadi
pusat
rekreasi yang
bergengsi.
Sekarang
ini
mal
telah
berubah
konsep,
dimana
pengunjung
tidak
hanya
datang
untuk
membeli
barang
saja.
Mal telah
menjadi
gaya
hidup
yang
mengedepankan
nilai
prestisius, dan tempat
yang paling 'in'
untuk
berbelanja dan bersosialisasi. Mal
telah
|