|
2
Samurai), karya Kurosawa Akira, Tokyo Monogatari
(Ceritera Tokyo), karya Ozu
Yasujiro, dan Ugetsu Monogatari (Ugetsu), karya Mizoguchi Kenji, yang semuanya
memenangkan penghargaan nasional maupun internasional.
Menurut website Kedutaan Besar Jepang di Indonesia,
sejak Kurosawa Akira
memenangkan Golden Lion Award di Festival Film Venice pada tahun 1951, dunia
perfilman Jepang menjadi pusat perhatian dunia, dan karya-karya dari sutradara besar
seperti Mizoguchi Kenji dan Ozu Yasujiro mendapat sambutan luas.
Perkembangan berikutnya dari film Jepang adalah penyelenggaraan festival film
internasional di Jepang pada dasawarsa 1980-an. Festival yang terbesar ialah Festival
Film International Tokyo yang diadakan setiap dua tahun; pertama kali tahun 1985.
Festival ini populer karena para penggemar film dapat melihat film penting dari
seluruh dunia yang jarang dipertunjukkan pada peristiwa
lain. Festival-festival ini
cenderung dipusatkan di Tokyo dan kota besar lain, tetapi belakangan ini kota-kota
yang lebih kecil juga turut mengambil bagian. Festival Film Yufuin yang diadakan
setahun sekali di Prefektur Oita, menampilkan karya baru dari para sutradara Jepang
kontemporer (International Society for Education Information, Inc, 1989, hal.154-
155).
Pada tahun-tahun terakhir ini, Kitano Takeshi memenangkan Golden Lion Award
pada Festival Film Venice 1997 dengan karyanya HANA-BI dan meraih penghargaan
sebagai sutradara terbaik pada festival tahun 2003 dengan karyanya Zatoichi
(Website Kedutaan Besar Jepang di Indonesia).
Film bukan hanya sekedar gambar hidup yang menjadi hiburan semata melainkan
sebuah media seni dan budaya serta hadir sebagai media komunikasi untuk
menyampaikan suatu pesan kepada penontonnya. Film Jepang juga biasanya
menyimpan pesan moral yang membangun dan memberikan motivasi bagi penonton.
|